The Beauty of Revenge

e2678a09a3aca81b4add6b5b09c48409--sehun--weheartit

 

The Beauty of Revenge

Cast : Sehun and Jiyeon

 A Romance

PG-17

Summary : Sehun dendam pada keluarga Jiyeon yang telah menghancurkan keluarganya, tetapi ketika kebenaran terungkap, dia harus membayarnya dengan harga yang mahal.

.

.

.

 

Tempat ini tidak seperti di rumah.

Gelap.

Aku tidak bisa mendengarkan apapun.

Tapi di sini tidak ada tangan yang dengan santai menjarah diriku. Tiba-tiba aku ingin tertawa membayangkan wajahnya bahkan di dalam kegelapan ini.

Biasanya aku akan tunduk seperti budak, atau menangis lemah di sela-sela kesendirian yang membunuh.

Waktu itu aku hanya seorang istri.

Wajar bahwa cinta seorang pria yang mengikat dirinya adalah karunia yang paling dinanti. Sayangnya Sehun bukan orang yang penyayang. Tidak ada cinta di matanya untuk wanita yang dipikirnya memiliki ayah seorang pembunuh.

Faktanya ayahku dijebak untuk dosa yang tak pernah dia lakukan.

Ketika dia meminangku kata-katanya manis. Tatkala sumpah di depan semua orang berhasil diucap, Sehun menanggalkan semua topeng yang dia lekatkan di wajahnya.

Aku ingin bertepuk tangan untuk setiap drama yang dia mainkan. Luka-luka yang menari di atas tubuhku, tuduhan sepihak yang dilemparkan ke wajah ayahku, termasuk menghilangnya Hyomin dan ibu entah ke sudut mana negeri ini.

Kami hanya keluarga kecil sederhana. Kami tidak sekaya Sehun atau wanita yang diam-diam adalah pacarnya, Bae Irene—anak anggota parlemen yang akan maju sebagai calon walikota Seoul.

Kami hanya sekelompok manusia yang biasanya duduk di meja makan dengan candaan soal pekerjaan kami masing-masing.

Satu…

Dua….

Airmataku menetes mengenang ayah. Mungkin saat ini dia sedang cemas mengetahui keluarganya terpecah dan salah satu putrinya menikahi bajingan salah paham dari keluarga Oh. Aku bersumpah sebelum aku mati, kalau aku akan mengeluarkannya dari penjara dan menghapus corengan hitam yang menghantui nama keluarga kami.

Satu hal yang aku syukuri bahwa ayah bukan orang yang semudah itu menyerah. Aku khawatir dia akan menelan pil tidur untuk menghukum dirinya atas kejadian yang menimpa kami.

Andai aku tidak mencintai Sehun, hanya karena dia pernah menolongku saat kemah musim panas di sekolah kami. Paling tidak aku masih di luar sana, membantu ayahku mencari Hyomin dan ibu.

“Park Jiyeon!”

Suaranya datang dari kejauhan.

Itu pertama kalinya aku mendengar suara setelah entah berapa lama sejak aku sadar aku berada di sini.

“Park Jiyeon!”

Kali ini kehadirannya diikuti cahaya yang semakin lama semakin membesar di mataku. Aku harus menyipitkan kelopak mataku karena silaunya. Berikutnya yang kutahu, aku tidak lagi berada di dalam kehampaan.

Sebuah ruangan putih, banyak orang, aku tidak paham untuk sejenak.

Lalu sesuatu membuatku ingat jika ini adalah sebuah kamar di rumah sakit.

“Park Jiyeon!” suara itu, semuanya berasal dari satu orang di ruangan itu.

Oh Sehun?

Haruskah aku terkejut? Anehnya tidak. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku memang meninggalkan kehampaan, tapi hatiku tidak pernah kehilangan satu. Mereka menjadi kosong ketika berhadapan dengan Oh Sehun.

Apa ini artinya tidak ada cinta lagi dariku untuk pemuda itu?

Hal yang justru membuat kakiku melangkah mundur, ketika mataku tak sengaja menangkap wajahku sendiri terbaring di ranjang pesakitan itu.

Senyuman getir menari di antara sudut bibirku. “Apa aku sudah mati?”

