Honey Cacti [Chapter 12]

honey-cacti-poster-3-seohun

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun | Kim Seol Hyun

Genre: Romance, Comedy, Drama

Prev:  Chapter 11

———————————————–

Chapter 12—My Way

 

Ciuman yang akan terus membekas di hati mereka, menggantikan kenangan ciuman pertama mereka saat itu

 

***

Se Hun keluar dari ruang rapat dengan bahu terkulai lesu. Pekerjaan hari ini sangat banyak, ditambah ia harus mendampingi ayahnya untuk rapat direksi. Se Hun bisa melihat dari jendela besar kantornya bahwa langit sudah menunjukkan bias jingganya dan ratusan bangunan berlomba-lomba menjadi yang paling terang dengan lampu-lampu mereka. Tapi semua itu tidak membuat semangat Se Hun kembali. Ayahnya mengajak makan malam bersama kali ini, padahal Se Hun sudah sangat ingin bertemu Seo Ah.

Se Hun terus mengikuti langkah ayahnya seperti anak ayam. Di sebelahnya, Jun Myeon hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah anak itu. Mungkin bagi Se Hun, apa yang terjadi hari ini adalah hukuman dari ayahnya. Ya, karena kemarin tiba-tiba saja Se Hun mengajukan cuti satu hari, hari ini banyak dokumen yang masuk ke ruangannya. Belum lagi rapat dengan beberapa departemen, dan terakhir rapat dengan anggota direksi bersama ayahnya. Kalau sudah begitu, Se Hun sama sekali tidak memiliki waktu untuk menghubungi Seo Ah.

Se Hun sangat lelah. Bahkan untuk membaca pesan yang baru masuk ke ponselnya saja ia sangat malas. Masih sambil menyeret langkahnya, Se Hun mendesah dan mengambil ponselnya dari saku celana. Ada dua pesan masuk. Begitu tahu itu dari Seo Ah, tubuhnya langsung berdiri tegak dan wajahnya tiba-tiba saja secerah salju di ujung daun.

Satu dari pesan itu berisi video, sedangkan satunya bertuliskan “tebak aku di mana”. Se Hun pun berhenti sejenak lalu memutar video itu sambil tidak bisa menahan senyum.

“Taraaa!”

Se Hun membulatkan matanya tidak percaya. Seo Ah dalam video itu memakai baju rajut berwarna merah muda dengan celana panjang hitam. Rambutnya diikat satu ke belakang, menampilkan seluruh wajahnya yang bulat. Tapi bukan itu yang membuat Se Hun terkejut. Se Hun hafal betul meja makan di belakang Seo Ah, dan seluruh interior rumah saat Seo Ah memutar kameranya. Ditambah dengan celemek yang menggantung di tubuh Seo Ah, dada Se Hun semakin sesak dipenuhi rasa kebahagiaan.

Video berdurasi 10 detik itu berakhir, lalu satu pesan masuk kembali.

[Kau pulang jam berapa? Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu.]

Abeoji!”

Presdir Oh, Sekretaris Yoon, dan Jun Myeon berhenti melangkah setelah mendengar pekikan Se Hun. Mereka cukup terkejut melihat Se Hun yang jauh tertinggal di belakang. Kemudian, seperti anak SD yang baru mendapat nilai sempurna, Se Hun berlari ke arah ayahnya dengan wajah sumringah.

“Maafkan aku, sepertinya kali ini pun aku tidak bisa makan malam bersamamu.”

Tanpa menunggu jawaban ayahnya, Se Hun segera berlari dari tempat itu. Teriakan ayahnya diabaikan begitu saja. Jun Myeon pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mendesis kesal. Tanpa diberi tahu, ia tahu apa yang membuat Se Hun seperti itu. Dua jam yang lalu, Choi Seo Ah menghubunginya saat rapat direksi, bertanya apakah dirinya boleh meminta password rumah Se Hun. Mungkin kalau Seo Ah adalah sejenis wanita yang sering Se Hun ajak bermain, ia akan mengabaikan permintaan itu begitu saja. Tapi kali ini, ia merasa kalau hubungan berduanya akan berhasil, jadi Jun Myeon dengan senang hati memberitahunya.

“Ada apa dengan bocah itu?!” masih dengan ekspresi jengkel, Presdir Oh bertanya pada Jun Myeon.

“Sepertinya dia punya janji dengan wanita.”

“Apa? Jadi benar dia punya wanita lagi?!” meski terdengar marah, sebenarnya Presdir Oh tidak marah karena Se Hun mulai menjalin hubungan dengan wanita lain. Hanya saja, ia tidak percaya kalau diabaikan begitu saja oleh anak semata wayangnya gara-gara wanita itu.

“Iya, Presdir Oh.” Jawab Jun Myeon. “Tapi Anda tidak perlu khawatir. Sepertinya hubungan mereka akan berjalan baik.”

Presdir Oh mendelik ganas ke Jun Myeon. Saat Se Hun bersama Ji Eun pun dia pernah mengatakan hal itu. Kalau saja kali ini tidak berjalan dengan baik, sepertinya Presdir Oh mampu menggantung Jun Myeon di tiang bendera depan kantor.

Melihat tatapan mematikan Presdir Oh, Jun Myeon hanya bisa menelan air liurnya sendiri.

***

Se Hun mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan. Padahal jalanan sedang padat, tapi tanpa peduli ia menyalip sana-sini, sampai akhirnya tiba di penthouse-nya dengan waktu lima belas menit. Biasanya Se Hun bisa menghabiskan dua puluh menit sampai setengah jam di jalan. Apalagi kalau sedang malas, bisa-bisa Se Hun mengitari Seoul dulu baru pulang ke rumah.

