Single Parent [Chapter 10] ~ohnajla

 

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), others cameo

Chapter 1-5  Chapter 6 Chapter 7 Chapter 8 Chapter 9

I can’t live without you….

**

Mungkin harapan Yoonjung sudah mulai terwujud. Interaksi antara Yoongi dan Sena akhir-akhir ini makin intens. Mereka tidak hanya menggunakan alasan ‘Yoonjung’ untuk bertemu. Yoongi sering mampir ke apartemen Sena sepulang dari kantor, entah itu memberikan sepaket makan malam yang dibelinya di jalan atau hanya datang untuk menyapa. Tapi duda berkarisma ini lebih sering datang sambil membawa makanan. Terkadang dia datang sambil membawa bahan-bahan makanan untuk mengisi kulkas Sena. Ia menjadi pria yang sangat perhatian, pada hal-hal kecil sekalipun. Tidak heran kalau makin hari Sena makin menyukainya.

Seperti hari ini di mana Yoongi tiba-tiba muncul di depan pintu apartemen Sena.

Ahjussi, ige mwoeyo?” tanya Sena saat Yoongi datang sambil membawa kantong plastik hitam yang langsung diberikan padanya.

Yoongi sendiri dengan santainya melenggang masuk ke apartemen Sena seolah itu adalah rumahnya sendiri. Ia melepaskan jas dan dasinya sebelum ambruk di atas sofa.

“Lihat saja sendiri.”

Sena pun menghampirinya sambil mengintip isi kantong plastik itu. Ia terperangah mendapati dua botol minuman pereda nyeri, vitamin C dan obat tambah darah. “Ini….”

Yoongi tersenyum mendapati ekspresi gadis itu. “Eo. Kau harus mengonsumsi itu selama masa datang bulan. Aku tidak mau melihatmu pucat dan lemas lagi seperti lusa kemarin. Hanya akan membuatku khawatir.”

Kedua tulang pipi Sena perlahan memerah. Ia tak bisa menutupi senyumnya. “Kamsahammida. Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini, Ahjussi.”

Yoongi pun melambaikan tangannya, meminta Sena datang sementara dia merubah posisinya menjadi duduk. Sena pun menghampirinya dan duduk di sampingnya. Yoongi memutar duduknya agar bisa berhadap-hadapan dengan Sena. Ia memperhatikan wajah Sena dengan teliti, membuat yang dipandangi jadi risih dan cemas. Tapi setelah itu pria ini tersenyum.

“Kurasa kondisimu sudah jauh lebih baik dari lusa kemarin.”

Sena mengangkat kedua alisnya, lalu setelah berpikir cepat, dia akhirnya menyadari maksud Yoongi. “Ah … ne. Seharian ini aku merasa lebih baik.”

Joha. Kau memang harus menjaga kesehatanmu.”

Keundae ahjussi, bukankah sekarang sudah malam? Yoonjung pasti di rumah sendirian.”

Yoongi tersenyum sambil menyibakkan rambut Sena yang ada di bahu ke punggung. “Kau mencemaskan Yoonjung seperti yang seorang ibu lakukan. Gwaenchana. Dia bilang dia punya janji dengan Jimin untuk pergi ke bioskop malam ini, mungkin dia baru sampai di rumah dua jam lagi.”

“Ah … jinjja-yo? Hm … tapi mereka tidak memberitahuku.”

Pria itu menggendikkan bahu sambil tersenyum misterius sebelum berbaring kembali di sofa tersebut. “Mungkin anak itu sengaja tidak memberitahumu.”

“Ah … begitu ya. Ahjussi, kau sudah makan malam?”

“Belum. Neo?”

Nado. Kalau begitu, kau ingin kubuatkan sesuatu?”

“Hm. Apa saja, buatkan aku apa saja. Akan kumakan,” jawab Yoongi disertai senyum manisnya.

