“Vulpecula” #10 by Arni Kyo

Vulpecula 5

Vulpecula #10

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC) | Ha Minho (ex.P101 S.2)

Support Cast : Wu Kimi | Rin Yamazaki | Park Chanyeol | Kim Minseok | Do Kyungsoo | HSR | Others

Genre  : Romance, School Life, Fantasy

Length : Multi Chapter

Chapter 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

 

~oOo~

 

Pagi menjelang.

Tempat tidur kembali bergerak kala Yeonsung membalikan tubuhnya. Tidurnya sangat lelap malam tadi. Ya, sangat lelap sampai-sampai ia tidak menyadari telah dibawa ke apartemen oleh Minho.

Bahkan ia tidak sadar kalau pakaiannya telah berganti. Selembar kemeja merah muda membalut tubuhnya.

Minho menatap wajah tertidur gadis itu dalam diam. bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Jemarinya menyibak anak rambut Yeonsung yang sedikit menutupi wajah.

“hng?”. Mata Yeonsung mengerjap. Merasakan sentuhan dikepalanya saat Minho mengusap rambutnya.

good morning, sweety”. Suara halus itu menggelitik telinga Yeonsung. membuatnya membuka mata dengan sempurna.

“kyaaa!!!”. Teriak Yeonsung yang langsung terjaga.

Terkejut.

Wajah Minho menyambutnya saat ia terbangun. Bagaimana ia tidak terkejut?

“a-apa yang kau lakukan dikamarku? Sepagi ini – oh Tuhan!”. Yeonsung histeris. “kau – ya! pakai bajumu, brengsek!”.

Minho tertawa pelan. Wajah panic Yeonsung benar-benar menghiburnya. Gadis itu terlihat lucu. “kamarmu? Coba lihat sekelilingmu, Yeon’ah ~ ini apartemenku”. Ujar Minho.

Takut-takut… Yeonsung menoleh, melihat sekelilingnya. Benar saja. Ini bukan kamarnya. Yeonsung meremas rambutnya sendiri, mengerang tertahan. Bagaimana ia bisa berakhir didalam apartemen Minho? Apa yang telah terjadi?

“apa yang telah kau lakukan padaku?”.

“apa lagi? Jika kau dan aku mabuk – lalu menurutmu apa yang terjadi selanjutnya?”. Minho balik bertanya. Ia mencondongkan tubuhnya mendekati Yeonsung. “morning kiss?”.

“cium saja tembok sana!”. Ujar Yeonsung sambil menunjuk-nunjuk tembok. “aku ingin pulang. Kau keterlaluan! Aku membencimu”. Yeonsung hendak beranjak dari atas tempat tidur, namun Minho menahannya.

“kau yakin akan pulang dalam keadaan seperti ini?”. Tanya Minho.

Yeonsung mengerutkan keningnya. Ia belum sadar sepenuhnya. Tentang pakaian yang ia kenakan saat ini. hanya selembar kemeja tanpa bawahan. Bahkan Yeonsung tidak menggunakan bra nya lagi.

“ya!!!”. Yeonsung berteriak frustasi. “dimana kau menyimpan bajuku? Sialan! Aku ingin pulang!”.

Minho menyeringai. Ia melirik kearah kamar mandi. “kumasukan ke dalam mesin cuci. Sudah tercampur dengan air dan deterjen”. Jawab Minho.

Yeonsung berada dipuncak emosinya. Benar-benar marah. Ia melampiaskan kemarahannya dengan memukuli Minho membabi buta, tapi tetap saja Minho bisa menahan kedua lengan kurusnya itu.

“apa yang sedang kau coba lakukan, huh?”. Suara Yeonsung bergetar. Hampir menangis.

“jika aku tak bisa memilikimu lagi. Maka tak ada seorangpun yang bisa memilikimu, Yeon’ah”.

Napas Yeonsung tercekat ditenggorokannya. Rahangnya mengeras. Yeonsung mengernyitkan hidungnya. “kau sudah tak menginginkan aku lagi, Minho’ya, tidakkah kau ingat saat kau menyuruhku untuk mati saja. Lalu mengapa sekarang –“.

“karena itu lah aku ingin memperbaiki semuanya sekarang”.

“tidak ada yang bisa diperbaiki! Kau pikir jika kau memecahkan sebuah gelas lalu menempelkannya kembali, gelas itu akan kembali sempurna? Tidak! Pasti ada bagian yang tak bisa kau tempel kembali, karena pecahannya terlalu kecil”.

Minho diam. ia melepaskan tangan Yeonsung dari genggamannya. Gadis itu langsung menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang, memeluk kakinya sendiri.

