Single Parent [Chapter 1] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), others cameo

 

Min Yoongi adalah seorang ayah, sekaligus single parent kaya yang sangat menikmati kesendiriannya. Dia merupakan seorang CEO di perusahaan yang bergerak dalam bidang pariwisata. Ia membawahi banyak sekali resort yang tersebar di seluruh bumi Korea Selatan. Dan itulah kenapa dia selalu tampak berkeliaran di sini, di salah satu coffee shop, menyesap Americano.

Satu tangannya memegang cangkir Americano, sementara tangannya yang lain sibuk menggeser halaman di tab yang dipangkunya sekarang. Jaman sudah maju, dia tidak perlu lagi hanya berkutat di kantor hanya untuk mengurusi pekerjaan.

Toh meskipun dia tidak punya pasangan lagi, dia tetap bahagia dengan hidupnya sendiri. Tidak seperti para pria di film atau novel-novel yang memilih untuk gila kerja setelah istri meninggal dan mengabaikan segalanya. Dia hanya ingin hidup dengan bahagia meski tanpa istri yang menemani.

Kesendiriannya begitu sempurna. Coffee shop ini sangat mengerti dirinya. Rasa Americano yang pas ditemani musik klasik yang mampu memabukkan telinganya. Kurang apa lagi hidupnya?

Namun masa aktif kesendiriannya tidak pernah bertahan lama. Selalu kadaluarsa dengan begitu cepat. Dan semua itu selalu berawal dari telepon yang datangnya tiba-tiba. Alunan musik Cyper pt.3 berdendang keras melalui speaker ponselnya saat panggilan itu datang. Musik yang sengaja dijadikan nada dering untuk nomor yang menempati angka 1 di nomor panggilan cepatnya.

My Princess is calling

Segera dia memindahkan tab-nya di atas meja lantas mengangkat panggilan tersebut. “Ya sayang?”

Appa! Appa! Cepatlah kemari! Ini darurat! Cepat cepat!”

Nada suara yang terburu-buru di seberang sana membuat adrenalin Yoongi bermain keras. Dia pun cepat-cepat membereskan semua peralatannya. “Kau di mana?”

“Aku di mall 21st Century Girl! Cepat kemari ayah!!!”

Arasseo, arasseo. Aku akan datang sebentar lagi.”

“Cepat ya! Jangan pakai lama! Ini darurat! Akh! Iya iya! Sebentar, aku sedang menelepon ayahku!”

Pergerakan Yoongi makin cepat setelah dia mendengar suara di seberang sana sedang memarahi orang lain. Ia pun langsung memutus sambungan dan berlari cepat menuju parkiran usai menyelipkan selembar uang 50ribu won di bawah cangkir kopinya. Harga yang terlalu mahal untuk secangkir Americano sebenarnya. Tapi Yoongi tidak peduli. Kembaliannya adalah rejeki bagi pelayan yang mengambil kopinya.

Dia memasuki sebuah mobil hitam metalik termahal yang terparkir di sana, lantas melajukan mobilnya menuju lokasi mall 21st Century Girl berada. Itu adalah mall yang khusus menjual berbagai kebutuhan wanita, tapi bukan berarti pria tidak boleh masuk. Yoongi khawatir. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada anak itu? Beberapa waktu lalu dia harus ke kantor polisi karena anak itu secara tak sengaja bergabung dengan sekawanan gadis SMA yang membully gadis lainnya. Anak itu bukan pembully, hanya saja dia dianggap ikut-ikutan membully hanya karena mencoba untuk melerai keributan tersebut.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di mall tersebut. Yoongi buru-buru keluar dari area parkir dan naik lift menuju lokasi anak itu berada. Lantai 3, lantai yang khusus menjual pakaian wanita. Ia cukup tidak sabaran saat lift bergerak naik dan sudah tidak betah ingin mendobrak pintu itu begitu sampai di lantai 3. Saat pintu terbuka, dia langsung melesat cepat dan berlarian dramatis mengelilingi stan-stan pakaian.

“Min Yoonjung! Yoonjung-a!” Suaranya yang berat terdengar membahana di lantai tersebut, berhasil membuat berpasang-pasang mata menatapnya aneh. Namun dia sama sekali tidak peduli dan terus memanggil nama anak itu.

Sampai akhirnya dia mendapati seorang gadis yang melambai padanya dan memanggilnya, “Appa! Yeogi!

Yoongi langsung ambil langkah cepat menghampirinya. Dia memegang bahu anak itu, dan memutar-mutarnya dengan cemas. “Kenapa? Kenapa? Kau terluka? Mana yang sakit?”

