A N E M O N E [SehunBee]

SehunBee

Sehun – Hanna

General

.

Sudah di-post di Wattpad SehunBee

Paris, Perancis

Menggunakan topi plastik yang menggulung semua anak rambut, juga seragam dan celemek putih bersih. Tak jarang alis bertaut saat ketelitian dituntut lebih daripada tergoda oleh rasa cokelat menakjubkan. Pelan-pelan membentuk kreasi bunga anemone dari olahan kakao sampai dirasa memiliki bentuk sempurna dan cantik.

“Baiklah, kerja bagus!”

Hanna mengangkat dagu; mendengar seruan Richart—pemilik toko cokelat tempatnya bekerja. Tak lama, semua penghuni dapur pun bernapas lega, tak terkecuali Hanna yang berdiri di depan meja paling sudut.

Bisa dilihat, satu per satu pegawai mulai keluar meninggalkan dapur yang didominasi warna perak tersebut. Ada juga yang masih sibuk membereskan sisa-sisa serpihan cokelat, potongan karamel kering, tepung yang mengotori meja, macaron cacat yang bentuknya tak sesuai menurut Richart, dan beberapa permen yang patah. Hanna adalah salah satu pegawai yang masih berkutat di dapur. Dia memasukkan sisa-sisa produksi ke dalam kotak kecil, untuk kemudian dibawa pulang dan dijadikan kudapan sambil nonton televisi.

“Hanna, kamu mau langsung pulang?”

Hanna baru saja menutup kotak kardusnya saat dikejutkan oleh vokal sopran milik Ruth. Dia lalu menatap wanita di sampingnya itu sekilas, dan mengangguk. “Ada apa?” balas Hanna, bertanya. Tak tinggal diam dengan kembali meneruskan kegiatan selanjutnya; menuju ruangan berisi loker para pekerja.

“Aku ada janji dengan Justin,” jelas Ruth. Hanna pun mengangguk, mengerti. Itu berarti, malam ini akan pulang sendiri tanpa Ruth. Gadis Perancis bermata hijau zamrud itu agaknya akan menghabiskan malam minggu berdua dengan sang Kekasih. Tidak sepertinya yang betah menyendiri bersama sepi di pojokan apartemen.

“Aku mengerti. Selamat bersenang-senang,” seloroh Hanna, kemudian melepas celemek dan topi plastik di kepala. Rambut cokelatnya pun bergelombang indah; khas Gadis Eropa. Tak lupa, Hanna juga bertukar salam perpisahan singkat dengan Ruth dan membiarkan temannya itu keluar lebih dulu. Hanna baru menyusul setelah lima menit sibuk membereskan isi loker. Berjalan hati-hati melewati anak tangga sempit dan keluar melalui pintu depan.

Hanna mengangkat sebelah tangan setibanya di luar; mengecek jam yang berputar manis di sana. Sejurus kemudian mendesah, mendapati panah kecilnya menunjuk angka sepuluh. Namun tak bergegas melangkah, manik hitamnya malah menjelajah keramaian malam. Tahu sendiri bagaimana indahnya Paris—yang katanya tak pernah tidur, bersama dengan lampu jalanan klasik bergaya artistik di sepanjang bahu jalannya. Lebih indah lagi ketika tak sengaja merekam siluet tak asing di mata. Sedang berdiri di bawah sinar keemasan lampu tua bertiang besi.

Hanna yakin sekali tak salah mengenali wajah tatkala berhasil menemukan senyum tipis favoritnya. Akan tetapi, dia tak lekas menghampiri guna memahami medan; mengingat, sang Atlet Berkuda tinggal di Spanyol. Bergabung dengan klub berkuda paling terkenal di sana—yang katanya paling tersohor di dunia—demi mengejar mimpi unik menjadi pengendali kuda profesional.

“Diam saja, tak ingin memelukku?” tegurnya, menggoda. Melihat Hanna yang hanya diam; berdiri, mengupas bibir dengan gigitan kecil. Bertahan di depan pintu kaca bercahaya remang-remang tak ubahnya manekin kaku tak bernyawa. Asyik sendiri, memenuhi titik edar pada sosok berkaus lengan panjang berwarna hitam tersebut.

