“Vulpecula” #4 by Arni Kyo

Vulpecula 3

Vulpecula #4

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Ha Minho (ex.P101 S.2)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0, 1, 2, 3,

 

~oOo~

 

“ya, kau senang!”.

Yeonsung terdiam mendengar Minho membentaknya untuk pertama kali. Terpikir untuk mengatakan ‘maaf’ tapi untuk apa? Dia merasa tidak bersalah. Dirinya dan Luhan hanya berteman, apa salahnya?

Detik berikutnya, Minho semakin memepet jarak diantar mereka. Membuat Yeonsung dapat merasakan dengan jelas aura kemarahan Minho saat ini. tangan gadis itu mendorong tubuh Minho agar menjauh.

“aku tidak melakukan kesalahan. Jangan mengintimidasiku seperti ini”.

“aku tidak mengintimidasimu. Aku hanya sedang merindukanmu”.

Yeonsung hanya tersenyum getir mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Minho. Bukannya senang, justru ia merasa takut. Jika sampai Minho memintanya macam-macam. “bisa kau beritahu aku, kenapa aku kecelakaan sendirian memakai mobilmu?”.

“karna saat itu kita sedang bertengkar”.

Sesaat Yeonsung menarik napas, matanya terpejam. “benarkah hanya karena itu?”.

“apalagi yang ingin kau ketahui, Yeon’ah?”.

“semuanya”.

Minho berdehem seraya mengangguk. Yeonsung mengendus adanya maksud lain dari sikap Minho kali ini. sedikit banyak ia tahu, selama ia berada dalam tubuh ini, ia belajar memahami satu persatu karakter teman-temannya.

“besok saja kuberitahu. Disekolah. Sepulang sekolah. Dikelas kosong”.

“kenapa harus disana? Apa kau tidak bisa menceritakannya padaku sekarang?”.

“sekarang? Aku tidak bisa memikirkan apapun, Yeon’ah”.

Kening Yeonsung berkerut. Sedang menerka, apakah yang sebenarnya Minho pikirkan saat ini? dan bertemu di kelas kosong sepulang sekolah besok? Astaga. Pria ini benar-benar bejat. Pikirnya.

Bisa aku berkunjung kerumahmu?

Pertanyaan dari Luhan yang langsung disetujui oleh Yeonsung. karena kejadian kemarin, ia tidak masuk sekolah hari ini. kakinya pun kembali dipasangi gif untuk menjaga keadaannya.

Tepat setelah ia bersiap untuk kedatangan Luhan, pintu kamarnya diketuk dan seseorang memanggilnya dari luar sana. Suara pelayannya.

“nona, ada temanmu yang datang”.

“ya, aku akan segera keluar”. Ujar Yeonsung.

Ia berjalan memincang menuju pintu kamar, dengan sangat bersemangat ia membuka pintu. Luhan sudah berdiri didepan pintu. Masih mengenakan seragam sekolahnya. Pria itu tersenyum konyol.

“apa-apaan? Kau membolos?”.

“ya eeerrr tepatnya aku terlambat jadi aku tidak bisa masuk”. Jawab Luhan. Ia membantu Yeonsung untuk berjalan.

“jadi – apa kita akan pergi?”.

Luhan menoleh dan menatap Yeonsung. gadis itu bersemi-semi seolah sedang dikelilingi bunga. “bagaimana ya… aku tidak mungkin tidak mengajakmu keluar, kau sudah rapi seperti ini”. jawab Luhan.

Yeonsung tersipu.

Malu.

Luhan menyadari jika ia berpakaian dan berdadan seperti ingin pergi kencan. Tadi ia berusaha untuk tampil biasa saja. Sungguh!

Keduanya berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar. Dengan hati-hati Yeonsung melangkah. Menggenggam tangan Luhan dengan erat.

“aku ingin pergi ke tempatmu bekerja. Katamu, kau ingin membuatkan aku kopi”.

“baiklah, aku tidak bisa menolak”. Jawab Luhan.

Seorang pria tambun berlari kecil, tergesa setelah turun dari bus yang mengantarkannya hingga ke tempat dimana Yeonsung berada sekarang. Dongmin ingin menemui Yeonsung bukan tanpa alasan.

Tapi ia merasa ini adalah kesempatannya untuk memberitahu yang sebenarnya. Selagi gadis itu tidak berada didekat Minho.

Kala itu Yeonsung sedang mengobrol bersama Luhan, menikmati secangkir kopi dan waffle. Di coffee shop tempat Luhan bekerja.

