Beautiful Stranger

beautiful-stranger-1

Twelveblossom’s | Twelveblossom.wordpress.com | Kai & Krystal as Summer Song | Romance, Fantasi, and Angst | PG 13 | Line@: @NYC8880L (use @)

Poster ini didesain oleh Alkindi

“… you look at me like you never seen me before.” ―She’s Dreaming, EXO

Cerita ini dibuat karena aku kebanyakan nonton Goblin hiks.

-oOo-

21 Agustus 2019

Summer Song lahir di tengah musim panas dua puluh delapan tahun lalu. Ia pun harus mengakhiri kehidupannya di musim yang sama. Tak ada yang mengira gadis yang memiliki kehidupan sempurna serupa Summer berusia begitu pendek. Seolah surga enggan merindu terlalu lama untuk mendapatkan jiwa si gadis itu lagi. Akan tetapi, banyak hal dalam kehidupannya yang belum usai.

Saat jiwa Summer duduk di toko teh Malaikat Maut, si gadis tak ingin meneguk cairan penghapus ingatan itu. Dia bergeming, satu-persatu airmatanya turun. Summer sama sekali tidak tahu jika kematian akan sebegitu menyakitkan. Suara tangisan dari orang-orang yang mencintainya terus saja mengisi rungu Summer. Kepedihan mereka membuat jiwa Summer gelisah dan merasakan duka yang mendalam. Summer menutup telinga, ia berharap apabila tangisan mereka segera menghilang dari pendengarannya.

“Minumlah teh ini untuk menghapus seluruh kenangan yang kau lalui di kehidupan pertamamu,” Malaikat Maut yang berwujud seorang pria jangkung pun mulai berucap. “Suara-suara yang kau dengar saat ini akan berhenti jika ingatanmu meluruh dari jiwamu,” lanjutnya.

Summer Song mengigit bibir. Ia tak lagi menutup telinga dengan tangan. Suara kepedihan tangisan kembali terdengar, ada sebuah suara yang menarik perhatian Summer. Dia kembali melelehkan airmata, setelah mengenali siapa pemilik dari duka itu. Summer memberanikan diri untuk menatap sang Malaikat Maut yang berpakaian serba hitam. Ia menelan isakan. “Bisakah kau memberiku satu kesempatan, agar aku dapat melihatnya?” tanya Summer, memohon.

Malaikat Maut tersenyum angkuh. Paras rupawannya mendominasi. “Aku menunggumu mengatakan ini,” dia sengaja memberi jeda sejenak. “Setiap kesempatan yang kau dapat nanti, harus ditukar dengan nilai sepadan. Jiwamu hanya diberi hak melihat orang yang paling kau kasihi dan orang tersebut harus mencintaimu lebih besar dari caramu mencintainya. Kau akan menemui orang itu untuk yang terakhir kali, hanya selama satu jam,” jelasnya.

Summer mengangguk. “Tidak apa-apa, asal diriku bisa sekali saja bertemu dengannya dan mengatakan jika diriku sangat mencintainya,” bisik Summer.

Malaikat maut itu menghela napas. “Kau akan bertemu dengannya pada musim panas tiga tahun lalu. Satu minggu sebelum pertemuan pertama kalian,” jelas si pria berpakaian hitam. “Itu artinya, saat dirinya belum mengenal dirimu,” imbuhnya.

14 Agustus 2016

Kim Jongin adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun. Ia kini bekerja di sebuah perusahaan penerbitan ternama di Seoul. Dia baru mulai karirnya sebagai penulis, sebelumnya Jongin berprofesi sebagai model. Ia tinggi, kulitnya kecokelatan, dan surainya hitam. Selain rupanya yang tampan, Jongin merupakan tipe pria yang ramah dan mudah dicintai.

Jongin menyukai banyak hal dan ia hanya tidak menyukai musim panas. Kepalanya mudah sekali pusing apabila terlalu banyak terkena terik matahari. Kendati demikian, musim panas pada tahun ini berbeda dari sebelumnya, dia bertemu dengan musim panas favoritnya.

