“Iaokim” #10 by Arni Kyo

Iaokim 1

Iaokim #10

Author : Arni Kyo

Main cast : Luhan | Park Yeonsung (OC)

Support Cast : Park Jihoon | Ha Minho | Park Yunbi | Im Youngmin | Jang Yongjoon | Kim Minseok | Oh Seungri Others

Genre  : Romance, School Life, Sad

Length : Multi Chapter

Chapter 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

 

~oOo~

Yeonsung menatap lurus ke jalanan yang tidak cukup ramai. Sepulang dari rumah sakit dan bertemu dengan Yongjoon, ia langsung duduk dikursi taman. Memikirkan tentang perkataan Yongjoon. Tentang video yang ada di Euina telah ia hapus, Yeonsung tidak bisa percaya begitu saja. Namun setelah kesepakatan jika Yongjoon berbohong maka Yeonsung bisa membunuhnya.

“senjata apa yang harus ku gunakan agar dia tidak langsung mati ketika aku membunuhnya nanti?”. Gumam Yeonsung.

Oh – bahkan memikirkan Yongjoon yang sekarat ketika ia menusuk jantung Yongjoon dengan sebilah pisau, membuat Yeonsung ingin segera membuktikan perkataan Yongjoon.

Tapi bagaimana caranya? Bertanya langsung pada Euina?

“aku bicara sendiri? Lagi?”.

Suara Minho menyadarkan Yeonsung dari lamunannya. Minho kembali dari minimarket, membawa dua kaleng soda untuknya dan untuk Yeonsung. lantas ia duduk disebelah gadis itu.

“aku tidak mau bekerja hari ini”.

Minho membukakan kaleng soda lalu ia berikan pada Yeonsung. “kenapa? Kau sakit?”.

Yeonsung menggeleng, ia menyambut kaleng soda dari Minho. “hanya tidak mau saja”.

“waktu mu hanya tinggal seminggu, apa uangmu sudah cukup?”.

“belum”. Jawab Yeonsung dengan santai. “kalau tidak salah, aku masih butuh 1000 dollar”. Tambahnya kemudian setelah mengingat berapa jumlah uang yang ia kumpulkan.

“aku tidak bisa meminjami uang”.

“Minho’ya”. Yeonsung menoleh pada Minho yang sedang menyeruput minumannya. “menurutmu, apakah aku harus menebus video itu?”.

Mendengar pertanyaan itu, Minho mengerutkan keningnya. Ia sadar betapa sulitnya keadaan yang dihadapi Yeonsung saat ini. Euina terus saja menaburkan garam pada luka Yeonsung, lalu Yongjoon ikut meneteskan air jeruk ke luka tersebut.

“bagaimana ya…”. Minho berdesis, memikirkan harus mengatakan apa. “setelah aku kenal dekat denganmu, aku tahu jika sebenarnya tidak pantas seperti ini. kau pasti masih penasaran kenapa aku baik dan ingin membantumu meskipun aku juga mendapatkan keuntungan, itu semua karena aku tahu kau gadis yang baik”.

“itu bukan jawaban yang kuinginkan saat ini”.

Minho memasang wajah datar, bersusah payah ia merangkai kata untuk menjawab Yeonsung. gadis itu malah tidak menghargainya. “keputusan ada padamu. Jika kau merasa video itu harus lenyap, maka tebuslah”. Ujar Minho kesal.

“begitu, ya?”. Yeonsung mendongak menatap cahaya matahari yang tembus melewati celah dedaunan. “jadi sebentar lagi musim panas”. Gumamnya kemudian.

“kau ingin kemana setelah ini? tidak mungkin kembali ke sekolah, sudah terlalu siang”.

“lapar. Bisakah kau belikan aku makan siang?”.

Minho mengerang frustasi. Ingin ia marah dan meneriaki Yeonsung saat itu juga, namun tatapan memelas yang Yeonsung tunjukkan berhasil meluluhkan hati Minho. “baiklah, kau ingin makan apa?”.

“apa aku sudah mengumpulkan uang nya? Jika sudah bukankah lebih baik kau memberikannya padaku segera?”. Desak Euina ketika menemui Yeonsung dibelakang sekolah.

Yeonsung menatap polos pada Euina. Ia dapat melihat plaster luka yang menempel di dahi dan juga perban ditangan Euina. “aku sedang berusaha mengumpulkan uangnya”.

“kau hanya punya waktu 5 hari lagi, kuharap kau tidak lupa jika video itu ada padaku”.

“tapi –“. Selah Yeonsung. “bisakah aku melihat video itu sekali lagi? Hanya untuk memastikan”.

Euina menelan ludah nya sendiri dengan berat seperti harus menelan pil pahit. Video itu jelas-jelas sudah dihapus oleh Yongjoon. Bahkan ponselnya sudah hancur karena Yongjoon. “tentu saja, tapi tidak sekarang, karena ponsel ku rusak. Kau bisa melihatnya besok”.

“mungkinkah, kau berbohong, sunbae?”.

