FALLEN HEAVEN – CHAPTER [4]

FALLEN HEAVEN

Choi Seona – Byun Baekhyun

Romance, Action, Crime, Drama, Family

PG-17

aaahraaa©2017

Previous Chapter :

[1] – ONE THING LEADS TO ANOTHER 

[2] – HER CURIOSITY KILLED THE CAT

[3] – HIS ELECTRIC BLUE-EYED MONSTER

Warning :

Cerita ini hanyalah fiksi, jadi don’t be serious guys! A lot of grammatical errors bahkan tidak sesuai ejaan yang disempurnakan, karna aku sendiri hanyalah manusia biasa. Kritik yang membangun boleh asal menggunakan bahasa yang baik.

Selamat membaca!

.

.

CHAPTER FOUR
A MIDNIGHT DRAMA

.

.

Choi Seona menghela nafas untuk kesekian kalinya malam ini. Semalam tanpa disangka olehnya Baekhyun datang ke rumah sakit hanya untuk mengatakan padanya bahwa dirinya datang ke acara amal bersama Baekhyun sebagai tunangannya. Belum sempat Seona berkata apapun,  Baekhyun telah pergi dari hadapannya.

Gila.

Seona mulai gila karna Baekhyun.

Seona mulai mempertanyakan dirinya. Sebenarnya siapakah ia di mata Baekhyun? Ia baru saja bertemu Baekhyun kurang dari satu minggu. Tidak. Lebih dari satu minggu ia bertemu dengannya, tiba-tiba Baekhyun meminta sebuah imbalan yang menurutnya diluar akal sehatnya.

Baekhyun belum tahu seberapa protektifnya ayahnya padanya. Bahkan Seona sampai berpikir apakah Baekhyun belum mengetahui siapakah ayahnya?

Itu mungkin saja.

Seseorang menepuk pundak Seona dengan keras yang membuat Seona terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati Bona yang tengah terkekeh dengan ekspresi tidak bersalahnya.

“Kau mengagetkanku, tahu,” ucap Seona dengan kesal. Bona menggubris ucapan Seona, ia justru duduk di hadapan Seona dengan menyilangkan kedua tangannya dan memajukan tubuhnya seraya menatap Seona.

“Seona, kau akan datang ke acara amal nanti kan?” tanya Bona dengan penuh harap.

“Tidak, sebenarnya aku tidak ingin datang. Tapi aku dipaksa untuk datang.”

“Bagus. Kau tahu? Aku ikut bagian dalam acara amal nanti. Aku sudah mempersiapkan baju-baju mana yang akan aku lelang nanti,” ucap Bona dengan penuh semangat. Seona menggelengkan kepalanya saat ia melihat Bona berlari menuju rak-rak baju dan  mengambil lalu menaruh kembali beberapa pakaian.

“Kau tidak ingin ikut melelangkan baju-bajumu nanti?” tanya Bona sambil menatapnya. Seona mengangkat bahunya pelan. “Aku bisa melelangkan baju-bajuku dengan caraku sendiri.”

Bona memutar bola matanya. “Ya, terserah apa katamu. Sayang kalau kau tidak ikut, Seona. Kau akan melewatkan momen-momen berhargamu.”

“Berharga apanya? Kalau itu acara pernikahanku, baru itu berharga,” ucap Seona dengan ketus. Seona berusaha kembali fokus pada tumpukan dokumen yang ada di mejanya.

Bona merasa ada sesuatu yang aneh dengan Seona. Ia lantas menghampiri dan meletakkan tangannya di dahi Seona. “Kau tidak demam,” gumam Bona.

Karena Seona merasa risih, ia melepaskan tangan Bona dari dahinya.  “Kau ini kenapa sih?”

“Harusnya aku yang bertanya itu padamu. Ayo cerita! Pasti ada yang ingin kau ceritakan padaku kan?”

Seona menghela nafas kemudian memutar kursinya menghadap jendela besar. Ia tak tahu harus menceritakannya pada Bona atau tidak. Bukannya ia tidak percaya pada Bona, namun ia merasa bahwa masalah ini hanya ia sendiri yang tahu. Tetapi di sisi lain, ia juga frustasi menghadapi masalah ini, terutama pada Baekhyun.

Sepertinya ia harus percaya pada Bona.

Seona kembali membalikkan tubuhnya dan menatap Bona. Kemudian ia menceritakan semuanya mulai dari kecurigaannya, penculikan Jihoon, sampai permintaan Baekhyun yang tidak masuk akal. Selama Seona bercerita, Bona hanya diam mendengarkan Seona.

“Aku sebenarnya ingin menolak ajakan Byun Baekhyun, tapi aku tidak tahu bagaimana.” Seona tidak berbohong. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya. Seona tidak tahu mengapa ia tidak bisa tidak menolak ajakan Baekhyun. Entah sihir apa yang telah Baekhyun lakukan padanya sehingga membuat dirinya menjadi seperti ini.

Setelah Seona selesai bercerita, Bona masih tetap terdiam. Entah apa yang ada dipikiran Bona, Seona tak tahu.

“Bona? Lee Bona?” panggil Seona, namun Bona masih sibuk dengan dunianya sendiri. “Bona, kau─” tepukan tangan Bona membuat Seona berhenti berbicara. Seona menatap bingung dengan tingkah Bona. Seona tak tahu kali ini setan apa yang sedang merasuki Bona.

“Kau tinggal telpon dia lalu bilang ‘Maaf Baekhyun, aku tidak bisa datang.’ Selesai.”

Seona memukul pelan kepala Bona dengan kertas. “Ya! Kau pikir semudah itu?”

“Tidak, aku hanya bercanda,” ucap Bona seraya terkekeh. Suara deringan ponsel membuat kekehan Bona terhenti. Ia lantas merogoh ponselnya dari saku bajunya dan mendekatkannya ke telinga.

Yeoboseyo. Hyeri-ah!”

“Kau dimana?”

“Aku sedang bersama Seona di kafe depan kantorku.”

