PERFECTIONIS (CHAPTER 11)

 

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Jun He
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 15+

 

Sometimes…

Just sometimes…

When someone say forever. They mean it.

 

Perfectionis

 

Incheon Airport

1 April 2017

15.23 KST

 

Hyung kita harus kembali ke perusahaan, ada berkas yang harus segera di selesaikan.” Pria berambut coklat tua itu menguntrupsi seorang pria kurus di sebelahnya.

 

“Oh Sajangnim, anda harus segera pulang.”

 

“Aih, hanya sebentar. Kajja!

 

Sehun melanjutkan langkah besarnya, sedangkan sekertarisnya mencoba menghentikan Sehun dengan memblokir jalannya.

 

“Ini bukan hanya untuk kesehatanmu Sehun tapi untukku juga, kumohon mengertilah aku lelah. Sungguh, kita sudah seminggu di sana, mari kita rehat sejenak dan menghirup aroma gingseng ini, eoh?”

 

Park Joon mencoba mencari sedikit empati dalam diri Sehun tapi sepertinya hal itu akan percuma.

 

“Baiklah, aku akan naik mobil sendiri.” Pria dengan setelan jas hitam itu tetap saja kekeuh ingin segera menyelesaikan tugasnya yang menumpuk. “Oh, hyung tolong antarkan barangku ke rumah dulu ya.”

 

HYA!” meskipun begitu Sehun tetap melanjutkan langkahnya, melenggang tanpa memperhatikan sang lawan bicara yang sedang kesal dan lelah itu.

 

***

Seunghwa Groub

 

Sehun berjalan dengan langkah lebarnya menuju lantai delapan. Lift yang terbuka memperlihatkan beberapa pegawainya dan langsung menunduk hormat. Meskipun dingin Sehun bukanlah orang tak acuh pada pegawainya. Bahkan dia tak segan ikut makan di cafeteria bersama pegawai lainya. Yah seperti yang terlihat sifat itu tidak jauh berbeda dari sifat Rei.

 

“Tuan, ada yang menunggu anda.” Sehun kebingungan ketika seorang wanita mengintrupsi jalanya menuju ruang pribadi milik pria itu.

 

“Siapa?”

 

“Deputi Bursa Efek dari Weoljong ingin bertemu anda?” Jawab wanita itu sopan.

 

Tanpa fikir panjang Sehun langsung membuka pintu berdaun dua itu dan mendapati dua orang wanita dengan setelan formal sedang duduk santai memandangi ruanganya.

 

“Jun He? Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau tahu aku disini?”

 

“Mungkin memang cukup sulit mengetahui keberadaanmu, tapi begitulah. Oh ya, aku lupa mengenalkan seseorang. Eonni?!”

 

Sehun mengalihkan perhatiannya pada seorang wanita yang daritadi duduk memunggunginya.

 

“Lama tak bertemu Sehun.” Sehun cukup terkejud mendapati wanita berbaju biru itu menyapanya dengan senyum manis yang terpatri.

 

Noona? NaRa Noona?” Sehun mencoba memastikan.

 

Jun He hanya tersenyum melihat keterkejutan Sehun yang mendapati si objek dari rusaknya hubungan Sehun dengan Hyunji duduk santai disini dan tersenyum kepadanya.

 

“Pasti banyak yang ingin kalian ungkapkan.” Ungkap Jun He senang.

 

Sehun mencekal tangan Jun He.

 

“Apa maksudmu dengan semua ini?” Jun He tersenyum miring. “Hadiah pernikahanmu.” Ujarnya lalu melenggang pergi keluar ruangan.

 

Melihat hal itu Nara ikut ambil suara. Dan saat itu, ada banyak hal dibenak Nara untuk di ungkapkan pada Sehun.

 

“Sehun-ah, aku hanya ingin bertemu denganmu tidak lebih dan selamat atas pernikahanmu.” Nara mengulurkan tanganya.

 

Sempat bingung namun Sehun tetap menjabat tangan itu.

 

“Aku tahu kenapa Jun He tiba – tiba mengajakku kemari.” Sehun tetap bungkam mendengar dengan seksama meskipun dengan tatapan tajamnya Nara tak terusik. Dia tahu bahwa Sehun memang seperti itu.

 

“Itu pasti karena dia terlambat.” Tanpa disangka Nara mulai tersenyum miring.

 

“Jun He masih menyukaiku?”

