Brother Romance [III. Turn (Jeon)] ~ohnajla

ohnajla || schoollife, brothership, romance, fluff || G || 4 Chapter (Gi-Seung-Jeon-Gyeol) ||

Starring: 

BTS Suga aka Yoongi || Oh Sena (OC) || BTS V aka little Taehyung || BTS Rap Monster aka Namjoon || BTS J-Hope aka Hoseok || BTS Jin aka Seokjin

**

I. Introduction (Gi)

II. Development (Seung)

III. Turn (Jeon)

***

Hari itu adalah rekor terbanyak Yoongi dapat hukuman. Pertama, hukuman karena terlambat masuk kelas. Kedua, hukuman karena tidak memakai dasi. Dan ketiga adalah hukuman karena ketahuan merokok. Di hukuman ketiga ini, Sena sengaja memberitahu guru mereka dengan memperlihatkan foto Yoongi yang sedang merokok sendirian di tempat biasa sambil main ponsel. Jangan heran, Sena sedang balas dendam karena Yoongi sudah membuatnya dapat hukuman 2 kali hari ini.

Di saat yang lain pulang sekolah, Yoongi harus mau berlama-lama di ruang guru untuk menulis pernyataan minta maaf sebanyak 5 lembar folio. Guru etika tidak main-main, kalau dia salah menulis satu huruf saja, atau ada coretan sedikit, maka Yoongi harus mengulang dari awal lagi. Yoongi yang tidak begitu ahli menulis –karena malas dan suka cepat-cepat, memecahkan rekor membuang selusin kertas folio karena kesalahan penulisan.

Yoongi baru bisa pulang pukul 7 malam. Dia berlarian menuju rumah guru Taehyung untuk menjemput adiknya. Namun sesampainya di sana, dia mendapati rumah guru Taehyung yang tampak kosong. Berulang kali dia menekan bel dan mengetuk pintu, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari dalamnya. Khawatir, dia pun mengeluarkan ponselnya dan langsung membuat panggilan cepat dengan guru Taehyung.

Yoboseyo?

Seonsaengnim, ini aku Yoongi, kakak Taehyung. Sekarang aku ada di depan rumahmu.”

“Oh Yoongi-a. Mian, aku lupa memberitahumu. Aku sekarang sedang bersama adikmu. Dia keracunan makanan, jadi aku membawanya ke rumah sakit. Kemarilah sekarang.”

“Keracunan makanan?!” seru Yoongi keras. “Bagaimana—”

“Akan kujelaskan nanti. Sekarang kesini dulu.”

Yoongi menghela napas, berusaha menenangkan diri. “Ne, aku akan ke sana sekarang. Sampai bertemu nanti, Ssaem.”

Setelah panggilan berakhir, Yoongi pun segera mengantongi ponselnya dalam saku dan berlarian menuju rumah sakit. Ia tidak bisa menggunakan jasa transportasi umum, uangnya tidak mencukupi untuk keperluan seperti itu. Toh rumah sakit tempat Taehyung dirawat sekarang tidaklah jauh, sepuluh menit berlari, akhirnya dia sampai juga.

Dadanya tampak naik turun saat berdiri di depan meja resepsionis.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang suster bagian resepsionis setelah 10 detik Yoongi tetap bertahan dalam posisi seperti itu.

Yoongi pun mengangkat kepalanya. “Tolong beritahu aku letak ruangan Taehyung.”

“Taehyung? Maaf, ada banyak yang namanya Taehyung di sini. Bisa Anda jelaskan lebih detail tentang data diri pasien?”

“Namanya Taehyung … enam tahun … dia datang bersama seorang wanita bernama Han Sung Kyung … gejalanya keracunan makanan.”

Suster itu tampak sibuk mencari data yang diberitahu Yoongi lewat komputernya. Senyum pun tercetak begitu dia menemukan data diri pasien yang dimaksud. “Ananda Taehyung berada di bangsal anak-anak, kamar nomor 7.”

