“Vulpecula” #1 by Arni Kyo

Untitled-2

Vulpecula #1

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0

 

~oOo~

Luhan dan teman-temannya duduk ditangga menuju lantai dua. Saat jam istirahat dan ketiga sekawan ini sudah selesai makan siang dikantin nan elite seperti restoran berbintang, maka mereka akan duduk disini. Ya ~ dan bisa kalian tebak apa yang mereka lakukan? Mengintip-celana-dalam-siswi yang naik turun melewati tangga. Lihatlah! Bahkan wajah Luhan bersemu merah.

Eiits… jangan mengira jika mereka adalah maniak. Karena itu hanya bentuk kenakalan mereka. Lagipula, gadis-gadis yang lewat bukan tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Dan – ah, sedikit ralat. Kecuali seorang lelaki berkacamata yang saat ini tengah sibuk membaca buku sastra Korea. Dia Do Kyungsoo, dan dia tidak terlibat jika urusan mengintip dalaman atau semacamnya.

“ow… hari ini dalamannya tetap warna hot pink”. Ujar Luhan pada Minseok. Mengomentari dalaman seorang gadis yang baru saja naik ke lantai dua.

“apa dia tidak punya dalaman lain, ya?”. Balas Minseok.

Lalu keduanya tertawa terbahak. Mendengar gurauan sahabatnya, Kyungsoo hanya diam dan focus membaca. Meskipun tidak bisa. Siapa yang bisa focus jika kedua orang mesum ini terus mengoceh dan tertawa seperti orang gila?

“ya! Hentikan saja. Kalian ini”. Protes Kyungsoo akhirnya.

“baca saja bukumu, baca”. Luhan menempelkan buku yang Kyungsoo pegang hingga menyentuh wajah pria itu.

Disaat yang sama, seorang gadis berwajah imut tapi terkesan dingin. Dengan karisma mempesona yang luar biasa, muncul dari tikungan. Langkahnya terhenti. Menatap ketiga orang yang kini tengah duduk ditangga.

Wu Kimi meniupkan balon dari permen karet yang ia kunyah. Menatap sinis satu persatu dari mereka.

“cih… tidak bermoral”. Gumamnya.

Ketiga orang lelaki yang duduk disana pun diam. Menatap lekat pada sosok Kimi yang beranjak pergi dari hadapan mereka. Kyungsoo berdiri, menatap Luhan dan Minseok dengan tatapan kesal.

“lihat! Karena kalian imej ku jadi buruk dimatanya!”. Seru Kyungsoo.

“memangnya kenapa kalau imej mu buruk dimatanya?”. Tanya Luhan dengan nada tak kalah sebalnya.

Kyungsoo mengangkat tangannya, hendak memukuli kedua temannya dengan buku. Sedangkan Luhan dan Minseok sudah memasang kuda-kuda untuk menangkis pukulan Kyungsoo. Pria berkacamata itu berdecak kesal. Mengurungkan niatnya untuk memukul Luhan dan Minseok. Lalu matanya beralih menatap Kimi yang sedang duduk bersama komplotannya.

“gadis Tiongkok itu memiliki karisma yang luar biasa”. Tambah Minseok.

“benar. Jika dihitung dalam persentase, Kimi memegang 100% sedangkan Yeonsung 70% dan Rin 40%”. Imbuh Luhan sambil berdiri dan berkacak pinggang. Meniru gaya Guru Kim saat mengajar.

“kenapa kalian jadi membicarakan persentasenya?”. Kyungsoo menatap kedua temannya dengan wajah datar.

Minseok merangkulkan tangannya kebahu Kyungsoo. “agar kau tahu, Kimi tak mungkin melirikmu sebagus apapun dirimu”.

“menyebalkan”. Desis Kyungsoo, melepaskan dirinya dari Minseok dan berjalan menaiki tangga. Pergi kekelasnya lebih baik daripada harus mengobrol dengan dua orang gila.

Sebagai teman, Luhan dan Minseok bukannya tidak mendukung Kyungsoo yang menyukai Kimi sejak tahun pertama. Tetapi untuk menghindarkan Kyungsoo dari masalah. Jika sampai semua orang tahu soal perasaan Kyungsoo, pria itu dalam masalah. Ha Minho dan kelompoknya siap membully.

Yeonsung pulang kerumahnya setelah seharian penuh berada disekolah. Hari semakin sore ketika ia tiba dirumah. Tak ada aktivitas belajar sendiri seperti disekolah Seoul. Karena sekolah tersebut dinilai angker, maka murid disuruh pulang sebelum malam.

“aku pulang”. Ucapnya saat memasuki rumah.

“eo, kau sudah pulang”. Sambut sang ibu yang sedang memasak makan malam didapur. Yeonsung tersenyum dan segera menghampiri ibunya.

eomma”. Rengeknya seraya memeluk wanita paruh baya itu.

“kenapa? Kau sudah lapar? Sebentar lagi masakan eomma siap”.

Yeonsung menggeleng. Ia melepaskan pelukannya, beralih membantu ibunya menyiapkan mangkuk untuk makan malam. “eomma, sebenarnya Junmyeon mengajakku untuk melihat bintang”.

“melihat bintang lagi? Kau tidak bosan?”. Canda ibunya.

“mereka sangat indah, bagaimana aku bisa bosan?”. Balas Yeonsung. dengan hati-hati ia mengutarakan keinginannya yang sebenarnya. “jadi, aku boleh pergi atau tidak?”.

“pergi? Ajak saja Junmyeon kesini”.

