EXO & Yeoja! #Sehun Chapter 1 (Kembali ke Korea)

Author                  : Oh Hani

Cast                       :

-Oh Sehun

-Lee Hera (OC)

Other Cast :

Cari sendiri nanti juga tau haha

Gentre : family, fluff, romance

Rating : PG-15

Disclaimer : “author kapan lanjut udh lama nih. kenapa gak dilanjut terus?” pasti banyak yang bertanya ya. Sebelumnya saya mau minta maaf yamg sebesar – besarnya. Awalnya aku emang sibuk mempersiapkan kuliah aku tahun lalu. Dengan kaderisasi yang agak keras dan tugas jurusanku yang emang gak kenal ampun, aku jadi males nulis(jujur aja). Setelah sekian lama dan aku melihat note di hp yang kebanyakan cerita ff yang aku buat ternyata bikin kangennn trus aku berniat nulis lagi. Entah kapan aku akan ngulang kemalesan nulis itu, tapi aku minta dukungan dari kalian agar aku bisa melanjutkan tulisan aku ini. Emang jengkel ya kalau penasaran sama sebuah cerita tapi si author gak lanjut sampe akhir. Dengan sangat saya minta maaf. Jalan ceritanya sama, tapi bahasa kepenulisannya agak beda kali ya. soalnya pas aku baca lagi yang kemarin, saat aku masih menulis di bangku sma dan sekarang diliat pas udh masuk bangku kuliah tuh berasa gimana gitu wkwkwkwk akhirnya aku nulis ulang dengan alur yang sama. Sekali lagi saya minta maaf. Saya minta dukungan kalian. Terimkasih mau sudah mau membaca dan menunggu 🙂 {}

Cerita ini di dedikasikan untuk Silmi Kafah yang menetapkan Sehun sebagai biasnya akhir – akhir ini 🙂

Pak ini berkas yang bapak inginkan.”

Pria bermata tajam itu mengalihkan pandangan pada sekertaris ayahnya. Wajahnya agak tertekuk. Ya, ia sedikit kesal karena seharusnya seminggu yang lalu ia pulang ke kampung halamannya. Tapi, latihan untuk menjadi penerus perusahaan keluarganya dua minggu ini mengharuskannya untuk tetap tinggal di disini. Berkutat dengan laptop dan berkas – berkas yang diberikan tuan Kim-sekertaris ayahnya itu.

“Taruh saja disitu.” tunjuknya pada bagian meja yang masih kosong.

Sekertaris itu meletakkan berkas tersebut pada tempat yang sudah ditunjuk anak bosnya. Kemudian ia menatap calon pewaris perusahaan ini dan tersenyum sedikit melihat ekspresi wajahnya yang terlihat agak kesal. Pak Kim tau betul, jika calon pewaris ini pasti merasa lelah dengan semua yang bosnya tugaskan untuk anaknya ini.

“Ekhem,” tuan Kim mencoba menarik eksistensinya. “Maaf Tuan muda Oh Sehun, Anda tidak lupa bahwa siang ini, tuan Oh menyuruh Anda untuk menemuinya kan?”

Sehun-sang calon pewaris menghembuskan nafas lelah. Sejujurnya ia lupa. Ayahnya menyuruhnya untuk makan siang bersama sebelum ia pulang ke Korea. Tunggu, memang. . .

“Siang ini?” tanya Sehun untuk memastikan pendengarannya dan asumsinya.

“Benar tuan.”

Tunggu, jika siang ini berarti. . . Ahhhh hari ini ia pulang ke Korea bukan? Sehun tersenyum. Tuan Kim yang melihat perubahan aura dalam diri Sehun ikut tersenyum.

Sehun melirik jam tangan hitamnya, “Setengah jam lagi. Benar?”

“Iya tuan.”

“Baiklah, aku akan segera bersiap.” Sehun bangkit dari kursi, sedikit merapikan jas dan dasinya kemudian tersenyum pada tuan Kim. “Kau sudah memesan tiket pesawat untukku kan?”

