“Iaokim” #9 by Arni Kyo

Iaokim 1

Iaokim #9

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Oh Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

 

~oOo~

Luhan enggan melepaskan tangan Yeonsung dari genggamannya. Meskipun gadis itu memberontak agar Luhan melepaskan genggamannya. Bahkan adegan itu mulai jadi perhatian murid lain yang baru datang.

“Luhan, lepaskan”.

“katakan apa kau benar-benar Hanabi?”.

“lalu kenapa kalau aku memang Hanabi?”.

Luhan mengerutkan keningnya. Iya. Memangnya kenapa kalau Yeonsung ternyata adalah Hanabi? Selagi Luhan memikirkan jawabannya, Yeonsung menarik keras dirinya agar terlepas dari Luhan. Namun ia malah terjatuh karena Luhan telah melonggarkan genggamannya.

Bruukk

Yeonsung jatuh. Terduduk dihadapan Luhan. Buku yang ia pegang pun terjatuh.

“Park Yeon”. Buru-buru Luhan menolong gadis itu, namun Yeonsung menepis tangan Luhan.

Yeonsung tak mengatakan apapun, matanya melirik sekitarnya. Ia sadar telah jadi pusat perhatian dipinggir taman pagi ini. merasa Yeonsung tak akan mau menerima bantuannya, Luhan pun membereskan buku-buku Yeonsung.

“maaf”. Gumam Yeonsung.

“apa?”. Luhan mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan tatapan Yeonsung. “kau – bisakah jangan dekat-dekat dengan Euina dan kelompoknya juga jangan dekat dengan Yongjoon dan Minho”. Pinta Luhan.

“kau melarangku sebagai siapa?”.

Luhan diam. bingung apa maksud pertanyaan Yeonsung. gadis itu tak menunggu jawaban Luhan, ia bergegas merebut buku yang Luhan pegang lalu berdiri. Menepuk-nepuk pelan roknya yang kotor terkena tanah.

Yeonsung berbalik dan melangkah pergi. Sungguh! Ia tak ingin mendengar Luhan menjawab pertanyaannya. Karena pertanyaan itu keluar karena otak dan mulutnya yang lagi-lagi tidak sinkron.

Sementara itu, Luhan masih berjongkok ditempatnya. Berpikir tentang pertanyaan yang Yeonsung lontarkan.

“siapa?”. Gumam Luhan. Sebelum akhirnya Luhan paham maksud pertanyaan itu. Tetapi Yeonsung sudah jauh berjalan. Luhan menunduk lagi, ia menemukan sebuah buku tipis. Lantas ia memungutnya. Buku itu berisi lembaran score Cello.

“Park Yeon, apa dia tahu jika aku pernah ke rumahnya?”. Luhan bergumam sendirian. “itu berarti dia juga sudah tahu jika kami saudara tiri. Tapi tidak mungkin ia tidak tahu jika ia sudah bertemu dengan Hyerin”. Tambah Luhan lagi.

Minho melangkah tergesa menuju ruangan yang sudah diberitahukan oleh resepsionis. Ia mendapat kabar kalau Yongjoon mengalami kecelakaan dan dirawat dirumah sakit. Sebagai seorang teman, Minho buru-buru datang. Lagipula ia kasihan karena kedua orang tua Yongjoon sedang berada di Jeju sekarang.

Setelah sampai dilantai 5, Minho mencari ruangan dengan nama Yongjoon. Akhirnya ia menemukan ruangan itu.

“Yongjoon’ah!”. Panggil Minho.

Sunyi. Tak ada jawaban.

Minho segera menghampiri tirai berwarna cream yang tertutup.

Srreeekk

Ia menarik tirai kesamping, hingga terpampanglah sosok Yongjoon yang tengah berbaring dengan mata tertutup diatas tempat tidur.

“Yongjoon’ah!”. Minho menghampiri tubuh itu, memegang kedua pipi Yongjoon. Tak percaya teman baiknya itu terkapar tak berdaya diatas tempat tidur rumah sakit seperti ini.

Tangan kiri Yongjoon mendorong Minho tepat diwajah pria itu. “eishh… berisik. Aku baru saja minum obat dan akan tidur”. Ujar Yongjoon yang tiba-tiba membuka mata.

“kupikir kau koma atau semacamnya”. Ujar Minho lalu tersenyum kuda. Ia pun duduk dipinggiran ranjang.

“kau berharap aku koma atau semacamnya?”. Balas Yongjoon sinis.

“tidak, sih. Ya! apa yang sebenarnya terjadi padamu?”.

Yongjoon berusaha duduk, mengetahui itu, Minho pun meletakkan bantal dibelakang tubuh Yongjoon. “kau tahu kan akhir-akhir ini aku sulit sekali untuk bertemu Yeonsung?”. Tanyanya.

“lalu kenapa?”.

“tadi aku berniat menemuinya. Tapi dalam perjalanan ke rumahnya, aku malah kecelakaan. Shh…”. Yongjoon menunjukkan hasil kecelakaan yang ia terima. Bahu kanan nya cidera dan ia juga mendapat beberapa luka seperti didahi dan kaki.

“oh, begitu. Skau kecelakaan sendirian?”.

