Brother Romance [II. Development (Seung)] ~ohnajla

ohnajla || schoollife, brothership, romance, fluff || G || 4 Chapter (Gi-Seung-Jeon-Gyeol) ||

Starring: 

BTS Suga aka Yoongi || Oh Sena (OC) || BTS V aka little Taehyung || BTS Rap Monster aka Namjoon || BTS J-Hope aka Hoseok || BTS Jin aka Seokjin

**

I. Introduction (Gi)

II. Development (Seung)

***

Chuwo?” tanya Yoongi saat mengeringkan tubuh mungil Taehyung dengan handuk putih besar.

“Dingiiin~” erang Taehyung dengan gigi yang tak hentinya beradu karena menggigil.

Setelah dirasa sudah kering, Yoongi pun memakaikan jubah mandi mungil ke tubuh Taehyung. Mengikat bagian pinggangnya erat. Lantas dia meraih tangan Taehyung dan mengajaknya masuk kamar.

“Duduk disana,” tunjuknya pada ranjang yang biasa mereka pakai tidur.

Taehyung pun segera mengayunkan kedua tungkai kaki unyilnya ke sana. Karena ranjang yang cukup tinggi, dia harus menggunakan sebuah kursi kecil yang disediakan Yoongi untuk pijakan naik. Setelah berada di atas ranjang, dia pun menghempaskan pantatnya dan menghela napas lega. Kedua mata indahnya fokus memperhatikan Yoongi yang sedang mencari bajunya di lemari.

Yoongi pun menghampirinya dengan membawa sepasang baju mungil miliknya. Dia duduk di sebelah Taehyung, sementara Taehyung berdiri. Dia dengan telaten melepas jubah mandi Taehyung, melumuri tubuh Taehyung dengan bedak dan minyak, dan terakhir memberinya baju. Setelah semuanya selesai, dia menepuk bahu kecil Taehyung dengan puas.

“Anak tampan! Nah, sekarang nonton TV dulu. Hyung mau mandi.”

Si kecil itu lekas turun dari ranjang dan berlarian menuju ruang TV. Sementara Yoongi menguap lebar karena bangun terlalu pagi. Dia memijat sendiri bahu kanannya yang terasa pegal. Pagi-pagi tadi, saat Taehyung dan semua orang tidur, dia sudah terjaga dan melakukan banyak sekali pekerjaan. Mencuci baju mereka, memasak nasi, membersihkan rumah, membuat sarapan, bahkan membersihkan dojo taekwondo milik paman Sena yang memang menjadi salah satu pekerjaan rutinnya setiap hari. Belum setelah ini dia harus berangkat sekolah.

Dia menghela napas, tersenyum setelahnya. Satu-satunya alasan yang bisa membuatnya tersenyum seperti itu adalah suara tawa lucu Taehyung yang terdengar dari ruang TV. Adiknya itu pasti sekarang sedang menonton kartun Pororo, kartun favoritnya.

Dia pun segera bangkit dan beranjak menuju kamar mandi.

Selelah apa pun dia, dia berjanji tidak akan berhenti begitu saja. Demi adiknya.

Yoongi duduk di lantai saat melilitkan syal ke leher Taehyung. Seperti biasa, dia menggunakan coat warna hitam dan topi beanie berwarna serupa untuk setelan mengantar Taehyung sekolah. Taehyung sendiri tampak lucu dengan coat biru mungilnya dan syal abu-abu yang sudah melilit sempurna lehernya. Tas hitam kecil di punggungnya membuat keimutannya semakin total.

Yoongi sendiri terpukau melihat hasil dandanannya kepada anak mungil ini. Taehyung semakin manis.

Yeoksi, Yoongi dongsaeng!

Taehyung menatap kakaknya bingung. Yoongi pun mencubit gemas pipi Taehyung.

Kaja.”

Mereka pun bergandengan tangan saat keluar dari rumah. Hari sudah mulai terik, banyak anak SMA-nya yang tampak bergegas pergi ke sekolah tapi dia malah santai mengantar adiknya berangkat ke TK. Bahkan dengan tidak tahu malu dia malah tebar senyum pada teman-temannya yang menyadari eksistensinya.

Sekolah Taehyung tidak jauh. Hanya berjarak beberapa blok dari rumah mereka. Anak-anak seusia Taehyung tampak ramai diantar orangtuanya. Dia pun melepaskan genggamannya dan berjongkok di hadapan Taehyung setelah sampai di halaman depan TK. Sekali lagi dia merapikan penampilan adiknya.

“Belajar yang rajin. Nanti kalau hyung belum datang, pulang dulu bersama bu guru ya? Taehyung-ie harus jadi anak pintar, mengerti?”

Taehyung mengangguk semangat dengan senyum manis di wajahnya. “Mengelti!”

Yoongi mengusap lembut puncak kepala adiknya. “Oke, sekarang masuk kelas, hm? Ka.

