“Iaokim” #8 by Arni Kyo

Iaokim 1

Iaokim #8

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Kim Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8

 

~oOo~

“ingin kubantu mendapatkan uangnya?”.

Bahkan pertanyaan Minho terus terpikir olehnya. Yeonsung tidak menjawab pertanyaan itu, tidak juga menolaknya. Ia memilih diam saat Minho mengatakan akan membantunya. Dengan memberikannya sebuah pekerjaan.

“haaah ~”. Erangnya frustasi. Bahkan Yeonsung tak dapat menegakkan tubuhnya lagi sekarang. Beban yang ada dibahunya begitu berat.

Kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan. Mungkin ada restoran cepat saji atau toko yang menerima pekerja paruh waktu. Sialnya, Yeonsung tidak memiliki pengalaman kerja semacam itu. Karena selama ini ia terus mendapatkan uang dari ibunya melalui pengacara.

“pasti sulit”. Gumamnya frustasi ketika berdiri didepan sebuah minimarket, mengintip pekerjaan yang dilakukan pegawai toko itu dari luar.

Menyusun produk di rak, melayani pembayaran, membereskan toko ketika waktunya tutup.

Akhirnya Yeonsung menyerah dan memilih untuk pergi dari sana. Langkah gontainya berjalan melewati lorong kecil, Yeonsung melihat sekelilingnya. Ia merasa pernah melewati tempat ini.

Hongdam Tattoo Studio

Yeonsung menatap papan nama yang berada dihadapannya. Yeonsung tidak salah menduga, ia pernah datang ketempat ini saat menemani Yongjoon membuat tato mata angin dipunggung.

Kring…

“selamat datang”. Sapa Hongdam, si seorang wanita yang merupakan pemilik tempat sekaligus tato artist.

Lagi-lagi,

Yeonsung tidak tahu mengapa ia melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan otaknya. Dengan wajah polos dan sedikit terkejut ketika baru membuka pintu dengan kaki kiri yang sudah masuk terlebih dahulu, ia menatap bingung Hongdam.

“ah, sepertinya aku salah tempat”. Ujar Yeonsung.

Berhasil membuat Hongdam dan dua orang pegawainya serta seorang pelanggan tertawa pelan. Lantas Hongdam menghampiri Yeonsung dan menarik gadis itu masuk sebelum ia pergi dari studio.

“kau tidak mungkin salah tempat”. Ujar Hongdam sambil menarik Yeonsung masuk, lalu sedikit memaksa agar Yeonsung duduk disalah satu kursi.

eonni, bukankah dia yang datang bersama Yongjoon waktu itu?”. Sahut pegawai Hongdam – Jessi.

eo? Benar. apa kau datang kemari untuk mencari Yongjoon?”. Tanya Hongdam. Yeonsung hendak menjawab namun Hongdam kembali berbicara. “ah, dia belum kesini lagi. Kenapa kau tidak datang saja ke apartemennya?”.

Yeonsung menggeleng.

“apa anak itu mencampakkanmu? Jika, ya, aku berjanji akan mentato keningnya dengan tulisan ‘bastard’. Sungguh!”.

Hampir saja Yeonsung tertawa mendengar ucapan Hongdam. “tidak. Aku bahkan tidak ada hubungan apapun dengannya. Kalau begitu aku pergi”. Yeonsung berdiri. Namun Hongdam menariknya hingga kembali duduk.

“jangan pergi dulu, peraturan di tempat ini adalah kau tidak boleh pergi jika tinta kami belum menempel dibagian tubuhmu”.

Hyerin pergi kerumah lamanya setelah bertengkar kecil dengan Lu Hwang. Memperdebatkan perkara putrid kandung Hyerin. Lu Hwang hanya ingin membawa putrinya kerumah mereka sekarang, tetapi Hyerin bersikeras untuk tidak mempertanyakan mengenai anak-anaknya. Dengan alasan, suaminyalah yang mendapatkan hak asuh atas anak-anaknya.

Tangan halusnya yang tidak pernah mengusap kepala putrinya itu menggenggam pagar rumah. Hyerin bersembunyi dibalik kecamata dan kerudungnya ketika tetangganya lewat – tak ingin dikenali.

“apa dia tidak dirumah, ya?”. gumam Hyerin.

Sunyi.

Keadaan rumah itu tampak sepi, bahkan lampu halaman tidak menyala. Hyerin melihat jam tangannya. Pukul 10 malam. Kemungkinan Yeonsung sudah tidur, pikirnya. Atau mungkin memang gadis itu tidak ada dirumah.

Hyerin mencoba untuk membuka pagar, ternyata tidak dikunci. Perlahan ia mendorong pagar tersebut, suaranya sedikit berisik karena sudah berkarat.

Teringat ia saat pertama kali pindah kerumah ini. ia benar-benar tidak merasa bahagia. Setelah suaminya sakit, lalu mereka menjual segala asset untuk mengobati penyakit Jungsoo. Sampai akhirnya Hyerin menggugat cerai suaminya itu.

“aku tidak mengerti mengapa anak bodoh itu tetap tinggal disini”. Gumam Hyerin seraya memperhatikan sekelilingnya.

