Single Parent [Chapter 21] ~ohnajla

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

 Neo ttaemune … hidupku menjadi indah.

**

Yoongi malam itu berdiri di depan pintu apartemen Sena, menunggu si pemilik apartemen membukakan pintu untuknya. Dia memakai jaket hitam seperti biasa, dan membawa sekotak ayam goreng untuk makan gadisnya.

Saat pintu dibuka, matanya langsung membelalak heboh.

Seorang laki-laki. Tampan. Tinggi. Dan tidak memakai atasan.

Yoongi seketika mengerutkan dahinya.

Kekasih Sena?

Lain halnya dengan reaksi si shirtless Taehyung, dia langsung membungkuk untuk melihat dengan seksama wajah Yoongi.

“Kau … Min Yoongi?”

Yoongi pun menarik sedikit tudung jaketnya hingga seluruh wajahnya terlihat. “Eo. Neon nuguya? Sena namchin?” Nada bicaranya saat menyebut ‘Sena namchin’ entah kenapa terdengar ketus.

Taehyung malah nyengir. “Animnida. Choneun, Sena dongsaeng, Oh Taehyung. Bangapseummida, Hyung-nim.”

Yoongi mendadak pasang tampang bodoh setelah melihat gaya hormat ala pelaut Oh Taehyung. Adiknya Sena? Sama sekali tidak mirip.

“Silahkan masuk.”

Yoongi pun melangkah masuk seperti yang disuruh. Dia mengganti sepatunya dengan sandal rumah dan masuk lebih dalam sambil sesekali menoleh ke belakang, Taehyung di belakangnya.

“Dimana Sena?” tanyanya setelah melihat ruang utama dan dapur yang kosong.

“Ah, dia masih tidur. Kau bawa ayam? Woah, nice timing! Aku kelaparan.”

Yoongi yang masih agak terpukau dengan keberadaan Taehyung pun membiarkan anak itu merebut kotak ayam goreng dari tangannya. Matanya mengikuti kemana Taehyung pergi sebelum dia duduk di sebuah sofa. Hm, biasanya dia akan langsung tiduran kalau menemukan benda empuk tapi entah kenapa sekarang rasanya canggung untuk melakukan itu. Ada Taehyung, sudah tidak bebas lagi.

“Kami baru sampai Seoul pukul 7 pagi, jadi dia belum bangun sampai sekarang,” oceh Taehyung saat mendekat pada Yoongi sambil membawa kotak ayam tadi dan dua kaleng soda. Ia menyimpan satu kaleng di hadapan Yoongi.

“Kau bukannya tinggal di Busan? Kenapa ikut ke Seoul?”

Ne, aku dulu memang tinggal di Busan. Tapi tidak lagi sekarang. Hyung mau?” Taehyung mengangkat kotak ayam goreng yang sudah dibukanya. Menawarkan.

Yoongi menggeleng. “Itu untukmu dan Sena.” Padahal sebenarnya ayam itu mau dia makan berdua bersama Sena. Tapi karena ada Taehyung … mau bagaimana lagi.

“Ow … Gomapseummida. Tidak salah nuna menyukaimu.”

Wajah Yoongi mendadak merona. Ia berdehem. “Ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba ikut ke Seoul? Liburan?”

Taehyung menggeleng. “Nah. Mulai hari ini aku akan hidup bersamanya di sini. Just two of us.”

Wae? Lalu bagaimana dengan sekolahmu?

Taehyung menyeka bibirnya dulu yang sudah belepotan minyak. “Maunya sih tidak sekolah, tapi dia bilang tidak akan menampungku kalau aku tidak sekolah jadi aku mungkin akan sekolah di sini.”

“SMA Young Forever?”

Maybe. I’m not an genius person. Aku tidak yakin bisa masuk sana.”

“Sejak tadi kau berbicara bahasa Inggris padaku.”

Adik Sena itu terkekeh. “That is my speciality. I love English.

Yoongi menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Ia pun meraih kaleng sodanya, membukanya dalam sekali tekan. Lantas ia pun menyesap soda itu sampai tenggorokkannya terasa segar.

Nuna dijodohkan.”

