[Twelveblossom] When I’m Bored

Screenshot_2017-09-01-21-52-21-454

“I miss you when i’m bored.”

Twelveblossom.wordpress.com

Nara sudah menatap langit-langit kamarnya sedari ia bangun tidur. Nara sedang bingung karena hari ini libur dan ia tidak tahu harus melakukan apa. Mengingat, ini pertama kalinya Nara menghabiskan waktu senggangya sendirian. Biasanya ia ditemani Sehun-tetangga sekaligus teman kecilnya dan sejak dua bulan lalu merangkap sebagai kekasihnya. Totalnya sudah satu bulan Sehun lepas dari pandangan Nara. Pemuda berusia duapuluh empat tahun itu tengah sibuk mengurus pekerjaannya sebagai fotografer di London yang membuat mereka berpisah sejenak.

Tidak, Nara tidak rindu, kok.

Tadinya tidak kangen. Huh.

Tapi keadaan yang membuatnya berbeda.

Nara sibuk memulai kariernya sebagai penyiar muda. Jadwalnya amat sangat padat. Bahkan untuk makan pun susah, jangankan menyuapkan kudapan ke mulut, bernapas pun sulit. Tadinya begitu. Namun, kali ini berbeda. Nara tidak sibuk. Ia dapat jatah libur sehari yang membuatnya bebas melakukan apa saja, kecuali menyusul Sehun ke London. Walaupun, hal yang paling Nara inginkan adalah menemui si pemuda kesayangannya. Nara harus bisa meredam rasa kangennya ini.

Nara berharap Sehun akan muncul di pekarangan rumah dengan menaiki roket super cepat. Nara berkhayal, Sehun mempunyai sayap yang tersembunyi di balik punggunggnya. Nara bahkan sempat bermimpi konyol bahwa Sehun menyelinap di balik selimutnya secara diam-diam tadi malam. Soalnya, waktu Nara bangun tidur ada sisa-sisa aroma parfum si kekasih hati. Akan tetapi, mimpi konyolnya itu segera ia buang jauh-jauh sebab dia yakin bisa gila kalau terus-terusan merasakan kehadiran Sehun.

“Dia bahkan tidak meneleponku sedari kemarin,” Nara mengomel ketika memeriksa ponselnya. Gadis bersurai hitam sebahu itu berguling ke samping agar bisa meraih gelas yang berisi air putih. Ia terduduk di ranjang untuk minum, sementara tangan yang lainnya merapikan rambut berantakannya. “Dasar tidak peka. Apa dia tidak tahu hari ini aku libur? Kalau tidak tahu seharusnya dia tanya,” lanjut Nara. Si gadis berparas rupawan itu pun membuang napas keras. “Yang ada di pikirannya hanya kamera-kamera sialan itu,” Nara terus menggerutu kali ini sambil beridiri di depan cermin.

Si gadis mengamati dirinya sendiri yang terlihat muram dan lusuh. Piama bergambar kucing ia pakai dan alas kaki empuk bulu-bulu bewarna merah juga masih dikenakannya. Tidak ada yang berbeda. Kecuali, satu hal. Sesuatu yang membuat Nara kaget serta membolakan mata. Dari cerminnya dipantulkan sebuah jaket yang tak asing bagi panca indra Nara. Itu milik Sehun.

“Kenapa jaketnya ada di sini?” tanya Nara pada pakaian Sehun itu. “Apa aku yang mengambilnya sewaktu tertidur?” Nara mengetuk dagu. “Jangan-jangan alam bawah sadarku sudah gila dan terobsesi padanya, kemudian secara tidak sadar membuatku mencuri pakaian Sehun waktu aku tidur.” Nara berkidik ngeri. Paras Nara semakin lucu saat alur berpikirnya berubah ke arah cerita seram. “Jangan-jangan jaket Sehun ini bergerak sendiri,” Nara berseru, “Astaga seram sekali!” Ia melemparkan jaket kekasihnya jauh-jauh.

“Ada apa Jung Nara? Kau berisik sekali sampai terdengar dari dapur,” tanya alunan suara dari arah pintu kamar Nara yang sekarang terbuka.

Jantung Nara hampir melompat melarikan diri ketika dia mendengar suara berat itu. Apalagi, ditambah dengan tubuh jangkung yang sangat ia kenali berjalan mendekat ke arahnya sambil membawa segelas jus jeruk.

“Kau-kau-siapa?” ujar Nara terpatah-patah. Pertanyaan yang tidak perlu diungkapkan, toh Nara tahu pria itu siapa. Yang seharusnya si gadis tanyakan adalah bagaimana bisa Sehun berada di sini.

