“Vulpecula” #2 by Arni Kyo

Vulpecula 2

Vulpecula #2

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Ha Minho (ex.P101 S.2)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0, 1,

 

~oOo~

“Yeon’ah… bangunlah”.

Gadis Gyeongju itu mengerjapkan matanya. Setelah penderitaan yang ia alami karena bertemu dengan makhluk aneh dihutan. Yeonsung tak merasakan sakit lagi. Tapi ia tak tahu dimana ia berada sekarang? Semuanya putih.

Saat matanya terbuka. Sepasang suami istri menyambutnya dengan senyuman. Mereka adalah orang tua Yeonsung. “maafkan kami telah menyembunyikan banyak hal darimu selama ini. Tentang dirimu yang menjadi tumbal. Dan namamu sebenarnya”. Ujar ayahnya.

“tapi semuanya akan berubah sekarang. Kau harus bertahan hidup”. Imbuh ibunya.

Yeonsung tak dapat mengatakan apapun. Ia kehilangan suaranya. Lalu kepalanya menoleh ke kiri dimana seorang gadis juga tengah terbaring. Gadis itu sangat cantik tetapi tampak kesedihan diwajahnya.

Rin menarik Minho menjauh dari ruang ICU. Chanyeol tidak memperhatikan mereka, karena saat ini ia tengah berduka atas kematian adik satu-satunya. Mereka menunggu hingga kedua orang tua mereka tiba dirumah sakit. Tetapi semua alat bantu medis yang terpasang ditubuh Yeonsung telah dilepas.

“ada apa?”. Tanya Minho.

“aku takut”. Jawab Rin. Guratan khawatir diwajahnya meyakinkan jika saat ini ia benar-benar ketakutan. Jika sebelumnya, ia berpikir jika ia adalah orang yang paling bahagia jika Yeonsung mati. Tapi sekarang berubah.

Media sosial gempar oleh kabar kematian gadis berhati dingin dan angkuh disekolah. Banyak dari mereka yang tidak pedul dan justru bersyukur. Apalagi korban yang pernah mendapat kekerasan fisik oleh Yeonsung.

“tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku akan selalu bersamamu”. Minho menepuk pundak Rin. “sebaiknya kita melihatnya sekarang”.

Rin mengangguk.

Keduanya kembali ke ruang ICU, didalam sana hanya ada Chanyeol dan Kimi yang tengah menatap lurus pada tubuh tak bernyawa diatas brankar. Rin berjalan masuk mendahului Minho.

Minho berdiri tepat disebelah brankar. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Yeonsung. tiba-tiba Rin membungkuk dan memeluk Yeonsung. membuat tangan Minho yang tadinya ingin menyentuh Yeonsung tertepis.

“Yeon’ah… kenapa kau meninggal secepat ini? ya! Bangun!”. Tangis Rin pecah sambil memeluk sahabat yang telah ia khianati.

“hentikan, Rin’ah”. Pinta Chanyeol dengan saura pelan.

Rin terus menangis. Suara isakannya bahkan memenuhi ruangan itu. “kau tidak boleh meninggalkan kami. Bagaimana denganku?! Bagaimana dengan rencana kita?!”.

“hentikan, Rin’ah!”. Chanyeol membentak Rin seraya menarik gadis itu menjauh dari tubuh Yeonsung. meskipun Rin memberontak. Chanyeol membawa Rin keluar dari ruangan.

Kimi yang melihat keadaan itu hanya mengernyitkan hidungnya. Tahu betapa busuknya sifat Rin saat ini. Ia sendiri tak tertarik untuk menangis seperti itu. “kau tidak ingin menangis seperti itu juga?”. Tanya Kimi sambil membenahi kain yang menutupi jasad Yeonsung.

“untuk apa?”. Minho tersenyum miring.

“siapa tahu kau ingin”. Balas Kimi.

Minho hanya berdecak. Lagi-lagi ia mencoba untuk menyentuh wajah Yeonsung. Telapak tangannya menyentuh pipi gadis itu. Jempolnya ia gunakan untuk mengelus pelan pipi yang terdapat luka memar disana.

“emmh…”. Lenguhan pelan terdengar dari bibir Yeonsung. bahkan bibirnya terlihat bergerak.

Sontak Minho terkejut dan melepaskan tangannya dari wajah Yeonsung. “apa kau mendengarnya?”. Tanya Minho pada Kimi.

“tidak mungkin. Ia bernapas”. Jawab Kimi sambil meletakkan telunjuknya didepan hidung Yeonsung.

Yeonsung merasakan sakit yang luar biasa dilehernya. Matanya yang tadi tertutup perlahan terbuka. Kepanikan dan ketakutan melanda ketika ia sadar berada dimana dan berhadapan dengan makhluk menyeramkan apa saat ini.

Apa-apaan ini?

Kenapa aku berada dihutan?

Apa yang terjadi?

Kenapa orang ini mencekikku?

Yifan menatap Yeonsung dengan tatapan mengerikan. Siap memangsa gadis itu bulat-bulat. Tapi ia tidak sebodoh itu. Ia tahu jika gadis yang barusan membuka matanya, bukanlah gadis yang seharusnya ditumbalkan. Bukan anak gadis dari keluarga dukun. Ia orang lain.

“aarghh…”. Yifan mengerang keras.

