Single Parent [Chapter 2] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), others cameo

 

Chapter 1

 

Dok dok dok

“Yoonjung! Bangun!”

Namun tak ada jawaban atau pergerakan sama sekali dari pintu ini. Yoongi mengetuk kembali.

“Yoonjung! Ini sudah jam tujuh! Kau bisa terlambat!”

Karena masih tak ada jawaban, Yoongi pun memutar gagang pintu dan tidak terkunci. Dia berhasil masuk. Membawa tubuhnya yang masih sempoyongan dengan rambut berantakan dan sebelah mata yang masih tertutup mendekati satu-satunya ranjang tempat di mana gundukan selimut berada. Dia pun duduk di tepi ranjang, menggaruk rambut sekaligus menepuk pelan gundukan selimut tersebut.

“Yoonjung, ini hari pertamamu masuk SMA. Kau mau terlambat dan mendapat skors? Ayo. Kuantar.”

Gundukan selimut itu bergerak pelan, kemudian muncullah kepala seorang gadis di baliknya. Kondisinya tak jauh beda. Rambut berantakan, mata setengah terbuka.

“Lima menit lagi….”

Andwae … ini sudah jam tujuh, sayang.” Yoongi pun menyibak semua selimut kemudian menarik anaknya untuk duduk. Tapi bukannya duduk tegak, Yoonjung justru menjatuhkan kepalanya di pahanya, tertidur lagi.

Yoongi menghela napas. Anak ini memang pewarisnya, susah dibangunkan. Ia pun memilih mengalah dengan memberikan waktu lima menit lagi. Diusapnya pelan rambut hitam gadis itu sambil dirinya menyanyikan sebuah lagu.

SUGA a.k.a Agust D du beonjjae ireum

gilgeorireul georeo danimyeon sugundae nae ireum

daegueseobuteo apgujeongkkaji kkara noheun nae biteu

jeon segye sabang gotgot sara sumswineun

nae eumakdeurui saenggi

naneun biteuran jakdureul taneun

aegi mudang, that’s me

TVsoge bichineun moseup baneun

kagemusyain geon ani

neoui sechi hyeoro gaekgi buryeobwatja

geugeon rapping hogaek haengwi

nompaengideurui ppaengkkireul hyanghae ttaerineun

mukjikhan nae paewangnaebui paegi

[S.U.G.A a.k.a AGUST D (adalah) nama keduaku

Ketika aku berjalan-jalan, mereka membisikkan namaku

Dari Daegu ke Apgujeong, ketukanku telah ditentukan

Kehidupan musikku itu (adalah sebuah) nafas dan hidup disini (seperti) berada di seluruh dunia

Aku seorang bayi (dari) cenayang yang menari di (atas) pisau pemotong jerami. Itu (adalah) aku

Aku yang (selalu) tampil lewat TV

Apakah kau tahu setengah dari itu adalah Kagemusha?

Pembicaraan dari mulut kalian itu adalah omong kosong, tapi ini adalah rap

Semangatku (yang) membara dari Raja Rapp yang hits terhadap kebohongan (dari) solicit nompaengis

Rapper yang bersikap arogan)

Yoonjung tiba-tiba saja memukul kakinya, membuatnya berhenti bernyanyi.

“Berhenti mencoba rap, ayahku yang keren. Pengucapanmu sama sekali tidak jelas. Kau jadi seperti orang mabuk yang sedang mendikte bahasa alien.”

Yoongi mengacak gemas rambut Yoonjung sampai berantakan. “Ayah akan berhenti rap kalau kau bangun. Sikat gigimu dan bersihkan tubuhmu. Bau mulutmu itu tidak sedap, sayangku.”

Bukannya melaksanakan perintah, Yoonjung justru bermanja-manja sambil memeluk perut ayahnya. Yang seperti ini sudah sangat biasa, setiap pagi bahkan. Yoonjung suka bermanja-manja padanya, karena pada siapa lagi kalau bukan dia? Ibu Yoonjung sekaligus istrinya meninggal saat Yoonjung berusia lima tahun. Kanker payudara. Wanita itu tak bisa terselamatkan karena menolak operasi. Lebih baik mati daripada operasi yang hanya akan membuatnya tidak sempurna menjadi seorang wanita.