“Benarkah? Aku akan kesana sekarang. Oh iya aku lupa memberitahumu. Perwakilan dari perusahaanku nanti akan mengunjungi kantormu untuk membicarakan proyek selanjutnya. Kali ini bukan aku yang mengurusinya, jadi kau harus bersikap profesional, oke?”

Bona memutar bola matanya. “Ya, aku tahu.”

“Sampai jumpa nanti!”

Seona menyeruput moccachino-nya sambil menatap Bona yang sedang menghela nafas. “Kau lelah?” tanya Seona seraya menaruh cangkirnya di atas meja.

“Ya, aku lelah. Satu minggu ini jadwalku padat. Aku butuh refreshing!” ucap Bona seraya membuka lengannya lebar-lebar. Hal tersebut menarik perhatian orang-orang.

“Dasar tak tahu malu,” gumam Seona yang masih dapat di dengar oleh Bona.

“Seona! Bona!” suara khas milik Hyeri menggema ke seluruh penjuru kafe. Bona melambaikan tangannya pada Hyeri sedangkan Seona hanya tersenyum. Kemudian Hyeri menghampiri mereka.

Baru saja Hyeri duduk di kursinya, Bona langsung berdiri. “Aku harus pergi. Banyak yang harus aku lakukan hari ini,” ucap Bona lalu ia memeluk Seona dan berbisik, “Sampai bertemu nanti.”

Seona menoleh dan menatap Bona bingung. Ia tak mengerti apa maksud ucapan Bona.

Setelah kepergian Bona, Hyeri langsung memesan secangkir kopi pada seorang pelayan. Kemudian Hyeri menatap Seona. “Kau baik-baik saja kan?”

“Ya, aku baik-baik saja,” ucap Seona santai seraya memeriksa dokumen-dokumennya.

“Maksudku tentang semalam,” ucap Hyeri pelan. “Aku tahu tentang kejadian temanmu itu.”

“Pasti Chanyeol menceritakannya padamu.”

“Lebih tepatnya aku yang memaksa Chanyeol untuk menceritakannya padaku. Kau tahu aku semalam khawatir sampai aku telfon Chanyeol untuk mengetahui kabarmu.”

“Apa yang perlu kau khawatirkan, Hyeri? Kau kan tahu di sana ada Chanyeol, setidaknya semuanya akan baik-baik saja.”

Hyeri menghela nafas. “Aku tahu. Aku hanya tidak yakin dengan Baekhyun.”

“Memang ada apa dengannya?”

“Kau pasti tahu bagaimana Baekhyun. Aku hanya tidak ingin kau berada di sisi buruknya, Seona.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Hyeri menghela nafasnya sekali lagi. Ia tak tahu dengan keputusannya untuk menceritakan sedikit tentang Baekhyun itu benar atau tidak. “Baekhyun tipe orang yang tidak suka untuk disuruh-suruh apalagi dibantah. Ia tipikal orang yang keras kepala, Seona. Sama sepertimu. Kau tahu bagaimana kalau dua orang yang keras kepala saling bertemu?”

“Iya aku tahu.”

“Kau tahu? Jangan bilang kau melakukannya?” tanya Hyeri dengan nada tak percayanya.

Seona mengangguk. “Tapi bukan masalah besar. Buktinya aku bisa membebaskan Jihoon.”

Bohong. Bukan masalah besar apanya? Seona rasanya ingin mati saja berhadapan dengan Baekhyun dan menuruti semua keinginannya. Demi Jihoon.

Hyeri menatap Seona skeptis namun perlahan ia menyangkal semua keraguannya. Yang ada sekarang adalah rasa penasarannya. “Bagaimana bisa? Kau tidak guna-guna dia kan?”

Seona tersenyum lebar bahkan hampir tertawa namun ia tahan. “Kau ada-ada saja. Aku tidak percaya hal-hal magis semacam itu, jadi tidak mungkin aku guna-guna dia.”

“Aku hanya bercanda,” ucap Hyeri. “Kau ikut acara amal nanti malam?”

“Iya aku ikut,” jawab Seona. Ia bingung, sepopuler itukah acara amal itu sampai orang-orang bertanya pada dirinya apakah ia ikut atau tidak?

“Bagus. Kau punya gaun yang akan kau pakai nanti malam?”

“Kau seperti Bona saja. Aku belum memikirkannya.”

“Bagaimana kalau kita berbelanja gaun untuk nanti malam?” usul Hyeri dan Seona meresponnya dengan anggukan kepala.

 

***

 

Seona dan Hyeri telah mengunjungi lebih dari lima toko pakaian yang berada di pusat distrik Gangnam. Namun belum ada satupun gaun yang menarik perhatian mereka, terutama Seona. Selera fashion Seona tidak terbilang tinggi, ia lebih menyukai pakaian bermodel sederhana namun elegan dan nyaman dipakai.

Sinar matahari yang terik tak mematahkan semangat Hyeri untuk mencari gaun yang pas untuk dirinya dan juga Seona.

“Kalau begini akhirnya seharusnya dari awal kita pergi ke toko langgananku saja,” ucap Hyeri menahan kekesalannya. “Kau bawa mobil?”

“Tidak, aku ada supir.”

“Aku tidak suka diantar supir,” ucap Hyeri. Dalam hati Seona, ia membenarkan perkataan Hyeri. “Tapi aku suka kalau diantar Chanyeol”

Seona memutar bola matanya. Untung saja itu Hyeri, kalau ia mendengar Bona berkata seperti itu. Seona sudah memuntahkan isi perutnya karna tak tahan mendengarnya.

“Taksi!” teriak Hyeri seraya mengangkat tangannya.

Sebuah taksi berhenti di depan mereka. Seona dan Hyeri pun masuk ke dalam taksi. Setelah mereka benar-benar masuk, sang supir taksi pun melajukan mobilnya menyusuri ramainya jalan di kawasan Gangnam ini. Satu jam kemudian, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Awalnya Seona dan Hyeri sempat saling beradu untuk membayar bill taksi. Tentu saja yang menang adalah Seona.

Saat mereka masuk, beberapa staf berkumpul di depan mereka dan membungkuk hormat. “Selamat siang.”

