Single Parent [Chapter 5] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), others cameo

Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4

“Jadi kau belum sekalipun pulang ke Busan?! Wah … apa kau tidak merindukan orangtuamu?”

Sena tersenyum tipis. Sementara bibirnya sibuk mengunyah potongan kecil daging ayam. “Tentu saja aku merindukan mereka. Sangat bahkan.”

Keurom. Kau sudah tiga tahun di Jepang dan sekarang kau harus tinggal di Seoul. Aku tahu bagaimana perasaanmu,” ujar Yoongi sambil menegak air minumnya.

Ahjussi sendiri hanya tinggal bersama Yoonjung selama sepuluh tahun ini?”

“Hm, hampir sebelas, sebentar lagi Yoonjung ulang tahun.”

PAK! Sena memukul dahinya sendiri yang membuat Yoongi menatapnya kaget.

Wae? wae?”

“Aku lupa kalau Yoonjung akan ulang tahun sebentar lagi. Lima belas Mei berarti … satu dua tiga lima … lima hari lagi?! Ah, aku belum membelikan hadiah untuknya.” Bahu Sena jatuh setelah dia menyadari jika dia belum menyiapkan hadiah kejutan untuk kawan yang telah dianggapnya sebagai adik perempuannya sendiri itu. Kesibukannya di sekolah membuatnya melupakan hari penting Yoonjung. Pasti Yoonjung akan marah jika saja Yoongi tidak mengingatkannya.

“Kukira ada apa. Gwaenchanha. Aku juga belum menyiapkan hadiah untuknya,” sahut Yoongi dengan tenang sambil memasukkan sesumpit nasi ke mulutnya. “Kalau kau mau, setelah ini kita beli hadiah untuk Yoonjung.”

Bahu Sena langsung tegak kembali. Wajahnya berbinar cerah mendengar penuturan Yoongi. “Benarkah? Apakah saya boleh ikut?”

“Aku kan bilang ‘kita’. Kau tidak dengar?”

“Ah begitu ya? Haha, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan telinga saya.” Sena dengan bodohnya tertawa sambil mengorek kuping. Ia terlalu malu karena tidak serius mendengar kalimat Yoongi.

Yoongi sendiri tersenyum melihat tingkah idiot gadis di hadapannya. “Habiskan makananmu.”

“Baik!” jawab Sena dengan semangat sebelum memasukkan sesumpit besar nasi ke mulutnya, membuat pipinya menggelembung dan mengundang gelak tawa si duda berkarisma. Wajah bodoh Sena yang mengerjap-ngerjap dengan pipi menggelembung makin membuat ledakan tawa lelaki itu.

Kiyeowo,” gumamnya sembari menyeka air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.

Dari sekian puluh orang yang lalu lalang di jalanan Dongdaemun, kita bisa menemukan dua tokoh utama kita di sana. Sena dan Yoongi, dengan jarak yang cukup aman untuk tidak disebut pasangan, tengah menyusuri jalanan Dongdaemun sambil mengamati satu persatu toko yang mereka lewati. Tujuan mereka kemari adalah untuk mencari hadiah ulang tahun Yoonjung lima hari mendatang. Tapi sejak tadi mereka sama sekali belum masuk ke toko mana pun.

“Oh! Apel! Yoonjung suka apel!” seru Sena dengan semangat sambil menunjuk stan buah-buahan.

Yoongi memandang sekilas stan buah-buahan yang ditunjuk Sena sebelum mengalihkan pandangannya pada toko boneka. “Yoonjung juga suka dengan boneka.”

“Boneka? Apa beli boneka saja ya?”

Bukannya berbelok masuk toko boneka, mereka berdua hanya melihatnya saja sambil berlalu.

“Hm, kurasa tidak. Tahun kemarin aku sudah memberikannya Kumamon seukuran tubuhnya. Mungkin selain boneka.”

“Topi. Apa Yoonjung suka topi?” Sena bersuara lagi begitu mereka melewati toko topi. Tapi lagi-lagi, hanya dilewati.

“Aku tidak yakin. Yoonjung jarang membeli topi. Daripada topi, dia lebih sering beli sepatu,” jawab Yoongi saat mereka sedang lewat di depan toko sepatu. Sepatunya kelihatan bagus dan berkualitas meskipun dilihat dari luar.