“tidak bisa. Kami harus melihatnya dari atas bukit”.

Ibunya menghentikan kegiatannya mengaduk masakan didalam panci. “bukit? Maksudmu bukit belakang rumah kita? Tidak, kau tidak boleh pergi selama seminggu ini”.

Wajah Yeonsung yang tadinya sumringah berubah murung. “kenapa aku tidak boleh pergi?”.

“pokoknya tidak boleh. Bulan ini adalah bulan yang buruk, jadi jangan coba-coba untuk pergi dimalam hari”. Jelas ibunya.

“tapi, aku sudah berjanji padanya untuk bertemu dirumah pohon mala mini. Ijinkan aku pergi”.

“tidak!”. Suara lantang sang ayah terdengar dari ruang tamu. Rupanya pria tua itu sudah kembali dari kebun dan tak sengaja mendengar permintaan Yeonsung. langkah besarnya berjalan menuju dapur untuk berhadapan langsung dengan putrinya.

abeoji”. Yeonsung menunduk. Tak berani untuk menatap pria itu.

“semakin besar kau semakin keras kepala. Jika kami melarang mu pergi, berarti kau tidak boleh pergi. Menganut saja! Jangan membantah”. Omel ayahnya.

“setidaknya ijinkan aku pergi menemuinya sebentar, dan mengatakan jika aku tidak bisa menemaninya melihat bintang malam ini”. Pinta Yeonsung masih belum menyerah.

“tidak! Tetap dirumah!”. Tegas ayahnya lalu berbalik dan duduk dimeja makan.

Yeonsung hampir menangis saat itu juga. Memang ini bukan pertama kalinya ia dilarang pergi keluar saat malam. Dan pernah beberapa kali ia pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya, dan tidak terjadi apapun. Jadi Yeonsung berpikir jika orang tuanya hanya mengekangnya tanpa alasan jelas.

“katakan alasannya. Kenapa eomma dan abeoji sering melarangku untuk pergi? Padahal aku bukan anak kandung kalian”.

“Yeonsung!”. bentak ayahnya.

Dengan cepat ibunya menarik Yeonsung untuk menghindari kemarahan ayahnya. Sambil menatap suaminya untuk menyerahkan saja masalah ini padanya. Wanita itu menarik Yeonsung memasuki kamarnya.

“Yeon’ah, eomma pikir kau sudah cukup dewasa untuk mengetahui yang sebenarnya”. Ujar ibunya. Menatap putrinya dengan teduh. “kau adalah putri kandung kami”.

“jangan berbohong. Margaku tidak sama dengan abeoji”.

Ibunya membawa Yeonsung duduk ditempat tidur. “ada cerita lain dibalik namamu. Dan semuanya, semua hal yang sudah kau lalui dan yang akan kau lalui adalah kesalahan kami”.

Yeonsung menatap nanar ibunya. Tak mengerti maksud perkataan wanita itu. “eomma –“.

“setidaknya biarkan kami bersamamu hingga kau lulus sekolah. Lalu kehidupanmu akan berubah setelah itu”.

Yeonsung tak mengatakan apapun. Yang ada dibenaknya sekarang adalah kemungkinan orang tuanya akan mengirimnya ke Seoul. Atau hal terburuk adalah menjodohkannya dengan si tua Bangka pemilik banyak tanah di kotanya.

“Yeon’ah, sebenarnya dirimu –“.

Kyungsoo memasuki toko sekolah yang menjual berbagai makanan dan minuman ringan. Tanpa ragu ia melangkah menuju mesin pendingin dan mengambil susu stroberi kotak. Setelah melihat-lihat makanan ringan yang mungkin akan ia beli, Kyungsoo memutuskan untuk mengambil sebungkus keripik kentang.

Kimi masuk ke toko saat Kyungsoo meletakkan belanjaannya dimeja kasir.

ahjussi, susu stroberi yang biasa kubeli mana?”. Ujar Kimi dengan nada manja.

“didalam lemari pendingin”. Jawab paman penjaga kasir.

Suara khas Kimi berhasil membuat Kyungsoo menoleh, tak pelak matanya membelalak melihat gadis itu. Kimi mencari dari atas kebawah dan tak menemukan satupun susu stroberi kotak yang biasa ia beli.

“tidak ada!”.

“berarti sudah habis. Kurir belum mengantarkan stok lagi”. Jawab paman penjaga kasir. “belanjaanmu jadi 1500 won”. Ujar paman pada Kyungsoo.

Kimi berdecak kesal dengan pipi mengembung karena tak kebagian susu stroberi kotak. Ia hendak pergi ketika seseorang memanggilnya.

“Kimi’ya, ambil saja punyaku”. Ujar Kyungsoo sambil menyodorkan susu kotaknya pada Kimi. Gadis itu menatap curiga pada Kyungsoo. Tetapi tangannya terulur untuk mengambil susu kotak itu.

“oh, ini”. Kimi menyodorkan selembar uang 1000 won pada Kyungsoo.

Pria itu tersenyum simpul melihat uang yang disodorkan oleh Kimi. “tidak usah. Aku memberikan itu karena sepertinya kau lebih menginginkannya”.

“kau tidak ingin ini?”.

“tidak begitu. Tapi aku akan mengambil minuman lain saja”.

Kyungsoo beranjak mengambil minuman kaleng dari dalam mesin pendingin dan hendak membayar lagi dikasir. Namun Kimi lebih dulu menyodorkan uang pada paman penjaga kasir. “aku tidak biasa berhutang pada orang lain”. Ujar Kimi tanpa menoleh pada Kyungsoo.

