“Vulpecula” #5 by Arni Kyo

Vulpecula 3

Vulpecula #5

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Ha Minho (ex.P101 S.2)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0, 1, 2, 3, 4,

 

~oOo~

 

“Yeonsung?”. Junmyeon membelalakan matanya. Seperti sedang mengingat sesuatu.

“Yeonsung itu siapa? Selingkuhanmu?”. Tanya Hyojin langsung merajuk dan melepaskan tangannya dari lengan Junmyeon.

“Hyojin’ah, aku tidak selingkuh! Aigoo ~ kau ini cemburuan sekali”. Junmyeon buru-buru membujuk Hyojin. Ia mendelik pada Yeonsung, karena menyebut nama seorang gadis yang tak pernah ia kenal, pacarnya jadi merajuk.

Melihat adegan yang terjadi didepannya. Yeonsung tertegun.

“aku katakan padamu jika aku tidak mengenal kalian, apalagi Yeonsung itu tadi. Aku permisi”. Ujar Junmyeon dan langsung mengajak Hyojin pergi.

“tunggu”. Cegah Yeonsung. tanpa menoleh pada kedua orang yang menghentikan langkahnya lagi. “kalau boleh tahu, apa hubungan kalian berdua?”. Tanya Yeonsung.

“kau ini lancang sekali! Jangan mentang-mentang kau cantik jadi seenaknya menanyakan hal pribadi”. Hardik Hyojin dengan suara nyaring. Berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian.

“sudahlah, Hyojin’ah”. Junmyeon menenangkan Hyojin. “kami berpacaran. Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, kami akan pergi sekarang”.

Yeonsung diam.

Karena tak mendapat jawaban apapun, Junmyeon dan Hyojin kembali melangkah. Meninggalkan Yeonsung yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami.

“Yeon’ah…”.

“apa ini yang baba mu maksud dengan ‘menghilang’?”. Gumam Yeonsung.

Luhan merangkul pundak Yeonsung. melihat jika gadis ini seolah akan runtuh saat itu juga. Menghadapi kenyataan jika dirinya dan keluarganya telah menghilang. Bukan hanya wujudnya yang menghilang, tetapi juga menghilang dari ingatan semua orang yang pernah mengenal mereka.

Dijalan taman, Jaemin menggiring sepedanya. Berjalan berdampingan dengan Kimi. Sepulang sekolah ia mengajak Kimi jalan-jalan dan membelikan gadis itu es krim stroberi. Jaemin yang tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

“ada yang ingin kau bicarakan?”. Tanya Kimi tiba-tiba.

ne?”.

“kau tidak pernah mengajakku jalan-jalan seperti ini jika tak ingin mengatakan sesuatu, Jaemin’ah”. Ujar Kimi.

Jaemin tersenyum tipis. Kimi memang sangat peka jika menyangkut hal yang seperti ini. “Kimi’ya, apa kau menyukai lelaki itu tadi?”. Tanya Jaemin hati-hati.

“Kyungsoo?”. Kimi menebak siapa yang Jaemin maksud. Langkahnya terhenti. Ia membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah penasaran Jaemin. “kenapa? Kau cemburu?”.

“tidak. Tidak mungkin aku cemburu”.

Kimi memanyunkan bibirnya. “padahal aku berharap kau cemburu”. Ujar Kimi. Ia kembali berbalik. Mendongak menatap langit yang tampak mulai gelap karena hari menjelang malam.

“ya ~ apa aku boleh cemburu?”.

“jika cemburu tanpa alasan yang jelas, tentu saja tidak boleh”. Jawab Kimi lalu tersenyum penuh arti.

Jaemin berhenti sejenak. Memikirkan apa yang Kimi katakana tadi. Alasan yang jelas, ya? tentu saja ia punya! Karena ia menyukai Kimi sejak lama. Dan hanya bisa dekat dengan gadis itu sebagai teman.

Sejak kembali dari sekolah tadi. Yeonsung hanya diam, tak banyak bicara. Sekarang sudah hampir malam saat mereka menunggu bus di halte. Hendak kembali ke Seoul dengan kereta. Berjalan ke stasiun kereta api tak memungkinkan, karena keadaan Yeonsung sekarang.

“Yeon’ah, hari semakin gelap. Apa kau yakin ada bus yang akan lewat?”. Tanya Luhan.

Perasaannya tidak enak. Sejak tadi mereka duduk disini, tak ada satupun bus yang lewat. Dan jalanan juga semakin sepi. Terakhir ada seorang kakek bersepeda yang lewat, itupun sudah sekitar 30 menit yang lalu.

“entahlah. Sepertinya ada”. Jawab Yeonsung dengan suara lemas.

Luhan tak mengatakan apapun lagi. Ia hanya bisa bernyanyi pelan mengurai kebosanan. Memang ia tipe yang tidak bisa diam terlalu lama.

Lalu beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Dari penampilannya seperti seorang artis tahun 70-an. Luhan hampir tersedak melihat wanita itu. Namun kemudian ia membungkuk.

“kalian menunggu bus?”. Tanya wanita itu.