Dilemparkannya tubuh Yeonsung yang sudah terisi oleh jiwa orang lain itu kesembarang arah. Akibatnya tubuh itu menghantam batang pohon. Hingga tewas begitu saja.

Yifan mengamuk.

Bagaimana bisa ia dibohongi?

Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Dengan penuh kemarahan, ia berjalan menuju desa untuk menemukan orang tua Yeonsung. memberi hukuman pada pasangan suami istri tersebut atas apa yang telah mereka lakukan.

Menukar jiwa anak mereka dengan jiwa orang lain, sungguh! Yifan tak pernah mengira jika akan jadi seperti ini. ia sudah cukup kesal karena gadis yang seharusnya ia mangsa sejak berusia 7 tahun tetapi terus disembunyikan.

Beberapa hari kemudian.

Yeonsung turun dari tempat tidurnya dirumah sakit. Ia masih menjalani perawatan intensif setelah meninggal dan hidup kembali. Kakinya dipasang gif karena patah. Meskipun kesulitan saat berjalan, tapi ia bersikeras untuk keluar dari kamar rawatnya.

Kupikir ini mimpi.

Aku meninggal ditangan makhluk yang entah apa itu. Lalu kembali terbangun dan aku berada di tempat lain. Setelah aku benar-benar bisa sadar dipagi hari, ternyata aku berada ditubuh orang lain.

Gadis lain yang bernama Park Yeonsung ini.

Aku masih belum tahu mengapa aku bisa bertukar roh dengannya. Apa karena nama dan keadaan kami sama?

Yang pasti aku selamat dan hidup.

Gadis itu membeli sesuatu dikantin rumah sakit. Tertatih menggunakan tongkat agar bisa berjalan. Sementara tangannya yang lain memegang roti.

Ia bersenggolan dengan seseorang. Membuat es Americano yang dibawa orang itu tumpah ke lantai. Yeonsung segera membungkuk dan meminta maaf. “maaf, aku tidak melihatmu”.

Luhan terpaku melihat reaksi Yeonsung. Bibirnya tertarik kesamping. Gadis yang kini meminta maaf padanya. Dia si angkuh Yeonsung. “tidak – tidak apa”. Ujar Luhan.

“bagaimana ini… minumanmu jadi tumpah”. Ucap Yeonsung lagi.

“sudahlah, jangan dipikirkan”. Balas Luhan. Tangannya memegangi gadis itu karena terlihat kehilangan keseimbangannya. “biar kubantu”.

“y-ya”. Yeonsung jadi salah tingkah.

Tadinya ia ingin menolak, bagaimanapun Yeonsung tidak mengenal sosok pria yang tadi ia senggol. Tapi nampaknya Luhan adalah orang baik, jadi ia terima saja dibantu berjalan oleh Luhan. Meskipun perasaan bersalah karena telah membuat Luhan gagal minum es Americano nya.

“jadi ruang rawatmu disini?”. Tanya Luhan setelah tiba didepan pintu ruang rawat. Memastikan jika Yeonsung tak berbohong, Luhan memeriksa papan nama pasien yang tertempel disamping pintu.

“ya, terima kasih telah mengantarku kemari. Soal kopi mu –“.

“jangan dipikirkan. Masuklah”. Suruh Luhan sambil membukakan pintu.

Yeonsung melangkah masuk. “siapa namamu?”. Tanya Yeonsung.

“kopi”.

“apa?”.

“istirahatlah”.

Senyuman Luhan yang super tampan itu berhasil membuat wajah Yeonsung bersemu merah. Bahkan Junmyeon kalah tampan dari pria ini. Luhan melambaikan tangannya sebelum pergi. Meninggalkan Yeonsung yang berdebar karena pesonanya.

“sudah kuduga laki-laki di Seoul pasti keren dan tampan. Ah, aku bersyukur karena berada didalam tubuh gadis ini sekarang. Disisi lain aku merasa takut”. Gumam Yeonsung. “ah, aku harus bagaimana sekarang?”.

“jadi kau membolos sekolah karena ingin membesuk gadis itu?”. Tanya Minseok pada Luhan saat mereka makan bersama di sebuah kedai.

Luhan mengangguk dengan wajah bangga. “dia benar-benar masih hidup dan amnesia. Info yang tersebar itu memang benar”. Jawab Luhan.

“kenapa kau tiba-tiba tertarik untuk mencaritahu tentang dirinya?”. Kini Kyungsoo yang angkat bicara.

“entahlah. Menurutku ini kejadian langka. Seseorang mati lalu kembali hidup dan kehilangan ingatannya”. Ujar Luhan bak seorang professor pintar yang tengah menjelaskan sebuah permasalahan. “jadi aku kesana untuk memastikannya. Aku juga mendengar cerita dari beberapa perawat”.

Plakk

Minseok memukul kepala Luhan. “kau kesana untuk menggoda para perawat? Sialan! Harusnya aku ikut tadi”. Umpat Minseok.

“salahmu sendiri tidak ingin ikut”. Luhan balas mengomel.

“ya ~ menurut kalian jika dia benar-benar amnesia, apa ini pertanda baik?”. Tanya Kyungsoo lagi. Sebenarnya ia juga penasaran, gadis itu sering membuat kehebohan. Disamping kenakalannya disekolah, ia juga berprestasi karena sudah memiliki usaha sendiri diusia muda.

“aku yakin ini adalah pertanda baik”. Jawab Luhan dengan pasti.

Lalu Yeonsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Luhan.