Yoonjung menggeleng. Membuatnya mengerutkan dahi. “Aku hanya sedang bingung memilih dalaman. Appa, bisakah kau bantu aku?”

Sejenak Yoongi terdiam sambil mengedip-ngedipkan matanya. Lalu dia memandang sekitar. Sekarang dia baru sadar kalau dirinya berdiri di stan pakaian dalam. Dan ironisnya, dia dipandangi para gadis yang lalu lalang di sana dengan tak percaya. Ia menelan ludahnya susah payah. Perlahan ia pun menyingkirkan tangannya dari bahu Yoonjung, berdehem sembari menyelipkan kedua tangannya dalam saku celana.

“Kau bisa memilihnya sendiri, Yoonjung-a. Yang tahu ukuran tubuhmu hanya kau,” ujarnya sambil memandang stan selain pakaian dalam dan mengurut lehernya yang mendadak pegal. Rasanya dia ingin segera kabur dari tempat ini.

“Kalau begitu, apakah ini cocok denganku?” Pertanyaan si gadis membuat Yoongi menoleh. Ia tersentak begitu mendapati putri kesayangan dan hanya satu-satunya itu tengah memakai bra di luar pakaian.

Warna cokelat, dengan motif sulur yang melintang di bagian utama. Terlihat menggoda di mata Yoongi.

Segera saja dia membuang pandangan sambil menggeleng keras. “Itu tidak cocok untukmu. Ganti.”

Yoonjung mengerucutkan bibirnya kecewa. Lalu ia pun melepas bra itu dan menggantinya dengan yang lain. “Kalau yang ini bagaimana?”

Sekali lagi Yoongi menoleh dan harus menerima ujian akan bra yang sanggup menguji akal sehatnya. “Itu juga tidak cocok denganmu.”

“Yaaaaahhh!! Kalau begitu mana yang cocok untukku?! Aku tidak punya ibu, imo atau siapapun itu yang bisa membantuku memilih dalaman! Kau yang mengurusku sejak kecil, jadi kau seharusnya tahu mana ukuran bra yang pas untukku! Dadaku sudah berat, Appa! Aku harus punya bra!”

Yoongi harus menahan malu karena tingkah anaknya yang satu ini. Dia menjadi pusat perhatian, sekaligus pusat pembicaraan. Memalukannya, dia adalah orang yang dikenal masyarakat luas, dan lokasinya tidak cukup strategis untuk membuat imej-nya tetap bagus. Dia terjebak pada situasi yang memalukan. Karena tuan putri kecilnya yang berteriak lantang tentang ‘dada berat’ itu tanpa tahu malu.

Ia pun menghela napas. Pasrah. Jika memang dia harus memalukan di tempat seperti ini, dia terima. Setidaknya, dia tidak ikut membuat dirinya sendiri semakin malu. Untuk itu, dia memutuskan untuk menelan takdirnya sekarang, dan mengajak gadis 15 tahun itu ke stan dalaman untuk remaja seusianya.

“Kau boleh ambil yang mana pun di sini,” ujarnya sambil menunjuk cepat jejeran pakaian dalam untuk remaja di depan mereka.

Sayangnya Yoonjung tidak puas dengan itu. “Aku tidak suka modelnya, aku suka yang disana tadi.”

“Tapi itu untuk orang dewasa, Sayang.”

Yoonjung memberengut. “Aku sudah dewasa.”

“Kau masih lima belas tahun.”

“Tapi aku sudah datang bulan.”

“Kau baru disebut dewasa kalau sudah hamil.”

Anak itu masih memberengut. Dia bahkan tidak bergerak seinchi pun dari tempatnya, membuat Yoongi frustasi sendiri. Yoongi tidak bisa berlama-lama di tempat ini.

“Berapa ukuranmu?”

“32 C.”

Yoongi pun melambai pada seorang karyawan wanita yang berdiri tak jauh darinya. “Tolong carikan bra untuk anak ini ukuran 32 C. Tidak pakai lama.”

Karyawan tersebut langsung menjalankan perintah. Benar tidak butuh lama, bra yang sesuai ukuran Yoonjung pun dapat. Si karyawan ini mengambil langsung satu lusin, dengan model yang biasa dan warna putih yang sama. Yoongi mengangguk puas dengan hasil kerja karyawan ini.

“Bagus. Sekarang kita ke kasir,” ujarnya sembari menyuruh si karyawan itu membawa selusin bra tersebut ke kasir. Sementara dia sendiri menggandeng tangan Yoonjung untuk mengekor karyawati tersebut.