“apa? berbohong?”. Euina berdecak kesal. Entah kenapa semakin lama Yeonsung semakin menyebalkan. “beraninya kau mengatakan aku berbohong”. Euina mencengkram rahang Yeonsung.

Greebb

Yeonsung menggenggam tangan Euina tepat pada luka ditangannya. Sontak Euina meringis, luka nya kembali berdarah. Dengan begitu ia melepaskan cengkramannya dari rahang Yeonsung. “kau tampak mengkhawatirkan sesuatu, sunbae”. Ujar Yeonsung.

“eiish… ya!!”. pekik Euina.

Tanpa banyak bicara, Yeonsung segera pergi dari tempat itu. Setidaknya ia sudah tahu jika Euina tidak mempunyai video itu lagi. Berarti Yongjoon tidak berbohong tentang apa yang ia katakan.

Awal musim panas, para murid sudah berganti seragam dengan seragam musim panas.

Pagi itu, Luhan meluncur dengan sepatu rodanya di koridor sekolah. Disusul oleh Youngmin yang meluncur dengan papan seluncurnya. Mereka hendak pergi ke kelas Jihoon. Mengajak temannya itu untuk bermain Jenga. Setelah kalah berkali-kali, Luhan meminta untuk main lagi sampai menang.

“Jihoon’ah”. Panggil Luhan dengan nada yang dibuat-buat. Tangannya melambai mengangkat kotak Jenga.

Kala itu Jihoon sedang merebahkan kepalanya ke meja. Tidur. “sial. Jangan menggangguku”. Dengus Jihoon.

“ayolah ~ Minseok sudah mengajariku tekniknya”. Rayu Luhan sambil mengusap-usap kepala Jihoon.

“serius Minseok mengajarimu?”. Tanya Youngmin yang baru tiba dan langsung duduk dikursi didepan Jihoon. Luhan menggangguk dengan penuh percaya diri. “cih… Minseok saja selalu kalah”.

“benarkah? dia bilang padaku selalu menang”.

“lalu kau percaya?”.

Jihoon tiba-tiba bangun, langsung mengangkat kepalanya yang membuat Luhan terperanjat kaget. “pergilah, aku mengantuk sekali”. Usir Jihoon.

Luhan berdecak kesal. Dengan kecewa ia pun pergi dari kelas itu, namun Youngmin tetap tinggal disana. Belakangan diketahui Youngmin tengah mendekati salah seorang siswi dari kelas Jihoon.

“benar… ya! Jihoon’ah, kudengar Yongjoon masuk rumah sakit, kecelakaan?”. Tanya Youngmin setelah melihat kursi Yongjoon kosong.

“ya, tapi aku tidak ikut membesuknya. Dia akan sembuh tanpa kubesuk”. Jawab Jihoon dengan malas.

Youngmin mengangguk. Benar apa yang Jihoon katakan, Yongjoon akan sembuh tanpa perlu dibesuk oleh mereka. Lagipula mereka sudah memutuskan pertemanan karena tidak sependapat lagi.

Setelah mendapat penolakan dari Jihoon untuk bermain, Luhan melarikan diri kea tap sekolah. Memutuskan untuk membolos kelas dan bermain Jenga sendirian. Sendirian. Beberapa kali Jenga terjatuh saat Luhan menarik ataupun mendorong balok Jenga.

“ingin bertaruh denganku?”. Suara itu membuat Luhan mengangkat kepalanya.

Seungri berdiri sambil bersandar di dinding. Ia tersenyum penuh arti pada Luhan. Bukannya mendapat jawaban dari Luhan, Luhan malah kembali menundukkan kepalanya dan melihat balok mana yang akan ia ambil.

“eish… sialan!”. Umpat Seungri.

Akhirnya ia berjalan mendekati Luhan, duduk bersila dihadapan Luhan.

“apa yang kau lakukan disini?”. Tanya Luhan kemudian setelah meletakkan satu balok ditingkat paling atas.

“sekolah, tentu saja”. Jawab Seungri dengan santai, ia pun ikut bermain Jenga tanpa ijin dari Luhan.

“kau masih bodoh seperti saat SMP. Maksudku kenapa kau disini, diatap”. Sungut Luhan sewot.

Seungri terkekeh. Perlahan ia mendorong sebuah balok Jenga. “aku – malas dikelas”. Ujar Seungri setelah berhasil mendorong balok keluar dari tumpukan balok lainnya. “lagipula pelajarannya sudah pernah ku lewati saat disekolah lama”.

“aku beberapa kali melihatmu bersama Yeonsung, apa kau dekat dengannya?”.

Seungri memangku dagunya. Berpikir tentang pertanyaan Luhan. “memangnya kenapa? Aku hanya berteman dengannya ketika ia ingin bunuh diri”. Seungri mengulurkan tangannya, menunjukkan pada Luhan dimana Yeonsung berniat mengakhiri hidupnya waktu itu. “ia ingin lompat dari sana waktu itu”.