Ah, baiklah, ini terlalu dramatis. Tetapi sejak tadi ia terus memikirkan Luhan dan berharap dapat bertemu lagi dengan pria itu. Jika dia dengan tubuhnya yang asli, tidak mungkin bisa mendapatkan Luhan. Namun sekarang berbeda. Ia terperangkap dalam tubuh seorang gadis yang cantik dan kaya.

“kau melamun lagi”. Suara itu menyadarkan Yeonsung dari lamunannya.

Chanyeol masuk kedalam ruang perawatan adiknya. Ia tersenyum lebar pada gadis itu, dan dibalas dengan senyum simpul oleh Yeonsung. “oppa”. Ujarnya.

“apa yang kau pikirkan., hm? Ah, aku senang sekali mendengar suara manismu itu memanggilku ‘oppa’”. Ujar Chanyeol sambil memeluk dirinya sendiri. Iapun duduk dihadapan gadis itu, diatas tempat tidurnya.

“kau bilang kau itu saudara kandung yang lebih tua dariku. Jadi aku harus memanggilmu ‘oppa’, bukan?”. Ujar Yeonsung heran.

“benar sekali. Aigoo… pintar sekali kau ini”. Chanyeol mencubit pelan pipi temban Yeonsung. gadis itu meringis karena Chanyeol memegang bagian memar diwajahnya. “chaa ~ ini ponselmu”. Chanyeol menyodorkan sebuah ponsel pada Yeonsung.

“ini milikku sekarang?”. Tanya Yeonsung polos.

“itu memang milikmu sejak dulu. Saat aku mengantarmu ke apartemen Minho, kau meninggalkan ponselmu dimobilku”. Jelas Chanyeol.

Oh, begitu. Sepertinya akan sulit untuk menjadi gadis ini.

Yeonsung tersenyum kuda. Sejak dokter memvonisnya mengalami amnesia total, Yeonsung tak khawatir jikalau orang-orang curiga padanya.

“aku sudah memperbaiki ponselmu, karena kau pasti tak ingat dengan kata sandinya”. Imbuh Chanyeol.

gomawoyo, oppa”. Yeonsung ber­-aegyo pada Chanyeol.

Dalam hatinya, Chanyeol bersyukur karena Yeonsung amnesia. Dia juga sempat berpikir kenapa tidak sejak dulu saja ia memukul kepala Yeonsung hingga gadis itu amnesia. Jika perubahannya positif seperti ini.

Chanyeol mengangkat tangannya, melihat jam tangannya. “aku harus pergi sekarang. Setelah urusanku selesai, aku akan langsung kesini”. Pamit Chanyeol dan beranjak pergi. Adiknya hanya berdehem mengiyakan.

Sepeninggalan Chanyeol.

Dengan cepat Yeonsung memeriksa ponselnya. Apapun yang dimiliki oleh pemilik tubuh ini sekarang adalah miliknya juga.

“hm ~ jadi pria bernama Ha Minho itu benar-benar pacar gadis ini, ya? Ah, berarti dia pacarku sekarang”. Wajah Yeonsung berubah kecewa. Keinginannya untuk bisa dekat dengan pria yang menyebut namanya Kopi itu pupus sudah.

Jarinya terus menelusuri isi ponsel Yeonsung.

Berkali-kali pula ia dibuat pusing dan merinding.

Selain obrolan dibeberapa media sosial yang sedikit mengerikan, berisi makian dan hinaan. Yeonsung juga dikejutkan dengan beberapa poto vulgar dirinya dan pacarnya.

“astaga! Hubungan mereka sejauh ini?!”. pekiknya tak percaya. “bagaimana jika – dia tiba-tiba ingin melakukan ‘itu’ denganku lagi? OMO”. Yeonsung bergidik.

“Yeon’ah? Kau tidak apa-apa?”.

Baru saja dipikirkan. Minho muncul dari pintu dan bergerak cepat menghampiri Yeonsung yang barusan memekik sambil memegangi kepalanya. Pria itu tampak khawatir.

“t-tidak. Aku – aku baik-baik saja”. Jawab Yeonsung panik. Ia menyimpan ponselnya dibalik selimut.

“kau yakin? Tadi kau memekik”. Tangan Minho mengusap kepala Yeonsung. sedangkan gadis itu tampak seperti sedang menghindari tangan Minho. “ah, ya, aku membawa ini”.

Minho menunjukan sebuah gelang tangan pada Yeonsung. “apa ini?”.

“gelang pasangan milik kita. Kau yang membeli ini dulu”. Jawab Minho sambil menarik tangan Yeonsung. hendak memasangkan gelang ke tangan gadis itu. “aku sudah lama tidak memakainya karena kita sempat bertengkar. Tadi sekarang aku berjanji tidak akan melepaskannya lagi”.

Kembali lagi ketahun pertama masa SMA.

Tahun yang merupakan kesempatan untuk mendapatkan teman baru bagi siswa baru. Bergabung dengan kelompok, mengikuti club, atau bisa juga mencari pacar dan lainnya. Begitu pula yang Ha Minho dan teman-temannya lakukan saat ini. Duduk di koridor sambil melihat-lihat orang yang lewat.

“ya ~ berikan ini pada gadis dengan tas merah itu”. Ujar Minho sambil memberikan selembar kertas pada temannya, Kim Sunwoo.

