Single Parent [Chapter 13] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), others cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11 Chapter 12

Kupastikan besok mereka yang hari ini menghinamu akan meminta maaf

**

Terdengar suara bel saat Yoongi bangun. Dia, mengerjap-ngerjapkan matanya sambil melihat sekeliling. Hari sudah gelap, dan ruang utama apartemen Sena juga gelap dengan hanya sedikit cahaya yang berasal dari dapur. Diliriknya beban di lengan kanannya. Ia tersenyum mendapati wajah lelap Sena. Pelan, dia mengganti lengannya dengan bantal sofa untuk mengganjal kepala si gadis. Setelah dirasa jika Sena benar-benar sudah nyaman dengan bantal barunya, ia pun beranjak untuk membukakan pintu.

Ia membelalak saat mendapati wajah Jimin dan Yoonjung di sana. Ekspresi yang sama juga terlihat dari dua anak itu.

Appa! Jadi kau di sini?”

Eo….” jawabnya agak ragu. “Kalian … sedang apa?”

Yoonjung mengangkat ransel Sena yang sebelumnya berada di tangan Jimin. “Eonni meninggalkan tasnya. Jadi kami kemari untuk mengantarnya. Ngomong-ngomong, appa sepertinya sehabis baru bangun tidur ya. Kalian sejak tadi memang sedang tidur?”

Yoongi berdehem sebentar sebelum menjawab. “Hm. Sena sekarang masih belum bangun.”

Yoonjung melirik Jimin sekilas. Dari ekspresi yang ditampilkan lelaki sebayanya itu, Yoonjung rasa mereka tidak bisa berlama-lama di sini. Ia pun segera menyerahkan tas Sena pada Yoongi.

“Kalau begitu, appa saja ya yang berikan tasnya pada eonni. Masalahnya besok aku dan Jimin ada lomba, jadi, kami harus latihan lebih keras hari ini. Sepertinya aku juga harus menginap di tempat Jimin lagi, hehe. Appa, kami pergi dulu, hm? Aku mencintaimu.”

“Apa? Yaa, Yoonjung-a—”

Yoonjung sama sekali tidak memberikan kesempatan Yoongi untuk bicara. Dia melambai begitu saja diiringi cengirannya sambil menyeret Jimin menuju lift. Sempat-sempatnya dia mengirimkan kecup terbang sebelum bayangannya hilang ke dalam lift.

Yoongi menghela napas pasrah. Kenapa wajah mereka babak belur? Mereka baru saja berkelahi?

Ia pun kembali masuk sambil menenteng tas Sena. Tak lupa dia menyalakan lampu di ruang utama sebelum mendudukkan diri pinggir sofa yang ditempatinya bersama Sena tadi. Ia menyimpan tas Sena di bawah, sementara kepalanya berotasi ke tempat di mana Sena tidur. Tangannya terulur untuk menata rambut Sena yang berantakan di dahi.

“Setelah ini akan kubuatkan makan malam untukmu. Makanlah yang banyak, jangan pikirkan apa yang sedang terjadi hari ini. Aku akan berusaha untuk menyelesaikannya. Geokjeonghajima, aku tidak akan membiarkanmu merasakan penderitaan yang sama seperti yang kurasakan dulu. Kupastikan besok mereka yang hari ini menghinamu akan meminta maaf.”

Ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan singkat di dahi Sena. Lantas, seperti yang diucapkannya tadi, dia segera beranjak ke dapur untuk membuatkan makan malam. Setelah makan malam telah tersaji di atas meja, dia pergi dari tempat itu. Tak lupa meninggalkan satu jejak lagi di wajah Sena, kecupan di pipi.

“Bagaimana? Kau sudah temukan siapa orangnya?”

“Ah … ne. Saya telah menelusuri sumber berita itu dan saya mendapati orang ini sebagai pelaku utama.”

Yoongi mengerutkan dahi tidak mengerti. Hoseok pun dengan cepat menyerahkan satu berkas berisi biodata dan foto kehadapannya. Buru-buru Yoongi mengambil itu dan….

“Dia?”

Hoseok mengangguk dengan sangat yakin. “Ne. Dia bukan penulis beritanya, tapi dia adalah orang yang membayar seorang penulis berita untuk membuat rumor tentang Anda, Sajangnim. Foto-foto yang sekarang telah tersebar karena berita itu juga tidak diambil sendiri olehnya, melainkan memakai jasa paparazzi bayaran. Apakah Anda mengenalnya, Sajangnim?”

Keurom, sudah pasti aku mengenal siapa pemilik SMA Young Forever sekarang,” jawab Yoongi enteng sambil membaca biodata lengkap si pelaku utama yang didapat Hoseok entah dari mana. “Hanya saja … aku tidak mengerti kenapa dia harus bertindak sejauh ini.”