Seperti sedang bermain rumah-rumahan, dan ia berperan sebagai seorang suami, Se Hun tidak langsung memasukan password rumahnya. Dengan senyum lebar, ia menekan bel. Menunggu lima detik, tidak ada tanggapan dari dalam, membuat Se Hun kembali menekan bel. Barulah setelah itu ia mendengar bunyi kunci otomatis, dan pintu di depannya mengayun terbuka. Sosok Seo Ah muncul dengan alis berkerut. Meskipun begitu, Se Hun tidak melepaskan senyumannya.

“Kenapa menekan bel?”

“Aku pulaaaang!”

Tanpa mempedulikan pertanyaan Seo Ah, Se Hun merentangkan tangannya dan langsung memeluk tubuh mungil Seo Ah. Jadi begini rasanya disambut seseorang yang dicintai ketika pulang bekerja, Se Hun bergumam dalam hati dengan perasaan hangat. Waktu masih tinggal bersama orangtuanya, Se Hun sering mencibir ayahnya yang suka memeluk atau mencium ibunya saat pulang bekerja. Padahal tubuhnya sudah bau keringat, sampai Se Hun sendiri memilih kabur ke kamar daripada mencium aroma tidak sedap itu. Tapi sekarang ia mengerti. Ini seperti mengisi ulang baterai ponsel. Ia kembali hidup.

Seo Ah mendorong tubuh besar Se Hun. Meski ia berhasil, tapi tangan Se Hun masih berada di pinggangnya. “Bau!”

“Aku sangat lelah, Sayang….”

Setelah mengucapkan kata seperti anak kecil, Se Hun kembali memeluk Seo Ah. Kali ini ia menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Seo Ah. Wangi Seo Ah seperti aromaterapi yang menenangkan. Seluruh beban dan rasa jengkelnya dengan urusan kantor tadi menguap begitu saja.

Tidak memiliki jalan keluar, Seo Ah akhirnya membalas pelukan Se Hun. Ia menepuk-nepuk punggung pria itu. Ia cukup kesulitan karena tubuh Se Hun seperti menyelimuti dirinya. Rambut Se Hun menyentuh lembut kulit pipi dan lehernya. Kalau diingat kembali, ini adalah pertama kalinya Se Hun memeluknya seperti ini. Seo Ah merasa seperti orang yang paling ditunggu kehadirannya oleh Se Hun.

Se Hun meregangkan pelukannya. “Kau sudah memasak untukku, kan? Apa yang kau buat? Ayo kita makan—“

Sebelum Se Hun menarik tangannya ke meja makan, Seo Ah sudah lebih dulu menahan tangan pria itu. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Se Hun adalah orang yang sangat tidak sabaran. Se Hun pun kembali ke tempatnya, alisnya berkerut melihat Seo Ah.

“Kenapa?”

“Kau harus mandi dan mengganti bajumu,” kata Seo Ah, sedikit ketus. “Aku tidak mau kau mengotori mahakaryaku dengan tubuh baumu itu.”

Lagi, Se Hun bertingkah seperti anak kecil. Ia menghentakkan kakinya ke lantai. “Aku ingin makan dulu… aku ingin mencoba masakanmu.”

Seo Ah menggeleng, tanda perintahnya tidak bisa diganggu gugat. Ia pun mendorong punggung Se Hun sampai tiba di anak tangga. “Mandi, lalu kau boleh duduk di meja makan.”

Se Hun baru ingin memohon kembali, tapi tatapan garang Seo Ah menjadi lawannya. Akhirnya, dengan langkah yang berat, ia pun menaiki tangga menuju kamarnya. Ia harus melakukan ini dengan cepat sebelum Seo Ah berubah pikiran.

***

Seo Ah sudah menduga kalau Se Hun akan keluar dari kamar itu tidak lama lagi. Ia bahkan sampai bertaruh dengan dirinya sendiri. Dipandanginya jam tangannya selama menunggu Se Hun. Dan belum tepat enam menit jarum jam Seo Ah bergerak, Se Hun sudah menampakan dirinya di ruang makan dengan senyum merekah.

Entah pria itu mandi dengan benar atau tidak. Tapi dengan mencium aroma sabun dan rambut basah, serta pakaian yang berganti menjadi lebih santai, bisa menjadi pembuktian kalau Se Hun telah melakukan apa yang Seo Ah minta. Yah… mungkin dengan cara yang sedikit licik.

“Kau masak apa hari ini?” tanya Se Hun, dirinya memainkan peran suami dengan sangat baik. Seolah ini adalah hal biasa, Se Hun bertingkah dengan sangat natural. Bahkan binaran matanya mengatakan begitu.

Seo Ah mendengus lalu terkekeh pelan melihat tingkah Se Hun. “Karena Jun Myeon bilang kau memakan segalanya, jadi aku masak saja yang kubisa.”

“Kau bertanya pada Jun Myeon hyeong?” Se Hun mendelik tidak suka. “Kenapa tidak langsung bertanya padaku.”

Seo Ah hanya mengangkat bahu. Ia pun berdiri dari duduknya dan membuka tutup mangkuk nasi milik Se Hun, lalu kembali ke kursinya. Melihat itu, amarah Se Hun mereda. Ia lagi-lagi terpesona dengan tingkah kecil Seo Ah. Di depannya tersaji makanan Korea dengan lauk lengkap. Perasaan Se Hun menghangat melihat meja makannya penuh, dan yang terpenting ia tidak makan sendirian hari ini.

“Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal ini? Membuatku takut saja.”