Setelah mengambil kembaliannya, Kimi sempat tersenyum singkat pada Kyungsoo dan pergi begitu saja. Sungguh! Demi apapun! Kyungsoo merasa sangat senang. Hampir saja ia melompat kegirangan karena Kimi akhirnya tersenyum padanya.

“tidak! Aku tidak mau. Kenapa aku yang harus mengalah pada Yeonsung?!”. protes Rin.

“Rin’ah, sudah kukatakan jika ini hanya pura-pura, kita hanya perlu mengelabuinya”. Minho saat itu tengah berusaha meyakinkan Rin agar gadis itu mau putus dengannya dan kembali pada Yeonsung.

Rin mendengus, tangannya terlipat dibawah dada. Menatap Minho dengan malas. Saat bel pulang berbunyi, Minho langsung menarik Rin ke laboraturium untuk membicarakan perkara hubungannya.

“jangan membodohiku, Minho’ya”. Rin bersikeras tak ingin putus meskipun itu hanya pura-pura. Tahu betul kelicikan Yeonsung, mungkin hal buruk akan terjadi jika sampai ia diputuskan dihadapan gadis itu.

Tadi saja Yeonsung sempat mengunggah poto di akunnya. Poto cermin dikamar mandi kamarnya, ia menulis ‘don’t trust that bicth. Slap her’ dengan lipstick.

“aku tidak membodohimu, tapi Yeonsung”.

“jadi –“. Suara itu membuat Rin dan Minho menoleh serentak. Sosok Kimi berdiri diambang pintu. Kakinya melangkah perlahan memasuki ruangan dengan bau khas bahan kimia. “sampai kapan kau akan mengkhianati Yeonsung?”.

“sampai ia sadar jika Minho tidak mencintainya”. Balas Rin.

“kupikir kalian berteman baik”.

Rin terkekeh meremehkan ucapan Kimi barusan. Tangan Minho terulur untuk menyentuh bahu Kimi. “Ya!”.

Plakk

Kimi menepis tangan Minho dengan cepat, sebelum tangan itu menyentuh tubuhnya. “just talking, no touching”. Desis Kimi.

Minho mengukir seringaian diwajahnya. “jangan ikut campur, Kimi’ya”.

“kau yang jangan ikut campur”. Balas Kimi sambil menunjuk wajah menyebalkan Minho. “aku sedang bicara dengan Rin, bukan denganmu. Jangan sok menengahi”.

“jadi kau ingin memberitahu apa yang kau dengar pada Yeonsung?”. ujar Rin.

Kimi tersenyum penuh arti. Menertawakan dugaan Rin padanya. “tadi aku bahkan tidak terpikir untuk melakukan itu, tapi karna kau mengungkitnya, aku jadi ingin memberitahukan ini pada Yeonsung”.

“kau berada dipihaknya, Wu Kimi?”.

“aku tidak dipihak siapapun. Tapi aku hanya prihatin. Harusnya kau sadar, siapa yang lebih membutuhkan Ha Minho. Rin atau Yeonsung?”.

Terjadi perang dingin antara Kimi dan Rin. Sedangkan Minho terlalu stress untuk menyela kedua gadis ini. Tanpa dikomandoi, otaknya memikirkan ucapan Kimi. Siapa yang lebih membutuhkanku? Pikirnya.

Tiba-tiba pintu laboraturium terbuka. Sosok Luhan melenggang masuk tanpa dosa dan tanpa permisi. Tangannya memeluk sekotak peralatan yang dipakai untuk percobaan dikelas tadi. Dengan santai ia berjalan kearah lemari.

“tidak apa-apa. Lanjutkan saja. Aku tidak mendengar apapun”. Ucap Luhan sambil membuka lemari dan menyusun kotak yang ia bawa tadi.

Kedatangan Luhan sontak membuat tiga pasang mata menatapnya heran. Lalu pria itu berjalan keluar setelah tersenyum kuda pada tiga orang yang kini melongo dibuatnya.

“apa-apaan dia?”. Desis Minho.

Kimi pun membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu. Seperti tak pernah bertemu siapapun didalam sini. Kimi pergi begitu saja. Kembali seperti dia yang biasanya.

Chanyeol menatap wajah adiknya yang sibuk memakan makan malamnya. Entah kerasukan setan mana, tiba-tiba Yeonsung mengajak Chanyeol makan malam bersama di sebuah restoran.

“berhenti melihatku seperti itu dan makan makanan mu”. Ujar Yeonsung yang tahu jika Chanyeol sedang memperhatikannya sejak tadi.

“aku hanya bertanya-tanya, apa kau benar-benar Yeonsung malam ini?”.

Yeonsung menghentikan kegiatannya menyumpit makanan. Menatap lurus pada Chanyeol dengan wajah tanpa ekspresi. “katakan saja jika kau senang aku mengajakmu makan bersama”.

“disamping itu, aku sungguh penasaran apa kau benar-benar Yeonsung? ya ~ panggil aku ‘oppa’”. Chanyeol memajukan sedikit tubuhnya. Senyum lebar terlukis diwajah tampannya. Berharap Yeonsung akan memanggilnya ‘oppa’.

Ya. Yeonsung tak pernah memanggilnya seperti itu dengan alasan mereka berdua tidak akrab.

“jangan berharap”. Desis Yeonsung sambil tersenyum miring.