Sewaktu itu, Kim Jongin berada gerai kopi kesukaannya pada akhir pekan. Ia suka duduk selama berjam-jam di sudut gerai kopi yang bersanding langsung dengan jendela. Bingkai itu memberikan gambaran langsung orang-orang yang berlalu-lalang. Kebiasaan kekanakan yang selalu dia lakukan adalah menghitung setiap orang yang lewat― dengan cara itu ia mengenang kembali kebahagiaan masa anak-anaknya dan menemukan inspirasi mengenai apa yang akan ditulisnya.

“Apa aku bisa duduk di sini?” tanya Jongin, pada wanita bersurai panjang yang kini menepati salah satu kursi favoritnya. Wanita itu mengalihkan atensinya dari menatap jendela ke arah Kim Jongin. “Aku tahu banyak kursi kosong, tapi hanya sudut ini yang langsung menghadap jendela,” imbuh Jongin, tanpa melupakan senyum manis.

Sementara wanita itu tertegun, rautnya sedih selama beberapa sekon, kemudian senyum simpul terpatri pada wajahnya yang cantik.

“Aku janji tidak akan mengganggumu. Aku perlu bangku ini untuk menemukan inspirasi―”

“―Kau tidak mengangguku,” potong si wanita bergaun selutut bewarna merah jambu itu. Ia menjungkitkan bibir simpul, menawarkan lesung pipi. “Kau bisa duduk di sini,” lanjutnya ramah.

“Terima kasih,” timpal Jongin senang. Ia segera menarik kursi di hadapan gadis itu, kemudian membuka Macbooknya.

Belasan menit berlalu, matahari semakin tinggi, akan tetapi tak satu pun dari mereka membuka suara.

Jongin cuek saja, dia mengira bahwa gadis itu memang tak ingin diganggu. Walaupun, dia merasa sedikit ganjil sebab biasanya wanita-wanita yang berada di dekatnya selalu penasaran mengenai Kim Jongin. Sedangkan, gadis ini sama sekali tak tertarik padanya.

“Kelihatannya, kau sangat suka memandangi jendela,” ujar Jongin pada akhirnya, memangkas keheningan.

Netra Summer mengarah pada Jongin sepenuhnya. Summer sengaja tak mengacuhkan Kim Jongin. Ia tahu benar jika pria itu merasa tidak nyaman ketika orang-orang di sekitar enggan memberikan perhatian padanya. Summer menjungkitkan bibir singkat, sewaktu ia menyadari bahwa betapa dia merindukan sikap kekanakan pemuda itu.

“Aku suka menatap jendela sambil menghitung berapa orang yang lewat, itu mengingatkanku pada masa kecil,” balas Summer yang sekali lagi mengimbuhkan kebiasaan Jongin.

Summer dapat melihat mata Jongin membola.

“Wah, kukira hanya aku yang punya kebiasaan seperti itu,” dia tertawa.

Summer menatap lamat-lamat bagaimana cara Jongin tertawa―mata pemuda itu menyipit dan ada kerutan tipis di ujung netranya. Dunia Summer seolah berubah menjadi sangat cerah, ia bahkan sanggup melupakan bahwa usia jiwanya di dunia ini hanya tersisa kurang dari satu jam. Dada Summer terasa sangat sesak mendapai kenyataan jika dirinya akan meregang nyawa, setelah tiga tahun pertemuan mereka ini. “Kebetulan yang luar biasa,” bisik Summer.

Jongin mengangguk. Dia melejitkan bahu, kemudian menunjuk cangkir kopi si gadis. “Apa kau tidak ingin memesan segelas kopi lagi? Cangkirmu sudah kosong,” tanya Jongin.

Summer menggeleng. “Satu cangkir kopi, cukup membuatku terjaga dua malam berturut-turut.”

“Aku justru mengantuk setelah minum kopi,” kata Jongin. Pria itu membalas pandangan Summer. Entah mengapa, cara gadis itu melihat dirinya terasa begitu dalam. Ada kesedihan dan kerinduan dalam sorot lawan bicaranya. “Jika sekarang aku bertanya siapa namamu, apa itu sopan?” lanjut Jongin.