Se Hun tidak menyadari kalau ucapannya itu membuat Seo Ah tersedak nasi yang berusaha ditelannya. Wanita itu buru-buru mengambil air minum sebelum Se Hun sadar. Tapi sepertinya Se Hun terlalu sibuk mencicipi setiap masakan Seo Ah. Mulutnya tidak lagi mengoceh tidak jelas, hanya terus mengunyah.

“Bagaimana rasanya?”

Se Hun mengangkat pandangannya. Untuk beberapa saat, ia tetap tidak berbicara. Mulutnya sibuk mengunyah, namun matanya menatap lurus Seo Ah, seolah sedang menilai masakan sekaligus Seo Ah sendiri. Tanpa sadar, Seo Ah malah menunggu penilaian Se Hun dengan hati berdebar. Telinganya menjadi tajam, dan matanya hanya mengarah ke Se Hun, membaca ekspresi pria itu.

Selesai mengunyah dan menelan makanan pertamanya, Se Hun meletakan sumpitnya di atas meja. Seo Ah semakin khawatir—apalagi wajah Se Hun terkesan sangat dingin sekarang. Namun berikutnya, pria itu bertepuk tangan keras sambil menggelengkan kepalanya—tidak habis pikir.

“Hebat! Hebat sekali, Choi Seo Ah!” kata Se Hun dengan nada bangga. “Kau lulus sebagai calon menantu keluarga Oh.”

“Apa-apaan, sih!”

Meski ketus begitu, Seo Ah tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Se Hun menyadari itu, dan langsung saja menyembunyikan senyum gelinya dengan terus memakan masakan Seo Ah. Tapi sungguh, Se Hun tidak bohong soal masakan Seo Ah, meski sedikit dilebih-lebihkan.

Selanjutnya, acara makan mereka diisi dengan obrolan ringan. Meski Seo Ah mencoba untuk tidak terbawa suasana, tetap saja kehangatan suasana ini membuatnya hampir lupa dengan niat awal membuat kejutan ini untuk Se Hun. Melihat bagaimana Se Hun tertawa, mengunyah makanannya dengan semangat, bahkan rayuan murahan yang diucapkannya, Seo Ah merasa sudah menjadi wanita jahat karena niat yang tidak murni ini. Tapi bagaimanapun ia harus melakukannya. Pepatah mengatakan, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Dan Seo Ah sudah mempersiapkan skenario terburuk yang akan diterimanya.

Oppa.”

“Hm?” Se Hun melirik Seo Ah dari sudut gelasnya. Namun, karena Seo Ah tidak langsung menjawab, ia bertanya lagi setelah menyelesaikan minumnya. “Kenapa?”

“Aku akan pergi ke luar negeri.”

Awalnya Se Hun mengerutkan alisnya. Ia kira Seo Ah akan mengatakan kalimat yang lebih penting. Merasa itu bukan masalah serius, Se Hun pun kembali mengambil daging ikan panggang dengan sumpitnya.

“Kapan?” tanya Se Hun, masih asik dengan makanannya.

“Besok.”

Pada saat itu pula Se Hun berhenti bernafas. Makanan yang sudah masuk ke mulut tidak dapat ditelan, seolah ada batu besar yang mengganjal kerongkongannya. Se Hun meletakkan sumpitnya ke atas meja. Sekarang ia memberikan perhatian penuh pada Seo Ah, khawatir kalau ini masalah telinganya yang salah dengar.

“Apa yang kau katakan?”

Seo Ah tertunduk di kursinya. Ia tidak berani menatap Se Hun sekarang karena rasa bersalahnya akan semakin besar. Harusnya ia melakukan ini dari jauh-jauh hari, sehingga mungkin suara Se Hun tidak akan semarah itu. Tapi waktu itu, ia masih tidak yakin dengan keputusannya. Ia pikir, dengan mengulur waktu ia bisa menentukan pilihan. Namun waktu terus berlalu, dan ia tetap tidak memiliki jawaban, hingga jalan buntu inilah yang ia pilih.

Melarikan diri—mungkin bisa dikatakan begitu.

“Choi Seo Ah, katakan dengan jelas!” suara Se Hun meninggi.

Setelah bungkam beberapa saat, akhirnya Seo Ah hanya bisa mengatakan satu kata; “Maaf.”

Se Hun mendengus, tidak percaya apa yang baru ia dengar. “Berapa lama kau akan pergi? Ke mana? Dengan siapa? Aish! Kau benar-benar! Kenapa kau baru mengatakannya padaku?!”

“Aku tidak tahu, ini sangat mendadak….”

“Kenapa kau baru mengatakannya padaku?!” Se Hun mengulangi pertanyaannya karena menurutnya jawaban Seo Ah itu tidak menjawab. Rasanya Se Hun bisa membalikkan meja makan di depannya saat ini juga karena saking marahnya. Setelah membawanya terbang tinggi, kini Seo Ah benar-benar menjatuhkannya dari atas sana.

“A-aku sangat bingung. Dan kurasa, aku butuh waktu sendiri. Maafkan aku… aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu.”

“Choi Seo Ah, sebenarnya kau anggap aku apa?”

Suara Se Hun yang terdengar begitu lelah dan lemah terdengar jauh lebih menyakitkan daripada bentakannya tadi. Seo Ah mengepalkan tangannya di atas paha. Ia tidak boleh menangis. Ini bukan saatnya menangisi kebodohannya sendiri.

“Apa kau masih berpikir aku sejahat itu?”

Se Hun masih mengingat jelas bagaimana kata-kata pedas yang selalu Seo Ah lemparkan untuknya saat itu. Namun ia tidak terlalu mempermasalahkannya karena lebih tertarik dengan ekspresi Seo Ah. Jauh di dalam hatinya, Se Hun percaya kalau Seo Ah adalah wanita baik. Meski mulutnya sangat pedas, tapi hatinya sangat lembut, dan Se Hun tahu suatu saat Seo Ah akan memberi kelembutan itu padanya.

