“Iaokim” #6 by Arni Kyo

Iaokim

Iaokim #6

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Kim Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6

 

~oOo~

“aku tidak mengerti”.

“menjauhlah. menjauhlah dariku! Aku tidak membutuhkanmu!”.

“kau sengaja melakukan ini?”.

“apa kau tidak pernah diajarkan cara berterima kasih, Park Yeon?”.

“gadis jalang itu memarahi Luhan. Menjijikan”.

“bagaimana bisa dia berteriak pada Luhan?”.

“aku hanya ingin menolongmu, Park Yeon. Tak ku sangka kau tidak tahu diri seperti ini”.

Semua bayangan orang-orang yang berada dikoridor sekolah berubah menjadi seperti asap. Semakin mendesaknya. Semakin membuatnya sesak napas. Bahkan tatapan mereka seperti iring-iringan tombak yang siap menghunus setiap inchi tubuh Yeonsung.

“Park Yeonsung, ayo keluar!”.

Sayup-sayup Yeonsung mendengar suara itu dari kejauhan. Dimana?

“Park Yeonsung, ayo keluar!”.

Orang itu tidak sedang meneriakinya. Tetapi mengajaknya untuk pergi. Terkenang Yeonsung saat teman kecilnya mengajaknya bermain diluar.

“Park Yeonsung”.

Bayangan orang-orang dikoridor mendadak lenyap. Yeonsung melihat seseorang datang menghampirinya. Tetapi cahaya yang masuk membuat penglihatannya sedikit buram. “ya ~ kau tidak ingin keluar? Cuacanya bagus”.

Yeonsung tersentak. Terbangun dari mimpinya.

Dari luar ia dapat mendengar suara seseorang memanggilnya. Bayangan dikoridor hanyalah mimpi, tetapi suara orang itu adalah nyata. Yeonsung terjaga seraya melihat jam. Pukul 8 pagi, minggu.

Oh Seungri berdiri didepan pagar rumah Yeonsung, Dagunya bertengger diatas pagar, kedua tangannya menggenggam pagar berkarat itu. Menatap penuh harap kea rah pintu. Sejak tadi ia memanggil Yeonsung, tapi gadis itu tak kunjung muncul.

Klik

Pintu rumah terbuka bersamaan dengan mengembangnya senyuman diwajah Seungri. Yeonsung muncul dari dalam. Dengan wajah bengkak karena baru bangun tidur, rambut yang sedikit berantakan. Bahkan gadis itu masih memakai piyama yang ia tutupi dengan jaket.

“boleh aku masuk?”.

“kenapa kau kemari?”.

“ingin mengajakmu keluar”.

Dengan cepat Seungri membuka pagar rumah yang sebenarnya memang tidak terkunci. Hanya saja menurutnya tidak sopan masuk jika pemilik rumah belum mengijinkan. Seungri memilih duduk dimeja dihalaman.

“katamu kau ingin masuk”.

“ini sudah masuk”. Seungri tersenyum kuda, bahagia sekali sudah berhasil masuk dan duduk disana. “kau cepat cuci muka lalu berganti pakaian. Kita akan pergi”.

Yeonsung menatap datar pada Seungri. “kemana? Aku jarang berpergian, pakaian apa yang harus ku pakai?”.

“kemeja dan jeans, mungkin”.

“apa aku harus membawa Cello ku?”.

Seungri mengernyitkan keningnya. Akhir-akhir ini Yeonsung sering berbicara aneh. Terkadang juga saat sedang berpikir, ia tidak sekedar menyimpan pikirannya malah mengatakan apa yang ia pikirkan. Seperti saat ia berkata ‘mengapa kaos kaki harus dipakai didalam sepatu?’.

“sebaiknya tidak usah, kita akan –“.

Brakk

Pintu ditutup begitu saja olehnya sebelum Seungri selesai berbicara. Bahkan Seungri mengdengar Yeonsung mengunci pintu rumahnya dari dalam. Seungri hanya bisa berdecak sambil menunggu Yeonsung keluar lagi.

“sudah kuduga kau tidak benar-benar menyesal”. Gerutu Youngmin sambil memutar-mutar bola basket ditangannya.

Ketiga teman Luhan kembali menghakiminya karena sikap labil Luhan. Hanya karena Yeonsung marah dan membentaknya dikoridor kemarin, Luhan malah melakukan apa yang Yeonsung minta. Menjauh dan tak usah peduli.

“baiklah jika kau tidak ingin kupedulikan lagi. Tapi jangan meminta padaku agar aku kembali peduli. Memangnya kau pikir aku sudi mengulurkan tangan kepadamu sekali lagi?”.