Sebenarnya tidak terlalu buruk juga, meskipun hanya sebuah rumah yang sederhana dengan 2 kamar tidur. Hyerin duduk dimeja yang ada dihalaman. Ia ingat saat ia pergi dari sini, Yeonsung hanya berdiri didepan pintu rumah, memandangnya tanpa berkata apapun. Sedangkan Chanyeol berada didalam rumah. Tidak peduli dengan apa yang terjadi antara kedua orang tuanya.

nuguseyo?”.

Suara itu mengalihkan perhatian Hyerin, ia menoleh terkejut ke luar pagar. Hyerin membelalak terkejut sampai ia berdiri dari duduknya.

“Chanyeol?”.

Chanyeol mengerutkan keningnya, terlalu gelap untuk mengenali siapa wanita yang tengah berada dihalaman rumahnya, sendirian. Hyerin melangkah mendekati Chanyeol. Kini keduanya hanya berjarak sekitar satu meter dan dipisahkan oleh pagar rumah.

“kau –“.

“kau tumbuh menjadi pria yang tinggi, aigoo”. Ujar Hyerin. Matanya menatap Chanyeol dengan berbinar –bangga. Berbeda saat ia melihat Yeonsung untuk pertama kali setelah sekian lama.

Gadis itu dalam keadaan menyedihkan. Luka lebam menghiasi wajah dan sekujur tubuhnya.

“apa yang kau lakukan disini? Dimana Yeonsung?”. Tanya Chanyeol sambil menengok kearah rumah mereka.

“aku ingin menemuinya, aku tidak tahu dimana dia? Chan, apa yang kau lakukan sekarang? Bagaimana kehidupanmu?”.

Chanyeolpun masuk ke halaman. Kini ia berdiri didekat ibunya, sungguh kini tinggi mereka sudah jauh berbeda. “bisakah kau mengajak Yeonsung bersamamu? Aku tidak bisa tinggal bersamanya, aku harus menikah dan tinggal dirumah sendiri”.

“kau akan menikah? Sungguh? Aku harus datang ke pernikahanmu”.

“kau bisa datang sebagai tamu, karena calon istriku tahu jika appa ku sudah lama meninggal dan aku tidak tahu keberadaan eomma ku”. Jawab Chanyeol dengan jujur.

Hyerin menciut. Benarkah putranya mengaku seperti itu? Tapi Hyerin bisa mengerti keadaan Chanyeol. “baiklah, tapi – selama ini kau tidak tinggal dengan Yeonsung?”.

“tidak, aku tinggal ditempat kerjaku”. Kemudian Chanyeol teringat akan sesuatu. “ah, apa kau tahu apa yang terjadi pada Yeonsung? dia bersikap aneh. Kupikir dia mendapat perlakuan yang tidak pantas disekolah, karena itu aku datang untuk menemuinya”.

Mata Hyerin melebar. Bibirnya bergetar. Ternyata Chanyeol tidak tahu-menahu mengenai keadaan Yeonsung. Chanyeol tidak tahu jika adiknya diperkosa oleh anak tiri Hyerin. “aku juga tidak tahu. Mungkin hanya masalah percintaan, kau tahu kau dia gadis yang baru masuk  SMA. Masalah seperti itu biasa terjadi”. Elak Hyerin.

“ah, benar juga. Kenapa aku tidak terpikir seperti itu, ya”. Chanyeol menggumam pada dirinya sendiri. “kalau begitu aku akan pergi sekarang, kau ingin menunggu disini?”.

“aku akan menunggu disini sebentar lagi. Kau pulanglah, hati-hati”. Hyerin menepuk pundak Chanyeol.

Merasa sudah mengetahui masalah adiknya, Chanyeol pun memilih untuk pergi. Bukankah seorang ibu sangat tahu mengenai anak-anaknya? Karena itulah Chanyeol percaya jika ibunya memiliki insting yang baik.

“Chan’ah”. Hyerin memanggil Chanyeol lagi setelah putranya keluar dari pagar rumah, Hyerin pun ikut keluar untuk menyusul Chanyeol. “aku harus memberimu ini”. Hyerin membuka tasnya, mengeluarkan dompet untuk member Chanyeol beberapa lembar uang.

eomma?”.

“ambillah”. Hyerin menyelipkan uang itu ditangan Chanyeol.

Chanyeol membuka tangannya, ia tersenyum senang melihat gulungan uang yang diberikan oleh ibunya. “gomawo”. Ujar Chanyeol.

Bahkan sebelum Chanyeol benar-benar pergi, Hyerin sempat mengusap wajah putranya itu. Ia juga menatap dengan mata berbinar ketika Chanyeol berjalan menjauh. Seperti inilah yang ia harapan jika bertemu dengan anaknya. Bukan dalam keadaan menyedihkan dan tak berdaya.

Yeonsung berbaring dikursi khusus untuk mentato dirinya. Menunggu Hongdam kembali dengan peralatan dalam kegelisahan. Studio Hongdam memiliki ruangan khusus jika pelanggan ingin mentato dibagian yang pribadi. Maka Yeonsung meminta agar Hongdam mentato dirinya diruangan itu saja.

“kau masih memakai bajumu?”. Tanya Hongdam tak percaya.