Sayangnya Yoonjung bersikeras berdiri di tempat. Wajahnya sangat masam saat diperhatikan oleh Yoongi.

“Apa lagi? Sudah dapat ‘kan? Selusin bahkan. Masih kurang?”

Yoonjung menggeleng keras sambil menggoyangkan tangannya.

Wae? Kau mau apa, Sayang? Hm? Malhaebwa.” Yoongi mendekat untuk menyelipkan rambut Yoonjung di belakang telinga.

“Aku tidak suka modelnya.”

“Lalu kau maunya yang bagaimana?”

“Aku mau yang itu,” jawab Yoonjung sambil menunjuk stan bra untuk wanita dewasa yang tadi mereka datangi.

Hanya sedetik Yoongi memandangi stan itu sebelum menatap anaknya lagi. “Nanti, kalau kau sudah berusia 20 tahun, ayah janji akan membelikannya untukmu.”

Shireo! Aku maunya sekarang! Yang tadi itu tidak kelihatan seksi.”

Yoongi tercengang usai mendengar ucapan Yoonjung barusan. Seksi? Yoonjung sudah mengerti hal yang seperti itu? Siapa yang mengajarinya?

“Pokoknya aku mau yang itu! Kalau tidak dibelikan aku tidak akan pergi dari sini!” Yoonjung melepaskan genggamannya dari sang ayah dan memulai aksi boikotnya dengan duduk bersila di lantai. Jelas saja hal itu menjadi tontonan menarik orang-orang. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengambil gambar dengan ponselnya.

Yoongi segera menghampiri orang itu. “Bisakah Anda menghapus foto itu?”

Orang itu menatapnya dengan tatapan heran. “Ini ponselku, kau tidak punya hak untuk mengendalikan ponselku meskipun kau adalah CEO perusahaan Mint.”

Yoongi menghela napas, berusaha menata emosinya. Ia pun dengan cepat menyahut ponsel orang tersebut dan menghapus sendiri fotonya.

Yaa!

“Saya memang tidak berhak mengendalikan ponsel Anda, tapi saya berhak melindungi nama baik putri saya. Dan satu lagi, saya lebih tua dari Anda, Nyonya.”

Tanpa mendengar lagi makian wanita itu, Yoongi pun segera menarik Yoonjung untuk berdiri dan membawanya ke stan pakaian dalam untuk wanita dewasa. Ia melepaskan cekalannya begitu sampai di sana.

“Cepat pilih dan kita pergi dari sini.”

Yoonjung yang entah kenapa sekarang tidak banyak bicara lagi langsung bergerak mengambil beberapa pasang pakaian dalam yang diinginkannya. Kemudian mereka pun menuju kasir untuk membayar dan pulang ke rumah.

Seseorang tampak berdiri di depan rumah saat mobil mereka sampai. Yoonjung memekik girang saat dia menyadari siapa orang tersebut.

Eonni!!”

Dan saat mobil telah terparkir dengan baik tepat di depan rumah, Yoonjung cepat-cepat turun dan memeluk erat gadis itu. Yoongi mengikutinya tak lama kemudian sambil membawa tas belanjaan Yoonjung. Dia berdiri di dekat mereka, melihat bagaimana dua gadis itu saling melepas rindu.

“Kau kapan sampai di Korea, eonni?” tanya Yoonjung dengan semangat tanpa sekalipun menyadari kehadiran ayahnya.

“Aku sampai kemarin malam. Maunya segera mengunjungimu tapi aku sangat lelah sehabis perjalanan. Jadi aku memutuskan datang hari ini.”

“Kau sudah menunggu lama?”

Gadis itu menggeleng, membuat rambutnya yang setengah keriting bergoyang-goyang. “Aku baru sampai sepuluh menit lalu.”

Yoonjung memukul bahunya pelan. “Itu sudah lama, eonni. Kenapa kau tidak masuk? Kau sengaja mau panas-panasan di sini?”

Gadis itu terkekeh. “Aku hanya tidak enak menunggu di dalam. Pelayan rumahmu menawariku macam-macam.”

“Masuklah, tidak apa.” Yoongi akhirnya mendapat kesempatan untuk menyuarakan keberadaannya. Yoonjung menoleh, begitu pula gadis itu.