Luhan mengutuk dirinya sendiri karena telah mengatakan kalimat itu lalu pergi. Dia hanya terlalu menjunjung tinggi harga dirinya. Masih merasa sombong dengan dirinya sendiri. Karena itulah ia secara reflek berkata kasar pada Yeonsung.

“aku harus bagaimana lagi? Kalian pikir kurang baik apa aku padanya?”.

“kalau ingin melakukan suatu kebaikan, bisa tidak kau tidak usah pikirkan sudah cukup baik kah dirimu, Lu?”. Protes Minseok.

Orang yang diprotes hanya diam seraya memanyunkan bibirnya. Dari sudut pandangnya, Luhan merasa ia sudah lebih dari baik pada Yeonsung. “tapi dia memintaku untuk menjauh. Kalian kan tahu aku tak suka mengemis”.

“apa yang telah kita lakukan padanya membuatnya mendapat dampak yang sangat buruk. Kupikir membantunya dari tindakan bullying bahkan tidak cukup”. Gumam Jihoon. Ia tak memandangi temannya, malah melihat keluar jendela.

“karena itulah ku katakan pada kalian jika ini perbuatan yang paling parah yang pernah kita lakukan”. Sahut Youngmin.

“sebelumnya kita pernah beberapa kali ikut mengerjai gadis disekolah, tapi mereka tidak sampai melaporkan pada polisi karena mereka rela saja diperlakukan seperti itu”. Jihoon berdecak.

Hening.

Mereka berkutat dengan pikiran masing-masing. Jika sedang membicarakan kebejatan kelompok mereka, pasti selalu sadar jika apa yang telah dilakukan sangat keterlaluan. Tapi tidak tahu harus bagaimana sekarang.

“kenapa kau memilih berteman dengannya? Apa kau ingin drop out lagi dari sekolah? Aku sudah pusing memikirkan masa depanmu”.

Seungri menengadahkan kepalanya ke langit. Silau. Langit cukup terang siang itu. Matanya menyipit karena bias cahaya masuk ke matanya. Seungri menghela napas. Tepat ketika ia menunduk kembali, ia melihat sosok Yeonsung berjalan bersama Euina dan teman-temannya.

Tubuhnya seperti sudah diatur sehingga ia reflek bergerak untuk menghampiri Yeonsung. sebelum kehilangan jejak. Sialnya ia berada dilantai tiga gedung ini sekarang. Euina membawa Yeonsung menuju gedung lama.

“kau pikir bisa mengubah segalanya?”. Sosok Yunbi yang tiba-tiba muncul dihadapan Seungri, membuat pria itu tidak jadi berlari.

“apa maksudmu?”. Seungri mengerutkan keningnya, balik bertanya. Ia mengenal gadis ini.

Yunbi mengangkat kepalanya. Dengan tatapan dingin, menatap Seungri. “kau – kau pikir dengan apa yang kau lakukan sekarang bisa mengubah segalanya? Semua yang telah terjadi padanya, tak ada yang bisa mengubahnya”.

Seungri baru mengerti jika ucapan Yunbi menjurus pada sikap baiknya pada Yeonsung. “setidaknya aku tidak menutup mata dan telinga untuknya”. Ujar Seungri. Ia kembali melangkah.

“kau bahkan tidak mengenalnya, kan? Aku – bahkan semua orang disekolah ini tidak ada yang mengenal dirinya, sunbae”. Ucap Yunbi lagi.

Langkah Seungri kembali terhenti. Satu hal yang tidak ia mengerti, sebenarnya apa maksud gadis ini berbicara seperti itu. “ya!”.

“Park Yeonsung hanya murid yang baru masuk, dibulan pertamanya sekolah lalu menjadi dikenal karena kejadian itu”. Yunbi menoleh seraya melirik Seungri. “jangan berpikir jika aku menutup mata dan telinga”.

Setelah mengucapan kalimat tersebut, Yunbi berlalu begitu saja. Seungri menganga heran. Gadis misterius yang berbicara dengan kata-kata yang sulit dimengerti. Tapi ada hal yang lebih penting daripada memikirkan makna dari perkataan Yunbi. Seungri harus mengejar Yeonsung.

“Park Yeon?”. Panggil Seungri ketika memasuki gedung lama sekolah.

Sepi. Hingga suara Seungri menggema didalam sana. Tak ada jawaban. Bahkan tak ada tanda-tanda orang didalam sana. Padahal Seungri yakin tadi Yeonsung pergi kemari bersama Euina.

Karena tak mendapat jawaban, akhirnya Seungri memilih untuk pergi saja. Namun, betapa terkejutnya ia ketika berbalik, gadis itu sudah berdiri dibelakangnya. Menatapnya heran.

