“EX – Weibo Update” by Arni Kyo

4 EX - Weibo Update - Poster

Tittle                : EX – Weibo Update

Author             : Lee Arni a.k.a Kyo

Main cast         :

  • Lu Han
  • Park Yeon Sung (OC)

Other               :

  • Find by yourself

Genre              : Romance, School Life, NC- (?)

Length             : Chaptered

Annyeonghaseyo ~ Arni Kyo imnida *udin tau elah*

Judul series nya kali ini adalah *baca sendiri diatas* XD

Di part ini Kyo nggak tau harus apa ._. Cuma pengen jahilin HanYeon aja wkwkw XD sehubungan dengan ke’gaptek’an si Yeonsung yang nggak punya akun di SocNed lah…

Oke, let’s sleep (?)

oOoOo

Jaman yang semakin canggih tak ayal membuat semua orang memanfaatkan kecanggihan yang tersedia. Internet dan gadgets adalah teman sehari-hari. Bahkan saat ini, jaringan wi-fi sudah terpasang di tempat-tempat umum seperti caffe, restaurant, taman, dan tempat lainnya.

Tak terkecuali sekolah elite yang dihuni lebih dari 1000 siswa ini. Sudah sejak lama sekolah ini memasang fasilitas wi-fi.

“Mi Ya’ya ~ aku harus menekan button yang mana?”. Pekik Yeon Sung untuk yang kesekian kalinya.

Mi Ya menghela napas nya. Earphone saja tak cukup. Meskipun ia berpura-pura tak mendengar, Yeon Sung akan menggelayutinya hingga ia menanggapi pertanyaan Yeon Sung. “apa lagi gongjunim?”.

Yeon Sung memanyunkan bibirnya. Keningnya mengkerut seperti orang depresi. “aku tidak mengerti arti tulisan ini?”. Yeon Sung memamerkan ponsel nya dihadapan Mi Ya.

Aigoo ~ kau tinggal tekan yang atas. Jika ingin mem-posting sesuatu kau harus tekan yang ini”. Jelas Mi Ya seraya menunjukan apa saja yang harus di tekan oleh Yeon Sung.

Yeon Sung tersenyum bahagia. Mi Ya membuatkan akun Weibo untuk nya, karena ia risih ketika Yeon Sung mengganggunya yang tengah asik ber-weibo-ria.

“kau yang membuatkannya akun, jadi kau juga harus sabar mengajarinya”. Bisik Rin.

Mi Ya mengangguk pelan. “aku menyesal sebenarnya”. Mi Ya membalas dengan bisikan juga. Lalu keduanya terkekeh melihat Yeon Sung yang kini sudah menikmati kemajuan teknologi.

Awalnya memang ia tak tertarik untuk masuk ke dunia maya. Lalu ia mulai merasa terabaikan ketika kedua temannya memiliki teman lain dari dunia maya. Dan tanpa imbalan, Mi Ya membuatkan akun Weibo untuknya.

“ku pikir ia akan menyerah karena tidak mengerti huruf piyin”. Keluh Mi Ya lagi.

Setiap 5 menit sekali Yeon Sung memekik meminta tutorial cara menggunakan Weibo padanya.

Jam pelajaran dimulai 30 menit yang lalu. Seperti biasa, Lu Han tak memperhatikan guru yang sedang berpidato di depan kelas. Kala itu Lu Han tengah menikmati soda kalengnya. Matanya serius menatap layar ponsel nya.

“pys_69?”. Gumam Lu Han. karena merasa tertarik dengan nama akun tersebut, Lu Han membuka profil lengkap si pemilik akun tanpa display picture itu. Sembari menunggu loading, Lu Han kembali meminum soda nya.

“ffftthhh”. Lu Han tersedak ketika melihat profil lengkap akun tersebut. Terdapat disalah 1 posting, sebuah poto. Akun itu milik Park Yeon Sung.

Oh –

Akun itu milik…

… Park Yeon Sung.

Ya, Park Yeon Sung gadis aneh itu.

Lu Han bangkit dari tempat duduk nya. Melenggang menuju pintu keluar di belakang kelas.

“yya! Aku tak tahu apa salahku padamu Lu Han, mengapa kau selalu kabur saat jam pelajaranku, huh?”. Pekik Guru Oh seraya berkacak pinggang.

Lu Han menoleh, menebar senyuman termanis yang ia miliki. “ayolah, saem. Sebentar saja, ini menyangkut Yeon Sung”. Bujuk Lu Han sedikit ber-aegyo.

So Yeon mengedipkan matanya beberapa kali. Kemudian ia kembali membolak-balik buku modul yang berada di meja. Lu Han tersenyum kemenangan. Menjadikan Yeon Sung sebagai alasan untuk keluar dari kelas, agaknya itu efektif.

Baek Hyun menoleh pada Min Seok. Pria bermata sipit itu menggelengkan kepalanya. Tak ingin menjadi bulan-bulanan Lu Han lagi, mereka memilih untuk bungkam meski pun mereka mengetahui apa yang telah terjadi.

“Tao’ya!”. Panggil Lu Han. terpaksa harus menghentikan kegiatan pria itu bercumbu dengan kekasihnya di gudang aula. “aish… sudah ku katakan padamu, jangan melakukan itu disekolah”. Oceh Lu Han.

hyung, kau ini mengganggu sekali”. Rutuk Tao.

