Single Parent [Chapter 4] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), others cameo

Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3

 

Kepala Jimin sudah berubah warna. Untungnya hanya di bagian dahi, jadi dia bisa menutupinya dengan poni dan topi. Sementara gadis di sampingnya, dengan tidak tahu rasa bersalah malah asik menjilat es krim. Es krim miliknya! Sudah kurang ajar, tidak tahu diri pula. Sekarang dia menyesal telah mengajak Yoonjung kencan –meskipun sebenarnya itu bohongan.

Iseng, ia pun menyikut lengan Yoonjung sampai es cone gadis itu terlempar dan jatuh bebas di lapangan paving. Ia reflek menutup mulutnya, menahan tawa yang ingin menyembur.

Rasakan itu. Kau pikir kau bisa bermain-main dengan Park Jimin, hm?

Yoonjung sendiri terdiam kaku seperti gambar jpg. Lalu ia pun menolehkan kepalanya dengan cepat pada Jimin.

Jimin langsung membuang pandangan, pura-pura bersiul pada anak-anak burung yang ada di pohon yang menaungi mereka. Sesekali mata kecilnya melirik keberadaan Yoonjung. Karena Yoonjung tak kunjung bicara, dia pun menoleh dengan ekspresi tidak terima.

Wae?! Mwol?! Kenapa melihatku seperti itu?! Naneun aniya!”

Kebiasaan Jimin saat berbohong adalah bicara dengan nada tinggi. Dan itu kentara sekali di mata Yoonjung meski mereka baru kenal selama 2 bulan.

Sekali lagi dia melayangkan pukulannya pada kepala belakang Jimin. Bunyi ‘pak’ terdengar keras di situ, membuat beberapa pasang di sekitar mereka menoleh, termasuk anak-anak burung yang digodain Jimin tadi.

Yaa! Sudah kubilang itu bukan aku!” Jimin mencicit tak terima. Dia mendelik seakan-akan menakuti Yoonjung.

Tapi Yoonjung sangat mewarisi muka datar Yoongi saat marah. Ekspresinya biasa saja, tapi tangannya tidak biasa saja. Sekali lagi dia memukul kepala belakang Jimin.

Shut up your mouth, you little sekiya.”

Jimin sudah tidak bisa menerima perlakuan ini lagi. Dia pun mengangkat tangannya, ingin balas memukul Yoonjung.

Tapi Yoonjung malah menyerahkan wajahnya dengan sukarela. Ekspresinya mengatakan, “Silahkan pukul, itu kalau kau berani.”

Jimin pun mengepalkan tangannya, memejam sejenak sambil menggigit bibir bawah, lalu menghela napas sekalian menurunkan tangannya.

Oke Jimin, ini bukan karena kau tidak berani. Tapi pria sejati tidak boleh memukul seorang wanita. Ya, kau melakukan ini karena kau adalah pria sejati. Kau bukannya tidak berani.

“Hah, dasar pengecut.”

Mwo?! Yaa neo! Aku bukannya tidak berani ya, aku ini adalah pria sejati. Pria sejati tidak boleh memukul seorang wanita. Apalagi orangnya tengik seperti dirimu ini. Kau harusnya berterima kasih padaku, arra?

Yoonjung memutar bola matanya jengah. Mengorek kuping. Mengupil. Lalu menirukan gaya bicara Jimin. “Ya, ya, terserah. Sekarang belikan aku es krim lagi.”

Wae naya?! Yaa! Yang kau makan barusan itu es krimku. Kau sudah makan empat es krim, arro?!

Sekarang Jimin merasa seperti seorang gadis metropolitan yang kerjaannya hanya berteriak sana-sini karena tidak dituruti keinginannya. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Tapi Yoonjung … gadis itu … ugh, Jimin menyesal mengenalnya.

“Katanya kau ingin mengajakku kencan. Ya ini kencannya. Bukankah sebagai pihak pria kau ini harusnya banyak memberi daripada marah-marah? Tch, pantas kau masih jomblo sampai saat ini. Tidak heran, memang siapa juga yang mau dengan orang pemarah sepertimu? Tampan saja tidak.”

Jimin ingin sekali meledak. Tapi pita suaranya sudah tidak mampu. Bisa-bisa besok dia kehilangan suaranya karena kebanyakan berteriak hari ini. Dia tidak boleh menyerahkan posisi vokalis utama di band-nya pada orang lain.

Arasseo. Demi menutup mulut beo-mu itu, aku akan membelikanmu es krim. Tapi ini yang terakhir, eo? Aku tidak akan membelikannya untukmu lagi.” Dia pun segera bangkit dan melangkah menuju mobil van yang menjual es krim. Belum jauh dari Yoonjung, dia sudah menggerutu. “Aish, nanti aku harus jalan kaki. Uangnya habis sudah.”