Begitu peralatan tato diletakkan dimeja, Yeonsung menelan ludahnya. Ada jarum, tentu saja. “harusnya aku melepasnya?”.

“kau ini lucu sekali. Apa kau mau aku membantumu melepas baju?”. Hongdam hendak meraih dasi Yeonsung.

Cepat-cepat Yeonsung menghalangin tangan Hongdam. “akan kulakukan sendiri”. Ujar Yeonsung panik. Ia mulai menanggalkan almamaternya. Kemudian membuka dasi dan kancing kemejanya. “tapi aku harus mentato dibagian mana?”. Gumamnya.

“dibagian dada mungkin? Atau dipunggung? Mungkin di bagian bawah bra bagus, kau tahu kan itu sangat populer dikalangan perempuan”. Hongdam memberi saran sebagai seorang tato artist.

Yeonsung telah selesai melepaskan kemejanya. Kini hanya sebuah bra berenda dan rok seragam yang menempel ditubuhnya. Ia berhasil membuat Hongdam tercengang. “wah… kau sama sekali tidak canggung”. Ujar Hongdam.

“aku ingin dibuatkan sesuatu yang melambangkan kekuatan”. Ujar Yeonsung. “disini”. Ia menunjuk bagian bawah tulang belikatnya, menandakan bagian yang ingin ia tato.

“kekuatan, ya”. Hongdam mulai membuka buku berisi berbagai desain tato. “bagaimana dengan ini?”. Tanya Hongdam sambil menunjukkan sebuah gambar.

“tidak buruk”.

“baiklah, kita mulai”. Hongdam mempersiapkan alat-alatnya. “jika kau berpikir ini sakit, maka akan sakit. Tapi sebaiknya jangan memintaku untuk berhenti apalagi sampai memegang tanganku, aku bisa kelihangan konsentrasi dan kau akan melukai dirimu”. Jelas Hongdam.

Yeonsung mengangguk mengerti. Waktu itu ketika melihat Yongjoon di tato oleh wanita ini, Yeonsung dapat melihat Yongjoon sedikit meringis. Bagaimana dengan dirinya? Dan berbagai eskpetasi mulai muncul dibenak Yeonsung.

“jadi kau tak ada hubungan khusus dengannya dan hanya seorang gadis yang sekolah disekolah yang sama dengannya?”.

“ya, begitulah”.

“hm… anak itu sulit dikendalikan, sejak kecil ia sudah begitu”.

eonni, kau ini siapanya Yongjoon?”.

Hongdam tersenyum simpul. Sambil terus focus pada kulit putih Yeonsung yang siap ia nodai dengan tinta tato. “sepupu, ibunya dan ibuku saudara kandung”.

“oh, begitu”.

Rasanya ingin sekali Yeonsung menceritakan pada Hongdam tentang yang sebenarnya. Namun ia tak bisa menyampaikannya dengan benar. ia takut Hongdam akan marah padanya. Saat pertama, Yeonsung memang seorang korban. Tetapi sekarang, bisa dikatakan jika ia sendiri yang menyerahkan diri.

Proses mentato dirinya tidak terlalu lama karena gambar yang ia pilih tidak begitu sulit jadi mudah untuk dikerjakan. Maka sekarang Yeonsung berdiri didepan cermin, menatap tato yang ia dapatkan.

“jangan menyesali apa yang telah kubuat”. Ujar Hongdam menggoda Yeonsung.

“tidak, ini bagus”. Jawab Yeonsung. “pembayarannya?”.

“apa? ya! jangan bersikap seperti kau meminta orang lain, karena kau pernah datang kemari bersama Yongjoon, jadi aku akan menagih pembayarannya padanya”.

Yeonsung mengangguk. Ternyata pria brengsek itu berguna juga, pikirnya. “baiklah kalau begitu. Gamsahamnida”.

Luhan melangkahkan kakinya perlahan menapaki ubin coklat disepanjang koridor. Dari luar sini ia dapat mendengar suara seseorang memainkan Cello dari ruang musik. Luhan sering pergi ke gedung club jika ia tidak menemukan Yeonsung dikelas. Padahal kelas mereka berada digedung yang berseberangan, tetapi Luhan dengan sengaja lewat didepan kelas Yeonsung untuk melihat gadis itu. Duduk dipojok kelas seperti pajangan.

“The Swan. Apa kau sangat menyukai musik itu Park Yeon?”. Ujar Luhan dari luar ruangan. Ia hanya bisa mengintip dari jendela.

Didalam sana Yeonsung sendirian, menikmati waktunya bermain Cello saat membolos kelas. Luhan membalikkan tubuhnya, dengan punggung menempel di dinding, perlahan merosot kelantai. Telinganya mendengarkan dengan seksama alunan musik sambil menatap ke langit-langit koridor. Ia seolah melihat ibunya sedang bermain Cello.

“musik yang kau mainkan terlalu realistis, Park Yeon. Kau membuatku frustasi, kau tahu?”. Lagi-lagi Luhan berbicara sendiri.