“Nona Hyeri, ada yang perlu saya bantu?”

“Aku sedang mencari gaun untukku dan temanku.”

“Baiklah, Nona. Silahkan ikut saya,” ucap sang staf wanita.

Setelah mengikuti staf wanita itu, mereka berhenti di depan pintu berganda besar. Kemudian staf wanita itu mempersilahkan Hyeri dan Seona masuk terlebih dahulu. Seona cukup terkejut melihat betapa banyaknya rak yang berisikan gaun-gaun dengan model dan warna yang berbeda. Tak hanya gaun, ada beberapa sepatu hak tinggi dan juga aksesoris yang tak terhitung jumlahnya.

Mata Seona menyipit ke arah Hyeri. Hyeri tersenyum lebar seraya memamerkan sebuah kartu berwarna emas kepada Seona. “Berkat Chanyeol.”

Seona tak merespon apapun. Ia hanya terdiam. Ia tak menyangka sejak kepergiannya ke Amerika, banyak perubahan yang terjadi pada Hyeri. Ia tahu dahulu Hyeri hidup sebatang kara. Satu-satunya penopang hidup Hyeri adalah kerja sambilan. Dulu Seona tidak bisa berbuat banyak untuk Hyeri. Yang Seona bisa lakukan adalah memberinya semangat bersama Bona dan juga mengajaknya makan bersama. Namun sekarang Hyeri sudah berubah. Kalau dilihat dari luar, ia tidak terlihat seperti Hyeri yang dulu tapi dari sifat dan sikapnya, Seona masih mengenalinya.

“Halo, sayang.” Samar-samar Seona dapat mendengar ucapan Hyeri yang ia yakin ditujukan pada Chanyeol.

“Aku sedang mencari gaun bersama Seona. Kau mau kesini?”

“Baiklah, I love you,” ucap Hyeri dengan manisnya. Hyeri berbalik dan menghampiri Seona yang masih melihat-lihat gaun. “Chanyeol akan menyusul ke sini, mungkin Baekhyun juga.”

“Aku berharap dia tidak datang,” gumam Seona yang untungnya tidak terdengar oleh Hyeri. Setelah beberapa menit mereka mencari-cari, Hyeri menunjukkan sebuah gaun kepada Seona. “Bagaimana? Bagus kan?”

Seona memerhatikan model gaun yang ditunjukkan oleh Hyeri. Ia kurang suka dengan modelnya yang terlalu memamerkan tubuhnya terutama belahan dadanya yang sangat panjang. Namun Seona rasa masih cocok di pakai untuk Hyeri. “Kurasa bagus untukmu.”

“Aku sedang memilih gaun untukmu, Seona. Bukan untukku.”

Seona melambaikan tangannya. Ia memberi isyarat pada Hyeri bahwa dirinya tidak ingin memakainya. Bahkan hingga Seona ingin ke kamar ganti pun, Hyeri tetap memaksa Seona untuk mencobanya. “Kumohon, Seona. Cobalah. Hanya coba saja,” pinta Hyeri.

Seona benci melihat orang lain memohon padanya, karna ia tahu dirinya pasti akan luluh. Karna Hyeri terus saja memohon, akhirnya Seona mengabulkan permohonan Hyeri. “Baiklah. Tapi aku hanya mencobanya.”

“Sebentar,” ucap Seona saat merasakan ponselnya bergetar di dalam tasnya. Seona merogoh tasnya dan melihat nama Bona terpampang di layar ponselnya, kemudian ia mengangkatnya. “Ada apa?”

“Gawat, Seona! Salah satu model kita tiba- tiba dibawa ke ICU. Aku tak tahu harus bagaimana! Aku panik! Sekarang kau dimana?”

“Jangan panik, kau tinggal cari penggantinya. Aku sekarang ada di Yeongdeungpo-gu.”

“Itu mustahil. Lebih baik kau bantu aku kesini.”

“Ya, aku akan kesana sekarang,” ucap Seona kemudian ia siap-siap bergegas. Seona merasa tidak enak hati meninggalkan Hyeri sendirian, namun ia harus tetap pergi. “Maaf, Hyeri. Aku tidak bisa menemanimu lebih lama, aku harus kembali.”

Hyeri mengangguk. Ia mengerti dengan keadaan Seona. “Ya, aku paham. Urusan pekerjaan lebih utama.”

“Sampaikan salamku pada Chanyeol,” ucap Seona lalu berjalan ke arah pintu namun beberapa saat ia berhenti melangkah. Ia teringat sesuatu. Seona bisa memanfaatkan keadaan ini untuk menghindari Baekhyun. Tak ingin melewatkan kesempatan, akhirnya Seona bertanya,  “Hyeri, boleh aku minta tolong padamu?”

Hyeri mengangguk. Seona berkata, “Sepertinya aku tidak bisa datang bersama Baekhyun nanti malam. Tolong sampaikan padanya. Kumohon.”

“Baiklah, nanti aku sampaikan pada Baekhyun,” ucap Hyeri. Seona berterima kasih seraya memeluk Hyeri kemudian ia berjalan keluar dari butik tersebut.

 

***

 

“Bajunya dimana bajunya?”

“Aku butuh hak sepatuku.”

“Tolong, make-up ku luntur.”

“Penata rias mana penata rias?”

“Rambutnya tolong diulang.”

“Hyejin, kau pakai gaun hitam itu.”

“Baik.”

Seona berdiri menatap keributan yang terjadi di dalam ruang ganti sekaligus tempat rias. Ia baru saja sampai di tempat acara yang akan dilaksanakan nanti malam. Awalnya Seona bingung mengapa tiba-tiba Bona memanggilnya ke tempat ini, Seona pikir Bona masih berada di kantor. Ternyata ia salah.

Disisi lain Seona curiga dengan Bona. Ia berfirasat bahwa ada sesuatu yang sedang di rencanakan Bona. Namun ia tidak tahu itu apa.

Lamunan Seona buyar saat seseorang tak sengaja menabrak tubuhnya. Wanita tersebut meminta maaf pada Seona, kemudian ia kembali berjalan. Kali ini Seona berusaha untuk tidak mengganggu orang-orang yang sibuk melakukan kegiatannya.

