[CHAPTER 28] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

 

SALTED WOUND’

.

 

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Action–Incest-Thriller–PG-15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Line@ : @fbo0434t

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

 

.

Akhir-akhir ini Royce susah tidur, pikirannya selalu terganggu pada alat yang ditanamkan Elliot dalam kedua lengan Se-Hun. Ia sangat takut bila Elliot kehilangan kendali dan meledakkan alat tersebut.

 

Jujur, Royce tidak pernah setuju bila Elliot menggunakan peledak dengan alasan agar Se-Hun tetap tunduk kepadanya, padahal Royce telah memberikan jalan keluar untuk memanfaatkan keluarga tiri Se-Hun dengan mengancamnya dan semua pasti berjalan sesuai rencana, hanya saja Elliot si kepala batu lebih memilih menggunakan alat yang berisiko.

 

Mencuri remote control alat tersebut bisa menjadi jalan keluar untuk masalahnya, namun Elliot selalu membawa barang itu ke manapun. Ia tidak memiliki cukup ruang untuk mengambilnya.

 

Dalam perjalanannya menuju kediaman Elliot. Royce tak sengaja melihat seorang gadis yang sepertinya familiar. Ia tengah menarik koper dan berjalan terburu-buru keluar kompleks.

 

“Ikuti gadis itu,” ujarnya pada sang sopir sambil menunjuk gadis yang dimaksud.

 

Benar saja, saat mobilnya berjalan pelan di samping gadis tadi, Royce terhenyak sebentar, kedua alisnya terangkat begitu menyadari ia adalah Shin Hee-Ra.

 

Tapi kenapa Hee-Ra membawa koper? Apa ia mencoba kabur dari tempat Elliot? Royce tidak bisa membiarkannya! Akan berbahaya bagi Hee-Ra untuk berkeliaran di luar sana, lagipula di mana Se-Hun sekarang? Kenapa dia membiarkan Hee-Ra pergi?

 

Buru-buru Royce keluar dan menahan lengan Hee-Ra hingga gadis itu berbalik penuh tanda tanya. Matanya menyiratkan kesedihan meskipun tidak menangis. Royce menghela napas panjang, bisa disimpulkan bila Hee-Ra dan Se-Hun tengah bertengkar.

 

“Nona Shin? Anda mau pergi ke mana?” tanyanya perhatian.

 

Hee-Ra tak berusaha melepaskan tangannya dari Royce, ia menggigiti bibir bawahnya yang masih bergetar. “Sejauh mungkin,” ia berhenti sebentar, tiba-tiba saja sebuah pandangan tajam dilayangkan Hee-Ra ke arah Royce dan berlanjut dengan tangannya yang mulai memberontak minta dilepaskan. “Anda mengetahuinya kan? Anda yang bersekongkol dengan Elliot untuk melakukan ini pada Se-Hun?!”

 

Royce mengerutkan dahinya, mungkinkah Hee-Ra telah mengenai perihal alat yang ditanamkan Elliot dalam lengan Se-Hun? Kalau memang begitu seharusnya Hee-Ra tak meninggalkan Se-Hun, kan?

 

“Kenapa kalian menggunakan Se-Hun sebagai alat untuk menghancurkan organisasinya sendiri? Bagaimana kalau dia gagal dan kehilangan nyawa? Apa anda tidak memiliki hati? Bagaimana kalau hal itu terjadi pada putra anda? Bisakah anda merelakannya mati untuk hal ini? Seberapa mahal anda berani membayar kebahagiaan yang telah dihancurkan?”

 

Hatinya berasa ditusuk ribuan pisau kala mendengar perkataan Hee-Ra barusan. Di satu sisi ia akhirnya paham seberapa besar cinta Hee-Ra untuk Se-Hun, namun di sisi lain, apakah Hee-Ra tahu kenyataan paling kelam yang sebenarnya terjadi? Kenyataan bahwa Se-Hun adalah putranya, tepat seperti perumpamaan yang diucapkannya barusan.

 

Royce mengangguk. “Benar, aku memang tidak punya hati, begitupula Elliot.”

 

Astaga, bisa-bisanya dia menjawab seperti itu? Bolehkah Hee-Ra menampar pria ini sekarang?

