“Iaokim” #1 by Arni Kyo

Iaokim

Iaokim #1

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Oh Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1

 

~oOo~

Jika berbicara tentang masa SMA, apa yang pertama kali terlintas dibenakmu?

Tentang pacar pertama saat masuk SMA? Ciuman pertama? Atau mungkin cinta pertama? Pembicaraan yang sedikit kekanakan namun saat itulah sebenarnya tahap dari kedewasaan diri dimulai. Tentang bagaimana kita ingin benar-benar menonjol dan dipandang oleh banyak orang. Karena kau cantik atau tampan. Karena kau kaya. Karena kau mirip dengan idol. Atau hal lainnya.

Dan aku sendiri…

Aku bahkan tidak yakin apa yang terlintas dibenakku saat berbicara mengenai masa SMA?

Mungkin tentang seorang gadis. Ya, hanya gadis biasa.

Aku tak ingin melupakannya. Namun aku juga tak ingin mengingatnya.

Musim dingin telah berlalu berganti dengan musim semi. Awal tahun ajaran baru, siswa baru dengan seragam yang masih rapi berbondong memasuki gerbang sekolah. Sederet senior telah menunggu mereka, sambil membawa poster dan alat promosi lainnya. Mempromosikan club mereka.

Senin pagi Luhan diawali dengan lantunan lagu ‘Sky Full of Stars’ yang dinyanyikan oleh Coldplay dimobil yang mengantarnya. Luhan mengikuti lirik lagu tersebut dengan pelan karena ia tidak hapal lagu itu.

Mobil berhenti diujung tebing, Luhan keluar dari mobilnya. Menyampirkan tasnya dibahu kiri. Tangan kanannya memegang botol air minum yang tadi ibunya siapkan. Luhan selalu membawanya. Mobil yang mengantar Luhan kembali melaju.

“Luhan!”. Panggil seseorang.

Luhan menoleh lalu tersenyum. Dua orang siswa lelaki yang juga baru tiba disekolah. Luhan langsung menghampiri teman-temannya. “ya ~ kau pakai seragam baru?”. Tanya Luhan pada Im Youngmin.

“tidak. Untuk apa aku membeli seragam baru, sebentar lagi kita akan keluar dari sekolah ini”. jawab Youngmin sambil memasukan tangannya ke dalam saku celana.

Park Jihoon yang saat itu berjalan tepat disamping Youngmin memperhatikan temannya. “benar, ini seragam baru. Aku ingat pernah menulis namaku dibelakang lehermu, lalu kau menambal nodanya dengan sebuah stiker. Sekarang sudah hilang”. Ujar Jihoon dengan polosnya.

“cih… kau ini anak SD atau apa?”. Celetuk Luhan.

“kau benar-benar dibelikan seragam baru oleh ibumu?”. Sahut Jihoon.

Saat jam istirahat. Sebenarnya adalah saat yang tidak disukai oleh siswa biasa yang tidak punya koneksi, uang dan kekuasaan. Mereka harus mengantri dibarisan belakang. Berbeda dengan mereka yang merupakan anak dari orang-orang penting.

“ya!”. teriak seseorang dibarisan para siswi. Orang yang diteriaki menoleh, Park Yunbi. “kau seharusnya berbaris dibagian belakang. Apa yang kau lakukan? Berdiri didepanku? Cih”. Sungut gadis berambut blonde yang merupakan anak Jaksa daerah. Kwon Hyewon.

“memangnya kenapa? Aku lebih dulu tiba dan mengantri, kau tidak berhak mengusirku”. Balas Yunbi yang tidak terima diusir.

Barisan mengantri makanan untuk siswa dan siswi sengaja dipisah. Dan setiap hari, selalu ada keributan dibarisan siswi. Mereka memang sangat suka berdebat, adu mulut.

“kau benar-benar mencari masalah denganku?!”.

Sementara Hyewon terus mengomel pada Yunbi yang tidak peduli, dibarisan siswa, Luhan menepuk pundak Jihoon lalu membisikan sesuatu pada temannya. “aku tahu kau suka gadis itu, tidak berniat untuk menolongnya?”.

Jihoon menoleh dengan ekspresi terkejut. Ternyata sumber berita itu adalah Ha Minho yang berdiri di ujung barisan kelompok mereka.

Sebelum menjawab dan bertindak. Jihoon sekali lagi menoleh pada barisan siswi yang semakin riuh. Tak ada staff kantin yang ingin melerai mereka. “tidak”. Jawab Jihoon.

Tuuung!

Suara itu menggema. Kala Yunbi memukulkan nampan steinlis ke kepala Hyewon. Hening.

“ke-kepala ku –“. Hyewon tergagap sambil memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Yunbi. “yaa!!”. Pekiknya. Baru terasa sakit.

“tak usah berteriak, dasar gadis manja”. Yunbi mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. “kau tahu ibuku seorang dokter, datang saja kerumah sakitnya”. Yunbi memasukkan selembar kartu nama disaku Hyewon lalu ia melangkah pergi.

Punya kelompok saat sekolah memang hal biasa. Mulai dari kelompok yang anggotanya anak-anak culun, anak orang kaya, berandalan sampai anak terpintar disekolah. Tetapi tidak semua murid memiliki kelompok, ada beberapa gelintir orang yang lebih suka sendirian.

Drrrt… drrrt…

Ponsel Jihoon bergetar saat guru sejarah sedang menjelaskan materi didepan kelas. Sebenarnya dilarang menggunakan ponsel saat jam pelajaran. Tetapi kelompok yang diketuai oleh Ha Minho ini licik. Mereka mengumpulkan ponsel lain untuk mengelabui ketua kelas.

