“Vulpecula” #3 by Arni Kyo

Vulpecula 2

Vulpecula #3

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Ha Minho (ex.P101 S.2)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0, 1, 2,

 

~oOo~

 

Hari pertama masuk sekolah pagi Yeonsung.

Baiklah. Jangan heran jika gadis itu terperangah atas apapun yang dimiliki si putri pengusaha ini. Mulai dari rumah, kamar, kakak yang tampan, pacar yang tampan, sahabat yang mempesona, uang ditabungan yang melimpah, toko baju milik pribadi, hingga saat ini ia berada didepan sekolah mewah.

Foreign International High School.

Walaupun ia merasa canggung memakai seragam yang menurutnya terlalu pendek ini, tapi Yeonsung berusaha menyesuaikan diri.

“Yeon’ah, fighting!”. Chanyeol member semangat saat ia akan memasuki sekolah.

fighting!”. Balas Yeonsung.

Lalu Yeonsung memasuki lobi sekolahnya. Ia disambut dengan tatapan terkejut para murid. Karena ia tak tahu apa-apa, jadi ia hanya tersenyum pada orang yang dilihatnya. Dari kejauhan tampak orang yang sepertinya ia kenal.

“Kopi”. Panggilnya. Orang itu adalah Luhan.

Pria itu tersenyum padanya sambil melambaikan tangan. Dibelakangnya Minseok dan Kyungsoo mengekor. “kau sudah sekolah. Bagaimana keadaanmu?”.

“um… aku penasaran – ah, aku bosan dirumah terus lagipula dokter bilang aku sudah boleh kesekolah”. Jawab Yeonsung.

Minseok dan Kyungsoo hanya melihat dengan tatapan tak percaya. Tahu tentang bagaimana Yeonsung yang dulu, apalagi jika bertemu Luhan, gadis itu akan langsung membuang muka. “baguslah kalau begitu – ah, ini temanku”.

annyeong”. Sapa Yeonsung.

annyeong, aku Kim Minseok”.

“a-aku Do Kyungsoo”.

Yeonsung merasa senang karena bisa mengenal orang lain selain teman-temannya yang pernah membesuknya saat dirumah sakit. “lalu, kau sendiri siapa? Kau bilang aku akan tahu saat aku kesekolah”.

“ah, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Aku Luhan”.

“Luhan?”.

Wajahnya bersemu merah, akhirnya ia mengetahui nama pria yang ia sukai ini.

“kau pasti lupa dimana kelasmu, sebaiknya kuantar”. Tawar Luhan.

Baru saja Yeonsung akan meng-iya-kan tawaran Luhan. Tiba-tiba Kimi datang. “tidak perlu. Aku yang akan mengantarnya”. Ujar Kimi.

Yeonsung diam saja. Mau bagaimana lagi? Sepengetahuannya, ia hanya punya dua teman perempuan yang dekat dengannya. Kimi dan Rin. Kimi mengibaskan tangannya, mengkode agar Luhan dan kedua temannya pergi saja.

“hah ~ kenapa kau bisa mengobrol dengan mereka?’. Tanya Kimi sambil berjalan mengiringi langkah Yeonsung.

“mereka menyapaku”. Jawabnya.

“oh, begitu. Jujur saja aku senang dengan kau yang sekarang. Jadi sebaiknya aku tidak memberitahu bagaimana dirimu yang dulu”. Kimi membalikkan tubuhnya menghadap Yeonsung. “tangga”.

Yeonsung menganga. Sadar dengan keadaannya saat ini. akan sulit untuk naik dan turun tangga. Berjalan saja masih menggunakan dua tongkat. “sepertinya aku bisa naik”.

No! Big no!”. Kimi meluruskan tangannya seolah menjadi palang pintu, agar Yeonsung mengurungkan niatnya untuk naik tangga. Kimi mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang. “ya! Mucikari kau dimana? Kami dalam masalah besar, cepat kesini”.

“mucikari?”. Gumam Yeonsung. bingung, siapa gerangan yang Kimi telpon dan menyebutnya ‘mucikari’.

Selagi menunggu orang yang Kimi telpon tiba, mereka duduk didinding dekat jendela. Tak lama kemudian, Minho dan teman-temannya datang bersamaan, termasuk Rin. Mereka menghampiri Kimi dan Yeonsung.

“ada apa?”. Tanya Minho.

“Yeonsung. tangga”. Jawab Kimi.

“kupikir aku bisa naik sendiri –“. Ujar Yeonsung. ia sungguh tak ingin merepotkan orang lain lagi. Dirumah ia selalu merepotkan Chanyeol.

“ah, begitu”. Hongwon bergerak cepat hendak menggendong Yeonsung ala bridal. Membuat mata gadis itu membelalak. Untunglah Minho segera menarik almamater pria itu.

