Honey Cacti [Chapter 9]

honey-cacti-poster-3-seohun

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun | Kim Seol Hyun

Genre: Romance, Comedy, Drama

Prev: Prolog || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8

———————————————–

Chapter 9—Wanna Go

 

Menerima perlakuan manis Se Hun ini membuat Seo Ah semakin merasa egois

***

                “Terima kasih sudah mengantar.”

Se Hun tidak menjawab ucapan Seo Ah, hanya memperhatikan wanita yang sedang melepas sabuk pengaman itu dengan tatapan menyipit. Bibirnya mengerucut dan bergerak tanpa mengeluarkan suara apapun, seperti ingin menarik perhatian Seo Ah tanpa wanita itu tahu kalau ia sedang berusaha. Acara kencan malam ini terpaksa dibatalkan karena Seo Ah harus menemui teman-temannya. Padahal Se Hun sudah menyusun rencana bagus untuk malam ini, terlebih ia sudah siap mengorbankan nyawanya dengan menjemput Seo Ah di kantornya. Tapi wanita itu sama sekali tidak mengubah pikirannya.

Kalau begini, sama saja dengan waktu-waktu sebelumnya. Tidak ada kencan setelah bekerja, atau paling tidak makan malam bersama.

“Kenapa wajahmu begitu?”

Se Hun tersenyum dalam hati ketika Seo Ah bertanya. Wanita itu akhirnya sadar kalau dirinya sedang membutuhkan perhatian. Tapi Se Hun tidak mengubah ekspresinya, ia tetap menggunakan tatapan memelas untuk Seo Ah.

“Kau benar-benar akan pergi?”

Seo Ah memutar bola matanya. “Jangan berharap aku akan mengubah pikiran.”

“Lagipula siapa yang sedang merajuk?” balas Se Hun, dengan maksud terselubung agar Seo Ah benar-benar paham kalau dirinya sedang merajuk. “Aku bisa berkencan dengan wanita cantik lainnya, kok.”

“Aku juga bisa berkencan dengan pria lain!” Seo Ah mengerutkan hidungnya, tidak mau kalah dengan Se Hun. Tapi meski begitu, ia sudah tahu, ia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Se Hun.

“Siapa? Lee Jeong Min?”

Selama tiga detik, Seo Ah menatap Se Hun, yang sedang menahan tawa, dengan datar sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Tanpa mengucapkan apapun, ia keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan kasar. Meninggalkan Se Hun dengan teriakannya. Perlu Seo Ah catat mulai sekarang kalau Se Hun adalah orang pendendam. Pria itu suka sekali membahas hal-hal terdahulu.

“HUBUNGI AKU KALAU KAU SUDAH PULANG, YA!”

Seo Ah tidak membalik tubuhnya atau paling tidak berhenti, ia terus berjalan di trotoar yang lumayan ramai itu. Tapi sebuah senyum terbit di wajahnya. Seo Ah tahu kalau Se Hun terus memperhatikannya sampai akhirnya ia masuk ke dalam kafe milik Bo Mi. Dan ia juga tahu kalau Se Hun tidak akan marah dengan responnya yang seperti ini. Sejak kejadian malam itu, entah kenapa Seo Ah merasakan ikatan batin dengan Se Hun.

Masuk ke kafe Bo Mi, seorang pekerja paruh waktu di sana mengatakan kalau Bo Mi dan Ji Eun sudah menunggu di ruangan Bo Mi. Karena kafe ini berada di lantai dua, yang di bawahnya adalah sebuah toko kado dan pernak-pernik, ruangan manajer terletak agak tersembunyi di belakang, dekat dapur. Bo Mi dan Ji Eun ada di sana, dan langsung memberi tatapan pada Seo Ah ketika wanita itu masuk dengan senyuman lebar.

“Sudah lama kita tidak kumpul seperti ini, ya.”

“Kau tidak membawa mobil?”

Pertanyaan yang dilempar Ji Eun sangat jauh dari percakapan awal yang dimulai Seo Ah. Tapi wajah Ji Eun terlihat tidak sedang bercanda, atau mengulaskan sebuah senyum. Begitu juga dengan Bo Mi. Meski wajahnya tidak sekaku Ji Eun, tapi sambutan dari Bo Mi terasa dingin untuk Seo Ah. Mencoba mengabaikan semua perasaan itu, Seo Ah pun melangkah perlahan ke arah sofa dengan kekehan pelan—menganggap kalau Ji Eun dan Bo Mi sedang bercanda, lalu duduk di sana.

“Apa sih maksud—“

“Kau diantar siapa, Seo Ah-ya?” tanya Bo Mi.

“Ah, itu—“

“Dengan pria, kan?!”

Lagi-lagi Ji Eun bertanya dengan nada terburu-buru. Bo Mi, yang duduk di sampingnya, pun menggenggam tangan Ji Eun, seolah menyuruhnya untuk tenang. Seo Ah masih belum paham situasi di sini, tapi ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dan lagi, mereka berdua tidak boleh tahu kalau Seo Ah diantar Se Hun. Seo Ah masih belum siap untuk bercerita, ditambah kondisi Ji Eun tampaknya belum stabil, ia tidak mau menjadi beban.

“Jeong Min. Aku diantar Jeong Min tadi.” Jawab Seo Ah dengan terpaksa. Memang jawaban yang paling aman adalah dengan melibatkan saudara kembarnya itu.

Seo Ah jelas-jelas mendengar dengusan dari Ji Eun, yang membuatnya mengerutkan dahi. Seo Ah masih belum menyadari kalau bahaya sedang mengincarnya, ia hanya fokus kepada sikap Ji Eun dan Bo Mi yang seolah sedang tertukar. Mencoba untuk mengenyahkan pikiran buruknya, Seo Ah tertawa canggung dan duduk sofa, di hadapan Ji Eun dan Bo Mi.

Ya, kalian kenapa—“

“Aku tidak tahu kalau Jeong Min bisa membeli mobil semewah itu.”

Keringat dingin seketika mengalir di punggung Seo Ah. Situasi tidak bisa dikendalikan Seo Ah, dan ia mulai merasa kalau sedikit saja salah bicara, keadaan akan semakin kacau. Meski di kepala Seo Ah bermunculan kemungkinan-kemungkinan buruk, Seo Ah masih belum mau mengakui yang sebenarnya. Pikirnya, itu malah akan membuat keadaan makin buruk.

Melihat kediaman Seo Ah, emosi Ji Eun semakin tidak terkendali. Nafasnya yang memburu seolah sedang membakar amarah dalam dirinya. Matanya yang berair dan merah seakan ingin membunuh Seo Ah sekarang juga. Dengan tangan gemetar, dengan cepat Ji Eun mengambil sesuatu dari tasnya dan melemparkannya dengan kasar ke atas meja, tepat di hadapan Seo Ah. Bunyi lembaran-lembaran foto yang membentur kaca terdengar perih di telinga Seo Ah dan Ji Eun, seperti mampu merobek hati mereka berdua.

Mata Seo Ah bergerak ke lembaran foto yang dilempar Ji Eun. Sekarang bukan hanya keringat dingin, tapi seluruh tubuhnya benar-benar menggigigil. Tanpa perlu dijelaskan, Seo Ah sudah bisa menebak apa isi foto-foto itu. Tapi dengan gemetar tangan Seo Ah tetap menggapainya, sambil berharap kalau semua ini hanya mimpi dan pikiran buruknya hanyalah sebuah pikiran belaka. Ketika tangannya menyentuh ujung tajam selembar foto, dan matanya semakin lama semakin jelas melihat isi foto itu, Seo Ah tahu kalau dunianya sudah runtuh.

“I-Ini….”

“Kau menusukku dari belakang?!”

Seo Ah menggeleng cepat. Matanya bergerak panik. “Bukan begitu… aku ingin menceritakannya padamu, tapi… waktunya….”

“Waktu?! Apa aku harus mati dulu, baru kau mengatakannya?!”

“Ji Eun-a….”

“Bukan, Ji Eun-a.”

Kalau biasanya Ji Eun yang selalu menjadi penengah dan orang yang paling sabar, kali ini peran itu dimainkan oleh Bo Mi. Tapi Bo Mi sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ini pertama kalinya ia melihat Ji Eun semarah ini, dan Seo Ah pun seperti tidak mempunyai alasan yang bagus untuk melawan.

Sebenarnya Bo Mi tidak suka keadaan ini. Bagaimanapun, Ji Eun dan Se Hun sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, tidak ada salahnya kalau Seo Ah mulai menjalin hubungan dengan pria itu. Tapi di satu sisi, ia setuju dengan Ji Eun. Mereka sudah bersahabat sejak lama, apa sulitnya menceritakan hal ini—setidaknya dengan Bo Mi. Kalau sudah seperti ini, Bo Mi sama sekali tidak mempunyai ‘senjata’ untuk membantu Seo Ah, meski ia tahu Seo Ah tidak sepenuhnya salah.

“A-Aku… aku juga tidak tahu kenapa menjadi seperti ini.” Ucap Seo Ah. “Semua terjadi begitu saja.”

“Kau kira aku akan percaya dengan lelucon murahan itu?!” Ji Eun benar-benar sudah tidak terkendali. Ia seperti kapan saja bisa membalik meja di hadapannya. “Kau tahu persis bagaimana perasaanku kepada Se Hun sampai saat ini, dan kau masih tega berbicara seperti itu?!”

“Kau dan Se Hun… sudah lama berakhir….”