Jihoon merogoh saku almamaternya, mengeluarkan ponsel sambil mengawasi guru didepan kelas.

‘bersenang-senang malam ini? apa kau punya gadis?’

Pesan tersebut membuat Jihoon mendengus pelan. Ia menoleh ke kanan tempat duduknya. Yongjoon melihat kearahnya sambil memberi kode.

‘aku tidak punya. Mungkin Luhan’

Balas Jihoon kemudian ia segera menyimpan kembali ponselnya. Yongjoon tak tinggal diam, ia mengirimi pesan lagi. Jihoon tak menghiraukan pesan itu. Hingga Minho harus bertindak juga untuk mengirimi Jihoon pesan.

Braakk

“ya! kau punya, sialan!”. Teriak Yongjoon sambil berdiri dari tempat duduknya.

Segaduhan yang ia lakukan membuat seisi kelas menatap padanya. Tak terkecuali guru sejarah. “Yongjoon’ah ~ selesaikan saja masalah kalian diluar tanpa harus mengganggu kelasku”. Ujar guru dengan pelan.

“ck!”. Yongjoon berdecak kesal lalu kembali duduk.

“siapa saja – asal jangan Yunbi”. Jihoon bersikeras tak ingin gadis yang ia sukai dijadikan korban kebejatan teman-temannya.

Kala itu mereka tengah berkumpul diatap sekolah, tempat biasa mereka bersantai dan sudah jadi seperti markas pribadi. Luhan sedang sibuk bermain game diponselnya sedangkan Youngmin mencoba kamera barunya.

“Jihoon’ah ~ kami tak akan sampai memasukinya, sungguh! Melihatnya mengamuk membuatku tertarik”. Timbal Yongjoon sambil terkekeh.

“tidak! Kubunuh kalian kalau sampai berani menyentuh Yunbi”. Ancam Jihoon.

Ancaman yang membuat Yongjoon dan Minho tertawa geli. Menertawakan sikap sok berani Jihoon barusan. “astaga ~ aku takut sekali, Jihoon akan membunuhku”. Ujar Minho dibuat-buat untuk mengejek Jihoon.

“ponselmu. Berikan”. Pinta Yongjoon.

“untuk apa?”.

“berikan saja. Kau tidak ingin kami menyentuh Yunbi, bukan? Kalau begitu kami akan mencari gadis lain saja”. Jelas Yongjoon.

Jihoon memutar matanya. Dengan malas ia menyodorkan ponselnya pada Yongjoon. Segera saja diambil olehnya.  “kau itu player terseksi disekolah ini, kau menyimpan banyak nomor gadis”. Oceh Yongjoon seraya memeriksa ponsel Jihoon.

“coba yang ini. yang ini”. Minho member interupsi untuk memeriksa satu per satu pesan yang ada diponsel Jihoon.

“kalian ingin bermain lagi? Kamera baruku akan merekam gambar dengan lebih baik”. Ujar Yongmin sambil mengarahkan kameranya pada teman-temannya.

“bagus kalau begitu, jangan sampai rekaman kita rusak lagi seperti waktu itu”. Sahut Minho.

“yaya ~ bagaimana kalau yang ini?”. Yongjoon memperlihatkan apa yang ia temukan diponsel Jihoon pada Minho. “aigoo ~ ternyata kau benar-benar player”.

“yang ini sepertinya oke, cepat kirim pesan padanya”.

“Yunbi’ah”.

Yeonsung berlari kecil menghampiri Yunbi yang baru saja keluar dari kelasnya. “oh, kenapa?”.

“Jihoon sunbae mengirimi ku pesan, sepertinya untukmu”. Gadis itu memberikan ponselnya pada Yunbi. Kedua gadis ini tidak berada dikelas yang sama, mereka pun mengenal karena belajar music ditempat les yang sama.

“malam ini, ya?”. gumam Yunbi sambil mengelus dagunya. “Park Yeon, bisakah aku minta tolong kepadamu?”.

“ya?”.

Hari semakin gelap.

Yeonsung masih sibuk belajar di Yaja, ia memang selalu berada diruangan ini sampai larut malam. Walaupun ia baru kelas 1 gadis  itu sesibuk kelas 3. Malam ini bukan hanya untuk belajar ia menunggu jam 10 malam. Namun juga karena permintaan Yunbi tadi sore.

bisakah kau sampaikan pada Jihoon sunbae jika aku tak bisa menemuinya. Aku ingin kau bertemu langsung dengannya dan berikan ini”.

Begitu permintaan Yunbi sebelum ia pulang lebih awal. Yeonsung mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas nya. Diliriknya jam meja berbentuk Cello itu sudah menunjukkan jam 10 malam.

Yeonsung beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa ia menyimpan buku-buku ke dalam tas lalu mematikan lampu meja. Tas nya ia tinggalkan karena berpikir hanya akan pergi sebentar. Kemudian gadis itu melangkah pelan keluar dari ruangan.

Jihoon telah menunggu kedatangannya. Sambil menyimpan tangannya di dalam saku celana, ia menatap bosan. Tak lama kemudian, Yeonsung tiba sambil berlari kecil menghampiri Jihoon.

sunbae”. Sapa Yeonsung lalu membungkuk. Ia menoleh menatap keadaan sekitar, benar-benar sepi. Jujur saja Yeonsung tak pernah pergi ke taman belakang sekolah dimalam hari. Cukup mengerikan disini.