 

“Kau tak bisa melihatnya? Dia sudah memulai rencananya. Kau tak ingin kejadian dua tahun lalu terulang lagi kan? Kau pasti tahu aku hanya menjadi kambing hitam saat itu. Kau masih marah padaku karena itu? Sehun, dewasalah sungguh bukan aku pelakunya.”

 

“Itu semua karena Jun Hee tau rencana kita. Kau yang membuat rencana kita gagal dan memunculkan rumor-rumor yang membuat Hyun Ji tak memepercayaiku lagi. Harusnya hari itu menjadi hari dimana akau melamarnya! Kau harusnya sadar itu!”

 

“Baiklah, kau boleh menyalahkanku sesukamu. Tapi kau harus tahu, Jun He yang menguntitku dan membaca semua pesan kita. Aku tak pernah ada sedikitpun niat untuk mengacaukan hari pentingmu itu. Sehun kumohon kau harus mendengarkanku kali ini saja.”

 

“Kau harus melindungi istrimu Sehun, jangan sampai Jun He melihat kesempatan itu. Kau tak pernah tahu apa rencananya.” Tanpa fikir panjang Sehun langsung berlari keluar ruangan tanpa mengambil berkas yang menjadi alasannya kembali ke kantor.

 

***

 

Sehun’s House

16.05 KST

 

Suara lembut mesin keluaran terbaru itu mengintrupsi kegiatan membaca Rei di ruang tamu dekat pintu masuk. Segera dia berlari memastikan bahwa itu mobil Sehun.

 

Dan benar, itu mobil sedan Sehun. Rei mulai tersenyum senang dan pipinya mulai merona. Entah apa yang membuatnya merona.

 

Namun, senyumanya mulai pudar ketika tak mendapati Sehun keluar dari semua pintu mobil mewah itu. Dan hanya mengeluarkan beberapa barang dan koper. Rei langsung berlari mendatangi seseorang yang sedang membongkar barang di halaman.

 

“Kau siapa? Dimana Sehun?” Tanya Rei pada pria kurus berambut hitam yang sedang memegang beberapa paper bag.

 

Joon pun mulai mengalihkan perhatiannya.

 

“Selamat sore nyonya, saya sekertaris Park Joon. Presdir sedang mengambil beberapa berkas di perusahaan, mungkin sebentar lagi akan datang.” Joon membungkuk hormat pada Rei.

 

“Oh ya, aku ingat denganmu saat pernikahan. Terimakasih sudah membantu pernikahan kami.” Rei malah balik membungkuk pada Joon yang membuat Joon bingung.

 

“Oh, anyo. Anda terlalu berlebihan itu memang tugas saya.” Joon pun dibuat takjub dengan sifat Rei yang meskipun sukses di usia muda masih memiliki sopan santun dengan wajah dinginnya.

 

“Jangan terlalu formal padaku Park Joon-ssi, bukankah kau lebih tua dari Sehun. Aku yang harusnya berbicara formal padamu.”

 

“Anyo gwenchanayo.” Joon tersenyum pada istri atasanya yang ternyata lebih dari apa yang dibayangkan dari wajah dinginnya.

 

“Park Joon-ssi masuklah, kita makan malam bersama.” Ajak Rei yang tanpa sungkan tiba – tiba mengajak sekertaris suaminya itu makan malam.

 

Joon pun dengan lembut menolak ajakan Rei. “Terimakasih Nyonya, tapi istri saya sudah menunggu dirumah. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi. Maafkan saya nyonya.” Joon kembali membungkuk.

 

Bahkan bawahan Sehun itu masih teringat akan istrinya dan menolak makan malam dari atasanya untuk segera pulang. Padahal hal ini bukan tentangnya. Tapi mengapa Rei merasa tertohok akan kenyataan itu?

 

Lalu kemana Sehun belum kembali? Bahkan lebih memilih mengambil berkas diperusahaan daripada segera menemui istrinya yang selama seminggu ini tak ia hubungi dan temui sama sekali.

 

“Nyonya, anda baik baik saja?” Ucapan Joon barusan menyadarkan Rei dari lamunan singkatnya.

 

“Aku baik – baik saja, maaf aku tidak tahu kau sudah memiliki istri.” Nampak wajah Rei yang lebih terlihat sedih daripa menyesalkan ajakannya.

 

“Saya memang selalu terlihat muda.” Kemudian tertawa ringan dan meninggalkan rumah mewah itu.

