[CHAPTER 30] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw lagi

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

 

SALTED WOUND’

.

 

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Action–Incest-Thriller–PG-15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Line@ : @fbo0434t

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

 

 

.

 

“Jasmine menghubungiku… dan dia bersama Jong-In.”

 

Se-Hun langsung meraih ponsel dari tangan Hee-Ra dan memberikannya pada Josse. “Bisakah kau melacaknya meskipun menggunakan private number?” tanyanya buru-buru.

 

Josse terdiam sebentar, kemudian mengangguk. Tidak masalah, ia bisa mengatasi hal ini.

 

“Siapa Jong-In dan Jasmine? Apa hubungannya mereka dengan kalian?” Elliot mengeluarkan suaranya. Ia memang belum diberitahu mengenai hal itu.

 

Se-Hun memutar bola matanya. “Jasmine adalah gadis yang terobsesi padaku dan Jong-In adala—”

 

“Kekasihku,” potong Hee-Ra sebelum Se-Hun mengakhiri kalimatnya.

 

Apa Hee-Ra sengaja?

 

Hee-Ra melirik Se-Hun yang tengah tersenyum miris. Mendengar Jong-In disebut sebagai kekasih oleh gadisnya cukup membuat Se-Hun kesal.

 

“Oh, kenapa aku merasa suasana di sini cukup panas?” celoteh Elliot saat menyadari pandangan kedua insan di depannya. Sebenarnya Elliot tahu mengenai hubungan Hee-Ra dan Se-Hun. Mereka juga bukan saudara, seperti apa yang diakui Royce beberapa waktu lalu. Tapi melihat keadaan, sepertinya keduanya masih bersembunyi dan tetap bersikap seolah keluarga.

 

Royce memandang kedua insan di depannya bergantian selama beberapa detik sebelum akhirnya berusaha memecah ketegangan antara keduanya. “Oke, jadi apa yang terjadi pada Jong-In?”

 

Butuh waktu bagi Hee-Ra untuk mengembalikan fokusnya. Mungkin setelah ini Se-Hun akan menuntut banyak penjelasan perihal ucapannya barusan, tapi bagaimanapun, bukankah Hee-Ra dan Jong-In memang belum putus?

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi Jasmine bilang aku harus menemuinya sendirian atau nyawa Jong-In akan melayang.”

 

“Dan?” Se-Hun mengerutkan dahi.

 

Hee-Ra menggigit bibir bawahnya pelan. “Datang sendirian sama saja dengan bunuh diri, tapi aku tidak bisa membiarkan Jong-In menjadi tawanan seperti itu. Aku akan membutuhkan kalian.”

 

 

 

 

 

 

“Kau yakin akan melakukannya?” Se-Hun menatap Hee-Ra was-was. Mereka berhenti di belakang gedung kosong yang berjarak seratus meter dari tempat tujuan. “Tidak bisakah kita masuk bersama?”

 

Hee-Ra menggeleng pelan, ia meraih tangan kanan Se-Hun dan menggenggamnya erat. “Aku bisa mengatasinya, kau harus percaya padaku.”

 

“Baiklah.” Se-Hun menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Seharusnya Hee-Ra lah yang merasa gugup, tapi malah Se-Hun yang kebingungan karena rencana gadis itu. “Periksa alatmu, jangan sampai ada yang rusak. Aku akan selalu mengamatimu, bila Jasmine mulai tak terkendali segera berikan kode dan kami akan menjemputmu.”

 

“Aku tahu,” balas Hee-Ra sambil tersenyum. “Kau harus turun sekarang,” lanjutnya sambil menggerakkan dagu sebagai tanda agar Se-Hun segera keluar dari mobil.

 

Oke.” Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Se-Hun selain menuruti perkataan Hee-Ra. Ia bergegas turun dan membiarkan Hee-Ra duduk di kursi kemudi. Jantungnya berdebar lebih cepat, membiarkan sosok Hee-Ra yang tak berpengalaman untuk melawan Jasmine adalah hal paling nekat dan bodoh yang pernah dilakukan Se-Hun.

 

“Jaga dirimu.” Bibirnya bergetar, Hee-Ra hanya terkikik melihat raut ketakutan Se-Hun. Ia tak menyangka pria itu akan setakut ini membiarkan dirinya masuk untuk menemui Jasmine.