 

“Dan benar, aku memang tak akan merelakan bila putraku diperlakukan seperti itu.” Kilatan matanya berubah sedih, kalau dipikir-pikir kejahatannya pada Se-Hun memang tak bisa dihitung. Mulai anak itu lahir sampai sebesar ini, Royce kadang ingin membunuh dirinya sendiri untuk bisa menebus kesalahannya, tapi apakah dengan mati maka Se-Hun bisa mengampuninya begitu saja? Tidak kan?

 

“Tapi aku tidak punya pilihan lain karena aku percaya dia pasti bisa melakukannya.” Sejenak Royce terdiam, pandangannya menerawang, menimbang apakah mengatakannya pada Hee-Ra adalah pilihan yang tepat. Tapi keadaan seolah tak mengizinkannya berpikir lebih lama, Royce takut Hee-Ra pergi dan Se-Hun akan memilih untuk diledakkan kedua lengannya daripada berusaha mendapatkan informasi dan bebas dari organisasi. “Se-Hun adalah putraku, dia hanya belum mengetahuinya.”

 

“Putra?” Hee-Ra menutupi mulutnya yang membulat sempurna dengan telapak tangan. Otaknya terlalu bingung untuk mencerna semua ini. Bagaimana mungkin Royce adalah ayah Se-Hun?

 

Mengerti kebingungan yang melanda Hee-Ra, Royce segera meraih kembali tangan Hee-Ra. “Aku akan menjelaskan segalanya, ikutlah denganku.”

 

Hee-Ra tidak berkilah dan membiarkan Royce menuntunnya ke dalam mobil. Mereka pergi ke sebuah restoran ternama yang cukup mewah, dengan penjagaan ketat oleh beberapa bodyguard Royce yang dirasa akan memberikan rasa aman dari orang-orang yang mungkin mengincar nyawa Hee-Ra, Royce mulai mempersiapkan diri untuk menceritakan segalanya.

 

Panjang, ia menceritakan dari awal, semua kesalahan yang diperbuat pada Se-Hun. Ia mengatakan betapa menyesal telah melakukan semua itu dan berharap dapat menebus segalanya. Royce bahkan tak masalah saat Hee-Ra melemparkan tatapan benci seolah berniat membunuhnya, karena memang itulah yang pantas didapatkan oleh Royce. Ia pantas mati untuk menebus kesalahannya.

 

“Anda belum mengatakannya pada Se-Hun? Kenapa?”

 

Royce menutup kedua matanya sebentar. “Aku tak berani, aku tidak ingin kehilangan Se-Hun saat ia mengetahui kenyataannya. Dia pasti sangat membenciku.”

 

“Ya, Se-Hun sangat membenci anda,” Hee-Ra menggantung perkataannya selama beberapa saat, “tapi percayalah bahwa Se-Hun pasti juga merindukan anda, orang tua kandungnya. Dia pasti memiliki sedikit rasa bahagia saat mengetahui anda masih mempedulikannya dan berniat memperbaiki segalanya.”

 

Tatapannya melembut, Hee-Ra menggenggam dan mengusap kedua punggung tangan Royce dengan lembut, “Se-Hun adalah orang baik, saya percaya dia akan menerima anda kembali.”

 

Gadis ini…

 

Dia begitu baik dan kuat, pantas saja Se-Hun sangat mencintainya. Bahkan ia mampu mengalahkan hati kelam yang dulu sempat menyelimuti Se-Hun. Sekarang Royce yakin bahwa memang Hee-Ra lah yang pantas menjadi teman hidup bagi putranya.

 

“Terima kasih, nona, terima kasih…”

 

Hee-Ra menggeleng. “Tidak, panggil saja saya seperti orang lain, anda tidak perlu menggunakan kata yang sangat formal pada saya, Tuan.”

 

Royce terkekeh pelan. “Kalau begitu kau juga tidak harus berbicara terlalu formal padaku. Mulai sekarang panggil aku paman atau ayah, setuju?”

 

Ayah…

 

Entah kenapa Hee-Ra merasa ada ruang dalam hatinya yang menghangat. Ia begitu rindu memanggil seseorang dengan sebutan ayah, ia begitu merindukan kasih sayang ayahnya yang telah meninggal, mungkin Tuhan telah merencanakan segalanya, walaupun Royce tak akan pernah bisa menduduki tempat yang sama seperti ayahnya, tapi dengan kasih sayang dan sifat kebapakannya, rasa rindu Hee-Ra bisa sedikit terobati.