Sena pun segera pergi ke dapur untuk membuat makan malam untuk mereka. Kebiasaannya sebelum memasak adalah mengikat rambut ala ponytail. Yoongi memperhatikan bagaimana kuciran rambut bergelombang Sena bergerak kesana kemari saat gadis itu berjalan. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dulu Siyeon juga seperti itu. Mengikat rambut sampai leher jenjangnya terekspos, dan tidak peduli saat keringat bercucuran di lehernya.

Sejujurnya melihat keringat mengucur dari leher seorang wanita saat memasak membuat jantungnya berdebar-debar.

Ahjussi,” panggil Sena saat gadis itu tengah memotongi bahan-bahan makanan.

“Hm?”

“Kau anak nomor berapa di keluarga?”

“Ah … aku anak tunggal. Wae?

“Apakah dulu kau kesepian karena tidak punya saudara?”

Eo. Tidak ada saudara, tidak ada teman.”

Sena terdiam dengan tangan yang masih sibuk memotongi bahan-bahan bumbu. Sementara Yoongi sendiri betah memandanginya.

“Aku … meskipun punya saudara, selalu merasa kesepian,” celetuk Sena akhirnya setelah beberapa menit apartemen tersebut diliputi keheningan.

Wae? Bukannya adikmu ada dua? Kau bahkan berteman dekat dengan Jimin.”

Gadis itu menampilkan senyum miring. Kemudian dia menyingkirkan potongan bahan-bahan itu ke sisi lain konter. Ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil ayam mentah.

“Tapi mereka adalah namja, sedangkan aku yeoja. Kalaupun mereka bermain denganku, peranku hanya sebagai korban saja. Mereka menertawakanku jika aku jatuh, menghinaku karena tidak bisa bermain dengan benar seperti mereka. Aku hidup seperti itu saat kecil.”

“Kau pernah menangis karena mereka?”

Ne. Aku sering menangis. Tapi….”

“Tapi?” sahut Yoongi tak sabaran.

Gadis muda itu kembali tersenyum miring. “Baru begitu saja sudah menangis. Sudah seharusnya kau mengalah. Lihat? Adikmu terluka karenamu tapi dia tidak menangis! Minta maaf! Hanya itu yang kuingat di masa kecilku. Kurasa terakhir aku menangis sebelum pergi ke Jepang.”

“Begitulah konsekuensi anak pertama,” jawab Yoongi sambil beranjak dari sofa dan mengayunkan tungkainya menuju dapur. “Kau harus mengalah pada semua hal yang kau punya,” lanjutnya begitu ia berhasil menghempaskan pantatnya di atas kursi konter.

“Aku tidak mengapa jika semua yang kupunya diambil, hanya saja … aku juga ingin mendapat sedikit perhatian. Terkadang aku iri melihat Yoonjung mendapat banyak kasih sayang darimu. Dia menjadi anak yang ceria karena ahjussi membesarkannya dengan baik.”

Meskipun mereka kini hanya terpisah konter, keduanya sama sekali tidak melakukan kontak mata. Sena terkesan menghindari Yoongi. Sejak tadi dia tak hentinya menurunkan pandangan padahal dia sendiri sadar kalau Yoongi terus menatapnya. Entahlah, Sena hanya takut jika dia melihat Yoongi pertahanan dirinya akan runtuh.

Aniya. Aku tidak sebaik itu. Dia masih butuh seorang ibu tapi aku tidak bisa memberikannya sampai detik ini,” jawab pria itu sambil menopang dagu. Matanya menatap lurus pada Sena, tatapan penuh arti.

Maja-yo. Dia butuh seorang ibu yang bisa memberinya kasih sayang dan perhatian yang tidak bisa kau berikan, Ahjussi.” Gadis itu menjeda kalimatnya untuk mengangkat kepala, membalas tatapan Yoongi dengan sendu. “Dan wanita itu haruslah wanita dewasa.”

Mendadak perasaan Yoongi jadi aneh. Dia tidak suka Sena bicara begitu. Entah kenapa dia tidak setuju dengan pernyataan terakhir. “Mworago? Siapa yang kau maksud dengan wanita dewasa? Wanita seusia Siyeon?”