“Dongmin’ah”. Panggil Yeonsung seraya mengangkat tangannya ketika Dongmin masuk ke kafe itu.

Dongmin yang terpanggil segera menghampiri Yeonsung. “Yeon’ah, maaf, aku tiba-tiba ingin bertemu denganmu seperti ini”.

“tidak apa. Jadi sebenarnya ada apa?”.

Dongmin menarik napas dalam. Matanya melirik Luhan yang juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Dongmin. Merasa jika Luhan aman untuk mendengarkan, ia pun membuka mulut. “aku selalu memikirkan ini setiap hari. Kupikir aku harus memberitahumu”.

“apa itu?”. Yeonsung semakin penasaran.

“tentang Minho dan Rin”. Dongmin menatap Yeonsung, melihat bagaimana reaksi gadis itu.

“Dongmin’ah, ceritakan segalanya. Segala hal yang kau ketahui tentang aku”. Pinta Yeonsung.

Mata Luhan membelalak, dengan gerakan reflek ia menggenggam tangan Yeonsung yang berada diatas meja. Seolah mengatakan agar Yeonsung sebaiknya tidak tahu lebih banyak lagi.

“aku ingin tahu segalanya. Kumohon ceritakan kepadaku”.

“malam saat kau kecelakaan, kami semua kecuali Kimi berada di TKP. Sebelum itu terjadi, kau dan Minho bertengkar. Minho itu bukan pria yang baik. Ia selalu mengkhianatimu, menjalin hubungan dengan gadis lain saat masih berhubungan denganmu”. Ujar Dongmin. Wajahnya berubah sedih. “jadi kau selalu meminta agar Minho memutuskan gadis yang berpacaran dengannya dihadapanmu. Tapi malam itu berbeda. Minho malah memutuskanmu dan memilih Rin”.

Kening Yeonsung berkerut. Sekilas ingatan melintas dibenaknya, dimana Minho dan Rin terlihat akrab satu sama lain. Dipikirnya itu adalah hal biasa. “apa aku mencoba bunuh diri? Mensabotase kecelakaan agar aku mati?”. Gumamnya.

“apa kau tidak bisa menikmati saja hidupmu yang sekarang, tanpa harus mengetahu masa lalu mu?”. Selah Luhan. Ia mulai tak suka dengan keadaan ini.

“teruskan. Apa lagi yang kau ketahui, Dongmin’ah?”.

“Yeon’ah, sudahlah”.

“tidak bisa, Lu!”.

Hening.

Luhan bungkam setelah Yeonsung menolak untuk tidak mengetahui masa lalunya. Begitupun Dongmin.

“apakah Minho dan Rin masih berhubungan sekarang?”.

Dongmin mengangguk pelan. “mereka masih berhubungan. Aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi padamu, Yeon’ah. Makanya aku memberitahumu hal ini, agar –“.

“satu hal yang harus kau ketahui, Park Yeonsung putri Park Jungsoo. Kau bukan gadis yang mendapatkan banyak cinta dalam hidupmu. Kau berhati dingin, angkuh, menyebalkan dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain”. Luhan memotong pembicaraan, membuat Yeonsung menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu. “kau sangat buruk. Lalu kenapa kau penasaran dengan kau di masa lalu, jika saat ini kau sudah lebih baik?”.

“aku – aku hanya ingin tahu. Kau tidak tahu perasaanku setelah aku terbangun dari kematian dan berada diposisi, dimana kau tidak tahu apa-apa. Seperti idiot yang hanya bisa menjalani hidup, bersikap seakan ia normal padahal tidak”.

“jadi apa yang kau ingin kau lakukan sekarang?”.

Yeonsung menunduk. Benar juga. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Bahkan Kimi pernah mengatakan hal serupa.

Dan inilah yang harusnya dipikirkan oleh Yeonsung.

Ingin jadi siapa dia seterusnya? Park Yeonsung gadis Gyeongju. Atau Park Yeonsung gadis Seoul?

“awalnya memang kau sedikit menyebalkan, tetapi aku lebih suka berteman denganmu daripada dengan Rin. Dia itu penjilat. Sengaja berdiri ditengah persahabatanmu dan Kimi, agar bisa menjadi seperti dirimu”. Tambah Dongmin kemudian.

“apapun yang akan kau lakukan, aku akan selalu membantu, Yeon’ah”. Ujar Luhan.