“whoa! Kkamjjakya!”.

“apa yang kau lakukan disini?”.

Seungri mengusap dadanya sendiri. Ia benar-benar terkejut. “ah, aku mencarimu, tadi aku melihatmu kesini”.

Yeonsung menengok kedalam gedung. “tidak ada siapapun didalam”.

“makanya – yasudah ayo pergi”. Dengan cepat Seungri mengamit tangan Yeonsung, mengajaknya pergi dari tempat itu. Seungri berpikir untuk tidak menanyakan apa yang Yeonsung lakukan disini, telah menemukan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja sudah membuatnya lega.

Luhan menggigit-gigit sumpitnya setelah menyuap nasi kedalam mulutnya. Matanya menuju kearah lain dimana Yeonsung duduk dikursi sudut, sendirian. Gadis itu makan dengan tenang. Tak ada seorangpun yang mengganggunya seperti biasa. Ya, setelah sekian lama akhirnya ia bisa makan dengan tenang dikantin.

“Lu”. Panggil Minseok. Luhan tetap diam. “ya!”. Minseok melambaikan tangannya didepan wajah Luhan.

Heran. Akhirnya Minseok mengikuti arah tatapan Luhan. Minseok hanya bisa berdecak. Sungguh, ia sudah mencoba memahami sikap Luhan, tetapi ia tetap tidak mengerti mengapa Luhan sangat keras kepala dan hati.

“jika kau ingin makan bersama nya, pergilah”. Suruh Jihoon sambil menyumpit makanan dari nampan Luhan.

“cih… dia sendiri yang menyuruh ku menjauh”.

“lalu kau menurutinya?”. Ujar Youngmin dengan sewot.

Luhan menarik napas. Menyudahi kegiatannya memandangi Yeonsung dari jauh. Ia kembali melanjutkan makan siangnya. “apa lagi yang bisa kulakukan? Dia yang menginginkan itu”. Tangkas Luhan dengan santai.

“kau tahu, pembullyan terhadap Yeonsung sudah berkurang sejak kau menjauh”. Ujar Youngmin. Ia menelan makanannya sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “kupikir sekarang ia berpikir jika benar kau yang sengaja membuatnya menderita agar kau bisa terlihat seperti malaikat penolong”.

“benar. itu masuk akal”. Sahut Jihoon.

“ya ~ ya ~ Yongjoon?”. Selah Minseok.

Sontak teman-temannya menoleh kearahnya, Minseok mengkode agar teman-temannya menoleh kearah Yeonsung sekarang. Yongjoon dan Minho duduk dihadapan gadis itu. Meskipun Yeonsung tidak merespon, seolah tak ada seorangpun dihadapannya kini.

“apa yang mereka lakukan disana? Tsk!”. Umpat Jihoon. Entah mengapa ia merasa geram.

“Lu?”. Youngmin menatap Luhan, seolah berkata ‘pergilah kesana, bodoh! Jangan biarkan Yongjoon mendekati Yeonsung lagi!’.

Luhan berdiri dari tempat duduknya. Youngmin merasa lega, telepati nya berhasil, pikirnya. Tapi Luhan malah membawa nampannya dan pergi dari sana. Sungguh tidak terduga. Bukannya menghampiri Yeonsung, Luhan malah menyudahi makan siangnya.

“dia itu benar-benar”. umpat Minseok.

Sementara itu Jihoon memantau Yunbi dari tempat duduknya, memastikan gadisnya tidak diganggu oleh siapapun. Bahkan disaat seperti ini ia masih memikirkan Yunbi.

Malam ini, Yeonsung pergi untuk menemui kakaknya. Chanyeol tidak mengangkat telpon maupun membalas pesannya. Tapi Yeonsung tetap ingin bertemu. Sebelum ia kehilangan kepalanya, ia ingin menceritakan apa yang terjadi padanya. Tentang pemerkosaan, tentang ibu mereka yang tidak membelanya, tentang pembullyan yang ia alami. Semuanya.

oppa”. Panggil Yeonsung ketika melihat Chanyeol muncul dari dalam tempat kerjanya.

“kenapa kau kemari?”. Tanya Chanyeol yang langsung menghampiri adiknya.

“aku ingin bicara denganmu, tidak bisa?”.

oppa”. Suara seorang gadis memanggil Chanyeol, gadis itu muncul dari dalam tempat kerja Chanyeol. Berperawakan tinggi dan langsing. Ia juga terlihat cantik. Sangat cocok dengan Chanyeol. “um, siapa?”.