“kau cepat juga”.

“ya?”.

“kau. Apa yang kau bawa itu?”.

Jihoon melirik kotak yang Yeonsung bawa. “ah, ini, Yunbi menyuruhku memberikan ini kepadamu”. Lalu Yeonsung menyodorkan kotak itu pada Jihoon.

“Yunbi?”. Jihoon menyambut kotak tersebut, dibukanya dengan cepat untuk melihat isinya. Sembilan potong coklat buatan Yunbi. Jihoon tersenyum tipis. “kenapa ia bisa menitipkan ini kepadamu?”.

“pesan darimu tadi siang, itu untuk Yunbi, bukan? Jadi aku menyampaikan pada –“.

Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya. Terdengar suara tawa dari balik semak-semak didekatnya. Yeonsung terkejut dan langsung menoleh kesumber suara.

sunbae –“. Mata Yeonsung bergetar menatap Jihoon seolah mempertanyakan siapa gerangan yang berada disana.

“pesan itu untukmu”. Sahut seseorang yang muncul dari balik semak-semak.

Yeonsung tak dapat melihat dengan jelas ada berapa jumlah mereka. Hanya terlihat siluet seorang pria bertubuh tinggi dan dia tidak sendirian. Yeonsung belum sempat menyadari keadaan ketika mereka menangkap nya. Mencengkram dengan erat kedua lengannya. Menyeretnya lebih jauh menuju tempat yang gelap ditaman belakang.

Tenaganya tak cukup kuat untuk melawan. Mulutnya diikat dengan selembar sapu tangan hingga teriakannya tertahan. Tubuh lemah itu dilempar ke tanah yang diselimuti oleh dedaunab lembab.

“Jihoon’ah, kau tidak ikut?”. Panggil Yongjoon.

“selesaikan saja, sialan. Aku akan menunggu disini”. Ujar Jihoon lalu berbalik dan sedikit menjauh dari tempat itu.

“terserah kau. Dasar payah”. Hardik Yongjoon.

Jihoon berdecak. Sebenarnya ia tak ingin melakukan hal semacam ini lagi. Selalu dirinya yang menjadi penarik para gadis, lalu ‘dikerjai’ oleh teman-temannya.

“ya! pegangi dia, bodoh!”. Titah Minho. Segera Yongjoon melakukan apa yang disuruh Minho. Ia memegangi kedua tangan Yeonsung dengan erat. “kali ini aku yang pertama”. Minho bersiap diujung kaki Yeonsung yang terus menerjang-nerjang.

“enak saja! Aku yang memenangkan taruhan tadi”. Timbal Luhan tak terima. Mereka bertaruh dengan alcohol, Luhan menghabiskan lebih banyak dari yang lain.

“eishh… kalau begitu cepat lakukan! Tidakkah kau lihat gadis ini sudah tidak sabar”. Seru Yongjoon.

“Youngmin’ah, rekam dengan baik. Rekam wajahnya”. Pinta Minho.

“aku sedang melakukannya”.

Gelak tawa itu. Membuat Yeonsung semakin ketakutan. Mereka tertawa senang. Tak pelak ia mendapatkan kekerasan karena terus memberontak. Yeonsung mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bisa melawan saat Luhan memegangi kedua kakinya.

“kuberitahu satu hal, sekali kau mencoba seks, maka kau akan ketagihan”. Ujur Luhan sambil menyeringai. Yeonsung menyipitkan matanya. Geram. Pria itu sudah berada diantara kakinya. Luhan mencengkram dagu Yeonsung agar gadis itu tak mengalihkan pandangannya. “jadilah gadis baik untuk beberapa saat kedepan”.

Yunbi memasuki ruang Yaja. Ruangan itu sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja. Yunbi menyusuri koridor ruangan menuju meja belajar Yeonsung. yang ia temukan hanya tas gadis itu bahkan lampu mejanya telah mati.

“dimana dia? Apa dia masih bersama Jihoon sunbae?”. Gumam Yunbi pelan.

Dilihatnya jam digital yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah pukul 10.30 malam. Akhirnya Yunbi memutuskan untuk membawa tas milik Yeonsung dan pergi ke belakang sekolah. Mungkin gadis itu masih ada disana.

Beberapa waktu yang lalu Yunbi pernah meminjam ponsel Yeonsung untuk membalas pesan dari Jihoon, karena ponselnya mati. Lalu Jihoon menyimpan nomor ponsel milik Yeonsung setelah bertanya pada Yunbi.

“aku akan melakukannya dengan perlahan jadi jangan melawan”. Cengkraman Luhan diwajah Yeonsung semakin erat. “ini akan sangat menyenangkan”.

Ia sudah kehabisan tenaga. Kepalanya terasa pening dan penglihatannya mulai buram sejak tadi karena pukulan yang ia terima. Pekikannya tertahan oleh sapu tangan yang menutupi mulutnya.

Luhan berbohong tentang akan melakukan dengan perlahan. Nyatanya ia sama sekali tidak memikirkan kesakitan yang Yeonsung rasakan. Tak seorangpun yang berada disini merasa kasihan padanya. Mereka malah semakin bersemangat.

Yunbi tiba dibelakang sekolah. Ia tersenyum senang melihat Jihoon berdiri sendirian diujung sana. Namun ada pemandangan lain yang membuatnya menghentikan langkahnya. Suara berisik itu berasal dari sudut taman.