“Hanna?” tegurnya, lagi. Dia juga tak ragu merentangkan kedua tangan—mengundang gadis itu untuk datang. Rambut hitamnya yang turun menutupi kening menjadi salah satu ciri khas yang begitu Hanna rindukan.

“Sehun,” panggil Hanna, kentara tak percaya. Lalu berjalan kecil memenuhi undangan untuk datang dan tenggelam. Berbagi ungkapan rindu barang sejenak sampai mata tak bosan membentuk bulan sabit terbalik. “Kamu nyata,” katanya, setelah sempat mengira sosok atlet tampan ini hanya ilusi.

“Kejutan!” Sehun mengusak rambut Hanna dengan hidung, sebelum merenggangkan jarak.

“Kapan kamu datang?” Hanna beralih menangkup wajah sahabatnya itu, gemas.

“Aku baru saja tiba sore tadi, eh, kamu tambah tinggi,” gurau Sehun.

Sayangnya, lekas dijawab dengan gelengan kepala oleh Hanna, sambil menjelaskan, “Aku pakai ini!” serunya; menunjukkan sepatu tumit lancip berhak tinggi.

“Hanya untuk bekerja di dapur, kamu menggunakan benda itu?”

“Ini Paris, bukan Korea-yang gadisnya gemar memadukan gaun dengan sepatu kets,” bela Hanna. Mengundang cubitan gemas dari Sehun di pipi, juga tarikan sederhana yang sejatinya mampu menghapus jarak. Kembali membawa keduanya untuk sekadar mengungkap rindu lewat bahasa tubuh. Saling menghirup tamak aroma satu sama lain dan melepas lingkaran tangan setelah merasa cukup.

“Katamu, besok ada pertandingan pacuan kuda?” tanya Hanna, sedikit mendongak mencari netra cokelat Sehun. Teringat, perbincangan terakhir mereka di skype kemarin malam.

“Jika besok benar ada pertandingan, aku tidak akan berada di sini,” jelas Sehun.

Hanna bersidekap dada. Tak suka dibohongi.

“Ayolah, aku jauh-jauh datang dari Andalusia ke Paris hanya untuk menemuimu.” Sehun meraih wajah mungil Hanna.

“Jauh apanya? Perancis dan Spanyol sama-sama berada di Eropa Barat. Lagi pula, kenapa juga baru sempat datang sekarang?”

“Apa itu penting untuk dibahas di saat kita baru bertemu setelah tiga tahun?” alih Sehun.

“Baiklah, mana oleh-olehku?” Hanna menurut begitu saja. Tak lupa membuka kedua tangan dengan binar mata menggemaskan. Mengundang kekehan merdu seorang Oh Sehun yang kedapatan tak membawa apa-apa.

“Akan kamu dapatkan setelah mengajakku keliling Paris, bagaimana?” Sehun mengajak negosiasi.

Hanna tampak berpikir dengan mata bulatnya yang mengerjap sekali. “Paling tidak, berikan uang di muka untukku,” pintanya, serius sekali.

Sehun yang mengerti, lantas mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar uang dari dalamnya yang sontak membuat Hanna girang. “Kamu akan berkeliling Paris gratis!” serunya, semangat.

“Ya, uang itu milikmu. Sekarang, ajak aku jalan-jalan dengan uang itu. Sepakat?”

“Yap.” Hanna manggut. Berjalan mendahului sambil menghitung uangnya, namun sekejap ditarik mundur. Diberi beban tambahan saat sebelah tangan Sehun mengalung di leher. Sesaat, saling melempar senyum singkat. Pelan-pelan berlalu membelah jalan setapak putih; berlangit gelap dengan sedikit taburan bintang. Tanpa sadar telah memerdalam lagi kisah persahabatan yang sejatinya memang tak pernah dilupakan.

Keakraban ini berawal dari kepindahan Hanna dua belas tahun lalu ke Busan, ke rumah kecil di samping kediaman Oh. Alasannya begitu menyakitkan dengan menjadikan kepergian sang Ayah bersama mobil yang terbakar untuk bangkit dari keterpurukan. Begitulah awal mula bertemu dengan seorang anak lelaki ramah yang merupakan tetangganya. Dengan suka rela menghibur Hanna dan mengatakan bahwa ia telah kehilangan seorang ibu sejak lahir.