Hari itu…

Yeonsung berdiam diri di tempat kerja Luhan. Memikirkan tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Ingin menjadi Yeonsung yang asli atau dirinya sendiri. Mungkin sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

“kami memiliki nama yang sama, aku jadi bingung bagaimana menyebutnya. Aku ingin menjadi Yeonsung, tapi Yeonsung itu juga namaku”. Umpatnya.

Tentu saja ia tidak salah jika menyebut dirinya ‘Yeonsung yang asli’ karena ia juga bernama Park Yeonsung. akan tetapi yang ia maksud Yeonsung yang asli adalah pemilik tubuh ini.

Semakin sore, semakin banyak pengunjung coffee shop ini. Yeonsung berpikir mungkin karena barista nya yang tampan seperti Luhan, jadi pengunjung café semakin ramai saja. Dan di dominasi oleh para gadis yang berkumpul bersama.

Ponsel Yeonsung berdering untuk yang kesekian kalinya. Sejak tadi ia mengabaikan telpon ataupun pesan yang masuk. Hanya membaca semua pesan yang masuk tanpa memberikan balasan.

“oh, pak manajer”. Ujar salah seorang pelayan di café. Membuat Yeonsung tertarik untuk mengangkat kepalanya, melihat orang yang baru saja masuk ke dalam café.

“pak tua!”. Seru Luhan kala melihat Manajer café.

Pria paruh baya, dengan setelan yang sedikit eemmm aneh. Lu Hwang Li memakai pakaian ala detektif Holmes. Ia tersenyum miring pada Luhan, menunjukan ekspresi sombongnya. Namun tak duga ia malah berbelok, bukannya menghampiri para karyawannya malah berjalan kearah Yeonsung duduk.

“siapa yang membawamu kemari?”. Tanyanya.

Yeonsung mengangkat kedua alisnya. “ne?”.

“ya! anak rusa kemari!”. Lu Hwang melambaikan tangannya, mengkode agar Luhan mendekat.

Sementara Luhan sendiri masih shock dengan kehadiran ayahnya disini. Dan tadi teman kerjanya memanggil Lu Hwang dengan ‘manajer’. Semakin membuat Luhan bingung.

Dengan polosnya Luhan melangkah mendekati meja itu. “apa yang kau lakukan disini?”. Ujar Luhan kesal.

“apa? Memangnya salah aku mengunjungi café ku?”.

“café mu?”.

Lu Hwang membenahi posisi topi Holmesnya. “jangan terlalu kagum begitu mengatahui asset baba mu ini. dan jangan berharap kau akan ku jadikan pemiliki café ini”.

“pelit sekali”.

“jadi kau yang membawa gadis ini kemari?”. Tanya Lu Hwang kemudian, sambil menunjuk Yeonsung.

Luhan mengangguk. “dia temanku”. Jawab Luhan.

Mata Lu Hwang langsung meneliti gadis yang duduk dihadapannya. “jadi kau orangnya. Baguslah aku bertemu denganmu”.

baba –“.

“kau sudah tahu tapi menyembunyikannya dariku. Kau pikir bisa melindunginya?”.

Yeonsung hanya bisa menatap ayah dan anak itu bergantian. Tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dibahas. Luhan menggaruk kepalanya, menunduk – mungkin merasa bersalah pada ayahnya.

“nona, bisa kau ikut denganku sebentar. Ada hal penting yang harus kubicarakan”. Lu Hwang langsung beranjak dari tempat duduknya.

Berbeda dengan Yeonsung yang tertegun sejenak. Dengan perlahan ia berdiri. Karena kakinya masih di gif jadi ia tak bisa berjalan dengan cepat. Maka Luhan membantunya lagi.

Yeonsung dibawa keruangan khusus yang berada didalam café. Sepertinya ini ruangan manajer. Lalu ia duduk dikursi bersama Luhan. Sedangkan Lu Hwang duduk diseberang meja.

“kau pasti terkejut saat bangun dari kematian malah berada di tubuh orang lain”. Lu Hwang membuka percakapan tanpa basa basi.

“bagaimana – kau bisa tahu soal itu?”.

“tidak perlu kuberitahu jika orang-orang seperti kami tahu hal yang seperti itu”. Lu Hwang melirik putranya.

Buru-buru Luhan mengibaskan tangannya saat Yeonsung menatap curiga padanya. “aku tidak sama sepertinya”.

“dia sudah tahu soal kau, nona –“.

“Park Yeonsung”.

“apa itu nama aslimu?”.

“ya, nama gadis ini adalah Park Yeonsung, sama seperti namaku”.