Yeonsung bertemu pandang dengan gadis itu, bahkan Chanyeol langsung merangkulnya tanpa canggung. “uri yeodongsaeng”. Jawab Chanyeol.

annyeonghaseyo”. Yeonsung langsung membungkuk.

“ah, dongsaeng, annyeong. Kang Minah. Siapa namamu?”. Gadis bernama Minah itu membalas dengan sangat ramah.

“Park Yeonsung”. jawab Yeonsung dengan suara pelan.

“Minah’ya, kau masuklah dulu, aku harus bicara dengannya”. Suruh Chanyeol. Minah langsung menuruti perkataan Chanyeol. “jadi ada apa?”.

“siapa dia?”.

Chanyeol menggengam kedua lengang Yeonsung. tersenyum manis pada adiknya. “Yeon’ah, kau tahu jika aku tidak pernah pulang kerumah, dan aku juga sudah dewasa. Jadi aku berpikir untuk memulai kehidupan baru”.

“menikah?”.

“bisa dibilang begitu”.

“lalu aku bagaimana?”.

Yeonsung terus menatap tajam pada Chanyeol. Sementara pria itu berdehem, memutar matanya karena tak tahu harus menjawab apa. “aku berpikir untuk menyuruh mu tinggal bersama eomma, tapi kau tidak akan mau”.

eomma yang tidak mau bersamaku”.

Chanyeol menghela napas. “kalau begitu bagaimana jika pindah ke sekolah asrama saja?”. Tawar Chanyeol. Setelah berpikir sejak lama, terlintas dibenaknya agar Yeonsung sebaiknya masuk ke sekolah asrama.

“tidak mau”.

“jadi apa mau mu? Aku tidak bisa terus melihatmu, mengkhawatirkanmu, Park Yeon. Jangan keras kepala. Jika kau tidak ingin merasa seperti hidup sendirian maka turuti saja perkataanku”. Oceh Chanyeol dengan nada sedikit meninggi.

“apa kau pernah melihat dan mengkhawatirkanku, Park Chanyeol? Bahkan aku tahu keberadaanmu dari temanmu, Jongin oppa. Hidup sendirian bukan sekedar perasaanku, tapi aku memang sudah hidup sendirian”. Balas Yeonsung.

Mendengar perkataan Yeonsung, Chanyeol menjadi emosi. Tetapi ia berusaha untuk menahan emosinya. “kau menjawab perkataanku, Park Yeonsung?”.

“pernahkan oppa sekali saja bertanya, bagaimana sekolahmu, bagaimana teman-temanmu, apakah mereka baik atau tidak? Pernahkah?”.

“apa maksudmu? Apa kau – Park Yeon, kau mendapat perlakukan tidak pantas disekolah?”.

Yeonsung diam. menunduk. Hampir menangis. “sudahlah, aku hanya ingin kau bertanya karena kupikir kau peduli”. Yeonsung menendang-nendangkan sepatunya ke aspal.

“jika terjadi sesuatu padamu, katakan padaku”.

“bagaimana aku bisa mengatakannya sedangkan kau tidak bertanya!?”.

Yeonsung mengangkat kembali kepalanya, dengan segaris airmata yang mulai turun dari pelupuk matanya. Chanyeol terdiam. Belum sempat Chanyeol menanyakan apa yang terjadi, Yeonsung berbalik. Berjalan dengan cepat hingga berlari menjauh.

Chanyeol tidak tinggal diam, ia mengejar adiknya. Tidak biasanya Yeonsung bersikap seperti barusan. Pasti telah terjadi sesuatu. Pikir Chanyeol.

Yeonsung tahu jika Chanyeol mengejarnya, lantas ia memilih untuk bersembunyi dibalik tembok. Meringkuk sambil memeluk kakinya sendiri. Jika sudah begini, Yeonsung tak akan sanggup untuk mengatakan pada Chanyeol yang sebenarnya.

Terlihat Chanyeol menghentikan langkahnya, ia menoleh kesekitar namun tak menemukan Yeonsung. Chanyeol merogoh saku jaketnya ketika ponselnya berdering. “kenapa? Tunggu, aku kembali kesana segera”. Perkacapan Chanyeol diponsel.

Setelah mengakhiri sambungan telponnya, Chanyeol berbalik. Kembali ke tempat kerjanya. Ia lebih memilih untuk kembali daripada mencari Yeonsung.

Lu Hwang mengendap-endap masuk ke dalam kamar putranya, Luhan. Ketika itu Luhan tengah sibuk bermain game dikomputernya. Earphone menutup rapat kedua telinganya. Biasanya jika sedang bermain game, Luhan sangat focus hingga tak akan sadar apa yang terjadi disekitarnya.

