Catnap 2/2 by ilachan

catnap

Catnap
Romance, Fluff, Schoollife – Twoshot – General

Related:
One Shot – Two Shot

 

“Irene, kau sedang apa?”
-Byun B.

Aku nyaris saja melempar ponselku ketika pesan singkat itu muncul di layar. Pesan singkat yang berasal dari kontak bernama Baekhyun terlihat sangat asing. Setelah tadi siang kami berdua sempat berbicara singkat apakah dia berpikir kita berdua cukup wajar untuk saling bertukar pesan? Dan ngomong-ngomong, dia mendapatkan nomorku dari siapa?

“Sedang belajar.”

Aku menjawabnya singkat, dan jawabanku sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Aku sekarang sedang berada di kamar, duduk di meja belajar. Memang sih niatnya ingin belajar, tapi entah kenapa diriku malah berakhir membaca salah satu novel koleksiku yang belum aku selesaikan.

“Tanganmu terasa dingin, kau tahu?”

Secara reflek aku menepuk dahiku. Entah kenapa tiba-tiba merasa kesal. Kenapa dia ingin membahas topik memalukan ini?

“Benarkah?”

Pikiranku buntu. Tak ada kata-kata cerdas lain yang pantas aku kirimkan kepada Baekhyun.

“Ya, dan tanganmu juga berkeringat ketika kau tidur. Apa kau punya penyakit semacam jantung lemah?”

Kenapa dengan Byun Baekhyun, apa sekarang dia perhatian dengan kesehatanku?

“Entahlah. Tapi sepertinya tidak. Aku pikir tadi siang cuacanya panas makanya tanganku berkeringat.”

“Ah sepertinya memang begitu.”

“Lalu, waktu istirahat kenapa kau tidak pergi ke kantin? Ku pikir kau pergi dengan Kim Jongdae.”

Ya, aku kira dia sudah menghilang sejak Kim Jongdae mengeluh lapar pada Baekhyun. Tapi betapa terkejutnya, ternyata Baekhyun menjagaku tidur dengan duduk diam di sampingku.

Aku menggigit bibirku sembari menunggu balasan dari Baekhyun. Aku sudah tidak tahan lagi ingin bertanya. Tadi siang, selepas aku pergi dari toilet untuk mencuci muka, jam pelajaran berikutnya sudah dimulai sehingga aku tak punya kesempatan mengajukan pertanyaan ini. Ponselku bergetar pelan, pesan dari Baekhyun muncul.

“Itu karena kau tampak pucat. Aku mengkhawatirkanmu.”

Tanpa aku sadari, seringai kecil muncul di wajahku. Aku pasti tampak bodoh. Ah, sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur dan esok hari tidak siap aku jalani. Pria bermarga Byun ini akan aku apakan. Kali ini kalimat singkatnya sukses membuatku benar-benar melempar ponsel.

***

“Untung tidak rusak,” guman ku sedikit menyesal ketika aku melempar ponselku ke lantai tadi malam.

Aku terus berguman sambil berjalan di koridor ramai gedung sekolah. Aku tak memperhatikan sekeliling tapi terus mengamati ponselku sambil berjalan. Sudah seperti mempunyai sistem koordinat sendiri, kakiku berjalan otomatis kemana ruang kelas ku berada. Ketika sudah sampai di pintu kelas, ada sesuatu yang tiba-tiba menyadarkanku. Aku buru-buru bersembunyi di samping pintu kelas bagian belakang sambil sedikit mengintip ke dalam.

Mataku mengamati kejadian yang berlangsung saat itu. Sudah banyak teman sekelasku yang datang bahkan Wendy sudah duduk tenang bersama buku di tangannya. Pandanganku berpindah ke arah dimana mejaku dan Baekhyun berada. Meja kami kosong, jadi sepertinya Baekhyun belum datang.

Aku sedikit bisa bernapas lega karena sepuluh menit lagi pelajaran pertama dimulai. Dia tidak akan punya waktu membahas peristiwa yang terjadi diantara kami.

“Kau mencari seseorang?” ada orang yang berbisik di telingaku dan membuat sisi tubuhku bergidik.

Belum ku jawab pertanyaannya, dia berkata lagi, “Apa yang kau cari adalah Byun Baekhyun?”

Seketika lututku lemas mendengar nama itu. Dengan hati-hati aku menoleh dan ternyata yang berbicara adalah orang itu sendiri. Pria bermarga Byun itu menyeringai ketika mendapati ekspresi wajah tak percaya terpampang di raut mukaku. Aku mencoba berdiri tegak tapi sepertinya lututku berubah jadi lembek. Aku nyaris terjatuh dan Baekhyun menolongku. Dia menangkap pergelangan tanganku lalu menarikku berdiri. Dia kini terkekeh melihat tingkahku.