Maka tak terelakan lagi, keakraban antara tetangga pun terjalin dalam waktu singkat. Terlebih perbedaan umur satu tahun lebih muda membuat Hanna semakin nyaman berlindung di balik punggung Sehun. Termasuk yang satu ini-bertautan tangan dengannya sepanjang jalan menuju Place de la Concorde. Alun-alun terbesar di Paris yang terletak di sepanjang Sungai Seine dan memisahkan Taman Tuileries dari Lapangan Elysium.

Keduanya terdiam; mengamati lalu-lalang kendaraan beroda empat. Saat mulai bosan seperti orang bisu, Sehun pun bersuara. Meregas hening yang ada dengan vokal baritonnya, “Tempat ini dikonstruksikan oleh Ange-Jacques Gabriel untuk meletakkan patung berkuda Raja Louis XV. Namun kemudian, menjadi tempat eksekusi mati pemenggalan kepala Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette pada masa Revolusi Perancis.”

Hanna menatap Sehun, tertarik. Sahabatnya itu menunjuk ke satu arah, di mana guillotine (alat eksekusi mati) pernah diletakan dan menjadi pajangan di tengah alun-alun. “Konon katanya, bau amis darah Raja Louis XVI sangat pekat sampai-sampai membuat hewan ternak enggan melewati tempat ini.”

“Kamu sedang menakutiku, ya?” protes Hanna. Sehun tertawa. Agaknya lupa, Hanna alergi hal-hal berbau mistis.

“Tidak-tidak. Ini sejarah,” elaknya kemudian. Merangkul lagi bahu sahabatnya; meninggalkan tempat bersejarah yang telah banyak berubah itu. “Jangan jadi manusia pasif. Kamu harus mengenal tempat tinggalmu, jika ingin bersahabat dengan kenyamanan.”

“Baiklah, apa yang membuat raja dan ratu itu dihukum mati?”

Sehun memainkan anak rambut Hanna dan menjawab, “Ada banyak faktor. Tenggelam dalam tahta dan harta menjadi salah satu alasannya. Hidup mereka dianggap terlalu mewah, sementara rakyat susah dengan berbagai macam masalah ekonomi. Awalnya mereka begitu dicintai, tetapi semua berubah setelah melewati 15 tahun masa kepemimpinan.”

Hanna mengangguk. “Itu berarti, akhir hidup mereka tak seindah kehidupan sebelumnya.”

“Mm … kamu tahu kenapa?” tanya Sehun. Menarik tangan Hanna untuk duduk di kursi taman dingin berbahan besi.

“Kenapa?” Hanna balas bertanya.

“Karena ketulusan bukanlah hal mudah untuk dipertahankan sampai akhir. Seseorang yang tadinya tulus menjalankan amanat atau perintah, bisa berubah setelah apa yang dikehendakinya tak sesuai keinginan. Ketidakpuasan itulah yang akan membuat orang lupa bersyukur dan cenderung tamak.”

Ada yang berubah dari sorot mata Sehun selepas merampungkan kalimat. Hal sama Hanna rasakan, namun tak juga dirapalkan sebagai ungkapan. Lebih memilih memendamnya jauh ke dasar seperti tahun-tahun sebelumnya, sehingga luka tumbuh sebagai buahnya.

Sekilas, saling bertukar senyum kecil. Memutuskan untuk menghabiskan malam dengan berbagi cerita lain-yang kiranya bisa mendatangkan tawa merdu menyenangkan. Merangkum kembali kisah yang telah lama ditinggalkan tanpa berniat mengubah intinya. Sudah kepalang tanggung menerima keadaan di titik dewasa ini.

Lalu keesokan paginya; Sehun ribut. Mengajak Hanna-yang masih betah bergumul di bawah selimut-ke arena pacuan kuda Longchamp. Sedikit heran, mengapa seorang gadis pemalas seperti Hanna bisa memiliki mimpi unik untuk menjadi bagian dari dapur cokelat ternama milik Richart. Tanpa tahu, kesukaannya terhadap cokelat adalah alasan mengapa Hanna terdampar di Paris dan terlahir menjadi pengolah kakao.

