Single Parent [Chapter 17] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16

“Kau sungguh sudah baik-baik saja? Tidak apa-apa istirahat sebentar lagi. Akan kubuatkan makan malam.”

Yoongi menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Tidak perlu, Ahjumma. Aku sudah merasa lebih baik.”

Tapi ibunya agaknya tidak bisa dibohongi begitu saja. Yoongi baru tidur selama 2 jam, itu pun tidak benar-benar tidur. Sebagai seorang ibu, tentu ia bisa merasakan bahwa anaknya belum sebaik yang diucapkan.

Gwaenchana-yo. Aku tidak merasa direpotkan, biar bagaimanapun sepertinya kau belum baik-baik saja, Tuan.”

Dan Yoongi tetap menolak. “Aku harus segera pulang. Putriku sendirian di rumah.”

Mendengar itu, akhirnya Nyonya Min pun luluh. “Baiklah. Tapi sesampai di rumah, segera istirahat, hm? Aigoo, haha, sepertinya aku terlalu berlebihan ya? Itu karena kau mirip sekali dengan anakku, Tuan. Dia juga selalu lemas setiap kali kelelahan. Sama seperti kondisimu sekarang.”

Yoongi tersenyum tipis. “Maaf sudah merepotkanmu, Ahjumma.”

Aigoo, aku kan sudah bilang kalau kau sama sekali tidak merepotkanku. Jangan meminta maaf seperti itu.”

Ne, kalau begitu, aku permisi.”

Ne, ne. Mengendaralah dengan hati-hati.”

“Saya juga permisi, Nek.” Sena menyahut dengan gestur sopannya. Nyonya Min yang melihatnya tampak  sedikit terpukau.

Aigoo .. kau ini cantik dan sopan. Ya, hati-hati ya.”

Sena terkekeh. “Mari.”

Yoongi pun membungkuk, diikuti oleh Sena. Lalu mereka segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari restoran itu.

Yoongi melepaskan tudung jaketnya. Ia menghela napas panjang. Satu tangannya berada di atas jendela pintu mobil yang sengaja dibukanya lebar, sementara tangannya yang lain mengoperasikan setir. Matanya menatap lurus ke depan hingga dia tidak menyadari atensi Sena padanya.

Ahjussi, gwaenchana-yo?

“Hm,” jawab Yoongi singkat, tanpa sedikitpun menoleh, bahkan melirik pun tidak.

Sena menghela napas. Jawaban itu tidak memuaskannya. “Aku khawatir karena kau tiba-tiba jatuh sakit. Apakah terjadi sesuatu? Tolong beritahu aku kalau memang benar seperti itu. Jangan pendam sendiri masalahmu, Ahjussi. Seringan apa pun atau seberat apa pun masalah itu, kau harus membicarakannya pada orang lain. Memendamnya sendiri justru akan membuatmu semakin tertekan.”

Suasana di mobil itu mendadak senyap. Entah apa yang dipikirkan Yoongi, pria itu sama sekali tidak merespon. Matanya tetap menatap lurus pada jalanan. Bahkan dia tidak peduli meskipun sinar matahari sore menyilaukan penglihatannya. Justru dia menekan pedal gas semakin dalam, membuat laju mobil semakin cepat.

Melihat diamnya seorang Min Yoongi, Sena pun tidak berniat untuk mendesak. Ia berpegangan pada pegangan atas mobil sambil menatap khawatir pria di sampingnya. Mau menanyakan kemana Yoongi membawanya pun dia tidak berani. Apa pun itu, dia membiarkan sikap Yoongi yang satu ini.

Kira-kira 40 menit kemudian, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang jauh dari keramaian kota. Di sejauh mata memandang hanya terdapat pasir dan air. Yoongi pun menjatuhkan diri di atas pasir, sekalian menarik Sena untuk mengikuti apa yang dilakukannya.

Sena menegang saat Yoongi tiba-tiba memeluknya. Mendadak dia teringat saat di mana Yoongi memeluknya di hari ulang tahun Yoonjung waktu itu. Tapi, biar bagaimanapun ini di ruang terbuka. Bagaimana kalau ada yang lihat dan rumor mereka makin berkembang? Bahkan … Yoongi belum pernah sekalipun memintanya untuk menjadi seorang kekasih. Apakah ini pantas untuk dilakukan?