Lu Hwang mengangguk mengerti. Tubuhnya ia sandarkan pada kursi tempat duduknya sekarang. “jadi seperti itu. Ah, appa mu cukup pintar rupanya”.

Mata Yeonsung membeliak. Ayahnya. “kau mengenal appaku?”.

“tentu saja. Kami berteman baik dulu. Ah, kau pasti belum tahu kabar tentang mereka dan tubuhmu yang berada di Gyeongju, bukan? Tapi, aku tak ingin memberitahumu jika kau malah menangis. Jadi jangan menangis. Berjanjilah”.

Yeonsung menelan ludahnya. Entah kenapa hatinya menjadi terasa sakit. Tak ingin mendengar kabar buruk. Tapi sepertinya pria ini tak membawa kabar baik. Jadi ia mengangguk, berjanji untuk tidak menangis. Asalkan ia tahu kabar orang tuanya dan tubuhnya yang berharga di Gyeongju.

“kalian menghilang”.

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Lu Hwang.

“menghilang? Maksudmu?”.

“ini adalah hukuman dari siluman rubah itu. Kau pasti sudah bertemu dengannya”. Ujar Lu Hwang. Yeonsung mengernyitkan dahinya, seperti itu saja Lu Hwang sudah dapat menebak jika Yeonsung sudah bertemu dengan siluman rubah, Yifan. “ceritanya panjang. Jadi sebelumnya, Luhan, bisa kau buatkan aku kopi?”. Titahnya kemudian.

“kenapa harus aku? Suruh saja pekerja mu yang lain”.

“hanya kau pekerjaku yang berada disini sekarang. Sana pergi, buatkan aku kopi”.

Mau tak mau, Luhan menjalankan perintah ayahnya. Meninggalkan Yeonsung diruangan itu bersama ayahnya.

“aku tidak tahu harus bagaimana sekarang”.

“aku bisa membantumu. Tetapi yang pertama harus kau lakukan adalah, percaya. Jika kau percaya padaku, maka aku dan Luhan akan membantumu sebisa mungkin”.

“katakan padaku, apa yang harus ku lakukan? Bahkan sekarang aku tak tahu harus menjadi siapa”.

“mungkin ini akan menjadi sulit bagimu, tapi bagaimana pun kau adalah roh yang merasuki tubuh gadis ini”. ujar Lu Hwang. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah cermin. Yeonsung melihat kearah cermin itu.

Tubuhnya terasa seperti terangkat.

Sedetik kemudian ia dan tubuh Yeonsung sudah terpisah.

Takut-takut ia menoleh ke kiri, tubuh gadis itu terduduk tak berdaya. Sedangkan ia berubah menjadi segumpal asap.

“kenapa kau mengeluarkanku dari tubuhnya?”. Protes Yeonsung.

“baguslah kau protes, berarti kau mulai nyaman berada didalam sana”. Balas Lu Hwang lalu terkekeh kuda. Ternyata ia hanya sedang mengerjai Yeonsung, membuat gadis itu hampir lebur dalam ketakutan karena terpisah dari tubuh yang menampungnya salama ini.

Bayangkan saja sendiri! Bagaimana reaksi kalian ketika melihat tubuh kalian sendiri dan kalian dalam bentuk segumpal asap!? Mengerikan!

Lu Hwang mengembalikan roh Yeonsung kedalam tubuhnya.

“lain kali berhati-hatilah, jangan sampai kau keluar lagi dari tubuh itu”.

“aku saja tidak tahu bagaimana cara keluar dan masuk sendiri. Tahu-tahu sudah berada didalam sini”. Umpat Yeonsung.

Luhan masuk dengan tergesa. Tangannya membawa secangkir kopi. Dengan cepat ia meletakkan kopi tersebut diatas meja dihadapan ayahnya.

“bolehkah aku berkunjung ke Gyeongju?”. Tanya Yeonsung. “aku ingin melihat orang tuaku. Aku merindukan mereka. Mereka pasti mengkhawatirkan aku”.

Ekspresi wajah Lu Hwang berubah. Ia menjadi prihatin dan sedih terhadap nasib gadis ini. tetapi ia kemudian menjawab permintaan Yeonsung.

“aku tidak ada hak untuk melarangmu. Tetapi, kau harus berhati-hati, kemungkinan siluman itu masih berada disekitar sana”. Jawab Lu Hwang lalu mengesap kopi nya. “untuk berjaga-jaga, bawa Luhan bersamamu”. Lanjutnya.