Ini tidak adilkan? Kenapa tidak Sehun atau Irene saja yang mati? Aku masih memiliki ayah yang nasibnya tidak jelas di penjara sana. Ibuku dan saudaraku menghilang. Dan aku mati konyol seperti ini?

Aku ingat setiap detail kejadian yang membawaku pada titik ini. Semuanya, hingga setiap tetes darah dan airmata yang dibuat Sehun mengalir keluar dari tubuhku.

Tawaku menggema menyaksikan Sehun meraung, menangis memanggilku. Ini pasti mimpi. Dulu aku selalu terbuai untuk mewujudkannya, namun kini tidak lagi.

Perlahan hal-hal yang berjalan di sekitarku melambat. Tawaku telah mereda, menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Jam di dinding tiba-tiba berputar ke arah sebaliknya. Tubuhku seperti dihempas ke belakang.

Prosesnya terjadi begitu cepat, bahkan saat aku menyadarinya aku telah berpindah ke suatu tempat yang nampak tak asing.

“Aku hamil….”

Kepalaku menoleh. Memandang sebuah mobil yang terparkir di sisi jalan.

“Kau kan jalang, kau pikir aku percaya itu anakku? Enyahlah kau Park Jiyeon.”

Tanpa sadar tanganku bergerak meraba perutku. Ya, aku lupa jika aku sedang mengandung. Si pengecut itu masih tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang telah dia tanam. Jelas-jelas kami sudah menikah dan hanya kepadanya aku menyerahkan semua yang kupunya bersama harapan  agar pelan-pelan dia akan menerimaku, menerima anak yang juga berasal dari darahnya.

Dasar penjahat kelamin.

Aku juga ingat tak lama dia menerima telpon dari Irene. Pekikannya nyaring, gadis itu mengatakan kepada suamiku untuk diantar ke dokter kandungan.

Di sanalah aku tahu Oh Sehun melangkah begitu jauh.

Aku yang lain melangkah keluar dari mobil. Wajahnya pucat tanpa airmata sedikitpun. Aku tahu rasanya diposisi itu, rasanya dicabik ribuan kali sampai tak bisa merasakan apa-apa lagi. Saraf rasa sakitku sudah mati.

“Aku berjanji padamu Sehun. Aku akan mengungkap kebenarannya, aku akan membuat appa keluar dari penjara! Mengembalikan Hyomin dan eomma, dan kau akan melihat bahwa bukan appa yang membunuh keluargamu!”

Sumpah itu, masih kubawa sampai sekarang.

Tapi kali ini aku juga bersumpah, jika aku diberi kesempatan sadar untuk mengungkapkan semua yang telah kutemukan, aku akan mengubah hidupku dan hidup Sehun selamanya.

Cahaya terang menerpaku dari sisi kanan, aku menoleh, dan kali ini bukan lagi di pinggiran jalan sepi seperti tadi. Waktu membawaku ke sebuah perkantoran. Ruangan Oh Sangil, paman Sehun yang kukira malaikat jatuh dari langit.

Hubungan persahabatan antara ayah, orang tua Sehun dan Sangil ternyata pernah dilanda masalah yang membuat orang sebaik Sangil menjelma jadi iblis paling jahat yang pernah kutemui. Berawal dari cintanya untuk ibu Sehun yang tidak terbalas, perlakuan berbeda dari kakek Sehun sebab Sangil adalah anak tirinya.

Sampai kemudian harta yang semua jatuh ke tangan Oh Jinmoo—ayah Sehun—menjadi peluru terakhir yang menghancurkan Sangil luar dalam. Aku tahu rasanya menderita. Aku tidak menyalahkan Sangil menjadi jahat, namun pertanyaanku, mengapa ayah yang jadi korban?

“Kenapa? KENAPA APPAKU?!”

Aku meringis mendengar diriku yang lain berteriak. Hanya ada kami berdua saat itu. Ketika aku sedang begitu bersemangat ingin mengungkapkan kenyataan pada Sehun, Tuhan membukakan pintu yang begitu lebar.

Tanpa sengaja aku mendengar Sangil bicara dengan orang suruhannya, dia yang mengaku kalau ayahku yang menyuruhnya menyabotase mobil orang tua Sehun.

Sangil begitu hebat dan dungu di saat bersamaan. Dia membuat Sehun terfokus untuk membalas dendam padaku dan ayah agar orang suruhannya bisa keluar cepat dari penjara. Entah hari itu aku yang beruntung atau dia yang teledor.

