She is His Wife- SangHun’s Story Series by bluelu bird

Related image

| Title : She is His Wife  | Author : bluelu bird | Cast : Kim/Oh Sang Eun, Oh Sehun, Oh Sang Hun, etc | Genre : Romance, Marriage life, Family, Comedy ( failed ) | Rating : PG 13| Length : Series |

List : Sleeping Photoshoot | Pervert Devil Game | Saturday Night | Jealous Eun | Peeking Day | Triple Rain | Time To Have A Baby! | Is She Pregnant? | The Dad-To-be | You and Me Plus Him | New Start, New Obstacle (Part I) | New Start, New Obstacle (Part II) | Secret With Daddy! | First CandleGentleman’s Breakfast | Mission! Follow Mom (1) Airport And Plane | Hug In Baby Carrier | She is His Wife

Personal blog :http://www.icrecreamlibrary.wordpress.com

Disclaimer : Storyline is pure mine. Don’t be plagiator, please.

Enjoy reading~

.

“Hi there! Well, she is my wife.”

.

.

Sang hun memukul-mukul pelan meja di restaurant hotel di depannya, membuatnya bernada seperti drum. Drum abstrak. Kaki kecilnya yang belum sampai menapak lantai karena terlalu pendek digerakkan naik turun.

Cereal cereal cereal~ stawberry stawberry stawberry~” Sang hun bernyanyi ceria sambil menunggu ayahnya datang dengan sarapan paginya.

Di lain sisi Sehun tersenyum getir. Tangannya sibuk membawa satu piring toast beserta buah dan telur dadar di tangan kiri, dan cereal untuk Sang hun di tangan kanan. Tapi bukan itu yang membuatnya tersenyum getir. Ayolah, Sehun seahli itu dalam bawa-membawa-piring-dan-makanan setelah training selama hidupnya membawakan makanannya, Sehun, dan Sang eun. Yang membuatnya getir adalah si pekerja hotel yang bersikeras membantunya dengan terus-terusan entah-sengaja-atau-tidak-sengaja-meraba-tangannya-tapi-Sehun-cukup-yakin-ia-sengaja.

Dan dia wanita.

Imajinasi Sehun mulai berkeliaran.

Bagaimana kalau Sang eun tiba-tiba datang?

Mengiranya selingkuh

Lalu meminta cerai

Oh, tidak!

Tidak mungkin.

Baiklah, mungkin Sehun memang berlebihan.

“Tidak usah, tak apa,” ujar Sehun dengan dingin. Kesabarannya mulai habis.

“Tak apa, tuan. Ini tugas saya untuk membantu para pelanggan,” ujar si wanita dengan senyum manisnya dan memegangi telapak tangan Sehun. Oke, mungkin memang niatnya mengambil piring di tangan Sehun, tapi haruskah dengan meraba telapak tangannya segala?

Oke, aku memang tampan. Aku tahu itu. Tapi aku tidak berpikir akan semerepotkan ini.

“Nona manis” belum selesai Sehun dengan ucapannya, ia dapat melihat si wanita di hadapannya melihatnya dengan mata berbinar dan jiwanya yang sudah melayang karena ucapan Sehun.

Ayolah, itu sarkasme.

“kuharap kau segera melepaskan tanganmu. Karena istriku yang cantik sudah menunggu. Dan oh, biar kuingatkan dia sangat agresif,” ujar Sehun dengan senyum manisnya yang pada saat bersamaan mengatakan cepat-lepas-tanganku-jika-tidak-mau-mati. Seketika si wanita segera melepaskan tangannya, membungkuk cepat, dan lari dari hadapan Sehun.

Well, aku tidak sepenuhnya berbohong. Sang eun memang di sini. Di hotel ini.

Sehun berjalan ringan menuju Sang hun yang saat melihat apanya matanya langsung berbinar cerah. Bahkan Sehun begitu heran kenapa tidak ada air liur anaknya yang menetes.

Breakfast for the prince!” ujar Sehun kencang. Meletakkan mangkuk cereal Sang hun di depan anak itu, lalu duduk di hadapannya.

“Enyaak!” ujar Sang hun yang tidak terdengar jelas karena mulutnya yang masih terpenuhi sereal. Sehun hanya tertawa dan mengelus kepala anaknya gemas.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikirannya. Yang membuat ia menoleh kesana-kemari sejak tadi. Dan satu hal itu pula rupanya juga dipertanyakan Sang hun, saat suara kecil anak itu menyaut.

“Appa, dimana eomma?”