Sena tidak tahu ekspresi tidak suka Yoongi karena dia sudah kembali melihat ke bawah. “Biar bagaimanapun, wanita dengan usia matang jauh lebih baik dari gadis remaja, Ahjussi. Aku sendiri belum masuk usia dewasa, bagaimana bisa aku menjadi ibu Yoonjung? Setelah kupikir-pikir, itu tidak masuk akal sekali.”

Yoongi menyeringai sambil mendengus tak percaya. Kemudian ekspresinya berubah serius. “Na arra. Aku juga tahu kalau kau masih remaja. Tapi apa menurutmu aku akan memaksamu menikah denganku sekarang? Aku juga tahu kalau itu tindakan bodoh. Tapi Yoonjung menginginkanmu. Dia sangat ingin kau menjadi ibunya padahal dia tahu sendiri berapa usiamu. Nado. Aku juga menginginkanmu, manhi.”

Dalam sekejap Sena berhenti memotongi daging ayamnya. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan bersitatap dengan Yoongi. Yoongi sendiri menghela napas dan malah menghindar untuk berkontak mata.

“Aku sudah mencoba dekat dengan wanita-wanita lajang seumuranku. Tapi aku tidak sedikitpun punya ketertarikan pada mereka. Lebih tepatnya aku tidak yakin apakah Yoonjung bisa menyukai salah satu dari mereka, dan aku juga mempertanyakan apakah mereka bisa mengerti Yoonjung nantinya. Tidak mudah untuk seorang wanita menerima anak dari pernikahan pertama suaminya, apalagi anak itu sudah usia remaja seperti Yoonjung. Aku tidak suka kehidupan keluarga kacau seperti di drama-drama. Lebih baik aku saja yang menderita daripada anak gadisku yang menderita.” Ia menjeda kalimatnya untuk menatap Sena serius. “Demi apa pun, aku tidak akan membiarkan Yoonjung menderita di sisa usianya jika ibu tirinya mengambil semua kekayaan yang kubangun setelah aku mati.”

Kalimat terakhir Yoongi sebelum beranjak itu membuat Sena mematung di tempat. Benar jika kedua obsidiannya menyimak Yoongi yang tampak terburu-buru memungut jas dan dasinya sebelum beranjak keluar. Namun bibirnya kelu untuk sekadar menahannya pergi. Dia bahkan sama sekali tidak berkutik setelah terdengar pintu dibanting dari depan.

Apakah barusan ahjussi marah? Apa itu artinya ahjussi benar mencintaiku? Kenapa saat marah  pun dia tetap tampak berkarisma?

Sena menghela napas. Merasa aneh dengan dirinya sendiri.

Appa … jika aku jujur padamu kalau aku menyukai pria yang hanya 2 tahun lebih muda darimu dan memiliki seorang anak yang seusia Taehyung, apakah kau akan menamparku seperti dulu?

Kemudian Sena menyadari sesuatu.

Ahjussi belum makan malam.

Siapa bilang Yoongi pulang ke rumah? Dia masih berada di dalam mobil, lebih tepatnya di area parkir apartemen Hwa Yang Yeon Hwa. Dirinya masih belum ingin beranjak dari sana. Tubuhnya terasa lelah saat ini karena sejak pagi tadi pikirannya terus ditekan oleh banyak hal. Masalah saham perusahaan yang anjlok, ibu Siyeon yang tiba-tiba meneleponnya hanya untuk menyuruhnya menyerahkan Yoonjung, dan sekarang karena Sena.

Ia tidak marah pada Sena. Hanya saja dia tak habis pikir dengan jalan pikir Sena. Sudah jelas-jelas Yoonjung menyukainya, dia juga menyukainya, tapi kenapa muncul pemikiran seperti itu di kepala Sena? Apakah kepala gadis itu tadi baru saja terbentur sesuatu? Lalu apa artinya pelukan mereka di hari itu jika Sena masih meragukannya?

Sungguh, Yoongi tidak pernah sekalipun bermain-main dengan perasaannya.