 

Hee-Ra mengangguk. “Ya ayah…” Ia terkekeh. “Apakah tidak apa-apa memanggil seperti itu?” tanyanya yang kemudian membuat Royce tertawa.

 

Royce menggerakkan tangan kanannya untuk mengusap rambut Hee-Ra. “Tentu saja, kenapa tidak? Lagipula Se-Hun sangat mencintaimu dan kuharap kalian bisa bersatu.” Ia berhenti sejenak dan berucap dengan lebih lembut, “Aku akan sangat bahagia bila itu terjadi, Shin Hee-Ra.”

 

Pipinya memerah malu karena Royce berkata demikian. Ia senang karena orang tua Se-Hun telah memberikan izin untuk kelanjutan hubungan keduanya, tapi bagaimana dengan orang lain? Bisakah mereka tetap bersatu nanti?

 

Royce berdehem. “Jadi, bagaimana kalau kita kembali ke tempat Elliot? Se-Hun pasti kebingungan mencarimu.”

 

Kali ini Hee-Ra setuju, ia mengekori Royce yang sudah lebih dulu bangkit dan keluar dari ruang VVIP restoran menuju mobil. Memang keputusannya beberapa waktu lalu sangat kekanak-kanakan. Seharusnya Hee-Ra membiarkan Se-Hun untuk menjelaskan sebentar dan mungkin pikirannya akan berubah. Untuk ke depannya Hee-Ra harus belajar dari kejadian ini, menjadi sosok yang tidak terburu-buru dan terkesan ceroboh dalam mengambil keputusan.

 

Ia tidak ingin nyawa Se-Hun terancam. Ia harus menyelamatkan Se-Hun.

 

Setelah keduanya duduk nyaman di mobil, Royce kembali bersuara, namun lebih pelan dan terkesan berbisik, “Emm…bisakah kau merahasiakannya dari Se-Hun? Aku belum siap dia mengetahui yang sebenarnya.”

 

“Baiklah, aku akan melakukannya,” balas Hee-Ra diiringi senyuman.

 

Royce bernapas lega. Ia senang Hee-Ra bisa diajak bekerja sama. Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah serius. “Tapi Shin Hee-Ra…”

 

“Ya?”

 

“Apa… apa kau sudah tahu kalau Elliot menanam alat peledak di kedua lengan Se-Hun?”

 

“Peledak?” Hee-Ra membulatkan matanya bersamaan kemudian menggeleng. “Dia tidak bilang apapun tentang itu…”

 

Oh sialan, sepertinya Royce salah bicara. Mungkin saja Se-Hun sengaja merahasiakannya dari Hee-Ra. Tapi karena sudah terlanjur, Royce sebaiknya mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saja.

 

“Begini, kalau Se-Hun mengekang Elliot, ada kemungkinan besar Elliot akan meledakkan tubuh Se-Hun dengan alat yang telah ditanam di lengannya. Maka dari itu kita tidak punya pilihan lain selain mendoakan Se-Hun berhasil mendapatkan apa yang Elliot mau. Remote control untuk alat itu menggunakan bahasa kode yang hanya dimengerti agen rahasia. Kita bisa saja mencurinya dari Elliot, namun cukup sulit dan lagipula aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.” Royce menelan salivanya berat. “Jadi kumohon…dukunglah Se-Hun untuk melakukannya dan berdoalah untuk keberhasilannya, Shin Hee-Ra.”

 

 

 

 

 

 

“Apa Hee-Ra belum kembali? Sudah lama dia tidak ikut latihan padahal sebentar lagi akan ada pementasa.” Mrs. Sanders muncul dari balik pintu, sementara Jong-In tengah sibuk mengusap keringatnya yang terus mengucur.

 

“Aku tidak bisa menghubunginya tadi, terakhir dua hari lalu.” Ia mendengus keras. “Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Jong-In melempar sapu tangannya ke meja. “Dia bilang sedang berada di luar kota untuk urusan keluarga tapi saat aku menghubungi ibunya…  ibunya masih berada di Korea. Lalu dia pergi dengan siapa? Keluarga mana yang dimaksud?”

 

Mrs. Sanders kehabisan kata-kata, ia mengusap rambut basah Jong-In lembut. “Mungkin dengan saudaranya,” berhenti sebentar dan mendesah berat. “Aku berharap kalian berdua akan menjadi pasangan di pentas yang berikutnya. Kalian adalah pasangan yang serasi untuk pertunjukan ini.”