Lu Han terkekeh konyol. Jika saja saat ini ia tak ingin menanyakan sesuatu, mungkin ia sudah mencekik Tao. “Tao’ya, kau bilang Yeon Sung tak punya akun SNS, lalu aku menemukan akun ini”. Lu Han menunjukan ponsel nya pada Tao.

“bukan aku yang bilang, tapi Mi Ya”.

“siapapun itu. Aku hanya ingin memastikan soal akun ini, apa benar ini milik Yeon Sung?”.

Tao memerhatikan dengan seksama. Kemudian ia mengangguk. “eo, kurasa itu benar miliknya”. Jawab Tao.

“tapi bagaimana kau tahu dan yakin?”. Tanya Lu Han lagi.

“kurasa tak akan ada orang yang menyamar jadi nya. Jika ia tahu, pasti ia akan marah besar”.

Benar juga. Gadis itu sangat tak suka orang lain mengikuti style nya. Mengambil poto nya tanpa ijin. Termasuk perbuatan kriminal Lu Han beberapa waktu lalu. Entah darimana pria itu mendapatkan poto lama Yeon Sung.

“ah, baiklah. Terima kasih ya. Nanti ku traktir makan kue mochi”.

Secepat kilat, Lu Han berlari meninggalkan gudang aula. Ia merasa bahagia, akhirnya Yeon Sung memiliki akun Weibo. Pasti sangat seru mengganggunya. Apalagi Yeon Sung yang belum terlalu mengerti apa saja aplikasi yang ada di Weibo.

Jam pelajaran tambahan sudah mulai berjalan hari ini. Menjelang ujian akhir nasional. Sebenarnya, Yeon Sung tak perlu mengikuti pelajaran tambahan. Karena selama jam belajar, ia malah berkencan dengan ponsel nya di perpustakaan.

“uuhh…”. ringis Yeon Sung sembari memegangi perutnya. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam sana. “aakh, jinjja”. Umpatnya.

“ada apa? Kau sakit?”. Tanya Rin khawatir. Ia pun dengan penuh perhatian mengusap punggung Yeon Sung.

“entahlah, aku juga tidak mengerti. Perutku mulas dan mual, kadang sampai muntah”.

Rin membulatkan bibirnya. Kemudian dengan ingatannya ia berusaha menerka-nerka. Gelaja apa yang Yeon Sung alami. “Yeon’ah, kau tidak melakukan hal yang aneh kan?”. Tanya Rin tiba-tiba.

“eeeyy… hal aneh apa maksudmu?”.

Mi Ya mendekatkan tubuhnya pada kedua temannya itu. “katakan saja secara langsung, Yeon kita ini suka berpura-pura polos”. Bisik Mi Ya. “maksud Rin, kau tidak pernah berhubungan sex kan?”.

Rin dan Yeon Sung membelalakan mata mereka bersamaan. Yeon Sung gelagapan dan langsung menggeleng cepat. “a-aniyo. Kenapa kalian bertanya seperti itu, huh?”.

“Mi Ya’ya ~ aku tak bermaksud bertanya seperti itu”. Rutuk Rin.

Mi Ya tersenyum kambing. “well… aku hanya bertanya. Jika kau pernah, bisa saja kau –“.

“mungkin saja kau keracunan makanan”. Tebak Rin sembarangan.

Yeon Sung berpikir sejenak. Seingatnya, ia tak makan makanan yang di berikan oleh orang lain. Ia hanya makan bekal yang di buatkan oleh kakak nya, So Yeon. “bajingan mana yang meracuniku? Uuhh”. Yeon Sung melirik pada Cho Rong yang duduk tak jauh dari meja mereka.

“jadi kau belum pernah melakukan ‘itu’ Yeon’ah?”. Tanya Mi Ya lagi.

“yya!”. Pekik Yeon Sung. “uugh… oh my God. Aku benar-benar tak bisa menahannya”.

Sialnya, toilet perpustakaan terkunci. Buru-buru Yeon Sung berlari meninggalkan perpustakaan. Lalu ia harus berlari menuju lantai dasar sekolah, kemudian ke toilet yang jarak nya cukup jauh.

Benar-benar. Ia tak bisa menahan makanan yang ia makan beberapa jam lalu untuk tidak keluar. Tangan kanan nya ia gunakan untuk membekap mulutnya sendiri. Lalu tangan kirinya ia gunakan untuk memegangi perutnya.

“kyaaa ~ Baek Hyun!! Minggir!”. Seru Yeon Sung ketika melihat Baek Hyun keluar dari kelasnya.

Baek Hyun mundur lagi – merapatkan tubuhnya ke dinding. Ia bisa merasakan terpaan angin ketika Yeon Sung berlari di hadapannya dan melewatinya begitu saja. “ada apa dengannya? Cih kenapa ia berlari begitu cepat”.

“apa yang barusan lewat?”. Tanya Lu Han yang baru saja terjaga dari tidurnya, setelah mendengar teriakan darurat yang meneriaki Baek Hyun, ia terbangun dari tidur singkat tanpa mimpinya.

“Yeon Sung. Dia baru saja berbelok ke toilet”. Jawab Baek Hyun.

Toilet? Kenapa ia berlari seperti itu? Pikir Lu Han.