“jangan bertingkah seperti pencuri dirumahmu sendiri, Tuan Lu”. Gumam Luhan.

Lu Hwang segera berdiri tegap. Tak menyangka jika Luhan sadar akan kehadirannya meskipun tangan dan matanya melakukan hal lain. “aku hanya tak ingin mengganggu”.

“tapi kau sudah mengangguku sekarang, baba”. Luhan melepas earphone nya, menoleh dan melihat ayahnya tengah memeriksa majalah dewasa dibawah tempat tidur Luhan.

“dulu kita sering bermain playstion bersama”. Ujar Lu Hwang seraya membolak-balik majalah dewasa.

Luhan panik, sadar apa yang ayahnya temukan. Ia segera berlari kearah ayahnya, merebut majalah itu dari tangan Lu Hwang. “jangan menyentuh barang-barangku sembarangan”. Amuk Luhan.

Plakk

Lu Hwang menjitak kepala Luhan. “eiyo, otakmu benar-benar sudah konslet. Lagipula apa bagusnya melihat gambar-gambar seperti itu, anak sialan”. Oceh Lu Hwang.

Luhan tak peduli. Ia mengembalikan majalah tersebut ke bawah tempat tidur. Lalu berdiri sambil berkacak pinggang. “aku cukup umur sebentar lagi, tahun depan aku bahkan sudah boleh minum alcohol ditempat umum”. Ujar Luhan dengan bangga.

“aishh… terserah kau saja”.

Merasa ayahnya kalah ucapan, Luhan tersenyum miring.

“tapi, bisakah aku bertemu dengan gadis itu? Park Yeonsung? gadis yang kau katakan sebagai anak dari mama?”. Tanya Lu Hwang.

“a-apa? bertemu dengannya?”.

Lu Hwang mengangguk pasti. Setelah mendengar Luhan berkata soal putrid Han Hyerin, Lu Hwang merasa penasaran pada gadis itu. Jika memang benar dia adalah putrid dari istrinya, Lu Hwang tidak keberatan jika harus mengajaknya tinggal bersama. Atau setidaknya mengurus anak itu.

“kupikir tidak bisa. Lagipula, kenapa baba bertanya soal itu?”.

“kenapa tidak bisa? Aku hanya ingin tahu, jika benar berarti aku mendapat seorang putri”.

“memangnya punya aku seorang sebagai anak baba tidak cukup?”.

Lu Hwang menatap datar pada Luhan. Sedangkan orang yang ditatap hanya diam, seperti sedang merajuk. Lu Hwang menjitak kepala Luhan sekali lagi. Sebelum akhirnya ia pergi dari kamar anaknya.

Yeonsung tidak mengerti bagaimana ia bisa menekan nomor ponsel Euina dan menelpon. Memang Yeonsung langsung mematikan sambungan telpon setelah telpon tersambung. Tetapi Euina malah menelponnya kembali. Jadilah sekarang Yeonsung duduk dihalte bus, menunggu seseorang.

Kemarin, saat Euina membawanya ke gedung lama sekolah, gadis itu memberikan sebuah penawaran. Jika Yeonsung mau berteman dengannya, semua pembullyan yang ia alami akan berakhir. Semudah itu.

Dan sekarang Yeonsung menyesal karena telah menerima tawaran Euina.

“Park Yeon”. Seseorang memanggilnya. Yeonsung melamun hingga tidak sadar jika sebuah motor sport berhenti didepan halte. “naiklah”. Suruh orang yang memakai helm dengan kaca hitam.

Yeonsung berdir, melangkah perlahan mendekati motor itu. Ia tidak tahu siapa orang ini. tapi ciri-ciri nya sama seperti yang Euina katakan. Orang itu memberikan helm kepala Yeonsung. gadis itu memakainya dan naik ke motor. “kita akan kemana?”.

“diam saja. Berpegangan”.

Sekarang ia sudah berada diatas motor yang tengah melaju. Yeonsung tak bisa kembali lagi. Tanpa tahu keputusannya benar atau salah.

Motor terus melaju dijalanan, menuju tempat yang Yeonsung tidak tahu dimana. Tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Dari belakang Yeonsung hanya bisa mencium aroma parfum maskulin si pengendara didepannya ini.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit, mereka akhirnya tiba. Yeonsung menatap bangunan yang berada didepannya kini. Motor yang membawanya berhenti dan parkir. Segera saja Yeonsung turun.

Tempat karaoke.

Sempat terpikir sebelum ia menjadi murid sekolah atas, ia ingin pergi ke tempat karaoke bersama teman-temannya. Dan sekarang ia berada ditempat itu.

