Brother Romance [IV. Conclusion] #END ~ohnajla

ohnajla || schoollife, brothership, romance, fluff || G || 4 Chapter (Gi-Seung-Jeon-Gyeol) ||

Starring: 

BTS Suga aka Yoongi || Oh Sena (OC) || BTS V aka little Taehyung || BTS Rap Monster aka Namjoon || BTS J-Hope aka Hoseok || BTS Jin aka Seokjin

**

I. Introduction (Gi)

II. Development (Seung)

III. Turn (Jeon)

IV. Conclusion (Gyeol)

***

“Aku pulang.”

Hyung!!

Yoongi langsung berjongkok sambil merentangkan tangan. Dia terkekeh saat berhasil membekap Taehyung dalam pelukan. “Aigoo … ada yang kangen sepertinya.”

Hyung hyung.”

“Eum?” Yoongi pun mendorong sedikit tubuh adiknya agar bisa bertatapan langsung.

“Aku cekalang udah bisa pakai baju cendili.”

“Oh ya? Wah … Taehyung-ie hebat!!” Dia mengusap gemas rambut jamur milik adiknya hingga berantakan.

“Katanya dia malu dipakaikan baju sama nuna.” Tiba-tiba suara perempuan menyahut. Yoongi pun langsung menoleh ke asal suara. Seringaian tercetak di wajahnya.

“Oh, si fanatik ternyata di sini.”

Sena mendesis kesal. “Aku bukan fanatik ya. Aku di sini karena Taehyung, bukan kau.”

“Hah! Bilang saja itu adalah taktikmu biar bisa dekat hyung-nya.”

Ani geodeun!

Yoongi berpaling kembali kepada adiknya. Dia selalu berubah menjadi sosok yang lembut dan manis setiap kali berhadapan dengan anak laki-laki mungil ini. Terlihat jelas dari caranya menatap dan senyumnya ketika memandang Taehyung. “Taehyung-ie menunggu hyung ya?”

Ne. Hyung capek?”

Eo. Capek sekali. Haus.”

Taehyung tiba-tiba melepaskan diri dari Yoongi. Dia berlarian kecil ke dapur, mengambil gelas air dari meja dengan memanjat kursi, lalu kembali lagi pada Yoongi. “Ini.”

Yoongi terpaku selama beberapa detik. Dia tidak memercayai apa yang baru saja dilihatnya. Taehyung, adik kecilnya ini, memberinya air minum meski hanya setengah gelas karena tumpah akibat berlari tadi. Senyumnya pun merekah perlahan, diikuti kedua matanya yang berkaca-kaca. Lantas diraihnya gelas itu.

Gomawo.”

Sambil berusaha menahan tangis, dia meminum air itu sampai habis. Kemudian menyeka bibirnya sekalian matanya. Senyum hangatnya tercetak hanya untuk Taehyung.

“Terima kasih banyak, Taehyung-ie.”

Taehyung mengangguk cepat. “Cama-cama.”

Yoongi pun mendekap Taehyung lagi. Dia mengangkat anak itu. berjalan ke dapur untuk mengembalikan gelas, lalu membawa Taehyung ke kamar. “Sekarang tidur yuk, sudah malam.”

Sena yang sejak tadi menonton, kini tampak sedang terisak karena haru.

“Nah.”

Sena pun menoleh. Lantas dia tersenyum dan mengambil kaleng soda dari tangan Yoongi. “Gomawo.”

Yoongi sendiri duduk di sampingnya, menghadap televisi yang tidak menyala. “Kenapa tidak dinyalakan?”

“Aku tidak mau membangunkan Taehyung.”

“Umm.”

Hening sesaat. Mereka tampak menikmati soda masing-masing.

“Taehyung tadi tidak mau tidur sampai kau datang,” ucap Sena tiba-tiba.

“Dia bilang begitu?” Yoongi menoleh.

Sena mengangguk. “Eo. Aku mengajaknya tidur tapi dia tidak mau. Katanya dia tidak suka tidur denganku, maunya denganmu.”

Yoongi terkekeh. “Dia itu pemilih. Masih kecil tapi sudah bisa memilih. Adikku yang paling jenius.”

Sena pun menoleh. “Kalian hanya tinggal berdua selama ini?”

“Hm. Eomma meninggal setelah melahirkannya.”

“Lalu ayahmu….”

“Beberapa hari sebelum Taehyung lahir, appa kecelakaan dan tewas di tempat.”

Ekspresi Sena berubah sendu. Dia pun menurunkan pandangan. “Mian. Aku tidak tahu kalau seperti itu ceritanya.”

Gwaenchanha. Aku sudah biasa ditanyai seperti itu.” Yoongi sekali lagi menyesap nikmat sodanya.