“sebaiknya kau temani dia di toilet, Lu”. Bisik Lu Han sembari tersenyum aneh. Lu Han tahu jika temannya ini sedang berpikiran mesum. “kulihat ia tadi sangat pucat. Aku serius”.

Lu Han membawa kaki nya melangkah sedikit cepat dari biasanya. Lalu langkahnya terhenti di depan toilet wanita. Dari sini saja ia dapat mendengar seseorang di dalam sana sedang memuntahkan isi perutnya.

“apa itu Yeon Sung?”. Tanya Lu Han pada dirinya sendiri. Lu Han berjongkok. Kemudian mengintip kedalam. “hihihi.. itu benar Yeon Sung”.

Lu Han terkekeh pelan. Yeon Sung tengah membungkuk menghadap washtafel. “apa semua dalamannya berenda seperti itu? Lucu sekali”. Lagi – Lu Han terkekeh pelan. Membayangkan Yeon Sung mengkoleksi dalaman berenda seperti yang selalu ia pakai.

“aakkh, sialan! Makanan favorite ku harus keluar lagi”. Rutuk Yeon Sung setelah membasuh mulut nya. Wajahnya tampak pucat, jalanpun ia seakan tak sanggup lagi. Sepertinya otot perutnya menciut, hingga membuatnya membungkuk seperti udang.

Yeon Sung berjalan tertatih keluar dari toilet. Lu Han yang melihat itu langsung menarik Yeon Sung dan menghempaskan tubuh gadis itu kedinding.

“kau sakit, hmm?”. Tanya Lu Han.

“tidak. Sepertinya hanya salah makan saja”.

Lu Han mengangguk. “tapi kau pucat sekali”. Lu Han menghapus beberapa bulir keringat yang mengalir dari dahi Yeon Sung. Lu Han mendekatkan wajahnya ke wajah Yeon Sung. “ingin ku obati?”.

“kau membuatku semakin mual, Lu”. Ujung hidung Lu Han menyentuh pipi Yeon Sung. Dalam keadaan seperti ini, Yeon Sung tak mempunyai cukup tenaga untuk melawan Lu Han. “menyingkirlah, jika tidak aku akan muntah di dalam mulutmu”.

“itu terdengar menjijikan. Tapi – jika memang harus seperti itu untuk mendapatkan night kiss darimu, aku rela”. Goda Lu Han.

Yeon Sung mengalihkan tatapannya pada Lu Han. ia tak berpikir apapun. Semua pikirannya teralih ke perutnya yang masih terasa bergemuruh. Namun ia bisa merasakan tangan Lu Han melingkar di pinggangnya.

Cup.

Yeon Sung mengecup singkat pipi Lu Han. “sekarang aku boleh pergi?”.

Lu Han tersenyum kemudian mengangguk. Melepaskan tangannya dari pinggang Yeon Sung. Memberi akses bagi gadis itu agar bisa pergi. Lu Han tersenyum girang sembari memegangi pipinya.

Lu Han part of view

Lagi – Yeon Sung membuatku lupa untuk menanyakan keadaannya. Semalam, aku malah meminta night kiss darinya. Bukan menanyakan apa yang terjadi padanya, hingga harus muntah seperti itu. Dan – ia sepertinya sangat menderita.

Tadi pagi aku melihat Weibo update nya. Ia bilang jika masih sedikit tidak enak badan. Aku tak yakin jika belum mendapatkan bukti ataupun jawaban darinya.

Yeon Sung bilang, jika hanya sekali atau beberapa kali melakukannya belum tentu ia hamil. Tapi, bisa saja itu terjadi, kan?

gege ~ sebenarnya susu ini untuk siapa? Kau pelit sekali, kenapa aku tidak boleh meminumnya?”. Gerutu Lu Xian sepanjang jalan. Ah ya, tadi pagi aku sengaja membuatkan susu hangat untuk Yeon Sung.

“jika kau mau, kau kan bisa membelinya di caffetaria sekolah, Xian”.

Lu Xian mengembungkan pipinya. Matanya terus melirik ke arah dasbor mobil, dimana aku meletakan sebotol susu hangat. “tapi aku ingin gege yang membuatkan khusus untukku”. Rengek nya lagi.

“baiklah, tapi tidak untuk yang ini ya adik kecil. Ini untuk seseorang”.

Demi menjaga kehangatan susu ini, aku bahkan tak menyalakan AC mobil dipagi yang cukup cerah ini. Menyetir dengan normal, agar tidak menimbulkan goncangan pada botol susu itu. Entahlah – aku merasa bersemangat untuk ke sekolah hari ini.

Memasuki lahan parkir sekolah. Aku dapat melihat Yeon Sung sedang duduk di kursi taman. Tangan kanan nya menggenggam es krim. Gadis itu makan es krim di pagi hari? Astaga.

Lu Xian keluar terlebih dahulu setelah aku memarkirkan mobil. Ia berlari kecil menghampiri Yeon Sung.

nin hao, jiejie”. Sapa Lu Xian seraya duduk di sebelah Yeon Sung. Ada apa dengannya? Mengapa menjadi aneh ketika melihat Yeon Sung?

Aku pun segera keluar dari mobil. Tak lupa aku membawa sebotol susu hangat. Langkah panjang ku melangkah kearah kedua gadis itu. Yeon Sung tampak sangat menikmati es krim nya.

“yyak!”. Seru Yeon Sung ketika aku merampas es krim dari tangannya. “matahari bahkan baru terbit dan kau sudah mengganggu ketenangan hidup ku, Tuan Lu”. Rengek nya.