Diam-diam, aku merekam semua kejadian itu.

Bukan dengan ponsel, itu klise, Sangil akan segera mengetahuinya dan bukti akan segera dilenyapkan bersamaku. Di kantor Sehun aku bekerja sebagai IT sebelum kami menikah. Barang-barang seperti penyadap dan pulpen berkamera tersembunyi bukan hal asing, apalagi aku pernah bekerja sebagai hacker.

“Kenapa? Kurasa anak kecil tidak perlu tahu.”

“Aku akan melaporkan ini pada Sehun!”

Aku benci tawa Sangil. “Silahkan saja Jiyeon-ah, Sehun saja tidak percaya janin di perutmu anaknya, bagaimana kau akan membuktikan aku bersalah? Jika ada yang jadi tersangka itu appamu sendiri. Kalau dia tidak menolak bekerja sama atau berani mengancamku, keluarga kalian pasti baik-baik saja.”

Ekspresiku mengeras. Membenci kebenaran yang dia ungkapkan. Mungkin tidak pada saat itu Oh Sangil, tapi aku juga bukan gadis bodoh yang menerima saja dipermainkan. Aku bukan heroin yang diam saja menunggu tangan Tuhan bersambut.

Aku sendiri yang akan mencari dimana keajaiban yang Tuhan janjikan.

Cahaya yang aku masih tak tahu asalnya darimana membawaku pada kejadian lain yang terjadi beberapa hari ke belakang tepat sebelum aku harus menderita di ranjang rumah sakit itu. Kali ini di rumah kami—ah tidak—di rumah Sehun.

Makan malam keluarga.

Begitu dia berkata. Semuanya berkumpul, tapi yang tidak pernah aku pahami atas dasar apa Irene ikut serta di dalamnya.

“Aku akan menikahi Irene. Saat ini dia sedang mengandung anakku, kuharap kalian mengerti.”

Kau bisa membayangkan betapa heningnya meja makan detik itu. Tatapan dingin yang diarahkan keluarga Sehun padaku segera terganti menjadi terkejut. Tentunya artis di sana bukan diriku, tapi Irene yang dengan malu-malu menundukkan kepalanya kepada para sesepuh.

Dia bukan orang yang suka merendah, aku bertanya apa yang membuat dia berlagak seperti wanita polos? Jelas-jelas aib gelapnya hubungan mereka sedang terkuak.

Kemudian aku tersadar, satu-satunya yang hubungannya terasa gelap adalah aku dan Sehun. Dia mencintai Irene, begitu juga sebaliknya. Lagi-lagi airmata tidak bisa keluar seberapa pun aku merasa hancur oleh ulahnya.

Oh Sehun, begitu banyaknya kebencian yang kau punya untuk satu orang manusia. Tidak hanya fisik, kau juga menorehkan belati yang kau punya berkali-kali di hatiku.

Apa yang harus aku lakukan?

Pemandangan berganti pada pertemuanku dan Irene di dapur, saat aku permisi ingin mengeluarkan hidangan penutup, padahal aku berlari dari kenyataan. Wanita itu tahu, Irene tahu dan menginjak lukaku yang baru menganga semakin dalam.

“Bagaimana rasanya?”

Aku tidak menanggapinya tentu saja. Wanita seperti Irene akan tertawa begitu keras jika tahu betapa besar dampak yang ia buat dalam hari-hariku.

“Kalau kau benar-benar mencintainya, buatlah dia bahagia. Aku akan melepaskannya.”

Ya, sampai detik ini keputusanku untuk melepaskan Oh Sehun tidak berubah. Meski ada suara retakan yang hadir di sudut terdalam hatiku. Aku tahu kami tidak pernah tercipta untuk bersama.

“Kau tidak perlu melepaskan Sehun. Sejak awal dia memang bukan milikmu, Park Jiyeon.”

Tidak.

Sedetikpun Oh Sehun tidak pernah memberikanku hatinya. Aku memang tidak pernah memilikinya. Kenapa Irene harus melemparkannya sekeras itu padaku?

Astaga, tentu saja dia benci padaku. Aku merebut pacarnya.