Si mungil itu memeluknya sebentar lalu berbalik dan berlarian kecil mengikuti arus anak yang lain. Yoongi tetap berjongkok di sana hingga adiknya benar-benar hilang dari pandangannya. Kemudian dia pun bangkit, mengantongi tangan dalam saku coat, lantas berbalik pergi.

Hari sudah makin siang saat dia dalam perjalanan pulang ke rumah. Hanya ada segelintir siswa SMA-nya yang masih berada di jalan yang ia lalui, itu pun mereka tampak tergesa-gesa karena sudah terlambat. Beda sekali dengan Yoongi yang tampak melenggang santai, bersiul sambil melihat ke sana kemari.

Di persimpangan, tiba-tiba saja seseorang menabrak tubuhnya. Ia terdorong ke belakang beberapa langkah, begitu juga orang tersebut.

“Oh hei?” sapanya dengan seringaian di wajah. Dia mengangkat tangan kanannya.

Yaa! Kau itu punya mata atau tidak sih?!” Orang itu, lebih tepatnya gadis itu, Sena, menepuk-nepuk kasar bahunya sendiri yang tadi tak sengaja bertubrukan dengan Yoongi. Ekspresi wajahnya tampak kesal. Tapi daripada ekspresinya, Yoongi lebih fokus pada dandanan gadis ini.

Dia menyeringai. “Aigoo terlambat ya? Tumben.”

Sena berdecak. “Aku tidak ada waktu meladenimu. Minggir sana.” Ia pun mendorong Yoongi menyingkir dari jalannya dan berlarian meninggalkannya.

Yaa! Kau tidak pakai dasi!”

Seketika Sena berhenti di tempat. Dia pun meraba kerah seragamnya cepat dan langsung mengerang sebal. Detik berikutnya dia berbalik dan berlarian lagi. Saat melewati Yoongi, dia melotot seolah memberinya ancaman.

Yoongi sendiri hanya menggeleng pelan dengan tingkahnya. Lantas dia pun melanjutkan perjalanannya ke rumah.

“Berdiri di luar sampai bel pergantian jam.”

Yoongi pun melenggang santai keluar dari kelasnya dan tertawa saat melihat Sena.

Mereka terlambat. Hukuman jika terlambat di jam mata pelajaran sains adalah berdiri di teras kelas sampai jam mata pelajaran berakhir.

Hukuman yang ringan bagi Yoongi. Tapi sepertinya tidak bagi Sena. Sejak Yoongi menemukannya berdiri di luar, gadis itu tampak suram. Seolah harapan hidupnya hanya tinggal beberapa jam ke depan.

“Jangan tertawa.”

“Oke.” Yoongi pun tersenyum lebar.

“Jangan tersenyum.”

“Oke, hahaha.”

“Kubilang jangan tertawa!”

“Tapi barusan kau hanya menyuruhku tidak tersenyum.”

“Jangan tertawa, jangan tersenyum juga! Aish, kau menghancurkan mood-ku.”

Yoongi pun terkekeh. Dia menyikut lengan Sena yang membuat Sena menoleh cepat sambil melotot.

“Sedang datang bulan, hm?”

Anirago!

“Sensi sekali sih.” Entah apa yang lucu baginya, sejak tadi senyumannya sama sekali tidak luntur.

“Makanya diam. Kau tidak lihat? Gara-gara dirimu, aku terlambat.”

Yoongi mencibir. “Gara-gara aku?” Ia pun menunjuk dirinya sendiri. Kemudian dia melipat lengannya di dada. “Bukannya kau harus berterima kasih padaku ya?”

“Hah. Berterima kasih pantatku.”

Yaa, masih mending kau dihukum karena terlambat. Hukuman bagi yang tidak memakai atribut lengkap jauh lebih sulit dari ini. Memangnya kau mau membersihkan gudang? Di sana banyak tikusnya. Katanya kau takut tikus.”

Sena berdehem. “Si-siapa bilang? Aku tidak takut apa pun.”

Yoongi menyeringai. “Benarkah?”

Eo! Hewan kecil seperti itu sekali injak langsung mati! Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

“Oh ya? Kalau begitu, ayo bersenang-senang.”

Tiba-tiba saja dasi Sena telah raib dari tempatnya, berpindah ke tangan Yoongi. Tidak hanya dasi Sena saja, dasi yang dipakai Yoongi juga sudah tidak berada di tempat sewajarnya. Lelaki itu menaik-turunkan kedua alisnya, lalu berlarian menyusuri lorong.

Yaa! Kembalikan dasiku!!” pekik Sena setelah sadar dengan situasi. Dia langsung berlarian mengejar kepergian Yoongi. Yoongi lari cepat sekali. Dia menuruni tangga menuju lantai dasar, lalu pergi ke halaman belakang sekolah. Di sana ada sebuah pohon besar yang langsung dia panjat hanya untuk menggantung dasinya dan milik Sena di salah satu ranting. Dia baru akan beranjak turun saat Sena tiba.

Mwohaneungeoya?! Yaa! Kemarikan dasiku!”

Yoongi menyempatkan diri menjulurkan lidahnya sambil turun dari pohon. “Ambil sendiri kalau bisa.”