“Ah … tahun kemarin aku sudah memberikannya sepatu. Bagaimana kalau tas?”

“Hm … sebenarnya membelikannya tas itu sama saja bohong. Dia itu tidak mau memakai tas kalau bukan yang dia suka. Apa mungkin perhiasan ya?”

“Bukannya Yoonjung tidak suka pakai aksesoris, ahjussi? Kurasa itu juga akan sama saja bohongnya.” Penuturan Sena itu membuat keduanya menghela napas lelah. Kenapa membelikan hadiah untuk Yoonjung susahnya minta ampun sama seperti sedang memilih antara menikah atau kuliah setelah lulus sekolah.

Tiba-tiba saja kedua obsidian Sena melebar begitu mereka melewati sebuah toko. Reflek dia pun menarik kain lengan Yoongi. “Make up! Ahjussi! Bagaimana kalau kita belikan dia make up saja? Karena Yoonjung sekarang sudah masuk usia remaja, bukankah yang paling dia butuhkan adalah make up? Bagaimana?”

Yoongi memperhatikan sekilas toko alat kecantikan di depan mereka sebelum menatap Sena. Ekspresi cerah gadis ini yang seperti baru saja menemukan harta karun Fir’aun entah bagaimana menimbulkan gemuruh tidak nyaman di dada kiri Yoongi. Dia seperti sedang melihat Siyeon, sangat bersinar dan memukau. Bahkan caranya menarik kain lengan Yoongi membuat Yoongi makin yakin jika Sena adalah reinkarnasi dari Siyeon.

Sepertinya kepalanya sedang tidak beres akibat memakai baju hitam di siang hari yang terik. Tahu-tahu dia menarik lengan Sena dan membawa wajah gadis itu untuk mendongak padanya. Pelan, dia menempelkan bibirnya di dahi Sena. Matanya menutup dengan perlahan, mencoba meresapi apa yang telah dilakukannya ini sambil memunculkan bayangan ibu Yoonjung yang masih dicintainya hingga detik ini.

Aku sungguh merindukanmu, ujarnya dalam hati.

A-ahjussi….”

Mendengar suara itu, Yoongi pun langsung membuka matanya dan barulah dia menyadari jika dia telah melakukan suatu kecerobohan. Cepat-cepat dia membuat jarak diantara mereka. Sekarang dia bingung harus menjelaskan dari mana.

“Tu-tu-tunggu, a-a-ku tidak bermaksud. Serius. Aku hanya tiba-tiba lupa daratan, eh, tidak, maksudku … ah ya ampun kenapa panas sekali ya di sini, haha. Sepertinya aku salah pakai baju hari ini. Ya Tuhan, aku tidak percaya bulan Mei sudah sepanas ini.” Yoongi masih tertawa tidak jelas sambil mengipasi wajahnya yang sudah memerah dengan tangan. Sesekali dia melihat reaksi Sena yang tampaknya belum bisa move on dari kejadian memalukan itu.

Kau bodoh sekali, Min Yoongi.

Kemudian dia berdehem setelah teringat kembali pada tujuan mereka di sini. “Sepertinya membelikan anak itu make up tidak buruk juga. Toh sebentar lagi dia akan jadi wanita dewasa, akan berkencan—”

Yoongi kembali merutuki bibirnya. Kenapa dia harus menyinggung soal kencan di saat seperti ini?

Kembali dia berdehem. “Sepertinya hari sudah makin sore. Kaja.”

Dengan penuh percaya diri dia pun melenggang dengan kerennya memasuki toko alat kecantikan tersebut. Begitu membuka dan menutup pintu, dia tiba-tiba berhenti karena Sena sama sekali tidak beranjak dari tempat.

Yaa! Kau sedang apa di sana?! Ppaliwa!

Seperti baru dibangunkan dari hipnotis, Sena tersentak. Dia menoleh pada Yoongi dengan linglung sebelum berlarian kecil menyusul.

Yoongi sendiri tanpa perlu menunggu langsung menjelajah isi toko tersebut.

Suasana di mobil jadi canggung karena ulah Yoongi. Sena tak hentinya melihat keluar, sama sekali tidak ada minat untuk melihat Yoongi barang melirik. Duduk di sebelahnya saja sudah membuat dirinya tidak nyaman, apalagi melihat wajahnya.