“Tentu saja tuan,” jawab tuan kim agak menundukkan kepalanya.

“Baguslah.” ucap Sehun yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

***

“Appa tidak akan ikut pulang? kenapa?”

Kini Sehun sudah bersama tuan Oh dan menikmati makan siangnya dengan perasaan senang tentunya. Hari ini kan ia akan pulang. Bertemu eommanya.

Tuan Oh menelan makanannya kemudian menjawab pertanyaan Sehun. “Kau tau, banyak hal yang harus kuselsaikan disini.”

“Appa tak merindukan eomma?”

Tuan Kim menghembuskan nafasnya. “Tentu saja. Tentu saja aku sangat merindukan eommamu.”

“Setidaknya sempatkan untuk pulang. Ini sudah 2 bulan appa meninggalkan eomma.”

“Aku yakin dia mengerti. lagi pula lusa Appa akan menyusulmu ke Korea.”

Sehun hanya memanggut-manggut dan kembali menyuapkan makanan kemulutnya.

“Kau sudah menghubungi eommamu?”

Sehun mengangguk.

“Kau tidak lupa dengan gadismu kan?”

“Hmm, aku tidak lupa. Selama ini Lay selalu memberi perkembangan bagaimana pertumbuhan dia.”

“Baguslah. Kuharap kau segera bertemu kembali dengannya.”

“Hmm.” Sehun menatap piringnya. Sebentar lagi ia akan bertemu gadisnya. Ya gadisnya.

“Dan adikmu–Taeyong akan masuk institut Le Rosey tahun ini.” Tuan Oh menatap Sehun dan menumpukan dagu dikedua tangannya yang terangkat, “ia akan mendapat pendidikan yang layak disana.”

Sehun tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari luar kaca jendela restoran. Le Rosey? ucapnya dalam hati. Itu lebih dari sekedar layak. Sekolah termahal di dunia dengan fasilitas dan biaya yang WOW? Ah Sehun tak sabar menantikan kelulusan Taeyong beberapa tahun yang akan datang.

“Appa yakin akan memasukannya kesana?” kini Sehun menatap Appanya, “Apakah ia akan bergaul dengan baik?” karena Sehun tak yakin Taeyong akan bergaul dengan baik.

“Aku yakin. Dia selalu menyebut dirinya pangeran kan? ia bahkan bersikap seperti raja di sekolahnya sekarang. Mengapa tak kita masukan saja ia ke ‘School of Kings’ itu. Sikap arogannya mungkin akan hilang jika bergaul dengan anak para raja?” pertanyaan terakhir Appanya terdengar tidak yakin di telinga Sehun.

Sehun tertawa, “Yang benar saja? setelah lulus, ia akan menjadi orang yang sangat besar kepala. Menceritakan atau memamerkan foto – foto dirinya dengan anak – anak raja? Sejujurnya aku kurang setuju Appa.”

“Tapi disana tak ada siswa yang memamerkan harta mereka atau berusaha bersaing dalam hal kekayaan.”

“Itu mereka Appa. Ini berbeda dengan Taeyong.”

Tuan Oh terdiam, mencoba mencerna pendapat Sehun. Anak bungsunya memang berbeda dengan kakak – kakaknya walau sama – sama dingin namun sikap arogan Taeyong dan sikap main – mainnya kadang berlebihan.

“Appa akan pikirkan kembali. Kita akan mencari solusi untuk mendidiknya dengan metode yang baik.”

“Oh ya, apakah Hyung akan kembali juga ke Korea?” tanya Sehun saat mengingat kakak laki – lakinya–Oh Myung Soo/L.

Tuan Oh meminum air putihnya terlebih dulu sebelum menjawab. “Entahlah, tapi Appa sudah menyuruhnya pulang. Eommamu mengomel padaku karena sudah hampir tiga tahun ia tak kembali ke Korea.”

Sehun mengangkat bahunya. Kakaknya itu menjelma menjadi workholic setelah cabang hotel keluarga yang berada di Jerman resmi diserahkan sepenuhnya kepadanya dua tahun lalu. Tak aneh jika ia rela tak pulang ke rumah dan berusaha mengembangkan perusahaannya. L adalah orang yang ambisius.

