My Bride [2. Her] ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || G || chaptered

Suga (BTS) aka Min Yoongi/Suga; J-Hope (BTS) aka Jung Hoseok/J-Hope; Jin (BTS) aka Kim Seokjin; Oh Sena (OC)

1. Sope Photography

2. Her

*disini tokoh Oh Sena-nya anggap saja mirip dengan Nastya Zhidkova*


Yoongi dan Hoseok berangkat ke suatu tempat dua hari setelah Seokjin menghubungi Yoongi via sms. Mereka menaiki mobil van hitam seperti biasa dengan Hoseok sebagai sopirnya. Yoongi di kursi sebelahnya tampak sibuk mengecek kondisi kameranya. Tak ada satu pun di antara mereka yang saling bicara sampai akhirnya Hoseok bersuara.

“Temanmu itu benar mau menikah?”

Yoongi mengangguk. “Dia bilangnya begitu.”

“Kau sendiri kapan, Hyung?”

Pletak!

HYUNG! Nanti kalau kita kecelakaan bagaimana?! Aish!”

“Salahmu sendiri bicara begitu.” Yoongi yang seperti tidak melakukan apa-apa barusan kembali melihat kameranya. Dia membidik beberapa target yang mereka lewati dalam perjalanan.

“Kau ini sudah mapan, usiamu juga sudah pas untuk menikah. Kenapa kau tidak segera mencari perempuan, hm? Atau kau mau aku mendaftarkanmu ke kencan buta?”

“Jangan hanya gara-gara kau sudah bertunangan, kau memaksaku menikah, Seok-a. Nanti juga ada sendiri waktunya. Dan awas saja kalau kau mendaftarkanku ke acara menjijikkan itu. Sekalipun aku tidak akan ikut kencan buta.”

Hoseok memutar bola matanya jengah. “Makanya segera cari perempuan. Melihatmu menyendiri terus seperti ini membuatku kesal sendiri.”

Yoongi menoleh dengan sebaris senyum di wajahnya. “Terima kasih karena sudah sangat perhatian padaku. Seandainya kau belum bertunangan, aku sudah pasti akan melamarmu, Seok-ie.”

“Sekali lagi kau bicara begitu, aku akan putar setirnya ke sungai.”

Lelaki bersurai abu-abu itu terkekeh. “Silahkan saja. Kita akan mati bersama dan hidup bahagia di surga.”

“Sialan kau, Hyung.”

Yoongi terpingkal dengan sangat puas setelah melihat wajah masam nan pahit Hoseok. Dia paling suka menggoda adik angkatan di kampusnya itu karena Hoseok sangat ekspresif. Maklum, dia adalah anak tunggal di keluarga. Jadi memiliki Hoseok seakan memiliki seorang adik karena usia mereka yang terpaut setahun.

Sampailah mereka di tujuan. Yaitu di depan sebuah rumah, yang tampak berbeda dengan rumah-rumah yang lain. Memiliki pekarangan yang luas di balik gerbang besi yang tajam di bagian teratasnya. Hoseok memarkirkan mobil di samping pintu gerbang. Yoongi menekan bel di gapura gerbang. Lalu mereka masuk setelah dibukakan oleh seorang pembantu.

Yoongi tak henti-hentinya mengambil gambar saat menyusuri jalan setapak pekarangan. Pekarangan ini didesain dengan sangat baik. Ada kebun bunga, kolam ikan dengan jembatan kecil yang melengkung di atasnya, burung-burung hias di balik sangkar dan bebatuan yang menjadi tumpuan kaki. Dia tidak mau melewatkan semua pemandangan indah itu. Sampai akhirnya, di satu titik, tubuhnya tiba-tiba membeku. Langkahnya berhenti saat itu juga. Kedua tangannya masih mengangkat kamera selevel wajahnya, sementara salah satu matanya menatap lurus dari balik lensa kamera.

“Wah … keren sekali ya, Hyung,” gumam Hoseok sambil menoleh ke samping. Ia mengerutkan dahi saat tak mendapatkan Yoongi di sampingnya. Segera dia berhenti saat itu juga dan menoleh ke sana kemari mencari sosok Yoongi. Helaan napas lega berhembus keluar dari bibirnya saat mendapati Yoongi berhenti tak jauh darinya. Segera dia berbalik dan menyusul lelaki itu.

