Single Parent [Chapter 15] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11 Chapter 12 Chapter 13

Chapter 14

Akhir-akhir ini aku menganggapnya sebagai anak kandungku sendiri

**

Appa, kau akan datang menontonku ‘kan?”

Mian, hari ini appa ada konferensi pers. Ah, sepertinya Sena akan datang untuk menontonmu, Sayang. Mianhae.”

Yoonjung menghela napas. Tapi setelah itu dia tersenyum. “Ne, gwaenchanha. Appa hwaiting! Semoga konferensi pers-mu berjalan lancar.”

“Hm. Gomawo. Setelah konferensi pers-nya selesai ayah akan langsung ke sana.”

Ne. Ya sudah, kututup ya.”

Eo. Do your best, my princess. Saranghae.”

Nado saranghae, appa.”

KLIK.

Kembali dia menghembuskan napasnya dari mulut. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, pada teman-teman dari sekolahnya yang entah bagaimana sekarang menjauhinya. Mereka menatapnya dengan pandangan aneh sambil berbisik-bisik pada kawan di sampingnya. Tapi Yoonjung berusaha mengabaikan itu dengan mengantongi kembali ponselnya. Ia menoleh saat seseorang tiba-tiba menggeser duduknya hanya untuk duduk di sampingnya. Orang itu, Park Jimin, menatapnya dengan bibir yang membentuk garis lurus, mencoba untuk tersenyum tapi gagal.

Gwaenchanha, ayahku juga tidak datang,” katanya dengan santai. Dan Yoonjung memandangnya heran.

“Apa sih?”

“Maksudku, kau itu tidak sendirian, gadis pendek,” jelas Jimin sambil sengaja mendorong dahi Yoonjung dengan jari telunjuknya, sangat tidak sadar dengan tinggi tubuhnya sendiri. “Jangan menangis hanya karena ayahmu tidak datang. Sudah besar, malu.”

Yoonjung tersenyum kecut. Dia lebih baik tidak usah membalasnya daripada terjadi perang dunia. Di sini bukanlah tempat yang tepat. Mereka sedang menunggu giliran untuk tampil.

“Lagu apa yang akan kau tampilkan nanti?” Jimin tiba-tiba bersuara lagi setelah menyikut lengan Yoonjung.

“Canon.”

“Wah … itu keren.”

“Lalu kau?”

“Tiga lagu, yang satu lagu adalah lagu dari boyband favoritmu, satunya lagi OST drama dan yang terakhir adalah lagu dari DAY6,” jawab Jimin sambil memamerkan tiga jarinya yang mungil. Yah tangannya memang mungil.

“Lagu apa?”

Sangnamja, Jaywalking dan Letting Go~”

“Siapa yang memilihnya? Kau?”

Keurom, aku penyanyinya, jadi aku bebas memilih lagunya,” jawab Jimin sambil menggerakkan kedua alisnya ke atas ke bawah dengan angkuh.

“Tapi, bukannya lagu-lagu itu ada rap-nya? Memangnya kau bisa ngerap?”

Jimin mendengus tak percaya. “Kau meremehkanku? Wah, mentang-mentang aku tidak pernah ngerap di depanmu kau pikir aku tidak bisa melakukannya? Yaa, lihat saja nanti penampilanku. Kau pasti akan terkejut. Na kanda. Pastikan kau menonton penampilanku. Annyeong gadis bodoh~”

Orang gila, pikir Yoonjung. Begitu dia kembali melihat sekitar, sekali lagi dia mendapati tatapan aneh dari orang-orang itu. Padahal beberapa waktu lalu mereka masih mengobrolkan hal-hal tidak penting ala anak remaja bersamanya, tapi setelah rumor itu tersebar … ia pun tersenyum. Terserah mereka mau berpikiran bagaimana, yang pasti, dia yakin jika setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Yang harus dilakukannya sekarang hanyalah tetap berpikiran positif dan menyelesaikan lomba hari ini dengan baik. Ia sungguh tak sabar memamerkan trophy penghargaannya pada Yoongi atas kemenangannya hari ini.

Di sisi lain, tepatnya di aula gedung perusahaan MINT, tampak Yoongi yang sedari tadi membetulkan letak dasi dan arlojinya. Sebanyak 7 kali jika Hoseok menghitungnya, dia mengerti jika atasannya ini sedang gugup, meski Yoongi sama sekali tidak menampakkannya melalui ekspresi.