Tapi seiring berjalannya waktu, ia semakin tidak yakin bisa melakukannya—membuat Seo Ah memberikan seluruh hatinya.

“Bukan begitu…,” akhirnya Seo Ah mengangkat kepalanya. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok Se Hun yang terlihat begitu menakutkan untuknya sekarang. Matanya yang merah dan terlihat sembab, juga nafas yang memburu. “A-Aku… maafkan aku, Oh Se Hun.”

“Sudahlah.”

Tidak mau mendengar rancauan tidak jelas Seo Ah lagi, Se Hun menutup wajah dengan kedua tangannya yang besar, lalu mengacak rambutnya sendiri. Ia kesal—sangat kesal. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa di sini, Seo Ah atau dirinya sendiri. Apakah usahanya selama ini belum cukup untuk meyakinkan Seo Ah? Apa nyatanya Se Hun tidak segigih itu? Atau mungkin ini masalah otak bebal Seo Ah.

Se Hun begitu marah, sampai akhirnya ia berteriak keras untuk meluapkan emosinya. Ia tidak tahu kalau Seo Ah sudah bergetar di tempatnya. Mata dan pikiran Se Hun sudah digelapkan oleh amarah. Ia pun akhirnya mendorong kursinya dengan kasar dan memunggungi Seo Ah. Entah apa yang bisa ia lakukan pada Seo Ah kalau menatap wajah wanita itu sekarang. Ia tidak ingin menjadi monster, tapi tidak tahu juga bagaimana menyembunyikan amarahnya ini.

“Bisa kau pergi sekarang?” tanya Se Hun dingin, masih memunggungi Seo Ah.

“Oh Se Hun….”

Rahang Se Hun mengeras. Ia pun memejamkan matanya sambil mencoba mengatur kembali nafasnya. “Kumohon… sebelum aku menyakitimu.”

Air mata Seo Ah sudah mengalir di pipinya. Dengan langkah bergetar, Seo Ah meninggalkan tempat itu. Ia bukannya takut terkena amukan Se Hun, tapi ia tidak mau Se Hun membencinya. Meninggalkan makanannya yang belum habis, Seo Ah mengambil tas dan mantelnya di ruang tamu lalu keluar dari rumah Se Hun.

Begitu mendengar pintu depan tertutup, Se Hun tidak bisa menahannya lagi. Dilemparnya kursi yang tadi ia duduki, lalu berteriak keras. Suaranya yang seolah bisa menyayat dinding hatinya sekaligus menggema di ruang kosong itu. Belum cukup dengan kursi, piring-piring yang masih berisi makanan itu dilibasnya dari meja makan. Se Hun seperti orang kesetanan. Mata, pikiran, dan hatinya benar-benar sedang ditutup kain hitam bernama amarah.

Kepalanya seolah ditusuk-tusuk, sangat sakit sekali. Kalau bisa Se Hun ingin merontokkan seluruh rambutnya. Choi Seo Ah memang benar-benar! Bagaimana bisa ia memutuskan sesuatu begitu saja, dan… apa yang dia katakan? Mendadak?! Apa sebegitu mendadaknya sampai tidak bisa mendiskusikannya dulu dengan Se Hun?!

Lupakan masalah pergi ke luar negeri—Se Hun bisa dengan mudah berpindah dari satu negara ke negara lain dengan jet pribadinya. Ia masih tidak habis pikir dengan keputusan sepihak Seo Ah. Wanita itu seolah tidak menghargai kehadirannya, dan juga posisinya. Se Hun seperti barang antik yang hanya berperan sebagai pajangan. Tidak berguna, selain menjadi hiburan di saat bosan.

Se Hun mulai mempertanyakan dirinya lagi; apa ini keputusan yang tepat karena memilih bersama Seo Ah?

***

Alarm, yang tergeletak mengenaskan di bawah meja, berbunyi di pukul setengah tujuh pagi. Pria itu masih merebahkan tubuhnya di atas kasur, tanpa bergerak, seperti orang mati. Semalaman ia tidak tidur sampai kantung matanya menghitam dan matanya berubah menjadi mengerikan. Bukan hanya tidak tidur, tapi juga menangis semalaman dan menghancurkan apapun yang diraihnya.

Kamar Se Hun seperti baru terkena badai musim dingin. Sangat berantakan. Selimutnya tergeletak di lantai, dengan beberapa pakaian yang Se Hun lemparkan dari lemari semalam. Ia tidak peduli dengan rasa dingin yang menusuk kulitnya karena terhalangi oleh rasa sakit yang luar biasa. Lampu tidur pria itu pecah karena bantingan kerasnya. Satu-satunya yang selamat dari amukan Se Hun adalah isi walk-in-closet pria itu.

Sampai alarm berhenti berdering pun Se Hun masih di posisi itu. Tanpa ada minat bangun dan bekerja. Bahkan mungkin untuk bernafas pun Se Hun tidak berminat. Wanitanya akan pergi, ke tempat yang tidak ia ketahui, dan entah sampai berapa lama. Se Hun juga tidak tahu jam berapa Seo Ah berangkat. Dan kemudian, Se Hun tertawa sendiri ketika mengingat itu semua. Apa yang ia ketahui sekarang? Bukankah ia sangat bodoh?

Se Hun membalikkan tubuhnya menjadi posisi menyamping. Sinar matahari tampak bias masuk ke sela-sela gordennya. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Tidur seharian di sini sampai ayahnya datang untuk membunuhnya? Atau sekalian saja tidak makan sampai seseorang menemukan mayatnya mati membusuk?

