[CHAPTER 27] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Action–Incest-Thriller–PG-15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Line@ : @fbo0434t

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

“Maafkan aku.” Hee-Ra mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di meja.

 

“Aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Di mana kau sekarang? Aku ke rumahmu tapi tidak ada siapa-siapa?” sahut suara dari ujung sana.

 

Hee-Ra terdiam dan melirik ke arah Se-Hun yang tengah menonton tv di atas ranjang. Mereka memang tidak berada di rumah, Se-Hun bilang saat ini rumah bukanlah tempat yang aman untuk berlindung.

 

“Urusan keluarga. Sepertinya aku tidak bisa ke kampus selama beberapa hari, aku berada di luar kota,” dustanya.

 

“Baiklah…” Jong-In menghela napas panjang penuh kekecewaan. “Bisakah kita bicarakan ini sekarang?”

 

Membicarakan apa? Seingat Hee-Ra mereka tidak pernah berdiskusi serius akhir-akhir ini.

 

“Hm?”

 

“Aku… merasa ada jarak di antara kita.”

 

“Aku tidak mengerti.”

 

Hee-Ra menyadarinya. Ia hanya tidak ingin mengakui hal itu dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Jauh dalam hatinya bahkan berteriak memanggil nama Se-Hun dan entah sejak kapan posisi Jong-In telah tergantikan.

 

Tunggu dulu…

 

Atau mungkin Se-Hun tak pernah pergi dari hatinya melainkan terkubur begitu dalam hingga ia berpikir Jong-In lah yang memilikinya?

 

“Lupakan, mungkin hanya perasaanku saja.” Jong-In bergeming selama beberapa detik sebelum akhirnya berdehem karena tak kunjung mendapat balasan dari Hee-Ra. “Baiklah, good night. Aku merindukanmu, kekasihku.”

 

Mendengar Jong-In memanggilnya ‘kekasihku’ dengan tulus berhasil membuat hati Hee-Ra hancur. Perbuatannya secara tidak langsung dengan Se-Hun adalah perselingkuhan. Bagaimana mungkin dia bisa tidur dengan pria lain? Bagaimana mungkin dia bisa jatuh cinta pada pria lain? Hee-Ra bahkan tak sanggup membayangkan seberapa besar kemarahan Jong-In saat suatu hari nanti mengetahui segalanya.

 

Ya, segalanya. Sepintar apapun manusia menyembunyikan bangkai, pada akhirnya akan ketahuan juga. Begitupula Hee-Ra, ia hanya sedang menunggu kapan hal itu terjadi.

 

Matanya berkaca-kaca, sulit rasanya untuk sekedar membalas ucapan Jong-In. Rasa salah dan penyesalan Hee-Ra begitu besar hingga ia tak sanggup dan merasa tak pantas lagi untuk pria itu.

 

“Jaga dirimu baik-baik, aku pasti akan merindukanmu, Kim Jong-In.”

 

Tuttt…

 

Belum sempat Jong-In menjawab perkataannya, Hee-Ra sudah lebih dulu memutus panggilan. Baginya berlama-lama mendengar suara Jong-In sama saja bunuh diri karena harus memikul penyesalan.

 

Tenangkan dirimu Shin Hee-Ra.

 

Tidak apa-apa kalau suatu hari nanti Jong-In membencimu..

 

Semuanya akan baik-baik saja…

 

Seharusnya begitu…

 

Setelah memasang charger pada ponselnya, Hee-Ra berbalik menyusul Se-Hun ke ranjang. Ia tidak langsung duduk di samping pria itu, melainkan memandangnya sejenak.

 

Memang Se-Hun sedang menghadap ke TV, tapi tatapannya kosong. Wajahnya menyiratkan aura kesedihan mendalam dan menyalahkan diri sendiri. Hee-Ra paham, Se-Hun pasti merasa tersiksa karena keadaan mereka, terlebih penyebab utama atas terancamnya nyawa Hee-Ra tidak lain karena dirinya.

 

Tragis, entah sejak kapan hidup mereka jadi menyedihkan seperti ini. Hee-Ra ingin menertawai dirinya yang tak mampu menghadapi gadis brutal bernama Jasmine itu. Seandainya saja ia bisa beladiri, seandainya saja Se-Hun mengatakan sejujurnya sejak lama, Hee-Ra pasti bisa mengantisipasinya.