Rasa bersalahnya mulai menumpuk menjadi gundukan tinggi. Ia telah mengkhianati Luhan. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Prang!!

Cangkir kopi yang dipegang oleh Luhan terjatuh dari tangannya. Hari ini ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Tadi disekolah ia juga tak menemukan Yeonsung dan Minho.

“Lu – kau kenapa sebenarnya? Jika sakit sebaiknya istirahat saja”. Ujar salah seorang karyawan café itu.

“maaf aku tidak sengaja. Akan kubersihkan”. Luhan membungkuk. Lalu ia menyambil sekop dan sapu untuk membersihkan pecahan gelas.

Jika benar Yeonsung telah mengkhianatinya dan kembali pada Minho, Luhan tak tahu harus bagaimana. Ia terlanjur mencintai gadis itu dengan sepenuh hatinya.

Belum lagi Kimi yang dengan sengaja memanasi Luhan, tentang Yeonsung yang kemungkinan kembali pada Minho.

Luhan membawa sekop berisi pecahan cangkir ke belakang lalu membuangnya kedalam tong sampah. Luhan bersandar pada tembok. Ia mengeluarkan ponselnya. Mengecek apakah Yeonsung telah menghubunginya atau belum.

Nihil.

Gadis itu benar-benar menghilang.

Luhan menyesalkan dirinya yang tak bisa mengejar mobil Minho dengan cepat. Diperempatan lampu merah, ia kehilangan mobil itu.

Tetapi Luhan masih berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja Yeonsung diculik atau dipaksa oleh Minho.

Ya. Yeonsung tak mungkin mengkhianati Luhan.

Minho kembali keapartemennya. Tadi ia berpamitan pergi sebentar. Mengurung Yeonsung didalam apartemen. Gadis itu sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Minho membuatnya stress.

“pakai ini lalu kuantar pulang”. Ujar Minho lalu meletakkan sebuah paper bag didekat Yeonsung.

Yeonsung melirik malas benda itu. Ia merangkak membuka paper bagi untuk melihat isinya. Baju baru yang dibelikan oleh Minho karena pakaiannya masih basah di dalam mesin cuci. Yeonsung tak tahu kenapa Minho tiba-tiba memberinya baju, dikiranya Minho ingin mengurungnya disini selamanya.

“tenang saja. Aku tahu ukuranmu”. Imbuh Minho ketika Yeonsung mengeluarkan dalaman dari paper bag.

“cih…”. Yeonsung mendengus.

Merasa jijik sendiri pada dirinya. Belum lagi tatapan mesum Minho padanya. Ugh! Yeonsung jadi merasa mual.

“cepat ganti bajumu”.

“pergilah dari sini, aku tidak bisa ganti baju didepanmu, sialan!”.

Minho tampak enggan beranjak sampai Yeonsung memukulnya dengan bantal shofa. “aigoo ~ mendadak garang seperti ini – ya! kau tampak semakin sexy”. Goda Minho.

“pergilah sebelum aku benar-benar membunuhmu”. Ancam Yeonsung. ia tidak main-main, sudah siap dengan sebuah vas bunga ditangannya. Siap dilemparkan ke kepala Minho kapan saja.

“santai, santai. Kau sensitive sekali. Baru semalam kau mengeluh-ngeluhkan namaku. Minho’ya ~ Minho’ya ~”. Minho menirukan suara perempuan yang membuat Yeonsung semakin emosi.

“ya!!”.

Minho melesat pergi, berlari keluar dari kamar apartemennya. Yeonsung mengejarnya. Dan tepat saat Minho sudah berada diluar, ia segera mengunci pintu kamar itu. Benar-benar kesal karena tingkah Minho.

“apa yang akan kau lakukan jika bertemu Luhan? Dia pasti curiga kepadamu karena menghilang tiba-tiba lebih dari 24 jam. Aku yakin Luhan sudah tahu kalau kau berbohong”.

Licik!

Sungguh!

Minho terus-terusan menekannya. Tentang hubungannya dan Luhan. Yang membuat Yeonsung bingung harus bagaimana sekarang. Sudah pasti Luhan tahu jika ia berbohong pergi dengan Chanyeol.

“aish… sialan! Semua ini karena si brengsek Minho!”. Yeonsung mengerang. Menendang selimutnya keras. Ia terjaga. “tidak. Tidak. Ini semua karena aku sendiri. Astaga! Aku ini bodoh sekali”. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri.

Tok tok…

“nona?”.

“ada apa? Masuk saja”.

Pintu kamarnya terbuka. Hayeon mengintip dari luar kamarnya. Yeonsung pulang beberapa jam yang lalu, diantar oleh Minho. Saat kembali kerumah, wajah Yeonsung terlihat kusut. Jadi Hayeon tak berani untuk menegurnya.