Ya, pada akhirnya, Se Hun mengikuti kemauan Seo Ah; menjadi tidak berguna—sama dengan yang dipikirkan wanita itu akan kehadirannya.

Se Hun sedang tenggelam di pikiran dalamnya ketika pintu kamarnya dibuka seseorang.  Se Hun tidak menoleh, meski mendengar jelas hentakkan nafas seseorang di belakang tubuhnya. Gerutuan orang itu pun didengarnya.

“Oh Se Hun! Kau sudah gila, ya?!”

Jun Myeon tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengumpat. Ia benar-benar tidak habis pikir kalau Se Hun membuat kekacauan sebesar ini. Dari pintu masuk sampai kamarnya, tidak ada satu ruang kosong pun untuk berpijak. Semua dipenuhi pecahan dan barang-barang lainnya. Lalu, begitu melihat sosok Se Hun yang meringkuk di atas kasur seperti orang bodoh, hilang sudah niat Jun Myeon untuk berbicara baik-baik pada atasannya itu. Percuma saja! Lebih baik berbicara kasar sekalian.

Ya! Kau tidak mau berangkat kerja?!” sambil menyingkirkan barang-barang di lantai, Jun Myeon memarahi Se Hun.

Tapi pria itu tidak menjawab.

“Bangunlah dan sarapan, setelah itu kita pergi.”

Hyeong, lebih baik kau yang pergi. Jangan ganggu aku.” Tidak berbalik, tidak menatap Jun Myeon, bahkan tidak ada keinginan di ucapannya, Se Hun pun menjawab.

Jun Myeon menghela nafas. Ia lalu duduk di pinggir kasur Se Hun. “Kau kira aku tidak tahu masalahmu? Makanya kubilang cepat, ayo kita kejar pujaan hatimu itu!”

“Tidak perlu, dia tidak menginginkanku.”

Ah, benar-benar! Se Hun dan Seo Ah memang satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya sama-sama keras kepala! Dan lagi, kenapa pikiran mereka belum juga dewasa?! Apa mereka pikir dengan terus seperti ini, keajaiban dari langit akan turun? Lalu hubungan mereka akan baik-baik saja sampai dunia kiamat?

“Direktur Oh, biar saya jelaskan pada Anda,” ucap Jun Myeon sarkastik, dengan nada yang biasa ia gunakan saat berada di kantor. “Apa Anda pikir ini kemauan Choi Seo Ah-ssi untuk meninggalkan Anda? Atau mungkin Anda berpikir Choi Seo Ah-ssi sangat tidak menghargai Anda?”

Pertanyaan Jun Myeon tepat mengenai sasaran, tapi Se Hun tetap bergeming.

Jun Myeon mengembuskan nafas panjang sekali lagi. “Justru karena Choi Seo Ah-ssi sangat menghargai Anda, jadi dia pergi untuk kebaikan. Maksudnya, mungkin saja dia tidak mau membuat Anda khawatir.”

“Tapi aku pacarnya.” Se Hun akhirnya mulai terpancing dengan obrolan Jun Myeon.

“Lalu Anda pikir apa masalahnya?”

Se Hun pun membalik tubuhnya, lalu duduk di atas kasur. Dengan dahi berkerut, ia menatap Jun Myeon. Apa maksudnya?

“Apa maksudmu?”

“Kalau Anda pikir ini bukan masalah harga-menghargai, apa yang membuatnya ia melarikan diri… lagi?”

Dipikir sekeras apapun, Se Hun tidak menemukan jawabannya. Tidak di dalam dirinya. Kembali ia tatap Jun Myeon, tapi pria itu malah menampilkan ekpresi yang tidak ia pahami juga. Tidak ada satupun yang mengetahui masalah mereka, bahkan Se Hun sendiri. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja, meski dihiasi pertengkaran kecil. Bahkan akhir-akhir ini Se Hun pun merasakan kemajuan yang pesat. Lalu apa yang membuat Seo Ah melarikan diri lagi?

Mungkin jawabannya masih sama seperti sebelumnya.

Se Hun tidak tahu, Se Hun tidak mengerti, dan Seo Ah tidak tahu dengan fakta itu.

Mereka salah paham. Dan tidak ada yang membahas hal ini.

“Pesawatnya berangkat pukul delapan. Tujuan Roma, nomor penerbangan KE 931.” Kata Jun Myeon, dengan senyum tipis. Akhirnya ia berhasil menyadarkan otak bebal Oh Se Hun.

Tanpa banyak bicara, Se Hun bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi. Ia mencuci wajahnya dengan asal, bahkan tidak mau repot-repot menggosok gigi. Ia kemudian menyambar mantelnya, juga dompet, ponsel dan kunci mobil dari atas meja. Dilupakan keberadaan dan jasa Jun Myeon yang membantunya menemukan pencerahan pagi ini.

Se Hun mengendarai mobilnya dengan cepat. Tidak peduli jalanan padat, tidak peduli dengan lampu lalu lintas yang sedang berganti warna, ia hanya menginjak gas mobilnya dalam-dalam. Mungkin kalau ini lintasan balap, Se Hun sudah memecahkan rekor tercepat. Hari ini adalah hari di mana dosa Se Hun bertambah dengan cepat. Umpatan dari pengendara lainnya terus saja diterima Se Hun sepanjang perjalanan.

Selama perjalanan itu pula, Se Hun tidak berhenti menghubungi Seo Ah. Tidak ada satu pun panggilannya yang tersambung. Ponsel Seo Ah dimatikan. Frustasi dengan hal itu, Se Hun hanya bisa menggeram lalu melempar earphone bluetooth-nya ke dashboard. Memang hanya Choi Seo Ah yang bisa membuat Se Hun marah setengah mati seperti ini.