Sajangnim, sudah waktunya Anda untuk keluar.”

Yoongi menghela napas, terdengar cukup berat. Sekali lagi dia merapikan penampilannya. “Oke, ayo kita selesaikan ini dengan cepat.”

Hoseok pun mengikuti kemana Yoongi pergi. Dia yang menarik kursi untuk Yoongi duduk, dan menempatkan botol air minum di atas meja. Lalu ia pun menyingkir dari atas podium, membiarkan Yoongi menyelesaikan konferensi pers ini sendirian.

“Aku Min Yoongi, tiga puluh delapan tahun, selaku CEO dari Perusahaan Mint. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para reporter dan wartawan yang sudah bersedia hadir di sini. Untuk mempersingkat waktu, silahkan ajukan pertanyaan.”

“Sulit menjelaskan hubungan jenis apa yang sedang kami jalani ini. Tapi yang pasti, Nona Oh Sena, hanya kuanggap sebagai teman dari putriku. Yoonjung-ie sangat menyukai Nona Sena selayaknya kakak kandungnya. Dia sangat baik dan manis. Usianya juga tidak begitu jauh dari Yoonjung sehingga … akhir-akhir ini aku menganggapnya sebagai anak kandungku sendiri. Ya, tidak lebih dari itu.”

Sena menghela napas. Dia menonton konferensi pers Yoongi melalui ponselnya saat berada di bus, perjalanan menuju lokasi lomba Jimin dan Yoonjung. Dada kirinya berdenyut sakit. Semoga Yoongi tidak serius dengan kalimatnya berusan. Ia berharap begitu.

“Ada yang berspekulasi jika Anda dan Nona Oh pernah tidur bersama. Bisakah Anda jelaskan soal ini?”

Sena menekan bibir bawahnya dengan gigi depannya yang seperti gigi kelinci. Apa kira-kira jawaban dari Min Yoongi?

Lelaki yang akhir-akhir ini mengisi hatinya itu tersenyum tipis sebelum menggerakkan bibirnya di depan mic. “Apakah masuk akal jika aku meniduri haksaeng sepertinya? Sejujurnya, hari di mana foto itu diambil adalah hari ulangtahun Yoonjung. Kami menghabiskan waktu bersama, bertiga, untuk merayakan ulangtahunnya. Nona Oh ketiduran dalam perjalanan dan sebagai seorang pria sekaligus ayah, aku tidak tega membangunkannya dan membiarkannya jalan sendiri ke tempat tinggalnya. Itu terlalu beresiko untuk gadis remaja seperti Nona Oh. Jadi, seperti yang tercetak di foto, aku menggendongnya sampai dia bisa tidur lelap di kamarnya. Tidak ada yang terjadi. Lagi pula, coba Anda sekalian pikirkan, bagaimana mungkin aku bisa masuk ke apartemennya kalau sandi apartemennya saja aku tidak tahu. Di sana ada Yoonjung, hanya saja karena angle pengambilan yang berbeda membuat anakku tidak ikut serta dalam foto itu.”

“Hari itu adalah pertama kalinya kau memelukku, Ahjussi,” batin Sena saat tersenyum mendengar penuturan Min Yoongi.

“Maaf Tuan, tapi menurut sumber, Anda tidak keluar dari gedung apartemen itu sampai pagi. Apakah Anda ikut menginap di tempat Nona Oh?”

“Ah itu … ya, aku menginap di sana untuk semalam. Itu pun karena keinginan Yoonjung, dia sudah kelelahan dan mengantuk jadi dia memaksaku untuk menginap semalam di tempat Nona Oh.”

Ahjussi melakukannya dengan baik,” pikirnya sambil tersenyum penuh arti. Dia tidak perlu menghawatirkan apa pun lagi, ayah Yoonjung ini melakukan tugasnya dengan baik. Tidak menyetujui rumor, tapi juga tidak menolak keras rumor itu, Yoongi dengan sifat cool-nya telah menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

“Jika kami boleh tahu, apakah Anda sudah menyadari jika Nona Oh adalah putri sulung dari Oh Sehun?”