Mata Yunbi membelalak. Rupanya saat itu Jihoon melihat kehadirannya. Baru saja Yunbi akan melangkah, Jihoon mengangkat tangannya member kode agar Yunbi tidak melangkah lebih jauh. Jihoon menggelengkan kepalanya perlahan.

Langkah Yunbi kembali terhenti. Ia tak berani untuk melangkah lebih jauh dan menyelamatkan Yeonsung. Menyelamatkan? Ya, walaupun sudah terlambat.

“Park Yeon”. Lirih Yunbi pelan. Ia memutuskan untuk bersembunyi sampai sekelompok orang itu menyelesaikan urusan mereka.

Suara tawa yang sayup-sayup dapat didengar Yunbi dari tempatnya bersembunyi membuat Yunbi menutup kedua telinganya.

Jihoon berdiri kaku dengan mata terpejam. Setelah ini ia yakin akan terkena masalah besar dan tak mungkin bisa bersama Yunbi lagi. Gadis itu sudah tahu bagaimana dirinya dan teman-temannya.

“kau sudah selesai, sekarang giliranku”. Minho menarik kasar kemeja Luhan. Ia tahu Luhan sudah menyelesaikan urusannya.

“kau mengeluarkannya didalam? Dasar bajingan”. Desis Yongjoon.

“kenapa? Kau juga sering melakukannya”. Seru Luhan tak mau disalahkan.

“ya!”. Minho menepuk-nepuk pipi Yeonsung. “buka matamu! Cih… jalang ini hanya ingin menatap Luhan dan tidak menatapku”.

Plakk

Minho menampar keras pipi Yeonsung. gadis itu tak kunjung membuka matanya. “dia pingsan”. Ujar Yongjoon seraya melepaskan genggamannya dari tangan Yeonsung.

“asihh… sialan! Bangun, bodoh! Kita belum selesai”. Amuk Minho. Ia menarik kemaja Yeonsung dan mengguncangkan tubuh yang sudah tak berdaya itu.

“Minho’ya, sudahlah hentikan saja”. Ujar Youngmin. Ia segera menghentikan rekamannya. “ayo pergi”. Ajaknya.

Minho melepaskan genggamannya dari kemeja Yeonsung. tubuh itu kembali terbaring diatas tanah. Mereka beranjak pergi dari tempat itu. Meninggalkan Park Yeonsung yang menurut mereka akan sadar dengan sendirinya beberapa jam lagi.

Perlahan kesadaran mulai menghampirinya. Yeonsung membuka matanya dan langsung disambut oleh cahaya terang. Ia sudah berada dirumah sakit sekarang. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Jadi, apa yang ia alami bukanlah mimpi?

Tirai berwarna merah muda itu terbuka. Seorang perawat menghampirinya bersama seorang dokter. Yeonsung kenal dokter wanita itu. Ia pernah bertemu dengan dokter itu sekali saat Yunbi dijemput sepulang les musik.

“ini pasti akan berat bagimu, tapi tak usah khawatir”. Ujar dokter Lee padanya. Wanita itu menyuntikkan obat penenang kedalam tubuh Yeonsung.

“Yunbi…”. Dengan suara serak Yeonsung hendak bertanya dimana Yunbi.

Dokter Lee mengusap pelan rambutnya. “dia ada diluar. Kami akan memindahkanmu ke lantai 7. Besok pagi pengacara akan datang menemuimu”.

Sementara itu, Yunbi duduk diruang tunggu dengan perasaan yang bercampur aduk. Setelah memastikan kelompok itu pergi, Yunbi menghampiri tubuh Yeonsung yang mereka tinggalkan begitu saja disudut taman.

Yunbi sama sekali tak menyangka Jihoon akan kembali dan membantunya membawa Yeonsung kerumah sakit.

Jihoon kembali ketempat dimana Yunbi duduk. Ia membawa dua minuman kaleng ditangannya. Jihoon meletakkan sekaleng minuman ditangan Yunbi. “kenapa kalian melakukan hal seperti itu?”.

“Yunbi’ah, aku tidak –“.

“tapi kau tahu teman-temanmu seperti itu, kau diam saja dan tidak menolongnya”. Potong Yunbi. Tangannya menggenggam erat kaleng minuman yang Jihoon berikan.

“aku mengakui itu. Aku minta maaf. Tapi kau harus tahu aku tak punya pilihan lain, demi menyelamatkanmu dari mereka, aku membiarkan mereka memperkosa temanmu. Itu semua aku lakukan karena aku tak ingin kau yang menjadi korban”.

Yunbi tertegun. Tak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan. “dia itu gadis baik, kenapa kalian tidak mencari gadis jalang saja diluar sana”.

“maaf”.

“aku akan melaporkan ini ke polisi”.

“Yunbi’ah!”. Jihoon membalikkan tubuh Yunbi agar menghadap padanya. “jika kau melakukan hal itu maka kau juga akan terkena masalah dan menjadi saksi kunci. Kau sadar akan hal itu kan?”.

Yunbi memejamkan matanya, mengangguk pelan. Ia pun tak kuasa menahan tangisannya lagi. Disisi lain ia ingin menolong Yeonsung, tetapi ia juga tak ingin terkena masalah karena hal ini.

“aku tidak peduli bagaimana pandanganmu padaku sekarang, tapi aku akan terus melindungimu dari mereka. Jadi jangan melakukan hal bodoh yang membuat dirimu menjadi target bajingan itu”.

