Single Parent [Chapter 14] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11 Chapter 12 Chapter 13

Diam saja melihat orang disakiti itu bukan gayaku lagi. Aku tidak bisa kalau hanya menonton nuna menangis karena disakiti

**

“Jimin-a! Tangkap!”

Jimin pun menangkap operan bola dari Taehyung dengan mudah. Lalu dia pun membawa bola tersebut ke lapangan yang dijaga oleh Jungkook dan Jihyun. Karena badannya yang kecil dan gesit, dia bisa dengan mudah melewati penjagaan Jungkook dan memasukkan bola ke dalam ring hanya dalam satu lompatan. Poin tambahan untuk tim hyung.

Jungkook mengerang kesal.

Yaa, Jihyun-a, harusnya kau jangan biarkan Jimin hyung memasukkan bolanya.”

“Kenapa aku yang salah? Kau juga salah karena tidak menahan dia dengan baik,” balas Jihyun tidak kalah kesalnya.

Beda lagi dengan Jimin dan Taehyung yang sepertinya sangat puas dengan kerja tim mereka.

Lalu mereka pun melanjutkan permainan. Kali ini Jungkook sangat berambisi untuk menang dari tim hyung. Dia sudah sangat serius saat saling oper dengan Jihyun, lalu ketika dia akan memasukkan bola ke dalam ring tiba-tiba saja….

BRUK!

Gagal sudah dia mencetak poin. Yang ada, dia jatuh dalam posisi setengah berbaring dengan bertumpu pada sikunya. Sementara seseorang yang telah membuatnya gagal mencetak poin tadi, juga terjatuh dalam keadaan duduk. Dia kesal. Tanpa memedulikan sikunya yang berdarah, dia pun buru-buru menghampiri Sena dan langsung menarik Sena berdiri dengan cara menjambak rambutnya.

Yaa, mwohaneungeoya?! Kau tidak lihat aku sedang apa?! Kau menghancurkannya, bodoh!”

Sena meringis kesakitan karena Jungkook menjambak rambutnya dengan kuat. Rasanya beberapa helai rambutnya sudah lepas dari kulit kepala. “Mian. Aku hanya ingin mengambil Geumdong saja.”

Meong~

Kucing berusia 6 bulan yang berada di antara mereka dan sedang menggesekkan badannya ke kaki Sena, mengeong dengan polosnya tanpa sekalipun menyadari tatapan membunuh dari Jungkook. Tahu-tahu dia sudah terlempar jauh setelah ditendang secara tidak manusiawi oleh Jungkook juga.

“Geumdong-a!” pekik Sena yang ingin meraihnya tapi tidak bisa karena rambutnya masih ditarik oleh Jungkook. Dia pun menoleh pada Jungkook dengan mata memerah entah karena kesakitan, marah atau menahan tangis. “Yaa, lepaskan aku. Kau tidak boleh seperti itu pada hewan.”

“Kalau begitu jangan bermain di sini!” Jungkook pun melepaskan tarikannya dengan kasar. “Sekali lagi kau membuatku kesal, akan kubuang kucingmu ke sungai!”

Sena hanya bisa menggertakkan giginya saat Jungkook berlalu dari lapangan. Lelaki itu sudah tidak berselera main basket lagi karena Sena sudah menghancurkan kesempatan emasnya. Suasana lapangan yang tadi seru pun berubah jadi canggung. Jimin dan Jihyun merasakan suatu perasaan yang aneh setelah melihat apa yang barusan dilakukan Jungkook pada Sena. Mereka berdua saling pandang, mencoba untuk memahami perasaan apakah itu. Mereka masih terlalu kecil untuk menyadarinya. Jimin masih kelas 6 SD, Jihyun kelas 5 SD. Masih terlalu sulit bagi mereka untuk menyadari jika itu adalah bentuk dari perasaan bersalah.

“Aish, lagi-lagi mengganggu. Kenapa sih orang sepertimu harus jadi kakakku? Menyusahkan.” Taehyung berucap dengan ketus sebelum ikut beranjak dari sana. Saat melewati rumah-rumahan milik Geumdong, dengan seenak hati dia menendangnya dan menginjak-injaknya sampai rusak. Melihat itu, Sena hanya bisa menangis di tempat dalam diam.