Pertama kali ia mendengar ibunya memainkan The Swan, Luhan protes karena musik yang terdengar seolah hancur dan tidak memiliki kunci yang jelas. Seperti orang yang tengah memainkan Cello dengan sembarangan. Tetapi ketika melihat jemari ibunya yang bergerak menekan senar, secara alami Luhan mengerti jika The Swan cukup sulit untuk dimainkan oleh pemula.

Musik tiba-tiba berhenti.

Luhan terkejut. Lantas ia berdiri, mengira Yeonsung selesai memainkan Cello nya, jika ya, maka Luhan harus segera pergi dari sini sebelum Yeonsung memergokinya tengah menguping dari luar.

Tetapi tak lama kemudian, Yeonsung terlihat kembali menggesek Cello nya.

“kau membuatku terkejut”. Gumam Luhan sambil mengusap dadanya.

Kali ini Yeonsung memainkan musik Endless Love. Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh aktor sekaligus produser dan sutradara film, Jackie Chan bersama Kim Heeseon. Luhan sampai terpana dibuatnya. Tapi Luhan tak tinggal diam, ia pun mengambil ponselnya dan merekam Yeonsung yang tengah konsentrasi bermain Cello.

Yeonsung menurunkan bow nya mengakhiri permainan. Dengan jari yang masih menekan senar. Bibirnya bergerak, menggumamkan sesuatu. “Ai shi xin zhong wei yi, bu bian mei ii de shen hua”. (Cinta adalah satu-satunya mitos yang ada didalam hati yang tidak akan pernah berubah).

Perlahan Yeonsung mengangkat kepalanya. Mata nya bertemu dengan mata Luhan yang malah membatu ditempatnya. Luhan tak bergerak sedikitpun. Ia merasa tenggelam dalam tatapan penuh arti gadis itu.

Luhan melihat ketika setetes airmata perlahan turun dari pelupuk mata Yeonsung. tanpa membuat suara isakan, Yeonsung menangis dalam diam sambil menatap Luhan. Bahkan Luhan tak tahu harus mengartikan tatapan itu seperti apa.

Kebencian?

Kesedihan?

Atau apa…

Selangkah demi selangkah, Luhan mundur dari tempatnya berdiri. Entah mengapa ia merasa sakit melihat Yeonsung sekarang. Karena itu ia memilih untuk pergi dari sana. Meninggalkan Yeonsung yang kini tertunduk ditempat duduknya.

Brakk!!

Meja dan kursi terpental ketika Yongjoon menendangnya dengan penuh emosi. Euina sampah terkejut karenanya. Mengetahui jika Yeonsung tak ingin lagi berteman dengan kelompok itu, dan Euina malah memintanya memberikan sejumlah uang. Yongjoon meminta untuk bertemu dengan Euina dikelas kosong dilantai tiga sekolah.

“kau mengejutkanku, sialan”. Desis Euina.

“apa yang telah kau lakukan?”.

“apa? aku tidak melakukan apapun”. Euina acuh pada Yongjoon, ia malah melihat keluar jendela dimana Luhan dan teman-temannya bermain bola.

Yongjoon emosi karena merasa Euina terlalu santai menanggapi dirinya. “Euina’ssi, apa yang telah kau lakukan?”.

Euina menoleh pada Yongjoon. Dengan mimik sombong dan tangan yang ia lipat dibawah dada. “kenapa? Aku bebas melakukan apapun, kan? Lagipula kau hanya pelengkap rencanaku”.

“apa?”.

“rencanaku telah berjalan dengan baik, dan dia yang ingin berhenti berteman. Karena itu –“.

Yongjoon mencengkram erat kerah baju Euina. Hingga gadis itu terhuyung ke depan, tubuhnya menempel pada Yongjoon. Bahkan Euina dapat merasakan napas berat Yongjoon menerpa kulit wajahnya.

“kau pikir kau punya hak atas video itu?”.

“Yongjoon’ah, kau kenapa? Astaga ~ baru kali ini aku melihatmu marah karena seorang gadis yang tidak seberapa”. Ujar Euina dengan sebuah seringaian mengejek Yongjoon. “lagipula kau sendiri yang dengan bangga mengirimkan video itu padaku”.

“dan gadis yang tidak seberapa itulah yang membuatmu bahagia akhir-akhir ini. bahagia karena dia menderita”.

Euina tertawa pelan. Yongjoon benar-benar konyol dimatanya kini. dengan kasar Euina melepaskan cengkraman Yongjoon darinya. “terserah kau saja. Yang jelas aku sudah mengatakan padanya untuk membayar 5000 dollar jika ingin videonya. Itu saja”.

“hapus video itu sekarang juga”.

“Yongjoon’ah, bahkan wajahmu tidak terlihat didalam video, kau lupa jika kau yang merekamnya saat kau bercinta dengannya”.

“kubilang hapus Euina’ssi”.

Dengan malas Euina mengeluarkan ponselnya dari dalam saku almamater. Jarinya bergerak membuka ponselnya. Namun Yongjoon merebut ponsel itu dari tangan Euina. Dengan cepat Yongjoon membuka kumpulan berkas didalam ponsel Euina. Yongjoon menghapus semuanya.

Lalu…

Kraakk

“ya!! Jang Yongjoon!! Bajingan!”. Teriak Euina.