Chanyeol berdecak kesal. Hanya dengan satu permintaan seperti itu, ia yakin betul jika orang yang berada dihadapannya sekarang ini benar-benar adiknya. “kau pasti sedang ada masalah sekarang”.

“jika kau tahu, jangan mengatakannya lagi dan beri aku solusi”.

“tidak ada. Aku tidak punya solusi untukmu sebelum kau memanggilku ‘oppa’”.

Tatapan tajam dari sepasang mata yang dihiasi softlence berwarna abu-abu itu menatap Chanyeol. “yasudah kalau begitu. Biar aku atasi sendiri”.

Keras kepala. Yeonsung tak ingin memanggil kakak kandungnya dengan panggilan yang seharusnya dan ia tetap pada pendiriannya.

Akhir-akhir ini, bisnis yang dijalankan Yeonsung mengalami sedikit masalah. Ada seorang blogger fashion yang mengatakan jika produk yang dijual Yeonsung adalah produk palsu dan dibuat seolah asli. Yeonsung juga menjual dengan harga asli barang tersebut. Artikel yang dibuat oleh blogger itu jelas saja mengundang respon negative. Pelanggan tokonya menjadi berkurang karena masalah tersebut.

Belum selesai masalah bisnisnya.

Yeonsung sudah diterpa masalah lagi. Minho ketahuan berselingkuh –lagi, kali ini dengan sahabat dekatnya. Sebenarnya bukan hanya ini saja masalah yang menghantui Yeonsung. gadis itu selalu bersikap seolah dia pemilik dunia ini, tanpa orang lain ketahui jika dia sangat lemah.

Minho seperti obat penawar sakit baginya.

Maka dari itu, ia membutuhkan Minho.

Seperti zat adictif yang bisa membuatnya melupakan dunia dan merasa seperti berada didunia lain. Dimana hanya ada dirinya dan Minho. Dalam sebuah lingkup bahagia.

“kau pulang tidak malam ini?”. Tanya Chanyeol sebelum sampai ketempat tujuan Yeonsung.

“aku pulang atau tidak, memangnya ada orang yang peduli?”. Yeonsung balik bertanya.

“aku”.

“menurutmu jika aku sudah bersama Minho, aku akan pulang atau tidak?”.

Chanyeol tertawa, entah apa yang lucu, ia tertawa karna ia ingin. Chanyeol menepikan mobilnya didepan apartemen. Pintu mobil masih terkunci saat ia menatap adiknya dengan serius dan berkata. “jangan lupa pakai pengaman”.

“cih…”. Hanya itu yang keluar dari mulut Yeonsung.

Chanyeol menjitak jidat Yeonsung. gadis itu meringis sambil mengelus jidatnya. “kau pikir aku tidak tahu kalau kau sering diam-diam datang ke apartemenku bersama Minho?”.

Ucapan Chanyeol berhasil membuat Yeonsung bersungut kesal, hidungnya mengernyit. “aish… baiklah! Cepat buka pintunya”.

Tangan Chanyeol terulur untuk membuka pintu penumpang. Tanpa mengatakan apapun, Yeonsung beranjak keluar dari mobil kakaknya. Mobil itu kembali melaju setelah memastikan Yeonsung masuk ke gedung apartemen mewah tersebut.

Yeonsung mengendap pergi dari rumahnya. Karena ini bukan pertama kalinya ia kabur dari jendela kamarnya, jadi ia sudah tahu persis teknik melarikan diri. Orang tuanya melarangnya untuk keluar dimalam hari selama seminggu ini.

Persetan dengan itu semua.

Yeonsung ingin pergi kerumah pohon dibukit dan menemui Junmyeon yang saat ini pasti telah menunggunya. Kakinya berlari melewati hutan sambil mengeratkan sweater yang menyelimuti tubuhnya.

“Junmyeon’ah”. Yeonsung memanggil nama pria itu setibanya dibawah rumah pohon. Napasnya terengah karena berlari.

Tak ada jawaban. Jadi Yeonsung memutuskan untuk menaiki tangga gantung menuju rumah pohon. Setibanya diatas sana, tak ada seorangpun didalam. Bahkan Hyojin yang berkata ingin ikut melihat bintang malam ini tak nampak.

“apa mereka sudah pulang, ya?”. Gumam Yeonsung merasa kecewa.

Ia menghampiri teropong bintang yang sudah berdiri menghadap keluar jendela. Gadis itu melihat bintang dari teropong milik Junmyeon. Awalnya ia senang dan tidak memikirkan apapun, tetapi lama kelamaan ia merasa sepi.

“aku pulang saja”.

Yeonsung membalikkan tubuhnya. Ingin pergi dari tempat itu karena merasa tak akan ada yang datang. Dan malam semakin larut. Sebelum ayahnya datang dan menemukannya, ia harus bergegas pulang.

Baru saja kaki Yeonsung menapak ke tanah. Sebuah kilatan cahaya berwarna putih terlihat dari tengah hutan. Yeonsung menyipitkan matanya. Mengira jika itu adalah cahaya dari senter yang digunakan Junmyeon atau Hyojin.

Cahaya itu mulai meredup. Hawa dingin menyeruak, menerpa tubuh Yeonsung hingga terasa sangat menusuk tulang. Sesosok pria tinggi berambut putih dan tatapan mata merah menyala, berjalan kearahnya.

Ditempat lain disisi kota Seoul yang lumayan sepi.

Terowongan dimana Minho sering membawa selingkuhannya untuk bertemu dengan Yeonsung, dan diputuskan dihadapan gadis itu, malam itu Yeonsung datang menemui Minho untuk menanyakan perkataan Minho yang ingin memutuskan Rin.