“Aku akan mencoba menghubunginya. Aku juga berharap Appa cepat pulang. Pasti eomma ingin kita semua berkumpul kembali.”

Setelah itu Sehun melihat jam tangan Sevenfriday limited edition P3C/01 yang berada di tangan kirinya. Jam tangan yang baru dibelinya beberapa bulan lalu itu menunjukan pukul 03.45 PM. Dua jam sebelum keberangkatannya ke Korea.

“Apa ada hal yang perlu kulakukan lagi Appa?”

Tuan Oh menggeleng, “Aku akan ikut mengantarmu ke Bandara.”

***

Setelelah beberapa jam perjalanan udara, akhirnya Sehun tiba di Bandara Internasional Incheon. Sehun memegang perutnya yang kembali kontraksi. Ia membutuhkan toilet saat ini. Untung saja ia sudah mendarat. Sakit perutnya ini pasti gara – gara Almer yang memaksanya memakan Vindaloo–makanan pedas dari India–kemarin malam. Ayam yang entah mengapa terasa pedas sampai ketulang – tulangnya itu dipaksa masuk kemulut Sehun oleh teman dekatnya itu.

Terkutuk! umpat Sehun dalam hati dan kembali masuk kedalam toilet sementara itu. . .

Chen yang sekarang duduk menunggu dikursi bandara merasa menyesal tak membawa benda panjang penghubung suara dari ponsel ke telinganya. Ia sudah hampir satu jam duduk terdiam dan puluhan kali melirik jam tangan hitamnya menunggu sahabat yang katanya pulang hari ini dari Amerika. Sejujurnya ia sudah merasa kesal dan akan menyerah saja. Tapi ini sahabatnya. Ya, sahabat yang ia sudah kenal dari 17 tahun lalu. Apa pantas ia menyerah sekarang?

Ponsel Chen berbunyi. Satu pesan masuk dari Suho.

Hey, mengapa lama sekali? kalian terjebak macet?

Chen mendengus. Bahkan ia belum keluar dari Bandara sejak hampir sejam lalu. Mengapa Suho tak bertanya saja pada si beruang yang katanya pulang hari ini? atau jangan – jangan Suho dan yang lainnya sedang mengerjainya sekarang? Bagaimana jika si beruang itu tak pulang sekarang? Oh god!

“Ternyata kau disini?”

Chen mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan menatap pria berjas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Akhirnya si beruang datang juga. Chen tersenyum. Rasa kesalnya pudar seketika ketika melihat sahabat yang dirindukannya kini berdiri dihadapannya.

Chen bangkit dan segera memeluk pria itu, “Sehun!” ucapnya keras, “kau begitu lama!” Chen melepas pelukannya, “dari mana saja? kau tersesat di Bandara heh?”

Sehun tersenyum, apakah ia harus bercerita jika ia pergi menuntaskan masalahnya di toilet dan mencari obat untuk mengatasinya? “Aku tak bisa menahan perutku.” Hanya itu saja yang keluar dari bibirnya. Tak mungkin Sehun harus bercerita panjang lebar kan? Chen pasti mengerti.

Chen menatap perut Sehun dan kembali menatap wajahnya. “Baiklah. Tapi apa kau sudah merasa baikan?”

Sehun mengangguk. “Aku sudah meminum obat.”

Dahi Chen berkerut, “Separah itu kah? sampai kau harus meminum obat?”

Sehun hanya membalasnya dengan senyum yang di paksakan. Ia malas menceritakan rasa Ayam Vindaloo itu.

Chen yang mengerti ekspresi sahabatnya itu langsung merangkul pundaknya, “Selamat datang kembali di Korea!” teriak Chen senang. Sehun tertawa kecil melihat Chen yang mulai melompat – lompat sambil tetap merangkulnya dan mengiringinya berjalan keluar Bandara.

“Kau menjemputku sendirian?”