“ada Tuan Luhan dibawah”. Ujarnya.

Yeonsung membelalak. Bagaimana sekarang?

“suruh dia tunggu sebentar. Aku akan segera turun”. Jawab Yeonsung.

Hayeon kembali menutup pintu kamar Yeonsung. sementara gadis itu langsung bergulingan seperti ulat diatas tempat tidurnya. Ingin menangis saat itu juga! Pikirannya sudah dipenuhi oleh pertengkaran antara dirinya dan Luhan. Padahal itu belum tentu terjadi.

“Tuan, katanya sebentar lagi ia turun. Tunggu sebentar disini”. Ujar Hayeon pada Luhan yang masih menunggu diruang tengah.

“apa yang sedang ia lakukan?”.

“entahlah, tadi ia hanya duduk diatas tempat tidurnya”.

“oh, baiklah”.

Hayeon meninggalkan pria itu sendirian. Sebenarnya Luhan ingin menemui Yeonsung langsung ke kamarnya, tapi ia tak ingin lancang dirumah orang lain. Jadi ia memilih bersabar, menunggu disini.

Hingga gadis yang ia tunggu muncul.

“Lu ~”. Lirih Yeonsung.

Luhan langsung berdiri dari duduknya. Senyumannya mengembang melihat Yeonsung. gadis itupun sama. Ia segera berlari kecil menghampiri Luhan, dan duduk disebelah pria itu.

“kau dari mana saja, hm?”. Tanya Luhan. Menyambut tangan Yeonsung.

“maafkan aku. Aku telah berbohong padamu kemarin”. Ujar Yeonsung.

Ibu jari Luhan mengusap pipi Yeonsung pelan. Ia menatap dalam gadis yang tak ingin membalas tatapannya itu. “jadi kau pergi kemana?”.

“Lu ~ aku mencintaimu. Sungguh! Aku tak akan mengkhianatimu, tapi – aku, sepertinya terlalu bodoh. Jadi –“.

Greebb

Luhan langsung memeluk tubuh itu. Yeonsung membalas pelukan Luhan. Menangis dalam pelukan itu, tanpa suara. “Yeon’ah, meskipun aku tahu kau telah mengkhianatiku, aku akan berpura-pura tidak tahu”.

“Lu, jangan seperti itu. Kau membuatku merasa buruk”.

“bagaimanapun caranya, aku akan berusaha mempertahankan hubungan kita”. Bisik Luhan.

Berhasil membuat airmata Yeonsung mengalir deras. Bagaimana pria itu bisa bicara seperti ini setelah Yeonsung secara tidak langsung mengkonfirmasi jika ia berbohong?

Minseok memilih-milih makanan ringan yang akan ia beli ditoko sekolah. Bersama Kyungsoo yang berdiri tak jauh darinya. Kimi melenggang memasuki toko sekolah.

“oh? Kyungsoo’ssi?”. Panggil Kimi dengan ramahnya.

Kyungsoo menoleh sesaat lalu kembali melihat rak yang berjejer makanan ringan diatasnya. Tak menjawab sapaan Kimi barusan.

“hm? Ya ~ kau tampak berbeda. Ah, kau tidak pakai kacamatamu”.

“susu stroberi disana”. Kyungsoo menunjuk susu stroberi didalam lemari pendingin. Kemudian ia berlalu, membawa makanan yang ia beli ke meja kasir.

Kimi memiringkan kepalanya. Bingung dengan sikap Kyungsoo barusan. Apa mungkin pria itu sedang marah padanya? Tapi kenapa? Kimi pun mengambil susu stroberi dari dalam lemari pendingin.

Gadis itu meletakkan susu kotak yang ingin ia bayar ke meja kasir dengan sedikit dibanting. “ahjussi, tolong punyaku duluan”. Ujarnya.

“ya~”.

mwo?”.

Dengan sedikit mengangkat kepalanya, menatap sombong pada Kyungsoo yang hendak protes atas sikap tidak disiplin Kimi –tak ingin mengantri.

“tsk!”. Dengus Kyungsoo.

Penjaga kasir menghitung belanjaan Kimi terlebih dulu seperti permintaan gadis itu. Setelah membayar susu yang ia beli, Kimi segera melangkah pergi dengan angkuhnya.

“karena itulah aku tak bisa bersamamu”. Gumam Kimi sambil berjalan. “kau terlalu dingin. Hatimu itu dingin”. Tambahnya.

Kimi menghentikan langkahnya saat melihat Jaemin berjalan dari arah berlawanan. Pria itu tersenyum pada Kimi.