Bo Mi membenarkan ucapan Seo Ah itu, tapi tidak dengan Ji Eun. Kata-kata Seo Ah bagai bensin yang menyulut api amarahnya. Wajah Ji Eun jadi merah padam dengan kedua tangan terkepal erat di sisi tubuhnya. Seo Ah kembali mengingatkan sesuatu yang Ji Eun harap tidak pernah terjadi, itulah yang membuatnya sangat marah. Iya, benar, Ji Eun dan Se Hun sudah tidak memiliki hubungan, tapi karena Seo Ah yang mengatakannya, Ji Eun terlihat sangat bodoh. Seakan semua amarahnya ini tidak berguna.

Ji Eun tidak suka kekalahan.

Bo Mi, yang menyadari perubahan Ji Eun, menyentuh pundak wanita itu. Tapi Ji Eun langsung menepisnya, lalu dengan cepat mengambil cangkir berisi cokelat hangat yang tinggal setengah itu dan menyiram isinya ke wajah Seo Ah. Cairan hangat dan lengket itu tidak hanya melukai wajah Seo Ah, tapi juga seluruh sisi hatinya. Ia merasa sangat hina diperlakukan seperti ini, tapi juga tidak bisa melakukan apa-apa. Meski kenyataannya Seo Ah tahu kalau ia tidak salah.

“Kau benar-benar menjijikan!” pekik Ji Eun. “Berani-beraninya berkata seperti itu padaku!”

Seo Ah berdiri dari duduknya dan memberanikan diri untuk menatap Ji Eun, meski kakinya tidak mampu menahan tubuhnya yang bergetar. “Maafkan aku, Ji Eun-a…,” ucap Seo Ah, hatinya sangat sakit mendengar teriakan Ji Eun. “Aku akan lakukan apa saja agar kau memaafkanku, hm?”

Dengan mata memerah dan setengah menangis, Ji Eun mendengus sinis atas ucapan Seo Ah barusan. Ia pun menepis tangan Seo Ah yang menggenggam tangannya. Ji Eun tidak akan terpengaruh dengan cara murahan seperti ini, ia tidak akan jatuh dengan air mata pengkhianat seperti Seo Ah. Pada saat seperti ini, Ji Eun ingin melakukan apa saja untuk melenyapkan siapapun yang menghalangi jalannya.

“Apa saja? Termasuk memutuskan hubunganmu dengan Se Hun?” tanya Ji Eun sarkastik.

Seo Ah hanya diam saja, tidak tahu harus menjawab apa. Sisi egoisnya memberontak—ia baru saja mencoba bahagia dengan Se Hun, tapi di sisi lainnya ia tidak ingin mengecewakan Ji Eun. Mereka bersahabat, dan dalam situasi seperti ini, semua pasti akan menuduh Seo Ah sebagai pengkhianat.

“Tidak bisa, kan?” Ji Eun kembali berucap sebelum Seo Ah menjawab. Senyum sinis terukir di wajahnya. “Jangan mengatakan hal yang mustahil dilakukan oleh wanita sepertimu!”

“A-Apa….”

“Ji Eun-a, Seo Ah-ya, kita bicarakan ini baik—“

Ji Eun lagi-lagi menepis tangan Bo Mi yang setengah menariknya untuk kembali duduk. Matanya terus menusuk ke arah Seo Ah yang berdiri di depannya. “Wanita pengkhianat dan murahan sepertimu.”

Tangan Seo Ah terkepal di sisi tubuhnya, berusaha tidak meluapkan amarah yang sudah di puncak kepalanya karena masih menghormati Ji Eun sebagai sahabatnya, juga Bo Mi yang berdiri di sebelah Ji Eun. Ya… pikirkan hal-hal yang baik saja, Choi Seo Ah. Setidaknya Kim Seol Hyun pernah memperlakukanmu lebih buruk dari ini.

“Tidak diragukan kalau kau memang dilahirkan dari seorang ibu pelacur.”

PLAAKK!

Di saat Ji Eun selesai bicara, di saat itu juga tangan kanan tangan Seo Ah dengan kuat menampar pipi kiri Ji Eun. Ia masih bisa bertahan ketika Ji Eun menjelekkan dirinya, menghinjak harga dirinya di depan Bo Mi atau presiden sekalipun. Tapi satu kata buruk yang Ji Eun katakan tentang ibunya sudah cukup membuat Seo Ah meledak.

Tidak ada yang salah dari seorang ibu yang ingin melindungi anaknya. Tidak ada yang salah dari seorang ibu yang berjuang sendiri untuk membesarkan anaknya. Tidak ada yang salah dari seorang ibu yang menerima semua cacian untuknya juga anak-tanpa-ayahnya dan berjuang untuk bangkit, bahkan sampai si anak sempat membencinya. Apa hak Ji Eun berbicara buruk untuk ibunya?!

Ji Eun masih memegangi pipinya yang memerah dan menatap Seo Ah dengan marah. Nafasnya memburu. Tidak diperdulikan lagi Bo Mi yang terus memohon mereka berdua untuk berhenti, Ji Eun kini membalas tamparan Seo Ah dengan sama kerasnya.

“Lee Ji Eun! Choi Seo Ah!” Bo Mi berteriak keras dan berdiri di antara mereka, berusaha menahan aksi yang lebih brutal daripada tamparan.

“Kau boleh memakiku sampai pita suaramu habis, tapi saat kau berbicara buruk tentang ibuku, aku tidak akan diam!” Seo Ah berteriak sampai suaranya melengking tinggi. Ia tidak peduli akan menyakiti tenggorokkannya, Ji Eun benar-benar kelewatan.

“Kenapa kau mengatur hidupku?! Apa salahnya menyukai seseorang?! Apa kau Tuhan yang bisa seenaknya menyuruh orang tidak jatuh cinta pada mantan tunangan sahabatmu sendiri?! Aku sendiri juga tidak mau seperti ini! Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku!” lanjut Seo Ah. Mungkin kalau Bo Mi tidak ada di antara mereka, wanita itu sudah menarik habis seluruh rambut Ji Eun.

“Kau!”

Seo Ah mulai bisa mengendalikan dirinya, meski amarahnya belum reda. Ia menarik nafas panjang, menatap Ji Eun lurus-lurus. Sekuat mungkin ia menahan nada bicaranya agar tidak berteriak lagi.

“Iya, aku memang murahan, tapi jangan sekali-sekali kau memanggil ibuku seperti itu!”

Seo Ah pun berbalik badan dan menyambar tasnya di atas sofa. “Bo Mi-ya, terima kasih sudah mengundangku. Maaf aku tidak bisa berlama-lama.”

Entah Seo Ah bermaksud sarkastik atau benar-benar berterima kasih karena sudah diberi waktu untuk menjelaskan semuanya pada Ji Eun. Seo Ah keluar dari ruangan Bo Mi. Tatapan penuh tanya dari beberapa orang langsung menyerangnya. Tidak bisa dipungkiri kalau teriakan keras mereka atau mungkin sampai suara tamparan itu terdengar sampai luar. Seo Ah tidak peduli dan terus berjalan ke pintu keluar kafe. Kakinya sudah menginjak anak tangga ke lima saat ia mendengar suara Bo Mi memanggilnya di belakang.

Bo Mi berhenti di hadapan Seo Ah. “Kenapa kau tidak menceritakan padaku dari awal?”

Pertanyaan Bo Mi tidak terkesan menyalahkan, namun terdengar sangat sedih. Sekalipun Seo Ah memang tidak mau bercerita pada Ji Eun, setidaknya Bo Mi akan siap mendengar dengan objektif. Ia juga paham, cinta tidak bisa memilih.

“Aku tidak bisa membela apapun.”

Seo Ah, yang awalnya hanya menunduk dan diam, akhirnya mengangkat kepala dan tersenyum. “Tidak apa-apa, terima kasih.” Kata Seo Ah. “Dan maaf. Aku… aku hanya belum siap waktu itu.”

Bo Mi menghela nafas dan meraih tangan Seo Ah lalu memberi usapan lembut di sana. “Aku tidak akan menyalahkanmu ataupun Ji Eun. Lakukan apa yang hatimu ingin lakukan, dan jangan ragu. Semua akan baik-baik saja, percaya padaku.”

“Iya.”

“Pulanglah. Aku masih harus menenangkan Ji Eun.”

Wajah Seo Ah kembali sendu. “Maaf….”

“Eiy! Sudahlah!” Bo Mi memukul pelan lengan Seo Ah. “Cepat pulang dan beristirahat.”

“Hm, baiklah. Aku pergi.”

Memberi salam singkat, Seo Ah kembali menuruni tangga. Setelah ini apa yang harus ia lakukan? Rasanya pasti akan canggung bertemu Bo Mi, dan berbicara dengan Ji Eun bukanlah pilihan yang tepat. Seo Ah pun tidak ingin cepat-cepat sampai di rumah. Ibunya pasti sudah pulang, Seo Ah tidak akan kuat untuk tidak menangis kalau melihat ibunya setelah kejadian tadi. Kata-kata Ji Eun sukses mempengaruhi pikirannya.

Saat ini, Seo Ah hanya duduk diam di kursi halte bus, memperhatikan orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang dengan wajah kosong. Pikirannya campur aduk, tapi Seo Ah tidak tahu harus berbuat apa. Ia bisa saja menyalahkan dirinya, tapi ada sisi dirinya yang tidak ingin melakukan itu. Ji Eun memang sudah bersikap keterlaluan tapi bagaimanapun—Seo Ah pikir—Ji Eun memiliki hak.

Di tengah kegundahan hatinya, ponsel di saku mantel Seo Ah berdering tanda pesan masuk. Seo Ah mengambil ponselnya dengan helaan nafas panjang.