Kenyataannya, dia juga menyukai Sena. Belum masuk ke tahap mencintai memang. Tapi Yoongi bertekad jika suatu hari nanti dia akan mencintai gadis itu dengan seluruh jiwa dan raganya. Yang dibutuhkannya hanyalah waktu. Toh dia juga paham, dibanding dirinya, Senalah yang lebih membutuhkan waktu.

Ia pun menghela napas. Seolah dari hembusan napas yang keluar bebas dari mulutnya itu semua tekanan di kepalanya akan menghilang. Kemudian dia memejamkan matanya untuk sejenak mengatur emosi.

Tapi baru beberapa detik, suara ketukan di jendela mobilnya mengusik. Ia pun membuka matanya perlahan dan menoleh ke asal suara. Siluet Sena terlihat di sana. Gadis itu menempelkan tangannya ke jendela untuk mencoba melihat Yoongi di balik kaca yang gelap. Dengan tidak tahu malu ia bahkan membuat embun dengan napas hangat dari mulutnya lalu menggosoknya dengan kain baju, mengira jika dengan melakukan itu dia bisa melihat siluet Yoongi.

Sayang sekali, yang ada Yoongi justru menertawakan tingkahnya. Pria itu pun menurunkan kaca jendela saat si bodoh yang merupakan teman anaknya itu akan mengulangi tingkah idiotnya.

“Mau kau melakukan itu sampai beribu kali pun, kau tidak akan bisa melihatku dari sana, gadis bodoh. Kenapa kau begitu idiot, huh? Ada apa menyusul kemari? Aku mau pulang.”

Sena langsung menempatkan kedua tangannya di pintu mobil Yoongi, dia menggeleng, memaksa Yoongi untuk tidak menutup jendela lagi. “Ahjussi baru boleh pulang setelah makan malam. Aku tidak akan membiarkanmu kelaparan sampai besok pagi.”

Yoongi mendengus geli dengan senyum secuprit di wajahnya. “Memang apa pedulimu, huh? Kau siapa? Istri saja bukan.”

Jleb. Gadis muda itu menelan ludahnya susah payah. “N-ne! Maja-yo! Aku memang bukan siapa-siapa Ahjussi apalagi istri dari Min Yoongi sajangnim! Tapi aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan perut kosong, Ahjussi. Aku bahkan meninggalkan rebusan ayamnya hanya untuk mengejarmu kemari.”

Kedua mata Yoongi membelalak lebar. “Mworago?! Jadi kau membiarkan kompornya menyala?! MICHEOSSEO?!!!

Sena mematung di tempat setelah mendengar Yoongi meneriakinya. Kemudian dia perlahan mengangguk. “Ne. Aku tidak sempat mematikan kompornya karena aku tidak mau kehilangan jejakmu.”

Yoongi mendengus tak percaya. Dia menatap Sena tajam setelahnya sambil menggumamkan, “Gadis menyusahkan” sebelum membuka pintu dengan terburu-buru dan berlarian dengan kecepatan penuh memasuki gedung apartemen. Pria itu tidak mau repot-repot membuang waktu dengan menunggu lift yang entah sedang berada di lantai berapa. Dia langsung menerobos jalur darurat untuk segera ke lantai 3. Sena mengikutinya di belakang dengan susah payah karena ia berlari dengan seluruh tenaga yang ia punya.

Sayangnya, meskipun dia sampai lebih awal di depan pintu apartemen Sena, dia tidak bisa masuk dengan mudah. Pintunya terkunci, dan satu-satunya cara agar terbuka adalah dengan mengetikkan sandi. Dia menoleh ke belakang, berharap batang hidung Sena ada di sana namun nihil. Ia pun reflek menggigiti ujung kuku ibu jarinya seraya memikirkan sandi apartemen Sena.

Tanggal ulangtahunnya?

Tapi aku tidak tahu kapan dia berulang tahun.

Tanggal masuk sekolah?

Kapan? 18 Maret?