“milikku. milikku”. ujar Minho.

Hongwon melongo, sesaat ia lupa jika saat ini Minho sedang melakukan drama. Seolah dirinya masih pemilik Yeonsung. padahal mereka semua – terkecuali Kimi – tahu jika Minho telah memutuskan hubungan mereka.

Minho melepas almamaternya, menyuruh Yeonsung untuk menjadinya selimut untuk menutupi area kakinya saat digendong nanti. Sedangkan Hongwon disuruh untuk membawa tongkat Yeonsung.

Suatu siang di kantin sekolah.

Sudah lebih dari satu bulan lamanya Yeonsung berada ditubuh gadis Seoul. Dan sekarang ia mulai membiasakan diri. Tapi ini adalah pertama kalinya ia datang ke kantin. Selama ia masih memakai tongkat untuk berjalan, ia tidak bisa pergi kekantin karena harus menuruni tangga dan pergi ke gedung lain di sisi sekolah.

Hanya gif dan sebuah penyangga besi yang masih terpasang dikakinya.

Setelah mengambil makanannya, ia pun mencari kursi kosong. Beruntung sekali karena ia menemukan kursi kosong didekat sekelompok gadis. Saat Yeonsung mendekat, mereka berhenti sejenak. Mengerjabkan mata beberapa kali. Mengira Yeonsung akan marah karena tadi mereka membicarakan gadis ini.

“aku boleh duduk disini?”.

“y-ya, silahkan”. Ujar salah seorang dari mereka.

Dengan cepat Yeonsung duduk dan mulai memakan makanan siangnya. Para gadis yang duduk dibangku yang sama dengannya malah tidak makan, dan saling menyikut.

“em… Yeonsung’ssi, tempat duduk mu disebelah sana”. Ujar gadis dengan eye liner tebal.

“uh, disana sudah penuh. Kita kan berteman, tidak apa-apa kan aku disini?”.

Mereka saling tatap. Tersenyum canggung mendengar Yeonsung menyebut jika mereka ‘berteman’. Selanjutnya mereka semua membelalak dan beranjak pergi. Yeonsung kebingungan.

“ya ~ kalian mau kemana? Uh, aneh”.

Tiba-tiba Kimi duduk disebelahnya. Diikuti teman-temannya yang lain. Seperti Rin, Minho, Sunwoo, Hongwon dan Jaemin. “jangan memisahkan diri dari kami bodoh. Kau itu tidak ada teman lain selain kami”. Desis Kimi sambil makan.

Yeonsung mengerutkan keningnya.

Jadi seperti ini kehidupan gadis ini? pikirnya.

Tak punya teman lain selain mereka ini? sungguh! Menyakitkan. Memang ia sempat mendengar beberapa orang membicarakan dirinya. Tentang dirinya yang kasar dan terkadang sering menyakiti fisik murid lain.

Yeonsung merasa stress.

“oh? Yeon’ah, berikan wortelmu padaku”. Pinta Minho.

“kenapa aku harus memberikannya padamu? Aku akan memakannya? Memangnya orang yang sedang cidera dikaki tidak boleh makan wortel?”. Oceh Yeonsung panjang lebar.

Minho memiringkan kepalanya. Bingung. Apa orang yang amnesia juga bisa lupa jika ia tak suka makan wortel? Pikirnya.

“baiklah kalau begitu makanlah”. Balas Minho akhirnya.

Kyungsoo sedang memilih barang yang akan ia beli disebuah minimarket. Lalu ia mendengar suara yang sangat ia kenal, karena ia merekam dengan baik suara itu di otaknya. Setelah mengambil beberapa bungkus ramyun, ia melangkah menuju kasir.

“oh? Kimi’ya?”.

Gadis itu menoleh. “ah, kau – siapa ya?”.

Kyungsoo meletakkan keranjang belanjanya dimeja kasir. Dengan sedikit tersipu Kyungsoo menyebutkan namanya. “Kyungsoo, yang waktu itu memberikanmu susu stroberi kotak”. Jawab Kyungsoo.

“ah, iya, iya, aku ingat”.

“sepertinya kau dalam masalah, ada apa?”. Tanya Kyungsoo hati-hati.

Buru-buru Kimi menyembunyikan benda yang ia beli dibalik tubuhnya. “ya, begitulah. Ini – eonni ini bilang kartu kreditku tidak bisa dipakai. Dan ya – kau tahu –“.

“permisi, nona, bukankah sudah kukatakan ke toko lain saja? Mesin kartu kami sedang rusak”. Balas si penjaga kasir tak suka Kimi mengomel dan menyalahkan dirinya.

“kau tidak bawa uang tunai?”.

“itu dia masalahnya”.