Malam hari setelah jam kerja Luhan berakhir, dan obrolan yang panjang antara dirinya dan ayah Luhan. Luhan mengantar Yeonsung pulang dengan sepeda yang dipinjamkan oleh salah satu teman kerjanya.

Dan –

Yeonsung sama sekali tak menduga saat ia tiba dirumah, saat itu pula Minho datang. Melihat Yeonsung yang baru saja turun dari boncengan sepeda Luhan, Minho segera keluar dari mobilnya dan menghampiri kedua orang itu.

“darimana kau?”. Tanyanya.

“Lu, kau pulanglah. Terima kasih untuk hari ini”. ujar Yeonsung pada Luhan.

“baiklah, semalam malam, Yeon’ah”. Balas Luhan.

Luhan memutar sepedanya, dan kembali mengayuh sepeda itu, pelan. Sesekali ia menoleh kebelakang dimana Yeonsung dan Minho berdiri.

“aku pergi ke café, kebetulan Luhan bekerja disana”. Yeonsung menjawab pertanyaan Minho tadi.

“kenapa kau tidak mengajakku?”.

Yeonsung memutar matanya, lalu berbalik memasuki gerbang rumahnya. “aku lelah, bisa kita bicara didalam saja?”. Ujar Yeonsung.

Terjadi keheningan setelah Yeonsung mandi dan berganti pakaian lalu keluar dari walk in closet untuk melihat Minho. Pria itu sudah berbaring dengan santai diatas tempat tidurnya. Yeonsung hanya meliriknya sekilas sebelum kemudian kakinya melangkah menuju meja rias.

Entah kenapa ia merasa jengkel.

Setelah mendengar cerita dari Dongmin tadi siang.

Minho bergerak mendekati Yeonsung. mengambil alih hair dryer dari tangan gadis itu. Ia pun menggantikan Yeonsung mengeringkan rambut.

“jadi, kenapa kau pergi sendirian tadi?”.

“kau harus sekolah, jadi aku tidak mengajakmu”.

“padahal kita sering membolos bersama”.

Yeonsung memutar matanya. Sembari menyemprotkan vitamin rambut ke rambutnya. “kupikir aku ingin sendirian tadi”.

“aneh sekali”.

“bahkan untuk seterusnya, kemungkinan aku akan melakukan banyak hal tanpa mu”. Tambah Yeonsung.

Minho hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Yeonsung barusan. Seakan tak peduli. Menganggap jika ucapan itu hanyalah candaan. “bagaimana ya, aku tidak mau membiarkanmu sendirian”. Jawab Minho.

Mereka hanya saling menatap dari pantulan kaca.

Suasana pagi saat siswa sekolah megah ini mulai berdatangan. Jaemin mengayuh sepedanya dengan santai, membawa penumpang diboncengannya. Kimi duduk dikursi boncengan sepeda Jaemin.

“berhenti, berhenti!”. Interupsi Kimi.

Sontak Jaemin menghentikan kayuhannya. “ada apa?”. Tanya Jaemin panik. Dikirinya Kimi menjatuhkan sesuatu.

Posisi mereka saat ini dijalan yang sedikit menanjak menuju parkiran sepeda.

Kimi turun dari sepeda Jaemin. “kau duluan saja, aku ada urusan sebentar”. Ujar Kimi.

Jaemin tak sempat menjawab, gadis itu sudah berbalik dan berlari kecil menghampiri seseorang. Pria yang baru saja mengganti warna rambutnya menjadi blonde itu, menyipitkan mata sipitnya. “ah, orang itu lagi”. Gumamnya.

Kimi menghampiri Kyungsoo yang juga baru tiba disekolah bersama Minseok.

“ya!”. panggil Kimi.

Hampir saja Kyungsoo melompat dan memeluk Minseok, saking kagetnya gadis yang ia sukai muncul dihadapannya secara tiba-tiba. “Kimi’ya”. balas Kyungsoo dengan senyum malu.

“aku ingin membayar hutang”. Ujar Kimi.

“yang waktu itu?”. Kimi menggangguk. “ah, bukankah sudah kubilang tidak usah”.

“jadi kau tidak mau nomor ponselku?”.

Kyungsoo mengibaskan tangannya. “tunggu. Kupikir kau akan membayar dengan uang”.

Kimi menadahkan tangannya kehadapan Kyungsoo. Pria itu peka, dengan cepat ia memberikan ponselnya pada Kimi. Gadis itu segera memasukkan nomor ponsel ke kontak Kyungsoo.