“tidak. Aku diserempet sebuah mobil”.

Minho mengangguk-angguk mengerti. “lalu apa kau melaporkan perkara ini pada polisi?”.

Yongjoon berdecak. Entah apa yang terjadi pada otak Minho hingga ia bertanya seperti itu. “kau bodoh atau apa? tentu saja tidak, meskipun polisi tetap menyelidiki, tapi aku meminta pada pengacara kami untuk menangani masalah ini. kau kan tahu aku masih dibawah umur untuk mengendarai sendiri?”. Oceh Yongjoon panjang lebar.

“kupikir kau sudah diatas umur”. Gumam Minho sambil menengok kearah lain.

“ingin kuhajar, huh?”.

Minho berdiri, menyimpan kedua tangannya didalam saku jaket. “coba saja. Kau bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur itu sekarang”. Ejek Minho.

Yongjoon mengernyitkan hidungnya. Tak suka dianggap lemah seperti ini. sebelum ia teringat akan sesuatu. “ya! Ha Minho, ngomong-ngomong, aku bisa minta tolong tidak?”.

“apa?”.

“katakan pada Yeonsung tentang keadaanku, kalau bisa ajak dia kemari”.

Minho menatap datar pada Yongjoon yang meminta padanya penuh harap. Minho memikirkan permintaan itu. Mengatakan dan membawa Yeonsung kemari? Meskipun itu adalah permintaan terakhir Yongjoon, maka… “aku tidak mau”.

“kenapa?!”.

“tidak mau saja”. Minho mengangkat kedua bahunya. “lagipula kau pikir Yeonsung mau kemari untuk menjengukmu? Jangan berharap”. Minho melirik jam tangannya.

“sialan. Coba dulu kau katakana padanya”.

“sudahlah, aku harus pergi sekarang. Besok pagi sebelum pergi sekolah aku akan kemari lagi”. Minho mengangkat tangannya tanda perpisahan.

“ya! Ha Minho! Sialan!”. Seru Yongjoon frustasi. Minho tidak peduli, ia segera berlari meninggalkan ruangan, meninggalkan Yongjoon yang berteriak kesal karena tak mau memenuhi permintaannya.

Saling meneriaki. Saling memaki. Dan saling memukul.

Adalah pemandangan yang biasa didengar dan dilihat oleh Shin Euina. Setiap kali ia pulang kerumah, setiap kali ayah dan ibunya bertemu. Kedua orang itu selalu bertengkar. Tak ada habisnya bahasan yang mereaka tengkarkan.

Masalah uang, masalah bisnis, masalah anak-anak mereka. Dan lainnya.

Euina baru pulang dari sekolah sekitar pukul 12 saat kedua orang tuanya bertengkar didalam kamar yang pintunya tidak tertutup. Euina dapat mendengar dan melihat dengan jelas ketika ayahnya meneriaki ibunya.

“cih…”. Dengusnya sambil berlalu menuju dapur. Euina mengambil beberapa buah didalam kulkas dan mengambil segelas air putih untuk dibawa kekamar.

Euina masuk kekamarnya. Meletakkan buah dan segelas air di atas meja belajarnya. Tasnya ia lempar sembarang keatas tempat tidur. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, Euina duduk didepan laptopnya.

Ponselnya berdering, seperti tahu jika itu adalah telpon penting. Euina dengan cepat mengangkat telpon tersebut.

ne?”.

sudah kami lakukan, dia dirumah sakit sekarang. Seperti permintaanmu”. Sahut orang dari seberang.

Senyuman kemenangan terukir diwajah Euina. “aku tahu kau akan melakukannya dengan baik, oppa”. Jawab Euina dengan suara manis.

uangnya sudah kau letakkan diloker stasiun?”.

“tentu saja –“.

Brakk

Pintu kamar Euina dibuka dengan cukup keras. Ibunya muncul dari luar, Euina membelalak dan segera mematikan sambungan telpon. Ibunya menatap Euina seperti seekor singa kelaparan. Wanita paruh baya dengan dandanan yang sudah berantakan karena menangis itu kini menghampiri Euina.

“kemari kau”. Ujarnya seraya tangannya terulur untuk menarik rambut Euina.

Euina yang panik tak bisa berbuat apa-apa. “eomma, wae?”.

Sekejab saja, rambut Euina sudah berada didalam genggaman ibunya. “kau pakai untuk apa uang yang kuberikan? Kau bahkan tidak bisa menghasilkan uang, anak sialan!”. Oceh ibunya sambil menarik rambut Euina, menghempaskan anaknya ke kanan dan kiri dengan geram.

eomma! Sakit! Hentikan!”. Teriak Euina meminta ampun.

“bahkan memiliki anak sepertimu tidak menguntungkan sama sekali, mati saja kau!”. Ibunya terus mengamuk. Sedangkan Euina hanya bisa menangis tanpa melakukan perlawanan. Kepalanya didorong hingga membentur meja belajar.

“hentikan! Wanita gila! Dia anakmu!”. Ayah Euina masuk ke dalam kamar karena mendengar Euina berteriak kesakitan. Dengan kekuatan pria yang miliki, ayah Euina menarik ibu Euina menjauh.

