[Vignette] Ssstt! Don’t let Her Know! by ShanShoo

tumblr_n1n9zdW0d61tur3mqo1_500

ShanShoo’s present

Luhan with OC

fluff, romance // vignette // PG-15

.

WordPress : ShanShoo || wattpad : @ikhsaniaty

PEKERJAANNYA malam hari ini telah selesai. Dana merentangkan tangannya selebar mungkin sehingga ia bisa mendengar sendi-sendinya yang bersuara rendah, pertanda bahwa hampir lima jam lamanya ia duduk di kursi kerja tanpa berniat untuk pergi ke mana pun, sementara atensi terus terarah pada layar komputer yang memperlihatkan naskah-naskah para penulis ternama atau pemula sebelum dipublikasikan.

“Dana-ya, mau pulang bersamaku?” Bae Joohyun bertanya saat maniknya mendapati sebagian tubuh Dana dari balik kubikel yang ditempati tepat di sampingnya. Gadis cantik itu akhirnya berhasil mengalihkan perhatian Dana dari komputer yang telah dimatikan. Ia melihat Dana tersenyum sekilas, kemudian menggeleng pertanda ia menolaknya dengan halus.

“Hari ini aku ada janji dengan Luhan,” sahut Dana, seraya membereskan barang-barang pribadi di atas meja kerja dan memasukkannya ke dalam tas sampir. Dana beranjak dari kursinya, lantas menoleh menatap Joohyun yang hanya memasang raut cemberut. “Besok kita bisa pulang bersama, kalau kau mau,” katanya, mengedikkan kedua bahunya singkat.

“Oke.” Joohyun tersenyum memaklumi. Ah, lagi pula, Dana beruntung bisa memiliki kekasih seperti Luhan yang selalu perhatian terhadap pasangannya.

“Joohyun-a,” panggil Dana tiba-tiba. “Aku pulang duluan. Bye!” ia melambaikan tangannya di depan dada, yang segera disambut oleh si gadis Bae itu dengan anggukan mengerti dan memberi tahu Dana untuk berhati-hati di jalan.

Song Dana kini berada di halaman utama perusahaan. Meski tubuhnya telah diliputi oleh mantel hangat dan syal yang melingkar di lehernya, ia tetap merasa kedinginan. Udara dingin di malam hari sangatlah menusuk. Dana ingin segera memasuki mobil Luhan untuk menikmati mesin penghangat ruangan di sana. Dan keinginannya terkabul. Ia menolehkan kepala ke kiri dan mendapati lampu mobil kekasihnya menyala. Di dalamnya, Luhan melambaikan tangan lalu keluar dari mobil dan menghampiri Dana yang hampir membeku karena kedinginan. O, dan rupanya, Luhan berjalan sembari membawa mantel lain miliknya untuk digunakan oleh Song Dana.

“Terima kasih,” ucap Dana, menjungkitkan kedua sudut bibirnya ke atas, yang segera direspons dengan usakan kecil di puncak kepalanya, pun Luhan yang segera menarik lembut tangannya menuju ke mobil.

“Kau terlihat sangat lelah. Apa sebaiknya kita pulang saja?” tanya Luhan ketika mereka berdua sama-sama mengencangkan sabuk pengaman, sebelum Luhan melajukan mobil sport miliknya, membelah jalan raya kota Seoul yang masih dipadati kendaraan.

“Bagaimana dengan kencan kita?” Dana menatap sisi wajah Luhan yang mulai fokus pada jalan yang dilalui mobilnya. “Kau mau membatalkannya begitu saja?”

Ada kekeh pelan yang mengudara, Luhan sempat melarikan pandangannya ke arah Dana, lalu kembali menatap lurus. “Kau yakin akan baik-baik saja? Tidak merasa lelah?”

Dana terdiam setelahnya. Gadis Song itu mengembuskan napas panjang, pun mulai berpikir tentang pilihan mana yang harus ia ambil. Apakah ia harus melanjutkan niatnya untuk pergi kencan dengan Luhan atau tidak. “Well, sedikit,” kata Dana pada akhirnya, setelah jeda lima detik mengisi.

“Dan kau harus segera beristirahat, Song Dana.” Luhan menyahuti ucapan sang kekasih, tangannya dengan lihat membelokkan kendali setirnya ke kanan, memasuki jalan raya yang cukup sepi dibanding sebelumnya.

“Lalu, kencan kita?” Dana mengulang pertanyaannya. Meski ia sudah bisa menebak apa jawaban yang akan terlontar dari bibir Luhan.

It’s okay, Darl,” jawab Luhan, sambil menoleh sekilas pada Dana. “Kita bisa pergi kencan di lain waktu,” lanjutnya kemudian.

“Mm,” gumam Dana singkat. “Mau mampir ke flatku?”

Luhan terdiam, membiarkan Dana melanjutkan perkataannya. “Aku punya banyak persediaan cokelat untuk dipanaskan.”

“Baiklah.” Luhan mengangguk senang. “Omong-omong, apakah Minho sudah mampir ke flatmu?” tanyanya tiba-tiba, dan ia mendengar Dana berdeham pelan.