***

Sehun tengah berdiri di balik tembok, lengkap dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Begitu pula dengan Sang hun yang berada di antara kaki ayahnya. Keduanya seperti anak kembar. Sama-sama kekanakan.

Siapa yang sedang diintai Sehun?

Sudah jelas. Wanita cantik yang tengah tersenyum lembut menangani seorang wanita tua yang tengah terlihat kesakitan tak jauh dari tempat Sehun dan Sang hun berdiri.

Sehun tersenyum lembut melihat istrinya sedang melaksanakan pekerjaannya dengan senyuman di wajahnya. Rambutnya dicepol asal. Poninya bergerak kesana kemari tertiup angin. Cantik.

Oh Sang Eun.

“Tidak salah kita kemari,” bisik Sehun pada dirinya s ndiri dengan senyum bangga.

20 minutes before now

Ehm, bisakah saya menyewa mobil? Untuk sehari ke depan,” tanya Sehun menyandarkan tubuhnya ke receptionist.

“Oh, tentu tuan. Sebentar.” Setelah mendengar permintaan Sehun, si receptionist segera meraih gagang telfon. Menyiapkan mobil yang diperlukan Sehun dan data-datanya.

Mata Sehun tak berhenti berkeliaran kesana-kemari.

Ayolah, jika ia ingin mengintai Sang eun. Setidaknya ia harus memiliki sedikit petunjuk. Tapi istri tersayangnya itu tidak terlihat sejak tadi pagi.

Sehun berdehem pelan, membuat receptionist yang tengah mengurus pembayaran sewa mobil Sehun mendongan sekilas.

“Kemarin saya lihat banyak dokter berkeliaran di rumah sakit ini,” ujar Sehun memancing pembicaraan. Yah, setidaknya secuil informasi pun akan berarti daripada dirinya yang harus mencari Sang eun keliling kota atau hanya menunggu di hotel seharian.

“Oh! Iya, para dokter relawan menginap di sini,” jawab si receptionist dengan sopan dan senyuman.

Hening sejenak.

Ayolah, Oh Sehun. Kau harus menggali lebih banyak informasi.

“Tapi saya tidak melihat mereka sejak pagi,” ujar Sehun lagi, membuat si receptionist agak mengerutkan dahinya bingung. Tapi meskipun begitu ia tetap tersenyum sopan dan menjawab. Well, itu bagian dari pekerjaannya. Melayani dan meladeni setiap pelanggan dengan sopan.

“Mereka sudah pergi pagi-pagi sekali untuk melaksanakan pemeriksaan di daerah XXX, dekat pantai.”

Back to the future

Sehun terus mengintai Sang eun. Tidak begitu memperhatikan Sang hun. Well, ia menjepit anak itu di antara kedua kakinya jadi ia tidak perlu melihat Sang hun untuk tahu anak itu belum menghilang, keberadaan Sang hun terasa. Ya, terasa di kakinya.

Sehun tersenyum puas menyadari bahwa dokter laki-laki yang suka mendekati Sang eun tidak terlihat batang hidungnya. Dan lega melihat Sang eun yang tersenyum manis di sana. Rindunya terbalaskan.

Oh baiklah, sebut saja Sehun menjijikkan.

Memang.

Sang eun berdiri dari duduknya. Menjabat tangan dan memeluk para penduduk di sekitarnya, termasuk ibu yang baru saja diperiksanya. Ia berdiri dan hendak beranjak dari tempat itu.

Sehun bersiap-siap beralih tempat dan membuntuti Sang eun.

Tapi ia lupa dan mengabaikan satu hal.

Di bawah sana Sehun menarik-narik celana ayahnya pelan. Menggumamkan kata-kata yang sama. “Appa! Eomma mau pergi! Andwae!”

Dan saat itu juga, Sang hun yang melihat ibunya hendak pergi menjauh, berteriak sekuat tenaga.

EOM-“

Dan untungnya Sehun dengan cepat menutup mulut anaknya. Berlari menjauh secepat mungkin.

Di sana Sang eun berhenti melangkah, menoleh ke arah Sehun dan Sang hun tadi berada. Tapi di sana kosong. Hanya ada tembok. Sang eun terdiam sejenak, sebelum senyum merekah di wajahnya.

***

Sang eun berjalan menyusuri pinggiran pantai. Waktu istirahat digunakannya untuk rileks dan menikmati pemandangan sekitar. Merasakan angin menerpa wajahnya.

“Dokter Oh!” Sang eun menghentikan langkahnya seketika, menoleh pada sosok laki-laki tampan yang berlari mendekat padanya.