Yoongi langsung membungkuk 90 derajat penuh. “Terima kasih banyak.” Segera dia mengayunkan kakinya menuju bangsal anak-anak yang terletak tidak jauh dari meja resepsionis. Kepalanya menoleh ke kanan kiri untuk membaca nomor ruangan, dan langkahnya pun berhenti di depan pintu ruangan nomor 7. Ia menelan ludah keringnya sebelum membuka pintu itu dan menghampiri Taehyung di ranjang nomor dua dari pintu.

Han Sung Kyung, guru TK Taehyung langsung menyambut. “Kau sudah sampai?”

Yoongi hanya mengangguk samar. Fokusnya tercurah total pada Taehyung. Dia meraih tangan mungil adiknya, menggenggamnya erat. “Taehyung baik-baik saja ‘kan, Ssaem?”

Sung Kyung mengangguk. “Setelah dua hari dirawat dia akan sehat kembali. Adikmu keracunan makanan kadaluarsa. Jangan bangunkan dia, dia baru tidur.”

“Bagaimana bisa dia makan makanan kadaluarsa?” tanyanya yang terdengar seperti gumaman. Dia pun menarik kursi dan duduk. Menatap lekat adiknya.

“Aku sendiri tidak yakin. Dia masih baik-baik saja setelah makan siang denganku. Tapi setelah dia memakan sosis yang diberikan seorang haksaeng, dia tiba-tiba muntah-muntah dan menangis keras. Sepertinya sosis itulah penyebabnya.”

Yoongi pun langsung menoleh. “Siapa haksaeng itu?”

Sung Kyung tampak berpikir sejenak. “Dia memakai seragam sekolah yang sama denganmu. Kalau tidak salah ingat, namanya … Sena. Ya, Sena, Oh Sena.”

“Sena?”

Sung Kyung mengangguk. “Kau mengenalnya?”

Yoongi mendengus tak percaya. Sena? Apa maksudnya dia melakukan ini? Ia berdecak. “Keterlaluan sekali.”

“Mungkin dia juga tidak tahu kalau makanan itu sudah kadaluarsa. Sena gadis yang baik, dia mengajak Taehyung main selama kau masih belum datang.”

Yoongi tak merespon. Dia terlanjur marah, Taehyung jadi begini karena Sena. Yoongi merasa jika Sena tengah balas dendam akan apa yang telah dilakukannya selama ini. Dalam benaknya dia telah membuat perhitungan. Yoongi bertekad akan membalasnya dengan lebih kejam lagi.

Yoongi benar-benar serius akan tekadnya balas dendam pada Sena. Esok harinya dia mulai membuat ulah. Entah apa yang dipikirkannya, dia membawa putung rokoknya ke kelas dan merontokkan abunya tepat ke atas buku-buku Sena. Dia seolah tuli saat teman-teman Sena meneriakinya. Bahkan dia masih tetap melakukan itu meskipun Sena menangkap basah dirinya.

Yaa! Apa yang kau lakukan?!”

Sena segera mengambil buku-bukunya dan membersihkan abu bekas rokok Yoongi cepat-cepat. kemudian matanya menatap tajam Yoongi. “Micheosseo?!

“Jadi aesthetic bukan?” Dengan santainya dia menggigit kembali putung rokoknya, menyesapnya dalam lalu menyemburkannya tepat ke muka Sena. Gadis itu otomatis terbatuk-batuk.

Yaa! Akan kulaporkan pada seonsaengnim kau nanti!”

“Laporkan saja. Kau pikir aku takut?” Setelah memamerkan seringaiannya, dia pun melenggang santai keluar dari kelas masih sambil menghisap rokoknya.

“Aku benar-benar akan melaporkanmu!!” teriak Sena dengan marah.