Sesampainya di arena pacuan kuda Longchamp; gantian Hanna yang dibuat heboh. Tampak amat senang melihat banyak kuda berjalan gagah di atas rumput hijau terbuka. Antusias sekali sampai tak sadar menunjuk begitu banyak kuda yang menurutnya cantik dan melaporkannya pada Sehun.

“Yang itu gemuk. Aduh, lucu sekali!” Hanna gemas sendiri.

Inilah alasan mengapa Sehun begitu terobsesi menjadi atlet pacuan kuda. Hanna, sahabatnya, begitu menyukai hewan gagah bertampang cantik tersebut. Lebih senang lagi ketika Hanna tak berhenti tersenyum melihat kuda yang dituntunnya. “Ayo, kita berkuda!” ajak Sehun. Mengusap sayang bulu halus kuda putih yang disewanya.

Hanna pun tak ragu menghampiri. Sejenak, teringat Choco-kuda cokelat milik Sehun-yang tak kalah menawan. Ikut mengelus bulu si Putih ini membuat Hanna semakin merindunya. Terang saja matanya berkabut manis saat bertanya, “Choco sehat, kan?”

“Tentu saja, aku merawatnya dengan baik,” hibur Sehun, melihat kerinduan mendalam di netra bening Hanna. Lalu, membantu sahabatnya itu memakai pelindung kepala dan sedikit mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas pelana. Sehun segera menyusul dengan mengambil tempat tersisa di belakang punggung Hanna. Dari samping, memastikan tak ada lagi kesedihan di mata indah gadis itu.

“Baiklah, kamu siap?”

Hanna mengangguk. Sehun memegang kendali talinya dan mulai membuat kuda itu berjalan. Tak cepat, malah berkesan santai. Tetapi cukup untuk membuat senyum Hanna kembali dan bertahan sepanjang jalan berumput itu.

“Kamu ingat, kapan terakhir kali kita berkuda?” Sehun menghentak talinya.

“Tiga tahun lalu, di hari ulang tahun pertama pernikahan ayah dan ibu,” jawab Hanna.

“Hm. Saat itu, aku masih tak percaya … kamu, sudah menjadi adikku,” goda Sehun.

Hanna tertawa kecil. “Ibu dan ayah saling mencintai. Aku bahagia melihat mereka bahagia.”

“Mm,” gumam Sehun. Perlahan, menghentikan laju kudanya. “Aku punya sesuatu untukmu.” Kali ini, bergerak kecil mengambil sesuatu di saku celana. Mengepalkan tangan dan membukanya di depan Hanna. Membuat sebuah kalung menjuntai cantik dengan kuda perak sebagai liontinnya.

“Wuah!” Hanna girang. Bersiap merebut, namun Sehun tak lekas memberikan. Malah memasangkan liontin cantik itu langsung di leher Hanna sampai mengalung sempurna.

“Cantik. Ini sangat cantik, Sehun!” Hanna tak henti menunduk. Mengundang sang Sahabat merapat demi melihat kembali wajah manisnya. “Ah-ya, aku juga bawa ini. Hampir saja lupa,” katanya, tiba-tiba. Gerakannya ribut tatkala mengambil bungkusan kecil di saku jaket merah muda. Membuat Sehun harus rela menjauhkan wajah barang sejenak dari bahunya.

“Cokelat?” tebak Sehun.

“Anemone,” ralat Hanna, memberitahu cokelat buatannya sudah memiliki nama. Ada sedikit cacat di bagian kelopaknya, makanya bisa Hanna bawa pulang. Sedikit kecut menyadari bahasa bunga ini berarti ketulusan dari pengharapan yang sirna. Terhitung, semenjak sang Ibu menjadikan anemone bunga tangan di hari pernikahan. Mengikatnya dan Sehun yang telah lebih dulu terjebak dalam distraksi perasaan abstrak tak bernalar.

Kiranya dipaksa waktu untuk tetap bungkam dengan menjadikan persahabatan pondasi bertahan. Tulus menerima saat takdir meminta mereka untuk mengerti. Perasaan yang tumbuh sejak pertama bertukar sapaan pun, pada akhirnya dibiarkan tetap diam bersembunyi. Sama sekali tak berani ekspresif mengungkapkan bahwa rasa ini jauh dari sekadar rasa ingin bersama sebagai sahabat.