Saat Yoongi mencoba mengetik deretan angka yang muncul di kepalanya, yang muncul setelahnya adalah peringatan sandi salah. Kembali dia memutar otak sambil menggigiti ujung kuku ibu jarinya.

Jika bukan itu, lalu….

“Hanya aku yang diberitahu sandi apartemennya. Hari saat dia bertemu dengan ayah untuk pertama kalinya.”

Yoongi seketika menjentikkan jarinya puas. Ia pun segera mengetik enam formasi angka tanggal pertemuan pertamanya dengan Sena.

PIP!

Bunyi unlock akhirnya terdengar. Ia pun menghela lega, dan tanpa membuang banyak waktu lagi dia segera memutar gagang pintunya. Tepat saat dia masuk, Sena baru sampai di lantai 3. Gadis itu berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terengah-engah, sebelum menyeret paksa kedua tungkainya menuju pintu apartemennya yang dibiarkan terbuka.

Tepat saat Sena menutup pintu dari dalam, dia bisa mendengar deru napas Yoongi dari dapur. Ia pun memaksakan kedua kakinya untuk berjalan lagi menuju dapur. Di sanalah Yoongi, tengah duduk di lantai bersandarkan buffet. Kedua mata mereka saling bertemu. Sena bisa merasakan kekesalan yang berarti di kedua obsidian pria itu. Dia pun mendekat dengan kepala tertunduk dalam.

“Kau tahu apa yang akan terjadi karena ulahmu ini? Gedung apartemen ini bisa kebakaran! Kenapa kau sangat ceroboh, hah?! Sebenarnya apa yang ada di kepalamu itu? Apakah kepalamu bahkan ada isinya?! Kalau idiot jangan keterlaluan!”

Sena bergeming. Kedua tangannya sibuk saling meremas satu sama lain dengan perasaan takut. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, sebisa mungkin berusaha untuk tidak menangis.

Yoongi menghela napas sembari memalingkan wajah. Ia melepaskan kancing kerahnya agar pernapasannya berjalan lancar. “Lupakan soal makan malam. Aku tidak lagi berselera.”

Ne, joesonghammida,” jawab gadis itu akhirnya meskipun lebih terdengar seperti cicitan. Kedua matanya kini berkaca-kaca dengan pelupuk yang berembun.

Yoongi bukanlah orang yang tidak peka seperti yang Yoonjung bilang. Dia menyadari betul nada suara Sena yang bergetar saat menjawabnya. Ia pun berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat. Langkahnya terhenti saat mereka sudah berada di jarak yang sangat dekat namun tidak saling bersentuhan. Yoongi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku saat dirinya mencoba menelisik wajah Sena. Akan tetapi Sena terus menunduk membuatnya kesulitan. Ia pun berdecak sebelum tiba-tiba menjatuhkan dahinya di bahu sempit Sena. Kemudian ia menoleh, mengamati wajah Sena dari samping. Bibirnya menyunggingkan senyum getir saat didapatinya setetes cairan mengalir turun dari pelupuk mata si gadis. Oh Min Yoongi, sepertinya kau baru saja membuat seorang gadis menangis. Dasar duda tak sadar umur.

“Kenapa menangis?” cicitnya dengan suara rendah seksinya sambil menggerakkan satu tangannya untuk menghapus air mata Sena. Sayangnya dia ditolak. Sena lebih memilih memalingkan wajah darinya. Ia tersenyum miris.

(play EXO – Tell Me What is Love)

Tak mau memaksa, ia pun kembali menyelipkan tangannya dalam saku celana.

Mianhae. Aku sangat cemas sampai kelepasan berteriak padamu. Sungguh, aku tidak bermaksud melukai perasaanmu. Mianhae. Uljima, jebal.”

Sena tetap bergeming. Gadis itu bahkan menyeka air matanya sendiri dengan kasar. Sepertinya dia benar-benar sakit hati dengan kalimat-kalimat yang Yoongi lontarkan saat marah tadi.