Jadi ia datang kesini sendirian, lagi-lagi membawa mobil sport Minho.

Namun tak lama ia tiba, mobil lain tiba. Hongwon, Jaemin, Sunwoo, dan Dongmin keluar dari dalam mobil. Yeonsung sengaja mengundang mereka kemari.

“dimana Minho?”. Tanya si tambun Dongmin.

“sedang menjemput Rin”. Jawab Yeonsung dengan santai ia menyandarkan bokongnya diatas mobil.

“jadi benar jika mereka berselingkuh?”. Tanya Jaemin polos. Tak mengira jika Minho lagi-lagi mengkhianati Yeonsung. kali ini bahkan ia mendapat dua tusukan sekaligus. Dari kekasih dan sahabatnya.

“Tanya saja pada si brengsek itu”. Yeonsung menunjuk Hongwon. “dia tahu tapi menyembunyikannya. Cih… akhirnya aku tahu sendiri”.

Semua mata menatap Hongwon. Pria itu memang yang paling akrab dengan Minho, wajar saja jika ia menyembunyikan tentang hubungan Rin dan Minho.

“aku penasaran siapa yang akan Minho pilih kali ini”. Gumam Sunwoo.

“apa? Tentu saja dia akan memilihku. Lihat saja nanti”. Sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi, Yeonsung tak mau merendahkan dirinya.

Dari kejauhan tampak sorot lampu semakin mendekat. Minho akhirnya tiba dengan sepeda motor yang ia pinjam dari Hongwon karena mobilnya terus ditahan oleh Yeonsung. ia benar-benar membawa Rin bersamanya.

Minho melihat keempat temannya mendampingi Yeonsung kala itu. Iapun menggenggam erat tangan Rin. Semuanya tak sesuai rencana. Tadinya Minho pikir Yeonsung akan datang sendirian.

“aku tidak perlu memberitahu apa yang harus kau lakukan”. Ujar Yeonsung setibanya Minho dihadapannya. Ia menyeringai melihat Minho menggenggam tangan Rin.

Rin hanya menunduk, bersembunyi dibalik tubuh Minho yang bahkan sekarang tak cukup kuat untuk melindunginya. Drama putusnya mereka akan disaksikan oleh komplotan Minho.

“Yeon’ah, untuk kali ini – aku tidak akan memutuskan hubunganku dengan kekasih lainku”. Ujar Minho.

Berhasil membuat semua orang yang ada disana terkejut. Apalagi Rin, ia sampai reflek ingin melepaskan genggaman Minho tetapi pria itu menahannya.

“kau hanya bercanda. Um… ayolah, lakukan dengan serius”. Sahut Yeonsung.

“aku serius”. Jawab Minho tanpa keraguan.

Yeonsung menggertakkan giginya, geram. Rahangnya mengheras dengan tangan yang dikepalkan kuat. “Minho’ya, ini salah. Kau tidak seharusnya berkata –“.

“kuulangi sekali lagi. Aku tidak akan memutuskan hubunganku dan Rin. Tetapi denganmu. Mulai saat ini aku bukan kekasihmu lagi. Jadi kau juga tak ada hak untuk mengaturku”.

Kepala Yeonsung seketika terasa pening. Namun ia tetap angkuh. “kau tidak lupa tentang impianmu, kan? Kau tidak akan bisa tanpa aku”.

“lupakan saja. Aku sudah tidak membutuhkanmu. Aku juga akan mencapai impianku dengan caraku sendiri”. Jawab Minho. Sebuah senyuman penuh arti terukir diwajahnya, seolah sedang mengejek Yeonsung sekarang. “menjadi selebriti bukan masalah besar untukku”. Tambahnya.

Sosok dengan aura dingin nan kelam itu mendekat dengan cepat. Hingga Yeonsung tak sempat melarikan diri. Tiba-tiba saja sosok itu sudah berada dihadapannya. Menatapnya dengan tatapan lapar.

“si-siapa kau?”. Suara Yeonsung bergetar. Kakinya bergerak mundur perlahan.

“siapa aku itu tidak penting”.

“jangan mendekat!”. Yeonsung meraih sebuah ranting dan mengibaskannya pada sosok itu.

Dengan sekali gerakan bahkan ia bisa menangkap ranting yang tidak seberapa itu. Mematahkannya hingga menjadi beberapa bagian. Yeonsung sadar sedang berhadapan dengan siapa sekarang. Jadi ia berlari. Berharap bisa melarikan diri dari sosok itu.

“kyaaaaa!!!”. Teriaknya.

Tangan dingin Yifan berhasil menarik baju Yeonsung. baju berbahan tipis itu langsung terkoyak. Yeonsung tersungkur kesemak-semak.

“jangan bunuh aku. Kumohon. Aku tak ingin mati!”. Pinta Yeonsung.

Yifan tak mengatakan apapun. Ditariknya leher kurus Yeonsung. hingga gadis itu berdiri. “aku tahu kau pasti makanan terlezat yang akan kucoba”. Ujarnya. Yifan mencengkram erat leher Yeonsung sampai gadis itu menggantung dari tanah.

Suara Yeonsung tercekat. Wajahnya memerah karena cekikan Yifan yang sangat kuat menahan aliran oksigen dan darahnya. Namun tiba-tiba Yifan meringis. Melepaskan cekikannya, membuat tubuh Yeonsung terjatuh menghantam tanah.