“Oh, Dokter Han,” ujar Sang eun tepat saat Dokter Han berhenti berlari dan berjalan di sampingnya.

“Ada apa?’ tanya Sang eun ling-lung. Sedangkan, pria di sampingnya hanya tersenyum lebar.

“Tidak ada. Hanya ingin menghabiskan waktu istirahat. Sangat disayangkan jika aku membiarkan dokter cantik berjalan sendirian menyusuri pantai,” ujarnya dengan senyum lebar. Sesekali tangannya bergesekan dengan telapak tangan Sang eun.

“Ahaha, terserah saja,” gumam Sang eun pelan dengan tawa getirnya.

Tangannya dilipat ke depan dada untuk menghindari gesekan-gesekan. Terlihat beberapa orang turis luar negeri berbisik melihat mereka berdua.

“Oh, how cute they are!”

“Perfect couple!”

“Oh, I want to be here with my boyfriend too!”

“You don’t even have a boyfriend!”

Sang eun menggaruk kepalanya canggung, yang sebenarnya tidak gatal. Well, ia cukup kesal sebenarnya. Tapi mencoba menahan amarahnya dalam diam. Sedangkan, pria di sebelahnya semakin tersenyum lebar saat mendengar bisikan orang-orang.

“Jadi kau suka pantai, Dokter Oh?” tanya Dokter Han memulai pembicaraan.

Ugh, sekarang waktu istirahatku terbuang sia-sia.

*

Di sisi lain Sehun dan Sang hun baru saja tiba di pantai. Ia sempat kehilangan jejak Sang eun lagi. Untung saja ia mendapat informasi bahwa Sang eun sedang di pantai menghabiskan waktu istirahatnya.

Oke, itu bukan informasi.

Ia menguping.

Ya, Sehun akui itu.

“Wah, airnya sangat banyaak!” ujar Sang hun senang dengan wajah berbinarnya. Pria kecil itu berlari menuju pantai. Mulut kecilnya menganga lucu karena terpukau.

Sehun tertawa kecil, mengangkat Sehun dan membiarkan kaki anaknya tersentuh air. Bermain-main dengan ombak pantai. Sedangkan, matanya menari-nari mencari sosok yang dicarinya.

Ketemu!

Wajah Sehun langsung merah padam saat dari kejauhan ia melihat punggung seorang wanita dan seorang pria yang berjalan berdampingan. Sehun tahu itu Sang eun. Ia berani mempertaruhkan hartanya untuk membuktikan bahwa itu Sang eun.

Sehun mulai berlari kecil, memperkecil jaraknya dengan Sang eun dan si-pria-antah-berantah.

“Jadi kau suka makan? Wah, aku juga!” ujar si pria antusias yang hanya dibalas tawa getir Sang eun.

Sehun di belakang mulai menggeurtu, dengan Sang hun di gendongannya yang tidak menyadari apa-apa. Dirinya terlalu terpukau dengan pantai di hadapannya.

Appa! Main-main!” rengek Sang hun saat melihat anak-anak seumurannya bermain pasir tak jauh dari mereka. Ada seorang nenek mengawasi di dekatnya, sepertinya anak-anak itu adalah cucunya.

Sehun berpikir sejenak, lalu menggendong Sang hun mendekati anak-anak itu.

“Permisi, imonim. Apakah aku boleh menitip anak ini sebentar? Dia anak baik dan dia ingin bermain bersama teman-teman,” ujar Sehun sopan sambil tersenyum pada nenek di hadapannya. Nenek itu menepuk kedua tangannya keras, sambil tersenyum lebar.

“Oh tentu saja, kamari nak! Aku akan menjaganya dengan baik,” ujar nenek itu sambil meraih tangan Sang hun. Sehun tahu nenek itu dapat dipercaya dan orang baik. Ia hidup cukup lama di dunia ini untuk tahu itu.

Sehun menunduk pada Sang hun, “Appa akan menjaga eomma dulu. Sang hun mainlah di sini dan jadi anak yang baik. Nanti appa akan menjemputmu, oke?” ujar Sehun lembut sambil menyodorkan telapak tangannya yang lansung disambut dengan tepukan kecil dari tangan mungil Sang hun.

“Semangat!” ujarnya lucu.

Sehun berdiri, membungkuk sekilas sambil tersenyum pada si nenek sebelum akhirnya berlari kecil menyusul Sang eun. Ia berjalan pelan di belakang Sang eun dan si pria tanpa disadari keduanya.