“Ah, eonni, aku belum memperkenalkannya padamu. Ini ayahku, cinta pertamaku yang kuceritakan padamu itu. Tampan kan? Dia ini sudah tua tapi wajahnya masih sangat muda. Kau pasti menganggapnya kakakku bukan? Tapi sebenarnya dia ayahku, usianya 37 tahun. Aku lahir saat dia masih berusia 22 tahun.”

Gadis itu cepat-cepat memberi salam pada Yoongi. Dia sangat sopan dari bagaimana caranya memperkenalkan diri. “Annyeonghaseyo. Saya, Oh Sena, teman Min Yoonjung. Mohon bimbingannya, Ahjussi.”

Yoongi tersenyum sambil mengangguk. “Kau teman Yoonjung?”

“Hm. Tapi dia lebih tua tiga tahun dariku, jadi dia adalah eonni,” jawab Yoonjung sambil merangkul akrab pinggang Sena. Sedikit info, Sena memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dari Yoonjung. Mungkin sekitar 169 cm. Yoonjung sendiri hanya 157 cm.

“Ah … jadi kalian sunbae-hoobae di sekolah?”

Yoonjung menggeleng, tanda tidak setuju. “Itu dulu, Appa. Sebelum Sena eonni pergi ke Jepang untuk merawat neneknya. Dia tidak melanjutkan SMA-nya di sana jadi dia akan masuk SMA bersamaku tahun ini. Kami akan berada di angkatan yang sama.”

Yoongi mengangguk paham. “Keurae. Ayo masuk. Mengobrollah di dalam.”

Yoonjung dan Sena pun mengekor kemana Yoongi pergi. Yoongi membiarkan para gadis pergi ke kamar Yoonjung, untuk mengobrol mungkin. Sementara dia pergi ke kamarnya sendiri. Mengganti pakaian sebelum berangkat ke kantor. Dia harus menghadiri rapat penting di kantor.

Malamnya Yoongi datang pukul 8. Dan begitu masuk rumah, dia berpapasan dengan kawan putrinya itu yang sepertinya bersiap pulang.

Eoh, kau baru mau pulang?” tanya Yoongi dengan aksen yang akrab sambil berdiri menghalangi jalan Sena.

Gadis muda itu mengangguk. “Yoonjung sudah tidur, jadi aku berniat pulang.”

Yoongi menggeleng pelan. “Dia tidur saat temannya di sini? Dasar anak itu. Pulang bersama siapa?”

“Hm … saya bisa naik bus.”

“Kuantar,” kata Yoongi yang langsung berbalik kembali menuju mobilnya.

Sena melotot. Cepat-cepat dia mengejar kepergian Yoongi yang begitu cepat seakan tidak menerima penolakan. “Tapi ahjussi, kau tidak perlu lakukan itu. Saya bisa pulang sendiri. Ini juga belum terlalu malam.”

Seolah tidak dengar apa-apa, Yoongi sudah membuka kursi di samping kemudi, mengisyaratkan pada Sena untuk segera masuk. Sena menatapnya ragu sejenak sebelum menghela napas dan masuk juga.

Yoongi berjalan memutari bagian depan mobil untuk menempati kursi kemudi. Dia menyalakan mesin, memastikan AC bekerja dengan baik sebelum menjalankan mobil tersebut meninggalkan rumahnya.

“Di mana tempat tinggalmu?” tanyanya setelah mobil berhasil keluar dari gang kompleks perumahannya.

Sena yang sejak tadi melamun pun menoleh. “Ah, aku tinggal di apartemen Hwa Yang Yeon Hwa.”

“Bersama siapa?” tanya Yoongi lagi, tapi yang ini hanya pertanyaan iseng. Dia hanya tidak ingin pembicaraan mereka berhenti begitu saja.

“Sendiri.”

Mobil tiba-tiba berhenti mendadak. Seorang remaja SMA menyeberang dengan begitu saja tanpa sekalipun menyadari bahwa mobil ini tengah melaju. Yoongi mendesis sebentar sebelum menjalankan mobilnya lagi.

“Sendiri? Sepertinya kau ini bukan anak penakut seperti Yoonjung.”

Sena hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus membalasnya dengan cara bagaimana lagi.

“Orangtuamu?”

“Mereka tinggal di Busan.”

“Hm … kau punya saudara?”

“Ya, dua orang.”

Eonni? Oppa? Namdongsaeng? Yeodongsaeng?” tanya Yoongi seakan menuntut. Sebenarnya, ini adalah pertama kalinya dia sangat cerewet pada orang baru. Dia hanya merasa, kalau dia harus dekat dengan anak ini karena merupakan teman Yoonjung.

Namdongsaeng. Jungkook dan Taehyung.”