Perfeksionis, dan keras kepala.

Yoongi bahkan tidak menangis saat wanita itu menghembuskan napas terakhir. Karena Yoongi tahu, itu adalah pilihan istrinya dan takdir sudah memutuskan bahwa hari itulah waktunya mereka untuk berpisah. Ia merelakannya.

Tapi ia tidak benar-benar menghapus kenangan wanita itu. Seperti contohnya cincin kawin yang masih melingkar manis di jari kelingking kirinya.

Ia pun menurunkan level wajahnya sampai bibirnya sanggup mengecup kulit kepala Yoonjung yang selalu wangi strawberry. “Nanti lagi bermanja-manjanya, Tuan Putri. Sekarang ayo bersiap ke sekolah. Kau tidak ingin melewatkan hari pertamamu sekolah kan?”

Yoonjung terkikik geli saat Yoongi menggelitiknya dengan gesekan hidung di leher. Gadis itu pun tak tahan lagi dan langsung duduk. Dia masih tertawa. Senyumnya yang semanis gula benar-benar mewarisi ayahnya.

Yoongi mencubit gemas pipi Yoonjung. Kemudian dia pun beranjak. “Pagi ini kita sarapan makanan kesukaanmu, sayang.”

“Ayah yang memasak?!” seru Yoonjung semangat.

Yoongi yang sudah sampai di ambang pintu, dan telah menyentuh gagang pintu pun menoleh. “Hm. Ayah akan memasak asal kau langsung mandi setelah ini.”

Gadis manis itu buru-buru turun dari ranjang. “Aku akan langsung mandi!”

Yoongi tersenyum lebar. “Keurae. Ayah akan membuatkanmu Yukgaejang.”

Assa!

Yoongi pun segera membuka pintu dan keluar. Dia bergegas dengan cepat menuju dapur. Dan mulai menyiapkan Yukgaejang untuk sang anak.

Setelah sarapan Yukgaejang, mereka berdua pun segera berangkat ke sekolah baru Yoonjung. SMA Young Forever, begitulah nama SMA putrinya. Lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Ditempuh mobil hanya butuh waktu 12 menit, tapi kalau ditempuh dengan jalan kaki bisa sampai 20 menit lebih. Anak-anak baru tampak ramai di sekitar area SMA Young Forever, mereka sama seperti Yoonjung, hari ini adalah hari pertama sekolah.

Mobil metalik mahal milik Yoongi berhenti di halaman depan sekolah, bergabung dengan jejeran mobil lain yang juga berkebutuhan mengantar para siswa.

Yoongi pun keluar lebih dulu untuk membukakan pintu Yoonjung. Dia memeluk putrinya sebentar, dan mencium keningnya cukup lama sebelum melepaskannya untuk segera masuk ke dalam gedung sekolah.

“Cari teman yang banyak!” teriak Yoongi yang sontak menjadi pusat perhatian orang banyak. Sayangnya dia tidak pernah peduli pada hal seperti itu –kecuali insiden di mall beberapa hari lalu, dan malah melambai ceria sampai Yoonjung hilang ditelan gedung.

Ahjussi.”

Suara yang cukup familiar menyapanya dari belakang dan dia dengan reflek berbalik. Mata kecilnya berbinar diikuti senyum tipisnya. “Oh Sena. Kau juga terlambat?”

Sena tersenyum. Sikapnya cukup dewasa untuk anak baru masuk SMA karena seharusnya Sena tahun ini lulus SMA. “Sebenarnya aku menunggu Yoonjung di sana sejak tadi.” Dia menunjuk bangku porselen di dekat pos satpam yang berada 7 meter dari lokasi Yoongi memarkir mobil.

“Ah….” Yoongi mendadak merasa bersalah. “Aku tidak melihatmu di sana. Maaf. Yoonjung sudah masuk. Kau juga masuklah.”

Sena mengangguk semangat. “Ne. Sampai jumpa nanti, Ahjussi.”