A-ahjussi, nanti ada yang lihat. Tolong lepaskan.”

Tapi Yoongi tak sekalipun peduli dan malah memintanya untuk memeluk balik.

Ahjussi…”

“Tadi itu, ayah dan ibuku.”

Ne?!” Secara natural, Sena pun melupakan keinginannya untuk melepaskan diri dari Yoongi. Ia membelalak setelah mendengar kalimat itu.

“Maksudmu, nenek dan kakek di restoran tadi? Jeongmal-yo?

Yoongi mengangguk lemah. “Aku pikir jika mereka telah melupakanku, nyatanya mereka justru masih memikirkanku.”

Ahjussi….” Sena bergumam saat melihat setetes air turun dari mata Yoongi dan jatuh bebas ke pasir. Ia pun menggunakan ibu jarinya untuk menghalau tetesan kedua jatuh di tempat yang sama.

“Siyeon saja masih sering menghubungi kakaknya untuk mencari tahu kabar orangtuanya. Tapi aku bahkan berusaha melupakan mereka. Berpikir jika hanya aku orang yang paling menderita di dunia ini, tanpa sedikitpun memikirkan seberapa menderitanya mereka setelah aku pergi begitu saja. Selama ini aku hidup enak dengan uang yang kudapat, sementara mereka….”

Sena membiarkan Yoongi menangis di pelukannya. Ia menggunakan tangannya untuk mengelus punggung pria ini. Dia mengerti, pria juga butuh menangis seperti wanita. Justru menumpahkan emosi dengan menangis jauh lebih baik, daripada menghancurkan barang-barang dan lari pada hal-hal yang sifatnya hanya meredakan emosi sesaat.

Di sisi lain….

Yaa, micheosseo? Darimana kau dapatkan benda ini?!” Yoonjung menunjuk putung rokok yang baru saja diinjak-injaknya sampai mati. Wajahnya memerah, menahan amarah.

Tapi Jimin yang kehilangan akal, malah mendorong Yoonjung sampai gadis itu terhempas pada tumpukan kursi kayu rusak. Ekspresi wajahnya tetap datar saat Yoonjung meringis kesakitan karena sesuatu yang tajam baru saja menggores punggungnya.

“Mau aku mendapatkannya darimana apakah itu lantas menjadi urusanmu? Kau tidak berhak mengaturku. Siapa dirimu sampai berani melakukan itu?”

Yoonjung mengangkat wajahnya, menatap nyalang pada Jimin. Tak peduli jika punggungnya mungkin berdarah, dia pun segera bangkit dan menarik kuat kerah Jimin hingga wajah mereka selevel. Napasnya memburu.

“Kau boleh sakit hati, tapi tidak dengan ini caranya, Park Jimin! Benar, aku hanya seorang sepupu yang bahkan tidak dianggap lagi dalam keluargamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri! Ikut aku, akan kutunjukkan bagaimana caranya mengobati perasaanmu.”

Tapi Jimin dengan mudah menepis tangan Yoonjung yang akan menarik lengannya.

“Tidak perlu repot-repot. Aku tidak butuh itu.”

Namun Yoonjung lebih keras kepala. Entah kekuatan dari mana, dia akhirnya bisa menarik Jimin hengkang dari rooftop apartemen Hwa Yang Yeon Hwa dan berpindah menuju apartemen milik Jimin. Dia menyuruh Jimin duduk di sofa sementara dia beranjak memasuki kamar lelaki itu, lalu keluar membawa semua peralatan menggambar dan menyimpannya di atas meja. Kemudian ditariknya lengan Jimin supaya duduk di karpet bersamanya.

“Menggambarlah.”

Jimin menatapnya tak mengerti. “Ini yang kau maksud dengan mengobati perasaan? Hah, kekanakkan.”

Yoonjung yang tidak terima pun mencubit lengannya sampai yang punya lengan menjerit. “Kekanakkan katamu? Justru merokoklah yang kekanakkan! Kau pikir dengan merokok perasaanmu akan terobati? Kau malah akan semakin buruk di mata eonni! Bukannya kau sendiri yang sudah membiarkan eonni bersama ayahku?! Kau ini berkepribadian ganda atau bagaimana sih?”