“Ya, aku sudah tahu itu.”

“Lalu bagaimana reaksi Anda soal ini? Dengar-dengar, mendiang istri Anda, Nyonya Park Siyeon, dulunya adalah kekasih dari Oh Sehun sebelum menikah dengan Anda. Kami juga dengar jika Nyonya Park Siyeon dihapus dari kartu keluarga Park karena Oh Sehun. Apakah Anda tidak keberatan jika Nona Min Yoonjung berteman dengan putri dari rival Anda?”

Di layar itu Yoongi tampak sedang membasahi kerongkongannya dengan air mineral dari botol. Mungkin orang-orang di sana akan beranggapan jika dia kehausan karena sudah banyak bicara sejak tadi. Tapi Sena, setelah mengenal Yoongi hanya dalam waktu beberapa bulan, menyadari jika sikap itu adalah bentuk dari kegugupan seorang Min Yoongi. Pertanyaan kali ini sangat sensitif.

“Jadi … begini, aku tidak tahu kenapa masalah ini harus dikait-kaitkan dengan masa lalu. Memang benar, dulu aku dan Oh Sehun sajangnim adalah rival untuk memperebutkan Siyeon. Tapi itu sudah lama, sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, bahkan Siyeon-nya sendiri sudah tidak ada di dunia ini. Aku tidak punya hak untuk membatasi pertemanan putriku. Selama putriku bahagia, aku juga akan bahagia. Nona Oh adalah gadis yang baik. Sangat tidak adil jika aku melarang mereka berteman hanya karena masalah orangtuanya di masa lalu.”

Sena sekarang mengerti. Alasan kenapa ayahnya bertindak kejam dengan memaksa keluarga Park mendepak Siyeon dari akta keluarga adalah karena masalah mereka di masa lalu. Ia tidak begitu tahu dengan kisah masa lalu kedua orangtuanya. Sejak kecil dia tidak pernah dekat dengan salah satu dari mereka, dan tahu baru-baru ini karena media. Sena pun paham kenapa Yoongi sangat mencintai Siyeon. Pasti pria itu telah melewati masa-masa sulit karena ayahnya.

“Aku tahu bagaimana rasanya ditelantarkan oleh orangtua, karena itu, aku tidak ingin melihat putriku bernasib sama denganku. Nona Oh … karena dia juga tinggal jauh dari kedua orangtuanya, aku berusaha untuk menjadi seorang ayah baginya. Mungkin bagi Anda sekalian ini terdengar aneh, tapi belajar dari masa lalu, aku tidak ingin membuat anak-anak tak berdosa seperti mereka ikut merasakan penderitaan. Mereka masih sangat muda dan belum siap untuk menghadapi persoalan rumit seperti yang orang dewasa rasakan. Aku hanya … ingin membuat mereka bahagia dengan caraku sendiri.”

Kalimat itu adalah penutup untuk konferensi pers di hari itu. Sena menghela puas. Akhirnya masalah pun terselesaikan. Bus juga sudah berhenti di tempat yang ia tuju. Segera saja dia bergegas turun dan berlarian kecil menuju lokasi lomba.

Lokasi lomba band dan musik itu dilaksanakan di sebuah gedung olahraga basket. Disediakan podium untuk panggung bagi para peserta, sementara penonton telah disediakan kursi untuk duduk. Lapangan basket itu tampak sudah ramai oleh para penonton. Sulit bagi Sena untuk mendapat tempat duduk terlebih dia datang tepat saat band urutan pertama tampil. Terpaksa dia harus menonton dengan berdiri.

Penampilan dari band dengan nomor urut pertama sangat keren, dia bertepuk tangan dengan keras sebagai apresiasi. Begitu juga dengan penampilan grup musik klasik di nomor urut dua. Dia tidak sabar menantikan penampilan Jimin dan Yoonjung. Ia berharap sekali semoga kedua adiknya itu akan keluar sebagai pemenang.

Band Jimin pun akhirnya naik ke atas panggung. Mereka mendapat tepuk tangan yang meriah bahkan saat baru menginjakkan kaki di podium, membuat Sena tersenyum lebar dan ikut bertepuk tangan. Saat Jimin mengedarkan pandangan, tak sengaja pandangan mereka bertemu. Sena melambai dengan semangat, yang hanya dibalas Jimin dengan senyum senang.