[Kau masih di kafe? Sudah pulang? Kenapa tidak menghubungiku…]

Seo Ah tersenyum kecil membaca pesan dari Se Hun. Hatinya menghangat dan perlahan ia bisa melepaskan bebannya. Mengingat cara bicara pria itu yang sedikit kekanakan dengan suara yang terkadang membuat Seo Ah lebih memilih mendengar celotehan anak ayam daripada mendengar Se Hun bicara, membuat Seo Ah merasa lebih egois sekarang. Tidak seperti Jong In, Se Hun membuat Seo Ah tidak ingin melepaskannya begitu saja. Seo Ah ingin terus seperti ini walau hanya sebentar.

Seo Ah tidak menyadari kalau ia menatap layar ponsel itu terlalu lama karena terus membayangkan tingkah Se Hun. Ponselnya kembali berdering, kali ini sebuah panggilan dari Se Hun. Seo Ah mendecih, namun menjawab juga panggilan itu. Sepertinya dia tahu apa yang akan diucapkan Se Hun kemudian.

“Kenapa tidak membalas pesanku? Kau sudah membacanya, kan?!”

Seo Ah tersenyum tipis. Seperti dugaannya.

“Aku baru akan membalasnya, kok.”

Se Hun mendecih di ujung sana. “Alasan.” Ucapnya sinis, yang malah membuat Seo Ah menggulung bibirnya. “Memangnya kau sudah bisa menjawab teleponku? Bagaimana kalau Ji Eun tahu?”

Terkadang Seo Ah merasa Se Hun aneh juga. Se Hun selalu sengaja melakukan hal yang membuat orang lain sadar dengan hubungan mereka, tapi di satu sisi ia terus mengkhawatirkan hal itu. Seperti sekarang, Seo Ah masih ingat bagaimana Se Hun bersikeras mengantar Seo Ah ke kafe Bo Mi padahal jelas-jelas Seo Ah mengatakan kalau Ji Eun juga ada di sana.

“Aku sudah pulang.”

“Dan kau tidak menghubungiku duluan?! Daebak!”

Seo Ah lagi-lagi hanya bisa terkekeh lemah. Sebenarnya Seo Ah sedang lelah untuk mendengarkan celotehan Se Hun, tapi ia tidak bisa menahan hatinya untuk tidak senang ketika mendengar suara pria itu. Ah… benar, Seo Ah punya tempat bersandar sekarang, meski ia belum yakin apakah masih bisa bersikap egois pada saat seperti ini.

“Tidak menjawab?!”

“Se Hun-ssi….”

“Apa?”

“Ayo kita berkencan.”

***

                Tidak sampai sepuluh menit, Se Hun sudah ada di depan Seo Ah dengan senyum lebar seperti anak kecil. Suara decitan ban mobil Se Hun dengan aspal menimbulkan bekas samar, juga tatapan aneh dari orang-orang. Se Hun benar-benar seperti orang kesetanan setelah mendengar ajakan Seo Ah tadi. Pria itu mengiyakan dengan suara lantang lalu memutuskan panggilannya begitu saja, lalu tanpa diduga, muncul di hadapan Seo Ah dengan masih menggunakan pakaian yang tadi ia kenakan.

“Kau mau ke mana? N Tower? Restoran Prancis? Menonton film? Atau mungkin ke Jepang? Disneyland?”

Se Hun terlihat sangat antusias. Padahal ajakan Seo Ah tadi setengah sadar diucapkan, ia pun tidak menyangka kalau Se Hun benar-benar datang. Tapi Seo Ah tidak bisa untuk tidak terhibur.

“Bagaimana kalau ke rumahmu?”

Jawaban Seo Ah sukses membuat senyum Se Hun mendadak kaku. Matanya membulat. Tanpa Seo Ah sadari, perlahan detak jantung Se Hun bekerja dua kali lebih cepat. “K-Kau mau ke rumahku? Malam ini?”

“Tidak.” Jawab Seo Ah dengan nada mengejek. “Ayo, kita pergi ke mana saja yang banyak makanannya. Ah… aku sangat lapar.”

Seo Ah melewati Se Hun begitu saja dan masuk ke dalam mobil, tanpa peduli Se Hun menjadi tontonan karena tubuhnya yang mendadak kaku begitu. Menyadari Seo Ah sudah duduk manis di dalam mobilnya, Se Hun mendelik sinis. Sial! Satu kali lagi Seo Ah berhasil mengendalikannya. Ia benar-benar dibuat gila oleh wanita pemarah itu.

Mau tidak mau, Se Hun menyusul Seo Ah masuk ke dalam mobil. “Di rumahku juga banyak makanan.”

“Ke Myeong-dong saja. Ah, aku juga ingin menonton film.” Menghiraukan keberadaan Se Hun yang berwajah kesal di sampingnya, Seo Ah malam mengeluarkan ponsel dan memeriksa jadwal film. “Film yang bagus… film yang bagus….”

“Kau ini mendengarkanku tidak, sih?!”

Seo Ah menoleh. “Kita menonton film, ya? Hm?”

Sial! Sial! Sial! Se Hun menahan diri untuk tidak mencium habis wajah Seo Ah yang sedang tersenyum manis itu. Matanya yang kecil membuatnya terlihat seperti anak kucing. Meski Se Hun tidak suka kucing, ia pasti akan langsung mengadopsinya jika ada kucing semanis Seo Ah. Padahal dulu Se Hun selalu tidak ingin kalah dari Seo Ah, tapi sekarang dengan mudahnya wanita itu membuatnya bertekuk lutut. Cinta memang hebat.

“Baiklah, kau menang! Kau menang, sialan!”

“Kau memanggilku ‘sialan’?!”

“Bukan, bukan kau. Tapi yang lain.”

Alasan Se Hun belum cukup untuk membuat Seo Ah berhenti mengerutkan dahinya tidak suka. Akhirnya, karena tidak punya alasan yang lebih bagus, juga karena tidak kuat dengan wajah marah Seo Ah yang—menurutnya—sangat seksi, Se Hun mengecup kedua mata Seo Ah juga bibirnya dengan cepat. Seperti dugaannya, wajah Seo Ah langsung berubah dan sekarang merona.

“A-Apa-apaan itu!”

“Salah satu rencana kencan kita.”

Seo Ah mendecih dan mengalihkan pandangan. Ia menyembunyikan wajahnya yang memanas dengan melihat pemandangan di balik jendela. Se Hun, di balik roda kemudi, hanya terus tersenyum sambil sesekali mendendangkan lagu apa saja yang terlintas di otaknya. Meski setengah perjalanan tidak ada yang berbicara, entah kenapa mereka suka seperti ini. Apalagi dengan tangan mereka yang saling bertaut di pangkuan Se Hun.

***

                Teriakan bahkan isakan tangis memenuhi ruangan besar kedap suara itu. Bunyi memekakkan telinga bersahutan, bersamaan dengan adegan mengerikan penuh darah yang terpampang jelas di layar besar, di depan sana. Baru 20 menit film berjalan, Se Hun sudah menyesali pilihan hidupnya terhadap Seo Ah. Ia tidak mengerti kenapa bisa mengencani wanita gila yang memilih menonton film horrorthriller untuk kencan pertama mereka. Se Hun bahkan tidak bisa membuka matanya, dan kakinya tidak mampu menyentuh lantai karena membayangkan darah berceceran di lantai itu.

Se Hun terlalu sibuk dengan ketakutan dan teriakan melengkingnya, tidak menyadari kalau Seo Ah bersikap aneh sejak lampu bioskop dimatikan dan seluruh perhatian Se Hun teralih ke layar. Mata Seo Ah memang tepaku ke layar, tapi pikirannya melayang jauh. Ia memikirkan nasib persahabatannya dengan Ji Eun, juga bagaimana hubungannya dengan Se Hun akan dibawa selanjutnya. Ia terlalu takut, meski sangat ingin terus melaju.

Seo Ah sangat menyayangi Ji Eun, tapi tidak bisa dipungkiri kalau ucapan Ji Eun tadi benar-benar melukainya. Ia tidak menghindar saat Ji Eun menyerangnya dengan kata-kata tajam karena ia merasa kalau dirinya pantas mendapatkan itu. Lagi, Seo Ah merasa bimbang sekarang. Apakah sebuah dosa kalau ia berhubungan dengan Se Hun, atau ia harus memilih persahabatannya dengan Ji Eun?

“Kau tidak mau keluar?”

“Eh?”

Seo Ah mengerjap. Ia melihat layar di depan sudah menampilkan credit dan orang-orang mulai meninggalkan kursi mereka. Begitu juga dengan Se Hun yang berdiri di sampingnya sambil merapikan pakaian, menunggu Seo Ah untuk berdiri juga.

“Kau sangat ketakutan sampai tidak bisa bergerak, ya? Salahmu sendiri memilih film ini!” Se Hun tidak bisa menghindar dari fakta kalau kakinya masih gemetar karena ketakutan, tapi ia berusaha menutupinya agar Seo Ah tidak mengejeknya. Ia bersumpah kalau nanti malam tidak bisa tidur, ia akan memberondong Seo Ah dengan telepon sampai subuh.

Seo Ah tertawa canggung. “Iya, begitulah.”

Seo Ah sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan film itu. Sepanjang 120 menit tadi ia hanya termenung, memikirkan hubungannya dengan Ji Eun dan Se Hun. Ia tidak bisa berpikir jernih, hanya suara di kepalanya yang terdengar. Film horor itu pun tidak sengaja Seo Ah pilih karena Se Hun memintanya cepat-cepat sedangkan dirinya membeli popcorn dan soda. Di depan mesin otomatis tadi, Seo Ah terus saja termenung sampai seseorang di belakangnya menepuk pundak Seo Ah dan memintanya untuk segera membeli tiket.

Tapi Seo Ah tidak mau Se Hun mengetahui apa yang mengganggu pikirannya. Ia terus berkilah sedari tadi, tanpa sadar kalau kecurigaan itu mulai muncul di kepala Se Hun.

