PERFECTIONIS (Chapter 10)

IMG_20170626_012149

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Jun He
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 15+

 

 

Dear Sehun…

 

I don’t think of you until it’s night

 

And our conversations go through in my head

 

And I wonder why I wasn’t enough for you…

 

 

Lusia Kim~

 

Perfectionis

 

Sehun’s Mansion

24 Maret

21.05 KST

 

Biasanya hal baik selalu hadir setelah kita melewati segala kesulitan. Aku juga berharap dan berdoa bahwa semua itu juga terjadi padaku.

 

Aku selalu berdoa, agar kelak setelah semua kesulitan ini aku bisa mendapatkan sepucuk kebahagian.

 

Tapi setelah aku mengejar dan mengejarnya, kebahagian itu tak pernah muncul di permukaan.

 

Lalu aku berfikir.

 

Apakah aku mengejar kebahagiaan di jalan yang benar, atau aku sedang tenggelam terlalu dalam atau mungkin aku melewatkannya.

 

Tapi hal itu tak pernah berakhir, rasa sakit yang tiba – tiba aku rasakan. Rasanya seperti hukuman abadi bagiku.

 

Lalu aku kembali berfikir.

 

Setelah melalui semua kesulitan ini, pada akhirnya hatinya tak pernah tersentuh olehku. Barang sedikitpun.

 

Lalu aku kembali berbalik, hal apa saja yang telah aku lewatkan dalam pengejaran ini. Dan teringat, masa mudaku hilang karena itu.

 

Harusnya aku tak memaksakan kehendakku. Apa yang tidak di takdirkan untukku memang seharusnya bukan untukku.

 

Dan ketika garis takdir itu dirubah.

 

Aku seperti mendapat hukuman. Hukuman karena tak  mau mendengarkan suara hatiku yang begitu lelah mengejarnya.

 

Seperti saat ini.

 

Tanpa sengaja aku menemukan figura merah jambu polos dengan foto yang membuat hatiku berdebar kencang.

 

Rambut hitam legam dengan pupil mata indah itu terfigura rapi, dengan senyum lebarnya. Siapapun pasti langsung terpikat dengannya.

 

Termasuk juga Sehun.

 

Dia pasti masih mencintai Bae Hyun Ji.

 

Apakah ini hukumanku karena menginginkan hal yang seharusnya tak menjadi milikku.

 

Tanpa sadar, air mataku menetes. Tanda mulut dan hati ini sudah tak mampu membendung rasa sakit ini.

 

Aku mengembalikan figura itu di tempatnya dan meninggalkan ruang kerja Sehun.

 

Aku hanya harus berdiam hingga waktunya tiba kan? Apa aku bisa?

 

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tak lagi mengungkit masa lalu, tapi hati ini selalu saja tetap mematri nama yang menyakitkan itu.

 

Ratusan kali aku berusaha menenangkan diri dan berkata, semua ini akan segera berakhir. Tapi itu bukanlah hal yang benar. Karena ini merupakan lanjutan dari kisah memilukan itu.

 

Iklas bukanlah sesuatu yang mudah. Bagiku, 5 tahun terakhir ketika aku benar – benar melupakan semua tentang Sehun adalah tahun – tahun yang begitu tenang. Bahkan tanpa kata cinta.

 

Tapi kini aku kembali di kisah hidup yang memilukan ini. Dengan status yang berbeda.

 

Kini aku sudah menjadi istrinya, tapi hati ini rasanya masih kosong.

 

Apakah berlebihan jika aku ingin Sehun membalas cintaku?

 

Dia hanya membantu appa dan eomma menyembuhkanku dan mengembalikan ingatanku. Aku berharap mampu menahannya.

 

Aku sungguh – sungguh berharap hubungan ini akan terus berjalan.

 

Aku juga sangat berharap bahwa aku dan Sehun masih memiliki secerca harapan untuk hubungan ini.

 

Tapi mungkin permintaanku terlalu berlebihan. Melalui semua ini sampai saat ini harusnya aku yang bersyukur.

 

Kadang aku berfikir lebih dalam dan aku merasa tak mampu melakukan semua ini.

 

Tapi ketika hal itu terjadi, aku kembali menoleh kebelakang. Sudah banyak yang aku lalui, sudah sejauh ini aku melangkah. Akankah aku bisa berhenti sampai disini saja?