“jangan menghalangiku! Anak ini yang menyebabkan keuangan kita kacau!”. Ibunya terus mengamuk seperti orang kerasukan.

Euina menunduk, rambutnya berantakan. Dari selah rambutnya ia dapat melihat bagaimana ibunya menatapnya dengan penuh kebencian. Euina tak bisa menumpahkan emosinya di dalam rumah. Sekali ayahnya memegangi ibunya, Euina menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Dalam hati Euina bersyukur karena dompet nya masih ada didalam saku almamater. Tak lupa ia juga membawa ponselnya. Euina melesat keluar dari kamar setelah ia pastikan ibunya tak bisa menjangkaunya.

“ya! mau kemana kau!?”. Teriak ibunya. Euina berlari menuruni tangga.

“Euina’ya!”. panggil ayahnya berharap Euina mendengarkannya.

Tapi, Euina bukan tipe anak yang penurut. Jadi ia akan tetap pada keputusannya, pergi dari rumah malam ini. saking terburu-burunya ia pergi bahkan hanya memakai sandal rumah.

“cih… sialan!”. Umpat Euina dalam perjalanan, ia tidak tahu harus kemana sekarang. Euina berjongkok sambil memikirkan harus pergi kemana. Belum lagi kepalanya yang terasa berdenyut karena terbentur tadi.

“Luhan”. Gumamnya.

Ting tong

Tak lama setelah bel tersebut berbunyi, pintu apartemen pun terbuka. Sosok Chanyeol muncul dari dalam, senyum lebar khasnya mengembang ketika mengetahui tamu yang datang adalah Yeonsung.

“Yeon’ah, kau datang”. Sambutnya.

ne”. jawab Yeonsung pelan.

Chanyeol mengajak Yeonsung untuk makan malam bersama diapartemen barunya. Setelah cukup lama membujuk, akhirnya gadis itu mau juga datang dan menemui Chanyeol lagi. Berbeda dengan Yeonsung yang tampak tidak sedikit menjauh, Chanyeol justru tetap seperti biasanya.

“sini kubawakan”. Chanyeol mengambil alih semangka yang dibawa oleh Yeonsung. “ayo masuk”. Ajak Chanyeol.

Dengan riang Chanyeol membawa semangka hadiah dari adiknya ke dalam apartemen. Yeonsung melihat-lihat apartemen yang dibeli oleh Chanyeol. Tidak buruk, pikirnya.

chagiya, kita dapat semangka”. Ujar Chanyeol ketika memasuki ruang tengah.

Yeonsung sedikit terkejut. Ia tidak tahu jika ada pacar Chanyeol didalam. Tadinya ia pikir hanya akan makan malam berdua dengan Chanyeol. Sekalian Yeonsung akan menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Tapi – jika ada orang lain, Yeonsung berpikir ulang dan memutuskan untuk mengurungan keinginannya.

eo, Yeonnie”. Sapa Minah dengan ramah. Wanita itu tengah menyiapkan meja makan.

annyeonghaseyo”. Yeonsung member salam.

“nah, Yeon’ah, kau duduk saja disini. Karena kau tamu jadi biar kami yang menyiapkan makanannya”. Suruh Chanyeol sambil menunjukkan dimana Yeonsung harus duduk.

Yeonsung menurut saja. Ia duduk dilantai tepat didepan meja makan kecil yang sudah berisi beberapa makanan. Sesekali ia melihat kearah dapur yang memang tidak memikili sekat pemisah, dimana Chanyeol sedang memotong semangka dan Minah sedang mengurus sup nya.

“benar juga, ini kan apartemen barunya, tidak mungkin ia hanya mengundangku sementara ia punya pacar”. Gumam Yeonsung.

“apa yang kau dengungkan, Yeon’ah?”. Tanya Chanyeol yang tiba-tiba datang dengan membawa piring penuh semangka.

“ah, tidak. Apartemenmu lumayan bagus”. Elak Yeonsung.

Chanyeol tersenyum girang. Iapun duduk bersila didekat Yeonsung. tinggal menunggu Minah siap, maka acara makan malam bersama akan dimulai. “aku senang kau datang, dengan ini apa kau tidak marah lagi padaku?”.

“jika aku terus merajuk padamu, kupikir aku akan benar-benar sebatangkara didunia ini”. jawab Yeonsung.

“sup nya sudah datang”. Ujar Minah lalu menghidangkan sup ditengah meja makan. “Yeonnie, tidak sedang diet, kan? Makanlah yang banyak”.

Yeonsung tersenyum simpul, lalu mengangguk.

Mereka menikmati makan malam dalam kehangatan. Ah, rasanya sudah lama sekali Yeonsung tidak merasakan hal seperti ini. Saat ia harus tinggal dan mengurus diri sendiri diusia yang masih remaja, Yeonsung berpikir jika ia adalah anak yang paling menderita. Tapi setelah melihat Chanyeol kembali, Yeonsung mulai mengerti jika Chanyeol juga menderita. Pasti sangat berat untuknya hingga ia frustasi dan pergi dari rumah.