“Habis ini mau ke mana?”

“Makan!” Seo Ah menjawab dengan cepat, ia pun melompat dari kursinya. Benar, ia sedang berkencan dengan Se Hun, bukan saatnya memikirkan hal-hal rumit itu. “Aku akan mencari restoran enak di dekat sini.”

Melihat Seo Ah mulai memainkan ponselnya, Se Hun menahan tangan wanita itu dan memberikan tatapan memelas. Semenjak mereka resmi berkencan, Se Hun menujukkan sisi lain dirinya yang tidak pernah Seo Ah bayangkan. Pria itu masih memiliki sifat tidak mau kalah, tapi sifat kekanakannya terkadang membuat Seo Ah ingin sekali menendang bokongnya. Seperti sekarang, ia menunjukkan ekspresi seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu pada ibunya. Seo Ah yakin, pasti pria ini akan meminta hal-hal aneh.

“Aku ingin makan masakanmu.”

Jauh lebih aneh dari yang dibayangkan Seo Ah.

“Kenapa tidak makan di restoran saja? Aku yang akan mentraktir.”

Se Hun menggeleng dan mulai memainkan tangan Seo Ah. “Oleh karena itu, aku ingin kau yang memasak saja.”

Sejak Seo Ah bergurau ingin berkencan di rumahnya, Se Hun terus kepikiran tentang hal itu. Ia ingin sekali melihat punggung Seo Ah yang sedang memasak, sementara dirinya duduk manis di meja makan seperti seorang suami yang baik. Sesudah itu mereka akan menonton film sambil berpelukan di sofa, menikmati secangkir cokelat panas dan camilan, lalu tertidur pulas sampai keesokan harinya. Membayangkannya saja sudah membuat Se Hun tersenyum sendiri.

Seo Ah tahu, ia tidak akan bisa melawan Se Hun yang sedang merajuk. Bisa-bisa pria ini merengek seperti anak kecil, atau mungkin saja berteriak histeris kalau Seo Ah menolaknya. Ia gemas melihat Se Hun seperti ini, tapi tetap tidak bisa untuk tidak jatuh dalam pesonanya. Se Hun memiliki kemampuan aneh untuk menggabungkan wajahnya yang tampan dan sifat kekanakannya yang menjengkelkan. Akhirnya, Seo Ah tidak punya pilihan lain selain menghela nafas dan mengiyakan permintaan aneh itu.

Yes!” Se Hun berseru kecil sambil menunjukkan wajah penuh kemenangannya. Ia pun segera menarik tangan Seo Ah untuk keluar dari ruang pertunjukkan yang hampir sepi itu. “Ayo kita berbelanja!”

***

                “Untuk malam ini, aku merekomendasikan daging. Tapi kalau kau ingin memasak makanan lain juga tidak apa-apa. Ah! Masakanmu yang waktu itu juga enak, bagaimana kalau masak itu lagi? Atau….”

Ocehan Se Hun hanya melewati kepala kosong Seo Ah begitu saja, tanpa dicernanya. Meski begitu kakinya tetap mengikuti langkah Se Hun yang sedang mendorong troli di sebelahnya. Sedetik saja Seo Ah kehilangan fokusnya, ia akan kembali mengingat ucapan Ji Eun tadi. Kata-kata Ji Eun seperti kutukan yang terus menghantuinya. Sekuat apapun Seo Ah berusaha mengabaikannya, suara dingin dan ucapan menusuk Ji Eun terus berputar, tidak membiarkannya bebas. Tidak ada yang bisa didengar Seo Ah selain suara Ji Eun, membuat kepala Seo Ah ingin sekali meledak.

                [“Waktu?! Apa aku harus mati dulu, baru kau mengatakannya?!”]

[ “A-Aku… aku juga tidak tahu kenapa menjadi seperti ini.” Ucap Seo Ah. “Semua terjadi begitu saja.”]

[“Kau kira aku akan percaya dengan lelucon murahan itu?!”]

[“Kau benar-benar menjijikan!”]

[“Apa saja? Termasuk memutuskan hubunganmu dengan Se Hun?]

Memutuskan hubungan dengan Se Hun? Apakah harus? Apakah dengan begitu semua akan kembali seperti semula dan hidup Seo Ah akan terus damai sampai akhir hayatnya?

Seo Ah… merasa tidak yakin.

Ia malah merasa takut, tidak seperti saat ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Jong In beberapa bulan yang lalu.

“Seo Ah-ya.”

“Choi Seo Ah!”

“Ah, ya?”

Seo Ah berhenti melangkah, tetapi tidak menemukan Se Hun di sampingnya. Pria itu ada beberapa langkah di belakang Seo Ah. Ternyata tadi Se Hun berhenti sejenak untuk mengambil camilan, tapi Seo Ah terus saja melangkah. Awalnya Se Hun biarkan saja, menganggap Seo Ah mungkin saja sedang ingin mengajaknya bermain. Tapi melihat Seo Ah terus melangkah seperti itu, bahkan tanpa mau repot-repot menoleh padanya, Se Hun curiga kalau Seo Ah bukan sekadar mengajaknya bermain.

Se Hun mendorong trolinya ke arah Seo Ah. “Kau kenapa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

“Apa? Ah, tidak. Aku hanya…” mata Seo Ah berputar untuk mencari alasan yang bagus. “Ah! Sedang mencari cokelat kesukaan eomma!”

Se Hun terus menatap Seo Ah seakan mencari jawaban lain dari tatapan matanya. Namun Seo Ah terus menghindari matanya. Seo Ah tahu kalau Se Hun mengetahui apa yang mengganggunya, pria itu tidak akan tinggal diam. Seo Ah tidak ingin Se Hun bertindak apapun, ini masalahnya dengan Ji Eun. Akan lebih buruk kalau Se Hun ikut campur.

Tidak mendapat apa yang ia mau, Se Hun pun hanya bisa menghela nafas. Oke, saat ini ia akan membiarkan saja masalah ini. “Baiklah. Kau ingin memasak apa untukku, hm?”

Dalam hati, Seo Ah mendesah lega saat Se Hun memilih mengesampingkan masalahnya dan kembali bertanya dengan nada menggemaskan. Pria itu bahkan tidak segan mengeluarkan senyum manis dan membulatnya matanya dengan lucu.

“Bagaimana kalau ikan? Aku bisa membuatkanmu ikan Dori panggang dengan saus keju.”

“Dori? Maksudmu ikan biru itu? Apa tidak apa-apa?”

Untuk sesaat, Seo Ah menyayangkan wajah tampan Se Hun karena ucapan konyol yang keluar dari mulut pria itu. Yang lebih mengesalkannya lagi, Se Hun terdengar tidak seperti sedang bergurau.

“Itu Dori, yang ini namanya memang Dori.” Seo Ah menekankan setiap katanya, bermaksud meredam emosi juga membuat Se Hun mengerti. Namun hal itu malah membuat Se Hun kembali mengucapkan kalimat konyol, entah untuk menggoda Seo Ah atau memang tidak tahu.

“Iya, kan. Mereka berdua Dori. Dori temannya Nemo.”

“Oh Se Hun. Kau benar-benar bodoh, ya?”

Setelah mengucapkan itu, Seo Ah mengambil alih troli di tangan Se Hun dan mendorongnya cepat-cepat, menghindari pria itu. Semakin lama menghadapi Se Hun, semakin Seo Ah ingin menggerus habis kepalanya. Se Hun terkekeh melihat Seo Ah yang sedang kesal, dan mulai menyusul langkah wanita itu. Topik mereka masih berputar masalah Dori, dan kemudian terus berlanjut ke bahan makanan selanjutnya. Termasuk saat Seo Ah memaksa akan membuatkan Se Hun salad sayuran karena lemak di perut pria itu sudah menggunung.

“Ini bukan lemak, Seo Ah Sayang. Apa kau belum pernah melihat perut seksi Oppa-mu ini?” tanya Se Hun dengan nada menggoda, sambil menyibak jas yang digunakan, berusaha memamerkan otot perutnya yang samar tercetak di balik kemeja biru muda yang dikenakannya.

Seo Ah memutar bola matanya. “Tetap saja. Kalau kau terus makan daging tanpa sayuran, kau akan berubah menjadi ahjussi.”

Masih tidak terima dengan paksaan Seo Ah, Se Hun dengan iseng menyibak rambut Seo Ah ke belakang telinga wanita itu, lalu membisikkan sebuah kalimat yang membuat wanita yang sedang memilih salada segar itu bergidik ngeri.

“Begitu sampai di rumah, aku bisa langsung menunjukkan perutku padamu, kok.”

Seo Ah langsung mendelikkan matanya. “Mau mati, ya?!”

Se Hun tersenyum miring dan mengangkat bahunya. “Atau mungkin kau mau melihat bagian yang lain?” sebelum Seo Ah kembali mengamuk, Se Hun mendorong troli mereka menjauh dari tempat itu sambil tertawa geli.

Memang tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menggoda Seo Ah.

Dan membuat wanita itu lupa dengan masalah yang terus mengganggunya sedari tadi. Bagaimanapun… Se Hun selalu memperhatikan wanita itu.

***

                “ADUH! SIAL!”

Se Hun tidak tahan lagi. Kali ini, seberusaha apapun Seo Ah melarangnya masuk dapur, ia tetap akan tinggal di sana dan mengawasi. Ini sudah ketiga kalinya pekikan Seo Ah, kelima kalinya umpatan Seo Ah, dan entah-keberapa-kali bunyi barang berjatuhan terdengar oleh Se Hun yang sedari tadi berusaha menyibukkan diri dengan membaca buku. Ia pun membuang buku itu ke sofa sembarangan lalu menghampiri Seo Ah yang berdiri di konter dapur sambil memegangi jarinya yang terluka.