“Siapa kau—”

“Siapa aku yang beraninya melakukan ini padamu, begitu? Aku Min Yoonjung. Wae? Apakah aku harus menulis autobiografi-ku dulu supaya kau mengenalku?”

Jimin memandangnya tak percaya. “Demi apa aku bisa punya sepupu keras kepala sepertimu. Annoying, cerewet, tukang mengatur, menyebalkan.”

Bukannya tersinggung, Yoonjung malah tersenyum lebar. “Justru itu aku menjadi sepupumu. Orang sepertimu itu butuh seseorang sepertiku untuk menata hidupmu yang berantakan, Park Jimin.”

“Hah. Kau bicara begitu seolah hidupmu sudah benar.”

“Yah, apa pun itu, sekarang menggambarlah. Ekspresikan semua yang kau rasakan di buku gambar ini. Yaa, kau punya banyak sekali buku gambar tapi kenapa tidak ada satupun yang kau pakai. Sshhh, kau ini sebenarnya sehat atau tidak sih?”

Jimin mengabaikan ejekan halus Yoonjung karena dia sudah mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas buku gambar. Seperti yang Yoonjung bilang. Dia mengekspresikan semua yang dia rasakan sekarang di kertas tersebut. Menggambar bukanlah hal yang sulit bagi Park Jimin. Dia telah dikaruniai bakat menggambar sejak masih kecil. Dulu dia sering menggambar berdua bersama Jihyun, menggambar semua hal yang mereka lihat dan sukai. Bahkan mereka telah berjanji untuk membuat komik bersama saat sudah dewasa nanti. Sayangnya, janji itu hanyalah janji semata. Jimin memutuskan untuk meninggalkan semua hal yang berbau menggambar sejak Jihyun meninggalkan dunia ini 3 tahun lalu.

“Wah … Park Jimin!! Yaa, kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau pandai menggambar? Aish, kau berniat menyembunyikannya dariku? Yaa, kita bisa membuat webtoon bersama kalau begini caranya.”

Jimin termenung melihat hasil gambarnya. Sudah tiga tahun, tapi tangannya masih tetap memiliki kemampuan untuk menghasilkan gambar yang begitu artistik. Tanpa sadar tangan kanannya menggenggam erat spidol yang tadi dipakainya untuk mewarnai, kemudian menaruhnya di meja dengan sedikit bantingan.

Geumanhae. Aku tidak akan melakukan ini,” ujarnya entah pada siapa sebelum beranjak menuju kamarnya. Terdengar pintu yang dibanting pelan, membuat siluetnya menghilang dari pandangan Yoonjung.

Yoonjung sendiri hanya bisa menghela napas. Diraihnya hasil gambar Jimin itu, mengelusnya pelan dengan jemari. Kedua ujung bibirnya terangkat perlahan.

“Kenapa kau menggambar dirimu sendiri sekurus ini? Kenapa juga tidak ada ekspresi di wajahmu? Tch, jujur sekali.”

Tiba-tiba saja Yoonjung merasakan perih yang sangat di punggungnya saat bersandar pada kaki sofa. Ia berusaha menggapai luka tersebut namun sulit. Berulang kali dia mencoba tetap saja gagal. Akhirnya dia hanya bisa meringis di tempat dengan kedua tangan yang reflek meremas kertas gambar Jimin.

Tak lama kemudian Jimin keluar dari kamar. Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan. Niat awalnya menuju dapur, namun urung setelah dia mendengar suara kesakitan dari Yoonjung. Dengan alis berkerut, dia segera mendekat dan berjongkok di sebelahnya. Walau sudah sedekat itu, dia masih tidak mengerti bagian mana yang sakit.

Wae? Yaa, malhaebwa. Apa?”

Tidak sengaja Jimin menyentuh luka saat mengelus punggung Yoonjung. Yoonjung pun memekik kesakitan, Jimin yang menyadarinya lekas menarik tangannya. Dengan cekatan dia memeriksa punggung Yoonjung. Detik berikutnya dia melotot mendapati seragam Yoonjung yang robek.

“Apa—Yaa! Kenapa kau tidak bilang padaku kalau punggungmu terluka?! Ini karena tadi ‘kan?! Lihatlah, punggungmu berdarah! Kenapa kau tidak bilang apa pun padaku?!”