Seona menggelengkan kepalanya pelan. Ia heran sebenarnya ini acara fashion show atau acara amal?

“Seona!”

Seona menoleh dan mendapati Bona sedang melambai-lambaikan tangan padanya. Seona tahu maksud Bona dan kemudian menghampirinya.

“Kau sedang membuat acara fashion show dadakan ya?” canda Seona.

“Itu namanya kesempatan dalam kesempitan,” ucap Bona sambil mengedipkan sebelah matanya. Seona tertawa mendengarnya.

“Aku sudah punya solusinya,” ucap Bona tiba-tiba. “Kau yang akan menjadi penggantinya,” lanjutnya.

Seona mengerutkan keningnya. Bona yang mengerti maksud dari ekspresi wajah Seona langsung berkata, “Tidak ada tapi-tapi-an, Seona! Kau harus membantuku. Ayolah, demi aku.”

“Bon─”

“Sudahlah lebih baik kau sekarang ganti bajumu dengan gaun ini. Aku sudah mempersiapkannya khusus untukmu.” Bona memberikan gaun tersebut pada Seona. “Asisten Seo! Aku butuh bantuanmu.”

Bona mendorong tubunnya agar memasuki ruang ganti yang tersedia. Dalam hati Seona, ia sudah memaki-maki Bona dan melontarkan sumpah serapah yang hanya bisa didengar olehnya. Ia tahu, Bona pasti sengaja membuatnya menjadi pengganti dari model itu. Atau bahkan Bona telah mengarang cerita? Astaga! Ia harus memberi pelajaran pada Bona.

Tetapi yang terpenting sekarang adalah berharap malam ini ia tidak akan bertemu dengan Baeknyun.

 

***

 

“Selamat malam semua tamu terhormat. Selamat datang di acara pelelangan amal terbesar se-Korea Selatan,” ucap sang pembawa acara dengan semangatnya.

Para tamu undangan bertepuk tangan meriah. Mereka saling bertukar pandang dan memuji betapa menakjubkan dan meriahnya acara itu.

Baekhyun tidak peduli sebenarnya dengan acara itu. Yang ia pedulikan sekarang adalah kehadiran Seona. Ia mendapat berita dari Chanyeol bahwa Seona tak bisa ikut menghadiri acara ini dengannya. Tentu saja Baekhyun tidak senang. Ia geram namun Chanyeol memastikan bahwa Seona akan datang.

“Selamat malam. Saya Han Sohee, perwakilan dari Perusahaan Charity Auction. Malam ini saya merasa sangat terhormat bisa menjadi pembawa acara pelelangan amal ini,”ucapnya dengan berwibawa. “Dan tanpa menunggu panjang lagi, marilah kita mulai dari barang pertama.”

“Barang pertama kami malam ini adalah sebuah lukisan kontemporer karya Hong Jon Dae. Baiklah kita mulai dari 1 juta.”

“Nomor 5, 5 juta.”

“Nomor 12, 9 juta.”

“Nomor 19, 11 juta.”

“11 juta sekali. 11 juta dua kali. 11 juta tiga kali. Ya, selamat kepada Tuan Park Hyunshik. Anda berhak mendapatkan lukisan ini.”

Semua orang bertepuk tangan. Begitulah seterusnya, sang pembawa acara memandu para hadirin untuk melakukan pelelangan beberapa barang yang bernilai cukup tinggi.

Baekhyun tak tahan. Ia merasa bosan. Yang ia lakukan hanyalah minum sampanye kemudian memutar-mutar gelasnya tanpa memerhatikan acara yang sedang berlangsung. Baekhyun tahu bahwa tak ada satupun barang yang menarik perhatiannya. Baekhyun baru saja ingin berdiri, tiba-tiba sebuah nama yang diucapkan oleh sang pembawa acara menarik perhatiannya.

“Dan barang terakhir kita malam ini. Saya persilahkan Puteri Komisaris Choi Seunghan, Choi Seona.” Suara pembawa acara menggema ke seluruh penjuru ruangan sehingga menarik perhatian seluruh tamu  termasuk Baekhyun yang perlahan menoleh ke arah panggung.

Baekhyun tak bisa menahan dirinya untuk tidak membuka bibirnya ketika ia melihat Seona. Tampaknya semua orang pun ikut menoleh ke arah panggung. Suasana ballroom yang tadinya berisik sekarang menjadi tenang ketika mereka melihat Seona berjalan dengan anggunnya.

Gaun yang dikenakan oleh Seona sangat cantik namun senyuman di wajah Seona cantiknya melebihi dari gaunnya. Baekhyun akui itu.

Seona benar-benar terlihat seperti permata tersembunyi di dunia. Tak ada satupun yang menyangka bahwa Seona adalah putri dari Komisaris Polisi Korea Selatan, Choi Seunghan. Oleh karna itu, beberapa orang takjub bahkan sampai tak tahan untuk membuka bibirnya.

“Dia benar-benar anak Choi Seunghan? Sungguh tidak bisa dipercaya.”

“Benar. Aku dengar dia adalah anak bungsu dari Komisaris Choi Seunghan.”

“Anak bungsu Choi Seunghan? Aku tak pernah tahu Choi Seunghyun punya adik. Tapi dia cantik juga.”

“Ya, aku juga kaget mendengarnya. Aku penasaran dia sudah ada yang punya atau belum?”

“Dia terlihat polos. Aku suka wanita yang polos apalagi kalau penurut. Aku bisa membayangkan betapa manisnya kalau dia menjadi istri simpananku.”

Baekhyun geram saat mendengarnya. Ia bahkan bersiap untuk menghabisi pria itu karna pikiran kotornya terhadap Seona. Namun tidak jadi saat ia merasakan tangan Chanyeol memegang bahunya, seakan menahan dirinya untuk berbuat hal-hal yang tidak diinginkan.

“Percuma kau mengotori tanganmu pada pria itu. Pria seperti itu banyak dimana-mana. Kau tak perlu khawatir selama kita berada disini,” ucap Chanyeol berusaha menenangkan emosi Baekhyun.