“yang mana?”. Tanya Sunwoo setelah menerima kertas tersebut. Matanya mengikuti arah tunjuk Minho.

“yang baru saja masuk ke kelasmu itu”. Jawab Minho.

Mata Sunwoo langsung terfokus pada seorang gadis dengan tas merah dipunggungnya. Dia adalah Park Yeonsung. Sunwoo pun beranjak pergi. Memasuki ruang kelasnya untuk memberikan secarik kertas, sejenis surat undangan dari Minho untuk gadis dengan tas merah.

“ada titipan untukmu”. Ujar Sunwoo sambil menyodorkan kertas tadi pada Yeonsung.

Gadis itu tak mengeluarkan ekspresi apapun. Matanya hanya menatap datar pada Sunwoo. “dari siapa?”.

“kau akan tahu saat kau membuka suratnya”. Jawab Sunwoo lalu pergi dari kelas.

Yeonsung membuka lipatan kertas itu. Membaca isi kertas tersebut dengan sebelah alis terangkat. “surat cinta?”. Tanya Kimi yang baru saja tiba dikelas. Gadis itu menatap Yeonsung dengan intens.

“bukan”. Yeonsung langsung meremas kertas itu hingga menjadi bulatan kecil.

“ey, mengaku saja. Itu surat cinta? Dari siapa?”. Kimi memaksa agar Yeonsung menunjukkan surat yang ia terima. Meskipun gadis itu enggan menunjukkannya.

Keakraban Yeonsung dan Kimi memang sudah terjalin sejak pertama kali mereka memasuki sekolah. Jika orang lain menganggap Yeonsung adalah gadis sombong, tetapi dalam pandangan Kimi ia hanyalah gadis introvert.

‘Aku ingin mengenalmu. Jika kau ingin mengenalku juga, bertemu denganku sepulang sekolah di kelas 3-D’.

Yeonsung menunggu jam pulang sekolah untuk memenuhi undangan dari orang misterius yang mengiriminya surat melalui Sunwoo. Sialnya, Sunwoo enggan mengatakan siapa pengirimnya. Sejak pelajaran dimulai, ia mulai menerka-nerka pastilah salah satu dari teman Sunwoo.

Bang Jaemin? Yang Hongwon? Atau mungkin Sunwoo sendiri?

Dan ia terlalu memikirikan perkara itu hingga tidak memperhatikan jalannya. Dari balik dinding sosok Luhan muncul. Pria itu juga tak memperhatikan jalannya karena sibuk membaca komik. Akhirnya keduanya bertabrakan.

“akhh…”. Ringis Yeonsung.

“ah – maaf, maaf”. Ujar Luhan sambil membungkuk dan kembali membaca komiknya.

Kening Yeonsung mengkerut. Memandang Luhan yang langsung ingin pergi. “ya! Aish… sial”. Umpat Yeonsung.

“apa?”. Luhan menoleh dengan tatapan bingung.

“begitu saja?”.

“aku kan sudah minta maaf”.

Yeonsung berdecak, dengan tatapan tak suka dan berjalan mendekati Luhan. Yeonsung merebut komik dari tangan Luhan. Pria itu heran dibuatnya. Dengan santainya Yeonsung merobek komik tersebut.

“ya!”. Luhan hendak protes.

Brakk

Yeonsung melempar komik yang sudah dirobek itu kedalam kotak sampah. Luhan menatap sedih komiknya yang teronggok tak berdaya didalam kotak sampah. Buru-buru ia memunguti lembarak komiknya. Sedangkan Yeonsung pergi meninggalkannya.

Kelas 3-D

Akhirnya Yeonsung tiba dikelas yang tertulis disurat. Ia menarik napas dalam sebelum memasuki kelas itu. Tangannya menggeser pintu hingga terbuka. Kelas itu kosong. Kakinya membawanya melangkah masuk dan kembali menutup pintu.

annyeong”. Sapa seseorang dari belakang kelas ketika Yeonsung baru saja masuk.

Matanya menyipit melihat siapa gerangan yang menyapanya barusan. Ha Minho. Seketika Yeonsung membelalak. Ingat saat Rin bersama teman-temannya membicarakan tentang pria ini waktu itu.

“saat Ha Minho berkata ingin bertemu denganmu dikelas kosong, kau pasti tahu maksud ajakannya itu”

Saat itu Rin belum akrab dengan Yeonsung dan Kimi, jadi mereka hanya mendengar saja dari tempat duduk mereka. Juga tidak peduli siapa Ha Minho yang tampaknya dihebohkan oleh para gadis.

Yeonsung hanya diam, ia bahkan tak bisa focus sampai tidak sadar kini Minho sudah berdiri dihadapannya.

“hey, kenapa kau diam saja?”. Tanya Minho.

“oh”. Yeonsung mengeluarkan surat yang dikirim Minho tadi pagi dari saku almamaternya. “kau yang mengirim ini?”.

Minho tersenyum simpul lalu mengangguk.

Sebenarnya.

Minho terkejut melihat Yeonsung yang datang. Mengira jika gadis itu hanya iseng memasuki kelas ini atau semacamnya. Tetapi saat Yeonsung menunjukkan surat yang tadi ia tulis sendiri. Minho tahu jika ia tidak sembarang datang.

Dan faktanya –

Gadis dengan tas merah yang Minho tunjuk bukanlah Yeonsung, melainkan Rin. Kesalahan komunikasi yang terjadi antara dirinya dan Sunwoo, ketika Sunwoo menoleh kearah kelasnya, dan kebetulan Yeonsung-lah yang baru saja tiba sedangkan Rin sudah berada didalam kelas.