 

Hatiku sudah tak mampu lagi menggambarkan bagaimana hancurnya hal tersebut.

 

Dan aku yakin Sehun juga tak terlalu memusingkan apapun tentangku.

 

Tokk tokk tokk

 

Suara ketukan pintu itu menyadarkanku dari fikiran dalamku.

 

“Nyonya, anda tidak apa – apa?”

 

“Anda belum keluar lagi setelah sarapan tadi.”

 

“Apakah anda sedang tidak enak badan? Apakah saya harus menelfon Tuan Oh?”

Aku memang tidak baik – baik saja ahjumma.

 

Anyo, aku baik – baik saja dan jangan telfon Sehun. Aku hanya lelah dan ingin tidur.”

 

“Tapi anda belum makan, dan sekarang sudah pukul Sembilan malam. Saya akan kena marah jika anda tidak mau makan.”

 

“Tinggalkan saja disana, aku akan memakannya jika lapar.” Aku kembali meringkuk di bawah selimut.

 

Perutku benar – benar tidak terasa lapar. Sungguh.

 

“Baiklah nyonya, tapi anda harus memakannya.”

 

Aku hanya berguman sebagai jawaban.

 

Apakah Sehun sudah pulang? Sudah jam Sembilan dan aku belum mendengar suara mobil.

 

***

Author POV

 

Seunghwa groub

22.15 KST

 

Sehun merupakan sosok yang gila kerja. Jika saja tidak ada sekertaris setianya yang sudah seperti alarm baginya, Sehun tak akan mungkin pulang di bawah jam dua belas. Dia bahkan mampu menghabiskan malam hanya bergelut dengan berkas – berkas itu.

 

Setelah melihat jam ditangan kirinya yang menunjukkan pukul sebelas lebih lima itu, Sehun beralih menatap jarinya yang dihiasi cicin emas putih yang sudah dua bulan ini berada di tangan kirinya.

 

Dan cicin itu mengingatkannya bahwa dia telah menikah dengan Rei. Itulah kenyataan yang setiap pagi terlupakan oleh Sehun.

 

Rei terlihat seperti porselen rapuh yang mampu pecah kapan saja. Sehun tak mau gegabah dan merusak porselen cantik itu.

 

Tapi hatinya terlalu kalut jika dia sadar bahwa dia sudah menikah dan gadis yang dinikahinya itu bukan seseorang di bingkai foto merah muda yang ada di meja kerjanya.

 

Menyesal memang selalu datang di akhir. Itulah sebabnya kau harus melakukan hal baik sebelum hal itu pergi dan tak kemabali.

 

Beberapa saat tenggelam dalam fikirannya. Sehun kembali memandangi dokumen – dokumen penting dimejanya dan membawanya kedalam tas hitam kulit miliknya. Membawanya pulang untuk kembali ia teliti, jika saja pegawainya berbuat salah.

 

Sehun langsung bergegas melangkah setelah berada dilantai dasar dan mobil BMW hitam sudah siap mengantar Sehun pulang.

 

“Jam setengah sebelas, apa dia sudah tidur?”

 

***

 

Sehun’s house

23.04 KST

 

Setelah mengantar Tuan Han-sopir Sehun- ke stasiun bawah tanah, Sehun mengendarai BMW mewah itu sampai garasi mewah mansion miliknya.

 

Melihat sekitar dan cahaya mulai redup karena semakin malam.

 

Sehun membuka pintu dan mendapati rumah dalam keadaan gelap dan sepi. Sehun melanjutkan langkahnya ke kamarnya dan mendapati kamarnya kosong dan gelap. Dia tak mendapati Rei terbaring disana.

 

Sehun memutuskan untuk membersihkan diri dan melanjutkan pekerjaan yang ia bawa pulang itu. Tapi kembali teringat dengan Rei.

 

Beberapa saat setelah mengeringkan rambut, Sehun berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana Rei berada.

 

Setelah berjalan menuju pintu putih bedaun dua itu, Sehun melihat troli makanan yang tak tersentuh dan sudah dingin.

 

“Apa dia memesan ini dan tertidur?”

 

Sehun hendak membuka kamar Rei namun ternyata di kunci.

 

Kemudian tanpa fikir panjang dia kembali ke kamarnya.