“ya, ahjumma. Apa ada bus yang akan lewat? Atau mungkin taksi? Kami harus ke stasiun”. Jawab Luhan.

“tidak ada. Bus terakhir adalah saat anak-anak pulang sekolah. Taksi juga jarang”. Balas wanita itu. Ia kemudian melirik Yeonsung yang tak mengatakan apapun, hanya menatap kosong ke aspal.

“kalau begitu, apa ada cara lain agar kami bisa pergi ke stasiun?”. Tanya Luhan.

Wanita itu menggeleng pelan. “besok pagi akan ada bis yang lewat. Tapi malam ini tidak ada lagi”. Jawabnya.

Wanita itu pergi setelah bercakap dengan Luhan. Ia memberitahu Luhan soal penginapan yang ada diseberang jalan, mungkin saja mereka ingin bermalam. Karena Luhan berkata jika mereka tak punya kenalan sama sekali disini.

Kedua orang itu belum beranjak dari halte bis. Luhan tak berani mengajak Yeonsung menginap di penginapan yang lebih mirip seperti hotel cinta.

Meskipun ini bukan Yeonsung yang dulu, yang mungkin saja akan menamparnya sekuat tenaga jika menyentuhnya sedikit saja. Tetap saja Luhan takut.

“celaka”. Ujar Yeonsung.

“apa?”.

Yeonsung menoleh pada Luhan. “sepertinya memang tak akan ada yang lewat, Lu”. Ujar Yeonsung. akhirnya ia tersadar dari lamunannya.

“lalu bagaimana?”.

Mata Yeonsung mengarah pada penginapan yang tadi dikatakan oleh wanita paruh baya itu. Luhan menoleh bergantian pada Yeonsung dan arah tatapannya. “kau serius?”.

“mau bagaimana lagi. Ayo kesana”. Ujar Yeonsung.

Luhan menatap gedung bertingkat dua yang ada didepannya kini. PEINAPAN CHEON. Luhan menaikkan alisnya. Ia tidak salah baca. Terdapat kolom kosong pada plang nama itu. Mungkin huruf NG nya sudah lepas.

“apa mereka menerima anak SMA seperti kita? Bagaimana jika kita ditangkap petugas nanti? Kita masih pakai seragam”. Ujar Luhan panic.

“tenang saja. Disini aman. Temanku dulu pernah kesini dengan seragam sekolah bersama pacarnya”.

Sebuah jawaban yang membuat Luhan menganga. Jadi benar dugaannya. Ini seperti hotel cinta.

Saat mereka masuk kedalam penginapan ini. wanita paruh baya yang tadi menghampiri mereka, menyambutnya kini. ternyata ia adalah pemilik penginapan ini. nyonya Cheon.

“selamat datang. Aigoo ~ akhirnya kalian datang juga”. Ujarnya dengan nada centil.

ahjumma, apa ada kamar kosong?”. Tanya Yeonsung langsung pada intinya. Ia juga menyembunyikan Luhan dibelakangnya, meskipun tidak tertutup sepenuhnya karena tubuh Luhan lebih tinggi darinya.

Nyonya Cheon memeriksa buku tamu untuk memastikan ada kamar kosong yang bisa ditempati oleh pelanggannya. “hanya ada satu kamar. Ingin ambil tidak?”. Ujarnya.

“baiklah”. Jawab Yeonsung.

Nyonya Cheon memberikan kunci kamar pada Yeonsung. “kamar nomor 12 dilantai dua, letaknya diujung lorong”. Ujar Nyonya Cheon. Yeonsung segera membayar uang penginapan dan uang untuk makan malam ini.

Yeonsung tak menjawab dan langsung pergi ketempat yang sudah diberitahu. Luhan mengikutinya dari belakang. “ya ~ kau tidak apa-apa tidur denganku?”. Tanyanya dengan suara pelan.

“aku lelah sekali. Sungguh!”. Jawab Yeonsung seraya menaiki tangga.

“aku juga, sih”. Gumam Luhan. “apa benar hanya ada satu kamar yang kosong?”. Ia bicara pada dirinya sendiri. Karena sejak ia duduk dihalte tadi, ia tak melihat begitu banyak orang yang masuk kesini.

Lorong dilantai dua tampak sepi. Hanya ada 12 kamar dipenginapan ini. 6 kamar dimasing-masing lantai. Selain itu, disini juga bisa sekedar minum atau makan seperti restoran, tempatnya dilantai satu ketika pertama masuk.

Yeonsung yang memegang kunci kamar mereka, segera membuka pintu. Jujur saja ini adalah pertama kali baginya masuk ke penginapan – bersama seorang lelaki. Biarpun bukan pertama kali bagi tubuh ini.

“lumayan”. Ujar Luhan mengomentari kamar tersebut.

Pintu tertutup dan dikunci.

Hanya ada satu ranjang yang tidak terlalu besar disana. Luhan memeriksa kamar mandi. Ada air didalam gentong dan sebuah kloset. Yeonsung segera duduk diatas tempat tidur. Kakinya terasa sangat nyeri.

“jika kau mau mandi, duluan saja, Lu”. Ujar Yeonsung.

“baiklah kalau begitu”. Jawab Luhan.