Tadinya jika gadis yang datang ini adalah gadis yang jelek dan tidak menarik, Minho akan menendang Sunwoo hingga bokongnya mati rasa. Tapi setelah melihat Yeonsung, ia tidak jadi melakukan itu.

Tidak buruk.

Pikirnya.

“uh, bisa kau temani aku untuk rehab hari ini? Chanyeol oppa sedang ada urusan diluar kota”. Pinta Yeonsung dalam sambungan telponnya. Meminta agar Minho menemaninya hari ini.

aku ingin sekali, tapi aku tidak bisa”. Timbal Minho dari seberang.

Yeonsung memayunkana bibirnya. “baiklah kalau begitu aku akan pergi sendiri saja”. Dengan cepat ia menutup telpon. Bukan karena merajuk, tetapi karena sudah saatnya untuk pergi ke rehab sesuai jadwal.

Lift menuju lantai dasar. Pintu lift terbuka. Dihadapannya kini, ada seorang yang beberapa hari belakangan ia pikirkan.

“Kopi”. Panggil Yeonsung.

Luhan tersenyum padanya. Tanpa basa-basi Luhan membantu Yeonsung keluar dari lift. “kau masih ingat aku ternyata”. Ujar Luhan.

“tentu saja. Ah, kau sering kemari? Apa keluargamu ada yang sakit? Atau kau sendiri yang sakit?”. Tanya Yeonsung bersemangat.

“itu – ada tetanggaku yang sakit”. Jawab Luhan. Bohong. Tentu saja.

Yeonsung mengangguk. “kalau begitu pergilah, terima kasih sudah membantuku”. Gadis itu sedikit membungkuk pada Luhan. Lalu ia melangkah pergi.

Baru saja beberapa langkah pergi dari hadapan Luhan, tiba-tiba pria itu mengejar Yeonsung. “kau mau kemana? Biar kuantar”. Tawar Luhan.

“tapi kau ingin membesuk tetanggamu”. Balas Yeonsung. jual mahal dengan penolakan, sebenarnya ia tidak ingin menolak dan bahkan berharap Luhan tetap pada penawarannya.

“itu bisa nanti. Jadi kau mau kemana?”.

Bingo!

Yeonsung bersorak dalam hatinya. “em… aku ingin pergi ke tempat rehab”. Jelas Yeonsung. lalu ia tertegun, menyadari seragam sekolah yang dipakai Luhan saat ini. “hm? Seragam mu sama seperti seragam ku”.

Yeonsung tahu beberapa hal tentang si pemilik tubuh ini dari poto yang ada di ponselnya.

Luhan tersenyum kuda. “kita memang satu sekolah”.

Demi apapun! Yeonsung merasa sangat senang mendengar itu. Jika mereka satu sekolah, pasti nanti akan sering bertemu. Sekarang ia jadi semangat untuk lekas sembuh dan sekolah. “begitu, ya? Apa kita saling mengenal?”.

“aku mengenalmu. Tapi kau tidak mengenalku”.

Mendengar jawaban Luhan, Yeonsung kembali berpikir mungkin dia cukup popular disekolah. “oh, begitu. Jadi siapa namamu?”.

“untuk sekarang kau tidak perlu tahu. Nanti saat kau kembali ke sekolah baru kau akan tahu”.

Luhan baru pulang kerumahnya setelah menemani Yeonsung pergi ke rehab tadi. Sebenarnya ia belum ingin pulang, tetapi Yeonsung mengatakan jika Minho akan datang. Dengan alasan yang sedikit aneh, Luhan pun berpamitan pulang. Untung saja gadis itu tidak curiga dan banyak bertanya.

Tanpa mengucapkan salam, Luhan masuk kedalam rumahnya.

“beri salam saat masuk rumah”.

“waaa!!”. Luhan berlonjak kaget ketika mendapati sosok ayahnya sudah berdiri diruang tamu. “kupikir tidak ada orang dirumah”. Ujar Luhan sambil mengelusi dadanya sendiri.

Luhan berjalan melewati ayahnya, menuju dapur untuk mengambil air minum. Pria paruh baya itu mengikuti putranya.

baba sudah pulang, kupikir akan lebih lama lagi disana”. Luhan membuka obrolan.

“karena hal buruk terjadi dan baba terlambat. Ah, ini benar-benar mengerikan”. Jawab sang ayah.

Ayah Luhan, Lu Hwang Li, adalah pemburu siluman. Beberapa hari yang lalu ia pergi ke Gyeongju karena merasakan ada yang tidak beres terjadi disana. Dan saat ia tiba disana, semuanya sudah terjadi.

“mengerikan bagaimana?”. Tanya Luhan.

“ada seekor siluman rubah yang datang dan mencari tumbalnya. Tetapi sepertinya hal yang lebih buruk daripada ia menemukan tumbal tersebut, orang yang menjadi tumbal malah menghilang”. Jelas Lu Hwang.

Luhan mengernyitkan keningnya. Dulu, saat ia masih kecil dan tinggal di Tiongkok, teman-temannya sering mengatakan jika ayahnya orang yang kehilangan akal karena menganggap siluman, hantu dan sejenisnya itu adalah hal nyata. Tetapi setelah Luhan melihat sendiri keberadaan ‘mereka’ Luhan jadi paham. Ibu dan ayahnya berpisah juga karena hal itu. Lalu Luhan dibawa ke Korea. Ayah dan anak itu memulai kehidupan mereka yang baru.