Mungkin Sena pikir Yoongi sudah puas mengerjainya, tapi projek balas dendam Yoongi tidak berhenti sampai di situ. Satu jam sebelum jam istirahat kedua, Yoongi tampak membolos kelas. Tidak ada yang tahu dia pergi kemana. Orang-orang juga tidak ada yang bertanya begitu dia kembali tepat saat bel jam istirahat kedua berbunyi. Namun setelah bel masuk terdengar, kehebohan terjadi.

Yaa! Siapa yang menaruh ini di tas Sena?!” Seorang teman Sena tampak berteriak keras hingga uratnya bermunculan. Di sampingnya Sena tengah menangis histeris dalam pelukan temannya yang lain.

Yaa! Namja-deul, mengakulah kalian! Bukankah ini sudah keterlaluan?!” sahut teman Sena lainnya.

“Siapa yang menaruh bangkai tikus di tas Sena?! Cepat mengaku!”

Kelas jadi ricuh oleh perdebatan mulut antara kubu wanita dan kubu pria. Para siswa laki-laki tampak tidak terima oleh tuduhan para siswa perempuan. Sementara bau bangkai tikus itu mulai mengganggu udara di sana.

Dan kericuhan itu pun mengundang guru datang.

“Ada apa ribut-ribut ini?!”

Teman Sena pun angkat bicara. “Ssaem, ada yang menaruh bangkai tikus di tas Sena.”

“Bangkai tikus?” Guru itu pun berjalan mendekati di mana tas Sena berada. Ekspresi wajahnya berubah kaku saat melihat hewan mati itu tergeletak di sana. Dia pun langsung mengedarkan pandangan pada siswa laki-laki.

“Ini sudah pasti adalah kelakuan salah satu dari kalian. Mengakulah sekarang.”

Para siswa laki-laki saling berpandangan pada satu sama lain. Memaksa siapa pun itu untuk maju menjadi tersangka. Melihat tak ada yang bereaksi, guru itu pun menggebrak meja.

“Cepat tunjukkan dirimu atau kuhukum kalian semua!”

Tatapan mereka berubah panik. Tidak ada yang mau dihukum karena kesalahan yang tidak mereka perbuat. Satu persatu dari mereka mulai mengintimidasi teman-teman di sampingnya, memaksa untuk segera mengaku menjadi tersangka.

Dan Yoongi pun akhirnya angkat tangan. “Aku yang melakukannya.”

Semua atensi langsung tercurah padanya, termasuk Sena. Gadis itu mengusap kasar wajahnya dan segera menghampiri Yoongi.

PLAK!

Nappeun namja.”

Yoongi menyeringai. Dia pun menatap Sena tajam. “Lalu kau apa? Pembunuh anak kecil? Hah. I ssaeki!

“Kau, ikut aku ke kantor sekarang!” Teriak guru itu.

Yoongi pun melewati Sena sambil dengan sengaja menyenggol bahunya. Dia meludah sebelum benar-benar keluar dari kelas.

Yoongi memang mendapat hukuman dari tindakannya itu, tapi bukan berarti dia berhenti mengganggu Sena. Tingkahnya justru semakin menjadi.

Dia mencoret-coret buku tugas Sena.

Menghilangkan semua alat tulis Sena.

Membakar buku diktat Sena.

Memaku cicak mati di meja Sena.

Sengaja menggunting payung milik Sena.

Termasuk mengoleskan lem di kursi Sena yang otomatis membuat rok Sena harus digunting karena itu.

Sena yang tidak bisa lagi menerima kenakalan Yoongi, tiba-tiba mendatangi tempat nongkrong Yoongi dan menamparnya detik itu juga. Seokjin, Hoseok dan Namjoon yang berada di sana terperangah melihatnya.

“Sudah puas?”

Yoongi perlahan mengangkat kepalanya, kemudian dia pun berdiri. Melempar rokoknya ke tanah, dan menginjaknya hingga habis.

“Masih belum.”