Jangan! Sena menetapkan keputusan kalau dia tidak akan melihat Yoongi sampai besok. Ya, setidaknya sampai besok. Karena kalau terlalu lama tidak melihatnya dia malah bisa gila. Bagaimana dia bisa membayangkan wajah Yoongi besok malam kalau tidak melihat wajahnya dulu. Sena kan pikunan.

Yoongi yang sedang mengemudi sekilas melirik saat gadis itu yang sedang menggeleng cepat-cepat.

Ada apa dia? Jangan-jangan masih memikirkan yang tadi.

Pipinya mendadak merah. Itu hal terbodoh yang dia lakukan. For first and last time.

Tak lama kemudian sampailah mereka di pintu gerbang kawasan apartemen Hwa Yang Yeon Hwa. Yoongi memarkirkan mobilnya di tempat biasa, dia terlalu malas untuk berputar-putar di dalam. Sena sendiri sibuk melepas sabuk pengaman.

“Terimakasihatastumpangannya. Sayapergidulu. Hatihatidijalan,” ucap Sena dalam satu tarikan napas sebelum membungkuk sopan dan menarik tuas pintu.

Percobaan pertama, gagal.

Kedua, gagal

Ketiga, gagal

Keempat, TAK!

Gadis itu langsung membeku di tempat.

WHAT THE HELL!

Kedua matanya menatap haru pada tuas untuk membuka pintu yang sekarang bisa dibawanya kemana pun dia pergi (translate: patah). Ia menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat.

Aku bisa mati. Aku bisa mati. Ini hari terakhir aku hidup. Appa, eomma, Taehyungie, Jungkookie, jika aku punya salah pada kalian, aku minta maaf. Maaf karena aku pernah memakai boxer kalian sebagai pembalut darurat. Tapi serius, aku sudah mencucinya dengan bersih. Pakai deterjen, penghilang noda, pewangi, pelembut, jadi tidak akan ada bercak apa-apa di sana. Eomma, aku juga minta maaf karena sudah memakai lulurmu tanpa minta izin. Aku hanya ingin mencobanya, serius. Hanya sekali kok. Eh, tidak, dua kali sepertinya. Atau empat ya? Ah tidak tahulah, pokoknya aku minta maaf saja. Appa, appa aku minta maaf ya karena pernah menarik bulu kakimu. Cuma satu helai kok, tidak lebih. Pokoknya aku minta maaf pada kalian semua!

“Tuasnya patah?”

Hanya dua kata yang dilontarkan suara rendah Yoongi saja, Sena sudah melotot panik. Ahjussi pasti akan membunuhku.

N-ne. Sa-saya tidak sengaja. Joesonghammida.”

“Tidak sengaja?” tanya Yoongi sambil meletakkan tangan besarnya yang tidak sebanding dengan tubuhnya itu di atas bahu Sena. Membuat Sena memekik ketakutan dalam hati.

“Maafkan saya! Maaf! Saya memang ceroboh! Joesonghammida! Joesonghammida!

Dalam sekali tarik, Sena langsung berbalik. Ia tertegun mendapati ekspresi Yoongi yang sama sekali tidak serupa dengan ekspektasinya. Ahjussi tidak marah.

Yoongi pun mengambil tuas yang ada di tangan Sena lalu memasukkannya ke laci dasbor (apa sih namanya? Ga tau deh).

“Kau itu memang strong power ya,” ujarnya sambil terkekeh. Lalu dia melakukan sesuatu pada pintu mobilnya, bunyi unlock pun terdengar dari pintu Sena. Sena merona malu.

“Jelas saja dia patah karena pintunya masih dikunci. Aigoo … kau masih memikirkan ciuman tadi? Hahahaha.” Padahal Yoongi sendiri malu untuk membicarakannya, tapi dia sendiri juga yang menertawakan ulahnya sendiri. Ya, menertawakan dirinya sendiri yang jauh lebih idiot dari Sena.

Kiyeowo. Yaa, itu tadi bukan apa-apa. Aku hanya kepikiran Siyeon dan yah … kau tampak mirip dengannya. Jadi, aku tidak bisa mengontrol diri. Mianhae. Jangan pikirkan lagi, hm? Kau ini teman Yoonjung,” lanjut Yoongi sambil keluar dari mobil, berjalan memutari moncong mobilnya hanya demi membukakan pintu Sena.