Chen mengangguk membenarkan, “Yang lain sangat sibuk. Kau tau kan mereka itu bagaimana?”

“Hmm” Sahabatnya yang lain seperti Suho, Kris, Lay dll memang sibuk dengan perusahaan dan sekolahnya. Tak menjemputnya bukan berarti tak ingat padanya kan? lagi pula mereka sudah tau jika dirinya pulang hari ini lewat grup chat.

“Jadi kau akan mengantarku sampai rumahkan?”

“Tentu saja.” Chen tak bisa menyembunyikan senyumnya, “aku akan berkunjung. Tak apa kan?”

Sehun membalas senyum Chen. “Tentu saja.”

Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya dari tempat – tempat yang dilaluinya ketika dalam perjalanan menuju rumahnya. Seoul. Rasanya sudah lama ia tak kembali dan tentu saja banyak yang berubah. Apakah tempat bermainnya ikut berubah?

Chen sesekali melirik Sehun yang terdiam melirik keluar kaca mobil. “Banyak yang berubah?”

“Hmm.” jawab Sehun singkat. “Apa tempat bermain kita juga berubah?”

“Tidak.” Chen membayangkan bukit dan rumah pohon tempat mereka bermain sejak kecil. “Aku dan yang lain tak berniat mengubah tempat itu. Banyak kenangan berharga. Benar kan?” Chen sekilas melirik ke arah Sehun. Ia bisa melihat persetujuan Sehun akan kata – katanya dari anggukan kepalanya.

“Aku senang bisa kembali dan bersama dengan kalian.” Sehun mencoba menerawang, “Banyak hal yang kulewatkan disini. Bahkan aku tak bisa melihat bagaimana perkembangan ingatannya?”

“Dia baik – baik saja namun ingatannya belum pulih. Lagi pula Lay selalu mengawasinya dari jauh.”

Sehun mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Dan bagaimana dengan Kris? Apakah ia sering megunjungi kalian disini?”

“Dua minggu sekali ia ke Korea. Ia sangat sibuk dengan perusahaan yang akan di wariskan kepadanya di Shanghai. Perlahan semuanya sibuk dengan urusan masing – masing. Lay juga mengembangkan cabang restorannya, Suho akan mengurus cabang perusahaan appanya yang di busan dan sebentar lagi, tentu saja kau akan sibuk dengan bisnis appamu juga kan?” jelas Chen panjang lebar.

***

Seorang gadis menggenggam erat tangan anak perempuan yang kini sedang terengah-engah dibelakangnya. Mereka berdua berlari untuk menghindari kejaran pria botak berbadan gemuk yang terlihat geram. Tak hanya pria botak itu, segerombolan yang terlihat seperti preman ikut mengejar gadis yang kini menelusup kearah gang sempit.

“Eon–nie?” gadis itu mencoba memanggil gadis cantik yang tengah menyeretnya. Nafasnya tak kuat untuk memanggil orang yang ia anggap pahlawan ini.

Gadis itu melirik kebelakang, mencoba melihat anak perempuan yang sedang dibawanya. Anak itu terlihat kelelahan, wajahnya agak memucat. Mereka sudah berlari cukup lama dan mungkin anak itu sudah tak kuat lagi.

“Kau lelah?” tanya gadis itu agak terengah dan dijawab anggukan lemah oleh si anak perempuan.

Gadis itu berfikir keras agar mereka dapat lolos dari kejaran para pria yang ia yakini mereka adalah salah satu komplotan jaringan penjualan anak.

Satu ide terlintas di benaknya ketika dari kejauhan ia melihat sebuah rumah tua yang membuat gadis itu tersenyum, mungkin ia bisa bersembunyi disana untuk sementara waktu. Tak mungkin terus berlari karena anak yang dibawanya sudah kelelahan.

Tanpa pikir panjang ia menggendong anak perempuan itu dan berlari dengan cepat memasuki perkarangan rumah. Ia bersembunyi di belakang rumah itu dan segera menurunkan kembali anak kecil yang digendongnya. Si botak dan preman preman terus berlari dan melewati tempat persembunyian mereka.