Summer menyangga dagu dengan tangan kanan. “Yeoreum,” jawabnya. Summer tak memberitahukan nama aslinya, dia menyembunyikan segalanya.

“Yeoreum memiliki arti musim panas. Nama yang cantik.”

Nama yang cantik, batin Summer bersamaan dengan ucapan pria itu. Jongin juga mengucapkan hal yang serupa, ketika mereka pertama kali bertemu. “Pemikiranmu selalu seperti itu,” gumam Summer.

“Apa?” sela Jongin tak dapat mendengar suara Summer secara jelas.

“Ah, tidak. Aku punya teman yang mengatakan hal yang sama sepertimu,” koreksi Summer.

“Temanmu itu pasti laki-laki.”

Summer mengulum senyum. “Dari mana kau tahu?”

Jongin mengetuk jari-jarinya ke meja. Dia seolah berpikir keras. “Pasti dia merasa tertarik padamu,” ia bergerak untuk bersender pada kursi. “Karena pada dasarnya seorang laki-laki akan memuji apa pun yang ada pada diri seorang gadis jika dia menyukainya atau tertarik padanya,” imbuh Jongin.

“Kau baru saja melakukan hal yang sama. Apa artinya kau tertarik padaku?” tanya Summer yang langsung membuat Jongin terbatuk-batuk dan salah tingkah.

Jongin menegakkan tubuh, setelah selesai menguasai diri, ia angkat bicara. “Namaku Kim Jongin. Hanya berjaga-jaga siapa tahu kau penasaran dengan namaku, tapi kau terlalu malu untuk bertanya.”

“Aku tidak penasaran,” kelakar Summer. Dia menunjuk Macbook Jongin, “Aku lebih penasaran dengan apa yang sedang kau lakukan,” lanjutnya, tanpa lupa memberikan raut tertarik. Sebenarnya, Summer tahu benar apa yang ditulis oleh pria itu. Ia bahkan telah membaca cerita Jongin hingga akhir di masa depan. Summer ingin mengubah akhir cerita yang ditulis oleh Jongin.

“Aku sedang menulis cerita,” pemuda itu memberikan jeda sejenak. “Cerita yang sangat klasik tentang pria dan wanita berawal dari pertemuan sampai perpisahan. Tapi, aku tidak tahu cara mengakhirinya,” vokal Jongin.

“Bagaiman dengan kematian? Cinta mereka akan berakhir jika salah satu dari keduanya meninggalkan dunia ini.”

“Aku awalnya juga berpikiran begitu, namun saat mereka terlanjur jatuh cinta maka tidak ada jalan kembali. Apabila hanya salah satu saja yang meninggal yang lainnya tidak akan bisa lagi menemukan cara untuk bahagia,” Jongin berargumen.

“Lalu, si pria akan menyia-nyiakan hidupnya,” Summer tertawa sinis. “Seharusnya pria itu mengerti jika dia benar-benar mencintai gadisnya, maka ia harus menghapus semuanya,” imbuh Summer.

“Kenangan tidak bisa semudah itu dihapus. Ketika orang yang kita cintai meninggal, bukan berarti seluruh kenangan mereka ikut lenyap begitu saja,” ujar Jongin. Ia mengecap kopinya sejenak.

“Setidaknya, dia harus mencoba bahagia karena gadis yang meninggal itu akan sangat merasa bersalah dan berduka, ketika pria yang dicintainya menyengsarakan dirinya sendiri. Saat seorang wanita mencintai pria, dia hanya ingin prianya baik-baik saja,” Summer menelan kesedihan. Dia berusaha menyetabilkan intonasi agar tak terdengar emosional. “Hatinya pasti sangat hancur sewaktu tahu, orang yang dicintainya menderita karena dirinya,” imbuhnya sendu.

“Pria yang beruntung,” celetuk Jongin, setelah mendengar ungkapan Summer. Dia menatap Summer dengan keteduhan maniknya. “Pria yang akan kau cintai pasti menjadi orang paling beruntung. Aku jadi iri,” ujar Jongin.