Luhan terkejut, balok Jenga yang ia pegang jatuh begitu saja ditingkat paling atas. Membuat bangun Jenga yang sudah rampung itu berjatuhan. “Park Yeon pernah berniat bunuh diri?”.

“jangan berlagak terkejut sedangkan kau sadar apa yang telah kalian lakukan padanya sangat keterlaluan. Gadis mana yang suka dirinya diperkosa lalu tuntutannya tidak diterima”. Oceh Seungri kesal.

“aku tahu, pasti dia menderita sekali. Karena itulah aku bertanya padamu, apa kau dekat dengannya?”.

“aku membawanya ke psikiater karena melihat keadaannya yang semakin parah. Tapi ku pikir sekarang tidak lagi”. Jawab Yeonsung. “oh, ya, Yeonsung akan ikut serta dalam kontes Cello bulan ini”.

“begitu, ya. jadi dia akan kontes, pantas saja dia terus berlatih”. Gumam Luhan. Luhan mengusap dagunya sendiri. “ah, Seungri-ya, kau tahu soal Hanabi?”.

“akun yang membuat heboh seantero sekolah ini, bagaimana mungkin aku tidak tahu”.

Luhan menjentikkan tangannya lalu jarinya menunjuk-nunjuk, membenarkan perkataan Seungri. “aku tidak sengaja melihat ponsel Yeonsung, saat itu dilayar ponselnya menampilkan akun Hanabi. Lalu ia buru-buru pergi”.

Seungri diam.

“Yeonsung bahkan berkata ‘memangnya kenapa kalau aku Hanabi?’, ini membuatku penasaran”.

“bodoh”. Ujar Seungri dengan nada sinis. “otakmu mungkin jenius, tapi untuk hal seperti ini – cih, tidak sama sekali”.

“ya!”.

“Yeonsung bukan Hanabi. Jangan pernah mengira gadis sepolos dia adalah Hanabi yang bisa melakukan hal semacam itu. Mengunggah poto dan video, bahkan menantang Euina. Memikirkan masalahnya sendiri saja sampai membuatnya depresi. Kau pasti tahu jika akun Hanabi selalu di laporkan lalu hilang kemudian muncul lagi, ia juga mendapat banyak hujatan”. Oceh Seungri panjang lebar.

Luhan sampai tertegun mendengar ocehan Seungri. Setelah ia mencerna perkataan Seungri, Luhan setuju. “lalu – siapa?”.

“tidak usah mengurusi Hanabi. Jika kau bersungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya, maka jangan ragu”. Seungri berdiri. “jika kau ingin merangkulnya, maka rangkul dan jangan lepaskan. Jika tidak, berhentilah sekarang. Lama-lama kau membuatku muak”. Tambah Seungri kemudian ia melangkah pergi.

Luhan terdiam.

Benar jika selama ini ia tidak serius untuk memperbaiki semuanya, bahkan ia tidak mampu menahan Yeonsung yang meronta didalam rangkulannya lalu membiarkan gadis itu jatuh dan hancur sekali lagi.

Yongjoon girang bukan main ketika membuka pintu apartemennya dan menemukan Yeonsung diluar sana. Dan sekarang ia tidak bisa diam ditempat duduknya dan melihat kearah pantry dapur dimana Yeonsung sedang sibuk menyiapkan makan malam. Berkali-kali Yongjoon mengambil gambar gadis itu.

“ah, so cute”. Ujarnya memuji Yeonsung yang memakai apron. “lama sedikit juga tidak apa-apa kau memasak”.

“diamlah, aku sedang memegang pisau”. Jawab Yeonsung sambil mengangkat pisaunya.

“cih… ingin membunuhku malam ini, Yeonsung?”.

Tak!

Yeonsung menghentikan kegiatannya memotong wortel sejenak. Lalu menatap Yongjoon yang masih memandangnya seperti seorang anak yang menunggu ibunya memasak. “aku sudah mempelajari cara membunuh orang agar target tidak cepat mati”.

“baiklah, baiklah, aku diam”. Yongjoon memilih untuk membalikan badannya, bersandar di shofa sambil menatap ponselnya.

“kapan kau akan sadar jika kau terus menyentuhnya maka ia akan hancur? Bahkan sekarang dirinya hanya tinggal seonggok daging bergerak, namun tanpa jiwa” – Hanabi.

Yongjoon menaikkan sebelah alisnya. Sudah sering ia mendapat pesan misterius dari Hanabi. Pesan yang sebenarnya tidak ia mengerti artinya namun ia tahu siapa yang dimaksud oleh Hanabi. Yongjoon melirik kearah Yeonsung, masih sibuk dengan urusannya didapur.

Lalu siapa? Pikir Yongjoon.

Euina pernah mengatakan padanya dengan keyakinan penuh jika pemilik akun Hanabi adalah Park Yeonsung. bahkan ia sampai menunjukkan bukti yang menjurus pada tuduhan itu. Euina sangat yakin sepenuhnya jika Hanabi adalah Yeonsung.