Oh! Aku juga suka nasi goreng kimchi dan tteobeokki!” ujar si pria dengan semangat. Yang lagi-lagi mendapat gerutuan Sehun dan tatapan yang dapat kapan saja melubangi kepalanya.

“Eum… bagaimana kalau kapan-kapan kita ke pantai dan makan tteobeokki di pinggir pantai!” ujar si pria sedikit gugup. Mata Sehun membelalak seketika, tangannya sudah melayang ke udara hampir memukul kepala pria di hadapannya.

“Oh, boleh. Pasti yang lain juga senang, terutama Dokter Park,” ujar Sang eun tenang yang membuat Sehun menepuk dahinya.

Ugh, sayang! Pria itu mengajakmu kencan, tidakkah kau sadar?

“Eum..maksudku hanya kita berdua,” ujar si pria. Keduanya berhenti berjalan, membuat Sehun juga berhenti berjalan. Api sudah mulai keluar dari telinganya.

“Oh, aku rasa-” belum selesai Sang eun berbicara, ucapannya sudah terpotong oleh Dokter Han yang kini menatapnya serius.

Ada yang ingin kukatakan padamu, Dokter Oh!” ujarnya serius, hampir saja tangan Sang eun digenggamnya tapi Sang eun segera menyembunyikan tangannya di balik badan.

Keduanya tak menyadari tatapan membunuh di belakang mereka yang siap menerkam kapan saja.

Sudah cukup sampai di sini.

“Aku-” Belum selesai Dokter Han berbicara, suaranya terpotong dengan suara besar di samping mereka. Di bibir pantai dimana pria sedang berdiri di dalam air pantai yang dangkal.

“OHOHO! Airnya dingin! Artinya jika ada pria dan wanita bersamaan pasti keduanya tidak berjodoh, ohohoho!” ujarnya keras dengan suara besar.

Itu Sehun.

Sehun dengan mantel besarnya yang membuatnya terlihat seperti orang gendut, topi yang menutupi wajah tampannya, dan kacamata hitam sebagai pelengkap. Terlebih suaranya yang dibuat-buat dan malah terdengar seperti Santa.

Sang eun menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Dokter Han menatap pria itu bingung. Orang gila, batinnya.

“Dokter Oh, aku rasa lebih baik kita kembali saja,” ucapan Dokter Han semakin memelan karena terkejut Sang eun mengabaikannya. Bukan hanya itu. Wanita itu berjalan ke arah air, meraih kerah mantel pria gila itu yang sebenarnya Sehun, hingga jarak keduanya hanya beberapa inci.

Dokter Han terpaku, baru saja hendak menghampiri Sang eun. Karena ia kira Sang eun akan memarahi habis-habisan pria itu. Bahkan Dokter Han menahan senyumnya bahwa Sang eun marah karena mereka dibilang tidak berjodoh. Ya pikirnya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Sang eun tersenyum.

“Seharusnya kau datang lebih cepat,” ujar Sang eun dengan senyum manisnya, menatap pria yang terdiam terpaku membeku di balik kacamata hitamnya.

“Dokter-”

Sang eun mencopot topi Sehun, membuangnya sembarangan hingga hanyut ke laut, embuka kacamata hitamnya cepat dan menaruhnya di saku mantel Sehun. Senyumnya semakin merekah saat wajah suaminya terlihat jelas. Dikalungkan tangannya di leher Sehun.

“Apa yang akan kau lakukan jika dia menyatakan perasaannya terlebih dahulu?” goda Sang eun pada Sehun yang pipinya kini memerah lucu.

“Huh? Tidak akan! Atau sudah kupotong-”

Cup

Perkataan Sehun terpotong saat bibir manis Sang eun menempel di bibirnya. Menciumnya lembut. Sehun terdiam sejenak, sebelum tersadar dan membalas ciuman istrinya. Merengkuh tubuh mungil Sang eun dalam dekapannya.

Dokter Han? Oh, abaikan dia. Wajah shocknya terpampang jelas, tubuhnya membeku saat melihat keduanya berciuman mesra. Maksudnya hei! itu Dokter Oh calon kekasihnya.

Sehun menoleh pada Dokter Han, dengan senyum manisnya dan Sang eun yang masih ada dalam dekapannya.

“Hi there! Well, she is my wife,” ujar Sehun singkat, padat, dan jelas. Oh, jangan lupakan wink yang diberikan pada Dokter Han.

Sehun kembali mencium Sang eun lembut, membuat wanita itu sedikit terkejut sebelum akhirnya tersenyum di sela-sela. Dokter Han dengan api yang mulai keluar dari telinganya berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan langkahnya yang penuh amarah.