Ditatapnya telapak tangan yang terasa terbakar. Bahkan meninggalkan jejak melepuh disana. Kesempatan itu digunakan oleh Yeonsung untuk berlari lagi. Meskipun tertatih ia tetap berusaha lari.

Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati.

Kalimat itu terus saja diumpatkan oleh Yeonsung. tak ada hal lain yang ia pikirkan sekarang selain berlari dan menyelamatkan hidupnya.

Dan –

Sekali lagi, Yifan berhasil menangkapnya. Kali ini Yifan tak akan main-main. Ia mencekik Yeonsung dengan tatapan marah. Tanpa ampun. Gadis itu memukul-mukul lengan Yifan berharap bisa membuat cekikannya longgar.

“beraninya si tua bangka itu menyembunyikanmu!”. Desis Yifan.

Penglihatan Yeonsung memudar. Ia bahkan tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Yifan gumamkan. Tulang lehernya terasa seperti patah. Yang terakhir ia lihat adalah kilatan merah mata Yifan.

Mengerikan.

Ucapan Minho membuat hati Yeonsung terasa seperti ditusuk tombak berkali-kali. Dengan kasar gadis itu menarik Rin, menamparnya dan mendorongnya ke aspal.

“ya!”. Minho menarik tangan Yeonsung.

“dia pantas mendapatkannya!”. Balas Yeonsung. “bahkan sekali tamparan tak cukup untuknya”. Desis Yeonsung.

“kau gila! Kau itu psiko!”.

“lalu apa bedanya aku dan jalang ini?! Dia pengkhianat!”. Teriak Yeonsung.

Minho menghempaskan kasar tangan Yeonsung hingga gadis itu sedikit meringis. Tanpa peduli padanya, Minho malah membantu Rin untuk berdiri. “jika kau tetap tak bisa menerima keputusanku, itu masalahmu. Bukan masalahku”. Ujar Minho.

Isakan terdengar dari bibir Yeonsung. perlahan terdengar semakin keras. Ia menangis seperti anak kecil. “tidak! Aku tidak bisa menerima keputusanmu. Minho’ya –“. Sekali lagi Yeonsung mencoba memegang lengan Minho.

“pergilah”. Ucap Minho dengan dingin. Ia menepis tangan Yeonsung.

“benar. Aku akan pergi. Kali ini aku tidak akan main-main”.

Dengan langkah pasti Yeonsung berjalan menuju mobil sport Minho yang tadi ia pakai. Masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Hongwon dan temannya yang lain sempat ingin menghentikan Yeonsung.

Tetapi ia serius kali ini. Tak ada yang bisa menghentikannya.

Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melaju dengan kencang memasuki terowongan.

Teman-temannya masih berdiri diujung terowongan dengan frustasi. Sunwoo bahkan meminta Minho mengejar Yeonsung, tapi pria itu tak bergeming. Mereka tak bisa melakukan apa-apa.

Sial. Aku ingin mati! Tak ada yang menginginkanku lagi!

Yeonsung terus mengumpat. Dalam kesedihannya, sekelebat ingatan melintas dibenaknya. Yeonsung membelalakan matanya seketika. Ingatan yang ia sendiri tak tahu kapan menyimpannya.

Yeonsung tersadar.

Sebuah cahaya muncul dari hadapannya. Panik sekaligus bingung. Yeonsung tak sempat menginjak pedal rem dan malah terus menginjak gas. Cahaya putih misterius itu semakin terang, menghalau penglihatannya. Hingga akhirnya ia tidak bisa mengendalikan mobilnya.

Yeonsung membanting setir untuk menghindari cahaya itu. Dan kesalahan besar terjadi. Karena tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan muncul. Yeonsung hendak menghindari benturan dengan mobil itu. Ia malah membuat mobilnya berputar beberapa kali dan menabrak pembatas jalan. Hingga akhirnya berhenti karena menabrak tiang listrik.

Mereka melihat sendiri kejadiannya.

Saat Yeonsung tiba-tiba kelihangan kendali dan mengalami kecelakaan.

shit! Apa aku tidak salah lihat!?”. Seru Hongwon.

Mereka semua terkejut. Bingung. Tak tahu harus melakukan apa. Mobil itu berada diujung terowongan sebelah sana. Mengeluarkan asap dan percikan api. Minho hendak melangkah, ingin menghampiri mobilnya disana.

Tetapi Rin menghentikannya.

“sebaiknya kita pergi dari sini. Kalian tidak ingin terlibat, kan? Polisi akan mengira kita sedang melakukan balapan liar”. Ujar Rin.

Memikirkan hal buruk lainnya yang mungkin akan terjadi jika mereka menghampiri dan menolong Yeonsung disana. Akhirnya mereka menuruti perkataan Rin dan pergi dengan cepat dari lokasi.

Rumah sakit kembali disibukkan dengan datangnya pasien gawat darurat yang mengalami kecelakaan mobil. Tubuh yang penuh dengan darah itu didorong menuju ruang gawat darurat. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter bersama para asistennya mendorong brankar itu memasuki ruang operasi.

Satu jam berlalu dan operasi belum selesai.

Seperti tak tahu apa-apa.

Minho dan teman-temannya datang kerumah sakit setelah Chanyeol memberi kabar tentang kecelakaan yang dialami Yeonsung. Rin berlarian menghampiri Chanyeol, pacarnya. Dengan cepat ia memeluk pria tinggi yang sekarang tampak sedih atas kejadian yang menimpa adiknya.