Kemudian dia berkata,” Wajahmu seperti baru saja melihat setan.”

Ya, dan kau setannya.

“Kenapa kau bersembunyi?” lanjut Baekhyun. Sialnya dia masih belum melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku seolah takut aku akan merosost lagi.

“Tidak ada.” kataku sambil mengedikkan bahu. Sungguh tak ada ucapan brilian dalam situasi semacam ini.

Baekhyun menanggapiku dengan tersenyum tipis, sebelum akhirnya tanpa peringatan dia menarikku masuk ke dalam kelas. Menarikkan kursi untukku dan membuatku duduk dengan gerak gerik layaknya pelayan kerajaan Inggris. Setelah akhirnya aku duduk, dia menyeringai lebar lantas duduk di tempatnya.

Baekhyun tidak peduli. Tapi aku kenal pandangan seperti ini. Yaitu pandangan aneh teman sekelas karena tingkah aneh yang baru saja Baekhyun lakukan padaku. Ada yang berpikir ini hanyalah lelucon, secara Baekhyun adalah juara di bidang ini. Ada yang menganggap Baekhyun aneh. Tapi Wendy, dia menatapku dengan pandangan lain. Sesama wanita pasti tahu artinya ini kan? Mulut Wendi menganga. Dia sudah melupakan buku yang ada di tangannya meluncur jatuh ke lantai. Dia memberiku kode seperti, “Apa yang terjadi?”

Aku hanya mengedikkan pundak, sebelum meluncur menutupi seluruh wajahku dengan melipat tangan dan membenamkannya di meja. Astaga aku malu sekali. Aku ingin bersembunyi di bawah meja hingga jam pelajaran berakhir.

“Irene, apa kau merasa kurang enak badan?” itu Baekhyun. Dia berkata cukup keras untuk ku dengar.

Aku menggeleng masih dengan posisi duduk yang sama.

“Bagus. Jam makan siang nanti aku ingin mengajak dirimu ke suatu tempat.”

Mataku melonjak terbuka, dudukku kembali tegap. Apa yang dia inginkan kali ini? Pria ini membuatku takut. Dia tidak akan mungkin melukai diriku kan? Wajah imut seperti itu mana mungkin melakukan suatu kejahatan bukan?

Aku menggeleng pelan, tanda tak setuju tapi dia menepuk pundakku tanpa sungkan. “Tenang saja kau pasti suka.” lalu dia menyeringai.

***

Matilah aku.

Itulah hal pertama yang aku pikirkan ketika Baekhyun tiba-tiba menarik lenganku hingga membuatku berdiri. Dengan riang dia berkata, “Ayo.” yang bagiku seperti ajakan ke neraka. Mau dibawa kemana aku?

Kami menyusuri koridor yang penuh dengan siswa. Mereka berjalan kesana kemari melakukan suatu kepentingan. Di sisi lain, Baekhyun kini menggenggam tanganku seolah takut aku akan kabur dari sana. Suasana ini cukup canggung. Jika orang lain yang tak tahu apa-apa mengartikan, aku dan Baekhyun seperti pasangan baru yang sedang jalan-jalan. Aku tak suka ini tapi Baekhyun sepertinya tidak peduli.

“Kau tak banyak bicara.” kata Baekhyun membuka pembicaraan.

Tentu saja aku tak banyak bicara. Aku terlalu sibuk memperhatikan sekelilingku, takut kalau ada yang mengenalku dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berbahaya seperti apa hubunganku dengan Byun Baekhyun.

“Kau bahkan tidak menjawabku.” ada rasa getir di kalimat Baekhyun, seketika aku mengerjap.

“Maafkan aku.” hanya itu yang aku katakan tapi sudah sukses membuat Baekhyun tertawa renyah.

“Kau menggemaskan sekali, kau tahu?”

Leherku berputar cepat, nyaris tak mempercayai apa yang aku dengar. “Apa?”

Baekhyun menoleh, dia tersenyum padaku namun tak mengatakan apa-apa. Ah sial, dia membuat perutku memilin tak nyaman.

Baekhyun tak mengatakan apa-apa lagi sampai kami keluar dari gedung. Mungkin dia tahu kalau pun dia bicara tidak akan aku tanggapi. Dia mengambil rute ke kanan yang aku ketahui sebagai jalan menuju lapangan. Dan ternyata tepat, pria ini benar-benar menyeretku pergi menuju lapangan. Langkahnya semakin cepat ketika kami mendekati hamparan halaman yang luas dan hijau itu. Langkah kami berhenti ketika kami sampai di bawah bayangan salah satu pohon yang ada di pinggir lapangan. Akhirnya dia melepaskan tanganku, tanpa berpikir panjang duduk di rerumputan dan menghela napas panjang.