 

Ya, seluruh anggota sanggar tahu Hee-Ra dan Jong-In merupakan pasangan yang sangat serasi, bahkan Emma yang selalu mengambil kesempatan pada Jong-In pun juga tahu. Mereka semua mendukung Jong-In dan Hee-Ra untuk terus bersama, hubungan keduanya tidak terlalu banyak drama melankolis seperti halnya yang dilakukan oleh Emma dan kekasihnya. Mereka bahkan sering bertengkar di depan anggota sanggar, sangat memalukan. Berbeda dengan Hee-Ra dan Jong-In, mereka bisa membedakan antara kehidupan percintaan dan karier.

 

“Aku berharap segala yang terbaik untuk kalian,” kata Mrs. Sanders sebelum akhirnya meninggalkan Jong-In.

 

Sepeninggal Mrs. Sander, Jong-In mengacak rambutnya frustasi. Ia sangat merindukan Hee-Ra, ia butuh Hee-Ra di sampingnya, ia ingin berbagi dengan Hee-Ra tapi gadis itu seolah menghilang di telan bumi.

 

Ia takut tak bisa melihat Hee-Ra lagi, ia takut Se-Hun melakukan sesuatu yang buruk pada Hee-Ra.

 

Ponselnya berbunyi, Jong-In langsung meraih benda kecil tersebut dan berharap Hee-Ra yang menghubunginya. Namun pupus kala ia mendapati nama Jason lah yang tertera di sana.

 

Dengan agak malas Jong-In menekan tombol jawab dan mulai mengeluarkan suara, “Halo?”

 

Oh, Jong-In? Aku benar-benar lupa menyampaikan ini tadi siang,” ujar Jason yang langsung membuat Jong-In penasaran.

 

“Ada apa? Apa kau bertemu Hee-Ra atau semacamnya?”

 

Apa? Tidak, tentu saja aku tidak bertemu Hee-Ra, tapi Leana. Tadi pagi dia melihat Hee-Ra dan kakaknya di kampus menemui rektor.”

 

“Rektor? Apa ada masalah?”

 

Entahlah aku tidak begitu yakin, tapi Leana bilang Hee-Ra mengambil cuti selama beberapa waktu.”

 

Keningnya mengerut kaget. Yang benar saja! Kenapa Hee-Ra mengambil cuti? Pasti Leana berbohong. “Apa Hee-Ra berkata demikian pada Leana?”

 

Tentu saja tidak! Leana menguping pembicaraan mereka. Hee-Ra bahkan tidak menyapa siapapun di kampus. Leana bilang Hee-Ra kelihatan buru-buru dan sedih. Aku jadi curiga sesuatu terjadi padanya.”

 

“Tentu saja sesuatu terjadi padanya! Apa kau bodoh? Mana ada orang yang baik-baik saja mengambil cuti kuliah!”

 

Astaga, Jong-In tak bisa mengontrol emosinya.

 

Calm down, bro. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah hingga membuatmu marah?

 

“Maafkan aku…” Jong-In mendecak, ia gelisah, sangat gelisah. “Aku hanya tidak bisa berpikir jernih. Maksudku apa yang Hee-Ra lakukan? Kenapa dia mengambil cuti dan sebagainya. Aku benar-benar tak mengerti, ditambah lagi ia tak menghubungiku sejak dua hari lalu. Setiap aku meneleponnya, ia hanya membiarkan tanpa mengangkatnya. Aku benar-benar bingung padanya.”

 

Jason memelankan suaranya, berusaha memberi dukungan pada Jong-In. “Aku akan membantumu mencari tahu, brother. Kuatkan hatimu untuk semua ini, mungkin saja Hee-Ra memang belum bisa memberitahu apa yang sedang terjadi.”

 

“Kuharap juga seperti itu… aku benar-benar merindukannya.”

 

Semakin lama hubungannya dan Hee-Ra terasa makin janggal dan tak bertuan. Hee-Ra seolah mulai meninggalkannya dan pergi kepada Se-Hun. Jong-In sendiri tidak tahu apa yang membuat Hee-Ra melakukan hal itu. Seingatnya dulu Hee-Ra sangat membenci Se-Hun, tapi sejak segalanya berubah, saat Hee-Ra mulai bisa menerima Se-Hun, saat itu pula gadisnya menjauh.