Anak seusia Chanyeol memiliki emosi yang tidak stabil. Maka saat ia memutuskan pergi dari rumah, ia bahkan lupa jika masih memiliki seorang adik. Berpikir jika ia kembali maka semuanya akan baik-baik saja, bersikap biasa seperti dirinya yang dulu. Namun Chanyeol sadar hal itu tidak mudah untuk dilakukan. Canggung.

“Yeon’ah, kami memutuskan untuk tinggal bersama”. Ujar Chanyeol diselah acara mereka.

Yeonsung langsung menoleh. Matanya menatap Chanyeol, bingung. “maksudmu?”.

“aku sudah mengatakannya padamu jika aku akan menikah, setelah membeli apartemen ini aku akan tinggal bersama Minah”. Jelas Chanyeol.

“tapi… kalian kan belum menikah”.

“tidak apa-apa, Yeonnie, banyak pasangan muda yang seperti itu di Seoul”. Sahut Minah.

Yeonsung mengangguk. Ia tahu soal itu, hanya saja ia terkejut karena harus mengenal salah satu dari sekian banyak pasangan yang belum menikah namun sudah tinggal bersama. Ternyata hidup sekacau itu, pikirnya.

Seusai makan malam, Yeonsung bergegas membereskan bekas makan mereka. Ia sedang mencuci piring saat Chanyeol mengatakan akan pergi ke minimarket untuk membeli beberapa beer. Yeonsung tidak tahu jika kakak nya kini tumbuh seperti kebanyakan pria, alcoholic.

Saat Yeonsung tengah menikmati acaranya bermain dengan air dan busa serta sisa makanan, Minah menghampirinya.

“kupikir kau tidak akan datang”. Ujar Minah dengan nada bicara yang berbeda.

Yeonsung menoleh pada Minah, wanita itu menatapnya sambil melipat tangan didada. “aku juga berpikir untuk tidak datang”.

“acara pernikahan kami, kuharap kau tidak datang”.

Deg.

Tangan Yeonsung yang tadinya sibuk menggosok piring, berhenti bergerak. “wae?”.

“Chanyeol bilang jika dia tak punya keluarga lagi, orang tuaku tahu soal itu. Jadi jangan mengacaukan semuanya dengan datang dan mengaku sebagai keluarga kandung Chanyeol”.

Yeonsung tetap diam. benarkah Chanyeol mengatakan hal itu pada keluarga pacarnya? Yeonsung ingin tidak percaya pada ucapan Minah. Cerita soal kakak ipar yang jahat ternyata bukan bualan.

“aku juga tidak berniat untuk datang, karena aku punya kesibukan lain”.

“kebetulan yang bagus sekali”. Balas Minah dengan nada senang. Ia hendak pergi dari sana. Namun Yeonsung kembali menyahut.

“tapi –“. Yeonsung berbalik dan menghadapi Minah kini. “jika Chanyeol memaksaku untuk datang, aku akan datang. Seperti yang kulakukan hari ini”. tambah Yeonsung.

“ya!”.

Klik

Pintu apartemen terbuka. Chanyeol kembali dengan kantung belanjaan ditangannya. Ia terkejut mendengar Minah berteriak. “ada apa?”. buru-buru Chanyeol menghampiri Minah. Dilihatnya kearah Minah menghadap. Chanyeol mendapati Yeonsung yang sibuk mencuci piring.

“ah, oppa, tadi ada kecoa lewat jadi aku reflek berteriak”. Jawab Minah dengan manja.

“benarkah? ah ~ mereka bilang tempat ini aman dari tikus dan kecoa”. Ujar Chanyeol lalu meletakkan belanjaannya dimeja pantry. Ia pun berjongkok mencari kecoa yang dimaksud oleh Minah.

“kau pikir tempat apa yang bebas dari tikus dan kecoa, kau bahkan bisa menemukan siluman srigala disekitar sini”. Sahut Yeonsung tanpa menoleh pada Chanyeol, tetap pada kegiatannya.

Minah mendesis mendengar ucapan Yeonsung. sungguh sindiran yang membuatnya kesal. Jika saja Chanyeol tidak ada disini, pikir Minah.

Euina berjongkok didekat pagar rumah Luhan. Menunggu pria itu keluar dari dalam setelah ia menelponnya tadi. Euina terpikir untuk menemui Luhan saat ia pergi dari rumah. Bahkan ia mendramatisir kondisinya sekarang. Euina menambahkan sebuah luka di tangannya, sebuah sayatan.

Tak lama kemudian, gerbang rumah Luhan terbuka. Luhan keluar dari dalam dan langsung menemukan Euina sedang berjongkok menyedihkan.

“Euina”. Panggil Luhan.

“Luhan”. Euina berdiri, menghambur memeluk Luhan. “akh…”. Ringisnya pelan karena luka ditangannya tak sengaja menyentuh tubuh Luhan.

“Euina’ya, apa yang terjadi?”. Tanya Luhan, khawatir. Biar bagaimanapun, Luhan pernah menyukai gadis ini.

Euina mulai tersedu. Ia tak mau mengatakan apa yang terjadi padanya. Karena tanpa ia mengatakan hal itu, Luhan sudah tahu. Hanya ada satu orang yang bisa membuatnya seperti ini. Luhan tahu itu.

“aku tidak ingin pulang kerumah. Disana mengerikan”. Ujar Euina pelan.