 

***

Sehun’s House

25 Maret

05.32 KST

 

Sehun meninggalkan rumah pagi buta. Bahkan Sehun tak sempat sarapan karena dia harus segera mempersiapkan diri untuk rapat direksi pagi ini.

 

Sedangkan Rei, melihat kepergian Sehun melalui jendela besar di kamarnya. Melihat betapa menariknya wajah tegas yang dihiasi kantung mata hitam itu. Wajah yang harusnya tak di sia – siakannya di kantor tertutup dengan segudang berkas di meja.

 

Tapi itulah yang harus Sehun jalani, tanpa pilihan. Dia harus menerima takdirnya sebagai pewaris tunggal Seunghwa Groub. Pada akhirnya Sehun yang sangat ingin sekali menjadi seorang dokter ahli jantung itu kini menjadi seorang C.E.O. perusahaan manufaktur Seunghwa.

 

“Bahkan dia tidak sempat sarapan.” Gumam Rei.

 

Rei hanya memandang kepergian Sehun dengan wajah pucatnya.

 

“Apakah menghindarimu lebih baik?”

 

***

Rei POV

 

06.45 KST

 

“Anda harus makan nyonya, kemarin anda bahkan tidah menyentuh makan malamnya.”

 

“Lihatlah aku sedang makan sekarang.”

 

“Bahkan nasi itu tak berkurang sedikitpun nyonya. Apakah anda ingin makan sesuatu? Katakanlah saya akan membuatnya.”

 

“Gwenchanayo ahjumma, sup dan lauk ini sudah cukup untukku.”

 

“Tuan Oh akan memecat saya jika anda tidak mau makan, kumohon nyonya.”

 

“Aku yang akan memecatmu jika kau menelfon Sehun.” Jawabku enteng.

 

“Lalu saya harus bagaimana agar nyonya mau makan?”

 

“Duduklah, mari makan bersama.” Aku tersenyum penuh arti pada Shin Ahjumma.

 

***

Author POV

 

Seunghwa Groub

22.10 KST

 

Beberapa orang pasti berfikir menyenangkan menjadi orang kaya. Mereka tidak melihat kerja keras dibalik kemawahan itu. Orang – orang tersebut rela mengurangi jam makan dan tidurnya untuk mengumpulkan uang sebanyak itu. Dan juga mengurangi waktu untuk orang – orang tersayang.

 

Seperti pria muda yang sudah menikah ini-Oh Sehun- dia bahkan lupa bahwa sudah mempunyai istri.

 

“Presdir…”

 

“Ne.” jawab Sehun singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas dihadapannya.

 

“Sekarang sudah jam 10 lebih, anda tidak pulang?”

 

Sehun berhenti sejenak dan melihat jam tangan mewah di tangan kirinya. Sehun menjatuhkan pena di tangannya dan mengusap wajahnya.

 

“Kau benar, hyung pulanglah dulu. Aku akan menyelesaikan sisanya.”

 

“Aku akan berbicara ini sebagai hyung-mu karena jam kerja sudah selesai.” Sehun memusatkan perhatiannya pada pria tinggi di depannya itu.

 

“Pulanglah cepat dan beristirahatlah, kau saja tidak bisa perhatian pada dirimu sendiri, bagaimana dengan istrimu di rumah? Apa kau bahkan mengingatnya kalau kau sudah menikah?”

 

Sehun tertegun sesaat dan memandangi sebuah cicin di tangan kirinya.

 

“Kau benar hyung, aku sudah menikah. Bagaimana aku bisa lupa?!”

 

“Kau benar – benar! Cepat pulanglah, aku akan menyelesaikan sisanya.” Park Joon kemudian mengambil berkas – berkas yang masih di meja Sehun dan membawanya keluar ruangan.

 

Seperti yang dikatakan sekertarisnya, dia terlalu cuek dengan sekitar. Sehun hanya akan memperhatikan Rei ketika kesehatannya memburuk. Dia melupakan kewajiban sebagai suami. Itulah Sehun.

 

Sehun sendiri tak mengerti bagaimana perasaanya pada Rei. Bagaimanapun Sehun lebih tua dari Rei bahkan lima tahun. Mungkin bagi orang lain hal itu biasa, tapi mereka menikah di usia yang sangat muda. Itu cukup mengkhawatirkan bukan?

 

***

 

Sehun’s Mansion

22.40 KST

 

Setelah sampai dirumah, Sehun pergi menuju kamarnya dan membersihkan diri. Dan tak lupa dia menyambangi kamar istrinya di lantai dua.