Hyung! Kupikir kau diculik Orochimaru. Kenapa berdiri di sana? Lihat apa sih?” Sesampai di samping Yoongi, Hoseok pun mengikuti arah pandang hyung-nya. Matanya melebar dari ukuran semula dan … “KYAA!! HANTUU!!!”

Di saat itulah Yoongi tanpa sadar menekan tombol penting di kameranya saking terkejutnya karena suara keras Hoseok. Kemudian dia mendesis kesal dan menoleh pada Hoseok yang kini bersembunyi di balik punggungnya. Niatnya ingin memarahi pria berhidung mancung itu. Tapi seorang pembantu yang tadi membukakan pintu tiba-tiba menjerit.

“Nona Oh!! Astaga! Kenapa kau ada di sana dengan pakaian seperti itu?!”

Yoongi mengikuti pergerakan tergopoh-gopoh wanita paruh baya itu menuju seorang gadis yang sejak tadi duduk di sebuah bangku taman besi berwarna putih. Pandangannya kembali jatuh pada satu titik yang membuatnya membeku seperti patung tadi.

“Nona … ya ampun. Seharusnya kau pakai jaket. Nanti bagaimana kalau kulitmu kenapa-napa? Astaga, kau membuatku sangat cemas.”

“D-d-dia manusia?” Yoongi langsung menoleh ke belakang setelah mendengar suara Hoseok.

“Kau bisa melihat mereka bersentuhan ‘kan?”

“T-t-tapi … kenapa kulitnya seperti itu? Lihatlah, alisnya … bulu matanya … bajunya … kursi, semuanya sama putihnya. Kau yakin itu manusia?”

Yoongi menghela napas lelah. “Kau ini kalau bodoh jangan keterlaluan. Itu namanya albino. Dia manusia, sama seperti kita. Hanya warna kulitnya yang lebih pucat.”

“B-benarkah?”

“Ya. Dan sekarang lepaskan aku.”

Dalam sekali hentakan, tangan Hoseok yang sejak tadi merangkul lengan Yoongi erat langsung terlepas. Mereka sama-sama menatap pada satu titik di mana gadis albino dan pembantu tadi sedang menghampiri mereka. Kedua-duanya sama-sama tidak bisa melepaskan pandangan dari gadis bersurai pirang pucat yang sedang dipapah oleh ahjumma tersebut. Hoseok kembali bersembunyi di balik punggung Yoongi.

Melihat reaksi yang diberikan Hoseok, gadis albino itu tersenyum tipis. “Maaf menakutimu.”

Entah bagaimana yang kesal di sini justru Yoongi. Dia langsung menarik Hoseok untuk berdiri tepat di sampingnya. Kemudian dia pun membungkuk pada gadis itu. “Maafkan temanku. Dia tidak bermaksud menyinggungmu, maafkan dia.”

Kesopanan yang ditunjukkan Yoongi membuat gadis itu tercenung beberapa saat sebelum tersenyum lembut. “Aku sudah biasa diperlakukan begitu.”

Rasa-rasanya malah Yoongi yang tidak bisa memaafkan kelakuan Hoseok. Dia menatap tajam pria di sebelahnya, mengirimkan pesan ancaman pada lelaki berhidung mancung itu kalau nanti pasti dia akan mendapat akibatnya sepulang dari tempat ini. Hoseok sendiri yang menyadari arti tatapan Yoongi, menunduk dalam sambil mengusap tengkuknya.

“Kalian dari Sope Photography itu ‘kan? Kalau begitu, mari masuk.”

Yoongi langsung menoleh begitu mendengar suara indah dari gadis albino itu. Dia mengangguk kecil sambil tersenyum tipis sebelum membuntuti dua wanita tersebut memasuki rumah.

“Oh Sena! Yaa, aku mencarimu kemana-mana. Darimana saja dirimu, huh? Dengan pakaian seperti itu pula.”