Dan –

Kimi melenyapkan harga dirinya sejenak. Untuk berkata jika ia tak punya uang. Hanya dirinya, Tuhan dan kaum wanita lainnya yang tahu seberapa ia membutuhkan benda ini sekarang.

Sekarang juga!

“memangnya kau membeli apa? Kau bisa pakai uangku”.

Wajah Kimi memerah. Oh – dia sengaja pergi ke minimarket dimalam hari, dimana jalanan dan pembeli sedikit sepi. Agar ia dapat mengambil, membayar dan membawa pulang sebungkus pembalut.

“um… ini”. Kimi mengeluarkan benda yang tadi ia sembunyikan dibelakang tubuhnya.

Kyungsoo tersedak tawanya sendiri. Ingin tertawa tapi tidak enak pada Kimi. Ia pun menyuruh kasir untuk menghitung barang yang Kimi beli juga.

“besok kuganti saat disekolah”. Ujar Kimi.

“sebenarnya aku tidak masalah jika kau tidak menggantinya”. Kyungsoo mengambil kantung belanjaannya dan memberikan kantung milik Kimi. “bisa aku tukar dengan nomor ponselmu?’.

Kyungsoo mengekor dibelakang Kimi saat perjalanan pulang. Kimi belum memberikan apa yang diminta oleh Kyungsoo tadi. Pria itu ingin bertanya sekali lagi, tapi entah mengapa nyalinya tiba-tiba ciut.

“ternyata kau ini agresif juga”. Gumam Kimi.

“apa?”.

Kimi menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya menghadap Kyungsoo. “kau. Agresif. Ya, kau tahu, tidak semua pria berani meminta nomor ponselku secara terus terang”. Ujar Kimi.

Wajah Kyungsoo bersemu, ia menunduk karena malu. “aku memintanya secara langsung agar nanti jika ada yang menelponmu ataupun mengirimimu pesan, kau akan langsung mengira itu adalah aku”. Jelas Kyungsoo.

“ah, benar juga”. Kimi tersenyum lebar. “baiklah kalau begitu”.

“Kimi’ya!”. Panggil seseorang dari arah belakang Kimi, gadis itu sontak menoleh. Jaemin datang dengan sepedanya mengarah pada kedua orang itu.

“Jaemin’ah, kau mau kemana?”. Tanya Kimi.

Jaemin menghentikan sepedanya tepat disamping Kimi. “aku dari rumahmu dan tidak ada siapapun. Jadi aku ingin pulang tadinya”.

“aku dari minimarket, kebetulan sekali kalau begitu aku ikut denganmu”.

Dengan segera Jaemin memutar sepedanya mengarah ke jalan menuju rumah Kimi. Gadis itu naik dikursi penumpang.

“Kyungsoo’ssi, sampai jumpa besok”. Pamit Kimi sebelum sepeda Jaemin melaju.

Kyungsoo tersenyum kecut. Baru saja ia akan mendapatkan nomor ponsel Kimi. Dan sekarang gadis itu sudah dibawa pergi oleh pangeran berkuda putih. Yang lebih menyebalkan lagi adalah kenyataan bahwa Kimi dan Jaemin terlihat serasi. Ya, kalian tahu, seperti adegan dalam film Mandarin lama.

Oh – Kyungsoo membenci itu.

Terlebih lagi, Jaemin yang tampak tampan dilihat dari segi manapun. Meskipun ia pendiam disekolah. Tapi tetap saja ia popular. Sering mengikuti pentas dan festival bersama teman rap nya, Kim Sunwoo.

Siang hari setelah jam olahraga renang selesai.

Luhan berpose didepan kaca kamar mandi dengan tubuh topless nya. Minseok pun datang dan melakukan hal yang sama. Keduanya tampak konyol, berpose bak mereka adalah binaragawan. Padahal otot saja tidak tebal.

“apa menurut kalian aku ini macho?”. Tanya Kyungsoo sambil ikut berpose.

Luhan menatap datar pada Kyungsoo. Berbeda dengan Minseok yang mual mendengar pertanyaan Kyungsoo. Selain dari apa yang Kyungsoo tanyakan, ada hal lain yang membuat Luhan tertarik.

Kyungsoo tanpa kacamata.

“kau bisa melihat tanpa kacamata?”. Tanya Luhan.

“itu kan hanya kacamata mainan, bukan kacamata pengobatan”.

“aku baru tahu. Sialan, kau menipu kami selama ini”. Minseok memukuli Kyungsoo pelan. Tangannya ia rangkulkan ke leher pria itu.

Pwiiitttth

Suara peluit terdengar nyaring, membuat tiga sekawan ini berhenti bermain dan menoleh kesumber suara. “apa yang kalian lakukan? Berandalan. Sana cepat berpakaian!”. Oceh pak pelatih.