“Yeonsung bersamaku sekarang”. Yongjoon mengirimkan pesan balasan bersamaan dengan poto ketika Yeonsung memasak.

“kenapa kau terus melakukan ini kepadanya?”. – Hanabi.

“Yongjoon’ah, bisakah kau kemari dan coba ini?”. panggil Yeonsung dari dapur.

Persetan dengan Hanabi atau siapalah itu. Yongjoon tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah Yeonsung ada disampingnya, bersamanya. Dengan cepat Yongjoon menghampiri Yeonsung.

“aku tidak pernah memasak untuk orang lain, jadi aku tidak tahu apa ini enak untukmu?”.

Yongjoon menyambut sendok yang disodorkan oleh Yeonsung. sejenak ia mengecap rasa masakan itu. Lalu mengangguk. “aku tidak pernah dimasakan oleh orang lain, tapi menurutku ini enak”. Jawabnya.

“aku lupa membawa racun jadi untuk saat ini kau selamat”. Ucap Yeonsung lalu mematikan kompor.

Yongjoon tertawa geli. “gadis sialan”. Hardiknya. Tanpa ada rasa kesal sedikitpun atas perkataan Yeonsung barusan. Ia hanya suka. Ya, suka. Menganggap jika Yeonsung sedang bercanda dengannya sekarang.

“duduklah”. Titah Yeonsung. ia menghidangkan masakan yang ia buat, lalu meletakkan semangguk nasi dihadapan Yongjoon kemudian ia pun duduk.

“Yeonsung”. rengek Yongjoon. Ia menunjukkan tangannya yang masih memakai armsling.

“kupikir kau bisa makan menggunakan kaki”.

Mau tak mau Yeonsungpun menyuapi Yongjoon makan malam. Jika saja ia tidak sedang baik hati malam ini, tak akan sudi ia melakukan hal semacam ini. setelah bertemu Euina dan memastikan video itu, Yeonsung merasa sedikit lega. Lalu ia pergi ke apartemen Yongjoon sekedar membuat makan malam.

“aku punya sesuatu untukmu”. Ujar Yongjoon setelah mereka selesai makan dan menikmati buah sebagai makanan penutup.

“aku tidak menerima sesuatu yang aneh”. Jawab Yeonsung, sekali lagi ia mengacungkan pisau yang dipegangnya.

Yongjoon terkekeh. Kemudian ia bersingsut pergi dari meja makan. Mengambil sesuatu dari dalam kamarnya. Sebuah kotak berwarna coklat. Yeonsung tidak tahu apa isinya. Tetapi ia tahu kotak itu biasanya digunakan untuk menyimpan perhiasan.

“ini”. Yongjoon meletakkan kotak itu dimeja makan. Ia sendiri pula yang membuka kotak itu. Sebuah kalung pasangan. “Y dan Y. pakai ini dilehermu”. Yongjoon memberikan kalung berliontin Y pada Yeonsung.

“apa maksudnya Y dan Y?”. gerutu Yeonsung sambil menerima pemberian Yongjoon.

“Yongjoon dan Yeonsung tentu saja”. Jawab Yongjoon dengan riang. Sebenarnya ia menyesal karena tak bisa memakaikan kalung itu dileher Yeonsung karena keadaannya.

“aku menerima ini karena kupikir ini adalah terakhir kalinya. Aku menerima ini, tetapi tidak untuk perasaanmu, Yongjoon’ah. Aku juga memasak untukmu, pertama dan terakhir kalinya”. Ujar Yeonsung.

Yongjoon diam, menatap tajam pada Yeonsung. “kau tidak bisa melakukan ini padaku!”. Geramnya.

“Yongjoon’ah, aku benar-benar sudah muak. Pada diriku sendiri”.

Luhan menunggu Yeonsung didepan rumah. Terdengar ia menyenandungkan sebuah lagu dengan pelan mengikuti alunan music yang ia dengarkan dengan earphone. Membunuh kebosanan karena Yeonsung tak kunjung pulang. Luhan sengaja tidak menelpon gadis itu karena jika ia bilang ingin bertemu, pasti malam ini Yeonsung memilih untuk tidak pulang.

Tak lama kemudian, Yeonsung terlihat berjalan dari ujung jalan. Ditangannya membawa kantung plastik. Luhan melepas earphone nya, menunggu gadis itu sampai.

“Park Yeon”. Panggil Luhan.

Yeonsung malah berjalan melewati Luhan, seperti tak melihat siapapun disana. Lantas Luhan mendekatinya. Yeonsung membuka pagar rumahnya. “ingin masuk?”.

Pertanyaan Yeonsung barusan sampai membuat Luhan keheranan. Tidak menyangka jika Yeonsung akan menanyakan itu. Tanpa pikir dua kali Luhan melangkah masuk ke dalam pagar. Sebelum Yeonsung berubah pikiran dan meneriakinya agar pergi – lagi.