“gadis itu benar-benar”. Geram Chanyeol.

“sudahlah, aku yakin Yeonsung akan selamat”. Ujar Rin menenangkan Chanyeol.

Mereka berpacaran? Ya. Sudah cukup lama, mereka saling kenal saat Yeonsung untuk pertama kalinya mengajak Kimi dan Rin datang kerumahnya. Dan sampai saat ini, Chanyeol tak tahu tentang pengkhianatan yang dilakukan Rin.

“ya!”. Chanyeol berdiri. Menarik kerah jaket kulit Minho. “Tadi aku mengantarnya ke apartemenmu. Bagaimana bisa – bagaimana bisa ia mengalami kecelakaan sendirian seperti ini?!”. Chanyeol hampir mengamuk.

“aku tidak tahu, hyung. Dia berpamitan pergi kesuatu tempat dan kejadiannya sudah seperti ini”. Elak Minho.

Rin menahan tangan Chanyeol. Melepaskan genggaman Chanyeol dari jaket Minho. “sudahlah. Jangan mengamuk padanya, sejak tadi kami bersama dan apa yang ia katakan benar”.

“bersama?”. Kimi yang sejak tadi hanya diam dan menonton, akhirnya angkat bicara. “maksudmu bersama-sama melihat Yeonsung kecelakaan?”. Tambahnya.

Mata Rin membelalak. Sebelum ia menjadi salah tingkah dan membuat Chanyeol curiga, Rin segera menarik Chanyeol untuk kembali duduk. “Kimi hanya berusaha mencairkan suasana”. Bisiknya.

“ya ~ Wu Kimi, jangan asal bicara”. Desis Minho.

Kimi tersenyum polos. Sebenarnya Minho merasa takut. Bagaimana Kimi bisa berkata seperti itu? Sedangkan tadi ia tak ada dilokasi kejadian. Dan Kimi bukan sosok yang suka asal bicara. Ia selalu berkata sesuai fakta.

“kau pasti sedang berharap agar sesuatu yang paling buruk terjadi didalam sana”. Kimi melirik ruang operasi.

“berhenti berbicara. Akan kubungkam mulutmu!”.

Belum sempat Kimi menjawab lagi ucapan Minho, pintu ruang operasi terbuka. Dokter dan rombongannya keluar bersamaan dengan brankar. Diatas brankar itu Yeonsung tak sadarkan diri. Ia dibawa keruang ICU.

Mereka tertahan diluar ruangan.

“katakan padaku dia akan selamat”. Desak Chanyeol.

“kami sedang berusaha. Operasi kakinya berhasil tetapi lukanya bukan hanya itu saja. Kepalanya juga mengalami cidera parah dan mungkin pasien akan trouma”. Jelas dokter.

“aku tidak butuh penjelasan itu. Aku hanya ingin tahu apa dia akan selamat?”.

Dokter memasang guratan khawatir. Tak ingin menjawab jika kemungkinan Yeonsung tak akan selamat. Chanyeol menerobos masuk keruang perawatan Yeonsung. gadis itu tampak mengenaskan. Alat bantu napas bahkan tak nampak menyalurkan oksigen dengan baik untuknya. Detak jantungnya sangat lemah.

“Yeon’ah, kau harus bertahan. Aku sudah menemukan solusi untuk masalahmu, jadi bangunlah”. Bisik Chanyeol.

Minho yang melihat keadaan itu teringat sesuatu. Setibanya Yeonsung diapartemennya tadi, gadis itu mendesak agar Minho memutuskan Rin malam ini juga. Jika ia tidak melakukannya, maka ia akan bunuh diri.

Ini bukan pertama kalinya Yeonsung mengancam akan bunuh diri.

Sudah sering kali.

Dan ketika Minho tidak menurutinya, Yeonsung hanya berpura-pura bunuh diri. Jadi Minho berpikir kali ini tidak akan menuruti keinginan Yeonsung. lagipula soal ancaman itu, Yeonsung tak akan melakukannya.

Tetapi, yang terjadi malah sebaliknya.

Suara nyaring yang menusuk telinga itu terdengar dari monitor parameter. Heart rate hanya menampilkan sebuah garis. Diiringi respirasi yang juga berubah menjadi sebuah garis. Chanyeol menatap nanar wajah pucat adiknya. Para medis memeriksa keadaannya.

“ya! Kau tidak boleh mati, Yeon’ah!”. Pekik Chanyeol. Untuk kenyamanan pemeriksaan, Chanyeol dibawa keluar dari luar ruangan.

Tirai putih tertutup rapat tak membiarkan orang dari luar melihat kedalam sana. Saat bagaimana Yeonsung kritis dan dokter mulai menggunakan alat setrum jantung untuk memacu agar jantungnya kembali berdetak. Selang oksigen dipasang dari mulut.

“jantungnya sudah berhenti, dok”. Ujar asisten dokter yang terdengar.

“sekali lagi”.

Setelah 20 menit dokter mencoba menyelamatkan dirinya, jantungnya tetap tak bisa memompa lagi. Suhu tubuh dan tekanan darah juga menurun dengan cepat. Akhirnya para dokter keluar dari ruangan dengan wajah bersedih dan menyesal.

“kami kehilangan dia”. Ucap salah seorang dokter.

Aku merasa seperti sedang mengambang.

Dimana ini?

Kenapa rasanya tubuhku ringan sekali?

Apa aku hanya sendirian disini?

Tidak.

Ada seorang gadis diujung sana.