 

Beberapa langkah mendekat, terlihat troli makanan seperti kemarin. Dan jujur saja, perasaan Sehun tidak terlalu baik.

 

Sehun berusaha membuka kamar Rei tapi terkunci.

 

Tokk tokk tokk!

 

“Rei! Apa kau di dalam? Buka pintunya sebentar?”

 

Sehun menunggu dan tidak ada tanggapan yang berarti.

 

“Rei, buka pintunya!” Sehun kembali berteriak.

 

Bahkan setelah beberapa kalipun tak ada tanggapan yang berarti. Sehun masih mampu berfikir tenang, dia ingat menyimpan kunci cadangan dan bergegas mengambilnya.

 

Beberapa langkah menjauh, Sehun mendengar decitan pintu.

 

“Ada apa?” Jawab Rei parau.

 

“Hya! Saat orang sedang mengetuk pintu kau harusnya segera merespon.” Sehun mencoba tidak tersulut emosi.

 

“Kau tahu jam berapa sekarang?” Sehun tertegun sesaat.

 

“Jam sepuluh lewat.”

 

“Sekarang tengah malah Sehun-ssi tolong berfikirlah jernih.” Mereka masih berbicara di ambang pintu.

 

“Kenapa troli makanan ini ada disini? Dan juga tidak termakan sedikitpun, kemarin juga. Kau melewatkan makan malamu?!” bukannya bertanya, Sehun lebih seperti menyudutkan Rei dengan ucapannya.

 

“Aku lupa jika menyuruh bibi Shin mengantarkan makanan ke atas dan tertidur. Kau puas?”

 

Any, biar ku pastikan.” Sehun membuka paksa pintu yang sedari tadi di pegang erat oleh Rei. Rei pun melangkah mundur memastikan jarak mereka tidak terlalu dekat.

 

Sehun menyalakan lampu agar pandangnnya lebih jelas di kamar itu.

 

“Kapan terakhir kali kau makan?”

 

“Kenapa kau peduli?”

 

“Jawablah selagi aku bersikap baik.” Itu merupakan sebuah peringatan untuk Rei. Sehun bukanlah seseorang yang mudah di ajak bercanda ataupun dibantah.

 

Rei hanya diam dan menghindari tatapan Sehun.

 

“Tiga jam yang lalu.”

 

“Kau tidak pandai berbohong Rei.” Ujar Sehun seketika.

 

“Kau melewatkan makan malam, tidur tidak teratur, terus mengurung diri di kamar dan tidak pernah sedikitpun menyentuh obatmu? Jadi apa maumu Rei? Kau ingin melihatku di bunuh oleh ayahmu?”

 

Rei setengah mati memikirkan jawaban apa yang harus ia lontarkan, ia tak ingin Sehun sadar bahwa ingatannya sudah kembali. Dan pada akhirnya Rei hanya diam melihat Sehun memarahinya.

 

“Kau tak akan menjawabnya? Jangan membuat semua ini menjadi sulit diantara kita Rei.”

 

Rei masih diam, berusaha berfikir dengan segala ungkapan di kepalanya. Tapi menghindari seseorang yang seumur hidup kau kenal tidaklah mudah.

 

“Berhentilah bersikap seperti ini padaku.”

 

Mwo?

 

“Kenapa akhir – akhir ini kau begitu perhatian padaku? Apa kau kasihan melihatku?! Tak perlu mengasihaniku, aku sudah terbiasa dengan semua ini jadi bersikaplah seperti sebelumnya.” Jawab Rei tegas. Matanya mulai berair dan siap jatuh kapan saja.

 

Sehun yang sudah terpancing emosipun akhirnya mencoba menjawab.

 

“Baiklah jika itu maumu. Itu pilihanmu dan jangan libatkan aku dalam hal itu!” dengan tatapan tajam menusuk itu, Sehun mengakhiri pertengkaran singkat yang cukup menegangkan itu.

 

“Jadi kenapa kau menerima perjodohan ini? Hal ini tak akan terlalu menyulitkan jika sejak awal kau menolaknya.” Sehun berhenti di ambang pintu dan berbalik menatap Rei jengah.

 

“Kau benar. Sepertinya aku harus memikirkannya lagi tentang pernikahan kita.”

 

Rei membeku ditempat dan tanpa sadar air matanya sudah mengalir deras.