Orang itu – Yongjoon melepas helm yang dipakai Yeonsung. membuat gadis itu terperanjat, ia sama sekali tidak tahu jika pria ini yang menjemputnya.

“ayo masuk”. Tanpa canggung Yongjoon menarik tangan Yeonsung.

“tunggu –“. Yeonsung menolak untuk ikut. “tapi aku masih memakai seragam”. Ujar Yeonsung, mencari alasan agar bisa pergi.

Yongjoon malah tersenyum, seperti ada hal yang lucu. “kau seksi dengan seragam itu, atau kau ingin kubelikan baju dan berganti di toilet?”.

“aku – aku ingin pulang”.

Senyuman diwajah Yongjoon seketika menghilang. Ia menggengam erat pergelangan tangan Yeonsung, menyalurkan emosinya. “aku sudah jauh-jauh menjemputmu lalu kau ingin pulang?”.

Yeonsung meringis tertahan. Ia merasakan reaksi yang sama seperti saat ia akan diperkosa dibelakang sekolah. Tubuhnya mendadak lumpuh, tak bisa melakukan perlawanan sama sekali. Kakinya bergerak mengikuti langkah Yongjoon yang enggan melepaskan genggamannya dari tangan kurus Yeonsung.

Yongjoon masuk ke dalam ruang karaoke. Disana sudah ada Euina dan teman-temannya serta beberapa orang lelaki. Yeonsung kenal salah satu dari mereka, yaitu Minho.

“akhirnya datang juga”. Euina menyambut kedatangan Yeonsung dan Yongjoon dengan sangat riang.

Setelah berada didalam ruangan itu, Yongjoon melepaskan genggamannya. Dan membebaskan Yeonsung untuk duduk dimana saja. Sedangkan ia mengobrol bersama teman lelakinya. Yeonsung tak tahu harus melakukan apa, ia tidak pernah berada disituasi ini sebelumnya.

Euina sibuk bernyanyi bersama seorang lelaki. Minho duduk dipojok ruangan bersama Minjung, mereka tampak mesra bahkan sesekali Minho tampak mencium pipi Minjung. Yeonsung kebingungan dan takut. Ia memilih untuk menunduk, menyalakan ponselnya. Berniat untuk menghubungi seseorang.

Tapi, siapa?

Disaat Yeonsung tengah berpikir siapa yang akan ia hubungi, tiba-tiba seseorang merebut ponselnya. Sontak Yeonsung mendongak, Yongjoon duduk disebelahnya. Ia meletakkan sekaleng beer ditangan Yeonsung sebagai pengganti ponsel yang tadi Yeonsung pegang.

“kembalikan”.

“apa?”.

“ponselku. Kembalikan”.

Yongjoon melihat ponsel Yeonsung yang kini berada ditangannya. Yongjoon me-nonaktifkan ponsel itu lalu memasukkannya ke dalam saku celana. “akan ku kembalikan jika kau menghabiskan isi kaleng ini”. ujar Yongjoon.

Yeonsung diam sejenak. Menatap lubang kaleng yang sudah terbuka. “tapi aku masih dibawah umur”.

“kau bertingkah seperti orang tua yang sudah bisa mengendalikan diri. Minum saja, minum”. Yongjoon menggerakkan tangan Yeonsung agar meminum beer yang ia berikan.

Seperti terhipnotis, Yeonsung membuka bibirnya untuk meminum beer yang diberikan Yongjoon. Terlihat Yongjoon tersenyum puas melihat Yeonsung menuangkan isi kaleng ke dalam mulutnya sampai habis.

“whoa, Yeonnie, kau minum juga? Bersulang denganku?”. Euina yang baru selesai bernyanyi melihat saat Yeonsung dipaksa minum oleh Yongjoon, ia segera mengambil sekaleng untuk bersulang dengan Yeonsung.

“aku tidak –“.

chaa ~”. Yongjoon memberikan sekaleng lagi kepadanya. Karena Yeonsung tidak menyambut kaleng itu, jadi Yongjoon menarik tangan Yeonsung untuk memegang minuman yang ia berikan.

“bersulang untuk pertemanan kita”. Ujar Euina seraya meradukan kaleng beer nya dengan kaleng beer yang Yeonsung pegang. Euina bisa minum tanpa kesulitan.

“habiskan lagi, ini untukmu dan Euina”. Bisik Yongjoon dengan tangan yang kembali mengarahkan tangan Yeonsung agar kembali minum.

Hingga kaleng ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Yeonsung minum terlalu banyak hingga ia tidak sadar. Mereka terus menyuruhnya minum.

Luhan tersentak.

Terbangun dari tidur dengan mimpi buruk. Pagi menjelang saat alarmnya dengan menyebalkan melolong membangunkan Luhan. Tapi Luhan berterima kasih karena alarm itu hingga mimpi buruk yang ia alami berakhir.