Kehadiran Sena menjadi semangat tersendiri bagi seorang Park Jimin. Dia mengangguk pada teman-temannya, pertanda jika dia sudah siap.

Lagu pertama, Sangnamja.

Doegopa neoui oppa

Neoui sarangi nan neomu gopa

Doegopa neoui oppa

Neol gatgo mal geoya dugobwa

Sena langsung histeris begitu mendengar lagu dari boyband favoritnya. Tidak hanya dia saja, sebagian besar gadis sekolahan yang menonton di tempat ini juga langsung histeris. Sejak tadi mereka disuguhkan oleh lagu-lagu yang bukan dari BTS, dan itu cukup membosankan. Tapi sekarang, gedung lapangan basket itu jadi berisik karena sorakan para wanita.

Jimin menyeringai di sela-sela menyanyi. Tidak salah dia memilih lagu ini. penonton yang semula ingin pulang karena bosan, buru-buru kembali untuk menontonnya. Hm, syukurlah, nanti saat Yoonjung tampil mereka akan berada di sana sebagai penonton.

Sengaja dia mengajak para penonton untuk ikut menyanyi dengan mengarahkan mic-nya pada mereka. Ia berhasil membuat suasana di gedung olahraga ini menjadi semakin panas.

Andal nasseo na andal nasseo

(Aku mulai gugup , aku mulai gugup)

“Niga mwonde?!” pekik sebagian besar gadis disini, termasuk Sena. (Siapa kau ?)

Neoman jallasseo?

(Apakah kau baik-baik saja ?)

Wae nareul jakku nollyeo nollyeo

(Kenapa kau terus menggodaku ?)

Neo ije geuman hol’ up hol’ up

(Hanya berhenti sekarang , tunggu , tunggu)

Ggwak jaba nal deopchigi jeone

(Pegang erat-erat sebelum aku menciummu)

Nae mami neol nohchigi jeone

(Sebelum hatiku memungkinkan untukmu pergi)

“Say what you want! Say what you want!” Lagi-lagi lapangan itu heboh oleh teriakan semangat para gadis.

Niga jinjjaro wonhaneun ge mwoya

(Apa yang kau inginkan sekarang ?)

Dan musik pun tiba-tiba tenang. Jimin berjalan ke tempat di mana Sena berdiri, dia berjongkok, bernyanyi sambil menatap tepat pada manik mata gadis itu.

Doegopa neoui oppa

(Aku ingin, menjadi oppa-mu)

Neoreul hyanghan naui maeumeul wae molla

(Mengapa kau tak tahu hati ku yang untukmu ini ?)

Nareul moreun cheokhaedo chagaun cheokhaedo

(Bahkan jika kau mengabaikan ku, Bahkan jika kau bertindak dingin)

Neol mireonaejin mothagesseo

(aku tidak bisa mendorong kau keluar dari pikiranku)

 

Jimin pun berdiri, namun masih di sana, menatap Sena lurus.

Doegopa neoui oppa

(Aku ingin, menjadi oppa-mu)

Neoui namjaga doel geoya dugobwa

(Aku akan menjadi ‘pria’ mu , coba lihat)

Naui maeumi nege datorok

(Sehingga hatiku dapat menyentuhmu)

Jigeum dallyeogal geoya

(Aku akan lari padamu sekarang)

Sena membungkam mulutnya saat Jimin melakukan high note hingga urat-urat di lehernya bermunculan. Lantas ia pun bertepuk tangan, dibalas dengan kedipan genit dari Jimin sebelum berjalan ke sisi panggung yang lain untuk menyelesaikan lagu pertamanya.

Tepuk tangan pun riuh hanya ditujukan untuk penampilan mereka. Tidak butuh jeda yang lama untuk musik lagu kedua pun dimainkan. Kali ini benar-benar lagu untuk band, dengan aliran pop rock, berasal dari OST Drama Shut Up Flower Boyband, drama yang cukup populer sampai membuat gedung ini kembali panas.

Play: OST Shut Up Flower Boyband (Sungjoon) – Jaywalking

Sepanjang lagu kedua Sena hanya bertepuk tangan sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan. Suara serak parau Jimin sangat fit dengan lagu ini. Jimin benar-benar berbakat dalam hal bernyanyi.