 

***

 

Author POV

 

Setelah melenggang pergi keluar ruangan Jun He tertawa remeh dengan perbuatannya.

 

“Kau seharusnya menungguku, lalu aku bisa bersamamu. Aku sudah berusaha keras menyingkirkan wanita jalang itu dan tanpa disangka wanita itu mati begitu saja. Dan sekarang apa? Kau menikah? Huh! Lucu sekali.”

 

Wanita itu itu terus bergumam selama perjalanan dengan mobil pribadinya.

 

“Wanita itu pasti mudah di perdaya. Kita lihat saja direktur Kim.”

 

“Sebagai istri Sehun kau memang cukup pantas.” Jun He memandang foto yang ada di dasbord mobilnya.

 

“Tapi aku tak akan menyerah begitu saja hanya karena perjodohan kalian.”

 

 

***

 

Rei POV

19.59 KST

 

Kenapa Sehun tak kunjung kembali? Apa begitu banyak yang harus di urus di kantor hingga dia tak ingin beristirahat sejenak?

 

Berberapa kali aku memutari taman tapi tak kunjung ada suara lembut mesin mobil yang terpakir di halaman.

 

Tak ada dering intercom ataupun suara langkah kaki yang selaluku rindukan.

 

“Nyonyaa… nyonyaa Oh, ada telfon untuk anda.” Shin Ahjumma sedikit berlari memberikan telfon gengamku yang berdering entah sejak kapan. Bahkan aku lupa menaruhnya dimana.

 

“Oh Sehun?” Tanyaku entah pada siapa saat melihat layar ponselku.

 

Aku menggeser lambang hijau di layar ponselku dan mendapati seorang perempuan yang menelfonku melalui nomor Sehun.

 

“Iya, saya istrinya.” Jawabku pelan sambil mencerna setiap ucapan perempuan di seberang sana.

 

Tanpa sadar ponselku terjatuh dan tanganku bergetar. Tanpa di perintah air mataku sudah membanjiri pipiku.

 

Aku berlari dan mencari kepala pelayan Park dan Shin ahjumma.

 

Ahjummaa! Ahjussiii.” Teriakku di tengah – tengah ruangan yang senyap ini.

 

Shin ahjumma langsung berlari menghampiriku dan ku gengam erat jemarinya. “Ahjumma, ayo antarkan aku ke rumah sakit… cepat! Sehun sedang tidak baik – baik saja. Kumohon antarkan aku kali ini saja. Aku akan menanggung semua akibatnya.” Aku berteriak dan menangis seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya. Berlari menuju parkiran mobil dan di susul Park ahjussi yang juga ikut panik karenaku.

 

Ahjussi, cepatlah kumohon.” Suaraku bergetar. Dan aku sudah tak tahu lagi seperti apa wajahku ini.

 

***

 

Myunghe Hospital

20.15 KST

 

Shin ahjumma dan Rei langsung berlari ke lobi dan menanyakan pasien bernama Oh Sehun dan segera berlari ke IGD. Sedangkan Shin ahjumma hanya mampu mengikuti Rei dari belakang sambil meneteskan air matanya melihat begitu khawatir Rei pada Sehun.

 

Rei sampai di IGD dan melihat begitu banyak pasien dan Rei mendapati Sehun terbaring lemah di tempat tidur yang berada paling kanan.

 

“Sehun-aah~” Ujarnya parau.

 

Rei mendekat pada Sehun karena tidak mendapat respon berarti.

 

Mendapati suaminya dengan luka lebam di sekitar wajah dan kaki kiri yang terbungkus gips, tangan kirinya pun ikut patah akibat kecelakaan beruntut itu.

 

“Sehun-aah, kau seharusnya segera pulang dari bandara kenapa kau malah tidur disini.” Ucap Rei menjadi.

 

Kepala pelayan Park ikut menyusul dan mendapati kedua wanita dihadapannya telah banjir air mata.

 

Ahjumma, kenapa hal menakutkan seperti ini terjadi padanya?” kembali Rei menangis sambil terduduk dan memegang tangan kanan Sehun yang terbungkus beberapa kain kasa dan selang infuse.

 

“Nyonya anda tidak boleh seperti ini, tuan tidak akan senang melihat nyonya seperti ini.” Park ahjussi mencoba membujuk Rei yang ternyata sia – sia saja. Rei tetap menangis tertahan dengan sangat deras di kedua pipinya.