Meskipun ayahnya memiliki pekerjaan lain selain berburu siluman, tetapi terkadang ia tetap peduli dan bersikeras untuk melenyapkan semua makhluk itu.

“lalu bagaimana?”.

“aku akan menemukan tumbal yang hilang itu. Setidaknya harus melindunginya karena tidak bisa melindungi keluarganya”.

Luhan mengangguk. Tahu jika saat ini ayahnya pasti akan memintanya untuk membantu juga. Jika tidak, maka Luhan akan dihukum dengan memakai baju vampire Jiangshi dan disuruh tidur didalam peti.

Sebenarnya tidak ada tujuan khusus dalam hukuman itu.

Hwang Li hanya senang saja melihat Luhan menjerit ketakutan.

“Lu mulai saat ini kau harus memakai ini”. Hwang Li memberikan sebuah gelang kepada Luhan.

“untuk apa ini?”. Luhan tahu ayahnya tidak akan memberikan benda sembarangan. Contohnya saja ia pernah diberi jimat lalu ia malah bisa melihat hantu.

“untuk jaga-jaga. Sudah pakai saja”.

Mau tak mau Luhan memakai gelang itu. Lagipula bentuknya tidak buruk, sepertinya ayahnya mulai memikirkan fashion agar Luhan mau menerima barang pemberiannya.

Hari ini Yeonsung dijadwalkan kembali kerumah. Dan dilanjutkan dengan rawat jalan. Jadi ia harus rutin mengecek keadaannya setiap dua kali dalam seminggu. Maka hari ini Minho ingin ikut mengantarkan gadis itu pulang. Chanyeol yang memintanya secara langsung kemarin.

“kau akan pergi?”. Tanya Rin yang tiba-tiba sudah berada diapartemennya. Sambil melipat tangannya, tampak jelas jika tidak suka kalau sampai Minho menemui gadis itu lagi.

Minho berjalan melewati Rin sambil memakai jaketnya. “ya, Chanyeol yang menyuruhku datang. Lagipula sudah beberapa hari ini aku tidak kerumah sakit”.

“jangan kesana!”. Seru Rin. Minho tak menghiraukan Rin bicara. Lantas Rin menarik kasar lengan pria itu hingga tubuhnya berbalik menghadap pada Rin. “kubilang jangan kesana”.

“alasan apalagi yang akan kukatakan? Ayolah, aku tidak akan lama, jika kau mau kau bahkan bisa ikut. Masalah selesai”.

Rin mengernyitkan hidungnya. Sejak Yeonsung divonis mengalami amnesia, dia memang sedikit berbeda dari dirinya yang dulu. “kau sudah putus dengannya, kau tidak lupa, kan?”.

“lalu kenapa? Aku datang sebagai teman”.

“kau mempermainkanku”. Desis Rin.

Minho menghela napas. Iapun beranjak pergi dari hadapan gadis itu. “terserahlah. Setidaknya aku akan tetap bersikap baik pada Yeonsung sampai aku mendapatkan mobil baru”. Ujarnya.

Ayah Yeonsung, Park Jungsoo mengatakan jika ia akan mengganti mobil Minho yang sudah parah karena tindakan putrinya. Saat ini Jungsoo sedang berada di Jepang untuk urusan bisnis, jadi Minho belum mendapatkan mobil lagi. Karena Jungsoo ingin bertemu langsung dengannya.

Minho pergi dengan taxi kerumah sakit.

Sesampainya disana, Yeonsung sudah menunggu, duduk diatas tempat tidurnya. Sambil memeluk boneka teddy bear putih yang diberikan Minho waktu itu. Ia sudah siap untuk pulang.

“maaf aku terlambat”. Ujar Minho saat memasuki ruang rawat Yeonsung.

“oh, kami baru saja selesai membereskan barang-barang”. Jawab Chanyeol yang sudah memegang koper.

“uh, kau pasti sibuk. Maaf ya jadi merepotkan menyuruhmu kemari”. Sahut Yeonsung, berusaha berdiri dan meraih kursi roda yang sudah disiapkan.

Minho segera membantunya untuk naik ke kursi roda. “kau pakai ini? tidak pakai tongkat?”.

“agar lebih cepat sampai. Uh, kau tidak keberatan untuk mendorongnya?”. Pinta Yeonsung penuh harap.

Tak berpikir dua kali, Minho menerima permintaan itu. Seperti terhipnotis. Bahkan ia merasa aneh mengapa ia bisa tergerak begitu saja? Mungkin karena didepan Chanyeol? Atau mungkin karena nada bicara dan tatapan ‘manja’ Yeonsung?

Entahlah.

Sebelum pulang, Yeonsung berpamitan dengan beberapa dokter yang telah menangani dirinya selama dirumah sakit. Ini juga merupakan hal yang mengejutkan bagi Minho. Bagaimana seorang Yeonsung yang sombong dan angkuh bisa mengucapkan ‘terima kasih’.

Aku penasaran bagaimana rumahku yang baru ini?

Hanya itu yang dipikirkannya saat diperjalanan kembali kerumah. Chanyeol yang menyetir mobil, sedangkan dirinya dan Minho duduk dikursi belakang. Yeonsung merasa sedikit canggung.