Perjalanan yang biasanya ditempuh satu jam, kini hanya memakan waktu 45 menit oleh Se Hun. Ia bahkan tidak mau repot-repot memarkir mobilnya dengan benar dan langsung berlari masuk ke bandara. Dan kemudian ia merasa frustasi sendiri ketika menyadari kalau bandara bukanlah tempat sesepi pemakaman. Orang-orang bertebaran seperti daun berguguran di musim gugur. Sekali lagi, Se Hun mengeluarkan kalimat umpatannya.

Langkah kaki Se Hun bergerak ke arah papan pengumuman. Ia masih memiliki sedikit waktu. Se Hun pun akhirnya berlari menuju terminal yang ditunjuk papan pengumuman itu. Satu-satunya yang ada di pikiran Se Hun adalah harus cepat menemukan Seo Ah. Tidak peduli lagi dengan beberapa orang yang ditabraknya atau dosanya yang semakin besar karena umpatan terus mengalir dari mulutnya.

Di sisi lain, Seo Ah masih menunggu panggilan masuk pesawatnya. Ia sudah mengurusi segala urusan imigrasi, tapi entah kenapa ia masih merasa gelisah. Ini bukan karena ibunya dan Jeong Min tidak bisa menunggu sampai pesawatnya lepas landas, atau juga bukan karena ia merasa ada barangnya yang tertinggal. Seo Ah merasa hampa ditengah keramaian ini.

Perpisahan yang tidak baik dengan Se Hun semalam membuat dirinya tidak bisa tidur. Kepalanya sakit. Namun di satu sisi, ia tidak mau melepaskan kesempatan ini. Seo Ah ingin menata kehidupannya dari awal lagi, meski itu terdengar sangat egois.

Seo Ah bangkit dari kursinya, berniat membeli sesuatu yang hangat untuk mengurangi rasa gelisahnya. Saat ia berbalik, matanya membulat melihat Se Hun sudah berdiri di sana dengan nafas memburu. Ini terlihat sangat klise, seperti sebuah adegan dalam drama murahan. Seo Ah yang berdiri seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri, dan menduga-duga kenapa Se Hun bisa ada di sini. Dan Se Hun yang berusaha menahan amarahnya agar tidak menjadi pusat perhatian.

Tapi sekeras apapun Se Hun mencoba, amarahnya tetap memuncak sampai ke kepala.

Dengan langkah lebar-lebar, Se Hun menghampiri Seo Ah yang membeku di tempatnya. Bukan karena Seo Ah bermaksud begitu, tapi jantungnya seperti berhenti berdetak, membuat seluruh kerja tubuhnya menjadi kacau. Harus Seo Ah akui, hanya Se Hun yang bisa membuat hidupnya berantakan. Ia bahkan tidak pernah merasakan debaran seperti ini saat bersama Jong In.

”Apa kau gila?!” bentakan Se Hun sukses membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. “Kau mau pergi begitu saja setelah pertengkaran semalam?!”

Seo Ah masih bungkam dan menundukan kepalanya. Matanya hanya menatap ujung sepatu Se Hun di dekatnya. Dalam posisi seperti ini, Seo Ah masih bisa merasakan nafas Se Hun yang memburu di depannya. Postur pria itu yang lebih tinggi darinya membuat Seo Ah seolah sedang berhadapan dengan tembok tinggi yang menekannya. Tapi meski begitu, rasa hangat mengalir keluar dari hati Seo Ah. Rasanya ia ingin menangis di pelukan Se Hun, kalau tidak mengingat apa yang telah ia lakukan semalam.

“Apa kau serius, Choi Seo Ah?!” ulang Se Hun, karena Seo Ah belum juga menjawabnya. “Mematikan ponselmu, tidak mengabariku apapun, dan sekarang ingin pergi tanpa memberiku kalimat perpisahan?! Benar-benar!”

“Maafkan aku…,” jawab Seo Ah akhirnya. “Ini juga demi kebaikanmu.”

“Apanya yang ‘kebaikanku’?!” suara Se Hun yang keras membuat Seo Ah tersentak. Pria itu pun menghirup nafas panjang, berusaha untuk tidak memakan kepala Seo Ah. “Dengarkan aku, Choi Seo Ah, tidak ada yang namanya ‘baik’ kalau kau tidak ada di sampingku!”

Tubuh Seo Ah bergetar. Ini bukan karena bentakan Se Hun, tapi karena dirinya sendiri. Dadanya terasa sesak kalau mengingat alasan ia melarikan diri seperti ini, bahkan tanpa ucapan perpisahan yang manis dengan Se Hun. Ia akan merasa seperti wanita jahat kalau terus berada di sini. Ia tidak ingin membuat Se Hun maupun Ji Eun bersedih, keduanya saling memiliki.

“Kau dan Ji Eun… harusnya bisa kembali bersama….”

Se Hun menggeram frustasi mendengar kalimat itu. Ji Eun lagi, Ji Eun lagi! Memangnya yang ada di otak Seo Ah hanya nama sahabatnya itu saja?! Apa pernah sekali saja Se Hun ada di sana?!

“Sudah kubilang beberapa kali…,” saking geramnya, Se Hun berbicara dengan rahang terkatup. “Aku sudah tidak ada hubungan dengan wanita itu!”

“Tapi kalian pernah bersama!”

“Itu masa lalu, Choi Seo Ah! Sekarang kau yang berhubungan denganku! Dirimu!”