Rasanya Baekhyun ingin memanggil Joon dan menyuruhnya untuk memaksa semua orang yang menatap Seona dengan penuh nafsu. Kalau ia melakukannya, mungkin Joon sudah menyingkirkan lebih dari setengah jumlah tamu yang datang ke acara amal ini.

“Pakaian yang dikenakan oleh Nona Choi Seona merupakan desain yang dirancang khusus sedemikian rupa oleh desainer muda Lee Bona. Tak tanggung-tanggung bahan yang digunakan diimpor langsung dari Milan,” jelas sang pembawa acara.

Ketika Seona telah berdiri menghadap para tamu undangan, sang pembawa acara mulai melakukan pelelangan. “Baiklah, kita mulai harganya dari satu juta.”

“Nomor 21, 5 juta.”

“Nomor 30, 10 juta.”

“Nomor 16, 100 juta.”

“Nomor 25, 150 juta.”

“Nomor 38, 500 juta.”

Orang-orang terkejut mendengarnya karna sampai saat ini baru pertama kalinya angka 500 juta disebutkan.

“500 juta sekali. 500 juta dua kali. Ya, nomor 59, 1 miliar.”

Sekali lagi orang-orang terkesima. Wajar saja banyak orang yang berani mengeluarkan dana sebesar mungkin.

“1 miliar sekali, 1 miliar dua kali.”

Baekhyun memandang pria berpapan nomor 59 dengan tatapan tak sukanya. Ia takkan rela bila Seona menjadi milik pria itu. Sama sekali tidak rela, bahkan sampai Baekhyun mati. Baekhyun yang tak ingin kalah akhirnya menaikkan papan nomornya.

“Ya, nomor 45. 1 Triliun.”

Kali ini semua mata para tamu melebar sempurna. Mereka menatap Baekhyun dengan tak percaya, termasuk Seona.

Seona memandang Baekhyun dengan tatapan bahwa ia sudah gila. Baekhyun sendiri hanya menyeringai puas melihat ekspresi Seona.

“1 Triliun sekali. 1 Triliun dua kali. 1 Triliun tiga kali. Ya, selamat Tuan Byun Baekhyun. Anda berhak mendapatkan gaun cantik ini.”

Semua orang bertepuk tangan. Mereka tak menyangka Baekhyun akan mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk gaun yang digunakan oleh Seona. Namun Baekhyun tidak peduli.

“Baiklah, terima kasih para tamu undangan yang telah mengikuti kegiatan utama dari acara amal ini. Terima kasih.”

 

***

 

Seona tidak pernah membayangkan ia berada di situasi seperti ini. Ia telah mempersiapkan diri untuk malam ini namun sekarang ia justru berusaha untuk melarikan diri. Terlebih lagi Baekhyun telah menghabiskan uang satu triliun untuk gaun yang ia pakai saat ini, sehingga banyak mata yang kini tertuju padanya. Hal tersebut membuat dirinya semakin ingin pergi dari sini.

Seona merasa asing berada di sana. Ia mengedarkan pandangannya. Ia tidak dapat mengenal orang-orang selain Bona, Hyeri,  Chanyeol, dan tentu saja Baekhyun.

Seona melihat ada sebuah pintu yang terbuka dan memutuskan keluar untuk mencari udara segar.

Saat Seona baru saja keluar dari ruangan, tiba-tiba seorang pria berada di hadapannya.

“Selamat malam, Choi Seona-ssi,” sapa pria itu kemudian mengamit tangan Seona lalu mencium punggung tangannya.

Seona hanya mengerjapkan matanya.. Bukannya ia tidak pernah diperlakukan seperti itu, namun Seona hanya terkejut. Ia tak menyangka tiba-tiba seseorang menyapanya dan mencium punggung tangannya, seakan pria itu telah mengenalnya.

“Ya, selamat malam.” Seona menyapa balik pria itu dengan tersenyum tipis.

“Setiap tahun aku selalu datang ke acara amal ini dan aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Aku tidak pernah lupa wajah seseorang.”

“Ini pertama kalinya bagiku datang ke acara seperti ini. Aku baru saja tiba dari Amerika kurang lebih satu minggu yang lalu.”

“Begitukah? Astaga aku sampai lupa. Perkenalkan, aku Park Hyunshik. Senang berkenalan denganmu, Nona manis,” ucap Hyunshik dengan senyum yang menawan.

Seona membalasnya dengan tersenyum. “Senang berkenalan denganmu juga, Hyunshik-ssi.”

“Kau ke sini sendirian?”

Belum sempat Seona menjawab, tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh pinggangnya dan menariknya ke pelukan seseorang itu. Hal tersebut membuat Seona lantas menoleh. Ia melihat Baekhyun yang menatap Hyunshik dengan dinginnya.

“Dia bersamaku, Park Hyunshik,” ucap Baekhyun datar namun terdengar menusuk bahkan Seona dapat merasakan bulu romanya berdiri.

Park Hyunshik terlihat sedikit ketakutan mendengar ucapan Baekhyun, tanpa berpikir panjang ia mengambil selangkah ke belakang kemudian meminta maaf. “Maafkan aku, Tuan Byun. Aku tidak tahu kalau Seona-ssi bersamamu.”

“Aku tidak bermaksud-“ Baekhyun tidak peduli dengan apa yang dikatakan Hyunshik. Ia lantas meninggalkan Hyunshik dengan menarik lengan Seona menuju balkon.

Ketika mereka sampai di balkon, Seona langsung melepaskan tangan Baekhyun dengan paksa. “Aku tak mengerti mengapa kau bersikap seperti itu,” ucap Seona dengan marah.

Seona tak suka Baekhyun mencampuri urusannya. Apalagi dengan sikap Baekhyun tadi yang menurutnya tidak sopan. Hyunshik memperlakukan dirinya dengan baik dan juga berbicara padanya dengan sopan. Ia merasa Hyunshik tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh Baekhyun.

“Kau tidak tahu apa yang ada dipikirannya, Seona,” ucap Baekhyun, berusaha menjelaskan maksud dari sikapnya yang dingin.