Dengan lega gadis itu menghembuskan nafas. Kemudian atensinya beralih pada anak perempuan yang dibawanya, “Kau tak apa – apa?”

“Hm” jawab anak perempuan itu sambil mengangguk.

Gadis cantik itu tersenyum, “Baguslah, sekarang mari kita pulang.”

***

“Yoonhae!!!!” teriak seorang wanita paruh baya yang langsung menghambur memeluk anak perempuan yang menjadi anak asuhnya di panti asuhan. Wanita itu tak henti – hentinya berucap syukur sambil menangis.

“Oh Tuhan. Aku tak tahu bagaimana nantinya jika Yonnhae-ku tak kembali.”

“Kang Ahjumma, sudahlah jangan menangis lagi, Hera sudah menemukannya.” ucap seorang gadis yang membawa dua gelas air ditangannya. Ia menyerahkan gelas yang berada di tangan kananannya ke anak perempuan yang bernama Yoonhae dan gelas yang lain kepada gadis cantik yang membawa Yoonhae, Lee Hera.

Ibu panti itu mengusap matanya yang basah dan beralih kepada Hera, “Hera-ya… Ahjumma sangat berterimakasih padamu. Jika tak ada kau, kita tak tahu bagaimana nasib Yoonhae nantinya.” ia menggenggam erat tangan Hera.

Hera tersenyum lembut, “Ne, Ahjumma. Aku senang bisa membantu dan—aku sudah menganggap kalian seperti keluargaku.”

Gadis si pembawa gelas–Jinsang ikut tersenyum melihat ibu panti dan sahabatnya. Hera memang anak baik dan sahabat terbaik yang dimilikinya.

Keharuan itu tak bertahan lama, karena pintu terbuka dengan keras dan tedengar hentakan kaki yang terdengar kesal.

Tiga perempuan yang larut akan keharuan itu saling memandang dan bingung ketika seorang gadis berumur 18 tahun datang dengan seragam yang basah dan mata berkaca – kaca.

“Somi!!!” teriak Kang Ahjumma. “K-kau kenapa sayang?”

Kang Somi. Salah satu anak panti itu berhambur memeluk Kang ahjumma. “Eomma—” nafasnya tak beraturan, “p-pria itu kejam. Ia terus membullyku!!!” teriaknya agak histeris.

Lee Hera yang mendengar itu seketika berdiri dan menghampiri Somi. “Kau di bully?”

Somi hanya mengangguk dan terus menangis di pelukan Kang Ahjumma. Hera memandang Jinsang sekilas dan bertanya kembali. “Siapa yang membullymu?”

“Oh Taeyong.”

“Oh Taeyong?” beo Hera.

“Ia anak ketiga dari keluarga Oh pemilik resort Dream land.”

Keluarga Oh? Dream land? nama – nama itu tak asing ditelinga Hera. Ia mengenal keluarga itu dari eommanya.

“Anak ketiga? Oh Taeyong. Baiklah, serahkan padaku. Aku tau siapa dia.”

Hera pernah bertemu sekali dengan Oh Myung Soo dan Oh Sehun, kakak dari Oh Taeyong. Tapi ia belum pernah bertemu dengan Taeyong. Sesungguhnya Hera malas bertemu anak – anak dari keluarga Oh. Mereka memang sangat arogan. Hera benci mereka.

TBC

Komentar kalian sangat berarti untuk saya. Sebagai penyemangat saya dalam menulis. Maka tinggalkan komentar ya ^^

Jika respon kalian bagus terhadap cerita ini. Saya akan post chapter 2 (Keluarga Oh) dengan segera. Terimkasih

Advertisements

13 responses to “EXO & Yeoja! #Sehun Chapter 1 (Kembali ke Korea)

  1. Asik crita sehun sama hera mulai lagi. Ditnggu chapter selanjutnya yah kak!!suka banget sm crita kakak yg tahun tahun kmaren. Post chapter selanjutnya cepat yah kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s