Diletakkannya tasnya didekat ranjang. Luhan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Terdengar suara pintu diketuk, Yeonsung membuka pintu kamar.

Nyonya Cheon berdiri dibalik pintu, ditangannya membawa nampan berisi dua ramyun cup dan minuman ringan. Sedangkan dilengannya dikaitkan sehelai handuk. “jika ada yang kalian perlukan, panggil saja aku dengan telpon dikamar ini”. ujar nyonya Cheon.

Yeonsung menyambut nampan dan handuk ia sampiran dibahu. “terima kasih, ahjumma”. Ucapnya.

Nyonya Cheon mengedipkan sebelah matanya. Yeonsung hanya bisa mendengus lalu menutup kembali pintu kamarnya. Ia meletakkan nampan diatas meja buffet. Lalu teringat akan Luhan yang sedang mandi.

“ah, jadi didalam sana tidak ada handuk?”. Gumam Yeonsung.

Dengan keberanian yang ia kumpulkan. Akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi. “ya, Yeon’ah?”.

“Lu, bisa kau buka pintunya sebentar? Aku ingin memberikan handuk”. Ujar Yeonsung.

Luhan melihat sekelilingnya, dan baru menyadari jika didalam sini memang tak ada handuk. Dengan hati-hati ia membuka pintu. Dibuka sedikit saja untuk ia bisa mengulurkan tangan, mengambil handuk yang akan Yeonsung berikan.

“terima kasih”. Ucapnya.

“ya”.

Wajah Yeonsung memerah. Ia baru merasa malu sekarang. Oh! Dia sekarang sedang berada di penginapan. Bermalam. Hanya berdua. Dengan seorang lelaki. Astaga!!! Jika dia dalam tubuhnya yang asli saat ini, maka sudah dipastikan ia akan digantung dengan kepala dibawah oleh ayahnya.

Tapi Yeonsung yang ini berbeda. Kehidupannya benar-benar bebas. Atau lebih tepatnya, tak ada yang peduli.

Kediaman Park Jungsoo.

Chanyeol tampak sibuk dengan laptopnya sejak tadi. Jadi ia mengabaikan Rin yang berkunjung malam itu. Karena Yeonsung sakit, jadi pekerjaannya kini bertambah. Selain mengurus bisnis ayahnya, ia juga mengurus bisnis Yeonsung.

oppa ~ sampai kapan kau sibuk?”. Rin merengek sambil mengusal dilengan Chanyeol.

“tunggu sebentar lagi, Rin’ah. Aku juga sedang berusaha menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat”. Ujar Chanyeol tanpa mengalihkan matanya dari laptop.

Rin memanyunkan bibirnya. Ia pun beranjak naik ke ranjang, berguling disana tanpa merasa canggung sedikitpun. Rin sedang meneliti sesuatu. Sejak ia datang, ia tak melihat Yeonsung. bahkan sejak tadi kamar Yeonsung yang berada tepat disebelah kamar Chanyeol tak terdengar apapun.

oppa, Yeonsung dimana?”. Tanyanya kemudian karena terlalu penasaran.

“entahlah, mungkin diapartemen Minho”. Jawab Chanyeol.

Mendengar nama itu disebut, Rin mendadak merengut. Apartemen Minho, ya? cih… menyebalkan sekali jika membayangkan mereka berdua. Pikir Rin.

“bukankah itu berarti kita aman malam ini, oppa?”. Ujar Rin. Sedang menggoda Chanyeol.

“aman maksudmu?”. Chanyeol menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap Rin yang saat itu berguling diatas tempat tidurnya.

“kau berpura-pura polos lagi? Astaga! Itu kan sudah lama sekali”.

Chanyeol tersenyum menyeringai. Ia mengangguk kemudian menutup pekerjaannya. Ia bangkit, menghampiri Rin. Mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu.

Minho terlihat kesal. Sejak tadi ia berkutat dengan ponselnya, berusaha menghubungi Yeonsung. tetapi tak mendapat jawaban. Dan beberapa menit yang lalu nomornya tidak aktif lagi.

“kau ini kenapa?”. Tanya Hongwon yang tampaknya mulai risih dengan Minho.

“aku kesal”.

“tumben sekali. Ada apa?”. Sunwoo yang merasakan hal yang sama dengan Hongwon pun ikut bertanya. Jarang sekali mereka melihat Minho seperti sekarang. Biasanya pria itu tak pernah berlarut jika ada masalah.

Alcohol. Judi. Seks.

Cukup untuk menghiburnya. Tetapi sejak tadi Minho tak menyentuh sedikitpun beer yang disediakan oleh Hongwon.

“apa kalian melihat Yeongsung hari ini? sejak tadi ia menghilang dan tidak menjawab telponku”. Ucapnya akhirnya.

Teman-temannya saling pandang dan menggeleng. Menandakan jika mereka tidak tahu.

“ah, Luhan juga tidak masuk lagi hari ini. tadi pagi aku melihat mereka setelah bel masuk berbunyi”. Ujar Jaemin mengingat lagi, tadi pagi saat ia baru akan ke kelas. Jaemin melihat Luhan dan Yeonsung dari jendela lantai atas.

“kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?”. Geram Minho.

“kau kembali menyukainya, Minho’ya?”. Jaemin malah bertanya. Dengan wajah tanpa ekspresi, tapi nampak jelas guratan ingin tahu dari tatapannya.

Pertanyaan yang berhasil membuat Minho bungkam. Sejujurnya ia juga belum tahu tentang perasaannya saat ini. disisi lain ia menginginkan Rin. Tapi disisi lain, ia juga kembali menginginkan Yeonsung.

Gadis yang menghadapi kematian lalu kembali hidup setelah ia campakan didepan teman-temannya ini.

“entahlah, aku tidak yakin”. Jawab Minho dengan suara pelan.

“luar biasa. Ini pertama kalinya aku melihatmu galau karena seorang gadis”. Hongwon bertepuk tangan. Sebagai teman yang mengenal Minho sejak SMP, Hongwon tentu yang paling tahu soal Minho.

“sepertinya Yeonsung mulai menarik bagimu”. Imbuh Sunwoo. Sebenarnya ia sedang mengejek.

“sebaiknya kau segera memilih sebelum kehilangan keduanya, Minho’ya”. tambah Jaemin.

Teman-temannya mengangguk setuju dengan perkataan Jaemin barusan. Berbeda dengan Minho yang merasa semakin bimbang. Siapakah yang harus ia pilih sekarang.

Rin sudah berubah menjadi seperti Yeonsung yang dulu. Bersikap seperti psiko dan arogan. Sedangkan Yeonsung malah terlihat polos. Dan kerlingan mata gadis itu benar-benar membuat Minho luluh.

Ia baru menyadari jika gadis itu benar-benar cantik setelah ia bangun dari kematian.

Karena tidak membawa pakaian ganti, dan disekitar sini tak ada toko pakaian yang buka malam hari. Maka Yeonsung dan Luhan hanya memakai kimono mandi untuk malam ini. setelah Yeonsung mandi, Luhan menyedu ramyun cup yang diberikan oleh Nyonya Cheon tadi.

“maaf, ya, karena aku kita harus bermalam disini”. Ujar Yeonsung setelah menyumpit ramyunnya.

“tidak apa. Jangan dipikirkan. Makanlah, lalu tidur”. Ucap Luhan. “aku akan tidur dilantai”. Tambahnya.

Yeonsung diam. memakan ramyun nya hingga habis. Mereka sama-sama kelaparan dan kelelahan karena perjalanan hari ini.

Yeonsung naik ke atas tempat tidur. Ia meluruskan kakinya. “uh, Lu, bisa bantu aku membuka gif ini?”. pinta Yeonsung.

Segera Luhan duduk dipinggiran tempat tidur, diujung kaki Yeonsung. karena gadis itu hanya memakai gif plastic yang bisa dilepas, jadi ia ingin melepaskannya saat tidur. Tanpa berkata, Luhan membuka gif dikaki Yeonsung.

Terdengar suara isakan pelan dari gadis itu. Luhan menghentikan kegiatannya membuka gif. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Yeonsung menangis.

“apa sakit? Maaf, aku tidak berpengalaman membuka benda ini”. ujar Luhan merasa telah menekan luka jahitan dikaki Yeonsung yang sebenarnya sudah sembuh.

“t-tidak. Aku – aku tidak merasa sakit karena itu”. Jawab Yeonsung ditengah isaknya. Dengan cepat ia mengusap airmatanya menggunakan punggung tangannya sendiri.

“lalu?”.

“dilupakan itu – rasanya sangat menyakitkan, Lu”. Jawab Yeonsung pelan. Hampir hilang didalam keheningan.

Luhan menganga. Jadi karena itu. Mungkin Yeonsung benar. ia jauh-jauh datang kemari untuk menengok ayah dan ibunya, tapi yang ia dapati sekarang, rumah mereka telah berubah menjadi hutan pohon kering. Dan saat ia menemui teman lamanya, bahkan mereka seperti tak pernah mengenal nama ‘Yeonsung’.

Perlahan, Luhan mendekati gadis itu. Merengkuh tubuh lemah itu kedalam dekapan hangatnya. Luhan bukan tipe lelaki yang tega melihat seorang perempuan menangis didepannya.

“menangis saja. Aku akan mendengarkan suara merdu tangisanmu, Yeons’ah”. Ucap Luhan sambil menepuk pelan punggung Yeonsung.

Gadis itu menangis dalam pelukan Luhan. Tak lama kemudian tangisannya reda. Tetapi Luhan terus memeluknya.

“Lu –“.

“ya?”.

“aku menyukaimu”.

Hening.

Yeonsung menggenggam erat kimono Luhan yang ada didepannya kini. sebenarnya ia malu sekali. Tetapi ia harus mengatakan itu! Harus! Tak ingin terlambat lalu menyesal. Seperti yang ia alami.

Jika saja – ia sempat mengatakan jika ia menyukai Junmyeon, mungkin ia tak akan terlalu menyesal. Dan sekarang kenyataannya Junmyeon telah bersama Hyojin. Yeonsung merasa benar-benar kecewa. Merasa dikhianati. Merasa menyesal. Saat Junmyeon mengatakan jika ia menyukai Yeonsung, gadis itu malah mengalihkan pembicaraan. Dan tak sempat mengakui perasaannya sendiri.