Dan akhirnya, sampai juga di lagu terakhir. Jimin mengatakan sesuatu sebelum musik lagu ketiga dimainkan.

“Lagu ini … kupersembahkan bagi kalian yang tengah dan telah melepaskan seseorang yang kalian cintai untuk pergi. Membiarkan dia pergi memang sulit, tapi jika itu akan membuatnya bahagia….” Jimin memberi jeda pada kalimatnya untuk melirik Sena dan tersenyum. “Mari kita bernyanyi bersama.”

Play: Day6 – Letting Go

Ada sesuatu yang ingin kukatakan, ayo kita bertemu

Sekarang kita duduk terdiam saling menatap

Aku terus memikirkan sesuatu

Haruskah aku mengungkapkan ini atau tidak?

Sebenarnya aku tidak ingin

 

Aku sudah memendamnya begitu lama

Tapi kini aku harus melepaskannya

Tidak ada yang bisa kulakukan untukmu

Ini satu-satunya cara untuk membuatmu bahagia

Jadi aku membiarkannya pergi, membiarkannya pergi, membiarkannya

 

Jadi kau bisa tersenyum suatu hari nanti

Kau bisa berbahagia sekarang

 

Kembali Jimin melempar senyum pada Sena. Sena sendiri membalasnya dengan perlakuan yang sama.

Aku mengingat kembali waktu-waktu indah yang kita lewati bersama

Hari-hari yang menyenangkan dan penuh tawa

Kenangan yang begitu berharga

Mengisi penuh dalam diriku

Meskipun aku tidak ingin

 

Aku sudah memendamnya begitu lama

Tapi kini aku harus melepaskannya

Tidak ada yang bisa ku lakukan untukmu

Ini satu-satunya cara untuk membuatmu bahagia

Jadi aku membiarkannya pergi, membiarkannya pergi, membiarkannya

 

Menahanmu

Akankah kau merasa tidak baik

Aku tahu, jadi aku berjuang untuk membuatmu pergi

Waktu kita bersama-sama, kenangan kita

Aku membiarkannya pergi, membiarkannya pergi, membiarkannya pergi

Sehingga kau bisa tersenyum suatu hari nanti

 

Jimin mengambil napas dalam sebelum melantunkan baris rap. Ia memilih untuk menutup matanya. Mencoba meresapi kata demi kata yang dia lantunkan dengan ritme cepat. Mengingat kembali kenangan-kenangan singkat yang telah dilaluinya bersama Sena.

Ah membiarkannya pergi, membiarkannya pergi,

Masa depan yang cerah yang kita lalui bersama-sama

Aku tahu aku tahu kita tak bisa lagi

Berharap untuk akhir yang bahagia

Seperti tanah yang mengeras setelah hujan

Nyeri yang hanya akan sementara, suatu hari nanti kau akan bertemu seseorang yang bisa membuatmu lebih bahagia

Itulah cinta yang layak kau dapatkan

Aku harus mengucapkan selamat tinggal sekarang

 

Aku sudah memendamnya begitu lama

Tapi kini aku harus melepaskannya

Tidak ada yang bisa ku lakukan untukmu

Ini satu-satunya cara untuk membuatmu bahagia

Jadi aku membiarkannya pergi, membiarkannya pergi, membiarkannya

 

Menahanmu

Akankah kau merasa tidak baik

Aku tahu, jadi aku berjuang untuk membuatmu pergi

Waktu kita bersama-sama, kenangan kita

Aku membiarkannya pergi, membiarkannya pergi, membiarkannya pergi

Sehingga kau bisa tersenyum suatu hari nanti

 

Sekali lagi applause kembali didedikasikan untuk menampilan band SMA Young Forever hari ini. Jimin pun tersenyum saat mengedarkan pandangan, senyumnya makin lebar saat bertemu pandang dengan Sena. Kemudian dia pun mengucapkan terima kasih, dan kembali ke backstage dengan perasaan puas.

Di sana, dia berpapasan dengan Yoonjung yang siap untuk tampil. Dia pun memperlihatkan kepalan tangannya –yang menyimbolkan kata ‘semangat’, kemudian keluar dari backstage untuk bergabung bersama Sena, menonton Yoonjung.

Nuna!