 

“Apa kau akan terus-terusan melamun seperti itu?” celetuk Hee-Ra sambil menekan tombol off pada remote televisi dan berbaring di samping Se-Hun. “Kemarilah, aku ingin memelukmu.”

 

Otomatis Se-Hun langsung berbaring di samping Hee-Ra dan melingkarkan lengannya di tubuh gadis itu lalu menggeleng, “Aku yang akan memelukmu erat.”

 

“Baiklah, kita saling memeluk saja.” Hee-Ra membalas pelukan Se-Hun dan menarik pria itu lebih dekat dengannya hingga tidak ada jarak antar keduanya.

 

Bahkan dalam keadaan bahayapun, keberadaan Se-Hun sangat berpengaruh baginya. Ia selalu merasa aman saat Se-Hun berada di dekatnya, ia selalu merasa terlindungi dan ia selalu merasa bahwa Se-Hun lah malaikatnya akhir-akhir ini.

 

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

 

Hee-Ra mendongak, menatap Se-Hun yang sejengkal di atasnya. “Baik-baik saja,” jawabnya cepat.

 

Kali ini Se-Hun menangkup kedua pipi Hee-Ra dan mengecup bibir gadis itu lembut, hanya beberapa detik kemudian melepaskannya. “Aku harap kau selalu mengingat rasanya.”

 

Hee-Ra tidak mengerti apa maksud Se-Hun. Kenapa dia berkata seperti itu seolah-olah mereka akan terpisah selamanya?

 

Hei! Tolong jangan katakan kalau Se-Hun akan mengorbankan dirinya demi Hee-Ra?

 

“Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti it—”

 

Cupp..

 

Belum selesai Hee-Ra berucap, Se-Hun telah lebih dulu melumat bibir gadis itu dan menggendongnya ke perut. Hee-Ra semula terkejut, ia masih belum terbiasa pada sifat Se-Hun yang suka menyerang tiba-tiba. Namun hal itu tak berlangsung lama karena rupanya tubuhnya merespon positif dan tanpa pikir panjang membalas ciuman Se-Hun.

 

Hee-Ra membuka mulutnya, membiarkan lidah Se-Hun menjelajah di sana sambil sesekali mengerang nikmat. Lagi-lagi godaan Se-Hun begitu besar dan Hee-Ra tak bisa menolaknya, tanpa perlu banyak bicara mereka kembali melalui malam dengan penuh gairah seperti beberapa waktu lalu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mereka baru saja selesai sarapan, Se-Hun kelihatan sibuk berbincang dengan seorang pemuda berbadan cukup kekar yang sepertinya berusia beberapa tahun di bawahnya—mungkin seusia Hee-Ra.

 

Hee-Ra juga tak begitu paham apa yang mereka bicarakan, beberapa kali Se-Hun sempat meliriknya sebelum akhirnya mendekatkan mulut ke telinga Hee-Ra.

 

“Kita pergi sekarang,” ujarnya.

 

Hee-Ra tidak berniat untuk sekedar bertanya, ia langsung bangkit dan mengambil ponsel juga tas lengannya di dalam kamar lalu kembali menghampiri Se-Hun yang kini tengah berdiri di samping mobil bersama pria tadi.

 

“Aku sudah siap,” ucap Hee-Ra mantap.

 

Se-Hun mengangguk. “Masuklah dulu, aku harus berbicara dengan Daniel sebentar,” jawab Se-Hun yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Hee-Ra.

 

Hampir sepuluh menit berlalu hingga akhirnya Se-Hun menyusul duduk di kursi mobil, sementara pria yang dipanggil Daniel tadi pergi menggunakan motor.

 

“Kita akan pulang sebentar dan ambilah pakaian juga keperluanmu secukupnya, aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman.” Se-Hun berhenti sebentar. “Aku juga telah mengirimkan surat permohonan cuti kuliahmu dua hari lalu, hari ini kau tinggal menandatangani beberapa dokumen di kampus.”

 

Mendengar ucapan Se-Hun, Hee-Ra membulatkan mulutnya tak percaya. Pria itu melakukan sesuatu terkait hidup Hee-Ra tanpa meminta persetujuan dan Hee-Ra tak menyukainya!

 

“Cuti? Untuk apa? Aku tidak mau cuti kuliah!” elaknya.

 

Sebenarnya Se-Hun tidak ingin berdebat sekarang, tapi mengingat betapa keras kepalanya Hee-Ra, ia tidak punya pilihan lain.

