[YiSang’s Diary] #20: Better Us (end)

a series-fiction by Jung Sangneul

YiSang’s Diary

Yixing / Lay [EXO] & Sangri [OC]

Romance, Fluff | drabble-series | General

previous series

***

YiSang’s Diary: Better Us

Sangri sudah menatapi jamnya untuk kesekian kali. Ia tidak bisa berlama-lama di kampus akibat pesan sialan yang baru saja dibalas. Ia jelas sadar kalau ini bisa saja jebakan, tapi feeling-nya berkata ini benar-benar orang yang ditunggunya. Ini hari yang dinantinya sepanjang bulan-bulan sepi bersama bayangan senyum itu.

“Bisakah aku ke toilet sebentar?” Ia mengacungkan tangan ketika dosennya selesai menerangkan satu bab. Masa bodoh dengan teguran yang akan didapat setelah kenekatan ini.

“Lima menit.”

Sangri mengangkat tasnya.

“Tidak perlu bawa tasmu, ‘kan?”

Sangri memperhitungkan detik demi detik. “Aku sedang kedatangan tamu, jadi ….”

“Oke. Silakan,” dosennya itu memangkas.

Mengembuskan napas lega, ia mengangkat tas kecilnya dan berjalan ke pintu. Setelah menutup pintu, buru-buru ia berjalan ke toilet untuk memastikan penampilannya baik. Sungguh, awas saja jika ini sms bodoh dari orang yang salah sambung. Mudah-mudahan pengorbanannya dilihat Tuhan dan terbayarkan.

.

.

Apartemennya kosong. Ia memeriksa ponselnya dan mendapati tiada pesan baru. Diusapnya wallpaper ponselnya beberapa kali, sampai bel pintu berbunyi. Ia buru-buru membukakan dengan ceria, namun ternyata itu hanya tetangga sebelah yang baru saja pindah. Sudah menjadi tradisi mereka akan mengirimkan makanan sebagai tanda persahabatan.

Setelah mengucapkan “terima kasih” berulang kali, Sangri menutup pintunya. Mendengus, ia hendak berjalan ke sofa dan tidur saja. Namun bel pintunya berbunyi lagi. Ia berbalik dan melihat interkom terlebih dahulu.

Sedetik.

Tiga detik.

Napasnya tercekat.

Buru-buru ia meletakkan kue dari tetangganya tadi dan berlari ke kamar. Menyemprotkan parfum, menyisir rambut, dan menepuk-nepuk pipi. Setelahnya, ia kembali ke sana untuk mendapati interkomnya sudah kosong.

Jangan-jangan aku mimpi, sesalnya dalam hati, itu hanya bayanganku?

Tak urung ia buka juga pintunya, dan jantungnya hampir meledak ketika lelaki itu muncul tiba-tiba sambil berseru, “Aku sudah sampai!”

“ZHANG YIXING MASIH UNTUNG AKU TIDAK PUNYA PENYAKIT JANTUNG, KAU BISA MEMBUATKU MATI TAHU!!! AKU MEMBENCIMU!!!”

Yixing menaikkan alis, bersiul pelan, kemudian menyahut, “Yakin mau membenciku?”

Ya Tuhan. Selamatkan jantung Sangri. Ia yakin pipinya sudah merah semerah-merahnya sekarang. Semakin memerah ketika lelaki itu maju beberapa langkah, membuatnya mundur sampai mau jatuh jika tangan sang lelaki tidak menahan.

Klik. Pintu ditutup.

Bertemu dengan mata ini lagi, rasanya Sangri masih tidak percaya. Ia menyentuh pipi, mata, dan alisnya, memastikan ini nyata. Dan seandainya ini mimpi, jangan dulu bangunkan dia, siapa pun itu.

“Bukan mimpi, Jung,” ujar sosok di hadapannya, “aku betul kembali. Pesan itu aku yang kirim.”

Sangri segera memeluk tubuh itu, menenggelamkan dirinya dalam hangat yang lama ia rindukan.

“Kau bahkan berganti nomor telepon!”

“Iya, aku—”

“Dan tidak memberiku kabar apa-apa!”

“Aku banyak—”

“Diam. Aku merindukanmu, sungguh.” Sangri memotong lagi, mengeratkan pelukan.

Yixing tersenyum, melingkarkan tangannya ke punggung gadis itu dan mengusapnya perlahan. Dia juga sangat rindu, tapi kesibukan menghalangi komunikasi mereka.

“Apa kau mandi parfum?” bisik Yixing.

Sangri terkekeh menyadari tingkahnya saat menyemprotkan parfum banyak-banyak tadi. Untung saja itu bukan sms zonk. Untung saja ini bukan sekadar mimpi.

“Xing,” panggilnya.

Untuk panggilan itu, Yixing mencium kepalanya singkat.

“Jangan coba-coba pergi lagi. Jangan pergi tanpa mengajakku. Tolong.” Kalau rindu itu bisa membunuh, Sangri tidak yakin apa ia masih hidup saat ini.

Sambil mengembuskan napas pelan, Yixing mengangguk. Dilepaskannya pelukan mereka untuk mengumbar senyumnya pada sang gadis. Gadis yang lama tak dilihatnya, hampir ia takutkan telah lupa padanya. Perlahan, dikecupnya keningnya, hidungnya, dan yang terakhir bibirnya.

Ciuman itu tidak lama, namun cukup untuk mewakili rasa rindu yang meluap-luap. Hari ini akan jadi awal baru yang lebih baik. Semua masalah menemukan jalan keluarnya.

“Kau harus ceritakan semuanya.”

“Kau juga,” balas Yixing.

Cerita itu mengalir ketika matahari sore menghampiri. Yixing setia mendengarkan sambil memeluk gadisnya dari belakang, bersembunyi di ceruk lehernya. Sangri berulang kali tertawa, ia berulang kali tersenyum.

Sore itu berakhir, dan hari-hari berikutnya terasa lebih ringan. Semua akan baik-baik saja.

“Jung, aku mencintaimu.”

“Zhang, I love you.”

 

—kkeut.

Yak, inilah akhir yang sesungguhnya! Maafkan mainstream karena sungguh saya nggak punya ide lagi setelah setengah tahun (atau malah lebih?) mengendapkan ini. Saya akan hadir dengan fiksi lainnya setelah ini. Kalau rindu jangan lupa kunjungi blog saya di sini.

Advertisements

One response to “[YiSang’s Diary] #20: Better Us (end)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s