“aku tahu kau itu introvert”. Suara Kimi membuyarkan lamunan Yeonsung. kala gadis itu duduk ditaman sekolah. “tapi, menyendiri itu bukan style mu”. Lanjut Kimi sambil berjalan mendekat lalu duduk disebelah Yeonsung.

“aku hanya berusaha menghilangkan stress. Disini udaranya membuatku nyaman”. Balas Yeonsung.

“benarkah? Dulu tempat paling nyaman menurutmu adalah dalam rangkulan Minho”.

Mendengar nama itu disebut, Yeonsung langsung bergidik. Ia nyaman? Tidak. Baiklah, Yeonsung pacar Minho yang asli lah yang merasa nyaman.

“banyak hal yang kupikirkan, Kimi’ya. Saat aku berusaha mengingat tentang diriku sendiri, itu sedikit menyiksa”.

Kimi menghela napasnya, suaranya terdengar jelas hingga Yeonsung menoleh padanya. “kenapa kau harus mengingat tentang dirimu sendiri? Bukankah yang harus kau pikirkan, kau ingin jadi Yeonsung yang dulu atau Yeonsung yang sekarang?”.

Hening.

Ucapan Kimi membuat Yeonsung tersentak. Kalimatnya seolah Kimi tahu jika ia bukan ‘Yeonsung yang dulu’. Matanya menatap nanar pada Kimi.

“ah, maksudku dulu saat kau belum mengalami kecelakaan”. Tambah Kimi kemudian.

“benar. huh ~ aku jadi terbebani. Menurutmu mana yang lebih baik? Antara aku yang dulu dan sekarang?”.

Kimi berpikir sejenak. Kemudian ia menggeleng pelan. “kau sendiri – lebih nyaman menjadi siapa?”.

Lagi-lagi kalimat Kimi membuat Yeonsung tersentak. Seperti ditikam dari depan dan belakang. Yeonsung hanya diam. Setelah si penelpon misterius yang masih sering menelponnya itu, sekarang Kimi juga bertingkah seakan ia tahu tentang sesuatu didalam tubuh ini.

Gif dikakinya sudah dilepas kemarin. Jadi sekarang ia bisa berjalan meski tidak bisa berlari.

Lalu Minho berinisiatif membuat perayaan untuk sembuhnya Yeonsung. Mereka berkumpul disebuah tempat karaoke. Tetap dengan formasi lama tanpa menambah satu orangpun dari luar kelompok.

“poker. Ya ~ kau jago sekali bermain itu. Ayolah, kita coba dulu”. Hongwon memaksa Yeonsung untuk bermain kartu dengannya.

“aku tidak bisa. Sungguh! Aku sudah lupa”. Tolak Yeonsung.

“kau pasti bisa. Kita mulai sekarang ya?”. Hongwon langsung membagikan kartu pada Yeonsung, Sunwoo, Kimi dan dirinya sendiri.

Kimi berdecak kesal karena Hongwon terus memaksa temannya untuk ikut main. “aigoo ~ gigolo satu ini tidak bisa menahan dirinya”. Gumam Kimi langsung menyeringai melihat kartunya.

“kau sebut aku apa?!”. Seru Hongwon.

“gigolo. Cih… kau berani menantang Yeonsung bermain karena percaya kau akan menang, dia kan sudah kehilangan kemampuannya”. Ujar Kimi.

Hongwon hanya bisa mengumpat. Sementara mereka bermain kartu, Minho dan Rin bernyanyi bersama. Sesekali Yeonsung mengalihkan matanya menatap dua orang yang nampak menikmati waktu mereka berdua saja. Lalu Dongmin sibuk makan bersama Jaemin dipojok.

“kau kalah!”. Seru Hongwon bahagia. Merayakan kemenangan pertamanya dari Yeonsung dengan naik dan berjingkrak diatas kursi.

Yeonsung mengibaskan rambutnya ke belakang. Bermain kartu membuatnya berkeringat. “sudah kubilang aku tidak bisa lagi”. Ujarnya.

“tunggu, tunggu”. Hongwon turun dari kursi. Melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tangannya terulur untuk menyentuh rambut Yeonsung.

Grebb

Minho menahan tangan itu. “apa yang kau lakukan? Menyentuhnya?”.

“tidak. Aku melihat tanda dilehernya berpindah”. Ujar Hongwon.

“Oh?”. Yeonsung segera menyentuh tanda dileher sebelah kanannya. “kupikir ini memang disini sejak aku lahir”. Jawab Yeonsung.

“benarkah? Terakhir aku melihat tanda itu disebelah kiri dan sudah memudar”. Hongwon mengingat lagi saat ia menjemput Yeonsung waktu itu, tanda lahir itu benar-benar ada disebelah kiri.