Luhan duduk diruang tengah ketika Yeonsung pergi ke dapur untuk minum. Saat datang kemari untuk pertama kalinya, Luhan tak sempat melihat-lihat poto yang terpajang di dinding ruangan.

“kenapa? Kau bertingkah seperti ini pertama kalinya kau masuk kemari”. Ujar Yeonsung.

“tidak begitu –“. Luhan menoleh lalu menghentikan kalimatnya, Yeonsung sudah berdiri didekatnya ketika ia sibuk melihat poto-poto didinding.

“ya ~ ternyata kau tampan”. Ujar Yeonsung.

Beberapa saat mereka sama-sama diam. Yeonsung masih terus memandang wajah Luhan, sedangkan Luhan tak tahu harus bagaimana.

“Park Yeon”.

“tadi ahjumma memberiku ayam. Aku tidak akan bisa menghabiskannya sendiri”. Suruh Yeonsung. Luhan menghela napas lega. Yeonsung duduk disebelahnya, mengunyah ayam yang ia dapatkan. “soal Hanabi –“.

“aku tahu itu bukan kau. Maaf menuduhmu yang tidak-tidak”.

“darimana kau tahu jika itu bukan aku?”.

Luhan memutar matanya, tidak mungkin ia mengatakan Seungri yang menjelaskan tentang kemungkinan Hanabi bukan Yeonsung. “hanya – firasatku saja”.

“kau punya firasat yang bagus”.

“Park Yeon, apa kau membenciku?”.

Yeonsung memiringkan kepalanya, berpikir sejenak sebelum menjawab. “pertanyaan itu, aku tak ingin menjawabnya”.

wae?”.

“lawan kata benci adalah suka. Jika aku menjawab ‘aku tidak membencimu’ maka kau akan mengartikan sebagai ‘aku menyukaimu’. Jadi aku tak ingin menjawabnya”. Jelas Yeonsung.

Luhan tertawa. Lalu mengangguk. Perkataan Yeonsung memang ada benarnya. Luhan mengerti, jadi karena ini Seungri bahkan Yongjoon mendekati Yeonsung. melihat Yeonsung yang sekarang membuat penyesalan Luhan kian besar. “kau bilang aku tampan, lalu kenapa kau tidak ingin menyukaiku?”.

“tidak boleh, aku akan terkena masalah”.

Luhan diam sambil memikirkan maksud Yeonsung berkata bahwa ia akan terkena masalah. mungkinkah, Hyerin yang mengancam Yeonsung agar gadis itu tidak dekat-dekat dengan Luhan?

“gawat”. Gumam Yeonsung.

“ada apa?”.

“aku menghabiskan ayamnya”.

Luhan melirik melihat kotak ayam yang sudah kosong. Ia tersenyum, teringat jika tadi Yeonsung menawarinya ayam mengatakan jika ia tak bisa menghabiskannya sendirian. Tangan Luhan terulur, mengacak rambut Yeonsung. “habiskan saja. Aku akan pulang sekarang”.

Alunan musik terdengar dari dalam ruang les. Yeonsung sedang memainkan Cello nya. Menunjukkan penampilan yang ia persiapkan untuk kontes Cello nanti dihadapan guru lesnya, Kyuhyun. Didalam sana ada beberapa murid didik Kyuhyun yang ikut menonton. Yeonsung mengakhiri penampilannya tanpa membuat kesalahan, disambut oleh tepuk tangan oleh Kyuhyun.

“kau sudah berlatih dengan kesar, Yeon’ah”. Ujar Kyuhyun.

ne, saem. Aku ingin menang agar kau bangga”.

“aku percaya pada kemampuanmu”.

Yeonsung tersenyum senang. Setelah menghadapi banyak masalah, entah mengapa mendengar ucapan Kyuhyun barusan membuatnya merasa lega. Rasanya sudah lama sekali ia tidak tersenyum, pipi nya sampai terasa kaku ketika ototnya tertarik untuk mengukir sebuah senyuman.

“oh, ya, mereka memberikan tiket gratis untuk peserta yang ingin mengajak keluarga atau siapapun itu”. Kyuhyun mengeluarkan dua lembar tiket dari dalam map yang ia bawa, lalu memberikan tiket itu pada Yeonsung.

Yeonsung menyambut tiket yang diberikan oleh Kyuhyun. Membaca dengan seksama tulisan diatas kertas berwarna keemasan itu. “siapa yang harus kuundang?”. Tanya Yeonsung.

“siapa saja yang kau inginkan untuk datang dan menonton penampilanmu”. Jawab Kyuhyun.

“baiklah, terima kasih, saem”. Ujar Yeonsung.

Kyuhyun mengangguk. Yeonsung pun berdiri, membawa Cellonya kembali ke tempat duduknya dibarisan murid. Tak sengaja tatapannya dan Yunbi bertemu. Yeonsung ingin Yunbi datang ke acara tersebut, karena ia tak punya teman lain selain Yunbi.

Namun tampaknya Yunbi tak ingin datang.