“Ya, kemarin malam ia datang.”

“Lalu?”

Dana tertawa ringan sebelum ia menjawab pertanyaan itu. Menghela napas panjang, ia berujar sembari pandangan terlihat tengah mengenang sesuatu. “Dia menikmati cokelat panas buatanku, dia juga tidur di sofa. Ah, aku memang merasa kasihan padanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin juga, kan, aku dan dia tidur bersama dalam satu kamar?” tanyanya, meminta persetujuan atas kalimat terakhirnya. Dan beruntung Dana, karena ia mendapati anggukan beberapa kali dari Luhan.

“Tapi … tidur di kursi sofa? Wow, itu terdengar kejam.” beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di depan kediaman Dana. Luhan mematikan mesin mobilnya, membuka sabuk pengaman dan keluar bersama dengan gadis itu. Luhan memilih berjalan mengitari mobil bagian depan dan berakhir merangkul bahu Dana dan berjalan bersisian menuju flat.

“Aku tidak kejam, Lu,” sahut Dana, begitu ia membuka kunci pintu dan mempersilakan Luhan masuk. “Aku memberinya dua buah selimut untuk tidur,” katanya sambil melepas mantel yang melingkupi tubuhnya ke atas kursi sofa panjang, disusul Luhan yang melakukan hal serupa.

“Oke, aku percaya kalau kau adalah kakak yang baik.” Luhan terkekeh singkat. “O, ya, aku ingin cokelat panasnya sekarang.”

“Kau bisa mengambil cokelatnya di kulkas. Dan kau bisa membuatnya sendiri,” kata Dana, sambil lalu meninggalkan ruang duduk menuju ke kamar.

“Hei, tak bisakah kau membuatkannya untukku?”

“Apa?” teriak Dana cukup keras, ia merasa suara Luhan terdengar samar-samar. Maka dari itu, Luhan memilih merajut langkah menuju kamar Dana dengan pintu yang terbuka lebar. Menampilkan kondisi kamar Dana yang rapi, dan mendapati gadis itu tengah membuka anting serta kalung yang telah dipakainya ke atas meja rias. “Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya, melirik ke arah Luhan sambil memasang raut wajah berpura-pura kesal.

Luhan menyengir lebar. “Buatkan aku cokelat panasnya, boleh, kan?”

“Buat saja sendiri.”

“Tapi, Dana―”

“Bukankah kau menyuruhku untuk beristirahat?” Dana tertawa mendengus. “Jadi, buatlah sendiri.”

“Oke. Aku mengerti.” Luhan turut mendengus kesal, sosoknya kini tak lagi terlihat di ambang pintu kamar. Hanya menyisakan aroma maskulinnya ke setiap penjuru ruangan.

“O, ya, Dana?”

Suara Luhan terdengar lebih tak jelas dibanding sebelumnya. Tetapi gadis itu memilih untuk menyahutinya dari kamar dengan nada lebih diperkeras.

“Kalau aku memintamu untuk menikah denganku, apa kau mau?”

Demi apa pun, Dana tak bisa mendengarnya. Ia memutuskan untuk beranjak dari kamarnya dan bertanya tentang apa yang baru saja dikatakan oleh Luhan. Namun, yang ia dapati dari laki-laki itu hanyalah cengiran lebar serta gelengan kepala yang menggemaskan. Di samping itu, Luhan mulai menyalakan kompor gas dan meletakkan panci kecil berisi cokelat dan air mineral secukupnya.

“Jadi, kau tak mau mengulangnya?”

Luhan kembali menggeleng, tak acuh pada presensi Dana yang kini menyandarkan sisi tubuhnya di pintu kulkas, menatapnya dengan mata memicing.

“Lu?”

Laki-laki itu tetap saja tak merespons. Hanya bibirnya yang terus mengulum senyuman.

“Lu, kencan kita―”

“Beristirahatlah. Aku akan pulang setelah aku meminum cokelat panas.” Luhan segera menyahutinya dengan tergesa-gesa. Antara sadar atau tidak, ia malah memberikan seraut wajah canggung, sehingga membuat Dana merasa tak percaya pada ucapannya.

“Kau tidak membohongiku?” Dana mendesak Luhan untuk mengaku. Tetapi ia tetap tak mendapat jawaban yang sebenarnya. Yang ada, ia malah mendapati Luhan mengecup ringan bibirnya, hingga akhirnya laki-laki berkebangsaan Cina itu berujar,

.

.

.

.

“Semoga hubungan kita bisa sampai ke jenjang pernikahan.”

-end

 

Haaai! Longtaimnosii /eheheh/

Masih inget gak sama aku? Iya, ini author abal yang jarang banget nongol di SKF x(

Makasih, ya, buat kalian yang udah nyempetin waktunya baca fanfiksi gak jelas ini x)

Jangan lupa mampir juga ke blog aku, atau wattpad yang udah aku cantumin di awal cerita /promosi ceritanya/ x)

 

Salam hangat,

ShanShoo

Advertisements

4 responses to “[Vignette] Ssstt! Don’t let Her Know! by ShanShoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s