Yaa! Ini tidak lucu! Cepat kesinikan dasiku!”

Yoongi pun melompat dan mendarat dengan sempurna di atas tanah. Dia membersihkan kedua telapak tangannya sambil menatap Sena puas. “Kalau tidak lucu, ambil sendiri dong. Mungkin kalau kau mengambilnya sendiri, akan jadi lucu.”

Yaa!

“Sudahlah. Daripada marah-marah terus, ayo ikut aku. Kita bersenang-senang.” Setelah mengedipkan sebelah matanya, dia menarik lengan Sena untuk mengikutinya ke ruang guru. Untuk apa lagi kalau bukan mengaku bahwa mereka tidak memakai atribut sekolah.

Momen yang ditunggu-tunggu Yoongi pun terjadi juga.

Mereka dihukum membersihkan gudang, hanya berdua.

The real funniest moment in life.

Dia tak hentinya terpingkal melihat wajah masam Sena yang harus berkutat di gudang dengan sapu dan kemoceng. Tawanya makin terdengar gila setiap kali Sena mengomel.

“Aish! Shikkeuro jinjja!

Yoongi tertawa lagi.

“Mau kusumpal mulutmu dengan kaus kakiku?!”

Spontan Yoongi membekap mulutnya sendiri, masih terdengar sisa tawa yang teredam tangannya. Sena menghela napas. Dia pun berjalan ke sudut, menendang kursi rusak yang menghalanginya.

BRAK! CIIIT!!

“Kyaaaaa!!! Hewan!!”

Reflek dia melempar sapu serta kemocengnya dan berlarian memeluk Yoongi. Kedua kakinya tampak sibuk jalan di tempat setiap kali suara decitan khas hewan itu menyerang indera pendengarannya.

Shireo! Shireo! Shireo! Ppali ka! Ka-rago!! Eomma!! Kyaaa!! Asdfghjkl!@$%!”

Yoongi hanya menggeleng heran. Tubuhnya sejak tadi berguncang karena Sena. Dia bahkan tidak punya sekalipun kesempatan bicara karena gadis ini berteriak dengan kecepatan kuda tanpa koma tanpa titik. Bahkan teriakannya masih tetap terdengar meskipun suara tikus sudah tidak ada lagi.

Yoongi pun menepuk punggungnya.

EOMMA!!

Yaa!” Akhirnya Yoongi yang kesal pun berseru. “Na-ya. Suaranya sudah tidak ada lagi.”

Sena masih berjingkrak-jingkrak di tempat dengan mengguncangkan tubuhnya. “Tapi hewannya masih ada di sana.”

“Ya itu ‘kan terserah dia. Rumah rumahnya juga.”

Shireo!!!

Yoongi merotasikan bola matanya jengah. Detik berikutnya tercetak seringaian di wajahnya. “Hei, kau fanatik ya? Aku tahu kalau aku ini tampan, tapi mengambil kesempatan di tempat seperti ini sshh bisa sangat berbahaya bagimu, nona beautiful.”

Sena pun langsung mendorong tubuh Yoongi. “Aku bukan fanatik! Tidak sudi aku mengambil kesempatan pada orang jelek sepertimu.”

Chong jojun balsa! Peluru seakan baru saja menusuk ke dalam jantung hati Yoongi. Lelaki itu memegang dada kirinya dramatis. “Akh … sakit sekali. Kata-katamu seperti peluru yang berhasil menembus ke dalam jantung hatiku. Akh … sekarang pelurunya melumer dan ikut mengalir dalam nadiku. Dadaku berdesir … menyebut namamu.”

Ekspresi Sena berubah kecut. “Jijik tau!”

Entah kenapa tiba-tiba Yoongi memasukkan tangannya ke dalam baju seragamnya sendiri. Sena tampak was-was, bersiap menghajar Yoongi kalau-kalau Yoongi berniat jahat padanya. Dan tangan Yoongi pun keluar kembali dengan cepat, membentuk simbol hati kecil.

Masih dengan tingkah dramatis, dia mengulurkan simbol hati kecil itu ke depan Sena. “Take it. This is for you.”

PLAK!

Pernyataan cinta ditolak. Yoongi menelan ludah pahitnya.

“Tidak lucu.”

Sena pun mendorong tubuhnya dan segera beringsut keluar. Meninggalkan Yoongi sendirian di gudang itu ditemani dengan tawa mengejek para tikus yang sejak tadi menonton.

“Diam kalian.”

*next: III. Turn (Jeon)

5 responses to “Brother Romance [II. Development (Seung)] ~ohnajla

  1. Puas banget ya abang yoongi ngerjain sena, sbnrx naksir ya sn sena, cari kesempatan biar berduaan, ..si abang emang raja gombal..

  2. hahaha ampun deh lucu banget wkwk…. yoongi gombal banget tp gak mempan tuh sama sena….. lucu parah, eh yoongi beneran suka sama sena apa cuma iseng, tp akhirnya pas mau tbc lucu konyol = bang yoongi,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s