“maaf ya sedikit lama baru bisa kubayar. Akhir-akhir ini aku tidak sempat menemuimu”. Ujar Kimi sambil menyodorkan kembali ponsel Kyungsoo.

“hm… terima kasih”.

Setelah memberikan nomor ponselnya Kimi berbalik. Minseok menyikut-nyikut lengan Kyungsoo, bangga pada temannya yang berhasil mendapatkan nomor ponsel Kimi. Sementara itu, Jaemin masih menunggu Kimi didekat parkiran. Tak mengindahkan perkataan Kimi yang menyuruhnya untuk pergi duluan.

Bel masuk telah berdering. Menggiring para siswa untuk memasuki kelas mereka masing-masing.

Yeonsung berdiri didepan gedung sekolahnya. Tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri sekarang. Kepalanya mendongak, menatap gedung yang berdiri kokoh dihadapannya. Ia bukan sedang dihukum atau semacamnya. Tetapi ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Dari arah jalan, Luhan berlari tergesa karena ia lagi-lagi telat sampai kesekolah. Luhan menghentikan langkahnya tak jauh dari tempat Yeonsung berdiri.

“Yeon’ah, kau kenapa?”. Tanya Luhan pelan.

“aku ingin pergi”.

Mendengar jawaban itu, Luhan buru-buru mendekati Yeonsung. “kau ingin bunuh diri lagi?”.

“bukan itu, Lu. Aku ingin pergi ke Gyeongju. Kau ingin menemaniku tidak?”.

Ke Gyeongju?

Sekarang?

Sepertinya Yeonsung sudah gila!

Dan mereka tetap berangkat ke Gyeongju.

Dengan menggunakan kereta api.

Keduanya masih memakai seragam sekolah bahkan tak membawa pakaian ganti. Pukul 9 pagi. Perjalanan dari Seoul ke Gyeongju sekitar 3 jam. Mereka akan tiba tengah hari. Lalu Yeonsung ingin pergi kerumahnya terlebih dahulu. Setelah sore hari mereka bisa kembali lagi ke Seoul.

“makan dulu”. Luhan menyodorkan kantung kertas berisi kue Delimanjoo pada Yeonsung.

Yeonsung tersenyum dan mengambil kue dari dalam kantung itu. “maaf, merepotkanmu”.

“bukan masalah. Lagipula aku memang berniat untuk membolos hari ini”.

“kau ini membolos terus”.

Luhan hanya tersenyum kuda ketika Yeonsung menatapnya dengan sinis. Sebenarnya Luhan tak ingin membolos. Tapi karena ia tergerak untuk memenuhi permintaan Yeonsung. ia terpaksa harus berbohong dan bolos.

3 jam perjalanan terasa cepat karena Luhan ternyata pandai berbicara. Jadi Yeonsung tak merasa bosan.

Dari stasiun kereta, mereka naik taksi menuju desa Yeonsung.

“jadi ini desamu?”.

“ya, bagaimana menurutmu? Aku tinggal disana”. Ujar Yeonsung sambil menunjuk kearah bukit yang berada tak jauh dari pemberhentian mereka.

“tidak buruk. Disini tidak terlalu ramai, ya”. Luhan mengikuti langkah Yeonsung.

Meskipun kakinya terbalut gif, Yeonsung berjalan sedikit cepat. Dibantu oleh tongkat yang sengaja ia bawa agar tidak merepotkan Luhan.

“tidak mungkin…”. Desis Yeonsung ketika sampai ditempat tujuannya. Matanya membulat mendapati apa yang ada dihadapannya kini.

“Yeon’ah, apa ini benar jalan menuju rumahmu?”. Tanya Luhan.

Dihadapan mereka kini. Hutan pohon kering dengan ketinggian sekitar 2-3 meter. Hawa dingin menyeruak tertiup angin bukit. Tak ada tanda kehidupan ataupun jalan masuk ke dalam sana. Tanahnya berwarna putih keabuan, seperti sisa kebakaran.

“tidak – mungkin”. Gumam Yeonsung sekali lagi. Tongkat yang ia pegang terjatuh begitu saja. Dengan cepat ia memasuki hutan tersebut. Tak ada jalan stapak, menandakan tak pernah ada orang yang masuk ke daerah ini.

“Yeon’ah, tunggu!”. Luhan memungut tongkat milik Yeonsung. ia menerobos masuk, mencari gadis itu.

Sebelum mereka tersesat, Luhan menarik tangan Yeonsung, menyuruh gadis itu menghentikan langkahnya.