Terbukti ketika Yunbi langsung membalikkan tubuhnya dan mengobrol dengan teman disebelahnya. Yeonsung mengurungkan niatnya untuk memberikan tiket tersebut pada Yunbi.

Lagipula Yeonsung tidak tahu apakah Yunbi masih menganggapnya teman atau tidak.

Sepulang les, Yeonsung menunggu bus dihalte biasa. Tak ada seorang pun disana. Yeonsung duduk seperti mannequin bersama Cello disebelahnya. Masih berpikir siapa yang akan ia berikan tiket gratis ini.

Ibunya? Kakaknya? Seungri? Luhan?

“kenapa juga aku harus memberikan tiket pada Luhan?”. Gumamnya. “Yongjoon?”.

Mendadak Yeonsung terpikir akan nama itu. Memberikan tiket gratis pada Yongjoon? Apakah akan jadi ide bagus atau buruk?

Pagi sekali Luhan sudah datang kerumah Yeonsung, sekedar untuk mengajak gadis itu pergi sekolah bersama. Setibanya didepan rumah itu, Luhan masuk tanpa canggung. Namun Luhan menemukan sesuatu didepan pintu rumah. Lantas Luhan memungut kotak tersebut.

Klik

Pintu rumah terbuka, Yeonsung muncul dari balik pintu.

“apa yang kau lakukan didepan rumahku?”. Tanya Yeonsung langsung menginterogasi Luhan.

“ah, oh, aku ingi pergi sekolah bersamamu”. Jawab Luhan tergagap.

Yeonsung menyipitkan matanya, menatap curiga pada Luhan. Lalu matanya tertuju pada kotak yang dipegang oleh Luhan. “apa yang kau bawa?”.

“oh, ini –“. Luhan hendak menjawab, namun ia juga tidak tahu apa isi kotak ini. tetapi sepertinya bukan bom atau semacamnya. Jadi Luhan menyodorkan kotak itu pada Yeonsung. “untukmu”.

“untukku?”.

Ragu. Yeonsung menyambut kotak itu. Dengan tetap menatap Luhan dengan tatapan waspada. Takut-takut jika isi kotak tersebut adalah tikus mati atau semacamnya. Perlahan Yeonsung membuka kotak itu.

“wahh…”. Yeonsung menganga terkejut. Ia menemukan sebuah gaun berwarna hitam terlipat rapi didalam kotak itu.

“gaun yang indah untuk kau pakai saat kontes Cello nanti”. Ujar Luhan.

Sungguh! Yeonsung hampir menangis mendapatkan hadiah ini. ia butuh sebuah gaun yang indah untuk membalut tubuhnya saat kontes Cello, Chanyeol bahkan tak bisa membelikan gaun untuknya. Dan memilih untuk membeli gaun pengantin untuk pacarnya.

gomawoyo”. Ucap Yeonsung.

“kau harus memakainya nanti”. Balas Luhan. Diam-diam Luhan bersyukur karena tak ada nama pengirim dikotak tersebut.

Yeonsung menutup kembali kotak itu, ia berlari masuk ke dalam rumah untuk menyimpan hadiah yang ia dapatkan. Lalu kembali dengan secarik kertas ditangannya. “untukmu”. Yeonsung menyodorkan kertas itu pada Luhan.

Tiket Pertunjukan Kontes Cello.

Dengan cepat Luhan mengambil tiket tersebut. Ia tersenyum girang. “aku pasti akan datang”.

“kenapa kau memainkan Cello? Tidakkah alat musik itu terlalu besar untukmu?”. Tanya Luhan memulai percakapan selama perjalanan menuju sekolah.

Yeonsung menoleh, menatap Luhan sejenak. “karena jika memainkan Violin dan Viola leherku akan sakit, jika memainkan Bass terlalu besar”.

“benar juga”. Luhan mengangguk setuju dengan jawaban Yeonsung. “aku kenal dengan seseorang yang suka bermain Cello”.

“benarkah? siapa?”. Yeonsung mendadak tertarik untuk tahu siapa orang yang Luhan maksud. Bisa dilihat dari kerlingan matanya yang penasaran.

Luhan mengeluarkan ponsel dan earphone dari dalam tas nya. Ia menyalakan ponselnya, lalu memasangkan earphone ditelinga kiri Yeonsung dan sebelah ditelinganya sendiri. Luhan memutar musik yang ibunya pernah mainkan.

“The Swan?”. Ujar Yeonsung setelah music menyala.

“benar. kau sama sepertinya, sering memainkan musik The Swan”.

Yeonsung diam, mendengar dengan seksama music yang terus mengalun tersebut. Ia merasa seperti déjà vu. “aku merasa pernah mendengar ini, dimasa lalu”. Ujar Yeonsung.

“apa maksudmu?”.

“seseorang yang membuatku merengek minta dibelikan Cello dan minta dimasukkan ke tempat les musik. Adalah orang yang kulihat ketika makan malam direstoran bersama keluargaku, wanita itu bermain Cello dengan baik. dan The Swan adalah musik yang ia mainkan”. Oceh Yeonsung panjang lebar.