 

Jong-In merindukan Hee-Ra yang dulu…

 

 

 

 

 

 

“Aku tidak mau tahu, segera temukan Hee-Ra sebelum Jasmine melakukannya!”

 

Se-Hun murka, ia menyesali keputusan bodohnya karena tidak menahan kepergian Hee-Ra tadi.

 

“Aku tidak mau tahu! Kalian harus bisa menemukannya!” bentaknya melalui telepon. Pikirannya resah, Se-Hun tak bisa mengontrol emosinya saat ini.

 

“Se-Hun?”

 

Ia langsung menengok begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinga. Se-Hun menghela napas panjang mendapati sosok Hee-Ra datang bersama Royce. “Lupakan, dia sudah ada di sini,” instruksinya melalui telepon dan kemudian memutus panggilan.

 

“Maafkan ak—”

 

“Maafkan aku.” Belum sempat Hee-Ra melanjutkan kalimatnya, Se-Hun sudah lebih dulu mendahului dan langsung menenggelamkan Hee-Ra dalam pelukannya. Kekhawatirannya menghilang begitu saja saat melihat gadisnya datang dalam keadaan baik-baik saja.

 

Tanpa basa-basi Hee-Ra membalas pelukan Se-Hun dan membiarkan pria itu mendekapnya erat. Ia bisa merasa aman dan nyaman saat bersama Se-Hun. Entah bagaimana caranya pria itu bisa memberikan rasa seperti ini, perasaan yang akhirnya tak bisa dielak Hee-Ra meski telah mencoba begitu keras.

 

“Kumohon jangan pergi, kau boleh membenciku tapi jangan pernah pergi karena mereka bisa mengancam nyawamu.” Se-Hun melonggarkan pelukannya dan menangkup kedua pipi Hee-Ra. “Aku tidak ingin kehilanganmu.”

 

“Aku juga tidak ingin kehilanganmu…” Hee-Ra memejamkan matanya, merasakan lembutnya usapan Se-Hun pada kedua pipinya. Ia mengusap pelan punggung tangan Se-Hun. “Berjanjilah untuk berhasil melakukannya dan kembali padaku, mengerti?”

 

Senyumnya merekah, Se-Hun tak menyangka Hee-Ra akan mendukungnya setelah tadi marah-marah dan memilih pergi. Ia menebak hal ini pasti ada hubungannya dengan Royce. Yah, walaupun Se-Hun tidak begitu mengenal Royce, setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih nanti.

 

Ia mengangguk beberapa kali. “Aku berjanji asal kau mau menungguku.” Tangan kanannya memegang lembut dagu Hee-Ra dan mendongakkannya. “Kau mau kan menungguku?”

 

“Ya, aku akan melakukannya. Aku akan menunggumu kembali padaku.” Hee-Ra kembali menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat Se-Hun. Ia ingin mencurahkan perasaannya pada pria itu.

 

Hee-Ra mungkin tidak bisa mengekspresikan perasaannya dengan baik dan bahkan terkesan sedikit kaku, tapi ia sangat mencintai Se-Hun. Pria itu sangat penting bagi hidupnya, ia rela melakukan apapun yang penting bisa terus melihat Se-Hun.

 

Ia hanya ingin Se-Hun selamat.

 

Begitupula sebaliknya, Se-Hun hanya ingin Hee-Ra selamat.

 

Mereka saling berdoa untuk keselamatan satu sama lain, mereka saling menjaga, mereka sama-sama tidak ingin kehilangan.

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

26 responses to “[CHAPTER 28] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Heera sudah tau alasan sehun kenapa harus ngelakuin semua itu dan heera kembali lagi kepelukan sehun. Semoga makin langgeng hubungan mereka dan jasmine gak ganggu mereka lagi.

  2. Sweet bgt sih mereka berdua…untung adja ktmu ma royce jd tw smua y and busa ngedukung sehun akhir nya..tp jongin gmn nasib y??kasian juga dia y??

  3. Hem smkin mendebarkan…
    Tp tmbah so suittt..
    kasian jong in…
    ditunggu updetan nya ya sai

  4. Ah akhirnya cinta mereka bisa bersatu. Meskipun dalam keadaan yang sangat berbahaya bagi mereka.
    Kak jangan sad ending ya…please..
    Kasihan merwka yang begitu sulit memperjuangkan cinta mereka.