Yoongi langsung terbatuk. Cepat-cepat dia menyeka bibirnya dengan kain jaket. Atensinya tertuju lurus pada Taehyung. “Mwo?

“Tapi tidak jadi,” jawab Taehyung dengan santainya.

“Siapa yang melakukan itu?”

“Tentu saja abeoji. Siapa lagi?”

“Dengan?”

“Jimin-ie.”

Sekali lagi Yoongi menyeka bibirnya yang masih basah. “Jadi itu alasan kenapa dia harus pulang ke Busan?”

Taehyung mengangguk setuju. “Ne. Hanya untuk ide bodoh itu. Tapi tenang saja, Hyung, aku sudah berhasil menggagalkannya.”

Sayangnya jawaban itu entah kenapa tidak membuat Yoongi tenang. Kalau rencana Sehun soal perjodohan itu gagal, sudah pasti akan ada rencana-rencana lain untuk membuatnya hancur. Yoongi menjadi dua kali lebih khawatir dari sebelumnya.

Cklek.

Atensi dua pria ini langsung tersedot ke asal suara. Seorang gadis dengan rambut berantakan begitu pun dengan piyamanya, menyeret kaki dengan malas sambil mengucek mata dan menguap lebar menuju dapur. Kesadarannya masih belum seberapa, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Yoongi. Dia mengambil botol air dari kulkas dan meminumnya di tempat. Tiba-tiba ia mencium bau harum khas ayam goreng. Perutnya yang belum diisi apapun sejak pagi –karena tidur, secara otomatis berbunyi keras sehingga mengontrol kedua kakinya untuk pergi ke asal aroma. Hidungnya mengendus-endus seperti kucing yang menemukan bau ikan, dengan mata yang masih setengah terpejam. Tidak heran kalau Yoongi tertawa tanpa suara melihatnya.

“Kau mau?”

Sena lantas membuka matanya. Dia terbelalak sebentar melihat wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah Taehyung, cuma terpisah oleh daging ayam yang hampir akan digigit Taehyung.

“Aaa~”

Gadis itu dengan polosnya membuka mulutnya lebar, meminta Taehyung menjejalkan daging ayam ke mulutnya. Taehyung dengan gelengan prihatin pun memasukkan daging itu ke mulut Sena lantas meraih tangan Sena yang bebas agar memegangi daging ayam itu.

“Kelaparan, hm?” tanya Yoongi.

“Hm. Hm? Ahjussi?!” Akhirnya Sena pun tersadar seutuhnya. Bola matanya seolah-olah akan meloncat keluar saat menoleh pada Yoongi. “Sejak kapan ahjussi…”

Yeppeune…. Jinjja yeppeuda,” goda Yoongi dengan senyum jenaka di wajahnya. Sena yang peka pun lantas menyentuh rambutnya dan…

“Aaaa!! Eotteohke?!” Buru-buru dia menyimpan ayam yang sudah digigitnya ke kotak dan berlarian masuk kembali ke kamar. Yoongi tertawa geli, beda lagi dengan reaksi Taehyung yang hanya menggeleng pelan.

Neomu kiyeowo.” Yoongi pun menyeka air mata yang keluar karena terlalu heboh tertawa. Kembali dia menyesap sodanya.

Cklek.

Eo, masuk.”

Yaa, kau sudah tidur jam segini?” Yoonjung pun mengayunkan kakinya melewati ambang pintu. Dia menunggu Jimin menutup pintu dan berdiri menghadapnya.

“Aku bahkan belum bangun sejak tadi,” jawab Jimin dengan suara serak-serak malas sambil memeluk Yoonjung dan menempatkan kepalanya yang terasa amat berat di bahu gadis itu.

“Kau pasti kelelahan.” Yoonjung mengelus tiap helai rambutnya lembut.

“Hm.”

Yaa, jangan tidur di sini, badanmu berat.”

“Temani tidur~”

Yoonjung seketika melotot. “Micheosseo? Kau pikir aku segampang itu?”

Jimin pun menarik kembali tubuhnya hanya demi menjitak dahi mulus Yoonjung. “Yaa imma, apa yang ada di kepalamu hanya hal-hal mesum seperti itu? Semesum apa pun dirimu tetap masih mesum aku. Jangan memancingku.”