“Lu, rumahku disini! Tapi – kenapa…”. Yeonsung merengek, hampir menangis tapi airmatanya enggan keluar. Gadis pemilik tubuh ini tidak terbiasa menangis, makanya ia sulit untuk mengeluarkan airmata.

“tenanglah, Yeon’ah”. Ujar Luhan pelan.

Luhan mengamati keadaan sekitar. Didalam hutan ini, ia dapat merasakan aura yang berbeda. Kutukan. Luhan menarik Yeonsung agar keluar dari dalam hutan ini. Luhan tahu jika Yeonsung tidak berbohong soal rumahnya.

“sekolah. Sebaiknya kita ke sekolah”. Ujar Yeonsung.

Tak ada yang bisa dilakukan oleh Luhan, selain menuruti keinginan Yeonsung. gadis itu melangkah tergesa menuruni bukit. Sempat beberapa kali ia kehilangan keseimbangan dan tampak akan jatuh.

“kalian menghilang”.

Teringat akan perkataan ayah Luhan beberapa hari lalu. Menghilang? Tapi bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Pikir Yeonsung. maka ia ingin menemui Junmyeon dan Hyojin. Setidaknya ia bisa bertanya tentang keluarga Shin yang tinggal diatas bukit itu.

Mereka tiba disekolah, satu-satunya SMA yang ada didesa kecil ini. mereka tiba tepat saat gerbang sekolah dibuka, jam pulang.

Yeonsung berdiri diambang gerbang, menunggu dua sahabatnya muncul. Keberadaan mereka menjadi perhatian bagi beberapa murid. Seragam dengan almamater putih yang tampak elegan, dan wajah mereka yang tak tampak seperti anak dari desa.

“itu mereka”. Ujar Yeonsung.

Dari arah lapangan, dua orang yang wajahnya sangat dikenali oleh Yeonsung berjalan menuju gerbang. Keduanya tampak sangat akrab.

“Junmyeon’ah!”. Panggil Yeonsung.

“ya ~ kau langsung memanggil? Memangnya mereka mengenalimu?”. Ujar Luhan pelan.

“ah, iya, aku lupa soal itu”.

Junmyeon yang merasa terpanggil langsung mendekat kearah gadis yang memanggilnya. Hyojin langsung mengamit lengan Junmyeon. Seperti takut jika Junmyeon terpesona pada Yeonsung yang memanggilnya barusan.

“kau memanggilku?”. Tanya Junmyeon, ragu.

“ya, aku memanggilmu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu”. Jawab Yeonsung dengan berbinar.

Junmyeon mengerutkan keningnya. Merasa tak pernah mengenal gadis ini. “permisi, apa kita pernah bertemu? Aku tidak merasa mengenalmu”. Ujar Junmyeon.

“aku Yeonsung”.

Luhan menepuk bahu Yeonsung. gadis itu malah membocorkan identitasnya. Ceroboh sekali. Walaupun itu pada sahabatnya sendiri, seharusnya tak ia lakukan. Pikir Luhan.

“ah, aku – aku temannya Yeonsung”. ujar Yeonsung lagi.

“Yeonsung?”. Junmyeon membelalakan matanya.

TBC

Sekian dulu untuk part ini ya!! duhh maaf untuk kata-kata, kalimat dan alur yang berantakan ><

Like and comment ditunggu loh ^^

Thanks for reading ><

Selamat berpuasa ^0^)/

Tambahan!

Seragam Sekolah

Seragam Sekolah mereka nih ^^

Gedung Sekolah

Gedung sekolah mereka… Foreign International High School ^^

Advertisements

46 responses to ““Vulpecula” #4 by Arni Kyo

  1. tuh kan si minho mulai cemburu pa masih melakukan drama…wach makin seru nih critanya ayah luhan jahil juga☺☺ sepertinya yeounsung sm luhan akan sering bersama dech d tunggu nexsnya😊😊selamat berpuasa juga😀

  2. YESS…YESS.. yeonsung mulai enek ama minho…
    baba luhan pelitnya engga main” n luhan udh tau jika itu bukan yeonsung seoul…

    “bahkan untuk seterusnya, kemungkinan
    aku akan melakukan banyak hal tanpa
    mu” KODE keras pngen putus, minho.. :p lu pikir brcanda..

    makin penasaran thor.. ditunggu..!