Yeonsung tak ingin hal itu terjadi lagi. Maka ia mengutarakan perasaannya pada Luhan. Sebelum hal buruk terjadi lagi.

“Yeon’ah”. Luhan melepas pelukannya. Menangkup wajah gadis itu. Mata yang tampak memerah karena menangis itu menatap Luhan dengan penuh harap.

“aku hanya mengatakan apa yang kurasakan. Kau tidak perlu membalasnya”. Ucap Yeonsung seolah putus asa, merasa jika Luhan tak menyukainya juga.

“kau salah! Aku akan tetap menjawab. Karena aku juga menyukaimu”.

Senyuman mengembang diwajah Yeonsung. Luhan mengusap airmata Yeonsung dengan ibu jarinya. Membalas senyuman gadis itu.

Wajah Luhan mendekat, Yeonsung memejamkan matanya kala bibir hangat Luhan menempel dibibirnya. Bibir itu bergerak pelan diatas bibirnya. Yeonsung merasakan sensasi yang aneh. Sial sekali karena ia malah mendapat ciuman pertama dengan keadaan di dalam tubuh orang lain.

Yeonsung mulai mengaitkan kedua lengannya dileher Luhan. Pria itu semakin memperdalam ciumannya. Tangan Luhan juga memeluk pinggang Yeonsung erat. Ciuman itu memabukan bagi Yeonsung.

Setidaknya aku tidak berciuman dengan Minho lebih dulu ketika berada dalam tubuh ini. pikirnya.

Lalu malam itu – Luhan tidak jadi tidur dilantai. Ia tidur diatas tempat tidur bersama Yeonsung didalam pelukannya. Ini adalah pertama kalinya ia tidur dengan seorang gadis. Luhan tak bisa terlelap, ia malah terus memandangi wajah Yeonsung yang tertidur.

Pagi-pagi sekali, mereka sudah bergerak untuk pergi stasiun. Sebelumnya Nyonya Cheon memberikan sarapan berupa sup ayam ginseng untuk Luhan dan Yeonsung, jadi mereka bisa pergi dengan nyaman setelah sarapan.

Pagi hari disini sangat beda dengan malam hari.

Cukup ramai. Karena siswa yang bersekolah di SMA sini datang dari berbagai desa sekitar. Juga ada pasar kecil didekat halte. Pasar tempat petani menjual hasil kebun mereka. Dulu, ibu Yeonsung juga sering berjualan disana.

“apa kita disebut selingkuh?”. Tanya Luhan dalam perjalanan menuju ke Seoul.

Yeonsung menoleh dan menatap Luhan. “eem… entahlah”. Jawabnya lalu terkekeh.

Kereta berangkat lebih pagi daripada kereta yang mereka naiki kemarin. Tetapi lama perjalanan tetap sama. 3 jam menuju Seoul.

“aku berpikir untuk memutuskan hubunganku dengan Minho. Karena ia sendiri mengkhianatiku”.

“bukan kau, tapi pemilik tubuh ini”.

“ah, iya itu maksudku”. Yeonsung menarik napas dalam. “bagaimana menurutmu? Jika dia setuju, maka kita bisa bersama”.

Luhan mengangguk pelan. “begitu lebih baik daripada kau harus membalas perbuatannya”. Jawab Luhan.

“dan – aku tahu harus jadi siapa aku sekarang”. Ujar Yeonsung lagi. “aku akan tetap menjadi diriku dengan sedikit bumbu Yeonsung yang dulu. Aku membutuhkanmu untuk tetap bersamaku, Lu”.

“aku akan tetap bersamamu, Yeon’ah”.

Yeonsung tersenyum malu, jemarinya diselipkan pada jemari Luhan. Lalu ia menyandarkan kepalanya ke pundak Luhan. “uh, ngomong-ngomong sejak kapan kau tahu kalau aku bukan roh yang asli?”.

“ah, itu dia – mungkin sejak baba memberiku gelang ini”. Luhan menunjukkan gelang pemberian ayahnya yang-sampai-saat-ini tak bisa dilepas dari pergelangan tangannya. “kau ingat saat aku pernah menjengukmu sebelum pulang dari rumah sakit. Nah, saat itulah aku melihat roh lain mengisi tubuh Yeonsung”.

“whoa… ajaib sekali benda dari baba mu. Dia kemarin juga mengerjaiku”. Gumam Yeonsung, mendadak teringat saat ayah Luhan mengerjainya dengan cermin.

Ditempat lain dikantornya, Lu Hwang Li bersin-bersin dan bergidik. Karena Luhan dan Yeonsung mengumpatkan dirinya.

“dan soal penelpon misterius itu, aku yang melakukannya”.

Luhan mengantar Yeonsung sampai ke dalam kamarnya. Gadis itu tampak sedikit demam. Untunglah saat mereka tiba di rumah, Chanyeol tidak ada.

Tangan Yeonsung meraih lengan Luhan yang duduk di pinggiran tempat tidurnya. “Lu – sebaiknya kau pulang”.