 

“Aku melakukannya demi keselamatanmu, pergi ke kampus sama saja bunuh diri. Jasmine bisa mendapatkanmu dengan mudah. Dia bahkan menculikmu saat kau masih berada di sekitar kampus dulu, aku tidak mau kejadian seperti itu terulang lagi.”

 

“Tidak, aku benar-benar tak bisa melakukannya.” Hee-Ra bersikeras, ia menggigit bibir bawahnya kesal. “Aku akan baik-baik saja di kampus, aku berjanji.”

 

“Atas dasar apa kau berjanji seperti itu? Apa Jong-In memang bisa melindungimu? Pria itu bahkan tak tahu bila nyawamu sedang terancam sekarang!”

 

Oh, apa Se-Hun tengah meremehkan Jong-In sekarang? Dia begitu percaya diri sampai-sampai berani merendahkan Jong-In seperti itu.

 

“Aku tidak suka kau meremehkan Jong-In seperti itu, jaga bicaramu.”

 

“Oke,” nada frustasi jelas tedengar. Kelakuan Hee-Ra yang lebih membela Jong-In ketimbang dirinya sudah cukup membuat Se-Hun menertawakan diri sendiri. Ah, apakah gadis itu memang masih mencintai Jong-In dan tak membuka hatinya untuk Se-Hun? Bisa-bisanya dia membela kekasih bodohnya itu di depan kedua mata Se-Hun yang jelas-jelas telah melakukan segalanya untuk keselamatan Hee-Ra.

 

“Demi apapun, aku sedang tidak ingin berdebat sekarang.” Se-Hun menyerah, ia memelankan suaranya, “Kumohon jangan keras-kepala, hanya satu bulan dan aku berjanji kau bisa kembali melakukan aktivitasmu seperti biasa. Shin Hee-Ra, aku hanya tidak ingin kau terluka.”

 

“Kenapa harus satu bulan?”

 

Se-Hun bergeming selama beberapa saat. “Karena aku harus melakukan sesuatu untuk menjamin keselamatanmu dalam satu bulan ke depan, sesuatu yang mungkin akan berbahaya bila ak membiarkanmu bepergian seorang diri,” dan mungkin menjadi batas akhir hidupku untuk bisa melihatmu, “jadi kumohon mengertilah.

 

“Melakukan apa?”

 

Se-Hun tersenyum simpul dan membelai rambut Hee-Ra dari samping. “Aku akan menceritakannya nanti, sekarang kau harus mengikuti apa yang kukatakan, oke?”

 

Mereka segera menuju ke kampus Hee-Ra dan menyelesaikan segala urusan berkaitan dengan rencana cuti gadis itu selama satu bulan ke depan tanpa harus menunjukkan diri di depan Jong-In yang mungkin saat ini tengah berkeliaran di kampus menunggu keadatangan Hee-Ra seperti biasa.

 

Ponselnya berdering beberapa kali, Jong-In terus-terusan menghubungi namun Hee-Ra tak sampai hati untuk menjawabnya, ditambah lagi kode gelengan dari Se-Hun sebagai tanda agar Hee-Ra tak menggubris panggilan Jong-In semakin menguatkan tekadnya.

 

Ingin sekali rasanya Hee-Ra meminta maaf pada Jong-In dan menemui pria itu, tapi ia tak bisa, untuk saat ini nyawanya memang lebih penting daripada sekedar rasa bersalah pada Jong-In karena Hee-Ra yakin pria itu akan mengerti keadaannya nanti.

 

Semoga saja…

 

Semoga saja memang begitu..

 

Setelah menandatangani beberapa dokumen, Se-Hun langsung menggandeng Hee-Ra menuju mobil dan tak membiarkan gadis itu menengok ke belakang sedikitpun karena takut Jong-In akan melihatnya. Mereka segera bergegas kembali ke rumah dan menyiapkan beberapa pakaian juga barang lain yang sekiranya penting untuk dibawa pergi.

 

Rasanya aneh ketika kau merasa tak aman, bahkan di rumahmu sendiri dan memilih pergi ke tempat lain.

 

Se-Hun membantu membawakan barang bawaan Hee-Ra dan menatanya di bagasi. Ia sedih melihat ekspresi resah Hee-Ra, ia takut Hee-Ra tak bisa tersenyum seperti dulu.