“berbohonglah demi kebaikanmu maka semuanya akan baik-baik saja”. Tambah Jihoon.

Mereka semua ditahan dan dibawa kekantor polisi setelah Yeonsung bertemu dengan pengacaranya dipagi hari. Penahanan dilakukan untuk meminta keterangan pada semua pelaku.

Pagi itu selain bertemu dengan pengacaranya, Yeonsung juga dimintai keterangan oleh penyidik. Memar ditubuhnya menjadi bukti kekerasan yang telah ia terima.

“bisakah kau memperlihatkan bagian tubuhmu yang memar?”. Pinta penyidik wanita itu.

Yeonsung melakukan apa yang mereka suruh. Memperlihatkan bagian tubuhnya yang memar. Bahu, pinggul, leher, kaki dan yang paling nampak ada diwajah. Penyidik itu mengambil gambar bagian-bagian yang memar.

Ditengah pengecekan yang sedang berlangsung. Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan. Yeonsung terdiam melihat wanita itu.

“Kapan kau pertama kali datang bulan?”.

“saat usiaku 13 tahun, 3 tahun yang lalu”.

“dan yang terakhir?”.

“awal bulan, bulan lalu”.

Penyidik mencatat semua keterangan yang diberikan oleh Yeonsung.

“apakah sudah selesai?”. Celetuk wanita paruh baya yang baru saja masuk keruangan.

Penyidik menoleh pada wanita itu, merasa harus berhati-hati untuk pertanyaan selanjutnya. “sebelumnya, apa kau pernah ‘berhubungan’ dengan lelaki?”.

Yeonsung menunduk. “tidak pernah”.

“baiklah, kita akan melakukan pengecekan, untuk saat ini kami sudah mendapat yang kami butuhkan”.

Para penyidik itu kemudian pergi. Meninggalkan Yeonsung bersama wanita dengan setelan dress dan blazer putih.

“apa yang telah kau lakukan?”. Desis wanita itu.

Yeonsung diam saja.

“ya! aku bertanya apa yang telah kau lakukan? Beraninya kau bertingkah dan membuatku harus bertemu denganmu seperti ini”.

eomma”.

Wanita itu – ibunya. Ibu kandung Park Yeonsung, Han Hyerin.

“jangan memanggilku seperti itu, aku dan appa mu sudah berpisah”. Ibu Yeonsung meletakkan amplop diatas tempat tidur rawat Yeonsung. “jangan mempersulit masalah ini, kau tidak tahu siapa orang yang telah kau seret kedalam masalah”.

Yeonsung mengangkat kepalanya, menatap lurus pada wanita yang ia rindukan selama ini.

“putraku, Luhan”.

“tapi –“.

“hentikan!”. Bentak ibunya. “jika kau membuat Luhan dalam kesulitan, aku tak akan segan untuk menghentikan dana untukmu. Kau pikir selama ini pengacara memberimu uang dari sakunya? Tidak! Itu semua dariku. Jadi jangan buat putraku menderita karenamu”.

Setelah mengoceh panjang lebar, ibunya melangkah pergi.

Hatinya hancur. Benar-benar sudah tak berbentuk lagi. Ibu kandungnya adalah ibu tiri dari orang yang telah memperkosanya, Luhan.

“aku ingin melakukan persidangan secara hokum”.

“Nona Park, aku sudah bertemu dengan ibumu, kan? Dan dia tak ingin kau melakukan persidangan, lebih baik tidak usah”. Sekali lagi pengacara Kang membujuk agar Yeonsung tak melakukan sidang atas kasus yang menimpanya.

“aku tetap ingin melakukan persidangan secara hokum. Pak Kang, kau punya seorang putri, kan? Lalu bagaimana jika kejadian yang menimpaku juga menimpa putrimu?”.

Pengacara Kang mengerjabkan matanya berkali-kali. Ia menarik jas yang ia kenakan. Ucapan Yeonsung barusan membuatnya merasa tak enak. Sebenarnya ia juga ingin agar kasus ini diurus secara hokum. Tetapi Nyonya Lu yang juga ibu dari Yeonsung tidak mengijinkan, malah menyuruhnya agar mencegah Yeonsung mengambil jalur hokum.

Detektif Yoo memasuki ruang rawat gadis itu dengan sedikit tergesa. Ia pun duduk di dekat pengacara Kang.

“bagaimana keadaanmu?”. Tanyanya.

“aku merasa semakin buruk”.

Jawaban dari Yeonsung yang berhasil membuat Detektif Yoo terenyuh. “begini, Nona Park, aku sudah menemui kepala kepolisian. Dan ia menyarankan agar kau berdamai dengan keluarga –“.

“tidak”.

“nona –“.

jangan buang-buang uang untuk melakukan persidangan yang sia-sia. Negara ini sangat kejam untuk seorang anak yang membesarkan dirinya sendiri”. Perkataan kepala kepolisian kembali terngiang ditelinga detektif Yoo.

“baiklah, mari kita lakukan persidangan. Aku akan membantumu sebisa mungkin”.

Nyonya Lu menatap penuh emosi saat Yeonsung memasuki ruang persidangan bersama pengacara Kang dan detektif Yoo. Sedangkan Yeonsung tak ingin menatap kearah ibunya. Pandangannya langsung tertuju pada 5 orang pria dengan seragam sekolah yang sama sepertinya.

Mata lapar mereka menatap Yeonsung ketika gadis itu menduduki kursinya. Mereka bahkan tak terlihat terbebani ataupun merasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan.

