My Bride [4. Truth] ~ohnajla

ohnajla || romance, drama || G || chaptered

Suga (BTS) aka Min Yoongi/Suga; J-Hope (BTS) aka Jung Hoseok/J-Hope; Jin (BTS) aka Kim Seokjin; Oh Sena (OC)

1. Sope Photography

2. Her

3. Meet

4. Truth


Dua hari sebelum pernikahan adalah jadwal yang diinginkan Seokjin untuk pemotretan prewedding mereka. Lokasi yang dipilih lelaki berbahu lebar itu masih di rumah Sena, tepatnya di kolam renang pribadi rumah tersebut. Untuk kedua kalinya Yoongi dan Hoseok harus berangkat ke sana.

Biasanya Yoongi akan sibuk sendiri mengecek kesiapan kameranya dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan. Tapi entah kenapa, kali ini dia justru sibuk melamun sambil menopang dagu.

Hoseok yang memang sangat perhatian bahkan dalam hal sekecil debu pun, tidak betah untuk tidak bertanya.

“Sedang memikirkan apa, Hyung?”

Yoongi yang sejak tadi sudah nyaris seperti patung pun menghela napas. “Aku memikirkan bagaimana rupa anakmu nanti, Seok-a. Kuharap kalau dia laki-laki, dia akan mirip denganku.”

CKIIIIT!!

Yoongi sama sekali tidak terkejut ketika mobil dihentikan tiba-tiba, bahkan meskipun badannya terdorong ke depan dan nyaris kepalanya membentur dashboard mobil, tampangnya datar-datar saja saat membalas tatapan kesal Hoseok.

“Lain kali kalau kau bicara yang tidak-tidak lagi, aku akan menendangmu keluar, Hyung.”

Yoongi menggendikkan bahu cuek. Kembali dia membuang pandangan keluar jendela sambil menopang dagu. “Sepertinya aku hampir gila, Seok-a.”

“Kau bahkan sudah masuk taraf gila,” ketus Hoseok sambil menunggu lampu lalu lintas berganti hijau.

“Ah ya … kurasa kau benar.”

Lelaki bersurai abu-abu itu menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran kursi. Tangan kirinya mengelus kameranya yang tergantung di leher. Pikirannya melalangbuana tidak mengikuti kemana arah matanya menatap. Hembusan hangat pun lolos dari katup bibirnya.

Hari ini, untuk pertama kalinya, dia berat melakukan pekerjaan ini.

Dia akan sangat bahagia melihat pasangan yang dipotretnya bahagia.

Tapi … akankah dia juga akan bahagia nanti?

Mobil van itu kembali melaju sedang setelah lampu lalu lintas berubah hijau.

Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah mewah bercat putih itu.

Sambil membawa alat-alat pemotretan, mereka pun bergegas memasuki rumah tersebut setelah dibukakan gerbang oleh pembantu yang sama seperti beberapa waktu lalu. Dalam jalanan setapak, Yoongi tak henti-hentinya mengedarkan pandangan. Ia mencari sosok itu. Sosok yang sama putihnya dengan warna rumah yang sedang ditujunya sekarang. Sosok itu tak terlihat di mana pertama kali dia menemukannya. Dan sosok itu juga tidak tampak di mana pun, bahkan di tempat-tempat yang berwarna sama putihnya.

Helaan napas kembali lolos dari bibir tipis Min Yoongi.

Oleh pembantu paruh baya itu, mereka dikomando menuju kolam renang. Beberapa meter sebelum mencapai lokasi, Hoseok dan Yoongi bisa mendengar alunan musik klasik yang sarat dengan makna romantisme. Suara itu terdengar makin jelas ketika mereka sampai di tepi kolam renang.

Dari sanalah suara itu berasal.

Sama halnya seperti beberapa waktu lalu ketika Yoongi mengunjungi rumah ini.

Tubuhnya terpaku di tempat.

Matanya menatap lurus ke depan pada seorang gadis albino yang telah dibalut dengan sebuah pakaian yang serupa warna dengan rambutnya.

Detak jantungnya menggila saat itu juga. Darahnya berdesir deras bak air terjun Niagara. Dadanya … sesak.

Keanehan dalam tubuhnya makin bertambah kala seseorang yang memicu keanehan itu tengah berdansa dengan seorang pria berjas hitam rapi di seberang sana.

Rasa itu menyakitkan.

Yoongi menunduk sebentar sebelum memalingkan wajahnya.

Pembantu yang tadi membukakan pintu gerbang tampak berbicara dengan pasangan tersebut. Tak lama kemudian suara musik klasik itu lenyap, digantikan dengan suara seorang pria yang kini tengah berdiri di hadapan Yoongi dan Hoseok.

“Akhirnya kalian datang juga.”