Lalu, perkataannya lah yang membuat hatiku mencelos. “Andai kau tidak melekat padanya seperti parasit, aku tidak perlu mengandung anak yang bukan anak Sehun.”

Bahkan walaupun kejadian ini telah berlalu, aku tetap terpaku tanpa mengatakan sepatah katapun. Pacar suamiku mengakui dia berkhianat, itu kejutan besar. Aku pikir aku tidak akan melewatkan kejadian ini sekali lagi.

“Dan kini, aku bisa menghancurkan kalian berdua.” Secara tiba-tiba Irene menggenggam kedua tanganku, aku berusaha melepaskannya, dan semakin panik tatkala Irene berteriak memanggil Sehun, menuduhku berniat mendorongnya.

Ketika Sehun dan keluarganya datang, Irene menjatuhkan tubuhnya, bereaksi seolah-olah aku yang telah mencelakakan dirinya.

Mataku perlahan terpejam, tak sanggup melihat pukulan yang Sehun layangkan pada diriku di masa lalu. Pukulan Sehun itu yang membunuh anak kami—tidak, anakku. Dia mendorongku hingga tubuhku terhuyung dengan perut menghantam pinggiran meja.

Anakku.

Aku kehilangan alasan aku bertahan selama ini.

Aku ingat betapa inginnya aku menyambut kembali rasa hampa di kegelapan sana, dibandingkan mendengar jeritanku sendiri.

Awalnya aku tidak menyadari aku kehilangannya, rasa sakit oleh perlakuan Sehun membuatku lupa kalau aku tidak sendirian menghadapi perlakuannya yang kasar. Dia akan membayarnya. Sehun dan Irene akan membayar lebih mahal daripada yang telah mereka perbuat pada anakku dan keluargaku.

Malam itu Sehun menendangku keluar dari rumah.

Sekujur tubuhku menjerit, berkata jika ini terakhir kalinya Sehun bisa memperlakukanku seperti sampah. Dengan tenaga yang tersisa aku berjalan tanpa arah, hingga kesadaranku menghilang. Entah malaikat darimana yang membawaku ke rumah sakit.

Mataku mencerminkan betapa berantakannya aku saat itu. Dokter yang menjagaku juga berkata mereka harus melakukan prosedur kuret pada janin yang baru berusia tiga bulan itu. Aku bisa membayangkan betapa kecilnya bayiku.

Alat itu telah mengoyak tubuhnya, jantungnya, mereka mengambil anakku dariku.

Aku menangis. Semua yang kutahan selama ini tak dapat kubendung lagi. Tak ada yang mendengarnya. Karena aku hanya kepingan masa depan yang terkenang kembali ke masa ini.

“Ji uisa-nim. Bisa kau kirimkan ini ke kantor Lotus Company? Direktur Oh Sehun?”

Diriku yang dari masalalu menyerahkan sebuah flashdisk ke tangan dokter Ji—aku ingat—Ji Changwook. Dia beberapa kali menanganiku saat aku sakit karena perlakuan Oh Sehun. Tapi kami tidak sedekat itu, entah apa yang membuat diriku dengan nekat menyerahkan bukti itu pada dokter Ji.

“Maaf, aku tidak bisa membayarmu sekarang, suamiku baru saja mengusirku. Dan-dan….”

Dokter Ji memelukku. Rasanya dunia tenggelam di belakangnya. Pada saat itu aku merasakan kehangatan yang telah menghilang dariku. Aku seperti memeluk ayah.

Ayah….

Aku tidak bisa menemukan laki-laki sebaik dirinya.

Sebenarnya kehidupan apa yang kita jalani di masalalu sehingga rasa sakit datang silih berganti?

Secercah cahaya kembali membawaku ke waktu dan tempat yang berbeda. Tepatnya dua bulan setelah aku diusir dari rumah Sehun dan menetap di sebuah wilayah kecil di Gwangju. Dokter Ji memiliki seorang kenalan di sana, karena sudah tak memiliki apa-apa lagi aku menerima saja tawaran itu.

Kupikir aku bisa sedikit mendapat kedamaian setelah semua yang terjadi. Aku terlalu terlena dan melupakan Sangil yang saat itu murka karena jatuh pada jebakanku. Semua bukti yang kuberikan pada dokter Ji berhasil sampai ke tangan Sehun.