 

Rei kembali menutup pintu dan menguncinya. Mendengar ucapan itu dari Sehun membuatnya merasa ada sebuah belati tajam menancap dadanya.

 

“Kau memang selalu seperti itu Sehun.”

 

“Karena kau tak mencintaiku.”

 

Kalimat itu diakhiri dengan tangisan hebat Rei. Bertahun – tahun mendapat ucapan tajam bak belati itu dari Sehun tak membuatnya kebal. Malah hatinya semakin terluka parah.

 

Ingin rasanya Rei menerima semua perlakuan manis Sehun padanya. Tapi hal itu akan berbalik menusuknya suatu hari nanti ketika Sehun telah selesai melakukan tugasnya untuk menyembuhkan Rei.

 

Rei takut jika suatu hari nanti ia tak mampu merelakan Sehun.

 

Rei mengakui bahwa ini memang sepenuhnya kesalahnnya, karena terlalu mencintai seorang Oh Sehun. Pria dingin yang bahkan tak sedetikpun hatinya bergetar untuk Rei.

 

***

 

25 Maret

05.30 KST

 

Incheon Airport

 

“Ada yang bisaku bantu?” Sehun tersadar dari lamunanya.

 

Anyo hyung, hanya sedang berfikir.”

 

“Tidak biasanya kau seperti ini? Apa kau mendapat masalah dari Tuan dan Nyonya Oh?”

 

“Aku sedang berfikir apa pilihanku sudah benar?” Sehun mencoba menerawang kedepan.

 

“Tentang apa? Hei, perusahaan kita baik – baik saja. Setidaknya sampai saat ini.” Jawab Joon singkat.

 

“Aku tidak sedang memikirkan perusahaan hyung.

 

“Lalu? Apa ini tentang istrimu, Kim Rei Na? Mwo? Memangnya ada yang salah?”

 

“Aku sekarang berfikir bahwa aku yang salah hyung. Apakah seharusnya aku tidak menerima perjodohan ini, dan bagaiamana aku hari ini jika tidak menerima perjodohan ini? Dan juga bagaiman kesehatan Rei sampai saat ini jika pernikahan ini tak pernah terjadi. Banyak hal yang akhir – akhir ini melintas fikiranku. Tentang bagaimana seharusnya akan dan Rei.” Sehun menunduk menatap cicin pernikahannya yang masih tersemat di jarinya.

 

Hening sesaat. Sedangkan Joon-sekertaris Sehun-sedang menatap lawan bicaranya itu dalam – dalam. Terukir guratan lelah di wajahnya. Entah lelah karena pekerjaan atau lelah dengan perasaanya sendiri.

 

“Kau akan menjadi manusia tak berperasaan selamanya kau tahu, sekarang baguslah kau memiliki berbagai macam perasaan. Itu membuatmu lebih terlihat seperti manusia.” Sehun seketika memandang Park Joon.

 

“Semuanya akan baik – baik saja Sehun, jika kalian tidak ditakdirkan bersama Tuhan tak akan menyatukan kalian dalam ikatan pernikahan ini. Kau harus percaya manusia tak semudah itu berjalan menuju altar.” Tambah Joon.

 

Lalu mereka berduapun tersenyum dan menuju check in bandara untuk penerbangan ke China.

 

 

***

 

07.15 KST

Sehun’s Mansion

 

“Anda sudah bangun nyonya.” Rei yang di panggilpun menoleh dan mendapati Shin Ahjumma dengan senyum manisnya. Meskipun sudah menginjak kepala lima, Shin ahjumma masih terlihat segar dan sehat. Tak seperti Rei yang saat ini sudah seperti zombie.

 

“Ahjumma, kenapa kau terus memanggilku nyonya?” Rei bertanya spontan.

 

“Karena anda istri dari tuan Oh.”

 

“Apakah menurutmu aku pantas di panggil nyonya? Aku baru berusia awal dua puluh tahun ahjumma. Kumohon, itu membuatku terlihat sangat tua.”

 

“Saya tidak bisa Nyonya. Sudah menjadi aturan disini. Mungkin setelah beberapa lama anda akan terbiasa.”

 

“Baiklah, mungkin itu yang terbaik. Apa yang ahjumma masak hari ini?” Rei melihat piring – piring di atas meja makan yang besar itu. Dan dia hanya makan sendiri.