 

“Aku janji akan kembali dengan selamat,” gumam Hee-Ra kemudian menaikkan kaca mobil dan melajukannya kembali. Sementara Se-Hun hanya mengamati gadis itu dari kejauhan, setelah sosok Hee-Ra menghilang, Se-Hun segera berlari ke sebuah gedung yang letaknya hanya beberapa meter dari tujuan Hee-Ra nantinya.

 

Sesungguhnya Hee-Ra tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ia hanya memiliki bekal keberanian dan kewajiban untuk menyelamatkan Jong-In. Jasmine bukan gadis bodoh, bukan gadis lemah, dan bukan pula gadis yang mudah dimanipulasi. Setidaknya kenyataan itu mau tak mau berhasil menjadi pukulan bagi Hee-Ra.

 

Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah kosong berlantai dua—sesuai dengan alamat yang dikirimkan Jasmine. Selama beberapa saat Hee-Ra mengamati tempat itu. Ia berasumsi di dalam sana tidak akan hanya ada Jasmine, melainkan beberapa orang lainnya yang kemungkinan anak buah gadis itu.

 

“Kuharap semuanya akan berjalan dengan lancar,” bisiknya pada diri sendiri.

 

Ia melangkah ragu. Menimbang-nimbang kemungkinan keberhasilan rencananya sendiri. Fifty-fifty, tapi Hee-Ra yakin ia pasti bisa mengatasinya.

 

Dibukanya perlahan knop pintu lalu mendorongnya hingga suara decitan akibat kayu yang mulai menyentuh lantai menerjang telinga Hee-Ra. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Dua sosok wanita sudah menunggunya di balik pintu. Mereka langsung menekan Hee-Ra dengan menempelkan pistol tepat di sisi kanan kepala gadis itu.

 

Mereka menggiring Hee-Ra untuk naik ke lantai dua dan masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas. Alunan lagu What A Wonderful World milik Louis Armstrong terdengar dari sana. Sosok Jasmine tengah duduk di atas paha Jong-In yang tak sadarkan diri di kursi. Gadis itu memainkan badan pisau di wajah Jong-In, hanya dengan sedikit tekanan, ia bisa saja melukai Jong-In.

 

Hee-Ra ingin mengumpat dan membunuh gadis jahat di depannya itu, tapi keadaan menentangnya keras-keras. Hee-Ra harus bersabar, ia tak boleh gegabah dan malah membahayakan dirinya sendiri.

 

Menyadari kehadiran Hee-Ra, Jasmine menengok dan menunjukkan senyum liciknya. “Kau punya nyali juga ternyata,” ucapnya lalu sedetik kemudian bangkit. “Geledah gadis itu, aku tidak ingin dia membawa benda tajam apapun!” perintah Jasmine pada kedua anak buahnya yang otomatis langsung dilaksanakan.

 

Hee-Ra tidak melawan, ia membiarkan kedua gadis tadi menggeledah tubuhnya. Sementara kedua matanya menghitung jumlah orang yang ada di sini. Setidaknya ada delapan orang termasuk Jasmine di dalam ruangan. Menurut pengamatannya, bukan tidak mungkin di luar sana Jasmine juga menempatkan beberapa orang lainnya.

 

Clear!” gumam salah satu gadis pada Jasmine.

 

“Aku sudah memenuhi keinginanmu, sekarang bebaskan Jong-In.” Hee-Ra bergumam. Ia hanya berbasa-basi dan bersikap polos seperti gadis yang tak tahu apapun.

 

“Kau menginginkannya? Hahahaha!” gelak tawa keluar dari mulut gadis itu. Ia menatap tajam seorang pria di sampingnya dan kembali bergumam, “Bangunkan lelaki tak berguna itu!”

 

BUKK!

 

BUKK!

 

Hee-Ra hampir kehilangan kesabaran kala melihat seorang pria memukul Jong-In berkali-kali hingga lelaki itu mendapatkan kembali kesadarannya. Kalau saja pistol sialan ini tidak menempel di kepala Hee-Ra, ia pasti akan berlari dan menuntutkan balas pada pria gila itu!

 

Brengsek! Jasmine dan semua anak buahnya harus mati!

 

Hee-Ra menarik napasnya dalam-dalam. Sabar… kau harus bersabar…

 

“Siapa kalian?!” teriakan Jong-In berhasil membuat Hee-Ra membeku. Pria itu kelihatan sangat terkejut akan pemandangan di sekelilingnya.