“Sudah kubilang berhati-hati.”

Seo Ah mengangkat pandangannya. “Kenapa kau selalu marah-marah saat masuk dapur?” tanyanya, tidak kalah ketus dari Se Hun.

“Bagaimana aku tidak marah kalau kau berniat menghancurkan dapurku dan membakar seluruh rumah ini?!”

Sebenarnya bukan itu, Se Hun hanya terlalu khawatir. Mendengar teriakan Seo Ah saja sudah membuat bokongnya gatal ingin berdiri, apalagi melihat Seo Ah terluka seperti ini. Tapi Se Hun tidak mau mengakuinya—terlalu menjatuhkan imej kalau Se Hun terlalu jujur mengekspresikan diri. Sambil membalut luka kecil Seo Ah di jari telunjuknya, Se Hun pun kembali menggerutu.

“Sudahlah, biar aku saja yang memasak! Kau tunggu saja.”

Seo Ah mengerutkan hidungnya. Rasanya itu adalah kalimat yang ia ucapkan pada Se Hun beberapa saat yang lalu, tapi pria ini sekarang membalikkannya.

“Tidak! Kau sendiri kan yang meminta aku memasak.”

“Kalau begitu, kita lakukan bersama saja.”

“Apa?”

Tidak mau dibantah lagi. Se Hun mengambil parutan keju dan memarut keju cheddar yang tergeletak di sana. “Kau buat saja salad-nya, aku yang membuat saus dan ikannya.”

Seperti tidak diberikan kesempatan untuk membantah, tangan Seo Ah selalu saja ditepis Se Hun ketika ingin mengambil kembali peralatan memasaknya yang sudah dikuasai Se Hun. Pria itu bahkan tidak segan menunjukkan wajah kesalnya pada Seo Ah. Ia pun tidak punya pilihan lain selain menuruti Se Hun. Namun biarpun begitu, mulut Se Hun tetap tidak berhenti mengoceh. Baik untuk mengomentari Seo Ah atau sekadar menanyakan sesuatu yang tidak jelas pada Seo Ah. Pokoknya bukan hanya tangan mereka berdua yang sibuk bekerja, tapi Se Hun membuat mulut Seo Ah juga ikut sibuk meladeni ocehannya.

Pekerjaan yang seharusnya bisa Seo Ah lakukan sendiri selama tiga puluh menit, harus dihabiskan dua kali lebih lama gara-gara Se Hun. Seo Ah tidak hanya repot memasak tetapi juga membereskan kekacauan yang Se Hun ciptakan. Terlihat bukan Seo Ah yang berniat menghancurkan dapur mewah ini, tapi pria itu sendiri yang ingin membumihanguskan semuanya. Seo Ah bahkan memekik berkali-kali karena Se Hun bermain-main dengan minyak panas saat ingin memanggang ikan.

Masakkan sudah matang, dan sekarang mereka berdua sedang menata meja makan lengkap dengan dua gelas kristal dan sebotol wine tahun 1884 kesayangan Se Hun. Meja makan tampak hangat dan romantis meski tidak ada lilin ataupun hiasan bunga. Aroma keju bercampur aroma butter menguar  di sana, ditambah dengan aroma manis wine yang baru Se Hun tuangkan. Ini jauh lebih menyenangkan daripada makan di restoran.

“Makan malamku jadi mundur gara-gara dirimu.” Gerutu Seo Ah sambil mengiris steak ikan di hadapannya.

“Jangan berpura-pura! Memangnya kau pernah diet?”

Seo Ah mendelik ke arah Se Hun yang masih asik mengiris daging ikannya. “Seorang wanita tidak boleh makan di atas jam 7 malam, tau!”

“Ya, ya, ya, baiklah….” jawab Se Hun sekenanya sambil menukar piringnya dengan piring Seo Ah. Sekarang di hadapan Seo Ah tersaji steak ikan yang sudah dipotong kecil-kecil oleh Se Hun.

Tatapan Seo Ah terpaku pada piringnya, sedangkan Se Hun sudah kembali mengiris daging steak miliknya—yang tadinya milik Seo Ah—sambil mengoceh tidak jelas. Tapi Seo Ah tidak benar-benar mendengarkannya. Air mata yang sudah membendung di ujung mata sepertinya tidak hanya memburamkan pandangannya, tapi juga pendengarannya. Menerima perlakuan manis Se Hun ini membuat Seo Ah semakin merasa egois, dan ia tidak sanggup kalau harus melepaskan ini semua sekarang.

Semakin Seo Ah berpikir, semakin rumit pula yang terjadi di kepalanya. Se Hun tidak hanya bersikap manis padanya saat mereka sudah resmi berpacaran, tapi… dipikir beberapa kalipun Se Hun memang selalu menunjukkan sisi romantisnya dengan cara yang unik. Terkadang Seo Ah harus kesal setengah mati sebelum bisa merasakannya. Hal itu tidak ingin Seo Ah lewatkan ketika bersama Se Hun.

Tapi… apakah dia tidak jahat? Bagaimana dengan Ji Eun?

Seo Ah tidak menyadari kalau air matanya sudah mengalir, dan tidak tahu kalau Se Hun sudah berpindah tempat ke kursi di sebelahnya. Tangan besar pria itu membingkai wajah Seo Ah, membawanya untuk bertatapan dengannya sambil menghapus air mata Seo Ah. Se Hun tidak mengatakan apapun, tapi matanya menggambarkan kesedihan. Mungkin lebih ke arah kecewa, karena Seo Ah memendam semuanya sendiri. Padahal Se Hun sudah mengetahui sejak beberapa waktu yang lalu.

“Kenapa tidak menceritakannya padaku, hm?” tanya Se Hun lembut. Pria itu juga menyingkirkan anak rambut Seo Ah yang menempel di wajahnya.

Mendengar nada itu, bukannya tenang, tangis Seo Ah malah semakin besar. Se Hun menghela nafas panjang lalu membawa wanita itu ke pelukannya. Ia tidak peduli kalau makan malam mereka akan berakhir di tempat sampah. Melihat Seo Ah yang terus-menerus bersikap aneh membuat hatinya seperti teriris. Ia tahu, Seo Ah bukan tidak mempercayainya, tapi belum siap. Namun tetap saja itu membuat hati Se Hun nyeri.

“Apa ada yang menggaggumu?”

“Maafkan aku….”

Se Hun memeluk Seo Ah semakin erat. “Tidak apa-apa. Kau bisa menceritakannya saat kau mau.”

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Ucap Seo Ah sambil melepaskan pelukan Se Hun dengan pelan. “Aku sangat mencintai kalian berdua dan tidak ingin kehilangan kalian. Tapi aku tidak ingin menjadi egois, dan takut sakit hati lagi. Aku harus bagaimana?!”

Nada bicara Seo Ah yang frustasi membuat hati Se Hun bergetar. Meski i belum tahu secara persis masalah apa yang sedang dihadapi Seo Ah, Se Hun bisa merasakan bagaimana sedari tadi wanita ini memendamnya sendiri. Ah… lagi-lagi perasaan itu datang.

Seo Ah mengangkat kepalanya, karena Se Hun tidak juga memberikan tanggapan, hanya usapan lembut di telapak tangannya. “Ji Eun sudah mengetahui semuanya. Seseorang mengirimkan foto kita pada Ji Eun.”

Se Hun tahu ini termasuk masalah besar, tapi ia tidak terlalu terkejut. Ini akan terjadi cepat atau lambat. Lagipula menurutnya, Ji Eun tidak lagi memiliki hak untuk ikut campur. Tapi melihat Seo Ah seperti ini, Se Hun tidak boleh menganggap Lee Ji Eun masalah sepele.

“Aku takut… aku takut kehilangan kalian berdua….” Seo Ah kembali menangis, sambil menggeleng kuat, berusaha mengenyahkan bayangan buruk yang menghantuinya. “Aku tidak tahu harus melakukan apa?”

Pelukan Se Hun memang membuat semuanya terasa lebih baik, tapi Seo Ah membutuhkan lebih dari itu. Ia ingin Se Hun memberikan sebuah jawaban untuknya, meski kenyataannya Seo Ah sendiri yang harus menentukan. Tapi sekali lagi, Seo Ah terlalu takut. Ia takut salah melangkah dan kehilangan semuanya. Ini ketakutan terbesar yang pertama kali yang ia rasakan. Seo Ah tidak pernah merasa takut saat ibunya tahu ia membolos waktu SMA, atau takut saat ia gagal ujian masuk universitas. Bahkan ia tidak takut mengambil risiko berhubungan jarak jauh dengan Jong In.

Ini pertama kalinya.

Untuk saat ini, hati Seo Ah tidak bisa menentukan. Dan Seo Ah harap Se Hun tidak memberikan jawaban seperti itu.

“Lakukanlah apa yang hatimu katakan, Seo Ah-ya.”

Seo Ah menggeleng pelan. Tidak, seharusnya Se Hun tidak mengucapkan kalimat seperti ini. Seo Ah tidak ingin mempercayai kata hatinya sekarang, ia ingin Se Hun membantunya.

“Bodoh! Kau berpikir aku akan berkata begitu, kan?” dengan cepat, Se Hun menarik kembali Seo Ah ke pelukannya. “Dulu mungkin aku akan mengatakan itu, tapi sekarang, aku ingin kau mempertahankan kita.”

Seo Ah kembali menangis keras. Kalau Se Hun sudah memberikan kepastian seperti itu, ia harus mengikutinya. Seo Ah harus percaya. Seketika, pikirannya akan kehilangan Ji Eun seperti tidak pernah ada sebelumnya. Yang tersisa hanya bayangan kebahagiaan yang akan Seo Ah hadapi bersama Se Hun. Ya, ia percaya dengan Se Hun. Ia yakin bisa melewati ini semua bersama pria itu.