Suara seorang pria yang Yoongi kenal langsung menyapa pendengarannya setelah menginjakkan kaki di dalam rumah bertingkat dua itu. Kepalanya secara otomatis bergerak menuju asal suara. Dan tepat! Itu adalah Kim Seokjin, teman semasa SMA-nya.

Gadis albino yang dipanggil Oh Sena itu memekik lirih saat Seokjin menarik paksa dirinya untuk lepas dari rangkulan pembantu keluarganya. Sepertinya Seokjin belum menyadari kehadiran Hoseok dan Yoongi di sana. Lelaki berbahu lebar itu tampak sangat kasar saat memakaikan jaket rajut di tubuh Sena.

“Kau lupa kalau kau ini albino? Orang albino tidak boleh terkena sinar matahari langsung, bodoh. Bagaimana kalau kau terkena kanker kulit? Sebentar lagi kita akan menikah, kau berniat menghancurkan pernikahan kita atau bagaimana huh?”

Sena menepis tangan Seokjin lalu mundur selangkah. “Aku tahu kalau aku ini albino. Tidak kau beritahu pun aku sudah tahu.”

“Kalau sudah tahu kenapa tetap keluar rumah dengan pakaian seperti itu huh?! Sedang berlagak seperti orang normal, huh?”

Kedua tangan Sena mengepal. Tanpa sadar dia menggigit bibir bagian bawahnya yang bergetar. “Memangnya kenapa kalau aku berlagak seperti orang normal? Tidak bolehkah sehari saja ah tidak, maksudku tidak bolehkah sepuluh menit saja aku menikmati sinar matahari? Aku ini juga bernapas, aku punya dua mata, dua kaki, dua tangan, akal, perasaan, aku punya semua yang kau punya, Oppa! Kenapa kau menganggapku berbeda hanya karena kulitku?! Aku juga normal … aku manusia normal….”

Isakan pun lolos dari bibir Sena dan gadis itu secara kasar menyeka wajahnya. “Aku sama sekali tidak punya pikiran untuk menghancurkan pernikahan kita. Bahkan meskipun ini bukan pernikahan yang kumau, tapi aku sama sekali tidak berpikir untuk menghancurkannya. Maaf kalau aku sudah mengecewakanmu.”

Gadis bersurai pirang pucat itu lantas mengayunkan tungkainya dengan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dia sama sekali tidak berhenti bahkan saat Seokjin meneriakinya sampai urat-urat di lehernya muncul ke permukaan. Wajah lelaki itu memerah. Dia pun mengacak rambutnya frustasi sebelum akhirnya menyadari kehadiran Yoongi dan Hoseok.

“Ah kalian sudah datang?”

Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, dia mengantongi kedua tangannya dalam saku celana sambil menghampiri mereka. Wajahnya sudah tidak lagi memerah, tapi daun telinganya masih tetap memamerkan warna itu.

“Maaf untuk yang sudah kalian lihat tadi,” ujarnya penuh wibawa. “Kurasa pemotretan hari ini harus ditunda. Dia tidak mungkin berfoto dengan wajah habis menangis. Kumohon pengertian kalian.”

Hoseok melirik Yoongi yang sejak tadi hanya diam memaku di tempat. Dia tidak berani bicara apa pun karena perannya adalah sebagai asisten Yoongi. Bisa susah kalau dia bicara tapi tidak sesuai dengan ingin lelaki itu.

“Benarkah kalian akan menikah?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Yoongi. Sorot matanya tetap datar dan lurus. Yoongi sedang menjadi Yoongi, lelaki yang sangat pemberani meskipun badannya tidak segagah seseorang yang dihadapinya.

“Hm, kami akan menikah. Dia calon istri yang kuceritakan, Oh Sena.” Jawaban Seokjin tak kalah datarnya. Ah atau mungkin terdengar sangat santai? Seperti, dia tidak pernah punya salah apa pun pada seorang gadis yang baru saja disakitinya.

Yoongi menyeringai sambil mendengus. “Astaga, aku hampir tidak mengenalimu, Seokjin-a. Kau berubah begitu banyak selama ini.”

Seokjin tersenyum. Senyum yang bukan senyum semestinya. Hoseok bisa merasakan aura berbeda dari senyum lelaki berbahu lebar itu.