Persidangan dimulai. Hakim mulai dengan pertanyaan yang diajukan pada Yeonsung.

“apa benar terdakwa Park Jihoon mengirim pesan padamu?”.

Yeonsung mengangguk pelan. “benar”.

“kau datang menemuinya. Apa karena kau menyukainya lalu membawakan hadiah untuknya?”.

“tidak. Hadiah itu bukan dariku”.

Yeonsung memutar matanya. Melirik Yunbi yang juga duduk sebagai saksi disana. Yunbi hanya menunduk, enggan menatap pada Yeonsung.

“apa benar kau mengirimkan pesan pada penggugat Park Yeonsung untuk mengajaknya bertemu?”.

Jihoon menarik napas sebelum menjawab pertanyaan hakim. “Yeonsung lah yang lebih dulu mengirimkan pesan padaku. Pengacaraku punya bukti percakapan kami”. Jawab Jihoon.

“tidak! Itu tidak benar!”. Yeonsung hendak menyela pernyataan Jihoon.

“Nona Park, tenanglah”. Ujar hakim.

Pengacara Kang menarik Yeonsung agar kembali duduk.

“apa benar kau yang membawa Park Yeonsung ke rumah sakit?”.

“benar. aku menemukannya”. Jawab Yunbi. Ia melirik Yeonsung yang tampak sangat berharap Yunbi dapat membantunya. “aku tahu Yeonsung akan bertemu dengan Jihoon sunbae dan dia akan memberikan sesuatu pada Jihoon sunbae”.

Lagi-lagi Yeonsung terenyuh. Airmatanya mengalir membasahi pipinya. Bahkan Yunbi tak membelanya. Yunbi memberikan kesaksian palsu demi menghindari hukuman yang mungkin akan diterima oleh orang yang ia sukai, Park Jihoon.

“penggugat menyatakan jika ia telah diperkosa oleh 5 orang terdakwa, tetapi hanya sperma Luhan yang ditemukan. Tanpa ada saksi yang melihat langsung kejadian tersebut. Aksi dari terdakwa lainnya tidak jelas”.

Luhan dan teman-temannya tersenyum menyeringai. Mereka sudah tahu persis apa yang akan terjadi dalam persidangan.

“oleh karena itu, terdakwa Park Jihoon, Ha Minho, Jang Yongjoon dan Im Youngmin tidak bersalah karena tidak adanya saksi dan bukti”.

Putusan hakim yang berhasil membuat orang tua dari masing-masing terdakwa tersenyum lega. Berbeda dengan Yeonsung yang merupakan korban, ia merasa geram tetapi tak bisa berbuat apa-apa.

“Kemudian, meskipun Luhan mempersoka penggugat. Tidak ditemukan luka serius. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan, menyatakan bahwa Park Yeonsung sudah pernah melakukan seks sebelumnya”.

Yeonsung mengangkat kepalanya. Menatap nanar kearah hakim yang terus membacakan putusan. Hatinya terasa sakit seperti sedang dihunus arak-arakan tombak. Berkali-kali hingga ia merasa sesak.

“terdakwa Luhan harus mengakui perbuatannya. Berdasarkan fakta bahwa terdakwa Luhan masih dibawah umur, ia dikenai sanksi masa percobaan”.

Tuk tuk tuk

“ah, gadis itu benar-benar membuatku dalam masalah”. Geram Luhan seusai sidang. Mereka langsung pergi ke rumah Minho. Berkumpul di basemant rumah yang telah diubah menjadi markas mereka.

Minho meletakkan minuman soda diatas meja. “kupikir kita akan benar-benar kacau tadi”. Ujar Minho.

“tapi aku belum mencoba dengan gadis itu”. Sahut Yongjoon. “bagaimana rasanya, Lu? Ah, dia tidak benar-benar sudah pernah melakukan seks, bukan?”.

Luhan menyeruput minumannya. Ia menggeleng. “dia perawan”.

Yongjoon mendadak bersemangat untuk mendengarkan cerita Luhan. “ah, sial! Seharusnya aku yang pertama kemarin”. Dengusnya.

“ya ~ video ini langsung ku unggah saja atau nanti?”. Tanya Youngmin yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya.

“simpan saja dulu, Yongjoon kita ini masih ingin mengerjai gadis itu”. Jawab Minho sambil mengejek Yongjoon.

“bagaimana kau bisa memalsukan berkas bukti milik Yeonsung?”. Tanya Jihoon pada Luhan. Sejak memberi penyataan pada hakim, Jihoon tak bicara lagi.

Luhan kembali merebahkan tubuhnya di shofa. “aku tidak tahu, ibuku yang mengurusnya”.

“ya ~ ibumu itu hebat sekali”. Puji Minho.

Yeonsung mendapatkan seragam barunya. Ia tetap ingin pergi ke sekolah setelah apa yang terjadi padanya. Yeonsung bersiap untuk berangkat, ia menggendong cello nya dipunggung dan membawa tas jinjingnya. Hari ini ia akan pergi ke tempat les.

“jadi dia yang mengaku menjadi korban pemerkosaan”.

“cih… wajahnya polos tak kusangka ia menjebak Luhan dengan begitu kejam”.

“dia membuat banyak orang dalam masalah, tidak tahu diri”.

Umpatan demi umpatan menghampirinya saat ia melangkah masuk ke dalam sekolah. Semakin jauh ia melangkah, semakin ia tak ingin mengangkat kepalanya dan menatap setiap orang yang ia temui.

Fitnah itu menyebar dengan cepat.