  3. Jadi bener kalau Luhan sebenernya udah tau kalau si yeon skrg bukan si yeon asli.
    Trus hyojin sama jeonmyon pacaran? Waaah waah

  4. Omo….. aku terkagum-kagum dengan part ini 😱😱😱 wow!! Keren ssaeng… ini pertamakalinya bingung mau ngomen apa hahaha….. pertama-tama wanna say congrats buat Kyungsoo yg ud dpt nmor Kimi ciyee… tp kya’x cerita mreka bklan panjang buat deket satu sama lain deh #asalNebak 😂 babanya luhan.. omm.. kenalan dong om… om kocak deh.. pantesan anaknya ganteng.. haha 😄 aku sukka bgt dg Minho dsni! Eit suka menanti balasan bwt minho tapi haha 😈 Sll nunggu-nunggu momen dy kejebak dg perasaannua sama yeonsung.. duuh… ceritanya smkin seru… tulisan kamu smakin kereen ssaeng! Chukka…. 😄😄😄😄😄

    • ah, si unni bisa aja deh ngomongnya :3 jimayu aquhh :’v
      wkwkwk sampe dikasih congrats gitu masa XD
      jangan mau kenalan sama baba Luhan, yg ada tar dijahilin unn XD

  5. thor, ff EX kapan di update? udah kangen banget nih sama mereka😢 tiap hari bolak balik buka SKF cuma nunggu updetannya EX, maaf gue coment nya disini 😁

    • EX, ya? EX tuh dikit part nya, lagian itu FF pengiring buat FF ini.. terus aku jg lagi nyari referensi sesuai dgn fakta yang terjadi di Korea ttg sex pelajar disana lohh.. jadi sabar yaaaa karna endingnya bakal kuubah sedikit

  6. Yeonsung akhirnya tau gmna minho sebenarnya. dari awal yeonsung emang sdh trtarikan sma luhan, sekarang uda makin deket. Untuk kyungsoo selamat udah dpet nomornya kimi

  7. gak ngerti sama minho
    padahal udah lebih milih rin daripada yeonsung tapi bisa juga ya cemburu gitu
    hm aku kiran yeonsung bakalan bertindak soal minho itu ternyata masin velum yuaaa

  8. Jadi selama ini luhan tau kalo yeonsung itu bukan yeonsung seoul?!? Apa yg terjadi dgn org tua yeonsung di gyeongju yahh!? Yifan bkal balik lagi nggak yah!?
    Wihh babanya luhan jago juga yah..! Oke next eonn, bacanya kemaren dulu comentnya baru skarang kkkk mian akunya bru smpet!?

  9. Lah…..kok…..si luhan……kan…..
    bpnya lu sama aj ky anakx suka bcanda 😂😂😂😂😂
    qah…bneran ngilang tih emak bapa plus rumahnya???
    aduh….si minho it pergi kelaut aj gih…sebel gue mantengin dia dsni mah

    • Luhan ngapa dah? XD
      wkwkw iya beneran ngilang, nanti deh diungkit lagi karena FF ini masih panjang/? jdi masih ada waktu buat jelasin semuanya sedetail mungkin

  10. luhan sama babanya sama aja ah… (namanya juga like father like son/?) jadi… ini gimana jadinya/? si yifan msih idup? kutukan piye? luhan jg udh tau brarti… makin mantap dah super! keep writing and hwaiting !

  11. Wkwk masih kepo sama yifan tu sbnrnya mahluk apaan.. kaya cerita urban legend gitu ya eon. Next chap ditunggu

  12. Lah si minho masih lanjutin drama, tapi baguslah yeonsung & luhan semakin dekat. Trus congrats utk kyungsoo yg dapetin nomor hp kimi….
    Dan senang luhan yg pertama tau yeonsung yg diseoul ternyata yg digwangju. Dan masa rumahnya yeonsung ilang, penasaran apakah berarti keberadaannya di seoul akan meniadakan dirinya di gwangju?
    Intinya fighting!!!

  13. Hmmmm mampus lu minho sialann!! Luhan yeon lovers 😀 ahh si yeon baru suka sama luhan 😀 huhuuuu rasa sakit gua agak kebales di part kali ini :>

  14. Yeonsung akhirnya tau gmna minho sebenarnya. dari awal yeonsung emang sdh tertarik sma luhan, sekarang uda makin deket.
    Wah!Minho beneran king of drama yah ckckck

  15. minho cemburu, ternyata bukan ayahnya luhan yg selalu nelpon yeon tiap malam tp luhan ya……
    rumah sama keluarga yeonsung menghilang….
    junmyeong kenapa ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s