Jadi dia mengajakku kemari untuk apa?

Seolah menjawab pertanyaanku Baekhyun tiba-tiba berkata, “Duduklah, dan kau akan tahu.”

Aku ragu-ragu mengambil tempat di sampingnya, di bawah bayangan pohon yang rantingnya berderik ketika sesekali angin berhembus melewatinya. Di hadapan kami, di lapangan, terdapat beberapa siswa yang bermain bola. Tanpa sadar aku menonton pertandingan itu sambil merasakan semilir angin menyentuh kulitku. Lalu, bau rumput yang khas memberikan efek tenang dan rileks. Seketika aku mengantuk.

“Kau suka?”

Aku mengangguk.

“Kau benar-benar tidak banyak bicara.” guman Baekhyun tapi aku bisa mendengarnya.

Sebenarnya aku tidak benar-benar pendiam. Aku hanya diam diantara orang baru. Tapi sudah beda cerita jika aku bersama Wendy. Kami akan berbicara panjang lebar tanpa henti. Sebenarnya aku begitu. Aku hanya tidak tahu topik apa yang harus aku bicarakan dengan Baekhyun.

“Sebenarnya,” aku mulai berbicara. Di ujung mataku aku bisa melihat Baekhyun menoleh cepat seolah kaget patung di sebelahnya bisa mengeluarkan suara, “Sebenarnya kenapa kau mengajakku kemari?”

Baekhyun tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia masih tertegun dengan apa yang dia dengar.

“Itu karena ku pikir kau akan suka tidur siang di sini. Alih-alih di kelas.”

Aku mengangguk. Dia benar, hanya duduk disini sudah bisa membuat rasa kantuk muncul.

“Aku tahu kau tidak suka keramaian.” kata Baekhyun tiba-tiba, “Makanya ku pikir ini adalah tempat yang tepat untukmu. Aku tahu kalau selama ini dirimu kesusahan sejak duduk bersamaku. Aku adalah orang yang berisik, aku tahu. Dan kau tidak menyukai hal-hal yang menarik perhatian.”

“Kau tahu.” gumanku heran yang rupanya di dengar Baekhyun.

“Tentu saja, karena aku memperhatikanmu.”

“Kenapa kau memperhatikanku?”

Baekhyun terkekeh, lalu dia merubah posisinya dari duduk menjadi tidur diatas rumput. Dia melipat tangannya dan menggunakannya sebagai bantalan, “Sebenarnya bukan aku saja yang memperhatikanmu. Hampir separuh siswa laki-laki di kelas suka memperhatikanmu. Dan mereka kadang membuatmu sebagai taruhan.”

“Taruhan seperti apa yang…”

“Yah, taruhan konyol seperti siapa yang berani mengajakmu pergi ke kantin. Siapa yang berani memberimu boneka teddy. Intinya kau itu sebenarnya cukup populer. Hanya saja kau tidak menyadari. Aku heran padamu, padahal Wendy menyadari itu.”

“Maksudmu?”

“Kau pikir kenapa Wendy, overprotective padamu? Itu karena dia ingin menjauhkanmu dari laki-laki.”

“Kau tahu banyak.” kataku heran.

“Itu karena aku memperhatikanmu.”

“Kau terus mengatakan itu.”

“Karena itu benar.”

Aku menghela napas panjang. Dan ikut berbaring di rerumputan di samping Baekhyun. Aku tak pernah memikirkan kenapa Wendy sering mengkhawatirkanku. Ah, rupanya aku sendiri yang kurang peka dengan sekeliling. Setelah itu kami melanjutkan perbincangan dengan berbaring sambil memperhatikan awan berarak di kejauhan. Baekhyun rupanya orang yang mudah diajak bicara. Karena, belum lama kami membuka pembicaraan, dia sudah bisa membuatku tertawa terbahak.

Tak lama kemudian aku menguap lebar. Baekhyun memperhatikanku. Lalu dia berkata, “Kau butuh bantal?”

Baekhyun membuka lengannya, dia menawarkan lengannya sebagai bantalan. Gila apa? Itu sama saja aku tidur di pelukannya atau semacamnya. Aku berpikir keras dan mencari kata-kata yang tepat untuk menolaknya, tapi aku rupanya terlalu lamban. Tahu-tahu saja Baekhyun menarikku dan membuatku tidur di atas lengannya.

“Kalau kau tak nyaman dengan lenganku, kau bisa tidur di dadaku.” dia malah menyeringai ketika aku memukul dadanya. Aku hendak bangkit tapi Baekhyun menahanku, “Maafkan aku. Aku tak akan macam-macam. Kau bisa tidur dengan tenang”

“Darimana aku tahu kalau kau tak akan macam-macam?”