Diam-diam Minho juga sedang berusaha mengingat dimana tanda itu sebenarnya. Seingatnya, saat ia sering mengusal dileher Yeonsung, tanda itu memang ada disebelah kiri. Untuk memastikannya bahkan Minho melihat langsung leher kanan Yeonsung dan benar tandanya ada dikanan sekarang.

“ah, mungkin cuma perasaan kalian saja”. Ujar Yeonsung dan langsung menutupi lehernya dengan rambut.

Terjadi kecanggungan beberapa saat.

“aku ke toilet sebentar”.

Minho beranjak pergi dari ruangan itu. Untuk memecah kecanggungan yang terjadi karena hal sepele seperti ‘dimana sebenarnya letak tanda lahir Yeonsung?’. Kimi dan Jaemin turun tangan. Mereka berduet menyanyi agar suasana kembali cair.

Sementara itu dilorong dekat toilet.

Rin menunggu Minho keluar dari toilet. Tubuhnya bersandar didinding dingin tempat yang sedikit lembab itu. Ingin membicarakan sesuatu dengan pria itu. Hingga akhirnya orang yang ditunggu keluar dari toilet.

“apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Minho.

Rin melipat tangannya dibawah dada. Menatap sinis pada Minho. “kenapa kau masih berhubungan dengannya? Kan sudah kukatakan untuk menjauh darinya?”.

Minho tersenyum miring. Entah kenapa kalimat Rin barusan sangat menggelitik telinganya. “aku tidak bisa”.

“Minho’ya”.

“bagaimana aku bisa menjauhinya sedangkan kau sendiri masih berhubungan dengan Chanyeol?”.

Minho membalikkan keadaan. Ia hanya bicara fakta. Tentang Rin yang masih menjalin hubungan dengan Chanyeol.

“akan kuputuskan Chanyeol jika memang itu harus”.

Tangan Minho membelai pipi Rin, wajahnya mendekat ke wajah gadis itu. “jadi selama ini kau tidak menganggap itu harus? Betapa serakahnya kau ini, ingin memiliki dua orang pria dalam hidupmu”. Desis Minho.

“aku belum melakukannya karena aku takut kau hanya akan mempermainkanku”. Rin membela dirinya.

“jika kau percaya padaku, kenapa kau takut aku mempermainkanmu? Yeonsung saja bisa bertahan meski ia selalu kuselingkuhi”.

Rin menganga. Ucapan Minho barusan seakan sedang membandingkan antara dirinya dan Yeonsung. “itu karena dia bodoh”.

“kita bicarakan lagi nanti. Jika terlalu lama, nanti mereka curiga pada kita”. Minho kembali menegakkan tubuhnya. Hendak melangkah pergi. Sebelum Rin menahan lengannya.

Dengan cepat gadis itu merangkulkan tangannya ke leher Minho. Ia juga yang memulai dengan sebuah ciuman dibibir pria itu. Oh – dia tahu persis jika Minho adalah pria terbejat disekolah, tak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa bercumbu.

Apalagi mala mini Rin memakai mini dress yang menempel ketat di tubuhnya. Seakan sudah dipersiapkan untuk saat seperti ini. Ia ingin menggoda Minho. Sekali lagi. Pria yang sudah membuatnya kehilangan akal.

Kehilangan perasaan sebagai seorang sahabat dan pacar yang baik.

Selama pergumulan kedua orang itu disebuah lorong sepi. Tanpa takut dilihat oleh orang lain, saat itu pula pria tambun –Dongmin menguping dari balik dinding. Ia menutup mulutnya karena terlalu shock.

Acara perayaan mereka baru selesai setelah jam 1 malam.

Karena yang membawa kendaraan hanya Minho dan Hongwon. Maka mereka membagi orang yang rumahnya searah. Yang ikut di mobil baru Minho adalah Yeonsung, Rin dan Dongmin. Sisanya ada di mobil Hongwon.

“ceritakan lagi tentang bagaimana cara kita bertemu”. Pinta Yeonsung.

“aku sudah menceritakannya padamu”.

Yeonsung merengek. “aku ingin dengar sekali lagi”.

“aku menemukanmu dengan surat kaleng yang kutitipkan pada Sunwoo. Lalu kita bertemu. Kemudian saling jatuh cinta. Dan akhirnya bersama seperti sekarang”. Jelas Minho.

Melihat langsung kemesraan yang mulai kembali antara Minho dan Yeonsung, membuat Rin mendidih. Ia sudah tak bisa bersandiwara seperti dulu. Tatapannya sinis menatap Yeonsung yang tengah bergurau dengan Minho sambil tertawa.

“cih…”. Desisnya.

Sedangkan Dongmin terus memanjatkan doa untuk ketiga temannya yang sedang berada dalam cinta segitiga ini. berharap agar drama yang mereka lakoni segera berakhir. Dongmin merasa kasihan pada Yeonsung.