Hanna lantas berpaling ke kanan; memastikan anemone di tangannya masuk ke dalam mulut Sehun. Bertahan, melihat pria itu tersenyum sambil mengunyah cokelatnya. Membiarkan Sehun merasakan betapa lembut cintanya lewat keping cokelat yang tak sengaja dibuat cacat itu.

Karena sejatinya, kelembutan cinta memang mengajarkan ketulusan nyata. Menerima apa yang sudah dikehendaki takdir dengan melihat kebahagiaan orang yang dicintai. Bukan salah mereka juga yang tak mengakui perasaan satu sama lain. Cukup pahami ada berbagai macam cara untuk memererat hubungan berlandas cinta.

“Hanna?”

“Hm?”

“Aku bosan berlari. Tolong, ingatkan siapa aku untukmu sampai akhir,” pinta Sehun. Dia tersenyum lagi saat ibu jari Hanna menari di atas bibirnya-membersihkan sisa cokelat di sana. Lalu, gadis itu mengangkat kelingking dengan senyum manis setamsil dewi dan mengangguk. Membuat Sehun mengerti untuk kemudian menyambutnya; menunggu untaian silabel membekukan masa.

“We are best friend forever.”

 

FIN

 

Hi, lama tak jumpa….

Masih inget aku? Si Tukang PHP, sebut saja begitu. Dengan gak tahu malu, aku balik. Bukannya bawa FF lama, aku cuma bisa bawa OneShot sebagai pembuka. Dan … ya, aku mau minta maaf sebelumnya… aku ngilang gitu aja gak bawa kabar. Tapi sekarang, aku pengen mulai lagi semuanya dari nol. Aku pengen balik jadi penulis, dan semoga kalian masih mau baca karya-karya aku…  oh, iya, sebelumnya, aku udah comeback di wattpad SehunBee, cuma tinggal di sini nih, yang butuh persiapan mental… *hahh semoga kalian masih mau nerima aku…

Thanks udah baca dan komentar (itu pun kalau ada)

 

Regards,

Sehun’Bee

Advertisements

32 responses to “A N E M O N E [SehunBee]

  1. Wahhh lama bgt gak baca ff kaka kangennnnn , as always deh karya nya bgus ini itu intinya sehun hanna sling jtuh cinta tp mreka ngalah bwt ayah ibunya gitu yaa kak .. Aduhh sweet ditunggu karya lainnya yg se amazing ambition ya kak , fighting !!

  2. jago kakaknya nih kalo bikin cerita romance, selalu dapet perasaanya, the best kak bee!!! ganbatte!!

  3. Aku jadi baper baper cantik deh 😢😢
    Aaah sehun, kapan kamu bahagia nak. Peluk tante sinih . Wkwkwk

  4. Akhirnya balik lagiiiii :’) aku reader baru di blognya kakak,pertama kali baca ff ambition langsung jatuh hati :’) semoga kedepannya makin sering berkarya hihi^^

  5. Halo kak.. akhirnya balik lagii. Btw aku bener2 nungguin comebacknya kakak lohh 😁😁

    Baca cerita ini jadi baper plus nysek sendiri akutuh. Kasian amat mereka berdua. 😭😭

    Okedeh ditunggu banget cerita2 lain dari kakak…

    See yaa🤗

  6. Daebakk! kak Bee beneran comeback nih? Ya alloh kangenn bgt baca ff kaka, aku slalu nungguin kakak posting ff lg loh…
    Coz, ditunggu cerita2 lainnya…
    Selamat berkarya lagi^^

  7. Ga kebayang deh, Sehun sama Hanna harus menahan perasaan mereka sampai akhir. Gimana perasaan mereka kalo di masa depan mereka punya pasangan masing-masing.

    Kalo kedua orang tua mereka enggk nikah pasti Sehun-Hanna enggk berstatus adik-kakak tiri. Tapi mereka juga ga bisa egois disaat kedua orang tua saling mencintai.