Yoongi pun mengangkat dagu. Mata kecilnya berusaha tampak tajam saat bertatapan dengan mata lelaki itu. Untuk kesekian kalinya Hoseok bisa merasakan percikan penuh kebencian diantara mereka.

“Kalian sudah siap? Kalau begitu mari kita mulai pemotretannya,” ujar Yoongi dengan dinginnya sambil melewati Seokjin. Hoseok yang kebingungan melihat hyung-nya asal nyelonong, lantas membungkuk sopan pada Seokjin untuk mengikuti kemana Yoongi pergi.

Seokjin hanya tersenyum miring di tempat sebelum berbalik dan menghampiri Sena.

Yoongi dan Hoseok tampak sedang sibuk memasang berbagai peralatan untuk menunjang kegiatan pemotretan. Sekalipun Yoongi tidak melirik keberadaa gadis albino yang sejak tadi memperhatikannya. Lelaki bersurai abu-abu itu entah benar-benar sibuk atau sok serius. Bahkan saat berada di dekat Sena, dia tidak berminat memutar kepalanya pada gadis itu.

Ia tidak tahu bahwa gadis albino itu menyimpan rasa kecewa di balik senyum gelinya saat mendengar lelucon kuno Seokjin.

“Oke, sekarang kita mulai pemotretannya.”

Seokjin pun menggapai tangan mungil Sena dalam kungkungan tangan besarnya dan mengajaknya menuju tempat pemotretan. Mereka berdua berdiri tepat 2 meter di depan Yoongi. Yoongi sendiri memperhatikan mereka dengan datarnya sambil memegangi kamera.

“Kurasa akan lebih bagus kalau nona Oh duduk,” gumamnya sebelum menoleh pada Hoseok. “Yaa! Carikan kursi yang bagus untuk nona Oh.”

Hoseok yang baru saja duduk memangku laptop, segera beranjak tanpa banyak protes. Padahal biasanya dia suka protes kalau disuruh melakukan sesuatu beberapa detik setelah dia duduk. Mungkin karena atmosfer di sini tidak semenyenangkan di pemotretan sebelum-sebelumnya, ia enggan untuk bersikap seperti itu dan takut kalau seandainya suasana di sini makin kacau.

Sembari menunggu Hoseok, Yoongi kembali sok sibuk dengan kameranya. Dia mencoba membidik beberapa objek di sekitar lokasi untuk mengecek kondisi kameranya. Sementara telinganya terpasang dengan baik mendengarkan percakapan pasangan yang akan menikah itu.

“Kau tidak ingin mewarnai rambutmu?”

“Mewarnai bagaimana?”

“Kurasa kau akan lebih manusiawi jika rambutmu diwarna hitam.”

Sekilas Yoongi melirik keberadaan mereka. Napasnya menghembus berat saat mendapati ekspresi kecewa di paras ayu Sena.

“Kenapa tidak sekalian saja menyuruhku mewarna bulu mataku, Oppa?”

“Kalau memang bisa … kenapa tidak dicoba?”

Sekali lagi Yoongi melirik mereka. Sena hanya bisa tersenyum getir mendengar kalimat menusuk tapi terkesan santai dari bibir Seokjin.

Ckrik.

Usai bidikan terakhir asalnya, Hoseok tiba-tiba muncul sambil membawa kursi yang diinginkannya. Yoongi lantas merebut kursi itu lalu menempatkannya sendiri di tempat yang diinginkan. Dan tanpa bicara sepatah kata pun dia menyuruh Sena duduk dengan isyarat tangannya.

“Seokjin-sshi, berdirilah di sampingnya.”

Seokjin menuruti apa yang diperintah.

“Hm … saling pandang satu sama lain sambil tersenyum.”

Sena yang semula menatap lurus pada Yoongi pun langsung mendongak. Ia tersenyum dengan begitu manisnya ketika mendapati Seokjin tersenyum penuh cinta padanya. Senyumnya berubah menjadi kikikan geli saat Seokjin mengerling usil.

Gadis itu sama sekali tidak tahu bagaimana ributnya suasana hati Yoongi. Lelaki yang nyaris albino itu menelan ludahnya susah payah sebelum mengoperasikan kamera andalannya.

Ckrik. Ckrik. Ckrik.

20 menit berlalu, akhirnya selesai juga sesi pemotretan itu. Yoongi tampak sibuk membereskan peralatan pemotretan. Saking fokusnya, dia sampai tidak sadar kalau Sena sedang berdiri di belakangnya sambil membawa nampan berisi minuman. Tahu-tahu dia berjalan mundur dan….

BYUR!!

Yoongi melotot tak percaya melihat apa yang sudah dia perbuat. Makin shock lagi ketika pembantu keluarga Oh datang dengan tergopoh-gopoh sambil meneriaki majikan mereka.