Eo. Kau juga cari teman yang banyak.”

Ne. Permisi.” Seperti biasa Sena akan membungkuk 90 derajat penuh sebelum menghilang dari pandangannya. Yoongi tetap berdiri di sana sampai Sena benar-benar tak terlihat.

Tanpa sadar dia terus tersenyum.

Ia pun menggeleng pelan, lantas beranjak memasuki mobilnya. Pergi ke kantor.

Mobil Yoongi sudah terparkir dengan baik di lapangan parkir pengantar ketika bel berbunyi dan para siswa berhamburan keluar. Yoongi yang sejak tadi duduk di atas kap mobilnya, melirik arloji, lantas berdiri tegak sambil menolehkan kepalanya ke sana kemari mencari batang hidung Yoonjung.

Tapi siswa yang berkeliaran terlalu banyak. Dia jadi pusing dan berniat menelepon gadis itu saja sebelum matanya yang tajam mendapati siluet gadis semampai berambut setengah keriting yang berjalan anggun keluar dari gerbang pemisah antara lapangan parkir pengantar dengan area sekolah.

Itu Oh Sena. Dia pun memanaskan tenggorokkannya sejenak sebelum berteriak lantang memanggil pemilik nama.

Dan gadis itu langsung menoleh. Tepat ke matanya.

Yoongi pun tersenyum, begitu juga dengan Sena. Lalu muncullah wajah manis anak gadisnya dari balik tubuh semampai Sena.

Appa!

Yoongi melambai. Yoonjung pun berlarian menghampirinya sambil menggandeng Sena. Tampak Sena yang kesulitan mengimbangi gerakan bar-bar Yoonjung karena ukuran badan mereka yang cukup jauh berbeda.

“Aku tidak tahu kalau appa menjemputku,” ujarnya sambil memeluk perut Yoongi dan menggoyangkan Yoongi ke kanan dan kiri.

“Kau tidak suka kujemput?”

Aniya. Rencananya aku akan naik bus dengan Sena eonni nantinya.”

Yoongi pun melirik sekilas gadis semampai yang masih setia berdiri di belakang putrinya. Ia tersenyum sedikit pada gadis itu sebelum mengelus rambut Yoonjung. “Hari ini karena hari pertamamu masuk sekolah, ayah ingin mengajakmu makan di luar. Kau bisa memilih makanan apa pun.”

“Wuah!! Daeteu? Appa mengajakku kencan?”

“Sepertinya bukan kencan, karena temanmu….”

Sena langsung menggeleng. “Ah, tidak usah. Aku tidak akan mengganggu. Lagi pula, aku akan langsung pulang.”

Eonni, kau harus ikut.”

“Tapi—”

Yoonjung melepaskan pelukannya dari Yoongi dan menghampiri Sena untuk menarik Sena mendekat. “Kau harus ikut atau aku tidak akan melepaskanmu.”

“Yoonjung-a….”

Yoonjung membalas tatapan Sena dengan wajah memelasnya. “Kau sudah meninggalkanku selama tiga tahun, eonni. Kau tidak rindu padaku?”

Sena tampak dilemma sesaat. Sebenarnya tidak ada yang akan dia lakukan di apartemen. Mungkin hanya membaca novel, browsing atau menulis cerita. Tapi, dia juga tidak bisa begitu saja menerima ajakan mereka karena dia masih sungkan pada Yoongi.

Namun, karena Sena tidak mau menyakiti hati Yoonjung, dia pun mengangguk setuju.

Assa! Appa! Kita ke restoran Yukgaejang!”

“Yukgaejang lagi?” Bahu Yoongi jatuh saat mendengar itu. Jadi seharian ini dia harus makan itu terus?

Mencium bau-bau penolakan, Yoonjung pun mengeluarkan senjatanya dengan cemberut. “Katanya karena ini hari pertamaku sekolah, aku bisa bebas memilih makanan yang kusuka.”

Yoongi menelan ludahnya.

“Kalau tidak boleh ya sudah. Aku akan pulang naik bus saja. Ayo eonni.”