“mungkinkah –“. Luhan membuka koleksi poto diponselnya dengan tergesa. Mencari poto ibunya. “apakah dia adalah pemain Cello yang kau lihat?”.

Yeonsung menatap ponsel Luhan. Ia langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Luhan. Cellist yang ia lihat direstoran sangat cantik dan anggun. Keanggunannya bertambah ketika ia mulai menggesek senar Cello nya.

“tapi – mengapa kau menyimpan potonya? Apa kau adalah fans nya?”. Pertanyaan polos Yeonsung.

“Park Yeon, dia adalah mama ku”.

“jangan bercanda, tidak mungkin ia punya anak seperti kau”.

Luhan mengeluarkan sebuah kalung dari balik seragamnya. Sebuah kalung dengan liontin kristal berwarna merah maroon. Luhan meletakkan ponselnya didekat liontin nya. “kalung ini miliknya”.

“kau tidak cocok jadi anaknya”. Ejek Yeonsung. membuat Luhan terkekeh geli karena wajah Yeonsung benar-benar menunjukkan jika ia serius dengan perkataannya barusan.

Disisi lain, Luhan merasa senang setelah tahu ibunya yang membuat Yeonsung terobsesi untuk menjadi seorang Cellist. Bahkan permainan Yeonsung hampir sama dengan ibunya.

Masih terlalu pagi bagi Yeonsung untuk bangun. Bahkan ia bangun lebih dulu dari alarm yang ia atur diponselnya. Keadaan yang memaksanya untuk bangun dan pergi ke toilet. Mual tetapi ia tidak bisa muntah karena perutnya dalam keadaan kosong. Sudah beberapa hari ini ia mengalami gelaja mual, muntah, pusing bahkan mengantuk.

“sial”. Umpatnya.

Yeonsung menyalahkan dirinya sendiri, terlalu sering berlatih hingga ia lupa makan dan istirahat. Membuat penyakitnya kumat. Yeonsung bukannya tidak minum obat, namun penyakit sialan itu terlalu kuat hingga obat yang ia minum tidak mampu meredakannya.

Gadis itu kembali ke kamarnya dengan tubuh membungkuk, sakit berpusat pada perutnya. Segera saja Yeonsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tangannya meraih ponselnya.

Yongjoon menghilang.

Sudah beberapa hari ini tak ada kabar dari pria itu.

Yeonsung meletakkan kembali ponselnya. Dikeluarkannya kalung pemberian Yongjoon yang masih ia pakai. Yeonsung menggigit bibirnya sendiri. Mencoba untuk memejamkan matanya kembali, mungkin saja ia bisa kembali tertidur.

Siang hari, Yeonsung memutuskan untuk pergi ke dokter.

Diruang tunggu, ia duduk sendirian sembari menunggu perawat memanggilnya untuk giliran periksa. Saat itu, ia mencoba untuk menghubungi Yongjoon dan mengajak pria itu untuk bertemu.

“nona Park Yeonsung”. seorang perawat memanggil namanya.

ne”. Yeonsung berdiri dan mendekat keruangan dokter dengan cepat.

“kau bahkan masih terlalu muda untuk membuat sebuah keputusan. Tetapi jika berpikir untuk mempertahankannya juga berisiko bagimu. Jika kau sudah membuat keputusan, segera hubungi kami”.

Yeonsung menatap lurus lampu-lampu yang menyala dihadapannya. Hari sudah malam dan sejak pulang dari rumah sakit, ia tidak pulang kerumahnya. Yeonsung sedang menunggu Yongjoon datang. Sengaja tidak datang ke apartemennya, dan menyuruh Yongjoon yang datang ke jembatan didekat apartemen.

“kenapa harus bertemu disini?”. Suara berat itu menyadarkan Yeonsung.

Yeonsung menoleh dan mendapati Yongjoon sudah berdiri didekatnya. “tidak ingin saja”.

“jadi apa yang ingin kau bicarakan padaku?”. Tanya Yongjoon lalu mendekat pada Yeonsung. ia tak suka berbicara dengan jarak.

“aku menjadi vampire”.

“apa?”.

“ketika melihat makanan akan langsung mual, aku tidak selera meskipun lapar”. Yeonsung mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas selempangnya. “menjadi vampire, bukan salahku”.

Lantas ia menyodorkan amplop itu pada Yongjoon. Dengan tetap menatap Yeonsung, tangan Yongjoon bergerak membuka amplop tersebut. Mengeluarkan isi amplop kemudian membaca surat yang diberikan oleh Yeonsung.

Yongjoon tersebut miring.

Sraak

Sraak

Ia merobek surat tersebut perlahan. Menjadi dua bagian – empat bagian – enam bagian hingga menjadi robekan terkecil. Lalu melemparkan robekan kertas itu ke aliran sungai dibawah jembatan.

“lalu siapa yang akan kau salahkan?”.

“kau”.