Plukk.

Aku melempar es krim nya ke dalam kotak sampah. “kau bilang masih tidak enak badan kan? Lalu mengapa makan es krim sepagi ini?”. Omel ku. Sangat bahagia ketika melihatnya melipat wajahnya yang imut itu.

“es krim vanila ku. Hiks”. Yeon Sung meratapi es krim nya yang sudah bercampur dengan sampah daun di dalam kotak sampah.

“ini. Aku membuatkan ini untuk mu”. Aku pun menyodorkan sebotol susu hangat itu padanya.

Yeon Sung menatap botol susu itu beberapa saat. Kemudian menatap ku. “untukku? Kau tidak memasukan racun disana kan?”. Tanya nya. Aigoo ~ kkiawa. Iris mata coklatnya terlihat berbinar.

Aku berjongkok di depannya. Yeon Sung tersenyum menyambut botol susu dari ku. Lalu ia mengelus pipi ku. “Lu Han baik sekali hari ini”. Ujar nya.

“jadi orang itu adalah jiejie ini”. Sial. Aku lupa jika ada tikus kecil ini di dekat kami. “jiejie, kau tahu, Lu Han gege tidak membuatkanku susu. Dia malah membuatkan susu ini hanya untukmu. Aku cemburu. Sebenarnya ada apa diantara kalian?”. Oceh Lu Xian panjang lebar.

“Rahasia!”. Seru ku dan Yeon Sung bersamaan. Dilanjutkan dengan gelak tawa.

“Lu Han”. panggil Min Seok. Bahkan ia belum sempat mengatur napasnya setelah berlarian menuju kelasnya.

Lu Han yang merasa terpanggil, menoleh pada Min Seok. Menatap temannya heran. “ada apa? Kau seperti melihat hantu”.

Tanpa mengatakan apapun, Min Seok menarik Lu Han ke belakang kelas. Lalu mereka berdua berjongkok di balik meja paling sudut. “tadi aku melihat Guru Oh dan Yeon Sung di belakang sekolah, dekat toilet. Mereka berdua berpelukan”.

“lalu kenapa jika mereka berpelukan? Itu wajar karena mereka kakak-beradik”.

“eeeyy, aku belum selesai. Aku melihat Yeon Sung membuang ini di kotak sampah”. Min Seok mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Menunjukan benda berukuran kecil seperti lidi itu pada Lu Han.

“ini? –“. Lu Han mengambil alat tersebut dari Min Seok. “testpack?”. Ucap Lu Han ragu-ragu. Ia memperhatikan dengan seksama alat yang kini ia pegang. Dua garis berwarna merah. “kau yakin Yeon Sung yang membuang ini?”.

Min Seok mengangguk pasti. Seraya memperhatikan keadaan kelas, ia kembali menjawab. “aku yakin karena aku melihat ia menggenggam alat itu ketika memeluk Guru Oh, dan saat Guru Oh pergi, ia membuang alat itu ke kotak sampah. Lantas aku memungutnya. Aku juga terkejut, Lu”. Jelas Min Seok.

Lu Han kembali ingat ketika ia menelpon Yeon Sung di tengah malam, beberapa hari lalu. Kemudian melihat Yeon Sung muntah-muntah di toilet malam itu. Yeon Sung juga terlihat pucat sejak pagi tadi.

Jangan-jangan Yeon Sung…

Yeon Sung Weibo Update : sial! Kenapa klinik bersalin seramai ini? Apa semua orang akan melahirkan? Haha XD

“apa? Rumah sakit bersalin?”. Gumam Lu Han. “tidak boleh. Apa Yeon Sung akan melakukan aborsi? Astaga”. Ujar Lu Han panik.

“siapa yang akan aborsi, ge?”. Tanya Lu Xian yang kebetulan lewat di depan kamar Lu Han.

Lu Han tak menjawab pertanyaan adiknya. Lantas ia menempelkan ponselnya di telinga. Menelpon Yeon Sung. Berharap bisa mencegah hal buruk yang mungkin di lakukan oleh Yeon Sung.

Jujur saja. Lu Han khawatir.

Penemuan Min Seok membuatnya yakin jika Yeon Sung positif mengandung. Lalu bukti lainnya juga sangat mendukung.

“kenapa ia tak mengangkat telpon ku?”. Rutuk Lu Han. Ia mencoba menelpon. Lagi dan lagi. Meski pun tak mendapat jawaban dari Yeon Sung.

Setibanya di sekolah, Lu Han bergegas menuju kelas Yeon Sung. Mencari keberadaan gadis itu. Karena semalaman Yeon Sung tak menjawab telponnya. Dan Yeon Sung pun tak mengirimkan pesan untuk Lu Han.

eo? Lu Han? ada angin apa kau datang ke kelas kami?”. Tanya Rin yang saat itu tengah menghapus papan tulis. Tampak dari lagaknya, jika ia tak suka pada pria ini, setelah apa yang Lu Han lakukan pada Yeon Sung 2 bulan yang lalu.

“aku mencari Yeon Sung”.

Plukk.

Rin meletakkan penghapus papan tulis dengan sedikit membanting. Kemudian ia berkacak pinggang. “apa lagi yang akan kau lakukan padanya, huh? Apa kau belum puas membuatnya menderita?”.