 

Tak sengaja mata Hee-Ra dan Jong-In bertemu. Saat itu juga Hee-Ra memberikan senyum termanisnya, tapi tidak dengan Jong-In. Ia membelalakkan mata, rahangnya menegang hingga urat-urat di lehernya terlihat.

 

Tentu saja, siapa yang tidak shock melihat  nyawa kekasihnya terancam? Bagaimana mungkin Hee-Ra masih tersenyum saat pistol yang menempel di kepalanya bisa mengeluarkan peluru dengan mudahnya?

 

Lagu What A Wonderful World yang sebelumnya memenuhi ruangan seolah tak terdengar lagi di telinga mereka. Jong-In yang dengan susah payah berusaha memberontak karena tak ingin Hee-Ra kenapa-napa, sementara Jasmine yang tertawa terbahak-bahak melihat tingkah pria itu.

 

Berbeda lagi dengan Hee-Ra. Ia hanya berusaha tenang. Ia menggeleng saat Jong-In kembali menatapnya sebagai tanda agar dia tak memberontak.

 

“Brengsek! Siapa kalian? Lepaskan kami!” teriak Jong-In yang tak digubris Jasmine sama sekali.

 

Hee-Ra paham akan perasaan Jong-In saat ini. Ia sebagai lelaki pasti merasa harus melindungi dan melepaskan Hee-Ra dari situasi membahayakan yang tengah terjadi. Tapi Hee-Ra tak bisa mengatakan apapun, ia tak ingin segalanya diketahui untuk saat ini.

 

Hee-Ra kembali membuka mulutnya, suaranya terdengar sedikit kacau, “Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan. Sekarang bebaskan kami.”

 

“Membebaskan kalian?” Jasmine menepuk kedua tangannya bersamaan. Gelak tawanya kembali pecah memenuhi ruangan. “Apa aku pernah bilang akan membebaskan kalian setelah kau datang? Kubilang, kau harus ke sini untuk menemui pria bodoh ini.”

 

Jasmine maju beberapa langkah, berdiri di antara Hee-Ra dan Jong-In. “Lakukan sekarang!”

 

Sontak Hee-Ra ditarik untuk duduk di kursi. Kedua tangannya ditali di belakang, sementara seorang gadis terus menempelkan pistolnya di kepala Hee-Ra. Sedangkan Jong-In, kepalanya didongakkan paksa dari belakang oleh seorang pria berbadan besar sambil menempelkan pisau di lehernya.

 

Oh, shit!

 

Hee-Ra mulai ketakutan sekarang.

 

“Kau memang tak pernah belajar dari masa lalu, Shin Hee-Ra.” Ia berhenti sebentar dan menyilangkan kedua lengannya. “Se-Hun pasti akan sangat sedih mendengar berita kematianmu sebentar lagi. Ia mungkin akan marah padaku, tapi tak masalah, yang penting kalian tidak bersatu hahahahaha!”

 

Hee-Ra mendecih, “Kau salah. Kita lihat siapa orang yang tidak belajar dari masa lalu, Jasmine Rochester.”

 

Setelah mengucapkan kalimat barusan dan berhasil membuat Jasmine bingung, Hee-Ra segera menekan tombol kecil di jam tangannya. Suatu alat yang sengaja digunakan sebagai kode dan pelacak milik agen rahasia.

 

“Apa maksu—”

 

PRANG!!

 

DORR!

 

DORR!

 

DORR!

 

Belum sempat Jasmine menyelesaikan ucapannya, tiga buah peluru berhasil melubangi kaca dan menembus kepala dua orang gadis yang berada di samping Hee-Ra serta seorang pria yang tengah menempelkan pisaunya di leher Jong-In.

 

“Brengsek apa yang kau lak—”

 

PRANG!!

 

Kali ini bukan hanya peluru yang berhasil memecah kaca, namun empat orang laki-laki mengayun masuk menggunakan tali dan berhasil membuat Jasmine juga team-nya kalang kabut.

 

“Lawan mereka!” perintah Jasmine. Ia langsung mengeluarkan pistol dari sakunya.

 

Sempat terjadi baku tembak juga adegan saling pukul antara mereka. Jasmine yang mulai merasa kalah berusaha untuk melarikan diri, namun niatnya gagal kala seorang pria menahan pergelangan tangannya.

 

“Sialan! Lepaskan aku!”