Perasaannya bercampur aduk saat Minho memegang tangannya ataupun duduk terlalu dekat dengannya.

Saat ia di Gyeongju, hanya Junmyeon yang dekat dengannya. Dan Junmyeon tidak pernah melakukan hal semacam ini.

“kita sampai”. Ujar Chanyeol lalu membelokkan mobilnya kesebuah rumah didaerah elite. Pintu gerbang langsung terbuka ketika mobil mengarah kesana.

Dihadapannya kini. Sebuah rumah besar terpampang. Yeonsung hampir mengeluarkan gumaman kagumnya, tapi untungnya ia bisa menahan diri. Memasuki rumah, mereka disambut oleh beberapa pelayan rumah tersebut.

“karna kamarmu diatas, jadi aku akan menggendongmu kesana”. Ujar Chanyeol.

“haruskah?”.

“ya ~ kau pikir bisa naik kesana sendiri?”. Chanyeol segera berjongkok dihadapan adiknya. Dengan senang hati Yeonsung langsung naik ke punggung Chanyeol. “kau bawa kopernya”. Titah Chanyeol pada Minho.

“kenapa harus aku?”. Omel Minho, meski begitu ia tetap menuruti perintah Chanyeol.

Chanyeol membawa Yeonsung dipunggungnya tanpa kesulitan. Seorang pelayan mengikuti mereka. Seo Hayeon a adalah pelayan yang sering dimarahi Yeonsung dulu. Karena menurutnya, sebagai pelayan Hayeon sangat lambat.

Ponselnya bordering saat Yeonsung bersiap untuk berbaring diranjangnya. Nomor baru yang menelponnya. Dengan hati-hati Yeonsung mengangkat telpon tersebut.

yeobeoseyo?”.

kau pasti sedang bersiap untuk tidur sekarang”. Ujar orang dari seberang.

Yeonsung menaikan sebelah alisnya. “ya, kau siapa? Nomormu tidak ada didaftar kontak ku”.

Orang itu terkekeh pelan. “sebelum itu, bisa kau berdiri dan melihat cermin sekarang?”.

Seketika, Yeonsung merinding. Apa maksud si penelpon ini? mengerjainya atau apa? “jangan bercanda. Kututup, ya?”.

tunggu. Ya ~ aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Jadi bisakah kau lakukan apa yang kusuruh?”.

Mendengar nada serius orang itu, Yeonsung pun melakukan apa yang diinginkannya. Ia menghadap ke cermin yang tertempel dimeja rias. Menatap dirinya sendiri. “sudah”.

dengar, mulai saat ini kau adalah Park Yeonsung, putri dari Park Jungsoo seorang pengusaha kaya. Jadi bersikaplah seperti dirinya. Mungkin ini akan sulit jika kau tahu seperti apa Yeonsung yang kau pinjam tubuhnya sekarang”.

Dzzztt…

Seperti tersentrum ribuan volt listrik. Seperti dijatuhkan dari gedung bertingkat. Yeonsung benar-benar terkejut dengan ucapan si penelpon misterius. Tubuhnya bergetar hebat. Ia ketakutan bahkan hampir menangis.

Ada orang yang mengetahui jika ia bukanlah Yeonsung yang asli.

Ia hanya segumpal roh tersesat yang menumpang ditubuh gadis yang sudah mati.

Ia hanya menumpang ditubuh ini.

“k-kau – siapa? Bagaimana… kau tahu?”.

aku belum bisa memberitahumu sekarang. Tapi suatu saat jika sudah waktunya. Dan mulai saat ini aku akan sering menelponmu. Ah, jangan menyimpan nomorku”. Ujar orang tersebut. Telpon langsung terputus.

Dada Yeonsung terasa sesak.

Sungguh.

Ia tak bisa memikirkan apapun saat ini. tetapi perkataan pria misterius yang menelponnya itu benar. Yeonsung harus menjadi si pemilik tubuh yang asli. Karena saat ini dan seterusnya ia adalah pemilik tubuh ini.

Kehidupan Yeonsung yang tinggal di Seoul ini juga merupakan impiannya sejak lama. Jadi ia berpikir untuk menikmati kehidupannya yang baru.

TBC

Fakta : “Yeonsung yang di Seoul meninggal karena ia berpindah ke tubuh Yeonsung yang di Gyeongju dan dilempar/? Oleh Yifan”.

Masih bingung engga?

Intinya yang sekarang berada di tubuh Yeonsung Seoul itu adalah Yeonsung Gyeongju.

Like dan comment ditunggu ya gengs ^^

btw selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ^^

Advertisements

32 responses to ““Vulpecula” #2 by Arni Kyo

  1. Hah.!! aku mengerti thor.. orang tua yeonsung di gyeongju, sngja mnukar roh putrinya agr slmat dri cengkraman Yi fan.. kasihan yeonsung seoul.

    prokk..prokkk..prook..dasr yah Rin dan minho itu muka dua bnget…#miahn emosi thor… thor-nim JJANGGG..! (y) (y)

  2. waach seru nih aq dah mulai ngerti jalan ceritanya😊😊 kasian yeounsung yg di soul meninggal…tpi g ppa udah di gantikan yeounsung yg di gyeonju..thor pasangin yeounsung sm luhan jah jangan sm minho
    ☺☺ di tunggu lanjutannya..