 

“Aku berjanji semuanya akan membaik.” Se-Hun mengusap pipi kanan Hee-Ra dan menarik gadis itu dalam pelukannya. “Aku akan melakukan apapun untukmu.”

 

Hee-Ra mengangguk beberapa kali dan menenggelamkan diri dalam pelukan hangat yang diberikan Se-Hun. “Aku percaya padamu,” gumamnya.

 

Hatinya menghangat, ucapan Se-Hun seolah mantra yang berhasil menenangkan hati Hee-Ra. Mereka masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan, entah ke mana, Hee-Ra tak tahu pasti. Ia hanya menerawang dari balik jendela kaca, pergi menjauhi keramaian kota London menuju ke tempat yang lebih sepi meski masih berada di dalam kota.

 

Keduanya tiba di depan sebuah rumah yang tak begitu besar dan terkesan sederhana. Dua orang pria berdiri di sana, sepertinya mereka memang berniat menyambut kedatangan Hee-Ra dan Se-Hun.

 

Setelah mobil berhenti dan Se-Hun berjalan ke bagasi untuk mengeluarkan barang-barang mereka, salah satu dari dua pria tadi menghampiri Hee-Ra.

 

“Selamat datang, nona. Senang bertemu denganmu,” ujar pria itu.

 

Hee-Ra merasa tersanjung pada kesopanan lelaki ini, ia mengangguk. “Terima kasih, tuan. Senang bertemu anda.”

 

“Saya Royce Hayden dan pria yang tengah membantu Se-Hun adalah Elliot.”

 

Royce Hayden? Nama yang sangat familiar.

 

Keduanya menengok bersamaan saat Se-Hun berdiri di samping Hee-Ra sambil membawa koper. “Aku akan menceritakan padamu,” ucapnya pada Hee-Ra. “Bisakah kau menunjukkan di mana kamarnya?” Kali ini Se-Hun bertanya pada Elliot yang langsung dibalas oleh pria itu.

 

Mereka berempat masuk ke rumah menuju kamar tamu bernuansa coklat—terkesan elegan—Well, mungkin Elliot memang menyukai hal-hal klasik.

 

Mengerti apa yang diinginkan, Elliot dan Royce memilih untuk memberikan waktu bagi Hee-Ra dan Se-Hun untuk berunding, mengingat kemungkinan pria itu belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

 

Setelah menaruh tas lengan di atas ranjang, Hee-Ra menghampiri Se-Hun yang masih berdiri di samping koper. Ia mengusap lengan pria itu dan memintanya berbalik agar mau menatap kedua mata Hee-Ra.

 

“Kau berjanji akan menceritakan segalanya padaku,” ujarnya.

 

Se-Hun tidak mau Hee-Ra salah paham seperti sebelumnya, untuk menghindari hal itu memang diharuskan adanya kejujuran antara keduanya dan mau tak mau Se-Hun harus mampu menyiapkan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.

 

Ia menarik tangan kanan Hee-Ra dan mengajaknya ke balkon. Mereka saling berhadapan, kedua tangannya bertautan, begitupula manik mata Se-Hun yang mengatakan bahwa penjelasannya setelah ini mungkin akan meruntuhkan hatinya.

 

“Shin Hee-Ra, kau adalah hidupku sekarang. Aku akan melakukan apapun untukmu…” Ucapannya menggantung, selama beberapa saat Se-Hun menaruh telapak kanan Hee-Ra di dadanya. “Bahkan aku tidak masalah bila harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.”

 

Suasana yang diciptakan Se-Hun seolah menyiratkan rencana kematian—entah dibunuh entah berkorban—yang akan ia lakukan untuk kehidupan Hee-Ra. Pria itu tidak sungguh-sungguh melakukannya kan?

 

“Katakan yang sebenarnya, aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu tadi.”

 

Ekspresinya melembut, Se-Hun mengusap wajah Hee-Ra dengan penuh kasih sayang. Wajah yang selama ini selalu ia rindu dan idamkan. “Elliot adalah anggota agen rahasia, lebih tepatnya ia seorang kepala di cabang London dan aku akan membantunya untuk menghancurkan organisasiku. Aku tidak punya pilihan lain, lagipula Elliot mau menjamin keselamatanmu asal aku bersedia melakukannya. Jadi kupikir apa yang akan terjadi sepadan dengan apa yang kudapat.”