“Eh eh! Iya iya, kita makan Yukgaejang. Meskipun tadi pagi sudah makan itu, sekarang makan itu juga tidak apa-apa.”

Yoonjung tersenyum penuh arti. “Nah, begitu. Cintaku pada ayah ‘kan jadi manhi manhi~ Ayo masuk, Eonni.”

Sena tampaknya pasrah saja saat tangannya ditarik Yoonjung kemana pun. Mereka berdua memilih duduk di belakang, sementara Yoongi yang mengemudi.

Selama di perjalanan menuju restoran Yukgaejang favorit Yoonjung, para gadis di kursi belakang sibuk mengoceh berbagai hal. Mulai dari suasana kelas baru mereka yang sepertinya sangat seru, Sena duduk di kelas 1-2 sementara Yoonjung di kelas 1-3. Sampai hal yang hanya dibahas oleh para wanita, seperti trend make up masa kini termasuk diantaranya membicarakan salah satu boygrup K-pop yang baru saja mendapat penghargaan di acara Billboard.

“Tch, ketampanan Jin oppa memang tidak ada tandingannya. Bahkan orang sana juga menganggap dia tampan hmmm … padahal standar orang US ‘kan yang berotot dan wajah penuh brewok.”

Yoongi menyeringai mendengar suara anak gadisnya yang begitu semangat membahas salah satu member boygrup tersebut.

“Dia memang tampan. Tapi, aku lebih suka yang seperti Suga.”

Mendadak tenggorokkan Yoongi terasa kering. Suga? Hm, bukankah itu rapper Cypher pt 3? Yah … tentu saja dia tahu. Dari semua lagu boyband, dia paling suka lagu Cypher khususnya bagian yang dinyanyikan oleh anak muda bernama Suga. Bahkan dia bela-belain menghafalkan lirik lagu bagian Suga sampai dia benar-benar hafal termasuk flow-nya juga.

“Ah … Suga. Dia itu jahat, pemalas, menyebalkan, sama seperti orang yang kukenal.”

HATSYI!

Yoongi mengusap bagian antara hidung dan mulutnya yang mendadak gatal setelah bersin. Seseorang sedang membicarakanku.

Sena terkekeh. “Tapi dia dewasa. Dia … tipeku.”

Entah kenapa Yoongi mendadak tersenyum lebar. Dia jadi bersemangat menyetir. Padahal tadi dia merasa tidak adil karena seolah dua gadis ini menganggapnya seperti sopir pribadi, dikarenakan mereka yang duduk di belakang dan sibuk mengobrol sendiri.

Tak lama kemudian, mobil metalik ini pun berhenti dengan rapi di barisan lapangan parkir restoran. Mereka pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restoran. Aroma sedap Yukgaejang sudah tercium dari luar. Membuat perut Yoonjung menggeram makin keras.

Ketiganya memilih sebuah meja. Dengan empat kursi. Sena duduk bersebelahan dengan Yoonjung, sementara Yoongi duduk bersebelahan dengan dua tas milik Sena dan Yoonjung. Sekarang, mereka tengah menunggu pesanan datang.

“Kalian sudah dapat teman baru?” tanya Yoongi setelah dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, usai mengirim pesan pada sekretarisnya untuk mengirim berkas-berkas hari ini melalui email.

Ne!” jawab Yoonjung dengan ceria seperti biasa. “Namanya Park Jimin, dia berasal dari Busan.”

Bibir Yoongi membentuk huruf ‘o’ kecil. “Busan … jauhnya. Itu berarti, dia berasal dari kota kelahiranmu, Sena-sshi?”

Sena mengangguk. “Ya, dia teman satu SMP Taehyung dan Jungkook.”

Sekarang wajah Yoongi makin sumringah. “Wah … dunia ternyata sempit sekali ya. Jadi, teman adikmu sekarang menjadi teman sekolahmu?”

Sena mengangguk lagi tapi kali ini sambil tersipu malu.