“menderita? Apa maksudmu?”.

Rin melipat tangannya. Menaikan sedikit dagunya. “Yeon Sung tidak ada, ia tidak masuk hari ini”. Ujar Rin dengan ketus. Menurutnya pria ini pantas untuk diomeli.

“dia sakit? Apa aku boleh minta alamat rumahnya?”.

“tidak”.

Ting tong ~

Tak menunggu lama, pintu berwarna coklat gelap itu pun terbuka. Sosok Yeon Sung muncul. Masih menggunakan piyama tidur berwarna biru muda dan handuk membalut dikepalanya. Bau sabun lemon tercium dari tubuhnya. Ia baru selesai mandi.

eo? Lu Han’ssi?”.

Lu Han menerobos masuk sebelum si pemilik rumah mengijinkannya masuk. “sejak kapan kau seformal itu padaku, hmm?”. Lantas pria itu langsung duduk di soffa ruang tengah.

“kau tahu darimana alamat rumahku?”.

Dan – Yeon Sung tak bertanya mengapa Lu Han masih memakai seragam sekolahya. Tentu ia tahu pria ini sering membolos. Tapi – haruskah membolos untuk menjenguknya?

“dari Guru Oh”.

“jadi kau sudah tahu jika kau dan Guru Oh bersaudara?”.

“aku membawakanmu kue ikan”.

Yeon Sung melirik kantung plastik berisi sekotak kue ikan yang dibawa Lu Han. “darimana kau tahu aku sedang ingin makan kue ikan?”.

“Weibo”.

Yeon Sung mengangguk. Ternyata meng-update di Weibo berguna juga. Pikir nya. Dengan cepat ia mengambil kantung plastik itu. Duduk di sebelah Lu Han dan menyantap kue ikan seperti orang kelaparan.

“apa kau yakin kita belum berdamai?”.

“baiklah, karena kemarin kau memberiku susu hangat kemudian hari ini kau memberiku kue ikan. Jadi kita berdamai”. Yeon Sung mengulurkan tangan kanannya.

Lu Han tersenyum girang, kemudian menyambut tangan Yeon Sung. “begitu lebih baik”.

“ah, maaf ya semalam aku tak mengangkat telpon mu”. Ujar Yeon Sung seraya tersenyum, menunjukan eyesmile nya. “ngomong-ngomong, ada apa kau menelpon ku hingga puluhan kali?”.

“aku –“. Lu Han menghentikan perkataannya. Ucapan Min Seok kemarin kembali terniang ditelinganya. ‘sebaiknya jangan tanyakan apakah itu miliknya atau bukan. Hubungan kalian pasti akan berubah. Yeon Sung akan kembali menjauh’. “tidak apa. Aku hanya merindukanmu”.

Yeon Sung menghela napas. “jangan memulai lagi, Lu”. Ujar Yeon Sung ketika merasakan Lu Han kini bergelayut di lengannya. “aku sedang sakit, Lu”. Yeon Sung menarik tangan Lu Han ke kening nya.

“benarkah? Tapi tidak panas”.

“tapi aku sakit”.

“baiklah. Kalau begitu istirahat”. Lu Han mengangkat tubuh Yeon Sung. Menggendong nya ala Bridal menuju kamar gadis itu, di lantai 2. Tanpa diberitahukan, Lu Han tahu dimana letak kamar Yeon Sung.

Kamar minimalis beraroma lemon.

Ini adalah pertama kali nya bagi Lu Han masuk ke kamar seorang gadis. Meskipun ia adalah player, tapi ia tak pernah melakukan permainannya di rumah si gadis. Tapi – hari ini ia masuk ke kamar gadis, bukan untuk bermain. Melainkan menjaga tidur sang putri.

Yeon Sung tertidur pulas ditempat tidur nya.

Setelah memastikan gadis itu tertidur, Lu Han berjalan menuju lemari pakaian Yeon Sung. Hanya iseng untuk melihat koleksi pakaian dalam berenda milik Yeon Sung.

“cih. Benar kan kataku. Dia mengoleksi dalaman berenda”. Ujar Lu Han, memeriksa satu-persatu dalaman yang disusun rapi di dalam lemari. “yang ini lucu juga”. Puji Lu Han seraya terkekeh. Dalaman berwarna baby pink.

“dia punya banyak warna. Nanti aku akan belikan yang seperti ini”. Lagi – Lu Han terkekeh.

Tak lama, ekspresi wajahnya berubah, ketika tangannya tak sengaja menyentuh bungkusan pembalut. Masih utuh. Jadi benar…

Lu Han menutup lemari pakaian Yeon Sung. Kemudian ia sendiri duduk di pinggiran tempat tidur Yeon Sung. Ia ingat perkataan Min Seok ketika ia mengatakan Yeon Sung pergi ke klinik bersalin semalam.

Min Seok bilang ‘wanita yang baru saja melakukan aborsi, tidak akan baik-baik saja’.

Baiklah, Lu Han tersenyum karena Yeon Sung hanya demam. Berarti gadis itu tidak melakukan aborsi. Lu Han berspekulasi secara langsung.

“ada apa dengan orang itu?”. Gumam Mi Ya seraya melakukan pemanasan ringan. Bersiap untuk melakukan lari jarak pendek di lapangan sekolah. Keningnya berkerut melihat seorang Lu Han duduk di pinggiran lapangan seperti idiot.