“Jangan khawatir,” ucap Se Hun. “Aku akan selalu ada di sampingmu. Kapanmu dan bagaimanapun keadaanmu.”

***

                Di tengah keramaian jalanan ibu kota, Se Hun tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri di dalam mobilnya. Sesudah mengantarkan Seo Ah, kekhawatiran Se Hun tidak kunjung reda. Se Hun sibuk dengan pikirannya sampai-sampai tidak bisa mendengar lagu apa yang berputar di radio mobilnya, atau apa yang terjadi di jalan sana. Tapi Se Hun masih cukup waras untuk tidak salah menginjak rem dengan gas.

Kekhawatirannya bertambah setelah Seo Ah memberitahu sebuah fakta besar kepadanya tadi. Di dalam mobil Se Hun, Seo Ah menceritakan semuanya seperti sedang membuka kotak pandora hidupnya. Air mata yang mengalir dari kedua mata wanita itu terus mengiris hatinya, tapi Se Hun tidak bisa berbuat banyak selain mendengarkan.

[“Aku adalah anak yang lahir dari seorang ibu yang tidak pernah menikah.”]

                [“Dan aku baru saja mengetahui siapa ayahku.”]

                [“Menyedihkan, ya?”]

                [“Apa kau masih ingin bersama seorang wanita yang lahir di luar nikah?”]

                [“Apa tidak apa-apa?”]

Se Hun pikir, masalah yang dihadapi wanita itu hanya yang berhubungan dengan Ji Eun, ternyata ini jauh lebih rumit. Entah apa yang diucapkan Ji Eun pada Seo Ah tadi, tapi Se Hun yakin hal itulah yang membuat Seo Ah tiba-tiba saja membahas masalah ini.

Se Hun tidak langsung keluar dari mobilnya setelah sampai di basement gedung apartemennya. Pikirannya masih berkecamuk. Tidak, sungguh ia tidak mempermasalahkan siapa Seo Ah sebenarnya atau bagaimana latar belakang keluarganya, hanya… Se Hun tidak bisa membayangkan berapa banyak beban yang Seo Ah tanggung.

Sebagai kekasih Seo Ah… Se Hun merasa tidak berguna.

Ia membiarkan wanita ringkih itu menanggung semuanya.

“Argh!”

Se Hun mengacak rambutnya sambil berteriak keras di dalam mobil. Ia memukul roda kemudi berkali-kali, meluapkan kekesalannya. Sial! Sial! Sial! Kenapa aku menelan ucapanku sendiri?! Mana janji untuk membahagiakan Seo Ah? Kalau begini sama saja aku dengan si Brengsek itu!

Perlu setengah jam untuk Se Hun menjernihkan pikirannya di dalam mobil, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah. Ia harus berguyur dengan air dingin, atau… alkohol juga tidak terlalu buruk. Pokoknya ia harus mencari sesuatu yang bisa membuatnya melupakan masalah ini, lalu setelahnya ia bisa mencari jalan keluarnya dengan tenang.

Buk! Buk! Buk!

“Oh Se Hun! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!”

Begitu Se Hun keluar dari lift, bunyi keras langsung menyambutnya. Beruntung apartemen Se Hun merupakan satu-satunya unit yang berada di lantai ini, jadi ia tidak terlalu memusingkan tetangga yang mungkin akan memprotesnya. Beberapa meter di depannya, seorang wanita dengan mantel hitam terus menggedor pintu apartemennya. Sesekali dia juga mencoba untuk memasukan password kunci apartemen meski suara “password diblokir” terus keluar dari mesin itu. Selama beberapa saat Se Hun hanya terdiam menatap sosok wanita yang sedang menggila itu.

Oppa, biarkan aku masuk!” pekiknya lagi, tepat di depan pintu. “Kau bahkan mengganti password-nya. Apa kau gila?!”

Tubuh wanita itu tampak oleng , hampir terjatuh, tapi buru-buru wanita itu berpegangan pada dinding terdekat. Se Hun menghela nafas. Ia sungguh ingin melawan, tapi tampak tidak etis bertengkar dengan wanita mabuk. Akhirnya Se Hun pun menghampiri wanita itu, meraih pergelangan tangannya dan membalik tubuhnya.

“Apa yang kaulakukan di sini, Lee Ji Eun?”

Ji Eun menyipitkan matanya, lalu tertawa senang setelah mengetahui kalau pria itu adalah Se Hun. Wajah cantik Ji Eun merona merah karena efek alkohol. Entah berapa banyak yang sudah ia minum, yang jelas sangat banyak sampai Se Hun bisa mencium bau alkohol dari jarak itu. Sekali lagi Se Hun melihat sisi lain Lee Ji Eun. Sebelumnya, ia mengenal Ji Eun sebagai wanita anggun dan manis, tidak pernah Se Hun bayangkan Ji Eun menyentuh alkohol. Bahkan sampai mabuk dan menyerbu rumah orang.

“Ah… Oppa! Kau dari mana saja?”

Se Hun menghindari tangan Ji Eun yang ingin menyentuh wajahnya. Sekuat mungkin Se Hun menahan diri untuk tidak mendorong pergi wanita itu. ”Apa yang kau mau?”

Ekspresi Ji Eun berubah. “Kenapa Oppa jadi seperti ini?”

“Lebih baik kau pulang. Akan kupanggilkan taksi.”

“Apa ini gara-gara Seo Ah?”

Tangan Se Hun yang ingin menarik Ji Eun menjauh dari sana terhenti di udara. Ia pun menatap Ji Eun lagi.

“Kenapa harus Seo Ah?”

Ji Eun tidak mengerti, ia sudah memastikan dirinya mabuk berat saat di bar tadi. Bahkan ia sudah setengah sadar saat menyebutkan alamat rumah Se Hun dan menggedor pintu itu seperti orang gila. Namun hatinya masih sakit mengingat kalau Se Hun kini sudah benar-benar pergi dari hidupnya. Bukan itu saja, Se Hun pun lebih memilih sahabatnya daripada dirinya. Bukannya ingin menyombong, tapi Ji Eun tahu sendiri bagaimana standar seorang Oh Se Hun. Dan ia tidak percaya kalau Seo Ah bisa mencapainya.

Ji Eun menangis keras. “Di antara jutaan wanita, kenapa harus Seo Ah?! KENAPA HARUS SAHABATKU?!”

Ji Eun berteriak, sebelum tubuhnya melengser jatuh ke lantai. Se Hun diam saja di tempat, membiarkan Ji Eun meluapkan semuanya. Ji Eun tidak paham kenapa perkembangannya menjadi seperti ini. Ia kira bisa melepaskan Se Hun dengan mudah, ditambah bantuan Seo Ah dan Bo Mi semua terlihat akan baik-baik saja. Tapi… Se Hun kembali hadir, bersama dengan orang yang dipercayainya. Ji Eun juga sama kalutnya dengan Seo Ah. Haruskah ia menjadi tokoh antagonis atau mengikhlaskan hatinya disakiti kesekian kalinya.

“Aku mengorbankan semuanya untukmu, bahkan ketika ingin melupakanmu, aku melakukan segalanya. Tapi… kenapa oppa melakukan ini padaku?!”

Ji Eun sadar, berapa banyak pertanyaan yang ia keluarkan, jawaban Se Hun tetaplah sama. Se Hun adalah pria yang keras kepala. Tidak mudah untuk mengubah jalan pikiran seorang Oh Se Hun.

Ji Eun jatuh terduduk, genggaman tangan Se Hun pun terlepas. Hari ini, seluruh dunia jatuh di pundaknya. Ia ingin mati saja kalau seperti ini. Tidak masalah keluarganya, ancaman Baek Hyun, dan sekarang sahabat yang ia percaya bisa mengalihkan sedikit dunianya malah membuat keadaan makin runyam. Ji Eun tidak tahu siapa yang harus dipercaya sekarang.

Entah sudah berapa lama menangis sampai telinga Ji Eun berdenging nyaring dan kepalanya sakit luar biasa. Alkohol bukan jawabannya, Ji Eun malah merasakan sakit dua kali lipat—fisik dan batinnya. Hal terakhir yang Ji Eun ingat sebelum jatuh pingsan adalah pelukan hangat Se Hun, lalu tubuhnya menjadi ringan.

***

                Jam makan siang Seo Ah sedikit mundur karena harus mengerjakan beberapa laporan yang diberikan mendadak oleh Seol Hyun. Ia keluar dari ruangannya sendirian karena rekan-rekan kerjanya yang lain sudah lebih dulu pergi ke kantin atau makan di luar kantor.

Keluar dari lift, Seo Ah mendengar suara seseorang yang membuat detak jantungnya berhenti. Sempat terdiam sejenak, Seo Ah akhirnya memutuskan untuk terus melangkah. Semakin sedikit kontak yang ia lakukan maka hidupnya akan semakin baik. Tapi seolah Seo Ah adalah pendosa besar di kehidupan sebelumnya, Tuhan tidak memberikan kemudahan itu padanya. Orang itu memanggil Seo Ah. Cukup keras sampai beberapa orang memperhatikannya—yang hanya terpaku tanpa berniat membalikan badan dan menyapa si kepala perusahaan.

Seo Ah memutar langkahnya perlahan. Malapetaka! Seol Hyun juga ada di sana!

Annyeonghaseyo, Presdir Kim?” sapa Seo Ah, ia pun menyapa sekadarnya pada Seol Hyun yang berdiri di sebelah Presdir Kim, sambil merangkul lengan ayahnya.

Yang merupakan ayah Seo Ah juga.