Dan bagaimana kondisi psikis gadis itu nanti jika ia ingat ataupun tahu segalanya.

Tentang pengkhianatan Minho dan Rin yang menikamnya berkali-kali. Tentang keinginannya untuk mati karena Minho.

Dongmin khawatir akan itu semua.

“bisa ikut kami sebentar?”. Seorang gadis dengan wajah sedikit sangar menghampiri Yeonsung yang kala itu bersiap untuk pulang.

Yeonsung yang tidak tahu-menahu pun menurut saja ketika dua orang gadis mengamit lengannya. Sekolah sudah sepi. Hari ini Kimi tidak masuk sekolah. Dan Minho meninggalkannya, pergi entah kemana. Jadilah ia sendirian sekarang.

Yeonsung dibawa ke belakang sekolah, dekat hutan. Disana ada beberapa orang lagi yang menunggunya. Setibanya dihadapan sekumpulan gadis itu, ia dilemparkan begitu saja.

Tanpa babibu, sekelompok gadis itu langsung mengeroyoknya.

Mereka juga mengumpat dan memaki Yeonsung. Ditengah ia menahan sakit, ia dapat mendengar orang-orang ini menyebutkan beberapa nama. Mungkin teman mereka yang pernah disakiti olehnya.

“ya!”. Teriak Luhan menghentikan kegiatan pengeroyokan itu.

Yeonsung dapat melihat Luhan dari selah kaki para gadis ini. Ia merasa senang karena ada orang yang datang, setidaknya ia tidak akan mati disini. Luhan tampak mengambil gambar para gadis yang mengeroyok Yeonsung barusan.

Sontak mereka berlarian dari tempat kejadian.

“Yeon’ah, kau bisa dengar aku?”. Luhan memangku kepala Yeonsung dipahanya.

Gadis itu menangis. “y-ya”. Jawabnya dengan susah payah.

Luhan mengambil tas Yeonsung untuk ia gendong dibagian depan. Lalu ia membawa Yeonsung dipunggungnya. “tidak apa. Aku akan membawamu ke klinik sekarang”.

Segera setelah mereka tiba disebuah klinik didekat sekolah. Seorang dokter langsung membersihkan luka Yeonsung. tidak parah memang, tetapi sepertinya meninggalkan trauma untuk gadis itu.

Sejak tadi ia diam dan memikirkan, mengapa orang-orang itu sampai melakukan ini padanya?

“Yeon’ah, aku sudah menghubungi Chanyeol hyung”. Ujar Luhan.

Sebenarnya Luhan juga mengenal Chanyeol. Mereka sering bermain basket bersama didekat sungai Han. Awalnya Luhan bahkan tidak tahu jika Chanyeol adalah saudara kandung Yeonsung. sampai kejadian gadis itu kecelakaan.

“um, terima kasih”. Ujar Yeonsung tak tersenyum sedikitpun. Bibirnya terasa sakit, mendapat pukulan disana dan membuat bibirnya terluka. “Lu, bagaimana kau bisa kesana?”. Tanya Yeonsung heran.

“tadi aku melihat dari lantai 3 dan langsung bergegas ketika melihat seseorang dipukuli. Ternyata itu kau”.

Yeonsung mengangguk. Sebuah jawaban yang masuk akal, jadi ia menerima jawaban itu. “aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang”.

“sudahlah, jangan dipikirkan. Yang penting kau sudah selamat sekarang”.

Yeonsung diam. menatap wajah teduh Luhan yang seakan memberikannya kekuatan. Tanpa ia sadari airmatanya mengalir turun dari pelupuk matanya. “aku tidak tahu mengapa mereka melakukan itu padaku”.

Luhan meletakkan tangannya di puncak kepala Yeonsung. menatap lekat gadis itu. “karena kesalahan yang kau buat dimasa lalu. Jadi Yeon’ah, sekarang bangunlah dan perbaiki semuanya. Perbaiki kesalahan yang diperbuat Yeonsung dulu”.

“Lu –“. Yeonsung merasa suaranya tercekat dileher. Ingin mengatakan sesuatu tetapi tak bisa keluar. Luhan berkata seolah ia tahu jik ia bukan Yeonsung yang dulu.

Mungkinkah Luhan si penelpon misterius? Pikirnya.

“kau harus menikmati hidupmu sebaik mungkin. Setidaknya itu adalah cara terbaik untuk berterima kasih pada Tuhan, karena kau berhasil hidup sekali lagi”.

shit!”. Minho langsung menggebrak meja makan diapartemennya. “kau sengaja mengajakku pulang lebih cepat untuk melakukan ini?”. kemarahannya meluap pada Rin.

Chanyeol menelponnya dan mengatakan jika Yeonsung dikeroyok oleh beberapa orang dibelakang sekolah. Bahkan Chanyeol mengirimkan poto bukti jika Yeonsung babak belur.