Yongjoon tertawa, entah apa yang lucu hingga ia harus menertawakan Yeonsung. “aku tidak bersalah. Semuanya salahmu sendiri. Mengapa kau harus jadi gadis yang bodoh yang lemah? Park Yeonsung, kau sendiri yang terlalu polos hingga bisa menjadi korban pemerkosaan. Kau sendiri yang bodoh, berpikir jika Euina benar-benar ingin berteman denganmu. Kau sendiri yang lemah sampai kau selalu tak berdaya olehku”.

Napas Yeonsung memburu. Ia marah atas apa yang Yongjoon katakan tentang dirinya. Ditambah lagi melihat tatapan Yongjoon yang menatapnya dengan remeh.

Plakk

Yeonsung tidak bisa menahan dirinya untuk melayangkan sebuah tamparan ke wajah pria itu. Yongjoon mengusap pipinya, bekas tamparan Yeonsung. rasanya begitu perih. Mungkin karena Yeonsung benar-benar sudah emosi hingga energinya lebih besar dari biasanya.

“ya!”. teriak Yongjoon tanpa sadar. Dengan kuat ia menggenggam kedua lengan Yeonsung. “cih… jangan kau pikir karena aku baik padamu kau bisa memukulku, jalang!”.

Bibir Yeonsung bergetar, ia ingin membalas meneriaki Yongjoon. Namun tak bisa ia lakukan dan malah menangis dalam diam sambil menatap tajam pada Yongjoon.

TBC

Tolong jangan Tanya Yeonsung kenapa.

Tolong jangan Tanya surat apa yang dikasih oleh Yeonsung.

Comment? Chapter akhir ku lock, syarat dpt pw mesti komen seluruh part. Ok. Tq.

#TeamLuhan #TeamSeungri #TeamYongjoon jgn war :v wkwkwkw

Advertisements

25 responses to ““Iaokim” #10 by Arni Kyo

  1. Aku jadi vampire 😂😂😂😂
    Asem ini part terlucu.
    Uelooook. Pinteer banget sih kak bolak balikin hati para reader sperti kami.
    Kmren si yongjoon bikin melting. Skarang balik brengsek lagi.
    Yongjoon ah jangan gt 😭😭😭😭😭

  2. Yeonsung hamil?
    Emang ya Yonjoon, baik ada maksudnya!!
    LU ge tolong yoensung,,jd bngung akun hanabi itu punya siapa? Seungri?
    Q kira yongjoon beneran baik sm yeonsung, taunya juga brengsek :p

  3. Gw gak nanya karena gw tau, ahemm
    Tuh kan gw bilang juga apa, YongJoon itu gak sepenuhnya tulus sama Yeonsung, gw udah tau dari gelagatnya. Dan gw berdoa semoga dia nyesel aminnnnnn,
    Wait, emangnya itu bukan anaknya Luhan? Kan yg pertama . . . . . itu kan Luhan,, auu’ aaah pusing gw. Mollaaa mollaaa, btw gw sabar menunggu next chap kok!! Hehe

  4. kirain yongjoong tulus sukanya sama yeonsung, ahh ternyata..
    yeonsung sama luhan aja dehh
    dan juga mudah²an yeonsung hamilnya itu sama luhan,
    bukan sama yongjoong..
    ^_^

  5. ujung2 nya hamil kan tuh yeon *hiks baru aja dia hidup normal.hehee
    yoong juga kenapa jadi gitu lagi ih. ngeselin minta luhan aja yeon.kkk~
    siapa yang beliin baju itu ya luhan numpang aja.hahaa
    kaya nya yang beliin sengri deh hanabi juga aku curiga sengri.

  6. ini hanabi yg jelas si arni,, kekekke
    yeonsung hamil???
    anaknya yongjoon?? sudah ceburin yongjoon ke sungai aj..
    gtw knp gua g suka ntar klo yeonsung m yongjoon ato luhan ato seungri…
    kasih pangeran berkuda putih lainnya aj deh kyo.. kekekeke

  7. Wah ternyata mamanya Luhan itu panutannya yeon.
    Sialan memang yj, baru aja aku mulai pro ke dia -_-.
    Aku malah penasaran siapa yang ngasi dress buat yeon, dan bapa dari anaknya yeon siapa ‘-‘

  8. Waaa yeon buntingg, ank spa eh. So yj anjirr pngn gue gaplok sumpahh. Jht bgt yak blg gtu ke yeon pdhl kmrn msh swet2 gitu.

  9. “Gawat!!!aku menghabiskan ayamnya.”
    Ckckck qw sngguh polos yeon,,hayo cpa bpax yg d kndung yeon??luge tlong sllu jaga yeon..
    #teamluge

  10. kakk ini ga ketebak complicated banget heheh. kakk saranku bapaknya si yongjoon biar seruu..jd ada konflik gituu dan gregett.. soalnya kalo jadinya malah luhan kan udh ketebak dr yg pertama kak. kak aku dukung YY couple . makasih kakk semangatt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s