Sudut bibir Summer terangkat beberapa derajat. Lesung pipinya menambah manisnya senyuman gadis itu. “Aku sangat senang apabila dia berpikir begitu,” Summer kembali menarik napasnya. “Aku jadi mengira-ngira, apa dia tetap akan merasa beruntung apabila wanita yang dicintainya ternyata tidak berumur panjang? Dia terlanjur jatuh cinta padaku, kemudian dia akan sangat patah hati karena aku meninggalkannya terlebih dahulu. Dia pasti akan menyesali pilihannya,” kata Summer sembari menatap Jongin sendu, menantikan jawaban dari pemuda yang kini memberikan seluruh perhatian pada si gadis.

Jongin menggeleng. “Setiap pilihan selalu ada konsekuensinya, jika dia memilih jatuh cinta tentunya sudah seharusnya ia rela patah hati. Lagi pula, telah kukatakan sebelumnya dia masih memiliki kenangan mengenai dirimu. Apalagi, ketika dia mendengar rasa cintamu itu yang selalu mengkhawatirkannya dan tak ingin membuatnya menderita. Dia pasti akan berusahan untuk baik-baik saja, meskipun butuh waktu yang lama,” jawab Jongin.

Paras Summer berangsur lega. “Jadi, kau tidak menyesal karena telah bertemu denganku, Kim Jongin. Walaupun, aku membuatmu patah hati yang teramat sangat,” bisik Summer sangat lirih, sehingga lawan bicaranya tidak mampu mendengar. “Aku harap dia bisa melakukan hal yang sama seperti dirimu,” kata Summer pada Jongin.

Asap hitam ganjil turun dari langit. Dwimanik Summer sontak mengarah ke jendela yang menampakkan jalan serta seorang pria bertopi dan berjubah hitam.

Summer tahu waktunya tak banyak lagi untuk berbincang dengan Kim Jongin muda. Malaikat Maut telah menjemputnya. Summer mengangguk singkat sebagai tanda pada Malaikat Maut bahwa dia akan segera mengakhiri pertemuannya dengan Jongin.

“Apa kau akan pergi?” tanya Jongin, ketika Summer mulai beranjak dari duduknya.

Summer mengiyakan, “Sudah satu jam aku di sini, waktuku telah habis,” balas Summer. Ia mengimbuhkan senyum simpul. Senyum terakhirnya untuk pria yang sangat dicintainya. Summer hendak mengayunkan tungkainya, namun Kim Jongin menarik tangan gadis itu pelan.

“Terima kasih sudah mengobrol denganku. Pemikiranmu memberikan ide yang berbeda pada ceritaku nanti,” lontar Jongin tergesa. Jongin menjungkitkan bibir, menawan hati. “Apa kita akan bertemu lagi?” tanyanya sembari melepaskan dengan canggung jari-jarinya yang berada di tangan Summer.

Gadis itu tak lantas menjawab, ia membiarkan suara dengung mesin pembuat kopi mengisi spasi di antara mereka. Belasan sekon Summer berpikir, akhirnya dia menjawab. “Jika kau tak keberatan untuk menerima konsekuensi dari pertemuan kita selanjutnya, kita akan bertemu lagi di sini satu minggu lagi,” jawab Summer.

Jongin mengangguk dengan bersemangat. Suasana hatinya mendadak gembira.

Sementara Summer melangkah perlahan menjauhi Kim Jongin. Gadis itu tak lagi melihat ke belakang.

21 Agustus 2019

“Kau mengubah takdirnya,” ungkap Malaikat Maut pada gadis yang duduk berhadapan dengannya di ruang yang membatasi antara kehidupan dan dunia setelah kematian. “Pertemuan pertama kalian seharusnya di The Mark’s Bar Hongdae bukan di sana. Kau sengaja membuat Jongin berada di tempat yang berbeda agar dia di masa lalu tak pernah bertemu denganmu.”