Yoonjung menyeringai di sela-sela giginya yang bergemerutuk menahan sakit. “Memangnya … kau akan mendengarku? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau sshh … kau … tidak akan peduli padaku?”

Jimin mendengus tak percaya. “Jadi kau diam karena itu? Kau pikir aku bisa dengan begitu saja tidak peduli padamu? Kau itu terluka! Kau berdarah! Bagaimana bisa kau berpikiran aku akan mengabaikanmu karena ini?! I pabo!

Jimin pun beranjak memasuki kamarnya kembali dengan bersungut-sungut. Yoonjung yang melihat kepergiannya hanya tersenyum getir. Marah lagi, dasar. Tak sampai semenit Yoonjung mengernyit lagi. Rasa perihnya sangat keterlaluan sampai membuatnya ingin pingsan. Namun, bukan Yoonjung namanya kalau dia jatuh lemas hanya karena luka itu. Sambil mencengkram erat benda-benda di sekitarnya, ia pun mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan, berkali-kali sampai dirinya merasa tenang.

Luka itu, jika kau memikirkan bahwa dia ada, maka kau akan merasa sakit. Tapi jika kau berpikir luka itu tidak ada, maka kau tidak akan merasakan sakit. Diriku hanya, perlu memikirkan semua hal yang membuatku bahagia.

Appa….

Eonni….

Park Jimin….

Jimin-a, mian. Aku tahu aku salah karena telah mengorbankan perasaanmu untuk kebahagiaan ayahku. Maaf juga karena aku lebih memilih ayahku daripada dirimu.

Senang rasanya menyadari jika aku punya saudara sepertimu.

“Ganti bajumu.”

Yoonjung reflek menoleh. Jimin datang kembali padanya dengan kedua tangan yang penuh dengan obat-obatan serta sweater. Ia memandang bingung pada sweater yang dilempar Jimin ke atas meja.

“Kau lebih memilih kuobati tanpa pakai baju, atau dengan pakai baju?” tanya Jimin dengan nada datarnya seolah mengerti apa yang dipikirkan Yoonjung.

“Tapi—”

“Tenang saja, aku tidak akan lihat. Aku akan membelakang. Pokoknya lakukan dengan cepat.” Jimin menyahut cepat sambil menghempaskan pantatnya di karpet sebelah Yoonjung. Seperti yang dia bilang, dia duduk membelakang.

Yoonjung menggeleng pelan. Lantas ia pun melepas seragamnya dan menggantinya dengan sweater merah itu. Sweater itu sangat longgar di tubuhnya. Ya, lagipula di tubuh Jimin juga sama longgarnya. Yoonjung bahkan harus melipat bagian lengan agar tangannya bisa menghirup udara bebas.

“Sudah?” seru Jimin saat meneteskan betadine ke cotton bud.

Eo,” balas Yoonjung singkat yang diikuti dengan berputarnya tubuh Jimin.

“Membelakanglah. Pegangi bajunya erat-erat. Aku akan membuka bagian belakang.”

Yoonjung melaksanakan perintah dengan patuh. Sementara Jimin mengangkat sweater bagian belakang sampai luka itu terlihat. Ia meringis pelan, tampak darah yang nyaris mengering di sekitar luka itu. Belum lagi lukanya yang tampak sangat mengenaskan. Jimin heran. Dengan luka yang separah ini, bagaimana bisa Yoonjung sama sekali tidak menangis? Sena saja yang baru jatuh terpeleset sampai lututnya memar sudah menangis keras. Seharusnya Yoonjung menangis lebih keras dengan luka separah ini.

Apa mungkin….

“Hei, jangan ditahan,” ujarnya kemudian.

Yoonjung mengernyit. “Apanya?”

“Jangan sok-sok’an tidak tahu,” serunya ketus.

“Apa sih? Kentut maksudmu? Aku tidak sedang sakit perut.”

Jimin mendengus. Sempat-sempatnya berpikir ke arah situ. “Maksudku, kalau kau memang ingin menangis, menangislah. Ini bukan luka kecil, arro? Gwaenchanha, aku tidak masalah melihatmu menangis.”

“Ah … menangis. Kupikir kentut.”