Meong~

Gadis itu seketika menoleh. Ia menyunggingkan senyum saat berjongkok untuk menggendong Geumdong. Lalu berdiri kembali sambil mengelus badan kucing tersebut.

“Geumdong-a, gwaenchanha? Sakit ya? Ung~ masuk yuk. Kita tidur saja di kamar.” Sena berbicara seolah kucing tersebut mengerti bahasanya. Kemudian dia pun menoleh pada Jimin dan Jihyun yang masih berdiri di lapangan, menatapnya aneh sekaligus miris.

“Kalian pulanglah. Maaf ya sudah mengganggu,” ujarnya lembut, diikuti dengan senyum teduhnya. Kemudian dia pun beranjak masuk ke dalam rumah sambil terus bermonolog pada Geumdong.

Jimin kecil yang masih belum mengerti tentang “perasaan”, untuk pertama kalinya marah pada Jungkook dan Taehyung karena telah memperlakukan Sena yang sebegitu baiknya dengan tidak manusiawi. Namun, tak ada yang bisa dilakukannya saat itu selain menatap kepergian Sena.

Esoknya, Jimin kembali mendapati pemandangan yang tidak pantas dari tiga bersaudara itu. Jihyun tidak ikut main ke rumah keluarga Oh karena sedang bermain dengan teman-teman sekelasnya. Hanya Jimin yang datang di hari itu dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Jungkook menyiksa Geumdong dengan cara yang sadis hanya karena Geumdong tidak sengaja menumpahkan cat air milik Jungkook ke kanvas yang sudah susah payah dilukis. Kucing itu ditendang, diinjak lalu dilempar begitu saja ke dinding.

HAJIMA!” teriak Sena akhirnya sambil menampar pipi Jungkook keras.

Jungkook yang tidak terima pun menjambak rambut Sena dan mendorongnya sampai menabrak tubuh Jimin. Beruntung Jimin bisa menangkapnya dengan baik sehingga mereka tidak sama-sama jatuh dengan kepala membentur dinding. Dia membantu Sena untuk berdiri dengan baik.

Nuna gwaenchanha?” tanyanya setelah melihat wajah Sena yang berantakan karena air mata.

Sena menggeleng. Dia mengalihkan perhatiannya pada Geumdong yang tampak kesulitan berjalan saat menghindari Jungkook. “Hajima. HAJIMA! Jangan memperlakukan Geumdong seperti itu!”

Dan Jungkook menendang Geumdong lagi sampai jatuh ke lantai satu.

“JUNGKOOK!!”

“Ada apa ini ribut-ribut?!” Nyonya Oh tiba-tiba datang. Dia langsung menarik telinga Sena karena yang didengarnya barusan adalah teriakan gadis itu. “Kau apakan adikmu?!”

“Aku tidak apa-apakan dia!” jawab Sena sambil menahan sakit di telinganya.

“Bohong! Tadi dia menamparku, Ma!”

Jeweran di telinga Sena makin kuat. “Kenapa kau menampar adikmu?! Mau ditampar juga, huh?!”

“Tapi dia memukuli Geumdong!” Sena kembali menyuarakan pembelaan dirinya. Dia tidak terima karena ibunya hanya marah padanya.

“Kucing jelek itu menumpahkan cat airku!” timpal Jungkook tak mau kalah.

“Tapi—”

“CUKUP! Sekarang minta maaf pada adikmu, Sena!”

“Aku tidak salah apa-apa!”

PLAK!

“Melawan ya? Sekarang karena sudah SMP sudah berani melawan?! Minta maaf! Kau itu kakak, kau harus bertanggung jawab pada apa yang sudah kau perbuat.”

Sena menoleh sambil memegangi pipinya yang panas. “Shireo! Aku tidak salah, untuk apa aku minta maaf padanya!”

Gadis itu langsung berlari turun ke lantai satu untuk mengambil Geumdong dan masuk ke kamarnya. Dia sama sekali tidak peduli dengan teriakan marah ibunya yang terus memanggil dan mengancamnya. Dia mengunci diri di kamar bersama Geumdong.