“Ya ampun, Nona!! Yaa! Cepat panggilkan Seokjin-goon!” teriak pembantu paling tua kepada seorang pembantu muda yang usianya kira-kira sepantaran Sena.

“Nona bertahanlah!!”

Hoseok yang juga berada di sana, lantas berlarian menghampiri Yoongi untuk melihat Sena yang tengah berusaha bertahan hidup di kolam renang tersebut. Kemudian dia menoleh pada Yoongi yang masih terpaku di tempat.

Hyung! Kenapa kau hanya diam saja?! Cepat tolong dia!”

Bukan bermaksud enggan menolong, Hoseok memang tidak bisa berenang. Satu-satunya orang disini yang bisa berenang hanya Yoongi. Dan dia sangat heran melihat Yoongi yang hanya diam di tempat seperti orang bodoh.

HYUNG!!” pekiknya kesal. Ia mengguncang badan kurus Yoongi sampai akhirnya Yoongi tersadar juga.

Buru-buru Yoongi melepaskan kamera dari lehernya dan menyerahkannya pada Hoseok sebelum terjun ke dalam kolam renang itu. Tepat saat itu juga Seokjin datang.

“Tolong hmp! Tolong…”

Semuanya tampak harap-harap cemas saat menonton bagaimana Yoongi berenang menuju Sena dan merangkul pinggang gadis itu sambil membawanya ke tepian. Sena yang sangat ketakutan dengan kolam renang, lantas memeluk erat leher Yoongi tanpa memedulikan kalau semua orang melihat mereka –termasuk diantaranya Seokjin. Dua pembantu yang sudah menanti di tepi kolam segera membantu Sena untuk naik dan langsung membalut tubuh basah gadis itu dengan dua handuk putih besar. Yoongi sendiri dibantu oleh Hoseok.

Lelaki bersurai abu-abu itu mengusap wajah basahnya sebentar sebelum mengamati wajah Sena yang tampak semakin pucat. “Gwaenchanha?

Dengan tubuh yang menggigil, gadis itu menoleh. Tapi belum sempat dia menjawab tiba-tiba saja suara lain menginterupsinya.

“Kapan kau tidak akan bertingkah ceroboh lagi, huh?”

Yoongi mendongak ke asal suara dengan kedua alis terpaut di tengah. “Yaa.

“Kita ini akan menikah lusa! Bagaimana kalau kau sakit?! Kau benar-benar ingin menghancurkan pernikahan kita?!”

Yaa! Jaga bicaramu!” Yoongi berteriak marah. Suaranya yang berat itu membahana nyaris di seluruh penjuru kolam renang. Dia buru-buru bangkit dan menarik kerah kemeja Seokjin. “Bisakah kau bicara baik-baik dengannya? Ini bukan salahnya, ini salahku! Aku yang sudah membuatnya jatuh ke kolam!”

Seokjin tersenyum miring. “Kau sedang membelanya? Ini adalah kedua kalinya kau membela dia, Min Yoongi. Apa kau menyukainya?”

Yoongi menatap Seokjin tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, Min Yoongi. Kau sendiri yang bilang aku telah berubah tapi kau tidak sadar kalau kau sendiri juga berubah! Berhenti membela dia.”

Seokjin melepas paksa cengkraman Yoongi dari kerahnya sebelum bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, mungkin juga meninggalkan rumah itu.

Yoongi terdiam sesaat sebelum menghela napas. Tahu-tahu dua pembantu yang tadi membantu Sena naik ke tepi kolam menjerit histeris.

“Nona Oh!!”

Reflek lelaki bersurai abu-abu itu menoleh. Cepat-cepat dia mengangkat tubuh gadis yang pingsan itu lantas membawanya ke kamar oleh arahan para pembantu. Dengan sangat hati-hati sekali dia membaringkan gadis itu di ranjang yang terbalut bedcover bermotif bunga-bunga. Setelah itu semua urusan dia serahkan sepenuhnya pada para pembantu.

“Tuan, bisakah anda keluar? Kami akan mengganti pakaian nona muda.”

Yoongi mengangguk kikuk sebelum mengayunkan tungkainya keluar dari ruangan tersebut. Dia menutup pintu dari luar lalu pergi menuju kolam renang di mana Hoseok berada.

Hyung, lepas bajumu dan pakailah ini.”

Yoongi spontan berhenti ketika Hoseok menghadang jalannya dengan sebuah jaket. Ia mengerutkan dahi tak suka. Lantas menjitak kepala lelaki berhidung mancung itu. “Kau pikir aku ini sayuran? Apa-apaan kantung plastik itu?!”