“bahkan, pria berwajah polos ini sangat hangat. Aku membutuhkannya”. Gumam Kimi lagi.

Sebagai seekor siluman dengan kemampuan membekukan seperti es, Kimi membutuhkan seseorang berhati hangat agar ia bisa mengendalikan dirinya. Tak ada yang menyuruhnya mencari orang dengan hati yang hangat, ia sendiri yang merasakan jika ia berbeda jika dekat dengan Jaemin.

Jaemin memiliki sesuatu yang Kyungsoo tidak miliki.

Kimi tahu manusia tak akan berubah secara keseluruhan meskipun mereka bilang akan berubah. Tapi sifat dan karakter tak akan mudah berubah. Dan Kimi tak akan menyesal telah memiliki perasaan seperti manusia.

“kau sudah menemui Yeonsung?”. Tanya Jaemin.

“aku bertemu dengannya tadi – tapi kami tidak bicara. Kenapa?”.

Jaemin bersandar pada dinding kaca dijembatan penghubung antar gedung sekolah mereka. “Minho bilang dia kembali mendapatkan Yeonsung, aku tak tahu apakah ia sungguhan atau bagaimana”. Ujar Jaemin.

“jika Yeonsung berpisah dengan Luhan, maka ia berada dalam bahaya”. Gumam Kimi.

“kau bicara apa?”. Jaemin menyipitkan matanya. Ia tak terlalu mendengar apa yang Kimi gumamkan.

Kimi segera menggeleng. “tidak, tidak. Bukan sesuatu yang penting. Aku akan menanyakan langsung padanya nanti”.

“Kimi’ya, apa kau marah jika aku peduli pada Yeonsung seperti sekarang?”. Tanya Jaemin sambil menatap keluar jendela.

“um…”. Kimi tampak berpikir sejenak. “aku mengerti mengapa kau sampai peduli pada gadis gila itu, tapi jangan berlebihan”.

Jaemin menoleh pada Kimi. Ia tersenyum dan meletakkan tangannya diatas kepala Kimi. “karena kau lebih membutuhkan perhatianku, baby?”.

ba-baby, apa-apaan?”.

“aku sedang mencoba romantis. Hargai aku”.

Kimi berdecak. “itu terdengar menggelikan, Jaem’ah, hentikan saja”. Ujar Kimi lalu menjulurkan lidahnya. Mengejek Jaemin yang menurutnya tidak cocok bertingkah romantis. Bahkan Kimi tak menginginkan panggilan khusus.

Aku hanya butuh perasaan khusus, bukan hanya panggilan!

Gadis itu sedang tertidur pulas setelah menenggak segelas penuh susu murni, lalu ia berbaring dan tidur seketika. Kimi selalu menikmati masa-masa saat dirinya menjadi manusia seperti ini.

Saat itu pula, seorang pria bertubuh tinggi nan tegap memasuki rumahnya melalui jendela kamar. Jangan tanya bagaimana ia bisa meloncat ke jendela kamar dilantai atas dengan mudahnya, karena ia bukan manusia biasa.

Yifan. Pria itu telah menempuh perjalanan yang jauh untuk mencari Yeonsung. tumbal yang hilang.

“Kimi”. Ujarnya dengan sangat pelan.

Yifan berniat membangunkan Kimi adiknya.

Tatapannya nanar. Melihat lurus kearah Kimi yang sedang tidur diranjangnya dengan berselimutkan selimut lembut yang hangat itu. Yifan menatapnya tak percaya.

Ada kerinduan, senang, dan sedih melihat adiknya kini.

“Kimi, kau benar-benar Kimi”. Yifan duduk dipinggiran tempat tidur. Mengusap pipi Kimi dengan telapak tangannya yang dingin.

Perlahan Kimi membuka matanya. Merasakan ada aura lain yang berada didekatnya. “em? S-siapa?”. Kimi terperanjat. Ia langsung membuka matanya.

“ini aku. Yifan”. Jawab Yifan.

“Yifan? Benarkah?”.

“benar, ini aku”.

Kimi langsung menghambur memeluk Yifan. Kakak yang sangat ia rindukan setelah puluhan tahun terpisah. “bagaimana kau bisa menemukanku?”.

“aku mencari gadis yang akan menjadi santapanku, aku menemukannya namun aku juga menemukanmu. Kau bersamanya”. Jawab Yifan.

Sore tadi saat Yifan berhasil mencapai tempat yang ia tuju. Yifan bersembunyi dihutan belakang sekolah. Ia hendak menghampiri Yeonsung yang kala itu tengah berdiri sendirian dibelakang sekolah, sambil menengadahkan kepalanya ke atas seperti orang kerasukan. Tapi Yifan mengurungkan niatnya ketika tiba-tiba Kimi mendekati gadis itu.