Bertapa tidak, Yongjoon membanting ponsel itu ke dinding hingga hancur. Euina buru-buru memunguti ponselnya yang menyedihkan dilantai. Sedangkan Yongjoon pergi begitu saja. Euina menatap Yongjoon dengan tatapan membunuh, ia berjanji akan membalas perbuatan Yongjoon padanya barusan.

“pekerjaannya mudah, kau hanya perlu menjadi pacar dari pria yang kuberikan padamu selama 4 jam. Jika lebih atau atau kurang dari waktu yang ditentukan, maka harganya berbeda”. Jelas Minho pada Yeonsung.

Malam itu, setelah Yeonsung setuju untuk menerima pekerjaan yang Minho tawarkan. Minho menjemputnya dirumah. Sementara Minho menjelaskan, Yeonsung hanya diam. menatap jalanan yang mereka lewati dari kursi penumpang.

“hanya 4 jam dan bayarannya 500 dollar?”. Tanya Yeonsung.

ne, sebenarnya mereka membayar 700 dollar, tapi 200 dollar keuntunganku. kau hanya perlu menemani mereka. Makan, jalan, ataupun menonton”.

“kenapa murah sekali?”.

Minho menoleh sejenak pada Yeonsung, tak percaya atas ternyataan yang keluar secara spontan dari mulut gadis itu. “ya ~ ternyata kau masih waras jika bicara soal harga”. Ujar Minho sambil tertawa geli. “sebelum kita sampai, aku tanya sekali lagi, apa kau menerima pekerjaanku atau tidak?”.

Yeonsung berpikir sejenak. Ia tak punya banyak waktu. Tinggal 17 hari. Oh – ia telah menyia-nyiakan 3 hari tanpa melakukan apapun untuk mengumpulkan uang sebesar 5000 dollar. Uang simpanannya baru mencapai 2000 dollar saat ini.

“baiklah, aku terima”. Jawab Yeonsung akhirnya.

Jika harus bekerja paruh waktu di restoran atau toko. Biasanya mereka tak akan mau member gaji terlebih dahulu, dan harus menunggu hingga satu bulan. Euina tak akan mau menunggu selama itu.

“aku tak akan bertanya lagi, dan kau juga tidak bisa kembali”. Ujar Minho. “aku akan menolongmu hingga uang mu cukup”.

Yeonsung berdehem pelan. Terdengar seperti dengungan. “tapi, mengapa kau menolongku?”.

“mencari uang tambahan. Anggap saja seperti itu”.

Setelah Minho menjawab pertanyaannya, Yeonsung kembali diam. sesekali ia melirik Minho yang sedang menyetir. Kepalanya bergerak mengikuti musik yang menggema memenuhi mobil.

Otak Yeonsung bekerja menghitung gaji yang akan ia dapatkan. Satu orang pelanggan membayar 500 dollar, maka ia hanya perlu kencan dengan enam orang. Tapi Minho bilang kemungkinan tidak akan bekerja setiap hari karena sedikit sulit mencari pelanggan. Kebanyakan orang lebih suka kencan buta daripada harus menyewa seseorang untuk kencan.

Pelanggan pertama adalah seorang pria berusia 27 tahun bernama Jaehyung.

Minho mengantarkannya ke apartemen Jaehyung. Ya, dia cukup bertanggung jawab sebagai seorang ‘mucikari’.

“aku tahu kau itu bodoh dan polos, tapi kali ini saja – bisa tidak kau tidak bodoh dan polos lagi?”. Oceh Minho sesaat setelah pintu lift tertutup.

“seperti apa?”.

“susah menjelaskannya, tapi, jika kau ditawari minuman keras ataupun pil jangan langsung kau minum, mengerti?”. Ujar Minho bak menasihati anak kecil yang baru akan dilepas masuk sekolah. Yeonsung mengangguk. “kau hanya pacar bayaran bukan pelacur”. Tambah Minho.

Ting

Lift berhenti dan pintu terbuka. Minho keluar lebih dulu sedangkan Yeonsung mengekor dari belakang. Minho berhenti disebuah pintu, lalu pria itu menekan bel. Tak lama kemudian, intercom menyala, menampilkan wajah seorang pria didalam apartemen. Yeonsung hanya bisa mengintip dari belakang tubuh Minho.

Pintu apartemen terbuka, Jaehyung menyambut kedua orang itu.

“kalian lebih cepat dari yang kuduga, aku baru sampai beberapa menit lalu”. Ujar Jaehyung.

Minho melangkah masuk. “tentu saja. Ah, kau masih dengan bisnis lama mu?”.

Untuk pertama kalinya Yeonsung masuk ke apartemen mewah, lebih mewah dari milik Yongjoon. Dan ia mulai penasaran seperti apa apartemen yang ibunya berikan waktu itu. Sementara Minho dan Jaehyung mengobrol akrab, Yeonsung melihat-lihat sekitarnya.

“ini gadis yang kau maksud?”. Tanya Jaehyung sambil menunjuk Yeonsung.

ne, hyung”. Minho menarik Yeonsung kesampingnya. Mengkode agar Yeonsung member salam dan memperkenalkan diri.

annyeonghaseyo, Park Yeonsung, kelas 1 SMA”.