“Apa kau ingin keluar untuk makan siang?” tanya Presdir Kim.

Seo Ah menggigit pipi bagian dalamnya. Haruskah ia menjawab? Atau langsung saja melarikan diri sambil melemparkan surat pengunduran diri?

Ini gila!

“A-Ah, tidak, sepertinya saya akan makan di kantin kantor saja.”

“Bagaimana kalau gabung bersama kami? Kau suka masakan China, Seo Ah-ssi?”

Appa!” tidak terima dengan usulan ayahnya, Seol Hyun menegur. Yah… jangankan Seol Hyun, Seo Ah pun berpikir itu ide yang sangat buruk.

“Maafkan saya, Presdir, sepertinya—“

“Tidak apa-apa, lagipula kau dan Seol Hyun teman lama, kan? Sesekali makan siang bersama tentu bukan masalah,” Presdir Kim melirik Seol Hyun yang sedang cemberut. “Bagaimana, Seol Hyun-a?”

“Tapi Appa janji akan makan siang bersamaku saja.”

Ya, Seol Hyun memang begitu. Tanpa peduli basa-basi atau apapun namanya itu, ia pasti akan mengatakannya secara langsung. Jelas-jelas Seol Hyun menunjukan aura permusuhannya dengan Seo Ah, tidak tahu kalau Seo Ah dari kemarin berusaha tidak membongkar seluruh aibnya di depan Presdir Kim. Tapi untuk saat ini, Seo Ah diuntungkan dengan sifatnya itu.

“Saya tidak ingin mengganggu waktu Anda bersama Manajer Kim.” tolak Seo Ah halus. Lebih dari itu, Seo Ah sebenarnya sama sekali tidak ingin melihat mereka berdua, apalagi ia tahu posisinya sekarang.

“Tidak apa-apa, jangan khawatir,” Presdir Kim masih bersikeras mengajak Seo Ah makan bersama. “Seol Hyun memang sedikit manja, tapi kalian pasti akan cepat akrab setelah makan siang bersama nanti.”

Seo Ah melirik Seol Hyun yang semakin mengkerut di samping Presdir Kim. Makin akrab? Sampai dunia terbelah dua pun sepertinya itu mustahil. Namun sebelum Seo Ah kembali menolak, Presdir Kim berjalan terlebih dulu sambil mengajaknya. Seo Ah tidak punya pilihan lain, selain menghela nafas dan mengikuti langkah dua orang itu.

Seo Ah tidak tahu apa saja yang ia lalui selama perjalanan. Ia hanya menjawab sekadarnya ketika Presdir Kim melibatkannya dalam pembicaraan. Seo Ah pun menghindari kontak mata dengan Seol Hyun. Jujur saja, ia merasa bersalah padanya. Meski kenyataannya Presdir Kim yang mengajak Seo Ah, tapi Seol Hyun memperlakukan Seo Ah seolah ini semua gara-gara dirinya.

Di restoran pun Seo Ah hanya bisa mengekor seperti anak itik. Kepalanya terus tertunduk atau mencari pengalihan apapun agar tidak melihat kemesraan Presdir Kim dan Seol Hyun di depannya. Seo Ah tidak suka suasana seperti ini. Ia yakin, Presdir Kim sudah tahu siapa dirinya, tapi dengan memperlakukannya seperti ini bukan berarti Seo Ah otomatis mengakui kalau beliau adalah ayah kandungnya. Seberapa baik sifatnya, rasanya tidak mampu menggantikan 27 perjuangan ibunya.

Apa kini Presidir Kim sedang berusaha menyamakan kedudukannya dengan Seol Hyun?

Sampai makanan tersaji di hadapan mereka, Seo Ah masih tenggelam di pikirannya. Makanan dengan warna menarik dan aroma menggoda tidak mampu membangkitkan selera makan Seo Ah. Wanita itu hanya meneguk air putih sedikit demi sedikit. Ia menanggapi ajakan Presdir Kim dengan senyuman tipis sebelum mengambil sumpit dan mencicipi sedikit makanan yang dihidangkan sebagai bentuk kesopanan.

“Kudengar kalian juga teman saat kuliah, bukan begitu, Seol Hyun-a?” tanya Presdir Kim. Sedari tadi hanya pria paruh baya itu yang banyak bicara dan terlihat lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya.

“Iya, begitulah.”

“Apa kalian berteman baik?” tidak peduli dengan jawaban dingin Seol Hyun, Presdir Kim kembali bertanya. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Seo Ah. “Apakah Seol Hyun mempelakukanmu dengan baik, Seo Ah-ssi?”

Seo Ah dan Seol Hyun tersedak bersamaan. Hanya orang bodoh yang tidak tahu permusuhan di antara kedua orang itu. Bahkan semut yang bersarang di halaman fakultas pun tahu kalau Kim Seol Hyun sangat membenci Choi Seo Ah. Meski secara teknis Seo Ah tidak tahu persis apa yang membuat wanita itu membencinya. Maksudnya, Seol Hyun punya segalanya, tapi wanita itu bertingkah seolah Seo Ah sudah merebut segalanya itu.

“Y-Ya, begitulah. Kami sering melakukan kerja kelompok bersama.” Dengan catatan, aku terpaksa melakukannya, Seo Ah menambahkan dalam hati.

“Kau harus mencontoh Seo Ah-ssi, Seol Hyun-a. Dia tampak jauh lebih dewasa daripada umurnya, tidak sepertimu yang masih terlihat kekanakan.” Gurau Presdir Kim sambil tertawa ringan. Seo Ah hanya menanggapi dengan tawa hambar, sedangkan Seol Hyun hanya mendengus malas.

“Meski begitu, jabatannnya masih di bawahku, kan?” ucap Seol Hyun retoris. Meski tidak menatap Seo Ah, ia bisa melihat senyuman miring di bibir wanita itu.

“Kim Seol Hyun! Siapa yang mengajarimu untuk mengatakan hal seperti itu?!” bentak Presdir Kim.

Kesal karena ayahnya terus membandingkannya dengan Seo Ah, Seol Hyun membanting sumpit di tangannya ke atas meja. “Cukup, Appa! Kalau Appa tidak mengajaknya makan bersama, sudah pasti aku tidak akan mengatakan hal itu!”

“Kim Seol Hyun!”

“Presdir Kim, sudahlah. Saya tidak—“

Seo Ah menghentikan kalimatnya ketika mendengar dengusan Seol Hyun. “Dan kau, berhenti bermuka dua di depan ayahku!”

“Kim Seol Hyun! Kau—“

Sreg.

Pintu geser ruangan privat itu terbuka. Seorang wanita dengan mantel bulu berwarna merah marun berdiri di sana. Wajah mulusnya membuat siapapun tidak menyangka kalau dia hampir melewati umur emasnya. Rambut hitam sempurna yang disanggul rapi berhiaskan jepitan mewah berwarna perak. Di tangannya tergantung tas tangan mahal dari kullt buaya asli.

Kakinya mengayun anggun, masuk ke dalam ruangan itu. “Apa aku mengganggu makan siang kalian?”

Eomma!”

Seperti balita yang mengadu kepada ibunya, Seol Hyun langsung berhambur ke pelukan ibunya. Presdir Kim hanya menggeleng di tempat, tidak mau menatap istrinya itu. Ya, status itu masih melekat setidaknya sampai mereka berdua menandatangani surat perceraian dan menjalani sidang.

Jo Hye Ryeong juga tampak tidak peduli dengan kehadiran suaminya di sana. Ia hanya datang karena Seol Hyun yang meminta. Namun melihat sosok lain yang ikut hadir di sana—yang Hye Ryeong yakini bukan salah satu dari sekretaris suaminya atau Seol Hyun—ia pun menyipitkan matanya. Tatapan mata tajam itu membuat Seo Ah refleks bangun dari duduknya dan memberi salam kepadanya.

Annyeonghasimnikka, Nyonya?” sapa Seo Ah.

“Dan siapa kau?”

Seo Ah menahan rasa kesalnya yang sudah berada di tenggorokan. Tidak salah kalau Seol Hyun memiliki sifat yang buruk. “Saya Choi Seo Ah, asisten manajer keuangan KeyEast.”

Appa mengajaknya, makanya dia ikut.”

Tambahan informasi dari Seol Hyun tidak membuat Hye Ryeong mengalihkan pandangannya. Ada sesuatu yang tidak asing tentang wanita itu. Ia seperti pernah mendengar namanya, dan juga wajahnya mengingatkan Hye Ryeong dengan seseorang.

Choi Min Soo.

“KAU!”

“Maaf?”

“KAU! KAU ANAK CHOI MIN SOO JALANG ITU!”

Seo Ah tidak yakin itu pertanyaan atau hujatan untuknya. Namun sebuatan yang diberikan istri atasannya ini untuk ibunya benar-benar keterlaluan! Ah, benar, pasti dia sudah tahu kenyataan itu, makanya membenci Seo Ah. Tapi apakah sebuatan itu pantas?

“JO HYE RYEONG!”

Sebelum Presdir Kim yang mengatakannya, Seo Ah terlebih dulu berkata. “Maaf, Nyonya. Anda tidak boleh memanggil ibu saya dengan sebutan seperti itu.”

Hye Ryeong mendengus. “Apa peduliku? Sekalinya jalang, maka selamanya akan menjadi jalang. Bahkan…” Hye Ryeong memperhatikan Seo Ah dari atas sampai bawah. “Kau juga pantas menjadi jalang.”

“HYE RYEONG! CUKUP!”

EOMMA!”

Seol Hyun memang membenci Seo Ah, tapi ia juga tidak suka saat ibunya mengeluarkan kata-kata murahan seperti itu. Tidak berkelas! Lagipula itu akan menambah buruk citranya kalau Seo Ah sampai menyebarkannya ke seluruh karyawan.