 

Gertakan Jasmine tak berhasil menggoyahkan pria itu. Ia menarik Jasmine keluar ruangan dan melemparkan tubuh gadis itu hingga menabrak dinding dengan kencang. Kemudian memborgol kedua tangannya di belakang tubuh.

 

Pria itu melepas helm yang sempat menutupi hampir seluruh wajahnya dan menekan kencang dagu Jasmine. “Sudah kukatakan padamu untuk tidak menyentuh Hee-Ra dan kau masih berusaha menyelakainya!” gertak Se-Hun. Ia menatap lekat-lekat kedua bola mata Jasmine. “Sudah kukatakan padamu Jaze… aku tidak akan mengampunimu kali ini. Kau harus membusuk di penjara atau mati!”

 

Belum sempat Jasmine membalas perkataan Se-Hun, Elliot sudah lebih dulu masuk bersama dua orang petugas kepolisian. Mereka tak mengulur waktu dan langsung meringkus Jasmine serta menjauhkan Se-Hun dari gadis itu. Elliot hanya tidak ingin hal-hal di luar batas terjadi, mengingat tatapan membunuh yang dipancarkan Se-Hun saat menatap gadis itu.

 

“Tenangkan dirimu!” Elliot menahan tubuh Se-Hun untuk tak mengikuti polisi yang membawa Jasmine. “Hee-Ra lebih membutuhkanmu. Kau harus menemuinya.”

 

Benar, Hee-Ra lebih membutuhkannya. Se-Hun tak boleh terbawa emosi. Ia harus membiarkan pihak berwajib untuk menangani kegilaan Jasmine setelah ini.

 

Buru-buru Se-Hun berlari ke ruangan sebelah. Dilihatnya Royce tengah berusaha melepaskan borgol dari pergelangan tangan Hee-Ra, sementara salah satu anak buah Elliot sedang melepaskan ikatan di seluruh tubuh Jong-In.

 

Ia mendekati Hee-Ra perlahan. Rasa takut serta khawatirnya lenyap begitu melihat Hee-Ra baik-baik saja. Ia bahagia gadis itu berhasil melaksanakan rencananya dengan baik.

 

“Se-Hun?” Hee-Ra bangkit begitu borgol di tangannya berhasil dilepaskan oleh Royce. Ia menerawang dalam mata Se-Hun yang mengatakan betapa bersyukurnya lelaki itu saat ini.

 

“Aku hampir mati karenamu. Aku takut kau ke—”

 

“Aku baik-baik saja.” Hee-Ra menarik Se-Hun dalam pelukannya sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya. Ia paham seberapa khawatirnya Se-Hun. Ia paham seberapa takutnya Se-Hun karena Hee-Ra pun juga pernah merasakannya.

 

“Sudah kukatakan kalau aku pasti akan berhasil melewati semua ini, kan?” ujar Hee-Ra lagi. Ia mengecup lembut pundak Se-Hun. “Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku, Oh Se-Hun.”

 

Se-Hun melonggarkan pelukannya. “Aku bisa gila,” keluhnya yang sedetik kemudian kembali menenggelamkan Hee-Ra dalam dekapannya.

 

Mereka saling mengekspresikan perasaan masing-masing, melepaskan ketakutan juga kekhawatiran yang tadi sempat bergentayangan dalam hati. Namun… tanpa mereka sadari Jong-In yang masih berada di sana mau tak mau harus menelan ludah kesal.

 

Ia tak suka pemandangan ini.

 

Ia tak suka Hee-Ra dan Se-Hun seperti itu.

 

Hei! Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Kenapa Hee-Ra tak menghampiri Jong-In dan malah sibuk memeluk Se-Hun?

 

 

 

 

 

 

Canggung.

 

Mulut Hee-Ra seolah terkunci karena Jong-In pun tak mengeluarkan sepatah kata apapun untuk menyapanya. Yang ia lakukan hanya mengobati luka-luka kecil pada tubuh Jong-In tanpa berani menatap matanya.

 

Hee-Ra merasa bersalah. Ia tak seharusnya menghianati Jong-In dan memilih Se-Hun. Astaga, ia bahkan tak mampu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Apa kau akan tetap diam?”

 

Hee-Ra mendongak begitu mendengar suara Jong-In. Mata mereka bertemu. Kedua iris tak berdosa serta ekspresi polos yang ditunjukan Jong-In entah kenapa membuat hatinya sakit.