Sena menatapnya tak percaya. Dia menggigit bibir bagian bawahnya yang mulai bergetar. “Wae irae? Apa salahku sampai kau melakukan ini?”

Tiga kawan Yoongi tampak saling pandang. Mereka menggendikkan bahu, menjelaskan bahwa mereka tidak tahu apa-apa.

“Kau merasa tidak punya salah?”

Bola mata Sena tampak bergerak-gerak kecil, sedikit berembun. “Kau marah karena aku mengadukanmu ke seonsaengnim? Yaa, hari itu kau sudah membuatku dihukum dua kali. Hanya sekali itu aku mengadukanmu ke seonsaengnim.”

Yoongi menyeringai. “Menurutmu aku begini karena itu?”

Terdiam sejenak. Sena tampak sedang mencari jawaban dari mata Yoongi. Namun, dia tidak kunjung menemukannya. “Eo.

Yoongi mendengus. “Daebak … kau ini sangat tidak sadar diri sampai aku ingin sekali memukulmu.”

“Sebenarnya ada apa denganmu?”

“Harusnya kau tahu kenapa aku begini.”

Air mata Sena mulai mengalir jatuh. Dia menggeleng cepat. “Aku tidak tahu, aku tidak tahu apa pun. Kalau aku memang ada salah, katakan. Aku tidak bisa lagi menerima semuanya. Aku capek!”

“Kalau begitu baguslah. Syukur-syukur kalau kau cepat mati.”

Dia, Yoongi, langsung beranjak dari tempat usai bicara begitu. Dia tidak peduli mau Sena menangis makin keras atau mengumpatnya. Hatinya sudah tertutup, dia tidak akan menerima maaf dari Sena meski gadis itu sembah sujud di kakinya. Kesalahan Sena sudah sangat keterlaluan untuknya.

Namun sama seperti dirinya, Sena juga tipe keras kepala yang akan terus mengejar Yoongi sampai dia dengar sendiri apa kesalahannya.

Yoongi pulang terlambat lagi, dia bertemu Sena saat akan keluar dari gerbang. Langkahnya terhenti sebentar, kemudian berlanjut lagi dan hanya melewati Sena tanpa mengucap sepatah kata pun. Sena yang tidak mau kehilangan mangsanya, segera mengekor di belakang.

Yaa, malhaebwa. Aku tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahuku.”

Yoongi melengos, seolah tidak dengar. Namun Sena tidak menyerah.

“Kau mau xylitol? Gwaenchanha, kau bisa habiskan sepuasmu.”

Tidak mempan.

“Ah! Kau ‘kan belum makan siang. Bagaimana kalau makan ramen? Akan kutraktir.”

Lagi-lagi tidak mempan.

“Kau tidak suka ramen ya? Bagaimana kalau tteokbeokki?”

Sekali lagi tidak mempan. Sena mendengus, mulai kesal. Dia pun berjalan cepat mendahului Yoongi dan langsung berhenti sambil merentangkan tangan.

“Hei! Jawab aku!!”

Yoongi otomatis berhenti.

Sena menghela napas. “Kau ini manusia ‘kan? Bisa dengar suaraku ‘kan? Jawab aku, jangan buat aku bicara sendiri.”

Yoongi membuang muka, mengorek kupingnya dengan niat menyindir.

Sena mendengus. “Aku tahu kau membenciku, tapi bukankah seharusnya akulah yang—”

TIIIN!

Yoongi reflek menarik lengan Sena dan mendekapnya. Motor yang tadi berbunyi itu, lewat di depan matanya dengan kecepatan tinggi. Dia menghela napas, lalu mendorong bahu gadis itu.

Yaa imma, apa kau sudah bosan hidup? Ingin cepat mati?”

Sena yang masih terpukau dengan kejadian beberapa menit barusan tampak menggeleng pelan. Tubuhnya berjengit ketika Yoongi mendorongnya lagi.