  5. Hah…akhirnya….gitu dong heera,sehun itu cuma ingin kamu mendukung dan selalu bersedia menunggu kehadiran sehun kembali disisimu,asek….😄😄😄
    hah no komen lg…baper plus ga kuat kalo inget ceritax ayahnya sehun mah

  6. aku suka ff ini… banget… maaf ya authornim ak cuma komen di beberapa chapter… tapi aku bakal dukung terus hehe!~ keep writing and hwaiting

  7. Ututututu….so sweet sekali lah mereka,jadi iri
    Pokoknya fighting buat sehun semoga selamet. aku kasian sebetulnya sama jongin,tapi sehun-heera terlalu so sweet aing kudu ottokeh?
    Keep writing un,aku nungguin ini setiap hari jadi fast update yaaa 😘

  8. Akhirnya heera mau dkung sehun.. Chapt in so sweet bgetz mrka.. Jd iri.. D tggu chap next..

  9. Kalau saja didunia nyata ada cinta seperti ini, Q jg ingin heheh…maaf ya thor sangat jarang komen, q slalu mengikuti dr awal ne Ff semoga hee ra dan se hun bahagia…apa bener thor Ff ne tamat di chapter 30, semoga happy ending

  10. Omo omooo so sweet heera sehun makin serasi cocok banget dah, smoga jongin bisa menerima kenyataan ini ya wkwk aku harap happy end ya thor heera sm sehun :)) ngeship mereka banget ditunggu next chapnya
    Btw last chapnya sampe chap brp ya thor? Hehe penasaran
    Semangat thor😁

  11. Lebih fokus ke alat yg ada di tubuh sehun. Suka sedih. Huhuhu semoga ada keajaiban supaya sehun selamat seperti harapan heera. Harapan di ff ini jugaaaa. Jongin kesian tapi terabaikan huhuhh

  12. Mulai tegang deh. semoga aja Sehun berhasil.. semoga aja hubungan keduanya selalu membaik.. dan semoga aja Hee Ra segera memberi tahu Jongin yang sebenarnya. makin lama makin kasian dia 😦
    Buat Sehun semoga kau berhasil. 🙂

  13. sowit heena sama sehun tapi sumpah kasian sama jongin, jadi rada gimana gitu kalo ada moment heena sehun langsung kepikiran jongin haha :v ditunggulah nextnya 😉

  14. Wah, ternyata udah diupdate ^_^.
    Speechless kesekian kalinyaaa…
    Makasih banyak Ayahnya Sehun 😍😍😊. Seneng bgt, semua perasaan Hee-Ra kerasa tulus bgt sekarang.. Terharu lgi bacanyaa.. Sampe nangis beneran, Kaak *gak nanya 😂.
    Keren bgt, Kaak.. Emang alur chap ini gak terlalu maju, tapi nge-feel bgt 😌..
    Ditunggu next nya, Kak Heena ^^.

  15. haera manis bgt pasti sehun suka sekali tapi jong in kasihan juga ya wkwk smga haera gx plinplan

  16. Uhhh… ku takut nanti akhirnya sehun gak sanggup ngelawan organisasinya dan akhirnya dia d bunuhhh….
    Knp hee ra gak putus aja sama jongin, kan kasian dia d gantung gituu. Tapi seneng banget si bisa ngeliat hee ra sama sehunnn.

  17. Ngeliat sehun sama heera saling dukung gitu seneng deh… Tapi btw kasian juga sih jonginnya.. Dia gatau apa apa dan pasti bakal kehilangan heera..
    Royce ternyata baik juga yaa.. semoga nanti sehun bisa maafin Dia…
    Lanjut terus thor story nyaa.. ditunggu next chap !!

  18. Speechless bebb, aku lbih ngdukung sehun heera beb. Entah knpa makin ksini kayanya jongin malah jdi mirip kaya penganggu hbungan sehun heera yaa. Tapi seru juga sih, kan klo g ada yg ngeganggu nantinya g bakal ramee. Lanjut thorr… hwaitingg😀😀

  19. di chap ini tuh sebenernya perasaannya semua campur aduk antara heera sama sehun mereka tuh sama2 khawatir satu sama lain karena sama2 pengen ngelindungin satu sama lain nah tuh ayah kandungnya sehun ngaku sama heera tp yg anehnya dia gamau sehun tau kalo dia ayahnya emm kayanya masih belum siap tuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s