 

Ahjussi, tolong telfon sekertaris Sehun dan segera mengurus administrasinya.” Ujar Rei masih dengan sesenggukan yang kentara.

 

“Baik nyonya.” Park ahjussi meninggalkan IGD menuju lobi dan menunggu Sekertaris Sehun.

 

Bahkan dalam situasi seperti ini pun Rei cukup tanggap dengan apa yang harus dia lakukan. Well, dia tidak sekolah di tempat yang mahal hanya untuk menjadi pengusaha. Kepribadiannya pun ikut terbentuk berkatnya.

 

“Apakah ada yang  anda butuhkan nyonya, saya akan pulang dan membawakannya untuk anda.”

 

“Bawa saja bajuku dan perlengkapan mandi. Dan juga tolong telfon Luhan, dan bawakan ponselku.” Dengan menahan air mata Shin ahjumma bergegas pergi untuk melaksanakan perintah majikannya.

 

***

 

20.45 KST

 

Rei masih setia mengenggam tangan Sehun dan menatapnya dengan berlinang air mata.

 

Sedangkan Joon yang melihatnya tak tega. Begitu cinta kah Rei pada Sehun? Hingga Joon mampu merasakan sedih yang mendominasi aura ruangan ini.

 

“Maafkan aku nyonya, seharusnya aku memaksa presdir untuk segera pulang.” Ujar Joon menyesal. Pada akhirnya berusaha memecah keheningan.

 

Rei hanya diam menanggapai pernyataan menyesal dari sekertaris Sehun. Ia sudah tak tahu lagi apa hal baik yang bisa ia ucapkan saat ini.

 

Srekkk!

 

Suara pintu terbuka bersama dengan munculnya Luhan di baliknya. Rei yang mengetahui hal itu langsung berlari memeluk Luhan.

 

Joon maupun Luhan terlihat tekejud ketika mendapati Rei yang langsung memeluk Luhan.

 

“Luhan-ah, oppa.

 

“Bagaiman ini?”

 

“Sehun tak mau bangun.” Kembali Rei menumpahkan air matanya pada bahu Luhan yang membuat pertahanan Luhan runtuh dan membalas pelukan Rei.

 

“Dia pasti akan bangun, kau harus terus berdoa dan jangan menangis. Apa kau sudah makan? Tubuhmu sangat dingin. Kau ingin aku membelikan sesuatu untukmu?” Rei menggeleng dalam pelukannya.

 

“Aku ingin Sehun segera bangun.” Ujarnya dengan sisa suara yang dimiliki Rei.

 

Luhan yang tanpa sengaja bertemu tatap dengan Joon begitu kaget dan hanya mampu menundukan kepalanya pada sekertaris Sehun.

 

Rei mulai melepas pelukannya pada Luhan dan berjalan keluar di ruang tunggu dan kembali menangis sesenggukan disana.

 

Tak hentinya kalimat dan permohonan untuk kesembuhan Sehun terucap dari bibir pucatnya. Rei belum makan sejak sarapan. Berbagai bujukan dan rayuan untuk Istirahat dan mengisi tenaga ia tolak.

 

Hal ini cukup membuat Rei terpukul, sejak ingatannya kembali dia ingin mengatakan kebenarannya. Bahwa ingatannya sudah kembali dan ingin melihat respon Sehun. Namun semua itu terlambat. Rei menyesali kebodohannya dan membuatnya tersiksa sendirian.

 

“Kenapa kau seperti ini Rei, ini tidak seperti dirimu.” Ujar Luhan tiba – tiba.

 

“Kau benar Lu, ini memang tidak seperti diriku.”

 

“Kau tahu, bahwa aku kehilangan ingatanku bukan?” ucapnya lagi.

 

“Hmm, aku tahu.” Jawab Luhan sambil mengambil tempat duduk di sebelah kanan Rei.

 

“Dan beberapa hari ini aku mendapatkannya lagi, ingatan menyakitkan itu.” Rei kembali meneteskan air matanya. Entah sudah berapa air mata yang terbuang hari ini hanya untuk seorang Oh Sehun. Tapi air mata itu pun tak kunjung berhenti.

 

Luhan menatap Rei terkejud namun Rei hanya mampu menutup wajahnya sambil berpanggu tangan pada lututnya.

 

“Lalu, apa Sehun mengetahuinya?”