Appa, kau harus tahu kalau wali kelasku itu mirip sekali dengan Jin BTS! Dia sangat sangat tampan, ya Tuhan. Dan namanya juga hampir mirip dengan Jin oppa, Kim Seokjin seonsaengnim! Jinjja! Padahal aku itu tidak terima harus berada di kelas terpisah dengan eonni tapi Kim Seokjin seonsaengnim membuatku tidak lagi merasakan itu. Aih … appa … aku harus bagaimana? Kim Seokjin seonsaengnim masih muda, tampan, dan dia … dia … dia menyebutku manis!! Kyaa!!”

Sena dan Yoongi tertawa geli melihat Yoonjung yang memekik kegirangan sambil menyembunyikan wajahnya di lengan Sena. Yoongi pun menggeleng pelan, dasar anak muda.

Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Tiga mangkuk Yukgaejang ditambah nasi dan minuman bersoda.

Yoonjung yang sudah kelaparan total segera menyantap miliknya dengan rakus. Begitu juga dengan Yoongi yang mulai memasukkan beberapa sendok kuah ke mulutnya. Tapi Sena….

Yoongi menyadari jika Sena hanya mengambil bagian dagingnya tanpa mencoba kuahnya. Bahkan dia menyadari kalau bibir, mata dan wajah Sena memerah setelah beberapa sendok.  Yoongi pun mengambil kesimpulan jika Sena tidak bisa makan makanan pedas karena saat meminum soda, gadis itu malah menitikkan air mata.

Ia pun segera mengeluarkan selembar tisu dan menyerahkannya pada gadis tersebut. Sena mendongak setelah mendapati tangan Yoongi di depan wajahnya.

Tahu-tahu air mengalir turun dari lubang hidung Sena.

Gadis itu cepat-cepat menutupi wajahnya dengan tangan sambil menerima tisu dari Yoongi. Dengan wajah malu dia membersihkan ingusnya dengan tisu sembari memosisikan tubuhnya membelakangi pandangan Yoongi.

Yoongi sendiri memandangnya khawatir. Lalu ia pun memanggil seorang pelayan.

“Tolong bawakan satu porsi Seolleongtang.”

Mendengar pesanan baru Yoongi, Sena dan Yoonjung pun sontak mengarahkan pandangan mereka pada lelaki itu.

“Ayah memesan untuk siapa?” tanya Yoonjung karena dia melihat mangkuk Yoongi yang masih banyak dan Yoongi bukanlah orang yang takut makan pedas.

Yoongi mengarahkan dagunya pada Sena. “Temanmu sepertinya tidak bisa makan pedas.”

Sena membelalak, Yoonjung menatapnya. “Eonni tidak bisa makan pedas?”

“A-ah itu … aku….”

“Kalau begitu Yukgaejang-mu boleh kuhabiskan?”

Pertanyaan yang tidak disangka Sena itu pun sontak membuatnya mengangkat alis heran. “Baiklah.”

Yoonjung pun dengan semangat mengambil mangkuk Yukgaejang Sena dan mulai menyantapnya bersama nasinya yang masih tersisa.

Sena kira Yoonjung akan kesal karena telah membuat ayahnya membelikan menu lain untuknya. Tapi ternyata pemikiran itu salah.

Seolleongtang yang dipesan Yoongi pun datang tak lama kemudian. Karena hanya menu itu saja yang ada di sini selain menu utama Yukgaejang.

“Makan dengan pelan-pelan, um?”

Sena mengangguk patuh. “Maaf sudah merepotkan, Ahjussi.”

Yoongi menggeleng tak setuju. “Kau tidak perlu meminta maaf untuk itu. Lain kali jujurlah kalau kau memang tidak bisa makan sesuatu.”

Ne. Terima kasih untuk makanannya.”

“Hm.” Yoongi tersenyum dengan begitu tulusnya.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan mereka, Yoonjung memperhatikan.

TBC

Advertisements

4 responses to “Single Parent [Chapter 2] ~ohnajla

  1. Ulalala. Om Yoongi 😍😍
    I love om om cem Yoongi gitu.
    Jadi selisih umur yoongi sama sena +- 18 tahun ya kak?

  2. aduh appa yoongi bikin gemes, jadi pengen nimpuk #Abaikan hehe…
    dia perhatian sekali sm sena….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s