Sementara itu, Jimin yang sejak tadi mematung di tempat pun kembali tersadar setelah Taehyung memanggilnya untuk duduk di depan TV, bermain PS. Dia menerima uluran stick PS dari tangan Taehyung masih sambil memperhatikan Nyonya Oh yang sedang merayu Jungkook agar tidak menangis lagi.

“Kau tidak pilih pemain?” Pertanyaan Taehyung seketika membuatnya menoleh. Dia heran karena ekspresi temannya ini datar-datar saja.

Yaa, kau tidak kasihan pada nuna-mu? Bibirnya tadi berdarah.”

Taehyung menggendikkan bahu acuh. “Untuk apa? Toh dia juga salah karena tidak becus menjaga kucingnya.”

“Tapi, bukankah itu keterlaluan?”

Anak tengah dari keluarga Oh yang tampan itu menoleh dengan dahi berkerut-kerut kesal. “Sudahlah. Kenapa sih tanya-tanya terus? Memangnya kau menyukai yeoja gila itu? Lagian tidak ada yang melarang untuk memukulnya. Kalau dia salah ya harus dipukul. Tsk, cepat pilih pemainmu.”

Jimin menghela napas. Waktu itu dia juga tidak mengerti kenapa dia harus memikirkan Sena. Dulu sebelum Sena masuk SMP, dia padahal ikut-ikutan dua bersaudara ini menjahili gadis itu. Tapi entah bagaimana sekarang berbeda. Dia selalu merasakan perasaan aneh saat melihat Sena dilukai begitu saja hanya karena masalah kecil. Dia tidak terima, marah, kesal, dan emosi sejenisnya namun tidak mengerti alasan di balik itu. Entah karena kasihan, merasa bersalah atau … karena suka.

“Kalian jahat sekali,” gumam Yoonjung sembari memperhatikan kedua kakinya yang sedang menggurat karpet.

Eo. Aku juga sama brengseknya.” Jimin membuang napas panjang. Kembali dia memainkan gitarnya.

“Pantas sekarang eonni lebih terlihat bahagia dari yang dulu.”

Eo. Karena dia bahagia, dia jadi semakin cantik. Dulu, wajahnya banyak luka, lebih sering menangis pula. Dia itu menyedihkan sekali empat tahun lalu.”

Hening sejenak di antara mereka, lalu tiba-tiba Yoonjung menghadapkan badannya pada Jimin.

“Lalu, apa alasanmu menyukai eonni?”

Jimin menoleh dengan menaikkan kedua alisnya. “Wae? Kenapa tiba-tiba?”

“Jawab dulu.”

Lelaki itu terdiam untuk beberapa detik. Seperti sedang memikirkan kembali alasan kenapa dia menyukai gadis bermarga Oh yang sedang dibicarakannya sejak tadi. Namun dia selalu buntu. Mau dipikirkan sampai ratusan kali pun, jawaban yang selalu muncul hanya satu.

“Karena nuna … sangat dewasa.”

“Hanya itu?” tanya Yoonjung memastikan dengan mata menyipit.

“Hm, sepertinya hanya itu. Nan molla. Memangnya semua rasa suka selalu ada alasannya?”

“Hm kurasa, itu hanya tipuan perasaanmu saja, Park Jimin. Kau menyukai eonni hanya karena rasa bersalahmu di masalalu. Karena dulu kau tidak bisa melakukan apa pun untuk melindunginya, kau pun merasa bersalah dan menyugesti dirimu sendiri jika kau menyukainya. Rasa sukamu itu sebenarnya hanya tipuan semata.”

Jimin terkikik, merasa cukup terhibur dengan kalimat Yoonjung. “Memang kau tahu apa tentang aku?”

“Aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu tapi aku pernah merasakan perasaan itu juga dulu, pada seseorang.”

“Lalu menurutmu aku sama denganmu?” Jimin menoleh dengan seulas senyum palsu di wajahnya. Nyatanya matanya tidak ikut tersenyum. “Kau itu tidak tahu apa-apa. Jadi diamlah sebelum aku melakukan hal yang mengerikan padamu.”

Yoonjung terdiam. Jimin sudah tidak lagi menoleh padanya dan kembali asik memetik gitar. Dilihat dari samping, sudah kelihatan kalau Jimin semakin bad mood sekarang. Sudah tidak jelas lagi apa yang dia mainkan dengan gitarnya. Bunyi yang keluar hanya asal petik.