Tentang dirinya yang menjadi korban berbalik menjadi pelaku yang sengaja menjebak Luhan dan sekongkolnya.

Sekelompok gadis memasuki toilet saat Yeonsung sedang mencuci tangannya. Yeonsung berusaha bersembunyi dibalik rambutnya. Shin Euina berdiri disebelah Yeonsung dan mencuci tangannya juga. Ia dapat melihat dengan jelas pantulan dicermin siapa yang berada disebelahnya kini.

“ah, pantas saja aku mencium bau tak sedap saat masuk. Rupanya ada seekor tikus kecil disini”. Hardik Euina.

Gadis dengan eyeliner khasnya itu menoleh pada Yeonsung sambil berkacak pinggang. Menyadari situasi yang tidak bersahabat, Yeonsung menyudahi kegiatannya lalu hendak pergi.

Tangan Euina menahannya. “tunggu”.

“y-ya, sunbae?”.

“aku memang berencana akan menemuimu sepulang sekolah. Tapi beruntung kita bertemu disini”. Desis Euina. “kau yang membuat Luhan ku dalam masalah, aigoo ~ beraninya kau menjebaknya, jalang!”.

Euina menghempaskan tubuh Yeonsung ke dinding. Gadis itu meringis kesakitan. Teman-teman Euina mengepungnya. Euina tak berhenti sampai disitu saja, ia menarik selang air dan menyalakan airnya. Mengarahkan ujung selang pada Yeonsung.

“gadis kotor seperti mu harus dibersihkan seperti ini”. ujar Euina diiringi gelak tawa oleh teman-temannya.

Yeonsung menutupi wajahnya, menghindari semprotan air itu. Ia tak bisa melakukan apapun saat seluruh tubuhnya mulat basah.

“lihat dirimu!”. Euina berhenti menyemprotkan air. Beralih menarik kasar dagu Yeonsung. “kau tetap kotor meski sudah dibersihkan. Baumu sangat menjijikan”. Desis Euina.

Yeonsung tersedu. Airmatanya mengalir bercampur dengan air yang membasahi wajahnya. Setelah puas menyiksa dirinya, Euina dan teman-temannya pergi dari toilet. Beberapa gadis memasuki toilet tetapi mereka bersikap biasa saja seperti tak terjadi apapun barusan.

Yeonsung berjalan menyusuri koridor. Semua orang menatapnya, memotret dirinya yang basah kuyup sambil berbisik mengejeknya. Yeonsung melangkah cepat, langkah itu berubah menjadi berlari. Ia berlari sekencang mungkin menuju lantai atas sekolah.

Langkahnya terhenti didekat pagar pembatas diatap sekolah. Yeonsung menarik sebuah kursi untuk bisa naik keatas pagar. Ia berdiri sambil menatap kebawah sekolah. Siswa lain yang melihat kejadian itu berkumpul didepan gedung dimana Yeonsung berdiri.

“ya!”. suara berat itu menyadarkan Yeonsung, ia menoleh untuk melihat siapa gerangan yang meneriakinya.

“s-siapa?”.

“ingin bunuh diri, ya?”. Tanya pria itu, ia juga merupakan siswa sekolah ini. terbukti dari seragam yang ia kenakan. Pria itu adalah Oh Seungri. Yeonsung tak menjawab pertanyaannya. Seungri ikut naik keatas pagar. “kau sendirian?”.

“siapa kau? Pergi kau”.

Seungri tertawa pelan. Ia melangkah mendekati gadis itu. “bicaramu tidak sopan. Aku Seungri, kelas 2. Salam kenal”. Ujar Seungri sambil tersenyum manis.

“pergilah. Jika tidak kau akan dalam masalah karenaku”.

“siapa namamu?”.

Sekali lagi Yeonsung dibuat terkejut oleh sikap Seungri kepadanya. Yeonsung mengernyitkan keningnya, terheran. Tidakkah orang ini tahu apa yang telah terjadi pada Yeonsung?

“jika kau loncat dari sini pasti akan sakit. Lalu belum tentu kau akan mati. Bagaimana jika kau hanya mengalami patah tulang parah yang membuatmu harus terbaring dirumah sakit”.

“aku tidak ada urusan denganmu”.

“ada”. Seungri tersenyum menyeringai. “tadi aku tidur disana, lalu suara langkahmu menganggu tidurku. Jadi mulai saat ini aku ada urusan denganmu”.

Dengan cepat Seungri meraih tangan Yeonsung. hampir saja gadis itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh. Untunglah Seungri menahannya.

“jadi jangan mati dulu”.

TBC

I’m back with another FanFic uuuhh maapkeun belom bisa kasih kelanjutan Vulpecula karena aku kehilangan feel dan ide gegara mentok ngetik menjelang lebaran kemarin T^T lalu dilanjutkan dengan kesibukan PKL. Dan bikin FF yang ini juga diselah sibuknya bikin laporan PKL. Jadi maapkeun jika kata dan kalimatnya berantakkan yaaaa… doakan semoga laporan lancar/?

Tapi aku benar-benar ingin ngetik dan publish FF ini jadi aku berjuang/?

Sekian.

