[YiSang’s Diary] #18: Three Months Left

a series-fiction by Jung Sangneul

YiSang’s Diary

Yixing / Lay [EXO] & Sangri [OC]

Romance, Fluff | drabble-series | General

previous series

***

YiSang’s Diary: Three Months Left

 

Sangri membuka lockscreen ponselnya, melihat foto Yixing masih setia berada di sana. Diusapnya gambar itu, makhluk yang berubah jadi dua dimensi sejak tiga bulan yang lalu. Memutuskan mengambil cuti kuliah, lelaki itu sempat membawanya kencan spesial untuk terakhir kali.

            “Jangan menyesal mengenalku, ya,” bisiknya di perjalanan pulang waktu itu, menaiki taksi. Sangri yang sibuk membalas pesan dari Sanghun segera menoleh. Ia tersenyum kemudian menggeleng pelan.

“Mana mungkin? Jika itu orang lain, mungkin sudah menyesal mengenalku yang penuh dengan debu masa lalu ini,” seloroh Sangri. Dia tertawa. Namun Yixing tidak.

Ketika sudah hampir tiba di apartemen gadis itu, Yixing menyerahkan kotak yang sedari tadi tersimpan di saku jasnya. Kotak berwarna hitam itu menyimpan kenang-kenangan yang sekarang terjulur di leher Sangri.

Gadis itu menyentuh kalungnya sambil menunduk. Pesan-pesan di aplikasi chat sudah menumpuk terlalu banyak—ditambah lagi tanpa jawaban. Tiga bulan terasa seperti tiga tahun.

“Oi, Sangri!”

Memberengut mendengar suara itu, namun Sangri menoleh juga. Luhan datang dengan dua cup cokelat dingin, dia tidak jadi merengut.

“Dasar materialistis. Aku lihat wajahmu yang ditekuk berubah berkilauan waktu lihat cokelat ini!” Luhan menjitak kening adiknya itu sebelum menyodorkan minuman dan duduk di hadapannya.

“Jadi, bagaimana?”

Sangri menyedot cokelatnya sebelum menyahut, “Bagaimana apa? Dia mungkin tidak pernah membuka ponsel saking pentingnya urusannya di sana.”

Luhan berdecak. “Bukan itu, Bodoh.”

Adiknya melotot kesal.

“Habisnya kau jadi kelewat tidak fokus sekarang. Masih untung nilai IP-mu tidak kena dampak signifikan.” Luhan memutar-mutar sedotannya.

“Kau tidak pernah ditinggalkan wanita yang kaucintai, ya?”

“Dan sampai kapan pula kau tidak mau memanggilku ‘kakak’? Huh, masih untung aku ini baik tidak mempermasalahkannya.”

Sangri berdecih. “Tidak usah sok baik. Dari dulu kau menyebalkan, itu baru iya.” Dilanjutkan dengan juluran lidah mengejek. Luhan justru tertawa menanggapinya. Sangri selalu kekanakan.

“Setidaknya kau tidak boleh lupa kalau hari ini waktunya menjenguk Eomma,” sahut Luhan. Tangannya mengusap kepala Sangri diiringi senyuman teduh.

Sejak hari ketika ayah mereka mendatangi ibu Sangri, Luhan menyapa wanita paruh baya itu dengan sebutan “Eomma”. Sangri tidak keberatan jika dengan itu bisa mendekatkan dua keluarga yang terpecah.

“Bagaimana dengan Mama-mu? Dia masih bisa dibendung, ‘kan?”

Luhan melambaikan tangan. “Jangan hiraukan Mama. Disumpal dengan kesibukan dan uang pun sudah bungkam. Merger perusahaan cukup menyita waktunya untuk lupa kalau Baba sudah durhaka hari itu.”

Memang, kunjungan ke rumah ibu Sangri waktu itu tercium oleh ibu Luhan. Memang tidak sampai membuat semuanya runyam, tapi cukup untuk hampir meledakkan rumah Luhan di Cina sana. Lelaki itu sampai harus menyempatkan diri untuk pulang sekalipun tugas sedang menumpuk.

“Ya sudah. Aku tidak lupa hari ini kita ke rumah Eomma. Jemput pukul tiga saja ya, Kak.”

Luhan terdiam sejenak. “Tunggu, kaubilang apa?”

Sangri tersenyum timpang. “Tidak ada siaran ulang!”

.

.

Setiba di sana, ibu Sangri sedang berjalan-jalan dengan kursi roda dituntun oleh Sanghun. Wanita itu tersenyum melihat matahari sore yang menyinari rimbun dedaunan di kebun rumahnya.

“Ibu, Sangri pulang!” serunya, sukses membuat sang ibu menoleh. Senyumannya terpatri sempurna, jelas berbeda dari awal mula ia datang dahulu. Kejiwaannya sudah membaik.

“Jung Sangri, anakku ….”

Sangri memeluk erat sang ibu, menciumi pipinya haru. “Sangri rindu sekali.”

Sanghun tersenyum melihat tingkah kakaknya.

“Kalau Sangri sudah kerja tetap dan bisa membiayai kita semua, Sangri janji akan pulang sering-sering.”

Ibunya mencium ubun-ubunnya. “Jangan membebani dirimu sendiri. Apa pun itu, Ibu menyayangimu, Nak.”

Suara lembut milik ibunya cukup meluluhkan duka yang sempat merebak dalam dada dikarenakan Yixing yang tidak berkabar. Hari ini menjadi spirit baru bagi Sangri untuk menghadapi realita di kemudian hari. Motivasi yang besar bahwa sangat mungkin Yixing akan kembali, bagaimana pun keadaannya nanti.

 

—kkeut.

Wow, saya nggak menyangka saya bisa update lagi. Memang sudah nggak muncul berbulan-bulan, tapi saya hadir membawa kabar bahwa serial ini akan segera tamat, jad stay tuned menunggu seri-seri akhir ya! Dan, saya minta maaf pada pembaca yang sudah setia menunggu, karena kendala ujian akhir hingga menanti wisuda SMA, ditambah lagi laptop saya sakit agak lama, jadi molor banget. Saya usahakan seri selanjutnya lebih cepat update. Doakan, ya.

 

best regards,

Jung Sangneul

 

Advertisements

One response to “[YiSang’s Diary] #18: Three Months Left

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s