“Karena aku juga ingin tidur. Tidur di kelas tidak akan setenang ini.”

Baekhyun benar. Segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka benar-benar menciptakan suasana tenang yang bisa membuat mereka mengantuk. Tanpa berpikir panjang, aku membenarkan posisi tidurku di lengan Baekhyun. Di sisi lain, pria itu mulai memejamkan matanya. Dia benar-benar berkata tidak akan macam-macam. Dia hanya meminjamkan lengannya sebagai bantal dan aku harus berterimakasih. Lalu aku menguap, lalu aku merasa ringan, lalu aku tenggelam.

Astaga!

“Byun Baekhyun kau harus bangun.”

Dia mengerang, bahkan dia mengganti posisi tidurnya menjadi seperti janin ketika tangannya yang lain sudah terbebas dariku.

“Byun Baekhyun, ini jam berapa? Kita terlambat masuk ke kelas!”

Dengan kurang sabar aku menepuk wajahnya. Pelan, kemudian sedikit keras, lebih keras lagi, lebih keras lagi, lalu ku tepuk wajahnya lebih keras lagi, lalu..

“Aw, kenapa kau menamparku?”

“Aku berupaya membangunkanmu. Kita harus kembali ke kelas.”

“Apa kau tak pernah tahu istilah bolos?”

“Kau ingin kita bolos?”

“Tidak juga, tapi kalau kau ingin kembali ke kelas, ayo pergi.”

Tanpa basa-basi aku bangkit sebelum akhirnya menarik Baekhyun berdiri. Aku mencengkeram pergelangan tangannya dan mulai berlari menuju kelas. Baekhyun aku paksa untuk berlari karena aku tidak mau ketinggalan pelajaran. Apalagi jadwal pelajaran kami kali ini adalah fisika dengan guru nenek sihir. Dia jahat sekali, jadi kami harus benar-benar kembali.

Ketika sudah sampai di pintu kelas, aku menoleh kepada Baekhyun yang kehabisan napas.

“Kau yang akan menjelaskan semuanya kepada guru.”

“Oke, tapi ada syaratnya.”

“Apa itu?”

“Jadilah kekasihku.”

“Apa?”

“Jadilah kekasihku. Maka aku akan menuruti semua keinginanmu.”

“Kau masih saja bercanda di situasi semacam ini?”

“Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku benar-benar ingin kau jadi kekasihku.”

Mulutku seketika terkunci rapat. Otakku bingungung memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengerikan yang akan terjadi kemudian. Tapi, masa bodoh, aku akan memikirkan konsekuensinya nanti.

“Baiklah,” aku menghela napas pasrah, “Aku terima.”

“Perfect!” katanya lalu mencium dahiku singkat sebelum akhirnya melewatiku membuka pintu kelas bagian depan. Ketika Baekhyun dengan percaya diri membuka pintu kelas lebar-lebar, disitu aku menyadari. Meja guru kosong, dan itu berarti pelajaran fisika kali ini kosong. Lantas untuk apa perjanjian yang baru saja aku lakukan dengan Baekhyun? Keparat.

Baekhyun dengan percaya diri berjalan di depan kelas. Senyumannya yang lebar mencuri perhatian teman-teman sekelas. Aku yang masih tertegun di luar kelas, punya firasat buruk dengan apa yang selanjutnya Baekhyun lakukan.

Dan benar saja. Setelah dia bercakap singkat di depan kelas yang entah membicarakan apa, dia melambai padaku, memberikan perintah untuk masuk kelas. Dengan langkah ragu aku menurutinya. Aku berjalan pelan dan seketika perhatian semua orang tertuju kepadaku saat aku memasuki kelas. Baekhyun menarikku berdiri di sampingnya lalu berkata, “Dia adalah milikku. Siapapun yang mengganggu Irene akan berhadapan denganku.”

Astaga, sepulang sekolah aku akan memesan peti mati.

-fin-

Visit Ilachan’s blog Iruza Izate for more Baekhyun – Irene FanFiction 🙂

 

 

 

 

2 responses to “Catnap 2/2 by ilachan

  1. baekhyun itu berisik-berisik tp menarik perhatian, baekhyun itu berisik-berisik sampai bikin irene tak berkutik, ternyata baekhyun selama ini selalu mengkhawatirkan irene, baekhyun pintar dalam memanfaatkan keadaan, dan berkat keadaan itu baekhyun bisa dapetin irene hehe….

  2. Aaaaaaaaaaaakkkkk~ Baekhyun manis banget masa >///< kayanya dalam dunia nyata baekhyun bukan tipe orang yang diem-diem merhatiin gitu deh. Tapi di ff ini aku bisa bayangi seberapa besar kadar kemanisan baekhyun wkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s