“Kalau begitu, apakah kau juga mengenal Oh Sehun?”

“Hm?”

“Sebelumnya maaf, Sajangnim. Apakah, dulu, kau dan Oh Sehun itu terlibat ngg … masalah cinta? Seperti … cinta segitiga?” Hoseok bertanya dengan sehati-hati mungkin. Dia sendiri sadar kalau ini adalah pertanyaan sensitif dan sangat privasi. Tapi dia juga ingin tahu, untuk menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

“Entahlah. Aku juga tidak yakin. Wae? Apa itu ada kaitannya dengan rumor ini?” Yoongi menolehkan wajahnya pada Hoseok dengan tampang datar diikuti tangannya yang membanting berkas biografi Lee Jonghyun ke atas meja. Itu adalah ekspresi kesalnya. Kesal dengan cara yang tenang, tapi sanggup membuat orang yang menyadarinya gemetaran. Seperti kondisi Hoseok sekarang.

J-joesonghammida! Sa-saya tidak bermaksud ikut campur. Saya hanya … ingin memastikan saja. Orang suruhan saya mengatakan bahwa dia tak sengaja mendapati Lee Jonghyun dan Oh Sehun bertemu hari ini. Mereka membicarakan soal rumor tersebut. Saya rasa, jika ini masih ada kaitannya dengan masa lalu Anda dengan mereka, Sajangnim. Maaf karena sudah lancang bertanya.”

Yoongi menghela napas. “Eo. Bisa dibilang dulu memang ada masalah antara aku dengan mereka. Tapi itu sudah lama, sudah dua puluh tahun yang lalu. Siyeon juga sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku tidak mengerti kenapa mereka harus bertindak sejauh ini. Terlebih, Sena….”

“Ah ya, tentang nona Sena, saya mendapat info jika dia lahir saat usia pernikahan Oh Sehun dan istrinya belum genap 8 bulan. Kata seseorang yang mengaku sebagai teman istri Oh Sehun, nona Sena bahkan direncanakan akan digugurkan saat usianya masih 2 bulan di kandungan ibunya. Tapi karena orangtua dari pihak istri Oh Sehun tidak menginginkannya, maka Oh Sehun harus bertanggung jawab dengan menikah.”

“Hm, arra, Sena sebelumnya sudah menceritakan itu padaku. Tapi, kenapa Oh Sehun juga ikut-ikutan? Maksudku … Sena itu anaknya sendiri, ayah macam apa yang menggadaikan anak sendiri….” Yoongi tiba-tiba diam. Hoseok menatapnya penuh tanya, tidak mengerti kenapa Yoongi tiba-tiba berhenti bicara.

Ayah macam apa yang menggadaikan anak sendiri untuk kepentingan dirinya sendiri?

Sajangnim … gwaenchana-yo?

Yoongi langsung membuang pandangan. Bahkan aku pun sama saja.

“Hm. Aku baik-baik saja. Lanjutkan pekerjaanmu. Hentikan penyebaran rumor itu dan buatlah pernyataan resmi atas nama perusahaan bahwa besok pagi aku akan melakukan konferensi pers untuk mengklarifikasi rumor-rumor itu.”

Ne. Saya mengerti, Sajangnim. Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Yoongi hanya mengangguk sebagai jawaban. Hoseok pun membungkuk 90 derajat penuh sebelum beranjak dari kantor atasannya. Begitu bayangannya sudah hilang di balik pintu, Yoongi melepaskan napas beratnya. Dia menumpukan seluruh tubuhnya pada sandaran kursi sambil menggigiti ujung kuku ibu jari kanannya. Pandangannya lurus pada satu titik, tapi fokusnya tidak disana. Dia sedang memikirkan apa yang akan ia bicarakan besok di konferensi pers.

Apakah dia harus mengatakan jika rumor itu tidak benar? Tapi, bagaimana kalau para reporter menanyakan tentang foto-foto itu? Mustahil dia mengelak karena semua yang ada di foto itu benar dia dan Sena. Akan makin sulit dijelaskan lagi jika dia mengklarifikasi bahwa berita tersebut palsu.

Lalu jika dia bilang bahwa rumor itu benar? Apa yang harus dia jelaskan sebagai alasannya?

“Ya, karena aku mencintai Sena.”

Dia menggeleng cepat. Sekarang masih belum waktunya. Sena masih berstatus haksaeng. Menyatakan itu malah akan membuat reputasi mereka makin buruk. Sena pasti akan menderita karena hinaan dari teman-temannya, dan Yoongi tidak mau itu terjadi.

Jadi … apa yang harus dibicarakannya besok?