“lalu kau akan kemana?”.

Euina menggeleng.

Luhan menghela napas. Membawa Euina kedalam dan menyuruh gadis ini menginap dirumahnya juga tak mungkin. “yasudah kalau begitu kita ke apotik dulu”. Luhan merangkul bahu Euina.

Mengajak Euina untuk pergi membeli obat diapotik, itu adalah hal utama yang harus dilakukan sekarang. Melihat darah yang mengalir keluar dari tangan Euina saja membuat Luhan ngeri. Ia tidak terlalu suka dengan darah.

Setelah membeli obat luka, mereka duduk dikursi taman. Dengan telaten Luhan membalut luka ditangan Euina. Tentu saja membuat Euina senang bukan main. Sudah lama sekali ia tidak memandang Luhan dari dekat.

“jangan bergerak dulu”. Ujar Luhan.

“sakit”.

“makanya jangan banyak bergerak, aku harus membalutnya tepat diluka”. Ujar Luhan lagi sambil membalutkan perban ditangan Euina. “sudah, sekarang luka di dahu mu”. Luhan mengeluarkan sebuah plaster luka dari dalam kantung.

“pelan-pelan”. Pinta Euina.

Luhan mengangguk. Tanpa menjawab ia menyelipkan rambut Euina agar bisa menempelkan plaster luka. “jadi kau akan kemana malam ini?”. Tanya Luhan setelah plaster luka menempel didahi Euina.

“mungkin aku akan kerumah Minjung. Atau menginap disuatu tempat”.

“tapi ini sudah malam, sebaiknya kau pulang saja”.

“tidak mau, Luhan”.

“Euina’ya”.

Euina diam, menunduk. Nada bicara Luhan sudah berubah. Luhan melepaskan jaket yang ia pakai lalu menyelimutkannya pada Euina. “ku antar ke halte, kau harus pulang. Aku akan menelpon appa mu”.

Yeonsung menyandarkan kepalanya ke jendela bus. Hal yang ia sukai ketika naik bus. Yeonsung dalam perjalanan pulang kerumahnya setelah menjenguk Chanyeol diapartemennya tadi. Dan sekarang ia menjadi semakin terpuruk karena Chanyeol harus menikah dengan wanita bermuka dua.

“kenapa kau harus suka padanya, dasar bodoh”. Ujar Yeonsung kesal.

Tadi ia mencoba untuk tidak peduli pada keadaan Chanyeol, merasa Chanyeol juga tak peduli padanya. Tapi, instingnya sebagai seorang adik tetap bangkit.

“sebenarnya siapa yang harus aku kasihani? Diriku? Chan oppa?”. Yeonsung bertanya pada dirinya sendiri.

Drrrtt

Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan video dari Yongjoon. Yeonsung menaikkan sebelah alisnya. Sungguh! Yongjoon menelpon disaat yang salah. Tapi memang Yeonsung tak ingin bertemu ataupun menghubungi pria itu.

Tak mungkin video sialan itu muncul sendiri di ponsel Euina, pasti Yongjoon yang telah mengirimnya. Hal tersebut selalu muncul dibenak Yeonsung.

Sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, bus yang mengantarnya pulang berhenti di halte. Beberapa penumpang dengan pakaian kerja turun dari bus. Yeonsung mengangkat kepalanya, melihat berhenti di halte mana bus ini. namun malah pemandangan lain yang ia lihat.

Sedang duduk dihalte, Luhan bersama seorang gadis yang tengah menyandarkan kepalanya – tertidur dibahu Luhan. Yeonsung mencelos.

Luhan pun melihat kearah Yeonsung yang duduk tepat disebelah jendela bus. Mata Luhan membelalak. Hendak berdiri dan masuk ke dalam bus, tapi Euina menggenggam erat tangannya.

“kau mau kemana?”. Gumam Euina tanpa membuka matanya.

“oh, ah, bus nya –“.

“biarkan saja. Aku bisa naik taksi”. Balas Euina.

Bus tersebut kembali melaju. Tanpa sempat Luhan mengejar. Sebenarnya bisa saja Luhan meninggalkan Euina, tapi tidak dalam keadaannya yang seperti sekarang. Euina sedang terluka.

Yeonsung masih terpaku setelah melihat Luhan bersama Euina. Detik berikutnya ia tersenyum miring lalu mendengus. “tsk! Bahkan saudara tiriku berpacaran dengan wanita yang salah”. Ujarnya tanpa sadar. “tapi tidak apa, sih, Luhan juga bajingan, mereka cocok”. Tambahnya kemudian.

Yeonsung membuka jendela bus. Membiarkan angin malam membasuh wajahnya perlahan. Ia menatap nanar ke jalan yang dilewati. “saudara tiri?”.

Rasanya Yeonsung ingin tertawa terbahak setelah mengucapkan kata itu.

Seungri berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding didekat tikungan menuju sekolahnya. Ia sedang menunggu seseorang. Seorang gadis yang ia rindukan setelah sekian lama ia tidak masuk sekolah.

Ketika akhirnya Park Yeonsung muncul. Seungri menghadang gadis itu.