 

Hee-Ra mengerutkan keningnya. “Apa rencana kalian sudah pasti akan berhasil?”

 

“Entahlah.”

 

“Dan… kalau kau tidak berhasil?” Hee-Ra menggeleng. “Maksudku, kalau organisasimu mengetahui rencana yang kau buat dengan Elliot apa yang akan terjadi?”

 

Tidak ada jawaban dari Se-Hun kecuali senyum pedih yang mengembang selama beberapa detik. Sudah cukup bagi Hee-Ra untuk mengetahui kemungkinan terburuk yang akan terjadi tanpa perlu penjelasan. Mulutnya membulat tak menyangka Se-Hun akan memilih jalan paling berbahaya yang sangat memungkinkan untuk menghilangkan nyawanya sendiri hanya untuk Hee-Ra. Gadis itu benar-benar tak mengerti jalan pikiran Se-Hun, ditambah lagi perasaannya yang semakin hari terus menguat dan mulai menganggap Se-Hun lebih berarti dari apapun.

 

“Kau… tidak serius, kan?” Hee-Ra melepaskan tangannya dari Se-Hun. “Tidak! Jangan lakukan itu, kau harus mundur! Aku… aku tidak akan membiarkanmu mempertaruhkan nyawa seperti itu!”

 

Situasi seperti sekarang mau tak mau mengharuskan Se-Hun menenangkan Hee-Ra, kedua tangannya berusaha kembali menarik Hee-Ra ke dalam pelukannya meski gadis itu terus menolak dan bahkan memukul dada Se-Hun keras-keras.

 

Ia tahu Hee-Ra pasti akan shock setelah mengetahuinya, yang lebih parah, mungkin ia akan marah karena keputusan Se-Hun. Tapi sungguh, Se-Hun tak punya pilihan lain. Ia juga tidak ingin sampai gagal dan mati, tapi mengingat betapa besar dan hebatnya organisasi bila dibandingkan Se-Hun yang hanya seorang diri, berapa besar presentasi keberhasilannya? Belum lagi masalah Jasmine yang terus berusaha untuk mendapatkan Hee-Ra. Kepalanya seolah mau pecah, hidupnya terlalu berat, Tuhan seolah tak pernah memberinya pilihan sejak dilahirkan.

 

Jujur, Se-Hun lelah, ia ingin hidup bahagia bersama Hee-Ra. Ia ingin memiliki kebebasan dan menjadi orang biasa seperti warga lainnya. Ia tidak ingin bergelut di bidang paling kejam di dunia.

 

“Shin Hee-Ra…”

 

“Tidak! Aku tidak mau berbicara denganmu sebelum kau membatalkan perjanjian bodoh dengan Elliot itu. Aku akan pulang sekarang, aku tidak butuh perlindungan. Lebih baik aku mati dibunuh daripada harus membiarkanmu bunuh diri dengan menentang organisasi! Aku hanya ingin kau keluar dari organisasi itu bukan menghancurkannya!”

 

Hee-Ra tidak mengerti…

 

Se-Hun pun tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya….

 

Ia membiarkan Hee-Ra pergi meninggalkannya dan menarik koper kembali. Gadis itu berlari keluar kamar tanpa melemparkan ucapan pada Se-Hun yang masih membeku. Keselamatan Hee-Ra akan terancam biar ia keluar dari rumah Elliot sekarang, tapi sekali lagi, Se-Hun tak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan bahwa ia tak punya pilihan seperti apa yang dikatakan Hee-Ra.

 

Dan lagi, wanita mana yang tega membiarkan kekasihnya untuk mati demi dirinya? Bukankah lebih baik mati berdua daripada yang satu harus hidup dalam rasa bersalah selamanya?

 

 

 

 

 

 

Dendam yang membara dalam hati Jasmine semakin besar, mengingat kejadian penembakan beberapa hari lalu yang dilakukan oleh Daniel hingga ia terluka cukup parah dan hampir mati hanya untuk menyelamatkan Hee-Ra dan Se-Hun.

 

Ia tak menyangka Daniel berkhianat untuk lebih memilih kubu Se-Hun. Bodoh memang, tapi Jasmine berjanji tak akan membiarkan Daniel tetap hidup. Ia masih memiliki banyak rencana untuk menghancurkan mereka. Well, rasa ingin memiliki Se-Hun dalam dadanya juga belum mereda, Jasmine akan terus berusaha membunuh Hee-Ra ditambah Daniel untuk list barunya.