 

“Aku belum sempat jujur padanya…”

 

“Aku takut mengetahui bahwa fakta dia menikahiku hanya menjadi dokter pribadiku, dan ketika aku sudah pulih dengan semua penyakit ini, dia akan meninggalkanku… aku belum siap dengan semua itu Lu.”

 

Luhan masih menatap Rei dengan suara serak dan mata sembabnya. Hampir pagi dan Rei belum memejamkan matanya sedetikpun.

 

“Rei, kau harus istirahat.” Ujar Luhan. Tak tahan melihat betapa mengerikannya Rei saat ini.

 

Lalu melihat pakaian Rei yang sangat minim membuat Luhan melepaskan jaketnya dan menutupi paha Rei yang setengah terekspose. “Kenapa kau pakai baju lusuh dan pendek itu.” Rei bergeming dan hanya mampu meneteskan air mata dan menutup wajahnya.

perfectionis 11.jpg

“Apa sekertaris Sehun sudah pulang?”

 

“Kau fikir ini jam berapa, tentu saja dia sudah pulang.” Jawab Luhan dengan nada menyebalkannya.

 

“Kau masih bisa berbicara seperti itu?” Rei masih dengan tanganya yang memegang sapu tangan milik luhan.

 

“Tidurlah, Sehun pasti bangun besok dan kau pasti ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya dari tidurnya.”

 

“Aku tak bisa tidur. Bagaimana aku bisa tidur?” Rei mengusap wajahnya. Luhan melihatnya, wajah memerah Rei karena terlalu lama menangis.

 

“Apa Sehun juga begitu padamu?”

 

Rei menolehkan pandangannya pada Luhan yang sedari tadi menatapnya. Mendapat tatapan bingung dari Rei, Luhan kembali melanjutkan pertanyaanya.

 

“Apa Sehun juga menantimu bangun sambil menangis dan menjadi orang pertama yang kau lihat?” air matanya sudah di pelupuk mata.

 

“Luhan-ahh.” Mendapat tatapan tak biasa dari Luhan, Rei mulai bersuara.

 

“Ini bukan so—“

 

“Kumohon!” Rei kembali terintrupsi suara Luhan.

 

“Kumohon jangan seperti ini, aku tak sanggup melihatnya.” Air matanya mulai berjatuhan. Rei ikut menangis melihat air mata tulus Luhan yang meskipun badai menerjang dia tak akan pernah meneteskan air mata dihadapnnya. Dan kini, Rei melihat air mata Luhan jatuh begitu saja.

 

“Apa dia perduli bagaimana menderitanya kau ketika tak mampu mengingat semuanya, apa dia tahu bagaimana rasa sakitmu jatuh dari tangga, apa dia bahkan menjengukmu barang sedetik saja. Apakah dia orang pertama yang kau lihat saat bangun dari tidurmu. Apa dia bahkan mengingatmu ketika dia sedang sibu bekerja? Katakan padaku Rei apa yang kau suka hingga kau seperti ini bahkan untuk Sehun yang bahkan melupakan kenyataan bahwa dia telah menikahimu!”

 

Rei menatap Luhan diam dengan linangan air mata yang tak mampu lagi terbendung. Luhan dengan wajah memerahnya masih menatapa Rei tajam.

 

“Harus seperti apa lagi aku membuka matamu pada Sehun Rei. Apakah dia seperti pangeran impianmu?”

 

“Kumohon… jangan seperti ini, kau sudah melangkah sejauh ini tanpanya dan lihatlah dirimu sekarang. Lima tahun tanpa mengingatnya kau bisa maju sepesat ini. Kenapa kau harus begitu bersedih karenanya Rei?”

 

Ungkapan Luhan itu membuatnya menatap pilu pada Luhan. Mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Luhan dan hampir semuanya benar. Entah apa yang membuat Rei begitu jatuh cinta pada Sehun tapi perasaan itu tiba – tiba saja menggerogoti relung hatinya. Meskipun begitu, dari semua kalimat itu tersirat ‘aku mencintaimu Rei’. Namun tak dapat diungkapkan di saat seperti ini.

 

“Lalu kenapa kau tak menyelamatkanku dan membawaku lari di hari pernikahanku?”

 

Untuk beberapa detik Luhan terdiam.

 

“Kau benar, aku menyesal tak melakukannya.” Luhan berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Rei sendiri dengan rasa terkejutnya.

 

“Kau harusnya mengatakan hal itu lebih awal Luhan.” Air mata Rei kembali tumpah.