Yang dipanggil langsung menoleh. Dia melambai dengan senyum lebarnya. Jimin pun berlari kecil menghampirinya dengan semangat.

“Bagaimana penampilanku tadi?”

“Keren sekali, Jimin-a. Aku tidak menyangka kalau kau akan menyanyikan lagu BTS.”

Nuna suka?”

Neomu joha. Apa kau punya versi digitalnya? Aku mau menyimpan lagu-lagu itu dalam ponselku. Aku suka suaramu, Jimin-a.”

Jimin tersenyum simpul. Melihat Sena bahagia, dia juga ikut bahagia. Dia pun menggeleng untuk menjawab pertanyaan Sena. Terkekeh saat Sena mendadak murung.

“Kapan-kapan aku akan merekamnya sendiri untukmu. Janji.”

“Janji?!” seru Sena dengan mata berbinar.

“Janji.”

Assa! Ah! Itu Yoonjung!”

Jimin pun memalingkan pandangannya dari Sena. Di sanalah Yoonjung, duduk di depan grand piano sambil melambai ceria pada mereka. Hm, Jimin baru sadar kalau gadis itu terlihat cantik juga jika dilihat dari tempatnya berdiri. Ia balas tersenyum sambil melambai.

Grup musik klasik SMA Young Forever pun memulai penampilan mereka. Alunan musik Canon yang lembut dalam sekejap langsung mengambil hati para gadis yang berada di tempat itu. Tak terkecuali Sena. Ia hanyut dalam permainan piano Yoonjung yang diiringi biola serta alat musik lain, sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran orang baru di sampingnya. Dirinya baru sadar setelah orang itu mengambil tangannya dan menggenggamnya erat. Hampir saja dia menjerit jika orang itu tidak berbisik di telinganya.

Na-ya. Ahjussi-mu.”

Ahjussi?”

Pria yang memakai jaket hitam itu tersenyum. Matanya tidak kelihatan karena tertutup tudung jaket. Hanya bibirnya, dan dari bibirnya itulah Sena menyadari bahwa itu memang Yoongi. Ia pun tersenyum, balas menggenggam pria itu.

Lain halnya dengan Jimin yang tidak menyadari kehadiran Yoongi. Seluruh perhatiannya tercurah hanya pada Yoonjung. Gadis itu sangat serius dan menghayati permainan pianonya, membuatnya terpesona untuk beberapa alasan.

Dan saat penampilan Yoonjung berakhir, dia pun memberikan applause yang keras untuknya. Kerja bagus, Yoonjung-a.

Mereka bertiga pun menemui Yoonjung di backstage. Jimin baru menyadari kehadiran Yoongi saat dia mengajak Sena untuk ke backstage. Agak aneh rasanya saat dia menyapa ayah Yoonjung itu. Meski Yoongi tidak bicara apa-apa, tapi dia tahu jika Yoongi sudah menyadari kalau dia adalah anak dari kakak istrinya.

Untuk berjaga-jaga jika paparazzi mengikuti mereka, mereka pun bertemu di ruang kosong yang tidak terpakai. Yoonjung langsung memeluk ayahnya walaupun masih memakai jaket bertudung itu. Dia memekik riang karena ayahnya datang untuk menontonnya.

Appa, bagaimana penampilanku tadi? Keren tidak?”

Yoongi yang sudah tidak lagi memakai tudung pun tersenyum lembut. “Tentu saja. Anak ayah itu selalu paling keren.”

“Aduh, jadi malu.” Yoonjung menenggelamkan wajahnya di dada ayahnya, untuk menyembunyikan rona di pipi. Yoongi tergelak dengan tingkah lucu putrinya ini.

Melihat interaksi yang manis antara ayah dengan anak itu, tidak heran membuat Sena dan Jimin yang berada di sana ikut tersenyum.

Yoongi tak sengaja melirik Sena, tawanya pun berubah menjadi senyum penuh arti. Menyadari kemana arah pandang Yoongi, Jimin yang melihat ekspresi Sena, perlahan mulai melunturkan senyumnya.

Kurasa, aku harus membiarkanmu pergi jika benar-benar ingin melihatmu tersenyum seperti itu.

TBC

Advertisements

5 responses to “Single Parent [Chapter 15] ~ohnajla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s