Siswi perempuan yang melihat penampakan Lu Han di pinggiran lapangan. Apalagi pria tampan itu terus tersenyum menebar pesonanya. Kesal, karena sejak tadi orang yang ia senyumi belum menengok ke arahnya. Yeon Sung, terlalu sibuk merenggangkan otot-ototnya.

“Yeon’ah, lihat, orang itu selalu di dekat mu akhir-akhir ini”. Bisik Mi Ya sembari menunjuk kearah Lu Han.

“biarkan saja”. Jawab Yeon Sung singkat.

Lalu tiba giliran Yeon Sung untuk melakukan lari jarak pendek. Ia sangat bersemangat hari ini. setelah mengalami sakit beberapa hari, tenaga nya kembali terkumpul. Dan ia ingin mengalahkan pencatatan waktu yang di cetak oleh Bae Ji Soo.

Yeon Sung bersiap di garis start. Mengambil ancang-ancang. Lu Han berdiri ketika Yeon Sung mulai melangkahkan kakinya, berlari dengan cukup cepat. Sejauh ini, Yeon Sung memimpin.

Namun dari belakang gadis itu, menyusul Han So Ra. Semakin dekat pada Yeon Sung. Lu Han menduga adanya sesuatu yang tidak beres. Benar saja, So Ra mendorong Yeon Sung dengan sengaja hingga gadis itu tersungkur jatuh ketanah.

Lu Han tersentak. Dengan cepat ia berlari ke tengah lapangan untuk melakukan penyelamatan kepada gadis itu. Yeon Sung tengah berusaha untuk bangun.

“Yeon’ah, kau tidak apa-apa?”.

“aku apa-apa, Lu”.

“naik ke punggung ku”.

Lu Han berjongkok di depan Yeon Sung. Lalu Yeon Sung naik kepunggung Lu Han, memeluk leher pria itu dengan kuat. Sementara teman-teman Yeon Sung yang lain menganga melihat adegan itu. Termasuk guru olahraga. Lu Han membawa Yeon Sung tanpa ijin.

Yeon Sung duduk di pinggiran ranjang ruang kesehatan. Sementara Lu Han mengobati luka di kedua lututnya. Dengan sangat hati-hati Lu Han membersihkan luka Yeon Sung. Kemudian mengoleskan betadine. Terakhir menutup lukanya dengan plaster.

“tidak ada bagian tubuh lain yang sakit kan?”.

“hiks. Ini –“. Yeon Sung mulai menangis seperti anak kecil. Ia menunjukan luka di siku kirinya. “sakit Lu ~~ huuuee”.

uljima uri Yeonnie”. Yeon Sung menangis sesegukan sesegukan. Benar-benar seperti anak kecil. “nah, sudah selesai”.

Yeon Sung memeriksa hasil pengobatan Lu Han padanya. Bagus dan cukup rapi.

“apa kepalamu pusing? Mungkin perutmu sakit?”. Yeon Sung menggeleng. “benarkah? Bagus kalau begitu”.

Lu Han ingat, jika wanita yang keguguran akan merasakan sakit perut lalu mengeluarkan darah. Tapi Yeon Sung tidak. Lu Han merasa lega.

“gendong aku lagi hingga ke kelas. Yaya?”. Pinta Yeon Sung sembari ber-puppy eyes.

“bayarannya 20 ribu won”.

Plakk!

Yeon Sung memukul lengan Lu Han sangat keras. Alhasil, terdapat cap 5 jari di lengan pria itu. “akkh! Jinjja. Gadis ini benar-benar nakal. Kau terluka seperti itu saja bisa memukul dengan keras, huh”. Rutuk Lu Han.

“mahal sekali. 20 ribu won aku sudah bisa makan enak”.

“kalau begitu bagaimana dengan –“. Lu Han mendekat pada Yeon Sung. Sepertinya memang ada magnet diantara mereka. Lihat saja, belum selesai Lu Han mengatakan keinginannya, bibir mereka sudah saling bertemu. Melumat dan saling menyalurkan sensasi yang mereka rasakan.

Baiklah, mereka sadar sedang berada dimana saat ini. tapi – keadaan cukup sepi.

“yyak! Kenapa kau mendorong ku, huh?!”. Pekik Yeon Sung ketika bertemu dengan So Ra di kelasnya. Tak segan ia langsung menjambak rambut bagian belakang gadis itu.

“yyak! Lepaskan! Jangan terlalu percaya diri, aku tidak mendorong mu!”.

Bukan melepaskan jambakannya, Yeon Sung malah semakin menjambak rambut gadis itu hingga kini ia mendongak. Siswa kelas yang melihat kejadian itu berusaha melerai perkelahian itu. “aku tidak pernah menganggumu, So Ra’ssi. Jadi jangan mengganggu ku”.

 

JDUUUKK!

 

Yeon Sung menghempaskan kepala So Ra ke meja. Membuat So Ra meringis kesakitan. Terdapat memar yang cukup parah di keningnya. Tak cukup hanya itu, Yeon Sung menarik lengan So Ra, kemudian melempar gadis yang sudah setengah sadar itu ke lantai.

“yakk! Jalang! Hentikan perbuatanmu”. Teriak Bae Ji Soo dari belakang Yeon Sung.

“sudah ku bilang jangan pernah menggangguku!”. Yeon Sung melayangkan kaki nya untuk menendangi So Ra.