“kau mengejutkanku”. Ujar Yeonsung. untung saja ia tidak reflek dan berteriak ketika Seungri tiba-tiba berdiri didepannya dengan tangan yang direntangkan.

Seungri tersenyum kuda. “ayo membolos”. Seungri langsung mengamit tangan Yeonsung, menggenggam pergelangan tangan gadis itu lalu membawanya berlari.

“ya! sunbae, aku tidak bisa”.

“hari ini saja”. Seungri tidak peduli. Ia tertawa kegirangan setelah berhasil menangkap dan membawa Yeonsung.

“hari ini aku ada ujian”. Yeonsung masih berusaha memberikan alasan agar Seungri melepaskannya.

“sama, aku juga”. Seungri menghentikan langkahnya. Ia terengah, tidak terkecuali Yeonsung. sudah cukup jauh dari sekolah. Seungri menoleh dan tersenyum tanpa dosa pada Yeonsung. “ada seseorang yang ingin bertemu denganmu”.

Yeonsung menatap Seungri seolah bertanya ‘siapa yang ingin  bertemu dengannya?’ tapi Yeonsung tak sempat mengatakan itu karena Seungri sudah menariknya lagi. Seungri menghentikan sebuah taksi.

“Rumah Sakit St. Marry”. Ujar Seungri pada sopir taksi.

“rumah sakit? Siapa yang ingin kita jenguk?”. Tanya Yeonsung. dalam hati ia khawatir, jangan-jangan Seungri akan membawanya ke psikiater lagi seperti waktu itu.

“seseorang. Jangan bertanya, nanti kau juga akan tahu”. Jawab Seungri.

Setelah menempuh perjalanan, mereka akhirnya tiba dirumah sakit yang dituju. Seungri menghela napas ketika melihat bangunan yang ada didepannya kini. sambil menekan pinggangnya, seolah mengeluh ‘aku kembali lagi kemari’.

Tanpa bicara Seungri melangkah masuk, Yeonsung hanya bisa mengekor dibelakang. Langkahnya tiba-tiba berhenti ketika ia menerima sebuah pesan singkat.

“kau dimana? Ada pekerjaan untukmu”. – Minho.

Setelah membaca pesan tersebut, ia jadi bingung harus bagaimana? Tetap menemani Seungri menjenguk ‘seseorang’ atau pergi menemui Minho lalu mendapatkan uang.

“kenapa? Ada masalah?”. Rupanya Seungri sadar jika Yeonsung tak ada dibelakangnya lagi, lantas ia kembali dan menghampiri Yeonsung tak nampak sedang berpikir.

“ah, tidak. Sunbae, aku benar-benar harus kembali ke sekolah. Bisakah kita tidak berlama-lama disini?”.

Seungri berpikir sejenak lalu mengangguk. “baiklah, sebentar saja”.

Lega. Karena ia tak perlu membatalkan salah satu kegiatannya. Yeonsung kembali mengikuti langkah Seungri. Mereka masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai 5. Sesampainya dilantai 5, mereka keluar dari lift. Seungri sudah tahu persis kemana ia harus melangkah. Bahkan ia tak melihat papan nama pasien yang tertempel di dinding. Seungri langsung menuju sebuah kamar rawat.

Pintu kamar dibuka oleh Seungri.

Jujur saja, Yeonsung merasa gugup karena tidak tahu siapa yang akan ia temui. Sebuah tirai menutupi ranjang pasien.

Sreekk

Tirai itu dibuka.

Kini Yeonsung dapat melihat siapa gerangan yang tengah terbaring diatas ranjang rawat. Seorang gadis cantik, alat medis menempel ditubuhnya yang tak bergerak, seperti sebuah boneka Kristal.

annyeong, Suhyun”. Sapa Seungri.

Yeonsung masih berdiri ditempatnya. Tak berani menduga-duga siapa gadis bernama Suhyun ini. namun ia juga tak ingin bertanya pada Seungri.

“Suhyun’ah, aku datang bersama temanku”. Seungri menoleh pada Yeonsung.

Gadis itu langsung reflek membungkuk. “annyeonghaseyo, aku Park Yeonsung”. ujarnya. Sebenarnya ia merasa aneh harus memperkenalkan diri pada orang yang bahkan tidak bisa menjawab salamnya.

“namanya Oh Suhyun, uri dongsaengi”. Ujar Seungri.

Yeonsung terkejut mengetahui gadis yang sedang berjuang antara hidup dan mati ini adalah adik Seungri.

“kau tidak pernah mengatakan jika kau punya adik”.

“kau tidak bertanya”.

“kupikir kau tidak mau aku mengetahui tentang hidupmu”.

Seungri menoleh pada Yeonsung, menatap gadis itu heran. Benar-benar gadis yang unik. Seungri tertawa pelan. “duduklah disini”. Suruh Seungri sambil menepuk-nepuk kursi yang ada disampingnya.

Perlahan Yeonsung mendekat dan melakukan apa yang Seungri suruh. “sudah berapa lama ia seperti ini? kenapa dia terbaring disini?”.

“hampir 2 tahun. Saat ia pulang dari tempat les, dan hampir menjadi korban penculikan. Sebuah mobil menabraknya hingga ia koma seperti ini”. jawab Seungri.