Jaeyung tersenyum hingga matanya menyipit pada Yeonsung. “masih kecil sekali. Ya! kau tidak memaksanya untuk bekerja seperti ini kan?”. Ujar Jaehyung pada Minho.

“tentu tidak, hyung. Aku tidak pernah memaksa orang”. Jawab Minho sambil tertawa. “yasudah, kalau begitu aku tinggal, ya”.

Minho melangkah pergi setelah bersalaman dengan Jaehyung. Meninggalkan Yeonsung yang kebingungan harus melakukan apa sekarang. Minho hanya bisa berharap agar kebodohan Yeonsung tidak kumat. Bisa gawat jika itu terjadi.

“ah, shit!”. Erang Yongjoon. Tak pelak ponselnya menjadi bulan-bulan kekesalannya. Yongjoon menghempaskan keras benda tak berdaya itu ke kursi, untung saja kursi yang ia duduki empuk.

Sudah berapa kali ia mencoba menelpon Yeonsung, tapi tak mendapat jawaban. Yongjoon merasa kesal sendiri. Sampai-sampai Minho tercengang dibuatnya.

“ada apa? kau terlihat kesal sejak tadi”. Tanya Minho sambil menyeruput vodka nya.

“aku tidak bisa menghubunginya”.

“menghubungi siapa?”.

“Yeonsung”.

Minho tersedak minumannya sendiri, ia sampai terbatuk. Membuat Yongjoon jijik melihat Minho batuk-batuk seperti itu. Setelah berhasil meredakan batuknya. Minho kembali menjawab perkataan Yongjoon. “memangnya kenapa kau mencarinya?”.

“dia kan pacarku”.

“apa? aku tidak salah dengar, kan?”.

Yongjoon tersenyum penuh arti. “tidak. Aku juga belum mengerti, jadi nanti saja kuberitahu jika aku sudah mengerti. Yang terpenting sekarang aku ingin bertemu dengannya”.

Kau tidak akan bertemu dengannya hari ini. batin Minho. “cih… dasar aneh. Kau tidak mungkin ingin bertemu dengannya tanpa ada maksud, dasar bajingan”. Hardik Minho.

“kau juga begitu pada Minjung”. Balas Yongjoon sambil memasukan sebutir anggur ke mulutnya. Sebenarnya Yongjoon ingin bertemu dengan Yeonsung untuk melihat tato yang dibuat oleh Hongdam.

Kakak sepupu nya itu meminta uang untuk pembayaran tato yang ada ditubuh Yeonsung. karena Hongdam enggan memberitahu dimana letak tato Yeonsung dan gambar apa yang dibuatnya, jadi Yongjoon penasaran dan ingin melihat langsung.

“apa kau mulai berpikir jika Yeonsung tidak buruk juga jika harus dipacari?”. Tanya Minho tiba-tiba. ia hanya ingin tahu pendapat Yongjoon, karena ini menyangkut bisnis yang ia lakukan bersama Yeongsung.

Minho tahu persis sahabatnya ini punya pemikiran pria hidung belang, karena itulah pendapat Yongjoon mungkin akan sama dimata calon pelanggannya nanti.

“jangan bertanya soal pacarku, sialan”.

“astaga! Berhentilah menyebutnya ‘pacar’, kau menjijikan sekali. Seperti bocah yang baru berpacaran saja”. Minho sampai mengusap-usap tangan dan lehernya sendiri, ia bergidik mendengar Yongjoon terus-terusan mengatakan jika Yeonsung ‘pacar’nya.

Yongjoon tertawa senang. “menurutku, ya…”. Yongjoon berpikir sejenak. “tidak buruk. Jika disuruh member nilai 1-10, aku beri dia nilai 8”. Jawab Yongjoon sambil menunjukkan 8 jarinya.

“aku tidak tahu jika tipe mu yang seperti dia, tapi, Yongjoon’ah, Yeonsung tidak akan pernah menyukaimu. Karena dia menyukai orang lain”.

Perkataan Minho membuat Yongjoon terdiam. Benarkah? Yeonsung menyukai orang lain? Oh!

Yeonsung berdiri dijendela koridor lantai tiga sambil menatap ke lapangan. Ada Luhan dan teman-temannya berkumpul disana setelah bermain bola. Yeonsung beralih melihat langit sejenak. Silau. Terkadang ia heran mengapa anak laki-laki suka bermain bola, padahal jika ingin bola tidak perlu berebut dilapangan, mereka bisa membelinya ditoko.

“Park Yeon”. Panggil Minho sambil melangkah mendekat.

Yeonsung tidak menoleh ataupun menjawab meski ia mendengar Minho memanggilnya.

“kau melamun?”.

“sebentar lagi musim panas. Aku hanya punya waktu 14 hari untuk melunasi uang itu”.

Minho pun ikut melihat keluar jendela. Oh – ada Luhan dibawah sana rupanya. Minho meminum sodanya perlahan. Kalau dipikir lagi, sudah lama sekali ia dan Yongjoon tidak bergabung dengan teman-temannya itu karena mereka memisahkan diri.

“kupikir kau punya trouma pada lelaki, tapi ternyata tidak”.