Tak lama berita ayahku bebas dari segala tuduhan merajai seluruh kancah pertelevisian Korea. Aku yang dari masalalu terlalu bahagia, dan membuat keputusan bodoh dengan datang ke Seoul. Aku ingin menjemput ayahku, aku ingin kami memulai semua dari awal lagi.

Anak buah Sangil ternyata telah cukup lama mencari keberadaanku, ketika aku kembali datang ke Seoul untuk bertemu ayah, mereka juga menggunakan momen itu untuk menembakkan martil panas ke dadaku.

Sangil berniat membunuhku dan ayah.

Aku tidak takut pada kematian, yang aku takutkan ayah harus mengalami hal yang sama. Dia baru saja merasakan kembali nikmatnya cahaya mentari dan udara luar yang hangat. Tubuhku bergerak sendiri menjadi tameng bagi peluru kedua yang berniat mereka sarangkan pada ayah.

Beruntung, polisi segera datang sebelum anak buah Sangil bertindak lebih jauh.

Diriku yang di masalalu jatuh terkapar. Dari sini aku tahu alasan mengapa aku terbangun di tengah kegelapan setelahnya. Lagi-lagi aku bertanya apa aku sudah mati?

“Appa, maaf, aku tidak bisa menemukan Hyomin dan eomma, hukhh….”

“Aku kehilangan anakku, appa, aku kehilangan Minwoo-ku…hukkh ohookkh….”

Dan aku akan segera kehilanganmu, ayah.

.

.

.

Melihat sendiri bagaimana kehidupanku bergulir di depan mataku. Ada sedikit rasa kecewa dan sedih karena hidupku berakhir dengan cara yang menyedihkan. Aku selalu berpikir meninggal dipenuhi cinta dari orang-orang terkasih adalah yang terbaik.

Sementara kematianku diwarnai penyesalan.

Aku memutuskan memaafkan Sehun, tidak akan ada gunanya juga menaruh kebencian padanya. Karena pada akhirnya apa yang terjadi di antara kami juga dimulai oleh kebencian, dan lihat apa dampaknya bagi kami berdua? Aku dan dia kehilangan segala-galanya.

Biarkanlah alam yang akan menghukum Sehun untuk ketidak-adilan yang  ayah dan keluarga kami terima.

Tugasku menyampaikan kisah hanya sampai di sini.

.

.

.

Third Point of View

“Kau tidak bisa kabur dariku! Kau tidak bisa pergi dariku seperti ini, PARK JIYEON!”

“Tuan Oh, tolong, jangan seperti ini, pasien telah beristirahat dengan tenang.”

Sehun kian berontak saat tubuh Changwook mencekalnya dari meraih tubuh Jiyeon yang dikabarkan telah meninggal.

Semua yang ada di dalam ruangan itu hanya dapat merenungi kejadian yang menimpa sepasang insan yang mengaku hubungan mereka sebagai suami istri. Nyatanya tali yang mengikat mereka lebih kusut dibandingkan apa yang nyata di pengelihatan orang awam.

Ayah Jiyeon masuk ke dalam ruangan. Auranya dingin seperti balok es tajam, Sehun yang merasakannya seketika mengkaku.

“A-abeonim….” Suaranya parau karena berteriak.

Pria tua itu berdiri di depan Sehun, wajahnya tidak menunjukkan emosi apa-apa. Itulah yang membuat sikap Sehun semakin berhati-hati. Tentu, dia malu, sangat malu karena telah menuduh sahabat baik mendiang ayahnya ini sebagai pembunuh tanpa bukti yang lengkap.

“Cukup Oh Sehun. Cukup.”

“Ta-tapi Jiyeon—“

“KUBILANG CUKUP!” Ayah Jiyeon menarik napas sejenak.

“Aku tidak akan menyalahkanmu atas semua yang terjadi padaku dan keluargaku Sehun. Aku tahu kau juga korban seperti kami, Sangil telah memperalatmu. Tapi, aku kecewa padamu yang telah menimpakan semua kesalahan pada anakku. Dia tidak ada sangkut pautnya pada kejadian ini. Kupikir menikahkannya denganmu akan memberinya kebahagiaan yang dia idam-idamkan karena putri bungsuku jatuh cinta padamu.”

Sehun mengangkat wajahnya, tidak percaya saat menatap mata sang mertua.