Yaa, uljimalgo. Sena~”

Gadis itu mendorong Yoongi untuk menjauh, tapi Yoongi hanya beranjak sebentar dan kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Sena.

“Aku tidak akan beranjak sedikitpun dari tempatku berdiri jika kau tidak melihatku. Arasseo, aku tidak akan menyuruhmu berhenti menangis. Tapi, lihatlah aku~~~”

Sena memang memutar kepalanya, tapi tidak untuk melihat Yoongi. Dia kembali tertunduk untuk menguras air mata lebih banyak. Ia terisak dengan keras karena sejak tadi terus menahan diri. Yoongi bahkan bisa merasakan guncangan hebat di tubuh Sena. Gadis itu benar-benar menumpahkan semua emosinya.

Yoongi ttaemune.

Kini Sena tidak lagi menghindar saat Yoongi menyeka air matanya. Ia bahkan membiarkan pria itu membersihkan ingusnya dengan tisu.

“Ya, bagus. Menangislah sepuasmu sampai kau merasa lebih baik. Aku tidak akan berkomentar apa-apa. Anggap saja di sini aku tidak ada.”

Tahu-tahu Sena memukuli bahu Yoongi. Bukannya kesal atau sejenisnya, Yoongi justru bersorak menyemangati. “Joha! Joha! Pukul lebih keras! Lakukan sampai kau merasa lebih baik.”

Nappeun saram.”

Keuchi! Keluarkan semuanya, keluarkan! Sumpahi aku sepuasmu, Sena. Menangislah! Pukul aku! Sumpahi aku! Marahi aku! Tapi … jangan sekalipun pergi dariku.”

I can’t live without you….

Bisikkan yang dilontarkan Yoongi di akhir membuat tangis Sena makin pecah. Ia juga memukul sekaligus menyumpahi Yoongi dengan semua kata kasar yang dia ketahui. Seperti yang Yoongi suruh, ia mengeluarkan semua emosinya malam ini. Sebenarnya semua emosi itu bukan hanya karena disebabkan oleh Yoongi tadi. Dia kembali teringat pada semua hal yang membuatnya sakit hati di masa lalu. Rasa sakit yang tak bisa diungkapkan karena diskriminasi terang-terangan yang dilakukan orangtuanya padanya, kekecewaan pada ibunya yang tidak peduli dan malah menyalahkannya saat dia diganggu oleh sekelompok laki-laki dewasa, amarah yang harus tertahan selama bertahun-tahun pada kedua adiknya yang pernah mencoba melecehkannya, semuanya dia kuras sekarang sampai habis tak bersisa.

Cukup ampuh. 90 menit kemudian akhirnya dia berhenti menangis juga. Sekarang giliran dia yang menitipkan kepalanya di bahu Yoongi. Posisinya duduk di atas konter sementara Yoongi berdiri di hadapannya. Yoongi-lah yang menempatkan Sena di sana, tidak sulit mengangkat Sena toh sebelumnya dia juga sudah pernah melakukannya.

“Ah, kakiku kesemutan,” cicit pria itu saat Sena merangkul bahunya. Sena pun segera melepas rangkulannya dan menarik kursi untuk Yoongi.

“Duduklah, Ahjussi. Maaf sudah membuatmu berdiri selama itu.”

Yoongi cengengesan (tak sadar umur) sambil menduduki kursi yang diambil oleh Sena. Otomatis keduanya duduk dengan saling berhadapan. Sena lebih tinggi karena berada di atas konter, sementara tinggi Yoongi hanya mencapai bahu Sena saja.

Pria 38 tahun itu memamerkan seulas senyum semanis gulanya saat bersitatap dengan Sena. Ia menopang dagu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya terbaring bebas di atas permukaan konter yang dingin. Bahkan dia tidak tertarik sedikitpun dengan paha si gadis yang terekspos karena hanya memakai celana pendek. Seluruh fokusnya hanya terpusat pada obsidian Sena yang masih menyisakan semburat merah.