“baiklah”.

“nanti kau boleh kesini lagi, temani aku”. Ucap Yeonsung dengan lemah.

Luhan mengangguk mengerti. Ia menyuruh Yeonsung untuk berbaring sejenak. Gadis ini pasti mabuk perjalanan. Setelah Yeonsung aman dibawah selimutnya, ia pun membungkukan tubuhnya. Mendaratkan sebuah kecupan dikening Yeonsung.

Tok tok…

Suara ketukan dipintu kamar Yeonsung terdengar. Tak lama suara Hayeon memanggilnya dari luar. “nona, apa aku boleh masuk?”. Tanya Hayeon.

“ya, silahkan”. Ujar Yeonsung.

Pintu kamar terbuka. Hayeon masuk membawa teh hangat seperti yang diminta oleh Luhan tadi saat mereka baru sampai.

“yasudah kalau begitu, aku pulang dulu. Jangan lupa ganti bajumu”. Ucap Luhan.

Yeonsung hanya tersenyum dan mengangguk saat Luhan beranjak pergi dari kamarnya. Hayeon segera menyiapkan pakaian ganti untuk Yeonsung. sedangkan gadis itu terjaga untuk mencoba teh nya.

“Hayeon’ah, jika Minho datang katakan padanya aku tidak ingin bertemu”. Pinta Yeonsung.

“baiklah, nona. Tapi bagaimana jika dia menerobos masuk?”.

“aku lelah dan tidak enak badan, jadi aku tidak ingin diganggu olehnya”. Ujar Yeonsung lagi.

Baru saja Yeonsung selesai mengucapkan kalimatnya, ponselnya berdering. Panggilan video dari Minho. Yeonsung menatap datar ponselnya sambil membuka almamater dan kemejanya. Hayeon memberikan selembar baju yang akan dipakai Yeonsung.

“ah, makhluk ini benar-benar mengganggu”. Gumam Yeonsung.

omo”. Hayeon membelalakan matanya. “nona, kau benar-benar sudah move on dari tuan Minho?”. Tanya Hayeon tak percaya.

“yaaaa…. Bisa dibilang begitu. Aku sudah berpaling hati pada Luhan, yang tadi mengantarku itu. Bagaimana menurutmu?”. Yeonsung mendadak bersemangat saat membicarakan soal Luhan.

Hayeon terkekeh pelan. “jujur saja, nona, tuan Luhan lebih tampan dan lebih cocok bersamamu daripada Minho”. Jawab Hayeon.

Mendengar jawaban itu, Yeonsung jadi kegirangan sendiri. Cocok? Ah, benarkah? Lalu dua orang itu asik membicarakan soal Luhan, sementara ponsel Yeonsung terus berdering.

Risih!

Sungguh!

Bayangkan saja, Minho terus menelpon walaupun tidak diangkat. Mungkin karena ia terlalu bersemangat setelah semalaman ponsel Yeonsung tidak aktif. Akhirnya Yeonsung yang menyerah, diraihnya ponselnya untuk mengangkat panggilan video tersebut.

“ada apa?”.

kenapa kau baru mengangkat telponku? Kau dimana?”.

Dari latar belakang tempat Minho menelpon, Yeonsung dapat melihat tempat itu adalah sekolah. Pria itu juga mengenakan seragam sekolahnya.

“aku demam dan aku dirumah. Ohya, tidak perlu membesukku, aku hanya demam biasa”.

kau demam? Sejak semalam?”. Tanya Minho lagi. Terlihat ia berputar hingga menghadap jendela agar wajahnya terlihat jelas bagi Yeonsung.

“ya, begitulah. Ah, nanti jika aku sudah sembuh, aku sendiri yang akan menemuimu”.

Minho tersenyum. Ia terus mengoceh, tetapi penglihatan Yeonsung menangkap hal lain. Diambang pintu ia melihat sosok Rin, dengan wajah tak suka melihat Minho yang saat itu sedang menelpon Yeonsung.

“kepalaku pusing sekali, mungkin karena benturan saat kecelakaan dulu. Aku ingin istirahat sekarang”.

Yeonsung menepati perkataannya.

Malam hari saat ia merasa sudah lebih baik. Ia benar-benar datang menemui Minho. Minho yang kala itu tak berada diapartemen, melainkan dirumah Hongwon pun menyuruh Sunwoo untuk menjemput Yeonsung.

Sesampainya disana, ternyata mereka semua sedang berkumpul. Alih-alih mengerjakan tugas bersama, mereka malah bermain kartu dan minum. Yang terlihat benar-benar belajar hanya Dongmin, Kimi dan Jaemin.

“ah, ternyata sedang berkumpul”. Ujar Yeonsung saat memasuki ruangan.

“Oh, Yeon’ah, kau sudah datang”. Sambut Minho.

Yeonsung langsung duduk dishofa seberang Minho. Tatapannya langsung tertuju pada Rin yang tampak sangat menempel pada Minho. Lalu gadis itu hendak beranjak. “lupakan. Kau tidak perlu pindah ketempat lain hanya karena ada aku”. Ujar Yeonsung yang terdengar sinis.