Yoonjung bisa mendengarnya. Dia pun memekik dari tempat. “Memangnya kau tidak punya kartu transportasi?!”

Jimin menoleh sambil tetap berjalan. “Memang apa pedulimu?!”

“Aku kan yeojachingu-mu hari ini!” jawab Yoonjung sambil tersenyum genit.

Jimin bukannya tersentuh malah membuat ekspresi ingin muntah. “Jangan harap aku akan menjadikanmu kekasihku!”

“Kupegang kata-katamu, Jimin-sshi! Kau harus menulis namaku dan namamu dengan pantat mulusmu di tempat umum kalau kau ternyata menyukaiku!”

Jimin tidak lagi merespon. Ia menurunkan topinya. Orang-orang melihat, dan itu memalukan sekali.

Sampai akhir dunia pun aku tidak akan menyukai gadis memalukan sepertinya.

“Pilihlah apa yang kau suka. Akan kubelikan.”

Sena langsung menoleh dengan gerakan slow motion. Kedua alisnya terangkat tinggi. “Ne?

“Ambillah apa yang kau mau. Aku yang akan bayar.”

“Ah, tidak perlu, ahjussi. Lagi pula aku tidak suka stroberi.” Sena menggeleng cepat diikuti dengan cengiran canggungnya.

“Kau tidak suka stroberi? Lalu kenapa datang kemari?” Yoongi menatapnya heran. Wajar saja dia heran. Untuk apa Sena susah-susah datang kemari kalau memang tidak suka stroberi? Kalau itu dia, sudah pasti dia akan memilih melakukan apa yang disukainya.

“Bukan tidak suka juga sih. Suka sih suka, tapi … aku lebih suka buah lain daripada stroberi. Hehe. Lagi pula karena Jimin mengajakku, jadi aku datang kemari,” katanya sambil melihat-lihat olahan stroberi yang dijajakan di stan yang sedang mereka kunjungi. Mereka baru saja keluar dari tenda raksasa.

“Sebenarnya aku juga tidak begitu suka stroberi. Kalau begitu, kami beli dua jus stroberi saja.”

Ne,” jawab si ahjumma pemilik stan dengan sigap sebelum mulai menyiapkan semua bahan untuk dibuat jus.

“Tidak, Ahjumma! Satu saja.” Sergah Sena buru-buru.

“Dua.” Tapi Yoongi tetap bersikeras pada keputusannya.

Ahjumma, satu, ne?

“Dua.”

Sena pun menoleh. “Satu saja, Ahjussi. Aku tidak terlalu suka stroberi.”

“Dua.” Sekali lagi dengan jawaban yang sama, Yoongi menjawab sambil membalas tatapan Sena.

“Satu.”

“Dua.”

“Aaaa geumanhae! Geumanhae!Ahjumma itu akhirnya berseru juga saking kesalnya dengan ulah mereka. Sena dan Yoongi spontan menoleh. Si Ahjumma menatap garang. “Apa kalian ini sedang meributkan jumlah anak? Jangan berselisih di sini. Jadi berapa yang kalian mau beli, Tuan dan Nona?”

“Satu!”

“Dua!”

Jawab mereka serempak.

Si ahjumma memutar bola mata jengah.

Pada akhirnya yang terbeli adalah 2 oleh keputusan ahjumma itu. Tentu saja ahjumma itu lebih pro pada jumlah yang banyak, karena dengan begitu dia bisa mendapatkan untung, inilah dunia bisnis.

Kedua orang yang tidak bisa disebut pasangan ini tengah berjalan santai menuju pintu keluar sambil menenteng barang bawaan dan cup minuman masing-masing. Sena yang katanya tidak suka malah sudah habis setengah, padahal Yoongi belum habis ¼ nya.

“Toh juga diminum,” sindir Yoongi setelah mereka berhasil keluar area festival dan sedang menuju tempat dimana Yoongi memarkir mobil.

Sena berdehem. “I-itu karena hari ini panas sekali, jadi saya pun haus.”

Yoongi tersenyum miring. “Bagaimana kalau tadi jadi beli satu? Bisa bayangkan satu gelas berdua?”

Wajah Sena langsung memerah. “A-aniyo. Kalau yang dibeli cuma satu, saya tidak akan minum.”

Yoongi hanya tersenyum kecut. Malas meladeni lagi.

Mereka pun berjalan bersama keheningan. Lapangan parkir tidak begitu ramai karena kebanyakan orang masih ada di area festival. Sementara matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka. Musim semi yang cukup terik. Yoongi kegerahan karena memakai pakaian serba hitam. Keringatnya terus mengucur di dahi.

Yoongi pun membuka kunci mobil secara otomatis setelah melihat mobilnya sudah tidak jauh. Mobil itu berbunyi, menandakan jika sudah tidak terkunci lagi.