Sehun tersenyum maklum melihat ekspresi gadis yang sangat amat dia cintai menjadi terlalu terkejut. “Aku Spiderman. Apa kau lupa?” canda Sehun yang lantas membuat Nara semakin membolakan mata.

“Sehun,” rengek Nara setengah percaya separuhnya lagi kesal. Sementara Sehun hanya tertawa kecil. Tangan pemuda itu menyerahkan segelas jus jeruk untuk si gadis, lalu memberikan sinyal agar kekasihnya segera menghabiskan. Nara menurut, meskipun masih bertanya-tanya.

Sehun lebih mendekati gadisnya. Ia menghapus sisa-sisa jus jeruk di ujung bibir Nara. “Aku ke sini dengan pesawat, bukan mendarat di pekarangan rumah tapi di bandara. Setelah sampai aku langsung kemari. Kepulanganku diajukan karena besok ada proyek baru yang harus kukerjakan di sini. Aku sengaja tidak mengabarimu karena kau sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku tak ingin kau kelelahan, sepulang kerja menungguku datang di bandara.” Sehun menjelaskan. Pria berkaus biru muda dan bercelana jeans itu menepuk puncak kepala Nara.

“Jadi, tadi malam aku tidak bermimpi,” balas Nara masih dengan ekspresi tak percayanya. “Kau tidur di sini,” ungkapnya seolah-olah itu bukan hal yang istimewa, namun pipinya yang merona menjelaskan semuanya.

Sehun mengangguk. “Hanya sampai jam enam pagi di sini setelah itu aku mandi sebentar lalu menunggumu bangun dan menyiapkan jus.” Pria itu meraih Nara, ia memeluknya. “Ini sedikit tidak keren, tapi aku sangat rindu padamu, Jung Nara. Aku beberapa kali ingin pulang.”

“Aku suka waktu kau tidak keren seperti ini,” celetuk Nara. Gadis itu membalas pelukan hangat Sehun. Ia tersenyum lebar. “Aku juga sangat merindukanmu kalau sedang bosan dan bingung ingin melakukan apa.”

Sehun melepaskan kungkungannya. Pria itu cemberut dan mengembungkan pipi. “Jadi, kau merindukanku hanya ketika bosan?” katanya. Jari-jari Sehun merapikan anak surai Nara dan menyelipkan di sisi telinga si gadis. Sehun sengaja menundukkan paras agar bisa menatap mata cokelat Nara.

Nara yang tingginya haya sebahu Sehun pun mengangguk. “Masalahnya, Nara selalu bosan kalau tidak ada Sehun,” jelas Nara. Ia pun berjinjit, lalu mengecup bibir kekasihnya yang cemberut sebentar.

Sehun agak mundur berusaha menjaga keseimbangannya. Soalnya, jika berurusan dengan gadis bernama Jung Nara, pria itu tidak pernah berlogika dengan baik dan benar. Ia bisa menjadi pemuda yang manja dan kekanakan. Dua sifat yang biasa disembunyikannya rapat-rapat apabila berhadapan dengan orang lain, justru muncul kepermukaan jika bersama Nara. “Kenapa hanya sebentar?” goda Sehun pada Nara.

Nara mengernyitkan alis, “Apanya yang sebentar?”

Sehun hanya tersenyum simpul. Ia mengangkat Nara sedikit agar dirinya tak perlu menunduk untuk menemukan bibir gadisnya dan menautkannya lagi dalam waktu yang amat sangat lama, sampai Sehun bosan.

.

.

.

Pertanyaannya, apa Sehun pernah bosan sewaktu mengecup Nara?

-oOo-

Aku kangen nulis. Kangen Sehun. Kangen Kyungsoo. Kangen EXO. Kangen blog ini 😢.

Kira-kira masih ada yang baca-baca di blog ini, nggak ya?

P.s: Oh iya, aku juga punya akun wattpad @twelveblossom (siapa tahu ada yang ingin baca-baca) 🙂

 

Advertisements

17 responses to “[Twelveblossom] When I’m Bored

  1. Aku kangen kakak
    sibuk yah kak???
    apa kabar kak???
    Kakak sehat selalu kn???
    Aduh…kangen bwanget malah aku sama bang kyungsoo
    Yey…nnti langsung otw kewattpad kakak dah

  2. Apa aku bermimpi kalo kaka tiba2 post fanfict ‘When I’m Bored’?? Wkwkwkwk kangen akuttt ka, makin sepi disini para senior ketjeh mulai tercecer kemana2, kaga ada kabar, vakum lama bett😭😭😭😭😭
    Ayo dong ka nulis lg, bete gue gada yg bisa bikin baper lg😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s