Yifan merasa terpaku. Antara senang dan kesal. Akhirnya ia menunggu hingga malam tiba sebelum ia pergi dari hutan untuk mencari Kimi.

“t-tunggu – santapanmu? Siapa yang kau maksud?”. Mata Kimi menatap Yifan seolah bergetar.

“gadis yang bersamamu tadi sore. Putri Shin Yonho”. Jawab Yifan.

Mata Kimi membelalak. Mengingat tadi sore ia bersama siapa? Lalu ia teringat sebelum pulang ia mencari Yeonsung untuk mengajak sahabatnya itu makan pancake bersama. Kimi meraih ponsel barunya. Membuka galeri poto. “apa maksudmu gadis ini?”. Kimi menunjukkan poto Yeonsung pada Yifan.

“benar. gadis ini, ia seharusnya sudah musnah tapi pemburu siluman sialan itu berhasil membuatnya menghilang tiba-tiba. Kimi, apa kau kenal dekat dengannya? Kau pasti tahu jika roh yang ada didalam tubuh itu bukan roh yang asli tetapi orang lain. Dia adalah putri Shin Yonho. Pemburu siluman yang telah menangkapmu. Lalu membunuh Shixun”. Oceh Yifan panjang lebar.

Kimi menganga.

Napasnya tercekat mendengar ucapan Yifan.

“Shixun – tewas?”. Kimi terbata. Yifan mengangguk mengiyakan. “bagaimana bisa – bagaimana itu bisa terjadi? Kalian siluman yang hebat. Bagaimana bisa Shixun tewas?!”.

Wajah Yifan berubah menjadi guratan sedih. Kimi bahkan tak tahu nasib kedua kakaknya setelah ia tertangkap dan kehilangan separuh kemampuan silumannya. “kami berusaha menyelamatkanmu, Kimi”.

Hening.

Kimi masih terlalu terkejut mendengar berita tersebut. Ia tak bisa memikirkan apapun. Teringat tentang roh gadis yang kini berada didalam tubuh sahabatnya, Kimi membuka mulutnya. “jadi, gadis itu adalah putri Yonho?”.

“ya, Kimi. Aku sedang berusaha menangkapnya. Kau juga akan kuselamatkan, kita akan kembali ketempat dimana kita seharusnya berada. Lalu –“.

“apa rencanamu?”.

Yifan menatap lekat pada Kimi. Senyuman menyeringai tersungging diwajah tampannya. Beruntung sekali karena ia akhirnya bertemu dengan Kimi. Adiknya ini bisa membantunya untuk menangkap Yeonsung.

Sebenarnya Kimi yang mengajak Yeonsung duduk di atap sekolah. Tapi malah tak mengobrol sedikitpun. Sejak mereka tiba, Kimi tetap diam sambil mengunyah permen karetnya.

“ya ~ kau sedang dalam masalah?”. Tanya Yeonsung memulai percakapan.

“yah begitulah”. Jawab Kimi singkat.

Yeonsung menarik napas. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Sejak ia menjadi Yeonsung yang tinggal di Seoul, ia tidak pernah melihat Kimi seperti ini. “ceritakan padaku”.

“whoa… benarkah kau mau mendengar masalahku, Yeon’ah?”. Kimi tiba-tiba menoleh dan menatap Yeonsung intens.

Mendapat tatapan seperti itu, Yeonsung menjadi kikuk. Ia tersenyum kaku. “iya, tentu saja. Kita kan berteman”.

“bagaimana ya –“. Kimi melipat tangannya dibawah dada. “Yeon’ah, apa kau juga akan rela mati demi Luhan?”.

Kening Yeonsung mengerut. Heh? Pertanyaan macam apa itu? Batin Yeonsung. “kenapa kau bertanya soal itu?”.

“hanya ingin tahu. Yeonsung yang dulu bahkan rela mati demi pria brengsek seperti Minho, aku ingin tahu apa Yeonsung yang ini juga rela mati demi Luhan?”. Kimi tersenyum simpul.

Yeonsung mengangguk. Ia berpikir sejenak. Haruskah ia menjawab ‘ya’? atau mungkin ‘tidak’?

“Park Yeonsung, siapa nama appa mu?”. Tanya Kimi tiba-tiba dengan nada yang terdengar dingin.

Yeonsung tertegun. Ia menoleh pada Kimi. Merasa gugup dengan pertanyaan itu. “kau lupa? Appa ku Park Jungsoo”.