Suasana jadi sedikit tegang.

Mereka diam dan hanya saling bertukar pandang. Sadar jika kemungkinan perang dunia kedua akan terjadi lagi. Dan penasaran siapa yang akan mencoba bunuh diri lagi setelah ini.

Oh – Yeonsung mendapatkan ingatannya kembali! Seru mereka dalam hati.

“Yeon’ah ini tidak seperti yang kau pikirkan”. Rin berusaha member pembelaan.

“memangnya kau tahu apa yang ku pikirkan, Rin’ah?”. Tanya Yeonsung diiringi dengan seringaian khasnya.

“ya ~ kita semua berteman dan sudah biasa dekat seperti ini”. kali ini Minho yang memberikan pembelaan.

Yeonsung menggaruk pelipisnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Jujur saja, ia gugup berada disituasi yang seperti ini. bagaimana jika Rin tiba-tiba menyerangnya atau semacamnya?

“kita akhiri saja”. Ucap Yeonsung kemudian.

“Yeon’ah, kenapa –“.

“kenapa? Bukankah saat kejadian aku kecelakaan waktu itu tepat setelah kau memutuskanku dan memilih Rin? Ya ~ yang amnesia itu aku, bukan kau! Jangan berpura-pura lupa setelah aku ingat, Minho’ya”. oceh Yeonsung panjang lebar.

Kimi mengangakan mulutnya lebar, terkejut dengan sikap Yeonsung. ya! Yeonsung yang seperti inilah yang ia harapkan dari dulu. Berhenti bergantung pada si brengsek Minho, Yeonie! Sorak Kimi dalam hati.

“cih… jadi kau benar-benar sudah ingat? Kenapa firasatku mengatakan jika kau belum ingat sesuatu? Ekspresi wajahmu mengatakan begitu”. Pungkas Minho.         Matanya pun melirik seseorang yang kemungkinan telah memberitahu soal ini pada Yeonsung.

Hampir saja – hampir Yeonsung mengubah ekspresinya menjadi panik. Namun ia melihat tumpukan kartu yang dipegang oleh Hongwon yang duduk disebelahnya. Yeonsung merampas kartu tersebut dari tangan Hongwon. Kemudian melemparnya ketengah meja hingga kartu-kartu itu berhamburan.

“aku ingin putus darimu”. Desis Yeonsung.

“aku menolak keputusanmu”. Balas Minho dengan ekspresi keras. Jawabannya berhasil menghancurkan hati Rin yang sudah banyak berharap padanya.

“taruhan kartu”. Ujar Yeonsung. tatapan mereka tak terlepas satu sama lain. Seolah meyakinkan Minho jika Yeonsung yang lama telah kembali. “jika kau mendapat kartu yang lebih besar, maka keputusan ada padamu. Begitu juga sebaliknya”.

Minho berpikir sejenak. Diliriknya kartu yang berhamburan di atas meja. Taruhan yang menarik sebenarnya, jika saja bukan tentang pertahuhan hubungannya dan Yeonsung. tanpa menjawab, Minho menarik selembar kartu dari meja.

Begitu pula Yeonsung.

Minho membuka kartu miliknya. Lalu tersenyum miring.

“ya ~ Yeon’ah, kau tidak bisa lepas dariku”. Ujar Minho kemudian.

Yeonsung menggigit bibirnya sendiri, menatap nanar pada kartu yang ia pegang sekarang. Minho melempar kartu yang ia ambil keatas meja. Teman-temannya langsung penasaran untuk melihat kartu milik Minho.

King Sekop

Yeonsung menatap tajam Minho yang tersenyum mengejeknya.

TBC

Hehehehee…. Hayoooo jujur siapa yang menanti adegan NC nya? /evil smile/

Belum kepikiran sih sebenarnya, tapi bakal ada kalo ada ide soalnya NC scene buat FF ini ada di draf awal sebelum FF diketik.

Ohya, btw, Cuma sekeda curhat nih.. bikin FF itu ngga gampang. Perlu nyusun kata, nyusun kalimat, nyusun scene, dsbg. Jadi tolonglah kalian apresiasi dgn baik ^^ bukan Cuma unt FF ini sih, tp juga FF dari author lain. Karena aku pernah liat ada FF masuk top post tp ngga ada yang comment. Itu gimana dah bisa begitu :”v dikomen juga kalo sekedar ‘bagus thor’ ‘lanjut thor’ jujur saja, jadi sedikit eeerrrr terbebani. Ya begitulah….

And…. So sorry for that (HanYeon) kiss scene at wrong situation XD < korban nonton kiss scene Luhan di drama :”””””v poteek dedeq ge :”””3

Em… gitu aja deh keanya XD

Jangan lupa Like & Comment gengs ^^

 

Advertisements

45 responses to ““Vulpecula” #5 by Arni Kyo

  1. Akhirnya yang ditunggu!!!
    Yeonsung minta putus dan jadian sama Luhan, btw kartu Yeonsung apa?
    Next chapt ditunggu!!