“Aku memang tidak tahu. Tapi aku rasa dia berniat baik hanya ingin berbicara denganku saja.”

“Pria itu tidak hanya ingin berbicara denganmu, tapi juga ingin meminta lebih darimu. Kau tahu? Pria brengsek seperti dia tak pantas berbicara dengan-“

Plak.

Telapak tangan Seona mendarat di pipi Baekhyun dengan keras. “Cukup, Baekhyun. Kau sudah berlebihan. Aku tak mau lagi mendengar ucapanmu lagi.”

Baru saja Seona berbalik ingin meninggalkan Baekhyun, ia mendengar suara desahan. Seona dan Baekhyun melihat ke arah datangnya suara itu. Mereka melihat Hyunshik yang sedang membenamkan kepalanya di tengkuk sang wanita dengan nafsunya. Sang wanita pun meresponnya dengan desahan.

Seona lantas menarik tangan Baekhyun menjauhi Hyunshik dan wanita itu.. Wajahnya memerah entah karna Hyunshik dan wanita tadi atau ia malu mengakui ucapan Baekhyun tadi.

Seona menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun. Seona terdiam dan kepalanya menunduk. Ia merasa bersalah pada Baekhyun. Akhirnya Seona memberanikan diri untuk menatap mata Baekhyun.

“Maafkan aku,” ucap Seona yang terdengar tulus.

Baekhyun masih terlihat kesal, namun kekesalannya tidak separah sebelumnya. “Kalau kau terus bersama dia, aku tak tahu apa yang akan dia lakukan padamu.”

Kali ini Seona benar-benar merasa bersalah. Tak seharusnya ia membentak Baekhyun bahkan sampai menamparnya. Seona memerhatikan pipi Baekhyun yang kini memerah.

Tanpa sadar ia mengusap pipi Baekhyun dengan lembut. “Aku benar-benar minta maaf, Baekhyun.”

Baekhyun luluh.

Baekhyun benar-benar luluh. Ia tak tahu lagi bagaimana menghadapi wanita yang membuatnya frustasi sekaligus menenangkan hatinya. Baekhyun tahu harusnya ia marah pada Seona, namun tindakan Seona saat ini mampu memusnahkan semua amarahnya.

“Itulah alasannya mengapa aku ingin kau mendampingiku,” ucap Baekhyun pelan seraya menatap manik mata Seona dengan intens. “Tapi kau justru mencari-cari alasan untuk menghindariku. Aku tahu, Seona. Aku tahu.”

Entah mengapa kini mata Seona berkaca-kaca. Selama ini yang ia tahu Baekhyun adalah si monster berdarah dingin. Namun kali ini Seona melihat sisi lain dari Baekhyun. Sisi yang dapat membuat hatinya ikut merasakan apa yang Baekhyun rasakan.

“Maaf-“

Ucapan Seona terhenti saat Baekhyun selangkah maju ke depan dan mendekap tubuh Seona, kemudian ia mencium lembut bibir Seona. Tubuh Seona membeku. Ia merasa bahwa dunia sekarang terhenti. Pikirannya kini terfokus pada bibir Baekhyun yang terasa lembut dan hangat saat bersentuhan dengan bibirnya. Sepersekian detik kemudian ciuman itu menjadi lumatan yang hangat. Tangan Seona kini meremas rambut Baekhyun, mengacaknya, dan menekannya seakan ia meminta Baekhyun untuk tidak berhenti.

Ketika Baekhyun melepaskan bibirnya, nafas Seona masih terengah-engah. Ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah dirasakan oleh Seona. Ia tak tahu mengapa efeknya sangat memabukkan baginya.

Seona akhirnya kembali menatap mata Baekhyun yang entah mengapa iris mata Baekhyun berubah menjadi gelap. Baekhyun menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa Seona mengerti. Begitu banyak emosi yang ditunjukkan sehingga Seona tidak tahu apa yang sebenarnya Baekhyun rasakan. Seona tidak tahu berapa lama ia menatap Baekhyun untuk mencari tahu apa yang sedang Baekhyun pikirkan.

Baekhyun akhirnya tersenyum dan mendekatkan bibirnya di telinga Seona kemudian berbisik, “You have no idea how long I’ve wanted to do that.”

Seona menutup matanya, ia menikmati kehangatan yang menjalar di tubuhnya dari bibir Baekhyun. Sedetik kemudian Seona merasa kehangatan itu sirna yang membuat Seona akhirnya membuka matanya. Ia terkejut melihat kakaknya, Seunghyun memukul Baekhyun dengan keras.

“Oppa! Kumohon berhenti!” teriak Seona. Ia berusaha menghentikan kakaknya yang terus-menerus memukul Baekhyun. Usaha Seona berhasil, kini Baekhyun berbaring di lantai dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

Choi Seunghyun menatap tajam pada Seona. Ia bisa merasakan bulu romanya berdiri. Ia tak tahan menatap Seunghyun lama.

“APA YANG KAU LAKUKAN DENGANNYA, SEONA?!”

Seona tak bisa menjawab pertanyaan Seunghyun. Rasanya otaknya saat ini sedang tidak berfungsi. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada Seunghyun.

“JAWAB AKU, CHOI SEONA!” teriak Seunghyun seraya mencengkram pundak Seona dengan kasar.

Seona mengerang kesakitan. Ia tidak pernah merasakan kakaknya mencengkram pundaknya sekasar ini, bahkan sampai membuatnya meringis kesakitan.

“Op..pa..sa..kit,” ucap Seona terbata lantaran menahan rasa sakitnya. Seunghyun seperti sudah dibutakan oleh rasa amarahnya yang tengah memuncak hingga ia tak sadar telah menyakiti adik kecilnya.

Tiba-tiba sebuah tangan berusaha melepas cengkraman Seunghyun. Seona menoleh dan melihat Baekhyun menatap Seunghyun dengan penuh amarah. Seona melihat rahang Baekhyun mengeras dan tangannya mengepal, seperti tengah bersiap untuk memukul Seunghyun.