Hoseok berdecak kesal. “Keterlaluan sekali kau ini, Hyung. Makanya buka matamu lebar-lebar! Ini jaket! JAKET! Memang bahannya saja yang seperti kantong plastik. Ini merk terkenal tau, harganya mahal. Sialan kau ini. Sudahlah pakai saja. Aku tidak mau kau jadi cumi kering seperti detektif di kantor polisi sebelah studio kita karena pakai baju basah seperti itu.”

Meski sedikit enggan, Yoongi akhirnya menerima jaket yang menurutnya aneh itu. Segera dia menanggalkan atasannya di sana lalu menutup perut cokelat lumernya dengan jaket tersebut.

Selesai membereskan semua alat pemotretan, Yoongi pun menyuruh Hoseok untuk duluan ke mobil. Sementara dia meminta izin untuk masuk ke ruangan Sena.

Di dalam ruangan yang tampak hidup dengan perpaduan warna-warni cerah itu, dia mendapati Sena yang sudah siuman dan sedang duduk bersandar pada dashboard ranjang. Ia tersenyum tipis ketika menghampiri gadis yang tengah menatapnya itu.

“Kau sudah merasa baik?”

Sena mengangguk sambil tersenyum lembut. “Duduklah.”

Yoongi menggeleng pelan. “Celana yang kupakai masih basah.”

Gadis albino itu menggeleng tak masalah. Yoongi akhirnya menurut dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menghadap Sena.

“Maaf sudah membuatmu jatuh tadi.”

Entah kenapa Sena tersenyum geli. “Itu tidak masalah. Aku juga yang salah karena berdiri di belakangmu.”

Yoongi menggaruk tengkuknya. “Tapi biar bagaimanapun, tetap aku yang salah, Sena-sshi. Aku tidak tahu kalau kau tidak bisa berenang. Maaf, sekali lagi aku minta maaf. Aku akan membelikanmu banyak minuman gingseng untuk mencegah kau sakit.”

Kali ini Sena justru tertawa. Yoongi tertegun. Antara terpesona dan tak percaya.

Gadis itu menyeka setitik air yang tertahan di pelupuk mata indahnya. Lantas iris biru pucatnya bergerak pelan menatap iris cokelat gelap Yoongi.

“Kau tidak perlu melakukan itu, Yoongi-sshi. Aku baik-baik saja.”

Yoongi menggeleng. “Ini kesalahanku, Sena-sshi. Aku harus bertanggung jawab.”

Sena tersenyum simpul. Hatinya menghangat mendengar semua yang dikatakan Yoongi. Seokjin tidak pernah begini padanya.

Arasseo, silahkan lakukan sesukamu, Yoongi-sshi.”

Senyum puas pun tercetak di wajah tampan lelaki bermarga Min itu. “Gomawo. Ah, kalau begitu aku pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik, hm?”

Saat Yoongi akan beranjak, tiba-tiba saja Sena menahan lengan lelaki itu. Reflek Yoongi pun berhenti dan menoleh. Dahinya membentuk kerut tipis saat melihat Sena yang sibuk sendiri mengobrak abrik laci nakas masih sambil menggenggam tangannya.

“Ini,” ujar gadis itu akhirnya sambil menyimpan selembaran undangan ke tangan Yoongi. “Datanglah ke acara pernikahan kami lusa nanti. Aku mengundangmu secara pribadi … Oppa.”

Mata kecil Yoongi melebar dari ukuran semula. Ia berkedip-kedip cepat sebelum akhirnya kesadarannya kembali.

Ne?

Sena tersenyum tipis sambil melepaskan genggamannya. “Aku menunggu kehadiranmu lusa nanti, Oppa.”

“A-ah … arasseo. Aku pergi dulu. Annyeong.”

Sena melambai, mengantarkan Yoongi menghilang dari balik pintu kamarnya. Ketika bayangan lelaki itu sudah hilang dari pandangannya, ia cepat-cepat bersembunyi dalam selimut tebalnya. Memekik histeris di balik bantal.

TBC

Advertisements

6 responses to “My Bride [4. Truth] ~ohnajla

  1. 1 chapter lg.. Please kak jgn bikin yoongi patah hati lg utk ke 2 kalinya 😥
    kyknya sena jg suka ama yoongi 🙂

  2. Beneran mau tamat ya thor ceritanya, ato memang msh bnyk chapter lg…q ngak tlalu ngikutin komen disini tp q berharap yoongi tetap sm sena, batalin aja pernikahannya dgn soekjin, ato ada yg ngaku di hamilin sm seokjin…hihihi ketawa setan…

  3. kenapa sena memekik histeris, misterius nih,,, atau jangan-jangan sena sebenarnya gak akan nikah sm seokjin gt tp nikahnya sama abang yoongi #Khayalanku #Keinginanku wkwk…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s