Bibir Kimi melengkung kebawah. Menatap sedih temannya kini. “Luhan memberitahu semua tentang dirimu padaku”. Kimi mendekatkan wajahnya. “termasuk tentang roh lain yang mengisi tubuh ini sekarang”. Desis Kimi.

Jantung Yeonsung rasanya akan berhenti saat itu juga. Benar-benar ucapan yang tak terduga. Benarkah – benarkah Kimi sudah tahu semuanya? Dan Luhan –

“astaga. Candaan macam apa itu?”.

“entahlah. Karena memang terlihat sungguhan”. Kimi menyunggingkan senyuman miringnya. “kau tahu, mungkin mereka punya rencana lain, Yeon’ah, aku sudah lama dekat dengan keluarga Lu jadi aku tahu semuanya”. Tambah Kimi.

Kini Yeonsung hanya bisa menunduk. Tangannya gemetar. Pikirannya langsung dipenuhi oleh bayangan tentang apa yang Kimi katakan. “sejak kapan kau tahu jika aku bukan roh tubuh ini?”.

“sudah lama. Ah, Luhan sengaja mendekatimu demi melancarkan rencana baba nya. Itu sebenarnya strategi klasik  tapi siapa sangka cara itu berhasil, bukan?”. Kimi terkekeh licik.

Yeonsung berdiri. Hendak meninggalkan Kimi saat itu juga. Ia merasa ketakutkan bukan main. Ia harus segera menemui Minho.

“ya! Park Yeonsung!”.

Langkah Yeonsung terhenti ketika Kimi memanggilnya lagi.

“kupikir aku tahu cara agar kau bisa menghindar dari rencana busuk Luhan padamu”. Ujar Kimi. Kata-katanya berhasil membuat Yeonsung membalikan badannya. Dalam hati Kimi bersorak penuh kemenangan.

“bagaimana kau akan membantuku? Apa kau tahu persis masalahku seperti apa?”.

Kimi terkekeh. Ia melangkah mendekati Yeonsung. meletakkan kedua tangannya diatas pundak gadis itu. “turuti saja perkataanku maka kau akan aman. Aku membantumu karena kita berteman”.

Hal yang paling menyebalkan adalah ketika kau tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Kau bahkan tidak tahu harus percaya pada siapa. Sementara kau tidak bisa percaya pada dirimu sendiri.

Karena dirimu yang selalu membohongi diri sendiri.

Yeonsung benci keadaannya sekarang. Merasa jika tak ada yang bisa ia percaya. Dan tak tahu siapa yang benar dan salah. Siapa musuhnya sebenarnya?

Gadis itu mengerang tertahan. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam air di bath up saat mandi.

Kupikir masalahku sudah selesai sesaat setelah aku bertemu dengan Lu Hwang. Pikirnya.

Beberapa detik kemudian ia kembali keluar dari dalam air. Aura yang aneh meliputi sekelilingnya. Yeonsung pernah mengalami aura yang tidak enak ini sebelumnya.

Buru-buru ia keluar dari bath up dan memakai handuk. Yeonsung ketakutan.

aku tahu kau mencintai Luhan, tapi, Yeon’ah, untuk keselamatanmu bisakah kau tidak terlalu dekat dengannya lagi? Sampai semuanya aman, kau bisa kembali padanya”. Kata-kata Kimi yang selalu teringat dibenak Yeonsung.

Malam itu, Park Yeonsung mendatangi apartemen Minho.

Entah atas komando siapa saat ia berkata pada supir taxi menyebutkan alamat apartemen Minho. Lalu kakinya melangkah pasti memasuki lift dan menuju apartemen itu.

“Yeon’ah? Apa yang membawamu kemari?”. Tanya Minho. Bingung. Jelas saja. Yeonsung datang kepadanya tanpa diminta.

Yeonsung mengintip kedalam apartemen dari selah tubuh Minho. “aku ingin masuk”.

“silahkan. Aku menerimamu dengan senang hati”. Ujar Minho lalu mempersilahkan Yeonsung masuk.

Tanpa berpikir dua kali, Yeonsung masuk ke dalam. Tak ada seorang pun didalam sana. “apa kau akan pergi?”. Tanya Yeonsung, menyadari Minho telah berpakaian rapi.

“ya, kau ingin ikut?”.

“tidak. Aku disini saja. Kalau kau ingin pergi, pergi saja”. Yeonsung langsung mengambil posisi duduk diatas shofa dengan kaki dinaikan.

Minho duduk dihadapan gadis itu. “aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian disini, jadi kalau kau tidak ikut aku tak akan pergi”.

“yasudah jangan pergi”.