Tanpa sadar dia merobek kulit jarinya dan darah pun mengalir turun begitu saja. Panik, ia pun mengusap darah itu ke bajunya. Tapi memang dasar Yoongi yang mendadak bodoh saat panik. Luka di jarinya terasa makin perih karena gesekan dengan kain. Ia meringis, terburu-buru masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dengan air yang mengalir dari kran wastafel. Rasanya perih, perih sekali sampai dia tidak bisa menahannya. Kedua matanya sampai berkaca-kaca karena menahan perih yang terasa. Beberapa menit kemudian, akhirnya darah pun berhenti mengalir. Ia mematikan kran, lalu tubuhnya merosot ke lantai. Nanar memandangi ibu jari kanannya yang pucat karena kekurangan darah.

Namun entah bagaimana, tiba-tiba ide itu muncul begitu saja.

“Mungkin cara ini akan berhasil,” gumamnya sambil tersenyum getir saat menekan ibu jarinya.

Yoonjung tidak bohong kalau mereka sedang latihan. Jimin punya alat musik lengkap di apartemennya. Ada piano juga jadi Yoonjung bisa latihan untuk penampilannya besok.

Awalnya dia begitu serius saat memainkan pianonya, tapi saat Jimin bersuara di sampingnya (karena mereka duduk di kursi piano yang sama), fokusnya mendadak pecah.

amugeotdo saenggakhaji ma

neon amu maldo kkeonaejido ma

geunyang naege useojwo

Yoonjung tahu lagu itu. Itu adalah lagu favoritnya dari BTS. Namun yang membuat ia terperangah, Jimin menyanyikannya dengan nada yang tepat dan feel yang begitu sedih. Sulit baginya untuk tidak menoleh. Meski dari samping, dia tahu jika Jimin sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

Sadar jika Yoonjung memperhatikan, Jimin pun menjeda lagunya.

“Kau suka lagu ini?”

Eo. Ngomong-ngomong kau hafal sekali dengan liriknya. Kupikir, kau tidak suka lagu Bangtan Sonyeondan.”

Nuna juga suka lagu ini,” balas Jimin sambil memandangi gitarnya untuk memastikan jika jari jemarinya berada di kunci yang pas. Kemudian dia melanjutkan lagunya.

nan ajikdo mitgijiga anha

i modeun ge dakkumin geot gata

sarajiryeo … hajima

Yoonjung merasakan perasaan yang aneh saat Jimin sengaja memberi jeda di lirik terakhir. Kenapa Jimin tampak sangat menyedihkan sekarang?

Is it true? Is it true?

You You

neomu areumdawo duryeowo

Untrue Untrue

You You You

Saat petikan gitar Jimin berhenti sejenak, Yoonjung memutuskan untuk mengiringi lagu itu dengan permainan pianonya. Tepat saat musik kembali berbunyi, Jimin bernyanyi sambil merebahkan kepalanya di bahu Yoonjung.

gyeote meomulleojullae

naege yaksokhaejullae

son daemyeon naragalkka buseojilkka

geobna geobna geobna

 

siganeul meomchullae

i sungani jinamyeon

eobseotdeon iridoelkka neol irheulkka

geobna geobna geobna

 

Butterfly, like a Butterfly

machi Butterfly, bu butterfly cheoreom

Butterfly, like a butterfly

machi Butterfly, bu butterfly cheoreom

 

Kedua jenis musik itu mengalun bersama untuk menutup lagu singkat itu. Dan setelah benar-benar berakhir, Jimin tiba-tiba memulai lagu baru.

(play: V & J-hope – Hug Me)

seoreoun mameul moti gyeo

jammotdeuldeon eodun bameul ddo gyeon digo

naejeol manggwan sanggwan eopsi

musimhagedo achim eunnal kkaeune

sangcheoneun saenggakboda sseurigo

apeumeun saenggakboda gipeoga

neol wonmanghadeon sumanheun bami naegenjiokgata

(Aku tak bisa mengendalikan kesedihan hatiku

Lagi, aku bertahan di malam gelap dan tak tidur

Tanpa melihatkan keputus asaanku

Pagi yang mau tak mau untuk membangunkanku

Luka yang membakarku dari yang diharapkan

Sakit hati yang semakin dalam dari yang diharapkan

Malam yang tak terhitung untuk membencimu bagaikan neraka untukku)

 

Yoonjung menoleh dengan kedua alis terangkat. Entah bagaimana dia merasa itu adalah lagu yang ditujukan padanya.