Mungkin sebentar lagi petugas bandara akan datang menghampiri mereka lalu menyeret mereka keluar dari sana. Keduanya berhasil menciptakan drama murahan tanpa kamera. Orang-orang memperhatikan mereka dan mulai berbisik-bisik. Pertengkaran mereka terlihat seperti dua anak kecil yang sama-sama keras kepala. Dan Se Hun yang terlihat paling mengerikan di sini.

“Tapi bagaimanapun, mana mungkin kalian berakhir hanya gara-gara itu?!” tidak tahan dengan bentakan Se Hun dan kekerasan kepalanya, Seo Ah mulai berteriak juga. “Kalian pasti saling mencintai, dan rasa itu tidak akan mudah terhapus begitu saja!”

“Ini hatiku, jadi ini masalahku!”

Seo Ah mulai marah dengan jawaban Se Hun. “Lalu kau tetap ingin membuang Ji Eun?! Setelah tahu dia pernah mengandung anakmu?!”

Ekspresi keras Se Hun langsung berubah saat itu juga. Seperti mainan yang kehabisan energi, Se Hun tidak bergerak, hanya mengedipkan matanya berkali-kali seperti meminta Seo Ah menjelaskan lebih jauh. Tapi karena wanita itu sudah dikuasai emosi, tidak ada satu pun kata lagi yang diucapkannya. Malah, Seo Ah berjalan melewati Se Hun, meninggalkan tempat itu dengan wajah yang dipenuhi air mata.

Lima detik kemudian, jiwa Se Hun kembali ke tubuhnya. Ia pun segera mengejar Seo Ah, menarik tangan wanita itu, lalu memeluknya erat. Wanita itu tentu memberontak, tapi pelukan Se Hun jauh lebih kuat dari yang dibayangkan Seo Ah.

“Tolong dengarkan aku dulu!”

Merasakan Seo Ah tidak lagi memberontak, Se Hun melonggarkan pelukannya, tapi tidak sampai melepaskannya. Ia tidak mau Seo Ah kabur lagi sebelum ia selesai menjelaskan. Salah paham ini benar-benar fatal! Lagipula dari mana Seo Ah dapat informasi itu?! Tidak mungkin Ji Eun sendiri yang mengatakannya, belum lagi dengan cerita yang salah ini.

Se Hun membungkukan tubuhnya agar bisa melihat wajah Seo Ah dengan jelas. Tidak hanya itu, ia pun mengangkat dagu Seo Ah sehingga mata mereka saling bertemu. “Aku dan Ji Eun tidak pernah mempunyai hubungan seperti itu.”

“Tapi—“

“Sst!” Se Hun menggeleng, menyuruh Seo Ah menutup mulutnya. “Memang benar Ji Eun pernah hamil, tapi itu bukan karenaku.”

“Apa maksudmu?!” Seo Ah mendorong tubuh Se Hun keras-keras. “Jadi kau mau mengatakan kalau temanku semurahan itu?!”

“Tidak, bukan begitu….” Se Hun menggeleng sambil mengusap wajahnya, merasa lelah. “Ji Eun dijebak. Kau ingat kenapa dia bisa terluka waktu itu? Itu gara-gara pria yang menjebaknya! Dia ingin memeras Ji Eun.”

Melihat bola mata Seo Ah mulai tidak fokus, Se Hun kembali membawa wanita itu ke pelukannya. Ia tidak punya pilihan lain selain menceritakan yang sebenarnya. Hubungannya dirinya dengan Seo Ah jauh lebih penting dari apapun di dunia ini. Ia tidak peduli lagi kalau dunia menyebutnya pria jahat setelah ini.

“Maafkan aku karena tidak menceritakannya dari awal…,” ucap Se Hun lembut, ia menghirup aroma rambut Seo Ah dalam-dalam. “Aku tidak ingin kau juga membenci Ji Eun.”

“Kenapa bisa seperti ini….” membalas pelukan Se Hun, Seo Ah pun menangis di pelukan pria itu. Sekarang apa lagi? Ia tidak ada di saat Ji Eun membutuhkannya, dan malah menyalahkan dua orang yang disayanginya. Seo Ah benar-benar kehilangan arah.

Se Hun mengangkat wajah Seo Ah. “Jadi kau tidak akan pergi, kan?”

Seo Ah tidak bisa menjawab untuk sesaat. Mungkin penjelasan Se Hun itu merupakan satu cahaya terang untuk hidupnya, tapi… hatinya masih belum setenang itu. Sampai sebuah pengumuman keberangkatan pesawatnya terdengar, Seo Ah belum bisa menentukan pilihan hatinya.

“Kurasa tidak bisa….” seperti baru mendapatkan kekuatan lewat pengumuman itu, Seo Ah pun menjawab.

“Maksudnya?”

“Aku akan tetap pergi.”

Ya! Choi Seo Ah!”

Seo Ah menggigit bibir bawahnya, memikirkan satu alasan yang masuk akal. “Pesawatku akan berangkat.”

“Kau kan bisa membatalkannya!”

Tidak bisa! Ia tahu seberapa keras kepalanya Oh Se Hun. “Tapi biayanya sangat mahal. Akan sangat sayang kalau aku tidak jadi pergi.”

Se Hun menggeram kesal. “Lalu apa masalahnya?! Ini hanya masalah uang… aku bisa menggantinya!”

“Bukan begitu, Oppa.”

“Pokoknya kau tidak boleh pergi!”

Se Hun kembali memeluk Seo Ah erat-erat. Ia pun menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Seo Ah. Apa arti semua usahanya ini kalau Seo Ah tetap akan pergi? Ia rela terlihat sangat tidak tampan seperti ini untuk membawa Seo Ah kembali pulang. Ia bahkan menjadi bahan olok-olokan orang-orang di sini. Sungguh, sampai kapanpun ia tidak akan memaafkan Choi Seo Ah. Oleh sebab itu, wanita itu harus terus berada di sampingnya, agar Se Hun bisa menghukumnya seumur hidup.