Minho tertawa pelan. Ucapan ketus Yeonsung membuatnya merasa senang. Entah kenapa ia gemas sekali. Minho langsung membuka jaketnya.

“apa yang akan kau lakukan?”. Yeonsung panik.

“karena aku tak akan pergi, jadi aku lepas”. Jawab Minho. Membuat Yeonsung sedikit lega. “ey ~ apa yang kau pikirkan, huh? Berpikir jika aku akan berbuat macam-macam denganmu?”. Minho mendekatkan tubuhnya.

“apa yang tidak bisa terjadi? Kau kan mesum, jadi hal buruk bisa terjadi kapan saja”. Hardik Yeonsung.

Pria itu mengangguk. Ia kembali menjauhkan tubuhnya, bersandar pada shofa lalu mengambil remot televisi. “jadi kenapa kau datang kemari?”. Tanya Minho langsung setelah memilih acara yang akan ia tonton.

“Minho’ya, kenapa kau mulai tertarik padaku lagi setelah kau sempat mencampakan aku?”. Yeonsung balik bertanya.

“kau datang jauh-jauh kemari hanya untuk menanyakan itu?”. Minho menoleh pada Yeonsung dengan wajah tak percaya.

“jawab saja, sialan”.

Minho kembali tertawa. Kali ini ia mengubah posisinya, duduk menghadap Yeonsung lagi. Ia langsung menarik kedua tangan gadis itu. “em… apa, ya? sebelumnya, kau harus tahu jika aku bukan tak pernah memiliki perasaan padamu sekalipun”.

“jadi kau pernah sungguhan menyukaiku?”.

Minho mengangguk. “aku akan mengatakannya padamu, tapi berjanjilah untuk tidak marah ataupun memukulku”.

“aku hanya akan memukulmu jika kau macam-macam padaku”.

“pada awalnya aku memang menyukai Rin. Tapi setelah kita semakin dekat, perasaan itu mulai muncul. Aku hanya pria yang terlalu mudah bosan, dan saat aku bosan dengan dirimu yang overprotective padaku, saat itulah aku pergi dengan gadis lain”.

Yeonsung mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh Minho. “lalu sejak kapan kau sadar jika kau mulai menyukaiku lagi”.

“melihatmu berjuang antara hidup dan mati diruang ICU, itulah yang membuatku sadar. Tapi aku lagi-lagi membohongi diriku dan bersikeras jika aku tak seharusnya menyukaimu lagi”. Minho menunduk. Menarik napas panjang. “Dan dokter memvonis jika kau mengalami amnesia. Aku menggunakan keadaanmu untuk mencoba mengetahui perasaanku yang sebenarnya”.

“kau telah membuat Rin terluka, kau tahu?”.

“aku tahu. Aku sangat tahu, karena itulah aku memutuskan untuk berpisah dengannya. Karena aku sudah memastikan perasaanku hanya padamu. Aku menyesal telah mengkhianatimu berkali-kali”.

Hening.

Yeonsung malah semakin tertekan setelah mendengar penjelasan Minho. Pikirannya bercabang, haruskah ia kembali pada Minho? Lalu meninggalkan Luhan. Yang Kimi sebut hanya menjebaknya.

Frustasi.

Yeonsung tak tahu harus melakukan apa sekarang.

Minho meletakkan tangannya dipipi Yeonsung. mengusap pelan pipinya dengan ibu jari. Perlahan ia mendekatkan wajahnya. Yeonsung membatu. Tenggelam dalam tatapan Minho. Hingga jarak mereka sangat sempit. Mereka bisa merasakan napas masing-masing menghebus pelan, menggelitik wajah.

TBC

___

Hehehehehe XD

Ayoloh Minho mau ngapain?! Wkwkwk

Baiklah ~ jadi dengan segenap perjuangan akhirnya bisa menyelesaikan chapter ini. berat woi berat >< ini chapter yang selesainya paling lama huhuhu T.T

Tapi semoga pembaca puas dengan chapter ini yaaaa….

Like comment? Jangan lupa! ^^

Advertisements

22 responses to ““Vulpecula” #10 by Arni Kyo

  1. Sudah d publish, maaf Ya thor q jarang koment d ff kamu, Q ttp yakin ko lu han yg bener, t cuma akal2 yifan aja biar dia dpt yeonsung…kimi jgn d buat jahat ya thor, q pengen tau knp yifan jd mau membunuh yeonsung, apa mngkn ada dendam ya dgn orangtuanya…ditunggu ya thor..