 

“Saya lihat anda semakin pucat nyonya, jadi saya menyiapkan bubur abalone kesukaan anda dan kimci. Juga ada-“

 

“Darimana ahjumma tahu aku suka dengan bubur abalone dan kimchi?”

 

“Tuan Oh yang memerintahkan saya membuat semua makanan ini nyonya.”

 

Bagaimanapun Sehun tidak benar – benar menghilangkan kepeduliannya pada Rei. Mungking karena jiwa seorang dokter tak akan mampu membenci pasiennya semenyebalkan apapun seorang pasien.

 

Rei terdiam beberapa saat melihat bubur abalone yang Shin ahjumma buat atas permintaan Sehun.

 

“Kenapa dia menempatkanku ke mesin waktu dan mengembalikanku ke masa lalu.” Ucap Rei lirih. Kemudian meneteskan air mata setelah melahap satu sendok.

 

“Jadi kenapa kau mengajakku kesini, aku punya banyak pekerjaan kau tahu, sekarang aku harus mengurus tugas kuliahku. Dan kau malah memaksaku datang kemari.” Sehun melihat sekitar dan merasa begitu kesal dipaksa ke restoran terpencil di pinggir kota Seoul ini. Sedang Sehun masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan sebelum mengumpulkan tugasnya.

 

“Aku hanya mencoba mendapatkan kisah cinta SMAku dengan ini.” Jawab Rei yang membuat Sehun berfikir dalam.

 

“Apa yang kau maksud? Mendapatkan kisah cinta SMA? Maksutmu denganku? Hya sudah berapa kali ku bilang—“

 

“Sudah ku bilangkan, kisah cintaku. Bukan kisah cintamu. Biarlah aku memiliki cerita sendiri dengan kau di dalamnya.” Rei tersenyum pada Sehun, sedangkan Sehun balik menatap Rei.

 

“Baiklah, seperti biasa. Puppy eyes itu akan keluar di saat seperti ini. Kau mau pesan apa?”

 

Sehun akan menerima apapun permintaan Rei yang sekirannya tak terlalu memberatkannya. Tapi Sehun tidak menyadari. Bahwa semakin dia menganggap remeh hal sepele sepeti ini, semakin jatuh pula Rei pada Sehun. dengan hal – hal sederhana yang pernah mereka lakukan.

 

“Jadi kau mau memesankannya untuku?” Tanya Rei.

 

“Apa aku yang akan memilih menunya? Kau tak akan protes?” Sehun seketika bingung dengan tingkah laku Rei yang mendadak menjadi lembut seperti ini.

 

“Eoh, aku akan menganggap bahwa aku sedang berkencan dengan pria idamanku.”

 

“Apakah harus seperti itu?” Sehun kembali ragu, yang dijawab Rei dengan anggukan.

 

“Baiklah, aku cukup mengenal restoran tua ini. Jadi kita pesan ini saja, kau juga belum pernah memakannya kan? Bubur abalone? Apalagi hari ini turun hujan.”

 

Rei begitu senang dengan tanggapan positif Sehun. Beberapa saat menunggu, menu yang dipesanpun tiba. Baik Sehun maupun Rei menyatapnya dengan lahap.

 

“Apakah ini artinya menjadi kekasihmu? seperti bubur abalone, hangat tapi tak dapat disimpan terlalu lama.” Ujar Rei lirih.

 

Musim Gugur, September 2010

 

***

 

“Apakah anda baik – baik saja nyonya, apakah masakannya tidak enak?”

 

Rei langsung mengusap air matanya cepat dan menatap Shin ahjumma dengan penuh arti.

 

“Aku baik – baik saja ahjumma, hanya saja aku sekarang mengerti kenapa Sehun memberikan bubur abalone padaku.” Rei menahan tangisnya.

 

“Aku harus mengingat diriku sendiri seperti bubur abalone ini ahjumma.” Ucap Rei tersedu – sedu.

 

“Nyonya, apakah saya salah dengan bubur ini. Apakah saya harus menggantinya. Tolong beritahu saya hal yang tidak membuat anda nyaman nyonya.”

 

Rei menangis makin menjadi mendapati Sehun mempertegas hubungan mereka dengan hal ini.

 

“Aa-ahjum-mma, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku akan memakannya.” Rei mencoba tetap tersenyum pada Shin ahjumma dan ingin memikirkan dalam – dalam arti semua ini dan bagaimana dia harus bertindak.