Yeonsung tahu, pasti menyedihkan harus menjawab pertanyaannya. Tetapi Yeonsung tak ingin ‘tidak tahu’ lagi. Seungri sengaja membawanya kemari pasti Seungri tak ingin adiknya kesepian.

“dia terlihat terawat dengan baik meskipun dalam keadaan koma”. Gumam Yeonsung.

Seungri mengangguk. “aku merawatnya. Meski begitu, apa yang telah aku lakukan sejak ia koma tak akan mampu membayar apa yang tidak aku lakukan saat ia masih sehat”.

“apa yang tidak kau lakukan?”.

“aku tidak menjemputnya pulang dari tempat les dan malah main dengan teman-temanku”.

Yeonsung diam untuk beberapa saat. “terima kasih sudah merawatnya dengan baik”. ujar Yeonsung kemudian.

Kejadian yang dialami oleh adiknya, membuat Seungri menjadi pembuat onar hingga ia harus dikeluarkan dari sekolah. Seperti sebuah kesengajaan agar bisa merawat Suhyun dirumah sakit, Seungri berhenti sekolah. Seharusnya ia sudah berada dikelas 3 sekarang. Lalu alasan ia sering tidak masuk sekolah akhir-akhir ini adalah karena Suhyun akhirnya bisa dipindahkan dirumah sakit di Seoul.

Sesuai dengan kesepakatan. Seungri mengijinkan Yeonsung untuk pergi lebih cepat.

Saat itu, ketika Yeonsung sedang menunggu lift tiba. pintu lift disebelahnya terbuka. Yongjoon keluar dari dalam sana. Yongjoon melihat Yeonsung.

“Park Yeonsung”. panggilnya.

Sontak Yeonsung menoleh. Matanya langsung membelalak melihat siapa yang ia temui sekarang. Pintu lift terbuka, Yeonsung beringsut masuk ke dalam lift. Namun Yongjoon pun berhasil masuk. Dengan cepat Yongjoon menutup pintu lift – memojokan Yeonsung didalam sana.

“ya ~ kau kemari untuk menjengukku?”. Tanya Yongjoon dengan girang.

“aku bahkan tidak tahu kau ada disini”.

Yongjoon mendengus. Tapi – lupakan soal marah karena Yeonsung menghindarinya. Yongjoon mengusap tangan kanannya yang digendong dengan armsling. “lihat ini, kau tega sekali tidak mengangkat telponku. Aku sakit Yeonsung”. rengeknya.

“aku malah berharap kau mati”.

“sshh…”. Yongjoon meletakkan jari telunjuknya ke bibir Yeonsung. “jangan mengatakan hal yang bisa membuatku bergairah”. Goda Yongjoon.

Yeonsung mengernyitkan hidungnya. Ia melihat kearah lain, tak ingin menatap Yongjoon. “aku tidak berharap kau akan lekas sembuh, sungguh!”.

Yongjoon terkekeh geli. “katakan lagi kalimat yang membuatku bergairah, lalu aku akan membungkam mulutmu dengan bibir”.

“bisakah kau memindahkan otakmu dari selangkangan?”.

“ck! Kau benar-benar liar sekarang”. Baru saja Yongjoon akan mendekatkan wajahnya ke wajah Yeonsung, pintu lift terbuka, mereka tiba dilantai dasar. Dengan cepat Yeonsung melangkah keluar. Yongjoon tetap mengikutinya. “soal video itu”. Ujar Yongjoon sedikit menyeru.

Berhasil menghentikan langkah Yeonsung.

Mendadak Yeonsung menjadi kesal, napasnya memburu karena Yongjoon membahas mengenai video didepan semua orang yang ada disini. Tetapi Yongjoon mengerti akan situasi, lantas ia melangkah mendekati Yeonsung.

“jangan khawatirkan video itu, aku sudah menghapusnya dari ponsel Euina bahkan ponselnya sudah kuhancurkan”. Ucap Yongjoon.

“jangan membual, kau membuatku ingin membunuhmu sekarang juga”.

“aku bersungguh-sungguh! Kau harus percaya padaku, Yeonsung”.

Yeonsung diam. mencari kebohongan didalam mata Yongjoon, tatapan itu menunjukkan keseriusan atas apa yang baru saja ia katakan. Yeonsung meremas ujung almamaternya. Ingin percaya.

Tapi…

Apakah Yongjoon adalah tipe yang bisa ia percaya?

“bagaimana jika ucapanmu bohong?”.

“aku rela mati”. Jawaban yang spontan terucap dari bibir Yongjoon. Lantas ia menarik tangan Yeonsung, meletakkan tangan itu ke dadanya, tepat dijantung. “kau boleh membunuhku”.

TBC

Lalu gimana ini?