 

Pria itu menderita karenanya. Jong-In tak seharusnya mengalami semua ini. Ia tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di antara Hee-Ra, Se-Hun dan Jasmine.

 

Hee-Ra menggeleng pelan, tenggorokannya serak, tak mau diajak bekerja sama. “Aku… maafkan ak—”

 

Belum selesai Hee-Ra menjawab, Jong-In sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di bibir gadis itu sambil memeluk erat punggung Hee-Ra. Kerinduan yang selama ini berusaha ditahan meledak begitu sang gadis ada di hadapannya.

 

Jong-In hampir hidup layaknya mayat setelah Hee-Ra pergi tanpa kabar. Jong-In merasa tersakiti dan ditinggalkan. Jujur, ia merasa dipermainkan. Tapi kembali pada kenyataan yang tak bisa dielak sekalipun—Jong In sangat mencintai Hee-Ra—dan hal itulah yang membuatnya lemah. Berkali-kali Jong-In meyakinkan diri bahwa Hee-Ra mungkin memang berada dalam masalah dan membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya.

 

Hee-Ra mengalungkan lengannya di leher Jong-In dan menekan tengkuk pria itu agar ciuman mereka semakin dalam. Ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri bahwa jauh di dalam hatinya nama pria ini masih terukir, meskipun tak sebanyak Se-Hun.

 

“Maafkan aku…” Hee-Ra melepaskan tautan bibir mereka dan menempelkan keningnya di bibir Jong-In. Ia menunduk, berusaha menahan air mata yang terus mendorong untuk keluar.

 

“Kau tidak bersalah.” Jong-In menangkup kedua pipi Hee-Ra dan mendongakkan wajah gadis itu. “Ceritakan semuanya padaku,” ia berhenti sebentar dan mengusap air mata yang meluncur di pipi gadisnya lembut, kemudian kembali menenggelamkan Hee-Ra dalam dekapannya. “Aku merindukanmu, aku khawatir padamu, aku takut gadis gila tadi menyakitimu.”

 

Kali ini Hee-Ra melepaskan satu pukulan pelan pada dada bidang Jong-In. “Seharusnya aku yang berkata seperti itu!” Ya, benar. Seharusnya Hee-Ra yang merasa takut saat Jasmine akan melukai Jong-In, bukannya malah pria itu yang mengkhawatirkan Hee-Ra.

 

Apakah Jong-In tahu kalau Jasmine menculiknya karena Hee-Ra dan Se-Hun? Bagaimana caranya Hee-Ra menjelaskan itu semua? Ia tidak ingin melukai Jong-In lebih dalam lagi. Kejadian hari ini sudah cukup memukul hatinya sampai hancur.

 

“Aku akan menceritakannya besok. Sekarang istirahatlah, kau pasti lelah.”

 

Alasan paling mainstream yang digunakan untuk mengalihkan pembicaraan. Semoga saja Jong-In tidak menyadarinya.

 

“Aku akan tidur kalau kau mau menemani.”

 

Astaga, Hee-Ra tak mungkin menolak keinginan Jong-In kalau tidak mau dia curiga. Tapi menyanggupinya sama saja dengan bunuh diri. Bagaimana kalau Se-Hun tahu? Meskipun Hee-Ra yakin Jong-In tidak akan melakukan sesuatu yang melebihi batas.

 

Tak kunjung mendapatkan balasan, Jong-In kembali berucap, “Kau tidak mau ya? Tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa. Lagipula aku sudah bahagia bisa melihatmu lagi.” Ia mengukir senyum manis, sangat-sangat manis, dan hal ini berhasil menjadi hantaman bagi Hee-Ra.

 

Demi Tuhan, sejahat apa hati Hee-Ra hingga mampu menduakan pria baik ini? Kenapa ia tak bisa menajaga perasaannya sendiri? Bodoh! Shin Hee-Ra kau memang keterlaluan!

 

“Aku akan di sini bersamamu,” gumam Hee-Ra akhirnya. Ia mendorong pelan tubuh Jong-In agar berbaring dan menyelimuti pria itu sampai ke dada, sementara Hee-Ra memposisikan tubuhnya miring. Ia mengelus pelan rambut sampai kening Jong-In agar pria itu tertidur.