“Sekarang aku paham dengan kalimat ‘jangan menilai buku dari kovernya’. Kau … sangat berbeda dengan yang pertama kali kulihat. Awalnya kupikir kau hanyalah seorang gadis dengan pembawaan yang tenang dan tidak banyak bicara. Tapi kau yang sebenarnya jauh lebih keren dari itu. Kita memiliki kemiripan di sisi emosi, Sena. Kau tahu, hanya kaulah yang memilikinya. Tidak dengan Yoonjung dan Siyeon.”

Jinjja-yo?”

Eo. Itulah kenapa kau bisa membuatku nyaman di hari pertama kita bertemu, gadis bodoh. Kau yang bodoh ini berhasil mengambil hati seorang sajangnim kurang belaian sepertiku dalam semalam.”

Sena terpingkal sampai perutnya sakit. Dia tidak menyangka kalau Yoongi akan bicara begitu dengan nada yang dibuat-buat serius. Min Yoongi yang kata orang adalah CEO yang penuh kharisma dan misterius, ternyata memiliki sisi imut dan konyol seperti sekarang ini. Beruntunglah Sena karena menjadi salah satu dari sekian ribu orang yang bisa melihat sisi lain dari seorang Min sajangnim.

Yoongi ikut tersenyum melihat Sena tertawa. Ia mencubit pipi si gadis dengan gemas.

“Nah, tertawalah seperti itu saja mulai hari ini. Kau jadi sejuta kali lebih cantik.”

Mendengarnya membuat perasaan Sena jauh lebih baik. Ia memukul pelan bahu Yoongi sambil tersenyum malu.

Lalu suasana di sana berubah hening. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan senyum hangat di wajah. Sena menempatkan satu tangannya di bahu Yoongi sementara Yoongi menggenggam erat tangan itu. Kedua tangan mereka terlibat pergulatan kecil, sampai rasanya Sena geli sendiri dan tidak tahan untuk tidak tertawa lagi.

Tahu-tahu sudah jam 11 malam dan mereka belum makan apa-apa sejak tadi. Perut mereka sampai berbunyi karena minta dipasok nutrisi.

“Mau kencan makan malam diluar bersama oppa?” tanya Yoongi setelah mereka menertawakan suara perut satu sama lain.

Sena menggigil geli. “Ahjussi, kau terlalu tua untuk dipanggil oppa.”

Yoongi mendengus karena merasa diremehkan. “Begini-begini aku seringkali dikira masih duapuluh tahun.”

“Ah masa? Siapa yang bilang begitu? Ahjussi sendiri mungkin.”

“Aish, aku serius. Orang-orang yang tidak mengenal identitasku selalu menganggap aku begitu,” sergah Yoongi tak mau kalah.

Sena tersenyum-senyum iseng. “Benarkah? Ne, kau memang terlihat lebih muda dari usiamu yang sebenarnya, Ahjussi.”

“Tuh ‘kan, apa kataku juga,” jawab Yoongi angkuh.

“Seperti orang berusia tiga puluh enam tahun.”

Yaa!

Gadis jangkung itu tertawa lagi. Sepertinya menangis tadi berhasil meluruhkan seluruh emosi negatif dalam dirinya dan digantikan dengan emosi positif yang berlebihan. Yoongi suka sih dengan perubahan ini, tapi ini terlalu berlebihan. Anak ini bahkan sudah berani usil padanya.

“Ah sudahlah. Cepat ganti bajumu dengan setelan yang lebih hangat, kita berangkat sepuluh menit lagi.”

Yoongi pun turun dari kursinya untuk pindah tempat ke sofa demi merilekskan punggungnya sejenak di sana. Namun Sena menahan langkahnya. Gadis itu merentangkan kedua tangannya dengan wajah memohon yang imut.

Ahjussi, turunkan aku.”

“Ah wae? Kau bisa turun sendiri,” ketus Yoongi yang sangat kontras dengan ekspresi wajahnya yang penuh senyum sekarang.