“—aku juga tidak akan menuntut apa-apa darimu anak muda. Tapi tolong jangan sentuh Jiyeon lagi. Apa kau tidak lihat luka-luka di tubuhnya? Dia lelah Sehun. Lepaskan anakku dari dendam yang kau rasakan. Sama seperti ketika aku mengikatmu dengan Jiyeon, kali ini aku akan memutuskanmu dari segala hal yang berkenaan dengan Jiyeon. Bersama kepergiannya kau bukan lagi suaminya.”

Ayah Jiyeon meninggalkan Sehun begitu saja, dengan tangannya dia membawa jasad Jiyeon setelah mendapatkan izin dari Changwook.

Benar-benar meninggalkan Sehun menangis dan meraung untuk cinta yang tak pernah bisa dia gapai. Untuk sosok yang telah dia lewatkan.

.

.

.

“Changwook-ah….”

“Ye, ahjussi.”

“Bawalah Jiyeon jauh dari sini. Jangan biarkan Sehun menyentuhnya lagi. Cintailah Jiyeon seperti kau mencintai nyawamu sendiri.”

“Lebih ahjussi. Aku mencintainya lebih dari nyawaku sendiri.”

.

.

.

END?

What is this??????

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

17 responses to “The Beauty of Revenge

  1. No end….next chapter????
    Kaya y seru kalo ada lanjutan y…jd jiyeon g mati sebenernya…trzz bakalan ma changwook gitu??biar sehun nyeselllll bgttttt…

  2. oh my… aku shock… aku butuh sequel please? aku butuh happy ending… ksian jiyeon… sumpah.. thor please…

  3. What the???
    Gw baca ff ini berasa masuk bgt dan merasakn feel nya. Apalagi part ketika jiyeon diusir sehun. Ada sakit disinih… *nunjuk hati*
    Srsly ada next chapter nya?? Gw berharap sih ada…. tapi dgn alur yg menarik seperti ini… semangat ❤

  4. Plisss thor jangan end but tbc! Plisssss seru banget ini kalau jiyeon sama cowok lain terus lihat bagaimana penyesalan sehun nantiii, ya ampun nggak sabar

  5. Aku seneng deh kmu bawa ff baru, tp ff limerence bakal dilanjut kan aku serius pgn tau kelanjutan ff itu smpe selesai 😭😭😭😭😭😭😭

  6. Langsung nge feel banget, sakit banget sumpah
    Jadi jiyeon blm meninggal?
    Please author butuh sequel T.T
    Pengen tau kebahagiaan jiyeon
    Syukurin sehun makannya jgn jahat amet jdi org
    Author daebak banget bisa bikin cerita oneshoot tapi bikin baper banget

  7. Wahhhhhh keren , Jiyeon sebenarnya blm mati kan ? Penyesalan emang datangnya belakangan , suka dech liat sehun menderita , smg ada next nya ya

  8. Sumpaah, sampe nahan nafas gini. Tegang + sakit bacanyaa. Yaampuun ngena bgt. Nice ff 😭😭💕💕💕💕
    Dilanjut yayayaa? Author yg baik💞

  9. Apa ini? Kenapa rasanya nyentuh banget? Kenapa rasanya nyesek banget? Sehun apa yang kau lakukan.. 😥 Jangan dulu End thor, lanjut lagi dan bikin Sehun nyesel 😥

  10. SUKA BANGET GILAAAA AHHH PLOT TWIST ENDINGNYA KEREN!! segini udah keren banget, tapi kalo ditambah lagi makin oke kayaknya

  11. ya allah sumpah ini fanficnya nyentuh bgt… feelx kerasa bgt… nyeri nieh bacax berasa jd jiyeon yg teraniaya… sehun keterlaluan pake bgt… aq yakin jiyeon masih hidup… lanjuuuuuuuuut donk… btuh sequel nieh… endingx ma sehun aja tp buat sehun menderita dlu… buat dy menyesal tgkat dewa… lanjuuut please…oia ff what happen in seoul tlong lanjuuuuuuut juseyooo

  12. Speechlesss 😭😭😭…
    Harus next ya Kak Authoor.. Aku tunggu bgt..
    Sehun nya jahaat 😭..
    Ini nge feel bgt… Lanjut ya, Kaaaak 😉😊.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s