“Pulang sana, jangan ikuti aku. Menyusahkan.”

Yoongi berjalan melewati Sena begitu saja. Kali ini langkahnya terkesan cepat dan terburu-buru. Dia ingin segera sampai di tujuan. Tanpa sekalipun berminat menoleh ke belakang, akhirnya dia sampai juga di rumah sakit. Langkahnya perlahan-lahan mulai memelan dan berhenti sesampai di dekat ranjang milik adiknya. Kedua ujung bibirnya merekah. Menjatuhkan tasnya sembarangan, dia pun berlarian memeluk Taehyung. Pelukannya makin erat seiring paru-parunya yang penuh dengan aroma wangi dari bedak bayi adiknya.

“Aaa~ hyung~~” Taehyung merengek karena sesak. Yoongi pun mau tak mau merenggangkan pelukannya. Dia menciumi setiap inchi wajah Taehyung dengan sayang.

Hyung kangen sekali padamu. Taehyung-ie tidak kangen hyung?”

Taehyung dengan polosnya menggeleng. Yoongi cemberut.

“Ah wae~ tidak adil namanya itu. Neomuhae~

“Aku mau yayam.”

Yoongi mendengus. “Kau lebih suka ayam daripada hyung?”

Taehyung mengangguk semangat. “Ne! Aku cuka yayam, hyung chireo.”

Yoongi makin manyun, harapannya disayang Taehyung hilang sudah. Spontan dia menoleh saat Sungkyung menyerukan sebuah nama. Ekspresinya berubah galak.

“Kenapa kau kemari?!”

Sena berjengit. “Memangnya tidak boleh ya?”

“Tidak boleh. Aku tidak sudi melihat orang yang sudah meracuni adikku di sini. Ppali ka!

Ye? Meracuni? Museun—”

Nuna! Nuna ayo main!” Taehyung tiba-tiba berseru ceria yang membuat Yoongi tercengang melihatnya. Adiknya itu sudah bersiap akan turun dari ranjang dan berlarian menyambut Sena kalau Sungkyung tidak menahannya. Tangan Taehyung masih tersambung infus.

Nuna~~” panggil Taehyung lagi karena Sena hanya cengo di tempat. Segera gadis itu mendekat agar Taehyung tidak memaksa turun dari ranjang.

Ne. Taehyung-ie mau main apa?”

Yoongi menggeplak tangan Sena yang akan memegang adiknya. “Jauhkan tanganmu dari adikku.”

“Yoongi,” tegur Sungkyung. “Jangan begitu. Sudah kubilang ini bukan salah Sena.”

“Tapi dia yang sudah membuat Taehyung begini,” balas Yoongi tak mau kalah. Lagi-lagi dia menggeplak tangan Sena yang berusaha menyentuh adiknya.

“Aku sama sekali tidak tahu maksudmu,” balas Sena akhirnya.

“Kau masih berpura-pura tidak tahu? Yaa, dia masuk rumah sakit karena makan sosis kadaluarsa darimu. Salah siapa ini, huh? Salahmu!”

“Yoongi,” tegur Sungkyung lagi. Dia menaruh jari telunjuknya di depan bibir, meminta Yoongi menurunkan volume suara.

Yoongi menghela napas. “Pokoknya aku tidak sudi melihatmu di sini. Ppali ka!

Sena yang sejak tadi terdiam, akhirnya buka suara. “Jadi … kau melakukan semua itu karena ini? Kenapa kau tidak bilang padaku sejak kemarin? Harusnya kau bilang padaku.”

“Untuk apa aku bilang padamu? Memaksamu meminta maaf? Shireo, aku tidak butuh maafmu.”

“Tapi setidaknya aku tahu kalau aku bersalah. Aku tidak akan tahu kalau kau tidak memberitahuku.”