“Seol Hyun-a, kau tidak tahu?” seperti orang kalap, dengan nafas memburu dan mata memerah, Hye Ryeong menatap Seol Hyun. Ia pun mengeratkan genggaman tangannya. “Dia itu anak selingkuhan ayahmu!”

“Apa?!”

“JO HYE RYEONG, PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!”

“KENAPA?! KENAPA KAU TIDAK MEMBIARKAN ANAK SAHMU MENGETAHUI YANG SEBENARNYA?!” Hye Ryeong balik berteriak. “Apa kau berniat memperkenalkan keduanya secara resmi hari ini?! Makanya kau mengundang mereka berdua makan bersama?! Hah?!”

Eo-Eomma, apa maksudnya? Aku tidak mengerti?” tanya Seol Hyun, menatap ayahnya, ibunya, bahkan Seo Ah secara bergantian. Tapi tidak ada yang menjawab selama beberapa saat karena masih dikuasai emosi. Seo Ah pun hanya menunduk di tempatnya.

“Dia!” Hye Ryeong menunjuk lurus Seo Ah. “Adalah anak tidak sah ayahmu dengan selingkuhannya! Dia penyebab ayah dan ibu bercerai!”

“Apa?!”

Seo Ah tidak kuat menerima hujatan-hujatan lagi. Kepalanya seperti akan meledak. Tanpa mengucapkan apapun, Seo Ah pun beranjak dari tempatnya. Ia harus pergi sejauh mungkin, entah ke mana, yang pasti tidak bertemu tiga orang ini lagi.

Seo Ah ingin menghilang dari dunia ini.

 

 


 

*ULALALALA INI UDAH BERAPA BULAN ASTAGAAAA

Maafkan daku sayangggg T.T apa kalian udah lupa denganku? Bosen? Marah? Maaf maaf maaf. Akhirnya bisa menyelesaikan ini, tapi baru diupload soalnya baru dapet sinyal. Maaf banget semuaaa semoga gak bosen dengan cerita ini. Dan semoga akan cepet update ke depannya.

Rencananya tinggal dua atau tiga chapter lagi ini selesai. Jadi… siap-siap aja per chapternya mungkin panjang wkwkwk kayak ini

 

Kritik dan saran diterima…

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com / wattpad: ziajung)

Advertisements

31 responses to “Honey Cacti [Chapter 9]

  1. Kangeuunnnnnnn bgtttttt…akhirnya update….msh inget ko ama couple ini….g apa2 tiap chap panjang2 juga hahahaha…udh g sbr biar seo ah ma bomi tw gmn ji eun sbnr nya…ihhh ngeselin bgt itu ibu nya seolhyun amoe bilang gitu…..moga next chap y g lama2 hihihi…

  2. Akhirnya muncul juga thor.. Makin suka deh sma mrka berdua.. Moga mrka sma2 terus.. Jangan pisahkan mrka Thor.. Kesal bnget sma si ji eun ga pernah sadar dia mah.. Ga sabar liat dia di permaluin sma Sehun.. Nextnya di tunggu ya Author-nim.
    Fighting!!

  3. Anak ayamku 😍😘 makin gemes sama sehun ih wkwkw kasian sama seo ah ya, banyak bener beban nya. Ji eun juga, udah putus juga masih aja ngarepin sehun wkwwk kayanya ji eun bakal ngelakuin hal hal yg buruk deh, jadi tokoh antagonis kayanya 😁😁 next kaa

  4. Kangen buangetttt kak, udah hampir tiap hari aku nungguin kak zia update T.T
    Tapi terbayarkan setelah ada notif email dr blog ini ada updatan kak ziaaa. Wahhh seneng bangey langsung baca, dan akhirnya aku ketemu my cimit-cimit couple sehun seoah. Haahhh anak ayam ku kamu makin gemesin aja…
    Aku ikutan baper waktu adegan seoah di cela2 kek gt, hhh kasian bgt uri seoahhh, kek berasa ngerasain sakit seoahh. Sumpahhh sukses bgt kak km nguras emosi aku, yg pengen nampol jieun dan jajarannya. Btw abis jieun pingsan, diapain ama sehun kak. Kok nanggung bgt TT aku gak bisa diginiin kak, nunggu lama lagi,, oh ya disini masih dikit momen sehun seoah ya kak? Ato emg sengaja trus nonjolin masalah nya dulu? Soalnya aku masih kurang ngefeel dibeberapa part sehun seoahh TT. Tp masih untunglahh kak zia bisa update chap 9. Thankyou bgt ya kak, udh usahain update. Trus ngurusin reader mu yg cerewet dan gak sabaran ini huhuhu. Lope lope dah pokoknya, moga cepet update ya kak dan gak ada hambatan. Ditunggu chap 10. :’*

    • haluuuwww
      duuh maaf ya kalo belom ngena adegan romantisnya T.T iya soalnya aku pikir biar clear dulu masalah seoa satu-satu, jadi sehun cuma jadi penyemangat gitu. nanti aku bikinin full romance deh *azek janji manismu zi…

  5. Wahhh ini ff ter ditungguin kelanjutanyaaaa
    Akhirnyaaa update jugaaa
    Semangat author nim
    Sehunnn aku padamu dehh
    Seoah kasian masalahnya nambah terus yg sabar ya
    Ditunggu nextnyaaaaa bangettt

  6. Minal aidzin wal faidzin oenni..
    Long time no see, hehe
    Akhirnya yang ditunggu- tunggu, haha makasih oenni dah nyempetin lanjut ff ini. Suka sama ceritanyaa..
    Oke dech see u on next chap kak

  7. Ahirnyaaa ini ff dilnjut juga sampe lumutan nunggu eh.. keep writing eonni ziajung ditunggu chap slnjtnya..

  8. Kenapa dunia begitu kejam ke seo akh ya. Belum sembuh luka seo akh yg baru tau siapa ayahnya eh masalah jieun datang. Ditambah lagi perkataan ibu seol hyun. Kasian bgt seo akh

  9. kenapa Sehun masih belum mau cerita juga kebenarannya? walaupun itu dampaknya jelek ke Ji Eun tapi Ji Eun udah keterlaluan banget kata-katanya… padahal kan dia… kalo karna kasian, namanya juga fakta 😦
    dan seneng bisa liat honey cacti update lagi hehehehe sering-sering ya author-nim 😀

  10. Wow….baru buka SKP hari in,lah ternyata kakak udah comeback,aku ttp inget judulnya diluar kepala jdi aman kak 😅😅😅
    adeh…nih ff pelik dah….bagus si appanya seo ah mau ngakuin dia,tpi kalo ad oknom y ga tau kn jdi makin ribet toh…

    OH SEHUN….sweet banget si kamu 😍😍😍😍
    Adeh… jieun juga….makin pusing nih…

    Boleh nanya ga kak???
    kakak kemana aj selama ini???
    Liburan atau sibuk dunia nyata???
    Awalnyakn ga ad note apaan,trus kk ngilang gitu aj kn…ga ngariin juga si…soalx tau kalo author ga ngepost lwamaaaa itu tandanya orgx lg sibuk
    semangat trus kak

    Okay bbrp chap lg yah..
    😙😙😙😙😙

    • huaaa maaf aku sibuk kuliah T.T gak sempet bikin notif soalnya buka laptop ingetnya cuma tugas wkwkwk

  11. Ji Eun, gak nyangka yaa mulutnya tajam setajam silet *apa ini?
    Kalo ada di posisi Seo Ah pasti sedih banget, trus kenapa juga Sehun belum mau bilang semua kebenaran tentang Ji Eun. Next chap nyna jangan lama-lama yaaa, keep writing

  12. Setelah sekian lama akhirnya di post… tadi sempet lupa cerita nya #maappelupa
    Pas buka chap sebelum nya inget lagi…
    Asli ini greget banget… apa lagi sehun seoah..
    Kasian sama seo ah nya..
    Next nya tetep di tunggu
    Keren cerita nya bagus pula
    Keep writimg hwaiting!!!

  13. Setelah lama menunggu akhirnya apdet juga ini cerita. Semoga sehun ama seo ah ngga putus lah. Oiya kak zia semangat nulisnya ya kak, semangaaaatttttt ✊✊✊

  14. Seo-ah kasian banget dichapter ini😢
    Kenapa jahat banget sih ngatain ibu nya Seo-ah gitu😒
    Makasih buat Sehun yg setia disisi Seo-ah😍
    Makasih juga buat author-nim udah ngelanjutin, aku kira ga lanjut lagi karena udah 4 bulan ga updateㅜㅜ

  15. Akhirnya.. muncul juga :v saya sangat suka dengan ff ini thor :v dan jangan lama lama ya thor, untuk part selanjutnya :v

  16. Akhirnyaaaaaa
    Iyaa lama bangeet… tapi gapapa yg penting tetep dilanjutkan kan?
    Sebenernya kasian sama jieun tapi juga pingin seoah bahagia. Dan haduu bapake nih malah bikin nambah masalah aja kan. Kasian seoah pasti tambah kepikiran. Mungkin next chap sehun bisa jadi penghibur seoah 🙂
    Dan tidak masalah dengan chapter panjang hehehe
    Ditunggu next chap!

  17. Akhirnyaaaaaa
    Iyaa lama bangeet… tapi gapapa yg penting tetep dilanjutkan kan?
    Sebenernya kasian sama jieun tapi juga pingin seoah bahagia. Dan haduu bapake nih malah bikin nambah masalah aja kan. Kasian seoah pasti tambah kepikiran. Mungkin next chap sehun bisa jadi penghibur seoah 🙂
    Dan tidak masalah dengan chapter panjang hehehe
    Ditunggu next chap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s