Yoonjung mendengus tak percaya. “Mwoya? Dasar aneh.”

“Hei … aku ngantuk.” Sekali lagi Jimin menjatuhkan kepalanya di bahu Yoonjung.

“Tapi kau belum makan.”

“Jadi?”

“Makan dulu baru tidur.”

Jimin tersenyum puas sambil mengeratkan pelukan. “Senangnya diperhatikan pacar.”

Yoonjung menggigit bibir bagian bawahnya, menahan senyum. “Apa sih? Biar bagaimanapun aku sepupumu. Keluarga harus saling perhatian pada satu sama lain.”

Ne ~ uri yeochin~

Smooch~~

Yoonjung seketika terpaku di tempat. Jimin terkekeh sembari menyeret tungkainya masuk usai merebut kotak ayam goreng dari tangan Yoonjung.

“Itu tadi hadiah dari pacar.”

Wajah Yoonjung sontak memerah. Lantas dia pun berbalik. “Nappeun nom!! I saekki! Kau mencuri ciuman pertamaku!!

Jimin yang sudah duduk di sofa ruang utama terdengar sedang terbahak. “Itu juga first kiss-ku, baby.”

Yoonjung pun mengekor kemana Jimin pergi sambil menyeka bibirnya dengan tangan. “Harusnya ini milik Jin oppa!”

“Eiy … bersyukurlah. Kau harus menjual rumahmu kalau ingin dapat ciuman darinya. Dan kau mendapatnya gratis dariku.”

“Apa yang harus kusyukuri dari itu?” sewot Yoonjung sambil memukul lengan Jimin sebelum duduk di sebelahnya.

“Karena kau memiliki kekasih yang daebak. Suapin.” Jimin pun menaruh sepotong daging ayam ke tangan Yoonjung sementara dia membuka mulutnya lebar. “Aaaa~”

Yoonjung menyeringai melihat tingkahnya. Ia pun tanpa banyak protes menyuapi Jimin daging ayam itu. Menggunakan ibu jarinya untuk membersihkan bibir Jimin yang belepotan minyak.

“Anak gadis mana yang tidur seharian seperti itu, hm? Tidak mandi, tidak makan, tidak melakukan apa-apa. Bagaimana kalau nanti jadi seorang ibu, huh?” Yoongi mengomel penuh cinta sambil menyisiri rambut Sena dan mengucirnya ke bentuk ponytail. Ia tampak sangat telaten seperti sudah terbiasa.

Sena terkekeh di sela-sela mengunyah ayamnya. “Ahjussi, sekarang kau terlihat seperti seorang halmeoni yang sedang mengomel.”

“Aku berubah jadi apa pun karenamu. Appa … oppa … namdongsaeng … harabeoji … halmeoni … samchon … imo … eomma … chingu … namchin … goyangi.”

Goyangi? Haha. Ahjussi, bagaimana bisa kau berpikiran ke sana? Tidak mungkin aku memperlakukanmu seperti kucing.”

Nan ni samsaek goyangi~ love me now ~ touch me now~”

Sena pun menoleh dengan mata melebar. Menatap Yoongi tak percaya. “Ahjussi, kau tahu lagu itu?”

“Yoonjung-ie mendengarkan lagu itu terus sejak kemarin, mau tidak mau aku jadi hafal lagunya. Joha?

Gadis remaja itu mengangguk semangat. “Jota! Tapi aku lebih suka dengan suaramu, Ahjussi. Bisakah kau menyanyikannya sekali lagi? Dalam versi lengkap.”

Yoongi mengerutkan dahinya. “Kau sedang menghinaku, hm? Yaa, aku tidak tahu versi lengkapnya. Hanya itu yang kuhafal.”

“Yaaahh….” Bahu Sena merosot, diikuti bibirnya yang mengerucut. “Padahal aku suka suaramu.”

“Lihat aku.”

Sena pun mengangkat wajahnya, detik itu juga Yoongi mengecup dahinya. Seketika dia melotot. Yoongi terlalu tiba-tiba, hatinya belum siap.