“Jimin teman adikmu itu, apa dia tinggal di kawasan apartemen yang sama denganmu?” Iseng dia bertanya beberapa langkah sebelum mencapai mobil. Kepalanya menoleh ke samping, saling melempar pandang dengan Sena.

Ne. Jimin di lantai dua, saya di lantai tiga.”

Pembicaraan itu dijeda karena mereka telah sampai mobil. Yoongi masuk di bagian kemudi, sementara Sena masuk di kursi sebelah kemudi. Baru masuk Yoongi langsung menyalakan AC. Dia menghela napas lega karena akhirnya tubuhnya tidak terasa gerah lagi. Kemudian dia pasang sabuk pengaman.

“Tapi sepertinya kalian tidak pergi ke sekolah bersama. Tidak sekelas?” Yoongi pun melanjutkan pembicaraan sambil menjalankan mobil untuk keluar dari area parkir.

Ne. Jimin satu kelas dengan Yoonjung.”

“Ah pantas.” Sudah pasti mereka merencanakannya berdua, anak-anak sialan.

“Pantas kenapa, Ahjussi?”

Yoongi menggeleng. Dan dengan natural langsung membelokkan pembicaraan “Ah ya, katamu kau tidak terlalu suka stroberi. Lalu bakal kau apakan stroberi yang tadi kau ambil?”

Sena otomatis melihat kantung plastik hitamnya yang berisi beberapa kotak stroberi, hasil memanennya di tenda raksasa tadi. “Hm … mungkin setengahnya akan kubagi dengan Jimin. Jiminie suka stroberi.”

“Kau masih mau memberinya padahal dia sudah menjebakmu?”

Gadis itu langsung menoleh. “Memang kenapa? Apa saya tidak boleh melakukan itu?”

Yoongi diam. Matanya sibuk menatap lurus pada jalanan. Ditanya seperti itu membuatnya terlihat seperti orang jahat. Ia pun berdehem. “Bukannya tidak boleh. Hanya saja … kau apa tidak kesal padanya?”

Sena menggeleng. “Aniyo. Jimin memang sudah usil sejak dulu padaku. Jadi itu tidak masalah bagiku. Lagi pula, dia banyak membantuku selama di Seoul.”

Gadis yang menarik, batin Yoongi sambil tersenyum dalam hati.

“Kau lapar? Ingin makan sesuatu?” tanyanya dengan niat mengalihkan topik pembicaraan.

“Apa sekarang sudah masuk jam makan siang?” Sena melirik arlojinya, kemudian dia pun memandang Yoongi ragu. “I-itu, terserah ahjussi saja.”

“Kau ingin makan apa?”

Gadis itu tampak berpikir sebentar. Lalu dia menatap Yoongi lagi dengan tatapan ragu. “A-aku tidak tahu. Terserah ahjussi sa—”

“Nasi atau burger?!”

“Nasi!” jawab Sena spontan yang dia sendiri begitu menyadarinya langsung tutup mulut. Kedua pipinya memerah karena kikikkan Yoongi.

Gotcha! Sekarang aku tahu bagaimana caranya bicara dengan gadis apa-apa terserah sepertimu.”

Sena berdehem. “Saya hanya belum tahu Seoul saja jadi—”

Seafood atau ayam?!”

“Ayam!” Sekali lagi Sena kelepasan menjawab dengan semangat. Wajahnya makin memerah, Yoongi sekarang menertawakannya dengan puas.

Kiyeowo. Arasseo, kita makan ayam sekarang. Kau tidak suka pedas, machi? Aku tahu tempat yang menjual ayam tidak pedas tapi rasanya tidak biasa. Kau pasti akan ketagihan pergi ke sana.”

Yoongi pun melakukan sesuatu terhadap persnelingnya sebelum mobil meluncur dua tingkat lebih cepat dari sebelumnya.

Sena berpegangan pada pegangan atas pintunya sambil menolehkan kepalanya ke jendela samping. Tanpa sepengetahuan Yoongi, dia tersenyum dengan begitu gilanya.

Kau membuatku gila, Ahjussi.

TBC

Aku seneng tag-nya Suga udah muncul di skf :”) padahal dulu yang muncul cuma JJK doang :”) ngga sia-sia deh kerja keras :v 

Advertisements

7 responses to “Single Parent [Chapter 4] ~ohnajla

  1. Kau membuatku gila, Ahjushi…. aaaaaaaak
    Kau membuatku gila juga kak. 😁😁😁
    Killing part deh itu. Bangsul kenapa jadi baper 😂😂

  2. aduh yoongi ahjussi(?) bikin melting nih …. mau dong di do’ain (?) kkkk…. yoongi benar2 deh idaman kuh…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s