  2. Uuuh makin Complicated. 😢😢
    Aaaah kenapa luhan baeq banget sih. Sok pura” gatau kalau yeon berkhianat. Yeah. Kalau udah cinta mah gt 😣😣😣
    Ini kayanya banyak momen yeon sama minho . Uululu 😆😆😆

  3. Jadi si kimi itu antagonis atau gimana sih kak? Aku kadang heran ama sifatnya kimi? Jangankan yeonsung, aku ajh pembaca heran kagak tau siapa yg benar siapa yang salah? Huhuhu oke next kak

  4. So, kimi jadi pengkhianat disini? Hm.. emang kita itu gak boleh terlalu percaya sama org lain, bahkan bayangan sendiripun akn mgkhianati dlm kegelapan,
    Btw, aku komen lagi loh kak, aku nepatin janji kan,
    Kak, kita bisa berteman gak, kalo kakak mau ini akun aku
    Id: andrajulia
    Pin: 5aad8770
    Ig : andrajulia27
    Aku seneng banget loh komen aku yg pertama kemaren di balas, eonni so cool

  5. Yeonsung mulai meragukan luhan, aku juga kebawa deh, jadi yang dapat dipercaya siapa yaa 😦 terus kembali ke minho lagiiih. Tapi kimi beneran bantuin kakaknya yaa, Yeonsung kan anaknya, bukan orang yang membunuh kakaknya kimi.

  6. Ini kimi disini jadi jahat yaa. Nasib hubungan luhan sm yeonsung gmn ni torr duh jd ribet gara2 bang yippan muncul wkwk. Next chap ditunggu torr.

  7. Lah…
    Adeh kimi lg,pelik in benar2 pelik 😧😧
    Lu lu 😍😍😍😍
    Minho in bwanyak alasannya yak.
    Adeh…. makin ksini si yeon spertinya perlu les ttng kjujuran deh dr lu 😅😅😅
    Oh…baba mana??baba mana??
    Knp juga yeon g nyari baba aj,buay nanya hal y sebenarnya,aduh lu…eotteokhae nih…
    Akucy bc jdi ikut serba salah deh,knp juga kimi mau ngebantu yifan,kn baba udh bikin rencana sma kimi,trus…apkh in hanya slh satu rencana baba ya??
    Ah….. Molla
    Sumpah kalo nya lg banyak pertanyaan ku gini nih y bikin pusing,ky bener2 tjdi didunia nyata aj nih ff,hingga dipikirin 😅😅
    Maaf maaf mulai ngelantur deh..
    Okay kami tau ini berat bwerat bwanget malah
    Semangat trus kak,eh kak ap adek yah….
    Ah cri aman aj AUTHORNIM.
    Sllu ditunggu kok klnjutannya,dan tenang dsni g ad readers y ky tukang depkolektor kok 😅😅😅😅

  8. What the hell? Yifan balik lagi dan kimi malah bantuin kakaknya. Ah berharap kimi tidak jadi antagonis, kembalilah jadi kimi yang dulu.
    Please yeonsung jangan meragukan luhan, dia itu tulus.
    Keep fighting for the next chapter, ka!

  9. Cerita yang mana sih, yang ditulis author Arni Kyo yang selalu sukses bkin aku cengingisan biarpun ud tengah malam 😂😂 ini ini!!! I really do love it!!! Sampe2 q khawatir authornya bosen aku bilang ditiap kolom komen kalo aku selalu suukkka dg topik n konflik yg disuguhkan!! 😉😉😉 ini rame ini gara2 Minho ud bnr2 ada diantara Yeonsung n Luhan! Smpet terharu pas luhan bilang akan ttp percaya sama Yeonsung biarpun dy ud boong 😢 terus itu ya Allah Kimi diracunin pikirannya sama Yifan!! Ada pihak lain yg akhirnya berusaha misahin HanYeon couple! Okeh!! Yeonsung berada dilingkaran berbahaya!! Ssippp great job ssaeng! Pasti ga mudah bkin cerita n ngemas cerita ini. Thumbs up!! 👍👍👍👍 covernya skrg trkesan lebih mistis hahaha… *kayanya lebih mistis reader bawel ini yg ngetik komen jam 2 dini hari hahah 😈😈😈 ciiuuuuu nexp part ya ssaeng…. semangat terus nulisnya!! 😙

  10. Eonnii…….. Jaebal minta pw part 11 huwaaaaaaaa kerenn oeeee…. Hayooo si minho sama yeon mau ngapain???

  11. kimi berubah setelah bertemu kakaknya, dia berhasil menghasut yeonsung, gawat apa yg di rencanain kimi sama yifan bikin penasarannn dan minho mau ngapain,

  12. Andweeeee!!!
    Kimi kok gitu ngomong nya?!
    Semoga yeonsung lebih percaya sama luhan.. Dan nggak kembali ke minho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s