A-ahjussi.”

“Pasti berat untukmu ‘kan?”

Kedua alis Sena terangkat, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Yoongi. “Apa maksudnya?”

“Kau sudah kesulitan sejak kecil, dan itu karenaku. Sekarang, kau lebih kesulitan lagi semenjak bertemu denganku. Kau bisa mengungkapkannya padaku, jangan dipendam sendiri.” Yoongi mengeliminasi rambut-rambut di dahi Sena ke sisi kiri. Matanya yang kecil bergantian memandang dan menatap Sena.

Ahjussi … aku tidak tahu maksudmu.” Namun apa yang diucapkan dan dilakukan Sena berbeda. Dia bilang tidak tahu, tapi ekspresinya mendadak cemas. Ia berusaha menyembunyikan kecemasannya dengan menurunkan pandangan.

Yoongi menghela napas. “Kau tahu, tapi kau berusaha menghindar. Apa kau takut padaku? Takut aku meninggalkanmu?”

Sena menggigit bibirnya sambil mengadu kedua ibu jarinya. “Appa jadi seperti itu karenaku. Dia membuat banyak kekacauan karenaku. Aku takut appa akan melakukan sesuatu kepadamu. Daripada takut ahjussi meninggalkanku, aku jauh lebih takut kalau ahjussi membenciku. Aku adalah penyebab dari semua kekacauan ini.”

“Apa yang membuatmu berpikir kalau kaulah penyebabnya?” Yoongi menumpukan sikunya di atas lutut, menopang dagu. Kali ini dia akan berusaha menjadi pendengar aktif, karena sebelumnya dia telah menjadi pembicara sehingga dia kurang bisa memahami masalah ini dari sudut pandang Sena.

“Andai aku tidak ada di perut eomma, harabeoji dan halmeoni pasti tidak akan membenci appa.”

“Appa mungkin kehilangan ibu Yoonjung, tapi dia bisa menemukan pendamping lain yang jauh lebih dia inginkan daripada eomma. Appa juga tidak akan mengganggumu setelah ibu Yoonjung meninggal, jadi kau dan Yoonjung akan hidup dengan bahagia dan tentram.” Ia mengambil jeda sebentar.

“Taehyung-ie juga tidak akan kesulitan. Dia tidak perlu menangis dan merasa bersalah tiap kali melihatku diperlakukan tidak adil, dia juga tidak perlu lagi harus mengalah pada semua hal dan menjadi anak bayangan di rumah karena Jungkook.” Pandangannya berubah menerawang.

“Jungkook, meskipun dia nakal sekali padaku, dulunya dia adalah anak yang manis. Di saat kecil dia sangat cengeng dan manja padaku, tapi kemudian sifatnya berubah setelah sakit. Appa mendidiknya sangat keras, dia telah ditetapkan sebagai pewaris dan harus mengikuti banyak sekali pembinaan soal bisnis sejak kecil. Aku merasa sangat bersalah padanya.” Senyum sedihnya terpampang di wajah.

Eomma do, dia sering pulang dalam keadaan mabuk setiap kali berselisih dengan appa. Hatiku sakit melihatnya menangis. Eomma memang keras padaku, tapi dia tetap ibuku. Dan sekarang … keluarga Park juga terkena imbas dari kehadiranku. Chanyeol samchon sudah tidak lagi menjadi bagian komite XO Group, Jimin do, mereka terpaksa melepaskan semua harta yang mereka punya karenaku. Aku khawatir dengan kondisi Haera imo nantinya. Semua ini … na ttaemune.” Kepalanya semakin tertunduk dalam.

Yoongi bimbang harus merespon bagaimana. Sulit baginya untuk mengucapkan kalimat penenang. Yang dia lakukan sepanjang 2 menit hanyalah bernapas. Sembari memandangi Sena yang masih lebih suka melihat tangannya sendiri.

“Jadi menurutmu semua itu adalah salahmu?”

Sena menggangguk.

“Tapi akar permasalahannya ada padaku.”

Gadis itu menggeleng. “Bukan ahjussi, tapi aku.”

“Menurutmu apa alasan ayahmu bertindak sejauh ini?”