“Tapi aku tidak mau turun sendiri. Ahjussi~

Pria itu mendengus geli dan memutuskan untuk menurunkan Sena. Ia memeluk pinggang Sena, sementara Sena memeluk bahunya, kemudian dia pun mundur selangkah dan menempatkan permukaan kaki Sena di lantai.

Tapi Sena sama sekali tidak melepaskan pelukan darinya. Gadis itu malah menatapnya dengan serius seperti sedang menelitinya.

Wae?” Akhirnya Yoongi tidak tahan untuk tidak bertanya setelah beberapa detik berlalu. Ia tersenyum tipis sambil mendorong maju wajahnya. Ia berbisik dengan suara seksi yang sanggup menggoda iman gadis manapun. “Apakah sekarang kau baru sadar kalau aku ini tampan dan awet muda?”

Tidak disangka, Sena malah mengiyakan. “Ne. Ahjussi sangat tampan dan awet muda. Dari wajahmu, kau ini lebih pantas sebagai sunbae-ku di sekolah daripada seorang sajangnim, Ahjussi. Kau bahkan setingkat lebih tampan dari Suga oppa.”

Wajah Yoongi sumringah seketika. Pujian itu sanggup membelai hatinya yang selama 11 tahun ini sudah tidak pernah dapat belaian lagi. Yoongi menyukainya, sangat. Khususnya pada orang yang memujinya.

Tapi dia bukan tipe yang agresif seperti pria sebaya Sena. Responnya hanya tersenyum lebar sambil mengusap rambut Sena, dan melepaskan pelukan Sena dari bahunya.

“Ganti baju sekarang. Nanti kau akan tidur kemalaman kalau tidak segera berangkat.”

TBC 

Advertisements

10 responses to “Single Parent [Chapter 10] ~ohnajla

  1. Omaygadd najlaaaaaaa kamu emang yang terbaik buat ff romance, huuuuu aku sampe merasakan kupu2 beterbangan bayangin tiap scene ini astogehhh, dari awal cerita sampe akhir gilaaaa ini full romance walau diselingin berantem, tp manis banget semanis senyum yoongi uluh uluhh aku gak bisa diem tiap baca per partnyaaa… Gak salah aku milih kamu masuk daftar “BEST AUTHOR” dari jaman EXO dulu sampe BTS, btw aku sllu nongkrongin blog kamu biar bisa liat karya yg lain tp maaf gak pernah komen, hihihii tp beneran aku fans berat kamuuuuuuu, gak pernah gagal kalo buat cerita entah itu menyakitkan, manis, cinta, happy end ato sad end (abaikan). Kamu emg jjangjjangmong*akulupa *dibakaryoongi *kejam. Oh ya soal penulisan ya pastilahh kamu terbaikk, suka pemilihan katamu, sreggg diaku, huuuu semoga kamu byk ide najlaaaa. Biar aku bisa nikmatin terus hihihiii. Cepet update ya sayyy, aku menunggumu *nyengirr. Bye~

  2. Author terbaik!!!. Ya ampun ceritanya makin bikin senyum2 sendiri.. Please atulah tiap chapter nya agak panjang lagi. Nunggu lama, untuk bacaan 15 menit.an..

  3. Dasar duda tak sadar umur. – wkwk njaay ini bikin ketawa hahahaha. Lanjut kak, ceritanya makin keren, makin ditunggu pokoknya hahaha

  4. greget pisan sama couple ini hihi…. so sweeet, manisss banget sampai ngalahin gula jawa wkkk…..
    aku kirain sena kesayangan orang tuanya taunya dia harus banyak ngalah sama adik-adiknya kasihan juga dia, atau jangan2 dia ke jepang dan sekolah di seoul karena ada masalah sama keluarganya, sena bilang dia cuma butuh perhatian ortunya, dan sekarang dia dapat perhatian dr ahjussi yoongi mana so sweet lg kalau ada stok laki2 seperti yoongi sisain satu untukku hehe….
    aku penasaran sama masa lalu sena …. ceritain dong, di part ini ada tp sebagian …..maaf banyak maunya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s