Summer tersenyum memandangi tehnya. “Aku berharap semuanya dapat berubah, andai saja upayaku tadi bisa membuatnya tak mengenalku dan menghindarkannya dari kepedihan akibat kehilangan diriku,” Summer mengangkat kepala, sehingga ia dapat memandang Malaikat Maut. “Aku berharap dia akan melupakanku, serupa caraku melupakannya.” Perlahan-lahan Summer memimum tehnya.

“Upayamu itu sia-sia, Yang Maha Kuasa telah menuliskan takdir kalian. Oleh karena itu, pasti ada jalan berbeda yang membuat kalian tetap bertemu,” ujar Malaikat Maut.

“Aku tak berani banyak bertindak. Aku berterima kasih, dia sudah memberikan satu jam untuk mengubah masa laluku.” Summer berkata ketika tubuhnya mulai berubah transparan, pelan-pelan ia lenyap.

26 Agustus 2016

“Nona Yeoreum?” tanya Jongin pada gadis yang baru saja sampai di halte untuk berteduh. Jongin ikut tersentak kaget ketika gadis itu melompat kecil seolah dia tak menyangka jika Kim Jongin mengajaknya bicara.

“Siapa?” tanya gadis yang sedang mengenakan kaus merah muda dan celana jeans biru. Ia tampak baru saja pulang dari toko seusai belanja bulanan. “Namaku Summer bukan Yeoreum. Well, memang artinya sama-sama musim panas tapi―”

“―Kau tidak datang ke Coffee Bene satu minggu lalu, padahal katamu kita akan bertemu lagi di sana,” potong Jongin. Dia kelewat antusias sebab sudah seminggu ini dia bertanya-tanya alasan gadis itu tak datang. Jongin menarik lengan kemejanya yang tergulung sembarangan sembari menunggu jawaban, lantaran demikian gadis itu hanya berkedip tak mengerti dengan ucapan Jongin.

“Apa Coffee Bene sejenis gerai kopi?” tanya Summer, lantas Jongin mengangguk. “Sepertinya, kau salah orang. Aku menghindari kedai kopi karena aku―”

“―Bisa terjaga selama dua hari hanya karena memimum secangkir kopi,” lagi-lagi Jongin memangkas penjelasan si gadis.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Summer menaikkan intonasi suaranya. Ia segera menutup mulut, sewaktu menyadari betapa tidak sopan berseru di depan orang yang baru ditemuinya.

Jongin melejitkan bahu. “Kau yang mengatakannya padaku,” timpalnya.

“Astaga, apa benar aku pernah berucap, begitu?” gumam Summer. Ia menggigit bibir. “Apa waktu itu aku mabuk? Kenapa aku tidak ingat?” lanjut si gadis.

Jongin tersenyum melihat tingkah Summer. Di mata Jongon gadis itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Summer yang ia temui di Coffee Bene tampak sedih dan berhati-hati, sedangkan yang sekarang sangat riang serta ceroboh. “Mungkin saja. Kalau kau lupa, bagaimana jika kita berkenalan lagi? Aku Kim Jongin.” Jongin mengasurkan tangannya pada si gadis.

Alis Summer naik ke atas. Ia ragu, namun tetap menjabat tangan pria rupawan itu. “Aku Summer Song,” ucapnya. “Tapi, kau bukan penguntit kan, Kim Jongin? Karena sayang sekali apabila wajah menarikmu ini dibuat untuk menguntit,” imbuh Summer.

Jongin tertawa, matanya menyipit. “Tidak, dengan wajah yang seperti ini, bukan kah seharusnya para wanita yang menguntitku?” kelakar Jongin.

Summer ikut terkekeh, ia tak tahu alasannya.

Mungkin karena cara Jongin tertawa.

Mungkin karena cara Jongin bicara.

Mungkin karena cara Jongin menatapnya.

Untuk meninggalkan komentar klik >>> Track List.

-oOo-

a/n: 

Cerita lainnya dapat dibaca di Wattpad: @twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom atau blog pribadi saya twelveblossom.wordpress.com

Terima kasih ya sudah membaca <3.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s