Jeda sejenak. Sena tampak sedang memikirkan jawabannya. “Karena aku ada.”

Giliran Yoongi yang menggeleng. “Daeng. Bukan itu.”

“Karena dia harus menikahi eomma karenaku.”

“Jawaban itu punya makna sama seperti jawabanmu yang tadi.”

Sekali lagi gadis itu terdiam. “Lantas apa?”

“Siyeon sebenarnya sudah bertunangan dengan Sehun, dan aku dengan tidak tahu diri mencintainya.”

Kepala Sena terangkat secepat kilat. Matanya membelalak. “J-jinjja-yo?

Yoongi mengangguk. “Mereka dijodohkan, sama seperti situasimu dan Jimin kemarin. Bahkan mereka sudah memakai cincin pertunangan. Mereka juga sudah merencanakan acara pernikahan. Tapi semua itu batal karenaku. Siyeon memilihku.”

“Dari mana ahjussi tahu soal aku dan Jimin—”

Yoongi pun menangkup pipi Sena dengan kedua tangannya. “Mau aku tahu dari mana itu tidak penting. Yang penting adalah, semua ini bukan disebabkan olehmu. Tidak ada seorang pun yang salah.”

Ia mengambil napas dalam. “Aku tidak memaksa Siyeon, dialah yang memilihku sendiri. Siyeon pun tidak melakukan tindak kejahatan karena itulah takdirnya, hidup bersamaku. Dan ayahmu … menjadi apa dia sekarang ini adalah pilihannya. Daripada berusaha menerima takdir, dia justru memilih untuk membenci dan menyalahkan. Kau ada di perut ibumu bukan karena kesalahan, itu adalah takdirmu. Dengan kehadiranmu, ayah dan ibumu bisa bersatu.”

Caranya menatap Sena perlahan melembut. “Mungkin ya mereka membenci satu sama lain. Tapi lihat, karenamu, Taehyung dan Jungkook ada. Kalau kau tidak hadir di saat itu, semua takdir akan berbeda. Yoonjung tidak akan lahir, Jimin tidak akan lahir, Taehyung dan Jungkook juga begitu. Bahkan aku mungkin tidak akan pernah menikah dengan Siyeon. Kehidupan ini menjadi seimbang karena kau lahir.”

“Kau tahu, aku sebenarnya  sangat berterima kasih karena kau sudah membuatku merasakan hidup yang indah bersama Siyeon dan memiliki anak hebat seperti Yoonjung. Neo ttaemune … hidupku menjadi indah.”

Senyum hangat menjadi penutup tuturan panjang lebar itu. Kedua mata Sena berkaca-kaca. Kata-kata yang diucapkan Yoongi sangat membuatnya tersentuh. Selama ini, karena dia banyak disalahkan oleh semua pihak, dia pun menjadi lebih sering menyalahkan dirinya sendiri sampai membuatnya nyaman. Nyaman karena telah menyalahkan diri.

Namun setelah mendengar penuturan Yoongi, dia kini malah merasa bersalah pada dirinya sendiri. Ia tak pernah berpikir positif tentang dirinya dan dari Yoongi, dia pun akhirnya sadar jika dirinya memang patut menerima cinta.

“Nanti pasti akan ada saat di mana kau bisa melihat sisi lain dari ayahmu. Kau pasti akan merasakan keluarga yang bahagia nantinya. Kau hanya perlu menunggu.”

Sekali lagi Yoongi mengecup dahi Sena sebelum membawa gadisnya dalam pelukan. Mereka hanya berpelukan dalam diam sampai tangis Sena mereda.

tbc

4 responses to “Single Parent [Chapter 21] ~ohnajla

  1. Kok tiba2 aku ketagihan jimin yoonjung moment ya :’v
    Najla request moment jimin yoonjung banyakin sihh wkwk tp tanpa mengurangi moment om yoongi sama sena :’v
    Aku padamuuuuu unchhh :*
    Segalanya sudah hqq lanjutkan… Wk

  2. uwouwoooh kim taehyung … eh oh taehyung entah kenapa baca taehyung sama sena jadi kepikiran brother complex wkwk

Leave a Reply to etika Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s