  3. Mencoba mengerti kak. Tp yeonsung seoul skrg ada di tubuh yeonsung gyeongju??
    Atau yeonsung seoul malah mati? 😂
    Aduh masih rumit ini.
    Kak,aku nyoba komen balik” kok komen aku ga muncul ya. Biasanya lgsng muncul lho.

    • iya begitulah… baca aja keterangan dibawahnya itu ya ^^

      ohh gatau mungkin karena ini pertama kali kmu comment soalnya comment kamu mesti di approve dlu

      • Id komen ku yg biasanya Orange kak. Tadi pakai orange ga mau terus. Terus pake nama jeosong saja sama ganti email bisa. 😭😭😭
        Dri kmren mau komen di opeli jg susah. (Pake Orange)

  4. dan yeonsung seoul itu meninggal di tumbuh yeonsung gwanggu
    penasaran siapa yang nelpon
    aku kiran yensing seoul eh ternyata emang udah meninggal dianya

  5. Aaah.. baru bisa baca 😂😂😂😂 omooo…. ternyata begono tho ceritanya.. ya ya pahm… ga nyangka klo Luhan adl putra dr penangkap siluman!! 😱😱😱😱 dan aku suka deh pas flashback luhan pertama kali brtemu Yeonsung yg lgsg dirobek2 gitu komiknya dia hahahaa… ngebayangin eksperesinya aja ud bkin aku mau guling-guling dikursi haha… 😆😆 btw2 aku curiga deh klo yg nelp. Yeonsung it adl babanya luhan 😅 eh apakabar yeonsung yg didesa yak??? Ini tukeran jiwa tapi enaknya di Yeonsung yg hidup di Seoul n susahnya buat Yeon yg di desa! Ahh biarlah..!! Agp aja itu hukuman yg sepadan utk kelakuan Yeon dimasa lalu haha 😈😈😈 dduhhh suka bgt dg alurnya Luhan deh wkk 😄 ah satu lagi!!! It nama pelayannya Yeonsung kok sama dengan nama id-ku ya?? Apakah ada unsur kesengajaan disni?? Omoo 😱😱 hahaha…. #Gubrak Eh ya sudahlah. Ini komen ud kaya separuh ceritanya Arni deh haha… Iya selamat menjalankan ibadah puasa juga ya buat ssaeng Arni… Maafkan daku yg suka ngoceh-ngoceh sepanjang jalan raya di box komenan cerita kamu.. 😂😂😂 Nextnya ditunggu… 😂😄😄

    • iya unni, ayah Luhan penangkap siluman tp anaknya sendiri siluman kok :v (re : siluman rusa tampan)
      Yeonsung yg didesa kan dah tewas unni…

      hah? iyaya? aduhh ngga sengaja unni, tbtb aja muncul nama itu dibenak aku, awalnya ingin nulis Hanyeon tp gajadi masa

      • Haa iya eon gagal paham… jdi yg didesa emg ud mninggal ya… uduuh… innalillah…. ntar biar eon bcain yasin deh… haakz.. 😅

  6. Lah…….kok???
    Kasiaan….jdi bpa dan emaknya yeon desa udah ga ad nih….lah trus…..gegara jiwa y dituker yeon seoul udh ga ad deh.
    Luhan…….kamu ini dasar….. manis 😅😅😅😅.sempet aja ngegodain suster2 rumah sakit.
    Iih…..serasa jijjk deh ama minho dan rin,ga ad mukanya banget sih tuh manusia.
    Kimi….tolong jg yeon ya…kamu kn sahabat sejatinya yeon.
    Lah….bapake luhan…mrnangkap siluman…asik nih kyakx si luhan bkln jatuh cinta sm yeon kalo bgini mh ceritanya(harapanku).
    Iya bapake luhan jaga ya si yeon si soeul sana….soalnya entar dia cuma bisa akrapa sama abang ceye…..kan kasian abang ceye hidunyakn sibuk selalu 😆😆😆
    Hah…itu toh pertemuan pertamanya lu sama yeon….
    Bisa tuh luhan jdi dektektif dadakan gegara bapake….

    Maaf kalo komennya ga ad maknanya.

    Selalu ditunggu kelanjutannya author kyo 😙😙😙

  7. jd yg angkuh ninggal? ya kasian sih… ini emang udh direncanain apa gmana yak, bisa pas gtu….dan jg itu sapa yg nelpon? pnasaran… bru juga idup lg udh ada aja yg tau klo dia bkn YS yg angkuh…tp bgus lah klo dia jd gk angkuh wks

  8. Hiks hiks sedih yeonsung di seoul meninggal… tapi untunglah yg di gwangju masih hidup lah masa tukeran tubuh. Sejauh ini mulai ngerti ceritanya.
    Trus lah si yeonsung suka sama luhan, andai aja dia sadar yeonsung yg dulu kasar banget sama luhan.
    Fighting ya!

  9. Aku emosiii, si rin emang bener” yaa, dasar yeoja sialannnn!!!! Rin ama minho manusia brengsek! Ahh gua kesell 😦

  10. hmmm sp y si penelphone misterius ituuuu…
    ikutan sebel sama minho n rin euhhh pngen tak tendang hhhhh

  11. Mau maraton baca duluu.. lama gak baca ff.. pdahal udah sampe chap 8/ kalau ga salah..

    suka sebel sama rin dan minho,, mereka dibasmi aka deh/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s