Jimin merotasikan matanya jengah. “Demi apa aku memikirkan itu di saat-saat seperti ini.”

Yoonjung terkekeh. “Kau sih tidak jelas. Bicaralah yang jelas makanya, ah.” Ada jeda sebentar dalam kalimatnya, diikuti perubahan ekspresinya. “Lagipula, aku tidak ingin menangis.”

Wae? Nuna saja menangis saat terpeleset.”

“Karena aku bukan eonni, jadi aku tidak menangis,” jawab Yoonjung dengan nada ceria. Namun entah kenapa hal itu malah membuat Jimin muak.

“Kau masih bisa bercanda, hm? Aku serius, menangislah sekarang. Apakah aku harus membantumu? Oke, akan kubantu.”

Yoonjung menjerit saat Jimin dengan sengaja menekan lukanya dengan kuat. Tapi hanya dua kali Jimin melakukan itu. Sendirinya tidak tega melihat Yoonjung menderita.

Yaa! Kau pikir luka itu bohongan, eo? Sakit tau! Aku tidak akan menangis! Tidak akan! Kenapa sih memaksa sekali?!”

“Aku tahu kalau itu sakit! Makanya menangislah!”

Yoonjung pun akhirnya menoleh. Inginnya dia kembali membentak Jimin, namun, yang ada dia justru tercengang di tempat.

“Jim….”

“Makanya menangislah … hiks … apa … neomu apa … aku juga tahu itu….”

Jimin lekas menghapus air matanya sendiri dengan tangannya. Kemudian dia melanjutkan omongannya sambil menyembunyikan wajahnya. “Aku tahu itu sakit, jadi menangislah. Akan lebih baik jika aku melihatmu menangis. Jangan berpura-pura kuat, itu membuatku terluka. Kau begini karenaku….”

Ocehan Jimin yang terdengar lucu karena diselingi isakan-isakan kecil itu membuat Yoonjung tersenyum geli. Dia pun mendekat dan menarik tangan Jimin agar dia bisa melihat wajahnya. Namun Jimin berusaha membuang muka kemana pun, menghindari tatapan Yoonjung.

“Jim … lihat aku.”

Tapi Jimin menggeleng dan malah menunduk.

Yoonjung pun melepaskan tangan Jimin untuk menangkup pipi Jimin agar mau menatapnya. Ia mengulas senyum saat berhasil menatap kedua obsidian Jimin.

“Malu ya? Aigoo kiyeowo. Gwaenchanha. Namja juga butuh menangis.”

“Jangan menyebutku imut, nan shireo.” Jimin pun menjauhkan tangan Yoonjung dari wajahnya, kemudian dia membersihkan wajah basahnya dengan kaosnya.

“Kenapa? Kau ini memang imut.”

“Diam.”

Yoonjung terkekeh. Dia makin membuat Jimin kesal dengan cubitan-cubitan di pipi. “Aih ngambek. Imutnya.”

Geumanhae!”

Yoonjung tertawa. “Arasseo, arasseo. Aku akan berhenti. Cha! Kemarilah. Kita berpelukan~~”

Tanpa banyak protes, Jimin pun menjatuhkan dahinya di pundak Yoonjung. Yoonjung mendekap bahunya sambil mengelus lembut rambutnya, dan dia melingkarkan lengannya di pinggang Yoonjung memintanya makin dekat.

Mian. Bukannya aku berpura-pura kuat, hanya saja, aku tidak terbiasa menangis pada hal seperti itu. Na arra, rasanya memang sakit sekali. Tapi itu tidak seberapa dibanding rasa sakit yang dirasakan eomma dan appa dulu. Karena mereka tidak pernah menangis di depanku. Maka dari itu, aku juga tidak akan menangis.”

“Alasan yang tidak masuk akal,” sahut Jimin setelah membuang napas panjang.

Ahjussi.”

“Hm.”

Sena terdiam sejenak. Ia ragu antara menanyakannya atau tidak. Jari-jarinya tampak sibuk mengelus satu sama lain.

Yoongi yang tidak sabaran pun menoleh. Mendekatkan wajahnya sampai ia bisa merasakan hembusan napas Sena. “Kenapa?”

“Apakah yang ahjussi bicarakan di konferensi pers itu benar?”

“Yang mana?”