 

Mereka pantas mati karena telah menghalangi kebahagiaan Jasmine.

 

“Bagaimana keadaanmu, Jaze?”

 

Bruce baru saja masuk sambil membawa nampan berisi makan siang untuk Jasmine. Yah, satu-satunya orang yang bisa dihubungi Jasmine saat sedang sekarat hanyalah Bruce, tidak heran bila sekarang gadis ini hanya terbaring lemah di mansion Bruce setelah menjalani beberapa perawatan dari dokter khusus organisasi.

 

“Setidaknya lukaku tidak separah dendamku.” Jasmine meraih nampan dari Bruce dan mulai menyendok makanannya. “Apa aku masih belum boleh keluar? Aku ingin segera menuntaskan segalanya.”

 

Bruce menerawang, melihat kegigihan Jasmine untuk memperjuangkan Se-Hun serta mengesampingkan dirinya sendiri malah membuat Jasmine nampak menyedihkan. Seorang wanita tidak seharusnya mengejar sampai seperti itu, bagaimanapun harga dirinya jauh lebih mahal daripada apa yang diinginkan.

 

“Berhentilah, Jaze. Mengejar dan memaksa Se-Hun hanya akan membuatmu sakit hati.”

 

Jasmine nampak kecewa mendengar petuah Bruce, ia tidak suka dikasihani maupun dinasehati mengenai apa yang terbaik untuk hidupnya. Bruce tidak tahu apa-apa! Pria itu bahkan tak pernah mengerti seberat apa hidup Jasmine selama ini! Berani sekali ia berkata kalau Jasmine harus berhenti, memang dia siapa?

 

“Aku tidak akan pernah berhenti sampai nyawaku melayang. Ingat itu.”

Advertisements

28 responses to “[CHAPTER 27] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Akhirnya yang kutunggu tunggu keluar juga thorr 😊😊 suka banget sm ff km yg ini thor, tp chapter ini kok keliatannya agak pendek dr yg biasanya ya thor hehe tp bagus kok alurnya. Tp kasian sehun heera 😭 Jangan matiin sehun ya thor kasian hidupnya sengsara terus hehe klo bisa happy end ya sm heera thor hehe
    Jasmine cepet musnahin aja thor 😑 Gemes ama dia rasanya pengen cepet dibunuh aja tu orang

    Sangat ditunggu chap selanjutnya thor
    Semangaatt😁

  2. Duhbm update juga 😆 situasinya makin panas aja siii. Sehun heera susah banget kayanya buat bareng bareng 😦 si jasmine lagi ini elaahh, ganggu aja wkwkw next yaa

  3. Omg jasmin nggak nyerah juga, semoga aja sehun sama hee ra tetep selamat dan bisa hidup bahagia bareng

  4. Huahhhh sehunnn…segitu nya dia berko4ban demi heera..heera juga mkn sayang kaya y ke sehun..tp jongin kasian…and jasmine haduhhh dia jahat bgt.

  5. Astaga jasmine gak nyerah juga mau dapatin sehun. Apa heera masih terus setia disamping sehun setelah sehun cerita semuanya ? Terus gimana nasib hubungan jongin sama heera, gak mungkin kan jongin rela putus dari heera ?

  6. waaahh heera ngerasa akhirnya, hayolho selingkuh aih aku beneran pengen heera sama jongin, sehun mati ajalah tapi berhasil dalam misi, jadi heera tetep sama jongin, maafkan aku hunra shipper. aku pengen itu kak wkwkwkwkkkk… kalau ga jga gapapa deh aku terima endingnya kaya apa. jassmine ga selse selse ya hemeh. buruan mati jaze biar sehun ga pusing gitu. aku tunggu next chapternya semangat

  7. Aku bingung mau nge-gambarin perasaan aku ke part ini.rasanya tuh campur² antara seneng karna sehun-heera naik lengket,kasian sama sehun yg harus menghadapi banyak masalah,kesel sama Jasmine yg ga nyerah²,dan ngerasa iba sama si jongin yg secara ga langsung di khianatin
    Intinya keep writing un,aku udah nunggu lama banget buat setiap chapternya sampe kalau buka skf pasti nyari salted wound dulu