 

“Please… don’t leave me anymore…” suara serak Jong-In yang terkesan berbisik merasuk dalam jiwa Hee-Ra. Pria itu jujur, dia tulus mengatakannya. Hee-Ra bisa menyimpulkan demikian karena Jong-In tak pernah melepaskan pelukannya sedikitpun dari tubuh Hee-Ra.

 

Perlahan namun pasti, Jong-In mulai terhanyut dalam dunia mimpi. Wajah damai penuh gurat lelah pria itu menggambarkan betapa serius perkataannya.

 

Andai saja cinta bisa dibagi, andai saja cinta tak masalah diduakan, dan andai saja cinta bisa diatur dengan mudah, bisakah Hee-Ra memiliki mereka berdua? Jong-In dan Se-Hun? Egois memang. Tapi ia tak tega meninggalkan salah satunya. Ia hanya tak ingin menyakiti perasaan orang-orang yang mencintainya sepenuh hati.

 

 

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

21 responses to “[CHAPTER 30] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Kok jongin jadi menyedihkan ya?
    Aku sedih liat dia kayak gitu,tapi ga rela kalo misahin heera sama sehun.dan kayaknya ini kok makin pendek ya? Jadi penasaran

  2. Heera pilih salah satu dong, tapi sulit juga sih karna jongin dan sehun sama-sama mencintai heera dan itu sangat sulit, pasti salah satu mereka akan tersakiti dengan pilihan heera nanti.

  3. Ya ampun hee ra hampir mati di tangan jasmine, dan lagi hee ra dibikin galau sama kehadiran jongin lagi. Tapi kok aku berharap hee ra sama sehun aja ya wkwk, pokoknya stay buat ngikutin kisah selanjutnya dari mereka deh. Fighting author

  4. Lhkn…kok jdi ky gini yah…
    JONG IN OR SEHUN???
    Andai cinta bisa dibagi??
    Andai cinta tak masalah diduakan?
    Andai cinta bisa diatur dgn mudah??
    😓😓😓😓😓
    Kasian abang jong in….
    HeeRa…ikuti kata hatimu…
    Kalaupun kata hatimu salah,tpi kn kamu sudah mengikuti apa y hatimu kehendaki.
    Toh….manusia penuh dgn kesalahankn??

    Aku bru buka SKF dan Damn…
    Walaupun telat komen si 😅😅😅
    Semangat trus Heena….
    Cintaku padamuh 😙😙😙😙😙😙

  5. Heera sama Sehun dongseee, apa lagi bukan kaka-adik udah kelar masalah. Nanti Jongin bakal dikirim jodoh terbaik hihi. Semangat ya, dek^^

  6. Ouuuh aq jd ikutan galau klau hrs memilih satu diantara mereka
    Lanjut trus ya sai
    Mkin prnasaran
    Makin baper jg

  7. terus gimana sama keduanya kalo kaya gini? penasaran abis sumpah pengen cepet2 tau akhirnya oke next terus ka

  8. antara kasian sama jongin tapi gimana sehun juga? tapi kalo heera jadinya sama jongin atou sama sehun gamasalah soalnya ku sekai shipper wkwkwk

  9. Wah waaahh bilang yg sebenernya aja dong si hera ke jongin dari pada jonginnya ke php 😂 Wkwk hera sama sehun aja ya thor lebih kasian sehun pengorbananya lebih gede hiks

    Ditunggu next chapternya thor
    Semangat👍

  10. Duh jadi kesian sama jongin 😢
    Aku jadi bingung harus dukung Sehun atau Jongin, tapi kyknya lebih ke Sehun deh ya 😦
    Ahh semangat thor!!!❤

  11. Ya ampun.. andai cinta bisa dibagi ya heera?? Enak banget idup ini
    Ughhh akhirnya jasmine ditangkap polisi. Dan aku harap dia gak akan ngrecokin lagi deh pusing liatnya ><

  12. Kalo aku jadi heera pasti juga sulit milih sehun atau jongin, duaduanya org yg penting d hidup heera. Dan akhirnya jasmine pun d tangkap. seneng banget dehh.

  13. gimana ini, pengen heera sama sehun tapi sayang jongin haha oke yang terpenting harus sama salah satunya 😀 ditunggu next nya

  14. aahh sweet bgtt😭😍
    giliran Sehun ama Heera udh bahagia sma”, ternyata msh ada mas jongjong yg setia syg sma Heera😭 akutuuh kudu eotteoke😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s