Ahjussi yang menganggapku sebagai anak kandung. Apakah itu benar?”

Kini giliran Yoongi yang diam. Tapi Sena tidak berani untuk mengangkat kepalanya. Menanyakan ini saja rasanya sudah berat, apalagi menatap Yoongi sambil menunggu jawabannya.

“Menurutmu sendiri, bagaimana?”

“Tidak tahu.”

Yoongi pun menghela napas. Kemudian dia pun mengangkat dagu Sena supaya mau bertatapan dengannya. “Lihat aku. Apakah menurutmu hubungan kita hanya sebatas itu?”

Kedua bola mata Sena tampak bergerak-gerak kecil. Seolah berusaha mengobrak abrik retina Yoongi, mencari kebenaran di sana. Memang benar jika Yoongi sangat serius dan tulus saat menatapnya, tapi, Sena takut jika itu ternyata hanya fatamorgana belaka.

Pelan dia menggeleng, menunduk kembali.

Yoongi lantas meraih tangan Sena, merekatkan jari jemari mereka. Sementara bibirnya, berbisik tepat di telinga Sena. “You’re so cute, itulah kenapa aku menganggapmu sebagai anak. Tapi kau harus tahu kalau aku tidak pernah sekalipun berpelukan dan mencium seseorang yang bukan Yoonjung. Jika kau memang hanya sebatas anak bagiku, lantas apa artinya kebersamaan kita selama ini, hm?”

“Tapi ahjussi bicara begitu di konferensi pers,” sahut Sena dengan suara lirih. Namun Yoongi masih bisa mendengarnya meskipun suara ombak sedikit mengganggu.

“Kalau aku bilang aku mencintaimu, kau pasti akan kesulitan karenaku. Itu adalah jawaban terbaik untuk saat ini. Lagipula … tidak harus semua orang tahu tentang perasaanku padamu bukan? Cukup kau saja yang tahu. Kalau toh mereka tahu, mereka mau apa? Mereka tidak suka pun itu urusan mereka. Kau tidak akan bahagia kalau harus mendengar pendapat orang-orang, Sena. Just trust me.”

Akhirnya Sena pun berani mengangkat kepalanya. Bibirnya ikut mengulum senyum melihat Yoongi tersenyum. Sepertinya kali ini dia harus benar-benar percaya pada Yoongi. Pria ini serius.

Yoongi pun menyelipkan rambut Sena yang melambai terbawa angin ke belakang telinga. Lantas mencubit pipinya. “Cantik.”

Sena membalasnya dengan cengengesan, diikuti rona kemerahan yang muncul di pipi putihnya.

“Min Yoongi terlalu jenius, Bung. Dia bahkan membahas tentang Siyeon di konferensi pers.”

“Hm. Aku sudah lihat rekamannya.”

“Jadi bagaimana selanjutnya? Kalau kita menyebarkan masa lalu Yoongi, itu sama saja dengan kita membuka aib sendiri. Yang ada malah kita yang hancur, bukannya dia.”

Arra. Maka dari itu aku sedang memikirkannya.”

“Yang pasti, kali ini dia harus benar-benar hancur tanpa sekalipun berefek pada kita berdua.”

Ruangan itu hening sejenak. Tiba-tiba saja muncullah seorang pelayan yang datang membawa nampan minuman. Pelayan wanita itu menyimpan minuman yang dibawanya di atas meja.

“Kau yakin Min Yoongi menyukai anakku?”

Eo, yakin sekali. Dia sering mengobrol dengan Sena di sekolah.”

“Hm … mungkin kali ini Sena akan lebih berguna.”

Wae? Kau sudah dapat rencana baru?”

Ia menyeringai. Diraihnya gelas wine-nya dari atas meja. “Mari kita buat Min Yoongi menggila.”

TBC 

 

Advertisements

4 responses to “Single Parent [Chapter 17] ~ohnajla

  1. “Kau yakin Min Yoongi menyukai anakku? ”
    Anakku????
    Omaytuthegad… dia Sehun? Bapak nya sena sendiri? Tega kau pak 😭😭😭

  2. wah itu sehun ya jahat banget dia, masa anaknya mau di manfaatin, dulu aja gak dianggap nah sekarang mau di jadiin alat buat menghancurkan yoongi #SehunKokTega..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s