Anak Min ini pun menghela napas. “Arasseo, maaf.”

Mereka sibuk dengan kegiatan dan pikiran masing-masing. Yoonjung hanya tidak tahu jika apa yang diucapkannya adalah 100% benar. Jimin berusaha mengelak karena itu adalah kenyataan. Bertahun-tahun sejak kepergian Sena ke Jepang, dia terus diliputi rasa bersalah yang besar karena tidak bisa berbuat apa pun saat melihat Sena diperlakukan tidak baik oleh keluarganya sendiri. Kemudian saat Sena kembali, Sena yang makin cantik dan dewasa, membuatnya jadi menyesali diri.

Harusnya dulu aku melindunginya.

Dan entah bagaimana, gara-gara itu pikirannya mengatakan jika dia menyukai Sena.

Aku menyukainya, jadi aku harus melindunginya.

Jimin pun berjanji pada dirinya sendiri jika dia tidak akan takut lagi untuk menjadi pelindung gadis itu. Sebagai bentuk maaf dan penyesalannya di masa lalu.

Kemudian Yoonjung pun teringat sesuatu. Dia segera menoleh dan menarik dagu Jimin untuk ikut menoleh padanya. Bibirnya mengeluarkan desisan-desisan kecil saat melihat wajah Jimin yang di beberapa titik berubah warna.

“Mau dikompres? Warnanya sudah berubah ungu, Jim.”

“Kemana saja kau sampai baru menyadarinya sekarang?” ketus Jimin sembari menepis tangan Yoonjung dari dagunya. Dia menggunakan dagunya untuk menunjuk pelipis kanan Yoonjung yang juga sama ungunya. “Memarmu juga sudah berubah ungu.”

Yoonjung reflek meraba pelipis kanannya dan langsung mengaduh saat tak sengaja menekan. Jimin hanya menggeleng penuh prihatin.

“Kau sih, kenapa harus pakai berkelahi segala? Tindakanmu itu makin memperparah situasi tahu tidak?”

Jimin menggendikkan bahu cuek. “Kau pikir dalam keadaan seperti itu aku bisa berpikir jernih? Memangnya kau tidak lihat nuna menangis?”

“Aku tahu, tapi—”

“Diam saja melihat orang disakiti itu bukan gayaku lagi. Aku tidak bisa kalau hanya menonton nuna menangis karena disakiti. Nan shireo.”

Yoonjung terdiam lagi. Jadi karena itu Jimin tiba-tiba kesetanan memukul Park Jinyoung. Sekarang Yoonjung mengerti, dia semakin yakin jika Jimin memang masih merasa bersalah pada Sena terkait semua peristiwa di masa lalu.

Keurae. Mian.”

Jimin tersenyum kecut. “Sebegitu banyaknyakah dosamu padaku sampai kau terus-terusan meminta maaf? Yaa, ambil saja kompresannya di kulkas.”

“Hm?”

“Katanya kau mau mengompres wajahku. Ayo kerjakan. Tidak jadi? Ya sudah.”

Yoonjung pun mencubit lengan Jimin gemas sambil beranjak. “Memangnya aku pembantumu? Dasar.”

“Sakit, tahu! Yaa, itu kau juga yang bersedia. Kalau kau tidak mau ya sudah. Pulang sana, pulang.”

“Kau sedang datang bulan ya? Sensi sekali sih.”

“Melihat wajahmu saja aku sudah darah tinggi!”

“Syukurlah. Jadi kau cepat mati juga.”

Note: jujur ini konflik berat banget. aku sendiri sampe pusing sendiri mikirnya. ntar kalo terlalu rumit, jangan kaget ya kalo direvisi. 

TBC

Advertisements

4 responses to “Single Parent [Chapter 14] ~ohnajla

  1. Duhh bias2ku ternistakan, wkwk. But its okay. Kepentingan cerita. Aku ttp suka. Kook sini sama aku, nanti tak kasih permen biar gak nangis trus tak rehabilitas(?) biar gak kaya psikopat wkwk apalah. Terserah gue .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s