“karena aku punya oppa”. Ujar Yeonsung, gadis itu menoleh pada Minho. Melihat Minho yang sedang menikmati minuman kaleng. “ya ~ kenapa kau hanya bawa satu?”.

Sontak Minho terkejut. Setelah ia menoleh pada Yeonsung, barulah ia sadar jika Yeonsung berkata soal minuman yang ia minum sekarang. “kau mau?”.

“lupakan. Apa tidak ada pekerjaan lagi untukku?”.

“ada, sih. Sebenarnya setiap hari ada yang menanyakanmu, tapi aku memilih orang yang pas saja”. Jawab Minho lalu memeriksa ponselnya. “apa kau sudah bertemu Yongjoon?”.

“kupikir kau tahu, aku tidak masuk beberapa hari ini”.

Minho hanya mengangguk. Ia bukannya tidak tahu, hanya ingin bertanya barangkali Yongjoon sudah menemui Yeonsung. “baiklah, malam ini kau bisa tidak?”.

Luhan hampir terlelap ketika ponselnya kembali berdering. Ia lupa mematikan dering ponselnya, lantas ia mengabaikan dering pertama. Tetapi dering selanjutnya muncul. Lagi. Lagi. Dan lagi. Luhan terpaksa membuka kembali matanya. Kamarnya gelap karena Luhan sengaja mematikan lampu kamarnya. Cahaya ponselnya mencolok didalam ruangan itu, langsung saja Luhan tahu dimana letak ponselnya.

“Luhan”

“Luhan”

“Luhan”

Semua pesan tersebut berasal dari akun Hanabi. Akun baru. Karena akunnya yang lama telah diretas dan hilang. Orang dengan nama internet Hanabi ini tak pernah menyerah dan selalu membuat akun baru.

“siapa sih ini?”. dengus Luhan kesal. Ia hendak melempar kembali ponsel nya ke ujung kaki, namun ponselnya sekali lagi berdering.

“apa kau juga penasaran siapa aku?” – Hanabi.

Entah mengapa Luhan tertarik untuk melihat kembali ponsel yang tadi ingin ia lempar. Dengan cepat Luhan mengetik balasan. “jangan mengangguku. Kau pengangguran, ya?”.

“Yeonsung mungkin menunggumu” – Hanabi.

“ayo kita bertemu saja. Aku tidak suka bicara lewat pesan seperti ini”.

“kita pernah bertemu” – Hanabi.

Luhan menaikkan sebelah alisnya. Bodohnya, ia malah semakin penasaran dengan Hanabi. Seperti kamera pengintai, Hanabi memilik banyak file yang berhubungan dengan Yeonsung. termasuk video saat gadis itu dibully. Otak jenius Luhan mulai berputar memikirkan semua fakta yang ada.

“jangan mencoba mencaritahu, Luhan, kau akan tahu pada akhirnya” – Hanabi.

“aku hanya memberitahumu saja. Yeonsung mungkin menunggumu. Lalu sampai kapan kau akan mengabaikannya?” – Hanabi.

Luhan jengah. Ia pun mengetik pesan balasan. Dengan kurang ajarnya Hanabi mengecoh focus Luhan, ia mengirimkan poto Yeonsung yang sedang tersenyum. Sungguh! Demi apapun. Luhan belum pernah melihat gadis itu tersenyum. Saat akan mengirim pesan balasan. Hanabi sudah memblokir akun Luhan. Tak pelak membuat Luhan mengerang kesal. Ia sampai meloncat dari tempat tidurnya saking kesalnya.

Setelah emosinya mereda. Luhan memungut ponselnya yang tergeletak tak berdaya diantara selimut. ‘Yeonsung mungkin menunggumu’.

Benarkah?

Luhan memasuki gerbang sekolah. Sebelah tali tasnya tersampir dibahu kanan, tangannya menggenggam botol air minum. Setelah mendapat pesan dari Hanabi, Luhan jadi berpikir untuk menemui Yeonsung hari ini.

Dan berharap agar Yeonsung tidak meneriakinya dan menyuruhnya pergi lagi.

Baru saja dipikirkan. Gadis itu muncul.

Tidak. Sejak tadi ia memang ada disana. Duduk seperti buku didalam rak. Sambil makan Choco Pie dan membaca sebuah buku. Disebelahnya terdapat beberapa buku lain, diatas buku tersebut Yeonsung meletakkan ponsel dan sebotol susu pisang yang belum diminum namun sedotannya sudah tertancap.

Luhan menarik napas. Rasanya gugup sekali. Lebih gugup daripada ia harus menyatakan cinta pada seorang gadis. Tapi Luhan menepis perasaannya itu, ia harus bertemu dan bicara pada Yeonsung.

Yeonsung mengangkat kepalanya tepat saat Luhan berada didepannya kurang dari satu meter.

“Park Yeon”. Ujar Luhan.

Bibir Yeonsung bergetar. Seolah ingin menjawab namun ia tak bisa mengeluarkan suaranya. Hingga Luhan duduk disebelahnya.

“Park Yeon, kupikir kita harus bicara”.

Yeonsung diam. menatap lurus pada Luhan.