“Kuperingatkan kau untuk melepaskan tangan kotormu dari Seona,” ucap Baekhyun tegas.

Mendengar ucapan Baekhyun membuat Seunghyun menyipitkan matanya. “Aku lebih menghargai kalau kau melepaskan tangan kotormu dari lenganku atau kau akan ku lempar dari gedung ini,” ancam Seunghyun.

“Kau tidak berhak mengaturku, Choi Seunghyun,” ucap Baekhyun kemudian ia melemparkan sebuah tinjuan pada rahang Seunghyun. “Aku sudah memperingatkan kau untuk melepaskan tangan kotormu pada Seona.”

Seunghyun terduduk. Ia menatap Baekhyun seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

“Kau tahu kau sedang berhubungan dengan siapa, Byun Baekhyun?”

“Kau tahu kau sedang berhubungan dengan siapa, Choi Seunghyun?” tantang Baekhyun kembali. Tanpa berkata apapun Baekhyun menarik lengan Seona meninggalkan Seunghyun yang masih terduduk di lantai.

“SEONA! SEONA!” teriak Seunghyun.

Seona tentu saja takut. Ia takut kalau ayahnya tahu tentang kejadian ini. Seona rasanya ingin melepaskan cengkraman Baekhyun pada lengannya dan kembali pada Seunghyun, berharap ayahnya tak mengetahui kejadian ini. Namun, cengkraman Baekhyun sangatlah kuat. Bahkan mungkin akan meninggalkan memar pada kulitnya.

Seona menitikkan air mata. Ia pasrah dan hanya berharap semuanya akan baik-baik saja.

 

***

 

Baekhyun mendorong paksa Seona masuk ke dalam mobilnya yang membuat Seona sedikit terlempar ke sudut mobil. Walaupun rasanya sakit, tetapi ia rasa luka di bibir Baekhyun lebih sakit dari pada lengannya.

“Apa kau punya kotak P3K?” tanya Seona pelan pada Joon.

“Ada, Nona. Sebentar.” Joon membuka dashboard mobil dan mengambil kotak P3K.

“Terima kasih,” ucap Seona kemudian ia membukanya dan mengambil kapas dan alkohol.

Seona menangkup wajah Baekhyun dan menolehkan kepala Baekhyun ke arahnya agar ia mudah membersihkan darah di bibir Baekhyun.

Dengan cekatan Seona membasahi kapas dengan alkohol menggunakan pinset kemudian menekan kapas tersebut pada luka di bibir Baekhyun.

Baekhyun hanya diam dan menatap Seona. Ia membiarkan Seona melakukannya.

Setelah selesai, Seona merapikan peralatan P3K dan mengembalikannya pada Joon. Seona melirik Baekhyun yang masih diam menatap jalanan dari balik kaca mobil.

Seona memajukan sedikit tubuhnya kemudian berbisik pada Joon. “Joon, kau tahu dimana rumahku kan? Tolong antarkan aku ke rumah.”

Tiba-tiba Baekhyun menyahut. “Tidak.”

“Baekhyun, kumohon,” pinta Seona. Ia benar-benar ingin pulang.

“Tidak, Seona. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu,” ucap Baekhyun dengan tegas, seakan ia tak ingin Seona membantahnya.

Tapi Seona bukanlah Choi Seona yang tidak keras kepala, Seona masih terus memohon pada Baekhyun. “Aku tidak ingin memperburuk keadaan, Baekhyun. Ini masalahku. Aku tak ingin kau juga terlibat.”

Baekhyun hanya terdiam.

“Baekhyu-“

Fine.” Baekhyun menyerah. “Joon, antarkan Seona,” titah Baekhyun.

“Baik, Sir.”

Selama perjalanan ke rumah Seona dan Baekhyun terdiam. Tidak ada satupun yang berbicara, termasuk Joon.

“Sudah sampai, Sir.”

Seona tak tahu harus bagaimana karna Baekhyun diam saja. Tiba-tiba Seona melingkarkan lengannya di leher Baekhyun lalu berbisik, “Terima kasih.”

Seona baru saja sedikit melonggarkan pelukannya, tetapi Baekhyun kembali mengeratkan pelukannya. Seona merasakan Baekhyun mengecup puncak kepalanya. Entah mengapa Seona merasa nyaman berada di pelukan Baekhyun. Kemudian Baekhyun melepaskan pelukannya.

Good night, princess.”

Pipi Seona merona ketika mendengar ucapan Baekhyun. Karna malu, ia cepat-cepat keluar dari mobil tanpa melihat mobil Baekhyun yang segera pergi dari pelataran rumahnya.

Ketika Seona memasuki rumahnya, seorang pria paruh baya menyambutnya. “Selamat malam, Nona,” ucapnya seraya membungkuk hormat.

“Dimana ayah?”

“Tuan berada di ruang kerjanya, Nona.”

Seona lantas berjalan meninggalkan pria paruh baya yang menatap kepergiannya dengan tatapan sedihnya. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang telah terjadi dan itu bukan hal yang baik.

Seona kini berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Setiap langkah yang ia lalui rasanya semakin berat. Ia tak tahu mengapa jarak antara ruang tamu dan ruang kerja ayahnya menjadi terasa sangat jauh.

Seona merasa gugup saat dirinya telah berada di depan pintu kayu mahoni mengkilap itu. Pelan namun pasti Seona mengetuk pintu kemudian ia memasuki ruangan.

Menyeramkan. Satu kata yang dapat menggambarkan suasana di dalam ruangan itu. Satu-satunya penerangan di dalam ruangan itu adalah lampu meja dekat ayahnya yang kini tengah menatap layar tabletnya.

Abeoji,” panggil Seona.

Choi Seunghan mendongakkan kepalanya dan menatap anaknya. Mereka saling bertatapan dan diam, tanpa ada yang memulai pembicaraan duluan. Tetapi akhirnya Tuan Seunghan memecah keheningan.

“Kau telah mengecewakan ayah, kau tahu?” ucap Tuan Seunghan seraya menunjukkan sebuah artikel di tablet tersebut kepada Seona.