 

***

 

06.30 KST

2 April 2017

Hospital

 

Rei belum mampu memejamkan matanya barang sedetikpun. Hal yang dilakukannya sejak tadi malam adalah memandangi Sehun dan mengenggam erat tangannya. Berharap beberapa menit yang akan datang Sehun akan membuka matanya.

 

Matanya sudah sangat merah dan perih, kantung matanya menghitam, bibirnya memutih pucat. Bajunya pun masih sama, bahkan menjadi lebih kusut.

 

Sebegitu sedihkah Rei melihat Sehun terbaring seperti ini?

 

Air matanya mulai menetes.

 

Bagaimana seharusnya dia menghadapi semua perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Mengatasi rasa perih karena dihadapkan kenyataan perih yang membuat matanya tak mampu memejam.

 

Rasa sakit dibadan sudah tak mampu dirasakannya lagi. Melihat tangan dan kaki Sehun remuk seperti ini membuat hatinya teriris. Sehun bukanlah seorang yang teledor seperti ini, tak pernah dalam sejarah hidupnya Sehun terluka dan sakit separah ini. Sehun orang yang cerdas, dia juga seorang dokter. Apalagi yang perlu diragukan dari Sehun. Tapi mengapa semuanya begitu tiba-tiba.

 

“Nyonya, kumohon anda harus istirahat. Anda tidak boleh menangis terus menerus. Anda bisa sakit.” Ujar Shin Ahjumma mencoba membujuk Rei.

 

Rei sudah tak mampu lagi berkata – kata, tenggorokannya sudah kering dan suaranya terlalu parau. Rei masih enggan melepas tangan Sehun. Ia mencoba melawan pening yang beberapa jam lalu ia rasakan.

 

“Anda harus makan nyonya. Kumohon?!” Shin ahjumma kembali berujar.

 

Ahjummaa…”

 

“Kenapa Sehun tak mau membuka matanya?”

 

“Apa dia membenciku?”

 

Air matanya kembali menjadi sungai deras di pipi…

 

“Argh!!!…” suara erangan itu datang dari seorang pria yang tertidur dengan selang infusenya.

 

“Sehun!!” teriakan Rei membuat seisi ruangan terkejut.

 

Pria itu perlahan membuka matanya dan mendapati hal pertama yang ia lihat adalah istrinya. Rei.

 

Ahjummaa Sehun sadar!!” sesegera mungkin Rei menekan tombol call di atas tempat tidur Sehun dan beberapa detik kemudian dia tak bisa merasakan tanganya dan semuanya gelap.

 

 

 

Haiii haiii…

Jihyoen balik buat kalean semua, meskipun update ff ini ngareet banget.

Btw aku mau nanya, enak di kasih tempat waktu dan tanggal apa kita biarkan cerita ini mengalir begitu saja?

Please tinggalkan jejak ya

Pai pai ~ hyoeni undur diri

 

 

17 responses to “PERFECTIONIS (CHAPTER 11)

  1. Finalllyyyy😘😘😘 ditunggu banget ff ini selalu.. Dan updatenya ya ampun selalu sukses bikin baperr.. Kalo menurut aku sih enak dikasih tanggal dan tempaat biar jelasss bacanyaaa.. Semangaaat authorniimm.. Ditunggu selalu update dan ff lainnyaaa

    • makasih hyonieee, maaf kan aku selalu telat update karena aku full of moody so aku harus nurutin mood gmna biar bisa ngefeel ceritanya hehehe

  2. Sedih amat sih kisah cinta nya
    Sehun lagi segitu amat sama rei
    Nanti ditinggalkan rei baru tau perasaannya yg sebenarnya sma rei

  3. Sedih amat sih kisah cinta nya
    Sehun lagi segitu amat sama rei
    Nanti ditinggalkan rei baru tau perasaannya yg sebenarnya sma rei

  4. Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, segitu cintanya Rei sama Sehun bikin Rei ngga bisa tidur dan berenti nangis. Semoga ff ini happy ending.

  5. Akhirnyaaa di update juga..
    Makasiiiii author untuk updatenya..huhuhu ku senang sekali..
    Ceritanya makin oke, dan makin sediih apalagi pas bagian akhir reinya harus pingsan dan tiba2 ceritanya selesai..
    Ditunggu updatenya yaaa

  6. Akhirnya yabg dinanti update juga,so sad lihat sehun
    Mending dikasih tanggal,tempat biar jelas
    Ditunggu update nya,semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s