  2. kasian yeounsung tak di ingat lagi sm temen2 lamanya…waach jadi mereka udah bersama nih hanyeon😊 hihih
    sebel sm minho egois banget sumpah deh.
    d tunggu lanjutannya thor☺☺

  3. 1…2..3…YEONIE…!!YEONIEE..!!yuhuuuu…
    Kimi & Raerin bersatu jdi pemandu sorak putusnya hubungan minho-yeonsung.. dan jdiannya yeonsung – luhan..

    ini chap yg pling aku tunggu thor…!!
    gumawho…gumawhoo..

  4. OMG luhan sama yeonsung jadian? Tapi kayaknya bakal sulit ya lepas dari Minho. Luhan tendang aja tuh Minhonya dari yeonsung, tendang yang jauh lu.. hihihi
    Author ditunggu ya next chapternya😄 fighting😊😊

  5. Rame bner ini seru ceritanya!! Haaa!! Aku sngt shock dg Yeonsung yg tiba2 ngungkapin cinta ke Luhan!! Duuh! Untung Luhan ngebales.. haha 😂😂 eh tp bner emg sakit klo dilupain sma org2 yg kita syg… eh itu… trnyata yg nelpon yeon adl Luhan.. ooh… ngakak bener td pas baba Luhan keselek gegara HanYeon ngomongin bly.. wkwkwk 😜 ini cerita antara Yeonsung n Minhoo bkalan kebalik…! Kalo dlu Yeon yg ga mw putus.. skrg giliran minhoo yg g mw ngelepas Yeonsung! Karma berlaku! 😁 apa ya bner kartunya Yeon lbih kecil ya? Tp bklan lbih rame klo dy kalah sih.. jd ada drama yg bkln tercipta antara luhan yeonsung n minho.. 😂😂😂

    • rame masa unni XD
      dia ungkapin sebelum menyesal loh unni… sakit kan unni sakiiiit/?
      karma tuh wkwkwk makanya jangan sembarangan nyakitin org :’v
      ditunggu dinext chapter aja unni jawabannya XD

      • Iya… ada satu yg ketinggalan… dari chapter kemaren lupa 😂😂 just wanna say “Chukkadeureumnida” bwt ssaeng Arni!! FF nya masuk TopPost!! #LedakinKembangApi 👏👏👏👏 😄😄😄😄

  6. Keren thor, sorry baru koment..q mendukung yeonsung sm lu han, rin sm min ho aja, kasian yeonsung gwangju t orngx polos, q suka gaya yeonsung yg skrng, min ho sm rin kasih pelajaran aj thor …smoga cepat d publish..jgn d protect ya thor

  7. naaaaah kan naaah kan. yg nelfon Yeon waktu itu si Luhan 😄😄
    yeaak. luhan udah deket sama yeon 😍😍
    ditunggu next chap nya kak.
    #jeosong-saja aka Orange

  8. Dari awal part gue ngga bisa bayangin Minho Produce 101. Yang ada di kepala gue malah Minho Shinee. Tuh mukanya kan songong2 nyebelin plus playboy kadal

  9. Jadi ini luhan ama yeonsung statusnya apaan?? Maunya minho apa sih dulu ajh dia udah ngebuang yeonsung skarang malah kgk mau putus!? Udah cinta ama yeonsung yh?? Eh eh kok kluarganya yeonsung desa kgk ada yg ngenal ada apa ini?? Hm oh yh eonn emg nanti bkal ada chapter NCnya? Yh?? Kkk eonn mian komenku kurang panjang soalnya tadi aku komen panjang bgt tapi kgak kekirim *huhuhu,, mian juga yh eonn baru komen, aku bru baca soalnya,, next eonn hwaitinggg,,

  10. gk nyangka hehe klo luhan yg nelpon… ahh suka deh sma jalan ceritnya,, slalu fresh dan bkin penasaran!~ keeep writing and hwaiting !

  11. Wah……..ngajak ribuk si monho dan rin neh…..
    wow….luhan dan yeon….asik….
    iya asik mereka jadian,walaupun ya….kyak gitu deh…
    iya kami tau kalau menulia ff it ga mudah authornim….

  12. uhuy saya suka kalo ff yg maen castnya luhan
    betewe ka aku ngomennya ke chap 5 ae ngga semua chap kukomenin

  13. ini kapan nih ada NC wks /gk. udh satu kamar bgitu… aih gemes/? si minho itu kapan tobat… capek ati… rasanya rin ama minho itu direbus aja dah biar mateng otak ama hati nya… etdah ..
    oke keep writing and hwaiting unnie !

  14. Uh kasian yeonsung dilupakan keberadaannya di gwangju, sabar ya untung ditemenin luhan. Dan finally mereka saling mengungkapkan perasaannya tapi apa status mereka nih?
    Seneng banget yeonsung yg skrg lepasin si minho, rasain itu minho.
    Keep fighting ya!

  15. Akhirnya yeon ama luhan kiss ehh maksudnya pacaran 😀 putus sam minho emang pilihan yang tepat banget, ku muak sama dia, si rin belom putus sama chanyeol? Thor putusin mereka dong

  16. yeon &luhan so sweet banget 😍
    kapan chanyeol akan sadar klo rin udh selingkuh dibelakangnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s