 

Jujur saja, hal ini menyakitkan. Begitu menyakitkan ketika ada banyak hal yang harus diingat kembali dan begitu menyakitkan bersama Sehun.

 

Rei menghabiskan bubur abalone itu dengan sisa tenaga dan air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.

 

***

 

Shin ahjumma yang bingung dengan sikap Rei mendiskusikan hal ini dengan Kepala Pelayan Park.

 

“Aku tak tega melihat nyonya semakin kurus tiap haris, dan hari ini dia juga menangis histeris karena mendapat bubur abalone itu dari Tuan Sehun. bagaimana ini? Apakah aku harus menelfon Sekertarisnya?”

 

Ujar Shin ahjumma di bagian belakang dapur bersama Kepala Pelayan Park.

 

“Saat ini mungkin Tuan Sehun masih dalam pesawat, bagaimana jika beberapa jam lagi?”

 

“Benarkah? Baiklah, kau saja yang menelfonnya.”

 

Park ahjussi pun juga bingung menghadapi masalah hati di dalam rumah ini.

 

Rei bukannya menjadi lebih sehat mendapat perawatan Sehun tapi malah menjadi lebih kurus dan hatinya menjadi tambah sakit.

 

“Bagaimana seharusnya kita membantu mereka berdua. Sepertinya Nyonya Rei sangat mencintai Tuan Sehun.” Ujar Park ahjussi.

 

“Kita hanya bisa melihatnya mungkin. Kita harus sadar posisi kita.”

 

***

 

China

The Rich Hotel

13.50 Waktu setempat

 

Baru saja Sehun tiba di China, dia sudah disibukkan pertemuan santai makan malam bersama para pemegang saham dan investor asing. Acara makan siang yang merupakan acara sambutan untuk Sehun itu di terima dan tubuh yang cukup lelah dan fikiran yang tak mampu terfokus dengan apa yang dibicarakan.

 

Park Joon tiba – tiba mendatangi Sehun yang sedang duduk bersama para kolega itu. Dan membisikkan sesuatu pada Sehun.

 

“Presdir, ada telfon dari Kepala Pelayan Park.”

 

“Ada masalah apa?” Tanya Sehun lirih.

 

“Bisakah kita bicara di luar.” Bisik Joon lagi.

 

Sehun meminta izin untuk berbicara pribadi dengan sekertarisnya di luar ruang VVIP hotel itu.

 

Setelah cukup jauh dan sepi Sehun mulai bertanya.

 

“Ada masalah apa hingga harus berbicara pribadi denganku?”

 

“Ini soal Istri anda.”

 

Sehun sontak mengalihkan pandangnnya.

 

“Apa dia menangis hebat?”

 

Joon kaget melihat tanggapan Sehun yang mampu memprediksi apa yang dia katakan.

 

“Hya! Bagaimana kau tahu? Kau apakan istrimu hingga menangis seperti itu?”

 

“Apa mereka mengirim CCTVnya?” Tanya Sehun lagi.

 

“Jadi ini yang kau maksud di bandara? Membuat istrimu menangis?”

 

“Aku tidak mencoba membuatnya menangis. Aku hanya ingin tahu apakah ingatannya benar – benar kembali dan menegaskannya akan sesuatu.”

 

“Kau sudah gila ya? dia menangis seperti orang gila. Bahkan setiap sendok yang ia masukkan kedalam mulutnya disertai dengan air mata. Kau apakan makanan itu, atau kau bilang sesuatu yang menyakitkan padanya?”

 

“Aku hanya berpesan pada Shin ahjumma untuk membuatkannya bubur abalone.” Ujar Sehun.

 

“Itu saja? Lalu kenapa dia menangis seperti itu?”

 

“Karena dia tahu arti dari bubur abalone itu.”

 

“Apa yang kau bicarakan? Jadi ada apa dengan bubur itu?”

 

“Hangat tapi tak mampu disimpan dalam waktu yang lama.” Ujar Sehun tegas dengan mimik wajah serius menatap sekertarisnya.

 

“Setidaknya saat ini aku tahu bahwa ingatannya telah kembali.” Joon mengusap wajahnya gusar mendengar ucapan Sehun.

 

“Apa yang sebenarnya kau katakan Oh Sehun. aku tak mengerti sedikitpun.”