Hahahaha XD

Like? Comment? Wajib! Ingat chapter terakhir ku lock loh :3

 

 

Advertisements

30 responses to ““Iaokim” #9 by Arni Kyo

  1. nah loh
    chanyeol pcaran sama wanita bermuka dua, kirain baik tuh yeoja ahh ternyata.

    dan yongjoon itu beneran suka ya sama yeonsung?
    berharap sih sukanya itu tulus gak ada niat terselubung.

    oke ditunggu kelanjutannya

  2. Terceqiq terceqiq terceqiq… kenapa yoongjon chessy banget 😍😍😍😍
    Uuuh bad boy style i like it. Wkwkwk
    Pengen dong yeonsung yongjoon romantis dikit. 😆😆😆

  3. Astaga yoongjoong dasar mesum, cari kesempatan trs… Kluarga euina memang amburadul, pantas anaknya jg gitu,,,jd ketawa wkt yeonsung bilangnya mereka bajingan sama cocok,,klo dipikir emng sih, hehehe:p
    Moga yeonsung dpt cowok yg baik

  4. Astaga yongjoong dasar mesum, cari kesempatan trs… Kluarga euina memang amburadul, pantas anaknya jg gitu,,,jd ketawa wkt yeonsung bilangnya mereka bajingan sama cocok,,klo dipikir emng sih, hehehe:p
    Moga yeonsung dpt cowok yg baik

  5. ya ampun chan kamu yakin akan menikah dengan wanita seperti itu? makin kasian aja sama yeon jadinya gak ada tempat buat berlindung hiks.
    luhan baik banget ke euina padahal kan dia tahu yeon gitu akibat euina.hihh tetep aja gedek sama euina walaupun sama ibunya di gituin juga *maaf euina.he
    lahlahlah seungri kasian banget kayanya dia nganggap yeon seperti adiknya ya. aku kira di awal seungri mau bawa yeon ke yongjoon hahaha
    ciee si aku jadi mulai suka yongjoon bersikap gitu ke yeon. luhan ayo dong masa kalah pdkt nya.whuhahaha

  6. iya kak reader baru,
    soalnya baru mampir lagi ke blog ini.
    ehh ada ff baru
    udah baca 3 part sih
    yg 7, 8 sma 9
    tapi komennya baru yg ini.
    ntar baca 1-6 dilanjut lagi.

  7. luhan dikit banget munculnya, moment luhan sama yeonsung juga sekarang makin berkurang, ada apa ini ? #Abaikan
    keluarga euina benar2 berantakan, dia ya yg menyuruh ‘oppa-oppa’ untuk mencelakai yongjoon, yongjoon beneran gak sih menyukai yeonsung dengan tulus aku ragu !!

    • sudah kubilang karena ini masalahnya lagi ngga sama Luge makanya scene dia dikit :3 wkwk
      untuk perasaan YJ ke Yeon, ku tidak mau jelaskan lagi ya :3

  8. baguss banget lanjutanyaa hahaha sesuai harapan. oiya kak biar beda sm yg lain saranku sih si yeonsung sama yongjoon, bukan luhan. why? karena kalo sm luhan ntr ga seru alias udh bisa ketebak hehehe. pleaseee banyakin scene yeonsung-yongjoon hehehehe. yeonsung jg pasti ada rasa dikit sm yongjoon.why? karena mereka sudah melakukan hal2 spt gitu2 pasti timbul rasa suka kann ..? makasih kakk semangatt kak

    • si yeonsung sama yongjoon, bukan luhan.
      ^ untuk hal ini aku ngga mau jawab ya :v karena skrg sudah otw ngetik chapter 11 nya wkkwkwwk tunggu saja deh :p

  9. Heoll, jadi yongjoon beneran tulus sama yeonsung? Saya curiga sih. Tapi fikiran yadong di kepala yongjoon harus dimusnahkan nih, byuntae!
    Suka sama Yeonsung disini. Dia mulai berani ngungkapin apa yg dia rasain dan balas kata-kata yongjoon dengan begitu dingin dan kasarnya,, wanjaaayyy

  10. Si yonhoon suka yah sama yeonsung???
    Iya yah…kasian dah luhan,siapa suruh ka ummbully saudara tirimu sendiri,takdir mmng tak adil buat yeonsung…
    Ku kira tdi si sunbae mau ngajak yeonsung ngejenguk si yongjoon,lah ternnyata bukan yah 😅😅😅😅

  11. duuuh kayaknya yongjoon yg pantes jadi main cast nya T.T kenapa sifatnya gak dituker aja sama luhan… kusuka bad boy style begitu

  12. Cup cup cup,,,jngan sdih yeon..ttap lh walaupun diri mu d klilingi orang” ber muka dua,,
    Itu bneran y si hanabi itu yeon??trus ap mksud ny jg ngirimi luhan??ckckck mencurigakn,,
    D tnggu next ny kyo^^,,

  13. Cup cup cup,,,jngan sdih yeon..ttap lh tgar walaupun diri mu d klilingi orang” ber muka dua,,
    Itu bneran y si hanabi itu yeon??trus ap mksud ny jg ngirimi luhan??ckckck mencurigakn,,
    D tnggu next ny kyo^^,,

  14. Haha yg suka ngebully gitu trnyata idupnya sendiri juga brantakan wkwk setuju deh sm reader lain serasa yj yg jd maincast. Btw yeon sm yj kok sweet bgt yak wkwk. Next chap dtnggu eonni

  15. Anjiran pacar chanyeol-_-
    Ga nyangka sama kehidupan euina yang ternyata hancur juga .
    Dan akhirnya yeon berani juga sama yj 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s