Di belakang Yeon Sung, Ji Soo dan Mi Ya memulai perkelahian mereka.

“kau bilang Yeon Sung jalang? Lalu kau apa, huh!?”. Pekik Mi Ya. Tangannya mencengkram dagu Ji Soo.

“tidak usah ikut campur, Mi Ya’ssi”.

 

PLAKK!

 

“kau berani menamparku?! Kyaaa”. Sebuah tendangan sukses membuat Ji Soo tersungkur ke belakang. Jatuh bersama beberapa kursi. Kelas ini sangat gaduh. Saling meneriaki dan memukul. Sungguh! Mereka tak nampak seperti seorang siswi.

Lee Hyuk Jae berjalan mondar-mandir di hadapan ke 4 siswi nya yang baru selesai melakukan kegiatan gulat. Keadaan So Ra dan Ji Soo cukup parah, dengan memar di pipi dan bagian tubuh lainnya.

Sementara Yeon Sung dan Mi Ya hanya mendapat lebam dan pakaian yang sedikit berantakan. Plater masih menempel di kedua lutut dan siku Yeon Sung, akibat terjatuh di lapangan tadi.

“jadi, apa yang sebenarnya membuat kalian bergulat?”. Tanya Hyuk Jae.

“Han So Ra mendorong ku hingga terjatuh”. Jawab Yeon Sung. “ini bukti nya”. Yeon Sung memamerkan plaster luka di lutut dan siku nya.

“aku tidak mendorongnya. Dia saja yang terlalu lemah untuk berlari”.

“lalu apa yang selanjutnya terjadi?”.

“aku menjambaknya kemudian menendanginya”. Jawab Yeon Sung jujur.

Hyuk Jae tersenyum aneh. Mungkin memang senyumnya seperti itu sejak lahir. “baiklah, kalian semua di skors”.

MWO?! Seharusnya Yeon Sung dan Mi Ya saja yang di skors, saem”. Pekik Ji Soo.

“tidak ada bantahan. Sekarang kembali ke kelas kalian”.

Yeon Sung Weibo Update : aku masih lapar. Ingin makan jajangmyeon atau ramyeon atau muljajang.

Yeon Sung Weibo Update : hooaamm… aku tak bisa perpisah dari kasurku. Tapi sangat lapar ~.~

Lu Han mengelap keringatnya dengan handuk. Ia baru selesai bermain sepak bola sore ini. Lu Han beralih menatap jam tangannya. Pukul 5 sore. Lu Han bergegas untuk pulang. Tidak, bukan pulang. Tapi mengunjungi Yeon Sung, tak lupa membawa apa yang ingin gadis itu makan.

jajangmyeon atau muljajang?”. Gumam Lu Han seraya memiringkan kepalanya. Bibir nya berdesis, bingung harus membeli yang mana? Atau mungkin keduanya?

Yeon Sung Weibo Update : order fast food maybe. Arasseo ~

ANDWAEEEEE~~”. Pekik Lu Han.

Sungguh. Ia tak sengaja memekik, pita suara nya bekerja sama dengan mulut menghasilkan suara melengking. Itu semua otomatis terjadi karena melihat kiriman Yeon Sung di Weibo.

yeobeoseyo?”.

“yya! Apa maksudmu memesan makanan cepat saji? Tidak boleh”. Ternyata Lu Han langsung menelpon Yeon Sung.

eeeyy… kau ini kenapa? Tidak waras ya? Aku lapar, jadi aku akan memesan makanan”.

Lu Han menghentikan mobilnya di depan restoran China. “tidak boleh. Karena aku akan jadi kurir untuk mengantarimu makanan, jadi katakan saja padaku apa yang ingin kau makan”.

Yeon Sung diam. Oh – jadi Lu Han sekarang berganti profesi jadi ‘kurir’. Pikirnya.

begitu? Tapi gratis kan?”.

“tentu saja! Cepat katakan, apa yang ingin kau makan?”.

kau baik sekali. Kalau begitu aku ingin jajangmyeon, ayam goreng, asinan lobak, baso ikan 6 tusuk, jangan lupa bawakan aku bubble tea”.

Kali ini Lu Han yang terdiam. Dengan memory otaknya yang tidak begitu pintar itu, ia berusaha mencatat deretan pesanan gadis itu. ‘wanita hamil memang bernafsu makan tinggi’. Baiklah. “sebaiknya kau kirim dengan pesan singkat”.

arasseo”.

Seperti biasa, Yeon Sung memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu. Tak lama kemudian ia mengirim pesan singkat pada Lu Han.

“makan pelan-pelan, nanti kau tersedak. Aku tidak ingin menemukan koran yang pada halaman depannya tertulis ‘seorang gadis meninggal karena tersedak asinan lobak’”.

Yeon Sung mengangguk. Namun tangannya tak bisa berhenti untuk terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. “kau beli ini dimana? Ini rasanya luar biasa”.

“di dekat tempatku sering bermain bola. Tentu aku membawakan makanan yang enak untukmu”.

“tapi, Lu, boleh aku mengetahu sesuatu?”.

“ya, apa itu? Katakan”.