“Oh Se Hun, aku harus naik ke pesawat.”

Se Hun menggoyangkan tubuhnya, masih sambil memeluk Seo Ah. “Tidak mau! Pokoknya tidak boleh pergi!”

“Ayolah… jangan kekanakan begini.”

“Memangnya kau mau pergi ke mana? Cepat katakan! Agar aku bisa menyusulmu!” Untuk kesekian kalinya, Se Hun menunjukkan sisi kekanakannya pada Seo Ah. Bibirnya mengerucut, namun tangannya tidak mau melepaskan Seo Ah sedikit pun.

“Roma.”

Se Hun mendesah. “Kenapa jauh sekali….”

Setelah beberapa lama, akhirnya Seo Ah bisa tersenyum juga. Ini aneh, rasanya seperti ini adalah senyum yang Seo Ah tunjukkan selama 27 tahun kehidupannya. Hatinya sangat ringan dan hangat dalam waktu bersamaan. Merasakan tangan Se Hun yang memeluknya, melihat wajah pria itu—meski sedang cemberut—adalah sebuah anugrah baginya. Dan entah dari mana datangnya, Seo Ah seolah mendapat bisikan kalau mulai detik ini hidupnya akan jauh lebih cerah.

Dan kemudian, tanpa Se Hun ketahui sebelumnya, Seo Ah sudah menempelkan bibirnya di permukaan bibir Se Hun. Sangat lembut, sampai membuat Se Hun melupakan pijakannya. Tangan wanita itu menggenggam rahang Se Hun dengan lembut tapi Se Hun bisa merasakan kekuatan di sana. Tidak ingin ini berakhir, Se Hun segera melingkarkan tangannya di pinggang Seo Ah, membawa wanita itu lebih dekat dengannya.

Ciuman yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. Ciuman yang akan terus membekas di hati mereka, menggantikan kenangan ciuman pertama mereka saat itu. Se Hun yakin ia akan merindukan ciuman Seo Ah ini, tapi ia juga berjanji akan mendapatkannya tidak lama lagi. Dan kalau perlu, ia akan mendapatkannya setiap pagi.

Waktu terasa berhenti di sekitar mereka. Dunia mengabur saat itu juga. Seperti lukisan yang dilukis dengan tegas, keduanya saling merasakan keberadaan masing-masing.

“Kau harus memastikan kembali ke sini segera mungkin.” Ucap Se Hun setelah melepaskan ciuman mereka sesaat.

Seo Ah tidak mampu berkata-kata karena perasaannya yang meluap-luap itu. Ia hanya mengangguk sebelum kembali mencium Se Hun. Ini bukan sebuah ciuman perpisahan, tapi sebuah tanda awal baru yang akan dimulai tidak lama lagi.

 

 


 

*Hehehe gak mau ngomong banyak deh. Soalnya ini gaje parah dan aku nulisnya ngebut wkwkwk pendek, kan? Eitsss masih ada epilog nanti hehe

 

Kritik dan saran diterima

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com / wattpad: ziajung)

21 responses to “Honey Cacti [Chapter 12]

  1. wahh akhirnya permasaalahan sudah selesai semoga aja ni jadi happy endinglah. perjuangan sehun buat dapatin seo ah emang berbuah manis 💪💪💪💪😍😍😍

  2. Arrrggghh, ini ending yaaa?
    Ini cepat banget dan, pengennya sehun-seoah moment panjang. Sehun aa finally, perjuangan mu tidak sia-sia, terhura akunya. epilog nya please lebih panjang yaaa,, fighthing!💪👍

  3. epilognya donk epilog… klo cumn smpe dsini srasa mati penasaran… jgn lma2 perginya seo ah… huhuhu kasian lonely sehun..😂😂

  4. Hahahhaha kasian dikira sehun dia udh mgomong gitu engga jadi pergi engga taunya pergi juga seo ah nya 😆😆😆😆😘😘😘😘😍😍😍😍

  5. Sangat di nantikan epilog nya.. Hahahaha adeuhhhh degdegan bacanya.. gemes bacanya
    Epilog epilog hehehehe kemauan keras oke hwaiting epilog nya

  6. Lah…kiraku seo ah bakalan ga jdi pergi
    Tpi yah…mereka mmng sama-sama keras kepala mau digimanain lg coba 😆😆😆
    Tuh kn…kalo sehun marah aku juga atut
    Tpi kalo sifat kekanakannya nongol,berasa pengen ketawa aja hihihi
    Okay…ini end apa belum yah???
    Kata eon kn ini chap terakhir???
    Tpi g pp kok,ini ga geje eon…aku malah tegang sendiri ngebayangin sehun ngamuk kesetanan ky gini,mmng hanya seo ah y bisa bikin sehun kehilangan akal sehatnya 😅😅😅😅😅

    Okay semangat trus eon..
    Hwaiting.

  7. Waaaaaaaa ahirny ff ini di update juga. Sumpah demi apa aku baca dr atas smpe bawah gak kedip2 ni mata. Greget bgt sm karakter sehun disini. Seo ah juga nih knp hrs ningglin sehun uuu. Next chp ditunggu eonni. Semoga lastchp happy ending😇

  8. Uhhh… Gemes deh sama mrk berdua, gak tau knp suka banget sama couple ini.
    Ngeri banget kalosehun udah mulai marah, same satu rumah ancur cuman karna seorg seo ah, kereennnn
    Kookk aku gak rela yaa ini menuju ending

Leave a Reply to novi2017 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s