Kau ini teman Yoonjung.

Kau ini teman Yoonjung.

Kau ini teman Yoonjung.

“Kau tidak mau keluar?”

Sena spontan menoleh begitu mendengar suara Yoongi. Tapi kemudian dia memekik dan bergerak mundur.

Wajah Yoongi hanya beberapa senti dari wajahnya, dan itu cukup membuat Sena trauma.

Bagaimana kalau dia menciumku lagi?!

Aku belum siap!

Tapi kemudian Yoongi menegakkan punggungnya lagi. Ia berdehem. “Sepertinya kau tadi sedang melamunkan sesuatu. Kupanggil tidak dengar.”

Bohong! Kapan dia memanggil Sena? Yang ada, dia memang sudah merencanakan keisengan itu. Melihat wajah Sena dari dekat agaknya menjadi candunya saat ini. Ya, Sena, teman anaknya.

Teman Yoonjung?

Tahu-tahu dia menggeleng cepat. Tidak sadar jika Sena sudah keluar dari mobilnya dan berdiri di dekat moncong mobil, jaga jarak sejauh-jauhnya.

Ia pun menutup pintu. Dengan tidak sadar umur dia menyandarkan separuh tubuhnya di pintu mobil dengan kedua lengan saling terlipat, sok keren. “Masuklah. Kau tahu ‘kan kalau ini bukan rencanaku, jadi—”

“Terimakasihatastumpangannya, Yoonjung appa. Sayapermisi.” Dengan kecepatan penuh, Sena pun membungkuk dan melakukan sprint menuju gedung apartemennya. Meninggalkan Yoongi yang sedang memanggil namanya sambil mencoba meraihnya.

Bibirnya pun mengerucut dengan tubuh yang lemas. Kesal, dia menendang kerikil yang ada di dekat kakinya ke sembarang arah.

“AKH!”

Cepat-cepat dia mengangkat kepalanya. Kedua matanya langsung mendelik begitu melihat seorang remaja laki-laki yang ada di arah berlawanan dengannya sedang berjongkok sambil memegangi dahinya. Dia peka, itu pasti karena ulahnya. Untuk itu dia segera berlarian mendekat.

Gwaenchanha? Mian, aku tidak tahu kalau ada kau di sini. Kau tidak apa-apa? Apa terluka?”

Remaja itu mendongak padanya dengan wajah kesal. Tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah. Rasa sakit di dahinya menghilang seketika. Dia pun cepat-cepat bangkit. Sekali lagi menatap Yoongi dari atas ke bawah, sebelum …. LARI!!!

“Hei nak! HEI!! Dahimu memar!! Ma! Nappeun saram aniya!! Kenapa kalian semua tidak ada yang mau mendengarku?! HEEEEIII!!

Remaja itu, Jimin, langsung berhenti begitu sampai di depan lift. Dia masih bisa mendengar suara teriakan Yoongi dari luar. Tapi dia tak peduli dan langsung masuk ke dalam lift. Napasnya terengah-engah dan dia lantas menyandarkan punggungnya pada dinding lift.

Itu tadi ayahnya Yoonjung ‘kan? Aish, sial, untung ahjussi itu tidak mengenalku. Nyaris saja.

TBC 

Advertisements

16 responses to “Single Parent [Chapter 5] ~ohnajla

  1. Teriakan yang terakhir mengingatkan ku pada jungkook di weekly idol wkwk. “Ma!!” teriakan sang nam ja uluh uluhhhh.
    Ahjussi makin gemes ajah aku sama kamu.
    Yang dicium siapa yang heart attack siapa. Aceemmm. Kak najla emang ahli buat ginian. Cepet lanjut ya kak, kalo bisa yang panjang hehe walau komen aku gak panjang. Kkkk

  2. ih bang agus bikin baper waeeee huhuhu biarpun status duda klw di mah iklas jd calon istri nya hehehe semangat author nim 🙂

  3. kau ini temannya yoonjung, aduh kata2 bikin gimana gitu buat sena, tp sena pasti lupa lg besok diakan pikunan,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s