 

nae gyeote isseojwo naege meomulleojwo

ne soneul jabeun nal nohchi jimarajwo

ireohke niga hangeoreum meoreojimyeon

naega hangeoreum deo gamyeon dwe janha

(Tetap tinggalah disampingku, tetaplah denganku

jangan lepaskanku yang menggenggam tanganmu

Jika kau pergi selangkah menjauh seperti ini

Aku hanya bisa mengambil selangkah lagi dan itu sudahlah cukup)

 

“Na?” tanya Yoonjung akhirnya. Tapi Jimin tidak menggubris dan tetap melanjutkan lagunya.

 

haruedo sucheonbeonssik

ni moseubeul dwe nwe igo saenggakhaesseo

naege haetdeon mojin maldeul

geussaneulhan nunbic chagaun pyojeongdeul

neoncham yeppeun saram ieotjanha

neoncham yeppeun saram ieotjanha

jebal naege ireoji marajwo neon nal jal aljanha

(Ribuan kali dalam satu hari

Yang kuulangi untuk mengingat rupamu

Kata yang kau katakan padaku tak termaafkan

Serta tatapan dan ekspresi yang dingin

Dulu kau orang yang luar biasa cantik

Dulu kau orang yang luar biasa cantik

jangan seperti ini padaku, kau mengenalku dengan baik)

 

Jimin mengambil napas dalam dan membuangnya panjang. Kembali dia memetik gitarnya.

geunyang nal anajwo nareul jom anajwo

amu mal malgoseo naege dallyeowajwo

werobgo buranhagiman hanmameuro

ireohke neol gidari go itjanha

(peluklah aku, peluk aku sebentar saja

jangan berkata apapun dan berlarilah padaku

hati yang kesepian dan penuh keresahan

Aku menunggumu dengan perasaan seperti ini)

 

Kemudian dia menarik kepalanya dari bahu Yoonjung dan menyelesaikan lagunya sambil menatap tepat pada obsidian Yoonjung.

nan neoreul saranghae nan neoreul saranghae

gin chimmok sokeseo sori nae wechilge

eoriseokgo nayakhagiman han nae maeumeul

(I love you, I love you

dalam keheningan yang panjang, sebuah suara datang, jeritan

dari kebodohanku dan hatiku yang lemah)

 

Dan ruangan pun kembali hening. Hanya keheningan yang menemani mereka saat saling bertukar pandang. Yoonjung masih tak mengerti dengan maksud lagu yang dinyanyikan Jimin. Apakah itu untuknya atau Sena?

Jimin menghela napas kemudian memalingkan muka. “Molla. Tidak ada lagu yang cocok untukmu. Geurigo, aku tidak mencintaimu. Jangan salah paham.”

Yoonjung merotasikan bola matanya jengah. “Aku juga tidak berharap dicintai olehmu.”

“Hah. Mulutmu. Kau akan sangat menyesal setelah tahu bagaimana rasanya dicintai oleh Park Jimin.”

“Memang bagaimana rasanya?” tanya Yoonjung sambil asal menekan beberapa tuts piano.

“Seperti kau makan dark chocolate.”

Dark chocolate joha.”

Jimin nyengir. “Kalau begitu kau sudah tahu bagaimana rasanya.”

“Ah keundae, bukankah kau ini teman dari adik-adiknya eonni. Aku penasaran, seperti apa sih mereka? Eonni tidak pernah sekalipun menceritakannya padaku. Apa mereka sama baiknya seperti eonni? Atau –”

“Baik pantatku. Mereka itu brengsek.”

Mwo? Yaa, jangan asal mengatai orang.”

Jimin mendengus geli. “Itu kenyataan. Kau pikir atas dasar apa aku asal mengatai mereka?”

“Jadi, apa alasan kau bicara seperti itu?”

Jimin pun menoleh. “Mau dengar?”

Yoonjung mengangguk mantap. Jimin pun tersenyum dan kembali memetik gitarnya.

“Ceritanya mungkin akan sedikit panjang dan … menyedihkan.”

TBC 

Advertisements

10 responses to “Single Parent [Chapter 13] ~ohnajla

  1. Kayanya bner dehh, sena diperlakukan beda dikeluarga oh. Hmmm tp kenapa sehun sih wkwk. Sehun muka poker face gt, gak cocok nistain anak wkwk. Tapi terserah lahh, aku mah apa atuhh cuma reader yg nggak berfaedah *apalah. Lanjut najla.. Aku ttp menunggumu..

    • exo itu kebapakan menurutku *LOL* dan aku suka Sehun ambil peran bapaknya si tokoh cewek wkwkwk tapi aku sendiri heran, kok mesti kalo aku bikin ff casting utama Yoongi, mesti ada Chanyeol nya :3 Sehun sih mesti ada, soalnya dia asal marga Oh Sena, lah Chanyeol :3 btw chanyeol bukan biasku di exo wkwkw
      #kokcurhat -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s