“aku tidak melakukannya. Sejak tadi aku bersamamu”. Jawab Rin dengan santai.

“kau yang menyuruh mereka untuk mengeroyok Yeonsung, kan?”.

“tidak”.

“Rin!”.

Rin berdiri dari duduknya. Menatap Minho dengan mimic menantang. Seolah bangga atas apa yang telah ia lakukan. Berhasil membuat Yeonsung dipukuli orang, sungguh, ia merasakan sensasi tersendiri.

“aku tidak menyuruh mereka. Aku hanya memberi jalan agar mereka bisa melakukan itu dengan lancar. Tanpa ada kau dan Kimi yang selalu melindunginya!”.

Hidung Minho mengernyit, ia tersenyum menyeringai. “dia itu temanmu!”.

“tapi dia masih kau anggap pacar! Aku tidak bisa membiarkan hal itu!”.

Minho mengerang frustasi. Jika saja Rin adalah lelaki, sudah pasti ia akan menonjokinya hingga tak sadarkan diri. Maka ia hanya bisa meluapkan kegeramannya dengan menimpu dinding dibelakangnya.

“kau pulanglah”. Suruh Minho. Dengan langkah lemas ia berjalan mengambil kunci mobilnya.

“antar aku”.

“tidak bisa!”. Tolak Minho. Emosinya masih belum reda betul. “pulanglah. Aku akan kerumah Yeonsung sekarang”.

Rin mengumpat. Tak percaya jika Minho masih saja memikirkan Yeonsung saat ini. ia merasa benar-benar sudah dibodohi, dipermainkan, dibohongi oleh Minho. Rin pulang dengan perasaan yang sangat kesal. Perasaan itu pun berubah menjadi sebuah dendam.

Sekarang ia tak hanya ingin menyakiti Yeonsung. tetapi juga Minho.

bagaimana keadaanmu?”.

“sudah lebih baik setelah diperiksa oleh dokterku dirumah sakit tadi”.

Saat itu Yeonsung sedang duduk ditempat tidurnya, bersandar dikepala ranjang. Lalu Luhan menelponnya sekedar untuk basa-basi menanyakan keadaannya. Yeonsung senang bukan main.

secangkir teh hangat akan membuatmu semakin baik, Yeon’ah”. Ujar Luhan dari seberang.

Ditempat lain, Luhan sedang berada diruang ganti untuk pekerja. Ia bekerja paruh waktu disebuah coffee shop. Menyalurkan sertifikat barista nya untuk mendapatkan uang tambahan. Satu hal tentang ayahnya adalah, ayahnya sedikit pelit soal uang.

“ah, benarkah? Kalau begitu nanti aku akan minta dibuatkan teh”.

Luhan tertawa pelan. “jika kau sudah sembuh, nanti aku akan membuatkan kopi untukmu”.

“kopi? Memangnya kau bisa?”. Yeonsung menarik boneka teddy bear putih pemberian Minho. Jemarinya memilin bulu boneka tersebut. Girang sekali mendengar tawaran Luhan.

oho ~ jangan meremehkanku. Sekali kau mencoba akan ketagihan mencoba kopiku”.

Yeonsung tak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tertawa girang. Ia benar-benar merasa senang. Jantungnya berdegup tak teratur hanya membayangkan Luhan dibalik meja barista dan membuat kopi untuknya.

“kau sedang menelpon siapa?”.

Suasana yang tadinya dihiasi ribuan bunga pun berubah kelam seketika, saat Minho tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Yeonsung langsung mematikan telponnya. Menatap nanar pada Minho.

“tidak, bukan siapa-siapa”. Jawab Yeonsung.

“jangan berbohong”.

Dengan cepat Minho mengambil ponsel Yeonsung. melihat daftar panggilan diponsel gadis itu. Ia mendengus mengetahui siapa yang baru saja bicara dengan Yeonsung dipanggilan telpon.

“dia menolongku tadi”. Yeonsung berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

“kau tampak sangat senang”.

Yeonsung mengangkat kepalanya. “tidak seperti itu –“.

“ya, kau senang!”.

TBC

Disini masih bikin bingung ngga? Kalo masih bingung tolong kasih tau yaaaa ^^ btw nanti ada bagian NC nya, aku bakal protect dan kemungkinan kubuat menjadi dua bagian (short version & full version) dimana yang short itu bagian NC nya dihilangkan.

Jangan lupa Like & Comment gengs ^^ ngga like & comment? Dosa lohh.. Tuhan liat lohhh

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Advertisements

51 responses to ““Vulpecula” #3 by Arni Kyo

  1. rin jahat banget yah..si minho kayaknya mulai cemburu tuh pa perasaanku jah…tapi aq seneng banget momentnya luhan m yeounsung d tunggu lanjutannya yah😊😊

  2. ini endingnya yeosung bukan seoul jangan jangan terperangkap di tubuhnya yeonsung seoul

    ngomong ngomong mereka sama sama punya ta da di leher ya? cuman beda tempat?