Tanpa membacanya pun, Seona tahu apa isi dari artikel tersebut. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.

“Ayah masih menoleransi kau berhubungan dengan pria lain, tapi tidak dengan Byun Baekhyun,” ucap Tuan Seunghan dengan penuh penekanan.

Seona mendongakkan kepalanya dan menatap ayahnya dengan penuh tanya. “Mengapa?”

“Jangan banyak bertanya, Seona,” hardik Tuan Seunghan.

“Bagaimana aku bisa mengikuti keinginan ayah kalau ayah saja tidak menjawab pertanyaanku,” ucap Seona, tak mau kalah dengan ayahnya.

“Ayah bilang jangan, Choi Seona.”

“Ayah, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah dewasa.”

Tuan Seunghan mengambil tablet di atas meja kemudian membantingnya. “Bagaimanapun kau tidak boleh berhubungan lagi dengan pria itu. Titik.”

Seona tentu saja terlonjak kaget. Seona akhirnya terdiam sesaat. Ia tak mengerti mengapa ayahnya melarangnya berhubungan dengan Baekhyun. Kali ini Seona menatap ayahnya dengan memelas. “Ayah…”

“Kalau ayah sampai tahu kau masih berhubungan dengan Byun Baekhyun, jangan harap hidupmu akan bebas sampai ayah mati,” ucap Tuan Seunghan dengan sangat penuh penekanan yang membuat Seona tak bisa berkutik kembali.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Hola! gimana? gimana? gimana?

Baekhyun nya minta diapain banget ngga nih? kalau aku sih baekhyunnya minta dinikahin banget, gila aja ngeluarin satu triliun udah kaya ngeluarin uang seribu:’)

kalau kalian gimana?

Let me know your thoughts through the comment below!

bytheway, selamat menjalankan ibadah puasa ya semuanya!

sampai jumpa dalam waktu dekat!

Best Regards, Ahra.

Advertisements

37 responses to “FALLEN HEAVEN – CHAPTER [4]

  1. Uduuh… kerreeeen bgt di part ini..!! Haha iya rsanya Baekhyun baiknya dinikahin aja hahaha…. ga kebayang seberapa lebar org2 dipesta menganga krn shock dg tawaran lelang baek yg mnyentuh angka 1 trilyun!!! 😱😱Gila!! 😁 Tlong sesorang ingatkan Baek klo it lelangnya utk bajuny… yg dimiliki Baek bajunya… bukan Seona-nya.. 😁😁😁 😆😆 Ya ampun pengen bgt pukulin kepala Baek pake bantal… hahaha… waah!! Kakaknya seona lgsg emosi… bpaknya juga..!! Idiiih semakin serrru ceritanya!! 😄😄😄😄

  2. mulai memanas nich tuan choi udah pasti tahu banyak soal baekhyun makanya permusuhan mereka semakin memburuk dengan kedekatan seona dan baekhyun

  3. 1 triliyn itu duit kah ? Mudah banget baekhyun ngeluarin duit segitu hanya demi baju yang dipakai seona.
    Duh, gimana nasib seona ? Apa dia akan menuruti ucapan ayahnya /
    Pasti baekhyun gak tinggal diam, kalo tau seona gak boleh berhubungan lagi dengan baekhyun.

  4. Gila 1triliun hanya untuk satu gaun doang. Klo gue mah duit segitu bakal gue pake keliling seoul dan nonton konser exo sepuas puasnya 😂😂
    Next yo~

    • HAHA bener, hedonisme banget kayanya. duit segitu buat nonton exo doang kelebihan banyak banget. bikin konser pribadi gimana? exo tampil yang nonton diri kita sendiri aja, haha..

  5. Suka banget kak sama ff ini dari awal 😊😊😊semoga dilanjutin fff ya cepat ya kak soalnya penasaran banget hehehehehe

  6. wuihhhh serem juga ancaman ayah nya sena
    tapi iya juga sih kalo aku jadi sena aku juga harus tau apa penyebabnya masa gak tau penyebabnya disuruh gak boleh deket
    ditunggu kak kelanjutannya

  7. Wahhhh uda dekat aja mereka. Cepat bahh si Baek bisa buat soena takluk, wkwk. Aku suka part ini. Kayaknya bakalan ribet nih hub. Soena Ama ayahnya..
    Di tunggu part brikutnya. Semangat!!!

  8. Baekhyun itu… monster mengerikan yang terlalu manis, wkwk… suka karakter dia kayak giniii… pantes seona jatuh cinta, aku yang baca aja jatuh cinta sama baek… 😂😂

    • haha, aku jadi inget monster.inc deh.. dia monster tapi lucu, manis, dan menggemaskan(?) wah apalagi aku sebagai penulisnya, makin cinta sama baek☺️

  9. Aaa suka sama part ini😍
    Yaampun Baekhyun gila ya demi Seona rela beli gaun yg ga mungkin dia pakai seharga 1 triliun😅
    Wah Park Hyun Sik jadi cameo tapi byuntae disini😅

  10. Whut?? 1 triliun woiii!! Edann mending buat umroh+naik haji setelah itu nonton konser+beli album bias dan beli rumah dripda beli baju:v /curcol abaikan/
    Sumpah deh jadi makin kepo sama masalah antara baekhyun sama ayah seona.

  11. Seona yg ketemu baekhyun aku yg degdegan😂 chapter ini ga mengecewakan ka, tapi aku suka kalo baekhyun sm seona itu lagi debat sama2 keras kepala😂 aduhhh kesian ih seona gaboleh berhubungan:(
    Pokonya ditunggu kelanjutannya ka, fighting!
    Eh ngomog2 itu duit 1triliyun cukup nonton berapa konser tuh😂😂😂

  12. Baekhyun nawar bjunya ampe 1 triliun? Wah, daebak. Mending buat aku aja #ee.
    Seona x Baek, aku support kalian.

  13. Ugh minta dinikahin banget emang si baekhyun wkwk. Btw apa sona mulai suka sama baekhyun? Terus ntar dia inget gak sama kejadian penembakan itu? Penasaraaann~ ditunggu next chapt nya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s