“Aku merindukanmu,” ujar Sehun setelah ciuman mereka berakhir, menempelkan dahinya dengan dahi Sang eun sambil menatap istrinya.

“Darimana kau tahu kami di sini?” tanya Sehun.

“Dari waktu di hotel, kalian sangat manis,” ujar Sang eun sambil menahan tawanya. Sehun langsung mengecup cepat bibir Sang eun menghentikan tawanya.

Sang eun menoleh ke arah Sang hun. Tersenyum melihat anaknya sedang asyik bermain dengan teman barunya dan pasir. Ia tak ingin mengganggu.

“Kau tahu jam istirahatku hampir habis,” rengek Sang eun pelan. Sehun menaikkan sebelah alisnya, tersenyum.

Well, aku bisa menculikmu.”

Sang eun terdiam sejenak, lalu mulai menatap Sehun dengan tatapan mautnya. Memainkan jarinya di dada suaminya itu. Membuat pipi Sehun mulai terlihat merah.

“Seharusnya kau datang dariawal. Lalu kita bisa pesan satu kamar yang sama. Dan siapa tahu…” Sang eun menarik kata-katanya panjang, membuat hati Sehun berdegup kencang karena penasaran.

“Kita bisa bulan madu yang kedua,” bisik Sang eun pelan.

Mata Sehun berbinar dengan pipinya yang memerah. Kalian tahu apa artinya kan?

“Bolehkah?” ujar Sehun antusias dengan suaranya yang mulai memberat. Sang eun tersenyum jahil lalu mencubit pipi suaminya. Ia hanya berniat menggoda Sehun.

“Oh, tentu…. jika tidak ada Sang hun!” ujar Sang eun sambil memeletkan lidahnya ke Sehun. Berlari menjauhi pria itu menuju Sang hun.

Nyoya Oh!”

Misi mereka mungkin gagal. Ketahuan telak.

Tapi setidaknya, Sehun menang dalam mendapatkan wanita yang sedang dikejarnya itu.

Oh, ia sudah menang

sejak lama.

Well, like he said. She is his wife.

***

Hello there

Well, if you still remember me and this story of course hehe.

It’s been a year, maaf gak bisa update, dan aku gak bisa bakal sering update juga. I’ll try.

Ini aja pada masa ujian dan karena aku suntuk baca buku lalu dapet hidayah nulis:v

Thank you very much if there are some of you who still remember and wait for this series, and me, I guess?, oh never mind.

So how was it? Udah lama banget semenjak aku gak nulis, jadi yah gak tau gimana. Semoga tidak mengecewakan.

I am open up to any request of what kind of story about SangHun, I should post.

Oh!

Selamat berpuasa! Ramadhan! Semoga dilancarkan puasanya, diampuni dosa-dosanya, dan dilimpahkan banyak berkah untuk yang menjalankan puasa.

Dan selamat menunggu hari libur buat yang tidak menjalankan. I hope all of you for a nice day. As always.

Dan semangat buat yang lagi ujian dan cari kuliah juga sekolah! Good luck and wish you all the best!

Regards,

bluelu bird

 

Advertisements

18 responses to “She is His Wife- SangHun’s Story Series by bluelu bird

  1. kangen sm kelanjutan ffini aku sampai lupa,,,, ternyata sehun sm sang hun udah ketahuan sang eun waktu di hotel apa waktu sehun lagi pesan kamar #KalauGakSalah
    kangen sm sanghun yg imutnya mengalahkan keimutanku #PlakkLupaUmur..wkwk…

  2. kangen sm kelanjutan ffini aku sampai lupa,,,, ternyata sehun sm sang hun udah ketahuan sang eun waktu di hotel apa waktu sehun lagi pesan kamar #KalauGakSalah
    kangen sm sanghun yg imutnya mengalahkan keimutanku #PlakkLupaUmur..wkwk…
    aku ganti id komen tp aku sebelumnya selalu komen kalaupun ada yg lupa maafin…. #GakAdaYgNanya

  3. Duhhh akhirnya kamu balik lagi 😂 kangen banget sama cerita manis sehun-sangeun 😘😘 sanghun juga makin ucul aja ih 😆 lanjut lanjut. Bikin cerita manis manis lagi yaa. Mayan ngobatin suntuk 😂😐

  4. ya ampun seneng banget iniii akhirnya ada kelanjutannya lagiii
    si sehun ga pandai nih dalam memata2in istrinya wkwkw
    untungnyaa sehun langsung motong ucapannya dokter han wkwkwkw
    ini manis banget si mereka ber 2 gemesss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s