“Tentu saja, kita sudah sembilan tahun tidak bertemu, Min Yoongi. Tidak lucu kalau aku tetap sama seperti dulu.”

“Termasuk sikapmu pada wanita?”

Seokjin tertawa kecil. Entah apa yang ditertawakan olehnya. “Ini bukan urusanmu, Min Yoongi. Jangan ikut campur. Kau kemari hanya untuk mengabadikan gambarku bersamanya.”

“Ya, aku hanya datang sebagai fotografer yang seharusnya mengambil gambar bahagia kalian tapi justru yang kudapat di sini adalah kau membuat dia menangis. Seperti itukah caramu memperlakukan dia?”

Senyum Seokjin memudar. Kini sorot matanya tampak menajam, seakan tatapan itu bisa merobek retina Min Yoongi. “Sekali lagi kuperingatkan, ini bukan urusanmu. Kau tidak berhak ikut campur, Min Yoongi. Sadar dirilah dengan posisimu sekarang.”

Yoongi tersenyum kecut. “Arasseo. Aku sangat sadar diri, Kim Seokjin. Hubungi aku untuk pemotretan selanjutnya. Aku pergi.”

Ia membungkuk 90 derajat penuh sebelum berbalik dan beranjak dengan segera dari rumah itu. Hoseok mengikuti apa yang dilakukannya dan menyusul kepergiannya.

Brak! Brak! Brak!

Mobil van itu bergoyang-goyang pelan saat Yoongi memukuli dashboard dengan brutal. Kemudian mengacak rambut berantakannya makin berantakan. Napasnya tidak teratur karena irama jantungnya yang begitu cepat.

Dia sangat marah.

Hoseok yang sejak tadi menyaksikan pemandangan itu hanya bisa diam.

Setelah Yoongi merasa sedikit lebih tenang, ia pun membuka mulut. “Ayo kita pulang.”

TBC

Advertisements

14 responses to “My Bride [2. Her] ~ohnajla

  1. Nah kan…. sgt extreme ceritanya! Red:femalecast 😅 Ok fix suka! 😄 jgn bilang suga nnt suka sma Sena ya… wah.. bisa repot ntar! 😂 seokjin kasar euy… 😡

  2. Suga jatuh cinta pada pandangan pertama yaa, tapi sena udh mau nikah 😦
    Bakal ada tempur kayaknya nih hehe

  3. tuh kan kan! kan !! gue udah mewanti2 dari awal klo misalkan suga ntar (kmngkinan bsar) bakal jtuh cnta sama sena. yes tebakan gueee. mklum lah gue sama suga kn punya kekuatan ala2 cenayang gitu, nama nya juga jodoh kan yaa 😀 . dan ugh jin jadi sangar ya disini gue yakin pernikhan mreka bkn krena cinta . oh hobi udh tunangn yaa,bisa lah ya gue jadi cast cewenya . hha
    kkeut~

  4. bukan hanya yoongi yg marah lihat sena di perlakukan begitu sm seokjin aku juga marah, hanya karena dia berbeda, bikin penasaran pula apa seokjin sm sena menikah bukan karena cinta, atau mereka di JDH gitu #TTS sebenarnya aku gak tahu anggota bts tp gara-gara lihat Mv mereka yg blood sweet and tears (kalau gak salah) yg keren banget dan baca ff HSG jd suka mereka #CurhatGakTahuTempat wkwkwk…..

  5. bukan hanya yoongi yg marah lihat sena di perlakukan begitu sm seokjin aku juga marah, hanya karena dia berbeda, bikin penasaran pula apa seokjin sm sena mau menikah bukan karena cinta, atau mereka di JDH gitu #TTS sebenarnya aku gak tahu anggota bts tp gara-gara lihat Mv mereka yg blood sweet and tears (kalau gak salah) yg keren banget dan baca ff HSG jd suka mereka #CurhatGakTahuTempat wkwkwk…..

  6. Knp yoongi marah??kesel yah liat seokjin marahin sena..emang keterlaluan…td yoongi terpaku kaget kiat sena atw terpukau hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s