 

“Kau akan tahu setelah kita pulang ke Korea Hyung.” Sehun menepuk bahu Joon dan kembali ke ruang makan itu.

 

“Ada apa dengan Sehun sebenarnya. Hah! Menyebalkan sekali.”

 

***

 

13.44 KST

 

Rei hanya duduk termanggu di kursi besar balkon kamarnya. Menyandarkan kepalanya dan menatap kosong pemandangan didepannya.

 

“Sehun mungkin mengetahuinya, ingatanku.” Gumamnya.

 

Rei kembali memikirkan tingkahnya akhir – akhir ini yang sedikit berubah dari biasanya. Tapi dia bersikap seperti itu karna melupakan banyak hal di kepalanya.

 

“Kau benar Sehun, hal yang tak kau ingat tak kan menyakitimu.”

 

To Be Continue…

 

Hallo Jihyonieeeee…..

Very sorry for slop update

Aku bakal update di wattpad dengan id jjhyn17 waitme for the updates.

Habis UN dan cari sekolah maafkan saya ya. And well, aku akan kuliah di Jogja jadi maafkan untuk kedepannya jika aku masih repot ini itu.

 

Deep bow –Jung Ji Hyeon

Advertisements

33 responses to “PERFECTIONIS (Chapter 10)

  1. Ahh thor tolong buat perasaan sehun ke rey muncul.. Plisss aku sakit hati juga bacanya.. Si rey kasihan banget sihh…. Plissss nanti ketika rey uda mutusin menyerah ke sehun terus ada luhan yg siap sedia, di situ buat sehun sadar akan perasaannya sendiri dan nyesel. Itu aja thor aku mohonn 😦

    • tunggu ya, emang ff ini jalannya agak lambat. tapi karena itu kita bisa menghargai proseskan ^^

  2. Abalone.. bbur abalone.. gimana ya rasany?? Haa… salvok 😂😂😂 yupp dtgu nextnya. Semangat kuliahnya ya buat author…. 😄😄

    • wkwks kok pada salfok sih. iya terimakasih ya, semangat buat kamu juga ^^
      terimakasih sudah meninggalkan jejak

  3. huhu kasihan banget rei nya thor pengen ikut nangis rasanya, kasih kebahagiaan dong thor dikit aja buat reinya kasian banget hehe

  4. Sepertinya bakal ada penyesalan. Biasanya aku gak suka ff sad. Kenapa? .me: soalnya bikin baper, nangis, klo keinget jadi galau. Kepikiran terus. Tapi entah kenapa walau aku udah lelah menangis karna ff ini, aku ttp tidak mau melewatkan 1 chapter-pun ff ini…walaupun updatenya lama banget.

    • waduh reader setya nih, wah makasih ya sudah menunggu ff ku yang luama banget updatenya.^^ saranghae ❤

  5. Sumpah sedih banget, sehun jahat banget mempertegas sesuatu lewat bubur 😦
    Rei sama luhan ajalah yg jelas” sayang sama rei, biarin sehun nyesel udh sia”in rei. Jadi kesel sendiri 😦
    Btw selamet ya author kuliah di jogja, semoga kita bisa bertemu hehe

    • terimakasih ya sudah mengutarakan kesedihanya disini. loh, berarti ff ini berhasil membuat feel yang lebih berasa. maafkan aku sering telat ngareet banget updatenya. wah iya semoga kita bisa ketemua di jogja ya ^^

  6. Ini ff yg ditunggu banget update nyaa.. Yg chapter sebelumnya sampe dibaca berkali2.. Karena setiap chapter sukses bikin baper dan sediiih😭😭😭 ditunggu update annya yaa thoorrr

  7. Ini ff yg ditunggu banget update nyaa.. Yg chapter sebelumnya sampe dibaca berkali2.. Karena setiap chapter sukses bikin baper dan sediiih😭😭😭 ditunggu update annya yaa thoorrr

  8. Dipost juga. Sempet lupa sma jlan critanya, tp langsung inget pas bagian reina bilang ttg perjodohan. Sibikin baper sma chapt ini

  9. Udah nunggu lama banget update chapter ini,akhirnya update jg.tapi kok sehun disini kasih kenangan sedih ke rei,apa maksudnya, sebenernya sehun sayang gak sih sama rei,ditunggu next chapter nya ya kak,penasaran banget nih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s