TBC

Sekian untuk chapter #1 nya ><

Weh gimana coba Yeonsung dua-duanya mati :”v wkwkwk btw Luhan belum terlalu banyak disini yaa…. Oke, komentar yang bermanfaat ditunggu ^^

Advertisements

48 responses to ““Vulpecula” #1 by Arni Kyo

  1. Jadi yeonsung seoul mati?
    Trus nanti yeonsung yg di desa gantiin yeonsung yg di kota ya kak??
    Ok. Maafkan keabsurdan ku kak. 😅😅
    Ditunggu kelanjutannya kak.

  2. Wow,, nih ff seru bgt deh, idenya anti mainstream gitu eonn aku suka bgt,, kira2 apa yg bkal terjadi yah ama kedua yeonsung ini.. Next eonn aku bner2 penasaran baideweyy yifan makhluk apaan trus ada apa dgn yeonsung yg tinggal diluar seoul itu..!? Huu gue bner2 gedeg deh ama si rin dan minho pengkhianat bgt apalagi tuh si rin katanya sahabat tapi kok nikung mana dia juga ngekhianatin chanyeol lagii uhh pen gue gampar deh*sabar woi bentar lagi ramadhan* hehehe :v baideweyy(lagi) nih ff bkal lanjut pan eonn walaupun puasa!? Kutunggu yh eonn

  3. heheh sebenernya blom sepenuhnya ngerti m jlan critanya si rin juga jahat yah hianati temennya sendiri..itu si yifan vampire kali yah tapi d tunggu lanjutannya thor😊😊

  4. Nah tuh kan tuh kan bner…… ceritanya lebih serru n lbih okkeeh dibanding cerita sbelumnya 😃 bhasa kamu dsni juga trsusun bagus banget!! 😄😄😄 udduuhh itu yeon dua2nya sekarat n mati gitu?? Dan aku dibuat penasaran stgh idup sma yg diucapin ortu yeonsung yg didesa… snnrnya yeonsung itu siapa?? Apa?? Bagaimana?? Mengapa?? 😅😅 Benci bgt dg Rin yg bermuka dua…!!!! Eh tapi ayolahh…. aku sll tertarik dengan Kimi… dan Kyungso juga hahaha 😆😆😆 *ssstt….Mark kamu aku lupain dlu ya..* 😂 bwt beb Lu… kisahmu belum semenarik cast yg lain.. kasiaan kasiaaan…. omelin Authornya aja giih…!! Ntar pamor kamu ilang loh…! Haaa…. #kabuuur… 😁

    • iya masa unni? >< aku malah ngerasa ini cerita berantakan :"v
      yesyes mereka berdua sama2 mati disaat yg sama #rip/?
      sebenarnya pd awalnya emg Kimi tu sama Kyungsoo… wkwkwk
      Luhan ada kok cma skrg blm nemuin yg pas buat dia ntar gmna huhuhu

      • Iya iya setuju…. kya’x hawa2 kimi emg lbih oke dipasangin sma D.O haaaa ….. 😁😁😂😂😂😂

      • hehehe… emg dri awal begitu unni.. tp jdi dipasangin sama yg lain karena ku gamau Yeon yg genti pasangan dri Luge :v

  5. sorry telat baca n coment… baru nemu ff yg bisa ngebuat jantung berlari… hehehee..
    keren ff.nya thor.. si Rin itu egois banget udh dpet kakak Yeonsung, kekasihnya jga di embat.. gila, tanganku gatel pengen ngejambak rambut Rin.. #hoho.. sisi jahatku kumat.
    next chap.!

  6. penasaan banget sama hubungan antara yeonsung seoul dan yeounsung luar seoul
    terus yifan itu makhluk apaan??? sama luhan disini bakalan ngapain aja perannya

  7. Mereka kembar atau apaan si…kok nama mereka sama…..
    aku blum mengerti sm jln critax tpi ttp suka kok…
    semangat buat part brikutnya.

  8. Nah loh, kenapa Yeonsung dua2nya bernasib sama gini(?) apakah mereka bakal baik2 ajaa,, Yifannya monster kali yak?
    Yeonsung yg diseoul biarpun rada psiko, but kasian juga dia, dikhianati sahabat & kekasihnya..
    dan Luhan cuma numpang lewat~~
    btw Luhan bakal sama Yeonsung yg mana yaa??
    masih penasaran sama kisahnya..
    ditunggu kelanjutannya dan keep fighting!!

  9. jadi ceritanya dua YS ini mati gtu? lah tamat ? apa gimana? ya ampun… oke FF ini slalu hebat buat aku penasaran luar biasa … aku suka FF dari Arni Kyo unnie~ Ophelie luv luv ehe keep writing and hwaiting!

  10. Waw si rin benar-benar cewek psiko, udah pacaran sama chanyeol berhubungan lagi sama minho. Memang kurang suka sama Yeonsung di Seoul, apa perlu minho sejahat itu sama cewek? Trus Yeonsung di Gwangju bakal selamat kan dari pria bernama Yifan?
    Ah penasaran…..Keep writing, ka!

  11. Please kesel sama rin😂 Btw aku enggak terlalu ngertii🙌🏻🙌🏻 Tapi luhan udah mulai muncul euuyy

  12. Wah!Rin memang tdk tahu malu yah, bisa2nya dia nyebut dirinya tmn padahal selingkuh sm pacar tmnnya sendiri udh gitu nyelingkuhin cy jg kakak tmnnya
    Klau jg yeonsung mngkin sdh ku cabik2 itu rin 😤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s