Jangan lupa comment like nya ya gaes… ^^

NB :

untuk gedung sekolah dan seragam sekolah tetap pakai yang ini ya yang sama kayak Vulpecula ^^

Advertisements

43 responses to ““Iaokim” #1 by Arni Kyo

  1. Eyaaaak noona camebek bawa ff baru 😍😍😍
    Jadi Oh Seungri itu cowo. Aku kira cewe 😅😅
    Gapapa kak. Slalu di tunggu kok kelanjutan dari vulpeculla.
    Semangat.
    Yang ini juga ditunggu kelanjutannya 😍😍😍

  2. Ya allah mereka bejat banget si😭😭 ikut ngrasain sakitnya jadi Yeonsung😭 Yunbi mah temen busuk! Nyesel tau rasa lo semua!!! Gue nunggu karma!!!

  3. Alamak….. ceritanya lbih ekstrim dibanding yg lainnya 😂😂😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍 idih itu yaampun bejat sekali kelakuan luhan cs aduh duh… blm lagi mamanya yeonsung yaLord….. tega bner sma anaknya sndiri. Ckck !! 😠ksihan ya Ywonaung dani ternistakan 😭😭😭😭😭😭😭 Yunbi ga belain shbtnya 😭😭😭😭😭 tp btw2 q sng deh dg tkoh Seungri 😂😂😂 weh ini bkln lbih rame… konflikny sukka ssaeng…. !😍😍😍😍😍😍😍😍😍😫next juseyeo nya ditgu ya… kangen eh bca tulisan kamu… 😂😂😂

    • sudah lama kuingin bikin cerita yg cemini unni.. baru kesampean masa un uh uh…
      Yunbi cma temen bukan sahabat loh wkwk jangan ditungguin nanti aku lama apdet jadinya XD aku jga kangen unni :*

  4. Wah wah wah wah….
    Knp sih yeonsung sllu terjebak kya gini sama si luhan….
    Adeh…lu lu,knp si kamu itu jdi anak kok badung banget sih….heran aku…
    Jadi anak baik ke sesekali g bisa yah???
    Kalo ngeliat luhan ky gini berasa mau nabok palanya pake nampan aj,kali aj agak sengklek entar otaknha trus jdi anak baik deh….Amin…..
    😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅
    Kasian amat yah hidupnya yeonsung….

    Eta kuatkankah
    Eta kuatkanlah

    Semoga laporannya cepet kelar dan ga ad masalh unnie….Amin….
    Selesaikn laporan PKL eon aj dulu kalo bnran ribet banget…
    Mmng si kami pasti nunggu,tpi kalo eon ampe keteteran ngejar ngumpul laporan PKL nya,kan kami jdi g enak hati.

    Semangat trua unnie….

    • jangan ditabok biar Yeon aja yg nabok dia/? hhahaa

      lagu itu lagi terngiang-ngiang mulu jadinya akutuh
      eta terangkanlah
      eta terangkanlah
      jiwa Luge yg berkabut/?

      amin amin..
      aldh udah selesai ini tinggal bimbingan lalu revisi.. semoga ngga kebanyakan revisi deh ya XD

  5. Arrrggghhhhh huwaaaaa kenapa part 1 aja udah sedih kaya gini sih??? Thor jahatt… Aku benci nbanget sama luhan disini… Aku nggak berhenti nangis lihat nasipnya yeon… Plisss biarin luhan sama sekawanan brengseknya tuh nyesell.. Si yubi atau siapalah itu, masa bisa kaya gitu keteman sendiri sihhh.. Pokoknya karya author selalu aku suka… Next chapnya jangan kelamaan ya thor! Tetap smangat nulisnya

  6. aku sedih bacanya yeonsung kasihan banget, bahkan temannya memberikan kesaksian palsu, ibunya apalagi gitu banget ke anak kandungnya sendiri….
    aku reader baru di ff ini ijin baca ya….

  7. Masa ama yg benar-benar kau buat si Yoensung, aku gak tau harus komentar apa lagi, yg pasti disini benci banget sama Luhan. Trus Yunbi, temen macam apa sih dia itu,,, uhhh tunggu karmanya

  8. Sprti biasa eonni slalu bikin aku spclss sm ff yg eonni tuliss. Luge knp horor sekali si disini kan kasian yeonsungnya. Yunbi juga tuhh msa sm tmn sndri ga ngebela jd sebel sndri uu. Keep writing eonni nxt cho dtunggu okayy

  9. udah lama bgt aku ga baca ff lagi, dan lagi boreng nyari2 ff yg memacu adrenalin ketemu ama ff beginian. suka ama jln ceritanya luhannya jadi bejat hehe. oke lah aku tunggu kelanjutannya salam kenal yah thor😊
    keknya aku mau menelusuri karya2 author… aku manggilnya oenni/dongsaeng? aku line98, klo author? Munkin di bawah aku ya?

  10. duh serem amat lulu and the gengs, berbuat “itu” lagi sama si yeonsung
    kasian yeonsungnya
    ah semoga lulu cepet sadar deh

  11. Astaga Luhan ingin berkata kasar-_-
    Dan emak tirinya Luhan juga kok tega banget sama anak kandungnya sendiri -_-.

  12. Eakk… pulang dari asrama udah dapet fanfic baru,
    Aku suka loh cara eonni nulis, bahasanya beda, keep spirit ya

  13. Annyeong arni eoni. ffnya sumpah bagus banget, aku sukakk sekaliii. Kasian yeonsung, Luhan and the genk jahat banget deh, Yunbi juga bukannya nolongin temennya malah lebih mentingin diri sendiri.

    Lanjut baca ya eonni

  14. Kesian ya malah cewenya yang kena batunya hiks kezam sekali. Rada kesel juga sih pas baca yang lagi persidangan,ini dabes banget feelnya dapet. Semangat Thor !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s