Taehyung yang sejak tadi menyimak, tiba-tiba bangkit dari duduknya. Dia meraih tangan hyung-nya, dan tangan Sena, lalu menggabungkannya menjadi satu. Tingkahnya itu menjadi keheranan tersendiri bagi tiga orang dewasa di dekatnya.

“Taehyung-ie, apa ini?” tanya Yoongi akhirnya.

Taehyung menatap kakaknya dengan wajah polosnya. “Kata bu gulu, beltengkal itu tidak baik. Jadi halus baikan.”

“Taehyung-a….” gumam Sena, terpukau.

“Tapi dia itu jahat. Taehyung-ie sakit karena dia.”

Taehyung menoleh pada Sena. Dia seperti sedang mencari dimana letak jahatnya Sena seperti yang dibilang kakaknya. “Nuna tidak jahat, nuna olang baik.”

“Tapi Taehyung-ie sakit karena dia.” Lagi-lagi Yoongi masih ngotot dengan pendapatnya. Pokoknya sekali bersalah, Sena tetap bersalah.

Dan Taehyung membalasnya dengan ngotot juga. Dia menggeleng. “Nuna olang baik kok. Aku cuka nuna.”

Sena tersenyum, bibirnya bergerak samar menggumamkan kata terima kasih yang dibalas senyuman polos Taehyung.

“Taehyung-ie, dengar hyung.”

“Yoongi.” Ketiga kalinya Sungkyung menegur. “Sudahlah. Jangan seperti itu. Kau ini seharusnya lebih dewasa dari Taehyung. Ini bukan salah Sena dan Taehyung juga tidak marah padanya. Hentikan.”

“Tapi ssaem—”

“Belajarlah dari Taehyung. Kau harus malu dengan dirimu sendiri. Bukan itu yang seharusnya kau ajarkan pada Taehyung.”

Yoongi akhirnya diam. Dia melirik Sena sekilas, lantas membuang muka.

“Aku cuka nuna, aku juga cayang hyung. Hyung dan nuna tidak boleh beltengkal. Halus baikan cekalang. Hyung, cekalang hyung halus minta maaf ke nuna.”

Yoongi langsung melotot. “Kenapa aku?”

“Kalna hyung nakal.”

Yaa, bukan aku yang nakal. Tapi dia. Kau sakit karena dia.”

Taehyung menggeleng. “Nuna tidak nakal. Hyung yang nakal.”

“Kenapa malah hyung sih?” seru Yoongi tidak terima.

Hyung tidak belikan aku yayam. Nuna pelnah kasih aku yayam, cama cocis.”

“Hei, sosis yang Taehyung-ie makan itu sudah basi. Sudah tidak boleh dimakan. Taehyung-ie tahu kenapa Taehyung-ie sakit?”

“Yoongi. Lama-lama aku akan memasukkanmu ke TK kalau kau terus seperti itu. Jadilah dewasa.” Sungkyung berseru dengan ekspresi kesal.

Yoongi memberengut. “Keurae, keurae. Aku yang salah.”

Hyung halus minta maap.”

Yoongi menghela napas. Dia menatap Sena tajam dalam beberapa detik kemudian membuang muka. “Maaf.”

Sena tersenyum. “Eo, aku juga minta maaf. Jinjja mianhae.”

“Hm.”

Tiba-tiba Taehyung bertepuk tangan. “Tepuk tangan!! Hyung cama nuna akhilnya baikan! Yeeeay!!”

Sekali lagi Yoongi mendengus, namun kali ini diikuti dengan senyum di wajahnya. Gemas, dia pun langsung menyerang Taehyung dengan pelukan dan ciuman.

Hyung!! Nuna!! Hyung nakal!! Huwaaa!!”

Hari itu berakhir dengan jeweran manis Sungkyung di telinga Yoongi karena telah membuat Taehyung menangis.

*next: IV. Conclusion (Gyeol) #END

2 responses to “Brother Romance [III. Turn (Jeon)] ~ohnajla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s