  3. aku jdi ikut senyum” pas yeonsung tlponan sma luhan… eitss… minho ada angin apa nih pedulu bnget sma yeonsung pdhal mobil bru udh dteng…
    dtnggu chap selanjutnya..!! (y)

    slmat menunaikan ibadah puasa jga thor…

  4. Aah… aku ikut malu-malu kuda deh tiap liat ¿ ekspresi Yeonsung klo lagi bersama luhan.. 😍 😂😂 suka bgt dg interaksi “pertemanan” antar keduanya… hweee masa 😅 rin cemburu berat..minho skrg bnr2 peduli n ga rela klo Yeonsung disentuh pria lain! Is he jealous?? Setuju dg Minho! RIN it emg serakah!!! 😈 lah ya itu pas kimi nyuruh yeon jd yeon yg skrg… trus pas luhan juga nyuuh perbaiki kslhn dy… masa iya mreka berdua tau qlo it bukan yeonsung yg asli?? Omoo….. kata2 mreka emg lnih horror drpda tayangan iklan disoap operanya tv indo.. hahaha… woy next part ad NC nya… wajib buka mlm hari ssaeng… ngetiknya juga haahaa 😅😅😆😆😆 CiYuuu indeneks part ya.. 😄😄😄😄

    • malu2 kuda tuh gmna dah unni? XD
      yesyess he’s jealous XD

      Rin sama Minho mah sama aja serakah nya unni ‘-‘

      bisa jadi tau loh unni hahaha liat di chapter selanjutnya dah XD

      iya unni >< kyaaaaa ngga tau knpa malah pas bulan puasa muncul ide buat bikin NC cobaaaa dasar setan nih yg godain/? aku :"v

  5. Kaisian chanyeol di khianati rin😢
    Chan buat aku aja ya kak 😂 aku gak sejahat rin wkwkwk
    Lanjut kak

  6. Uhuuuhh jangan bilang minho uda mulai suka sama young yg skarang? Ihh si rin jahat bnget sihhh.. Uda deh luhan sma young ajaaa :>

  7. Kenapa aku jadi curiga kalau yang pernah nelfon Yeonsung itu si Luhan (kecurigaan tidak berdasar) wkwkwk
    Ini si Minho mulai cinta sama Yeonsung ya kak? 😄😄
    (Orange)

  8. Akhirnya di next juga, yaampun aku bacanya pas subuh*kagaknanya,, hehe
    jujur dah eonn chapter ini aku bner2 kesel ama rin si serigala berbulu domba, munafik bgt tuh org moga ajh kedok(?)nya cepat kebongkar deh pan kasihan park bersaudara dia dikhianatin!?
    Oh yh apa kimi bner2 nggk tau tentang pengkhianatannya rin ama minho!? Oke next eonnie

  9. Rin nya jahat bgt,ngeselin.. Minho mulai ada rasa atau hanya karna mobil ? ntahlah…
    Yeonsung-Luhan kapan jadian?? haha..
    Nextt…

  10. Aishh.. jadi greget ke si Minho sama si Rin. Pada serakah, plin-plan/?
    Mendingan Yeonsung putusin aja si Minho, trus pacaran sama Luhan😁

  11. Gila….jgn2 si minho mlh jdi jatuh cinta krna perubahnnya yeon…luhan…kami bisa banget si…..hah dsr ri kurang ajar sumpah tuh makhluk y satu itu sumpah serapah aj g cukup buat mengutuk dia….gak kok author kyo…..phm betul…si luhan blum yailn kalu si yeon ini bukan yeon seoul y dulu???

  12. AIH MINHO NIH MASIH AJA PURA” MSIH JD PACAR YEONSUNG KESEL AKU.. *oops bru nyadar klo caps on hehe
    hwaiting authornim!~ keep writing juseyo

  13. Si yeonsung mulai nunjukin ketertarikannya sama luhan, bagus lah perlihatkan sama minho kalau dia sudah move on. Dan telat buat minho, udah dulu dibaikin tapi jahat. Eh sekarang malah tertarik sama yeonsung.
    Keren ceritanya, semangat!

  14. Kayaknya ada yg mulai nyesal nih gara2 udh mencampakkan yeonsung
    Mulai cemburu padahal dulu berlagak udh bosan sm yeonsung
    Udh yeonsung sm luhan aja jgn mau sm minho si muka dua itu

  15. Rin sama minho benar2 mereka itu bikin geram, siapa si misterius yg selalu nelpon yeonsung apakah ayahnya luhan. sepertiny minho mulai suka beneran sama yeonsung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s