  8. Astaga kukasihan dengan jongin😭Kasian sama sehun😭Kasian sama daniel juga😭Heera pasti bingung banget itu😭Kenapa ceritanya jadi rumit gini chingu😭😭penasaran endingnya😭Semoga happy ending😭😭
    Terimakasih sudah kembali ching😘Semangat terus nulisnya wkwk

  9. Btw itu jasmine kenapa ngga mati aja sih-_- kesel bat dah gue-_-ngga punya malu bat jadi cewek-_-

  10. Udah sehun sama heera cukup sebatas selingkuh aja. Adik kaka aja. Biar heera sama jongin. Eeeh. Hihihi seru kalo gitu. Terus itu jasmine btw strong woman yaa. Udah banuak luka ttp bangkit

  11. dasar jasmine gx nyerah” aja ni anak.
    kenapa gx sehun gx bunuh aja tu jasmine.
    semoga aja nanti cerita y happy ending

  12. Tambah kerreeen sperti biasa ceritanya! Respon Heera wajar klo dy ga mau… semuanya trlalu mendadak n mengejutkan! Hrs izin cuti.. smbunyi dari jasmine.. hrs pundh rumah… ditambah sehun yg ingin menghncurkan organisasinya… duuuh…. aku ga sanggup bayangin jadi heera n sehun.. kasian mereka… ksian juga sma Jongin 😢 heera it sbnrx affair sm Sehun… n jongin yg memang berstatus sbg pacarny bkin baper banget.. 😢 tapi mau gimana lagi.. kata org kan cinta itu tak buta? Heleuh heuleuh bkin pening runyam n rumit.. ya sudahlah dtgu next nya ya Heena… 😊😊😊

  13. Akhirnya yang ditunggu tunggu keluar juga
    Sebernernya antara kasian dan kesel sama sehun heera , kasian gitu pemderitaannya sehun makin nambah trs si heera nya yg gamau ngerti ngerti sama keadaan di next deh penasaran abis kelanjutannya

  14. Makin hari makin rumit aja dah hubungan Sehun dan Hee Ra. Kasian juga Jongin 😥 entah bagaimana perasaan dia setelah mengetahui semuanya 😦
    Sehun jangan sampai mati ya thor, kasian Hee Ra 😥

  15. Dikira Jasmine udah meninggal 😐
    Duh rencana Sehun jangan gagal please😢
    Jongin apa kabar? Jangan-jangan Jongin nanti dimanfaatin sama Jasmine.
    Ditunggu next chapt😢

  16. gregetan bgt gue sm si jasmine anjr kenapa gk sama bruce aja sih :3 kan sehun udh milik hee-ra tapi jongin nanti sama siapa TTTT

  17. Hah jasmine jasmine….
    Sehun….wae….sesusah itukh kondisi utk jujur sama heera
    Aku tau kalau kamu jujur heera lbh makin ga mengizinkn kamu,tpi apa aalahnya dgn sebuah kejujuran si.
    Hah…..daebak….gila….
    Knp jdi runyam ky gini yah….kok bruce syang banget ya sama sehun???
    Pertanda baikkah in???
    Atau mlh sebalikny???
    Sehun Hwaiting….
    Heera kalau kmu meninggalkn sehun,ap dia ga lbh terpuruk???

    Sllu ditunggu part brikutnya Heena….

  18. Jongin. Yaa, Aku aja udah lupa 😂✌. Semoga Hee-Ra cepet meluruskan segala sesuatunya sama Jongin, dan cepet paham apa yg lagi Sehun usahakan.
    Hunnie, tetap semangat, yaa, Kamu emang harus bisa lindungin Hee-Ra, tapi nyawa Kamu juga sangat berhargaa *reader khawatir..
    Speechleeeess 😍….
    Hebat, alurnya luaaar biasaa 👍👍…
    Karena Aku gak punya WP 😞, Aku tunggu bgt next nya ya, Kaaak ^^.

  19. Wah jasmine ga nyerah nyerah yah… plis Author-nim jangan dibuat sad ending yah nantiii… sehunnya jangan mati pliiss

  20. Wah jasmine ga nyerah nyerah yah… plis Author-nim jangan dibuat sad ending yah nantiii… sehunnya jangan mati pliiss .. sehun harus bahagia sama heera nantii

  21. Akhirnya bisa baca juga eps 27 nyaa. Makin gemes deh tiap hari sama jasmine, fak ada henti-hentinya dia ngecelakain heera. Gak puas apa ya udah ngbunuh ayahnya heera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s