Drrtt…

Ponsel Yeonsung bergetar. Layar ponselnya menyala. Yeonsung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang berada diatas buku. Luhan pun reflek melakukan hal yang sama. Yeonsung mendapat pesan singkat dari seseorang. Ia tidak segera meraih benda itu, hanya menatapnya saja.

Luhan yang juga melihat kearah ponsel Yeonsung, membelalak. Bahkan mulutnya menganga, ketika melihat layar ponsel yang ternyata tidak memakai mode terkunci apalagi sandi tertentu. “Hanabi?”. Gumam Luhan setelah melihat profil akun Hanabi dilayar ponsel Yeonsung.

Buru-buru Yeonsung meraih ponselnya, menyimpan benda itu didalam almamater. Lalu ia membawa semua buku nya. Yeonsung berdiri dan hendak pergi dari sana.

“Park Yeon – apa kau Hanabi?”. Luhan menahan lengan Yeonsung.

“kenapa? Kenapa jika aku Hanabi?”.

TBC

Dipart ini Luhan dikit, ya ngga sih? Karna skrg problemnya lagi ngga ke dia, jadi dapat part dikit deh kwkwkw XD

Semoga readers sekalian penasaran/? Semoga readers sekalian cukup puas sama chapter ini… hahahaha XD

Poster baru, yeheettt!! Bisa diliat diposter ya gambaran Yeon bertato/?

Advertisements

31 responses to ““Iaokim” #8 by Arni Kyo

  1. So, disini Yeonsung kayaknya udah mulai menerima takdir hidupnya yang seperti itu, saya gak habis pikir dan merasa ‘wow’ pas tau kenyataan yeongjun belain Yeonsung di depan Euina, dan dia hapus videonya! But aku belum bisa muji yeongjun sih disini, siapa tau dibalik itu semua ada rencana tersembunyi, iyakaaannn.
    Dan terakhir yg sukses bikin saya speechless adalah,, jeng jeng, Hanabi is Yeonsung? Wuaahhh saya sempet baca dua kali di part itu dan ternyata saya gak salah baca,, anjaayyy ini ff kok semakin membuat saya penasaran sih.

  2. karena keadaan, kenapa sekarang yeonsung jadi salah pergaulan gini sih ,,,
    ya ampun, ya ampun hanabi itu beneran yeonsung, aku kirain hanabi itu seungri, ternyata tebakan euina sama teman2 kalau hanabi itu yeonsung bener,

  3. Whaaaaaat hanabi is yeonsung. Kan sudah kudungga 😅😅
    Etapi antara percaya dan tidak percaya sih kak.
    Brarti si Yeon emang udah naksir Luhan duluan 😆😆😆 weloooookkk. 🙌🙌🙌
    Teeroreeet roreeeeet. Yongjoon kenapa ??kenapa kau nak?? Suka sama si Yeon?? 😆😆😆
    Kui yongjoon sama Luhan berantem kuy 😍😍😍😍😍

  4. Ya ampun bang yeol sgitu ny lo lngsung prcaya sma nyokap lo,,is3xsssss sngguh trlalu diri mu bang!!
    Tp tnggu jngan blang klw yeon suka sma luge?? Klw itu bnar jd sbnar ny yeon itu bnci/suka sma luge??

  5. yongjoon mulai suka nih sama yeonsung , suka banget sikap yongjoon sama euina harus nya dari kemarin2 di gituin hahaha
    minho ada sedikit baik nya ya (suka), sepertinya minho mulai tau kalau yeonsung lebih merhatiin luhan ya walaupun tanpa yeonsung sadari.hehe
    seungri kemana seungri.kkk~

      • udah, yang sebagian di suruh datang sama nginep itu kan 😀 waktu yongjoon bilang yeon pacar heuleuhh itu bikin ngakak minho mungkin ya.hee
        oh iya aku mau tanya gambar tato di yeon seperti apa ya gambaran nya soal nya penasaran banget pengen tau *maaf nanya seperti itu.
        makin lovelove sama ini fanfic semangat author buat kelanjutannya.

  6. Anjirr ngakak di bagian Hongdam mau pasang tato tulisan bastard di kening Yonjoong. Bagus kalik yaa. Jadi ternyata itu emak Yeonsung nggak benci-benci amat sama anaknya. Mak, putrimu menderita, mak! Ajak ke rumah Lu Hwang aja nape??? Ngga kasian apa sama Yeonsung???😭 Dan gue masih kesel sama Chanyeol. Di cerita yang kakak bikin, baru ini aku bisa kesel banget sama Chanyeol. Emang kalo nikah harus sampe ngga mikirin Yeonsung?! 😣 Minho ini aslinya baik, sih. Tapi gue nggak mau sok tau deh. Gue nebak Hanabi antara Minho atau Seungri, ternyata bukan. Hahahahaha diluar dugaan banget😂
    Aku rindu Lu Hwang… Ehh anaknya maksudnya

  7. Wah sesuai dugaan kalo youngjoon bakalan suka sama yeongsung, dan the hell jadi hanabi itu si yeonsung? Aku malah ngira itu seungri 😂

  8. Yaah kok yeon jadi agak bandel gitu yah syg bgt kan, ygjoon bnr suka am si yeon haha ini kok lucu bgt yaa, btw aku kurang yakin deh kalo hanabi itu yeon wkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s