Segera Luhan bangun dari tempat tidurnya sambil mengumpat, mengapa ia harus mengalami mimpi buruk seperti itu? Aneh sekali.

Pagi ini, ia hanya sarapan berdua dengan ibu tirinya. Karena Lu Hwang pergi ke Beijing untuk urusan bisnis. Tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka, Luhan makan dengan cepat karena ia ingn cepat-cepat pergi.

“itu karena kau salah posisi tidur, coba tidur berlawanan arah dari yang biasanya”. Komentar Minseok setelah Luhan berkata ia bermimpi buruk semalam.

“memangnya akan berpengaruh?”. Tanya Jihoon dengan polosnya.

“coba saja kalau kau tidak percaya”. Minseok sewot, berusaha meyakinkan teman-temannya. Padahal yang ia katakan hanyalah bualan.

Jihoon memutar matanya, berpikir apakah benar jika bermimpi buruk maka harus tidur berlawanan arah. “bodoh, jangan dengarkan dia”. Sahut Youngmin merasa Jihoon telah terkena bualan Minseok.

“aku tidak pernah bermimpi buruk seperti nyata sebelumnya. Aneh sekali”. Luhan mengelus dagunya, dengan kening berkerut menandakan jika ia sedang berpikir serius.

“sudahlah, jangan dipikirkan, lagipula hanya mimpi”. Minseok merangkul bahu Luhan. “ayo ke kelas”. Ajaknya.

Ketiga temannya pergi sementara Jihoon tetap disana. Ia sedang menunggu Yunbi lewat. Sejak tadi ia tidak menemukan Yunbi. Lagipula ia berada dikelas yang berbeda dari ketiga temannya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya orang yang ditunggupun muncul. Yunbi berjalan dengan santai seperti biasanya. Sorot matanya menatap lurus kedepan. Bibirnya tertutup rapat.

“Yunbi’ah, annyeong”. Sapa Jihoon.

Bahkan Yunbi tak menyadari Jihoon sedang berdiri dikoridor, menunggu dirinya. “oh, sunbae, annyeonghaseyo”. Jawab Yunbi lalu tersenyum. Namun senyuman itu tidak bertahan lama.

“kenapa? Kau sakit?”. Jihoon khawatir melihat reaksi Yunbi.

“ah, tidak. Ada apa, sunbae?”. Yunbi mengelak.

Jihoon tersenyum lebar. Tangannya mengulur memberikan susu stroberi kotak pada Yunbi. “ini, kau pasti belum sarapan, kan? Minumlah”.

gomawoyo”. Jawab Yunbi seraya menyambut susu kotak yang Jihoon berikan. Setelah Yunbi menerima hadiah kecil darinya, Jihoon malah berlari dari sana. Yunbi sampai mengapa Jihoon sampai berlari seperti itu.

Dibaliknya kotak susu yang Jihoon berikan.

be happy J

Sebuah catatan yang Jihoon tulis sendiri tertempel dibelakang kotak susu itu. Yunbi tersenyum simpul. Meskipun bibirnya tersenyum, entah mengapa hatinya tak bisa tersenyum meskipun jujur saja ia senang mendapatkan hadiah kecil semacam ini.

Sesaat sebelum kelas dimulai, Luhan menerima sebuah pesan di ponselnya. Ia segera membuka pesan yang dikirim melalui SNS itu.

‘Luhan, Yeonsung dimana?’. – Hanabi

Isi pesan tersebut membuat Luhan mengerutkan keningnya. Tiga hari. Ya, sudah tiga hari dan ia sempat lupa jika tidak melihat Yeonsung disekolah. Baru saja Luhan ingin mengetik pesan balasan. Sebuah pesan lagi-lagi masuk ke ponselnya. Kali ini sebuah gambar yang merupakan tangkapan layar dari kiriman dari akun Yeonsung yang asli.

= Damaged people are more dangerous, because they know how to survive =

‘dia baik-baik saja, kan?’. – Hanabi

Luhan tak tahu harus menjawab apa kini. haruskah ia mengatakan jika ia tak tahu menahu soal Yeonsung karena gadis itu memintanya menjauh. Tapi – siapa Hanabi? Akun yang sempat membuat heboh karena poto dan video yang ia unggah.

TBC

Mata Yeonsung yang terpejam mengerjap ketika ponselnya berdering. Yeonsung bergerak untuk duduk. Rambutnya terurai berantakan, basah karena keringat. Bahkan mencium aroma tubuhnya sendiri ia merasa ingin muntah.