“Ah … jadi kau anak sulung. Pantas kau sangat pemberani. Oh ya, katanya kau ke Jepang untuk merawat nenekmu. Bagaimana kabar nenekmu sekarang?”

Sena tersenyum getir sambil memperhatikan tangannya yang sibuk saling memilin. “Halmeoni sudah meninggal dua minggu lalu.”

Sekali lagi mobil berhenti mendadak. Kali ini karena lampu merah yang tiba-tiba.

Yoongi berdehem. “Mian, aku tidak bermaksud.”

“Tidak apa-apa, Ahjussi.”

Suasana dalam mobil itu mendadak hening selama mereka menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Yoongi mengetuk ujung kuku telunjuknya pada tuas persneling. Sementara matanya menatap lurus pada lampu lalu lintas.

Sena sendiri, asik memperhatikan kerlap-kerlip lampu gedung tinggi yang berada cukup jauh dari lokasinya sekarang. Langit begitu gelap hingga hanya lampu-lampu saja yang terlihat. Padahal dia begitu sangat ingin melihat bintang, tapi tidak bisa karena kemilau lampu.

Mobil pun bergerak pelan setelah lampu lalu lintas berganti warna.

“Ibu Yoonjung meninggal saat usianya masih lima tahun.” Yoongi tiba-tiba bercerita. Membuat Sena menoleh cepat padanya.

“Jadi akulah yang mengurusnya sejak kecil sampai detik ini, sendirian,” lanjut pria itu karena Sena sama sekali tidak memberi respon.

“Jadi kau tidak usah heran dengan sikapnya yang terkadang semaunya sendiri. Dia tumbuh besar tanpa ibunya.”

Mobil pun berbelok di persimpangan, hanya tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di apartemen Hwa Yang Yeon Hwa.

Ne. Saya juga sudah tahu itu.”

“Jangan terlalu formal padaku. Kau ini teman putriku, bukan bawahanku di kantor,” ujar Yoongi sambil terkekeh. “Datanglah ke rumah setiap kali kau ingin. Aku lebih senang seperti itu karena Yoonjung tidak akan lagi merasa kesepian di rumah. Kita sampai.”

Mobil pun melambat dan akhirnya berhenti. Sena segera melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu. Tapi entah kenapa, pintu sulit sekali untuk dibuka. Sena sudah berusaha dengan sangat keras tapi yang ada dia hanya terengah-engah.

Tiba-tiba saja Yoongi mendekat sampai deru napasnya terdengar sangat jelas di telinga Sena. Bahkan panas tubuhnya bisa dirasakan oleh gadis itu. AC tak sanggup membuat pipinya dingin. Satu tangan Yoongi berpegangan pada belakang kursi Sena, sementara satunya lagi menarik tuas pintu dan membukanya dalam sekali dorongan.

Mereka bertatapan setelah pintu terbuka. Sena menahan napas, tidak menyangka kalau mereka bisa berada dalam posisi yang sedekat ini. Sementara Yoongi, tampak terdiam sebentar sebelum mengulas senyum. “Kau sepertinya sangat kelelahan, Sena-sshi. Maaf, terkadang pintunya memang sulit dibuka. Kurasa aku harus menjualnya dan membeli yang baru.”

Sena mengusap-usap pipinya dengan cepat. Kemudian dia tersenyum dan memberi salam pada Yoongi sebelum beranjak keluar.

“Terima kasih sudah mengantarku.”

“Hm. Segera istirahat. Berhati-hatilah pada pria asing.”

Ne. Aku masuk dulu. Permisi.”

Yoongi mengangguk. Dia tetap di sana, menatap punggung Sena sampai lenyap ditelan gedung apartemen, baru setelahnya dia mengemudikan mobilnya kembali ke rumah.

TBC 

Advertisements

6 responses to “Single Parent [Chapter 1] ~ohnajla

  1. Wah yoongi sM sena jd pasangan lagi, kyx author emang suka sm pasangan ne, q jg suka thor.. Semoga ngak repot sm project lainnya, fighting 😇

  2. Aaaaak mimint yoyong balik lagi.
    Apaaaaa.. ??? jadi yoongi bakal jadi pedofil kak?
    Tak sabar ku tak sabar menanti kelanjutannya. Ditunggu kak. Semangaat !!! 😍😍😍

  3. yeay akhirnya aku menemukan ff yoongi lagi, kangen aku, yoonjung lucu banget wkwk, aduh bagaimana ceritanya sena sm yoongi umurnya jauh sekali, tp aku suka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s