“Kau pasti telah melewatkan masa-masa sulit selama ini.”

“Umm … tidak juga. Di awal-awal setelah Taehyung lahir, paman dan bibimu mengasuhku. Mereka membiayai sekolahku, mengurus Taehyung, dan mengajariku bagaimana cara mengurus rumah. Tidak sesulit yang kau bayangkan kok.”

“Tapi tetap saja. Kau harus hidup sendiri, mencari uang sendiri sambil mengurusi Taehyung. Itu tidak mudah untuk dilakukan.”

Yoongi menoleh pada Sena. Dia memperhatikan fitur wajah Sena dari samping dengan lekat. Tak lama kemudian, senyumnya merekah diikuti jari telunjuknya yang menusuk pipi Sena.

“Hei, tidak usah murung begitu. Wajahmu jadi jelek.”

Sena menepis tangan Yoongi sambil mendesis kesal. “Kenapa sih kau tidak ada sedih-sedihnya? Kau yang begini membuat orang lain tidak tahu kalau ternyata hidupmu semenyedihkan itu.”

Kedua alis Yoongi terangkat tinggi. “Hidupku tidak menyedihkan tuh. Kau lihat? Aku baik-baik saja ‘kan? Aku hidup dengan baik kok.”

“Tapi—”

“Selama aku bersama Taehyung, aku akan baik-baik saja. Kalau aku bersedih seperti yang kau bilang, Taehyung juga akan bersedih. Adikku tidak boleh seperti itu. Dia harus menjadi anak yang ceria dan disayang semua orang. Dia tidak boleh terbentuk menjadi seseorang yang menyedihkan.”

“Tsk, kau ini.”

Yoongi nyengir. Dia mendekatkan wajahnya hingga benar-benar dekat dengan wajah Sena. “Aku mengerti maksudmu. Dan terima kasih juga sudah menghawatirkanku. Tapi aku baik-baik saja. Aku jauh lebih baik dari yang kau bayangkan.”

Kedua bola mata Sena bergerak-gerak kecil. Perlahan, satu tangannya ditaruh di pipi Yoongi, mengusapnya pelan. “Tapi kalau kau membutuhkan teman bicara, merasa marah, atau apa pun itu, datanglah padaku. Bicaralah. Jangan seperti kemarin lagi.”

Yoongi mengangguk. Ia menempatkan tangannya di atas tangan Sena. “Eo. As your wish.”

Keduanya tampak saling melempar senyum. Kekehan geli terdengar dari Sena saat Yoongi dengan iseng mengerling padanya.

“Ngomong-ngomong, tanganmu cantik juga ya. Hangat.”

“Apa sih.” Sena menyikut Yoongi kesal, tapi wajahnya memerah.

Tiba-tiba Yoongi memindahkan tangan Sena di bahunya. “Karena tanganmu cantik, pijat dong. Badanku pegal-pegal, butuh pijatan.”

Ekspresi Sena langsung berubah. Dia memukul bahu Yoongi dan mendorong lelaki itu menjauh darinya. “Pergi sana. Nappeun namja.”

Yoongi tertawa. “Wajahmu merah, haha. Aigoo tersipu malu~~”

Ani geodeun!

“Oh ya? Tapi tanganmu cantik, sungguh. Seperti tangan tukang pijat. Hahahaha.”

Yaa!

Yoongi terus terpingkal sampai berguling di atas karpet. Tawanya bahkan tidak kunjung berhenti meskipun sudah dipukuli oleh Sena. Baru saat Sena akan beranjak pergi, dia akhirnya berhenti tertawa juga. Buru-buru dia bangkit dan memeluk Sena dari belakang.

“Lepaskan aku ah!”

No no no~ Tidak akan~”

Yaa.”

Yoongi pun menyimpan dagunya di atas bahu Sena. Mengeratkan pelukannya hingga tubuhnya makin berdempetan dengan Sena.

“Terima kasih banyak, hm? Terima kasih sudah menemani Taehyung selama aku kerja. Aku tidak akan melupakan jasamu ini, tidak akan pernah. Kuharap kau akan terus bersama kami. Selamanya.”

Sena tersenyum. Ia pun melepaskan rangkulan Yoongi dari pinggangnya dan langsung berbalik, mendaratkan bibirnya di bibir lelaki itu. Lima detik setelahnya, dia menarik wajahnya dan memeluk Yoongi erat.

Uri yeongwonhi hamkenikka.”

Yoongi yang sempat terpukau beberapa saat, akhirnya tersenyum. Dia balas memeluk Sena lebih erat. “Keurae, kaja.”

END

5 responses to “Brother Romance [IV. Conclusion] #END ~ohnajla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s