Lalu Yeonsung meraih ponselnya, pukul 12 siang. Ia melihat panggilan tidak terjawab, pesan singkat dan pesan yang masuk di akun SNL nya. Karena merasa panggilan dan pesan singkat tidak penting, makan Yeonsung membuka SNL nya.

‘apa kau Park Yeonsung?’. – Luhan

Yeonsung belum sempat membalas ketika sebuah panggilan masuk lagi ke ponselnya. Perlahan ibu jari Yeonsung menggeser tombol jawab. Ia menempelkan ponselnya ke telinga.

ne?”.

Suara seraknya menyahut ketika orang diseberang berbicara. Yeonsung terus mendengarkan orang itu berbicara. Sambil memegangi perutnya yang terasa keram. Untunglah si penelpon tidak berbicara lama. Jadi ia bisa berbaring lagi setelah meminum obatnya, segelas air putih membasuh tenggorokannya.

= Kiiroi hanabi ga hirogaru sora no shita. Furikaeru tabi kimi wo sagasu =

(Dibawah langit dipenuhi dengan kembang api kuning yang menyebar. Ketika aku berbalik, aku mencarimu)

Yeonsung mengirim sesuatu ke SNL nya dalam bahasa Jepang, sebelum ia kembali tertidur.

Bisa dibilang ini part yang paling lancer aku ngetiknya 😀

Kkkk ~ otoke nih jadinya? Masih riweh kah? Wkwk

Btw Yeonsung ngirim postingan dengan huruf Jepang yak :v

Okelah, jangan lupa comment like nya permirsah :*

 

Advertisements

23 responses to ““Iaokim” #6 by Arni Kyo

  1. yeonsung nya di perkosa lagi?
    aku kira hanabi itu seungri tapi entahlah hehe cuma menebak.
    kasian banget ihhh yeonsung kapan gak menderitaanya.hiks ih

  2. aku lier bacanya, bapaknya(?) luhan gak marah ibu tirinya luhan punya anak perempuan dia malah senang, tp aku kesel sama chanyeol benar apa yg yeonsung katakan, chanyeol terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri, ngakunya mengkhawatirkan yeonsung tp dia gak tau masalah apa yg bikin yeonsung tertekan dan chanyeol gak pernah menanyakan hal itu, adiknya kok di tinggal sendiri dengan beban berat dia malah bahagia mau nikah lagi (Maafnih emosi) hehe…. nextt

  3. Jangan sampe yeonsung d perkosa lagi.. .merinding.. Gara2 akhr2 ne Bnyk berita pelecehan seksual…ditunggu ya thor par selanjutnya

  4. Aku setuju yeonsung sama seungri wkwkwk.
    awalnya kesel ada tulisan tbc, eh tapiiii… arni eon daebak.
    Aku suka ceritanya, ya walaupun kayak naik rollercoaster campur aduk gitu perasaanya.

  5. First chanyeol bikin kesel, aku kira dia sayang sama yeonsung 😦
    Trus lu hwang gokil yah😂
    Last, yeonsung kenapa dan hanabi itu…seungri?

  6. Aku puseng tujuh keliling baca cerita ini.. bukan apa2 sih ssaeng. . Tapi eon ga sanggup ngehapal semua cast hahahahah 😂😂😂😂😂😂 ada apa ya dg perubahan sikap Yeonsung?? Tuuh kan bencinya aku sma Euina tmbh membandel!!!! *KorAn a.k.a KorbanIklan 😆 tih nah noohhh Luhan rasain siapa suruh gengsimu seluas empang! 😅😁 kan kamuu jd jauh sm Yeonsung n mlah jd g tau apapun ttg dy kan…. hoooaaaaa aku masih angry bgt sm Euina!!! Hbis minum beer Yeonsung diapain ya??? I am scared 😢 ooh Baba…. kau selalu mengusili anakmu…. tp smpet sdkit kaget pas baba Hwang juga menginginkan Yeonsung jd putrinua!!! N paling nyesek smpe skrg adlh ketika Chanyeol kakaknya Yeonsung bnr2 g tau apapun yg trjd dgn adeknYa huaaa 😭😭 kaka macam apa kamu Chanyeoooll????!!! #cakarTembok 😭😭😭😭 #Merestisu aaah hidupmu Yeonsung…. kapankah kau kan bahagia…..??? #NanyaGuling 😂

    • atuhlah jangan dihapalin unni, ini kebanyakan cast numpang lewat aja kok :3
      unch… sebaiknya unni baca dichapter selanjutnya biar tau hahaha :v
      iyalah unni, kan dia ngga ada anak cewe makanya mau kalo misal Yeonsung bisa balik ke rumah mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s