    Aku komen apaan sih? hehe

    intinya aku seneng banget Kak Nurul comeback. Yeayyyyyy!!! Kak Nurul semangat yaaa^^

  8. Woaah author comeback lagi sama ff keren ny, fighting lanjutin lagi thor
    Ohiya please thor reply email aku udah nungguin password ff regret sama ambition ny

  9. Holla hallo ka Bee, long time no read😒😒 wkwk welcome!!! 🐣
    Sebegitu sabar + kuatnya Hanna ama Sehun bertahan ama perasaannya, saling ngjaga cintanya satu sama lain. Diem ditempat, gabisa nglakuin apa² demi orangtua mereka. Jd dulunya Hanna ama Sehun cuma tetanggaan doang yakk, berhubung bokapnya Hanna meninggal trus nyokapnya Sehun jg meninggal jadilah sepasang orangtua baru buat Sehun Hanna wekkksss cinta terhalang cinta, yayayayayaaaaa arasseo!
    Itu kalimat endingnya Sehun gakuku banget suerr, ngenes dengernya ihh😭😭😭

  10. wah kangenn banget… udah lama ya… seneng bangett
    ceritanya juga keren, kirain hubungan mereka baklan berkembang, eh udah adik kakak ternyata,
    Sehun-Hanna yang kuat yaa,,, saling mengimgatkan posisi yaa…
    keren deh pokoknya, ditunggu karya2 selanjutnya..

  11. aduhh kak tenang ajaa dehhaku yakin masih banyak banget yg nungguin karyamu kokk..
    Be confident kakk.. jangan ragu untuk menghasilkan karya2 menakjubkan kayak biasanya yaa kakk..

  12. WOW author sehunbee comeback..karya author baru 1 yg saya baca dan itu masuk ff terkeren+terfavorit dll AMBITION..klo regret belum baca dan kyaknya gak akan baca krn waktu itu langsung loncat ke chapter” akhir dan kyaknya sad ending..jd gak jd baca thor krn kurang suka yg berbau sad ending..jadi skrg seneng banget author-nim datang lagi dan mw bikin ff lagi…ya sampe disitu curahan hati ku buat mu thor bye-

  13. Yaampun udah lama gak baca ff unnie sampe kaget pas liat ada post dari unnie di skf :’) kangeeeennnnnn
    Welcome back unnie~~ ditunggu karya selanjutnyaaaa
    Oh iyaa pengen bgt yg rendezvous nya dilanjuuutttt udah penasaran bgt sama kelanjutannya
    Fighting 💖💖💖

  14. Kak beeee… long time no see, welcome back yaaa.. ditunggu next fanficnya 😉😉 review buat chapt ini.. ulala bgt, kupikir udah kepedean sama ff yang kakbee pernah ceritain ke aku mau buat fanfict yang itu, ternyata bukan, duhh ini rumit ternyata, cinta mereka keduluan bapak ibunya wqwq. Miris ewww, tp kalau mau nikah juga sebenernya boleh kan ya.. ihihi, udah aahh banyak ngomong aku mah wqwq.. thanks kak, di tunggu next fanfictnya 😘😘😘

  15. Udah lama gak ada kabarnya kakk. Seneng deh bisa baca karya kakak lagi. Sampe lupa sama jalan cerita semua ff kakak. Btw aku suka banget sama cerita ini, nyesek itu saat sama2 suka tapi mrk malah jadi adik-kakak. Di tunggu ya kakk cerita lainnya

  16. Aaa kangen banget sama pasangan ini, kangen juga sama penulisnya. Selalu nunggu kisah2 romancenya, fighting author. Semoga sering2 update

  17. Aaahh aku jadi satu dari ratusan reader yg tentunya dengan senang hati menyambut comeback-nya author kesukaan kami, adek Bee…. 😄😄😄😄😄 semangat ya…. tulisan kamu emg juaranya! Kalo urusan romance & sedihnya… dijamin NGENA…! Thousand thumbs for U! 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍 😃😃😃😙😙😙

  18. Wihhh uda lama bngetttt kakkk rindu bnget sama ff kakak
    Plus baca oneshot yg buat hati nyesek ngeliat sehun hana ga bisa bersatu
    Oh ya welcome back kakkkkk semoga bisa baca kelanjutan ff kakka yg lainn

  19. krn emak bpknya pada nikah mrk hrs ngalah. ksian hrs jd kakak adek. ssh bgt pst. tpi untungnya mrk jrg ketemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s