Yeon Sung mengunyah sisa makanan yang masih berada di dalam mulutnya. Setelah dipastikan cukup halus, ia menelan makanannya. “kenapa kau bersikap aneh seperti ini? Kau membawakanku makanan ataupun minuman yang aku inginkan. Memberikan perhatian lebih padaku. Kau sangat aneh. Jangan bilang jika kau mulai menaruh hati padaku, hmm?”.

“itu… emm… karena –“. Lu Han menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. “Yeon’ah ~ apa benar kau sedang hamil?”.

Hening.

“ffftthh… hamil? Huahahaha”. Yeon Sung terbahak tak tertahankan. Belum lagi melihat wajah polos Lu Han.

w-wae? Aku hanya mencoba bertanggung jawab. Karena aku merasa menjadi ayah”.

“ayah? Bhahaha”.

“hentikan Yeon’ah, jawab aku. Dengan jujur”.

Yeon Sung berdehem beberapa kali. Mengatur napas sejenak. Kemudian menjawab. “tidak, Lu. Kenapa kau bisa berspekulasi seperti itu? Saat ke klinik bersalin, aku menemani So Yeon eonnie. Lalu pergi makan dengannya”.

“Min Seok menemukan testpack. Ia bilang kau yang membuang alat itu ke kotak sampah”.

“itu milik So Yeon eonnie. Ah, kalian menguntitku”. Lu Han tersenyum kambing. Antara senang dan malu. “soal aku muntah dan sakit beberapa hari itu? Aku maag, Lu”.

“jadi, kau tidak –“.

Yeon Sung mengangguk cepat. Ia tersenyum geli. “tentu saja tidak”.

Ting tong ~

Suara bel rumah Yeon Sung menghentikan percakapan kedua orang itu. Yeon Sung beranjak dari tempat duduknya. Menuju pintu depan.

oppa!?”. Seru Yeon Sung girang setelah membuka pintu lebar. Lu Han berdiri, menganga terkejut dan heran. Siapa gerangan pria yang dipanggil Yeon Sung dengan sebutan ‘oppa’? Setahunya, Yeon Sung tak memiliki kakak, kecuali kakak ipar.

Tak mungkin Yeon Sung bersikap seperti itu pada kakak iparnya, bukan?

Pria itu – memeluk Yeon Sung. Ia memeluk Yeon Sung ku. Batin Lu Han.

Hayooo lhoooo ~

Siapakah gerangan pria itu? Seperti biasa, jangan tanya di comment “siapa cowo itu?”. Karena Lu Han aja nggak tau, apalagi Kyo 😛

Eumm.. no comment yaaa buat poster wkwkw XD itu hanya kebetulan, ketemu pose mereka yang sama masa 😀

jadi sebenernya malu buat repost FF yg ngga seberapa ini yg jaman baheula dulu sempet setenar Wild Boy nya Sangheera unni dan FF luar biasa author lainnya. makanya sampe dihapus dulu… tp skrg direpost lagi karena buat readers yg (mungkin) nungguin FF ku yg belom update bisa baca yg ini dulu… (I’ve a lot of deleted FF bcs something)

Sekian.

Chigeumkatji ~ Kyossemnida ( > . ^ )~

 

Advertisements

16 responses to ““EX – Weibo Update” by Arni Kyo

  1. Jadi Yeonsung seketika menjadi remaja labil yg baru euforia punya akun sosmed baru, jadi apa” di posting 😂😂
    Ampuuun
    (Orange)

  2. ternyata yeonsung bisa alay juga gegara punya akun baru, update status mulu wkwkwkw. kayaknya luhan bakal cemburu lagi nih gegara tuh cowo

  3. Ah.. baru sempat baca.. ya Allah ngakak berat baca part ini… udududuu Luhan polos bgt yak… mau bertanggung jwb mjd ayah yg baik.. buahahaha… ngakak beneran.. itu sbnernya yeonsung anak skolahan or preman si klo ngasih blsn sma org sebegitu ‘cantiknya” sampe yakin lipsticknya jadi tmbh merah krn ulah dy… eh slmt ya seoyeon unni… itu kyaknya yg dtg suaminya soyeon deh… haha… Yeonsung brrti mrip sama aku… sm2 gaptek hweee tp parah aku lagi … ga tau weibo it bntuknya modelnya cem kya’ gmn haha….Dduh syg klo karya kamu didelete ssaeng Arni… nyatanya tulisan kamu bagus loh… lucu lagi haha.. ya lah dicukupkan kpmen sampe sni dlu.. next EX n VLCP nya ditunggu.. 😄😄😄

    • jadi sebenernya Yeonsung itu mantan preman terminal yg lagi tobat disuruh sekolah unni :v wkwwkkw

      Weibo itu ya gitu unni.. itu twitter nya orang china… aku punya :3

      yaaaaa unni tak tau masalahnya sih aku sampe frustasi lantas hapus 50% karya aku dri WP ini karena apa :’v sedih mah kalo diingat

  4. 😂😂😂 gokil….umin bisa banget deh ngerjain LUHAN.
    Akun Weibo yah…..aduh kalo dipikir2 kelakuan Yeon emang ky ibu hamil si..tapi ….siapa y tau coba kecuali dia sendiri.
    Wah…..daebak…itu cowok bisa banget manasih atinya si luhan 😆😆😆😆 good abang no name 😂😂
    Keklinik bersalin aja diupdate y jelas luhan cemasnya ky kesetanan.
    Hah sumpah ni part ky parodi dan gokil abis thor…..

    Selalu ditunggu ff nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s