[Vignette] Kenangan Pahit by ShanShoo

d3f814050826dfd8b138dcb83f10d911--exo-jongin-kai-exo

ShanShoo’s present

 

Kim Jongin x OC

 

-o-

 

Note : fanfiksi ini nggak disarankan buat yang nggak suka sama bahasa nonbaku. Sekian.

WordPress : ShanShoo ||Wattpad : Ikhsaniaty

-o-

“Masih siang, udah ujan aja.” Nayoung mengembuskan napas lelah, sesaat setelah ia menapaki lantai di bangunan utama Fakultas Ekonomi, tempat ia menimba ilmu. Gadis itu baru saja menyelesaikan acara perkuliahannya tadi pagi. Dan berhubung dosen pengajar selanjutnya berhalangan hadir, Nayoung memilih untuk segera angkat kaki dari sana kemudian bersiap untuk melanjutkan tugas individu yang diberikan oleh dosen sebelumnya tempo hari. Tetapi, takdir seolah menyalahi keinginan. Nayoung dibuat kesal karena kini, ia terpaksa harus menghentikan langkah terburunya dan berdiam di bawah atap fakultas, menunggu sampai hujan yang cukup deras ini mereda.

Nayoung memang sudah mendapat tawaran tumpangan untuk pulang bersama dengan salah satu teman sekelasnya, namun dia menolak, dengan alasan ia sudah terbiasa pergi dan pulang menggunakan bus. Yah, lagi pula, mana mau ia pulang bersama dengan temannya itu, kalau kenyataannya saja temannya itu juga hendak menjemput pacarnya yang masih duduk di bangku SMA. Nayoung tentu tidak ingin menjadi obat nyamuk dadakan. Ada, tapi tidak perlu diperhatikan.

“Sendirian terus. Nggak takut, emang?” Nayoung tidak perlu repot-repot untuk menoleh sekadar melihat siapa seseorang yang baru saja menyapanya dengan nada jenaka.

Dia Jongin. Laki-laki berambut hitam kelam itu merupakan mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Bisnis, yang kebetulan sedang ada urusan di Fakultas Ekonomi, tempat Nayoung berada. Dan, Nayoung sudah mengetahui pula urusan apa yang sering Jongin lakukan di sana. Apalagi kalau bukan bolos jam mata kuliah bersama teman-temannya?

Sedari dulu, kabar tentang makanan di kantin FE yang lebih nikmat dibandingkan fakultas lainnya tidak dapat terelakkan lagi. Hampir semua mahasiswa di seluruh penjuru fakultas memilih untuk nangkring di sana, menghabiskan waktu sampai jam istirahat selesai, atau jam pulang tiba. Itulah sebabnya, mengapa ada banyak sekali pihak yang meminta agar kantin FE diperluas lagi. Dan kini, permintaan itu sudah terkabulkan.

“Nggak,” sahut Nayoung, masam, dan tanpa menatap balik Jongin di sampingnya.

“Dih, jutek gitu. Pantesan aja, sampai sekarang, gue belum pernah lihat lo jalan bareng cowok lain.” Jongin menyahut dengan nada sarkastis, membuat Nayoung menggigit bibir bawahnya, menahan jengkel.

“Hidup, hidup gue, lo nggak usah ikut campur.”

“Iya, emang.” Derai tawa laki-laki itu terdengar. “Tapi kan, seenggaknya, gue juga pernah kali, mengisi dan ikut campur sama kehidupan lo itu,” katanya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya kepada Nayoung.

Ucapan Jongin yang satu itu, memang tidak ada salahnya.

Iya, Jongin dulu memang pernah menjadi bagian paling penting bagi hidupnya, pun sebaliknya. Sampai-sampai, kisah percintaan mereka berdua menyebar luas, serupa kabar artis tanah air yang sedang menjalin asmara dengan sesama profesi. Paras mereka yang sama-sama menawan tentu saja menjadi poin utama akan tenarnya status mereka.

Ada banyak sekali mahasiswa yang tak henti membicarakan kehidupan mereka berdua. Dimulai dari Nayoung yang sering diantar-jemput Jongin, Nayoung yang diajak Jongin pergi ke mall, mereka berdua yang kedapatan sedang saling menyuapi di warung nasi dekat fakultas, sampai dengan cerita berakhirnya hubungan mereka, karena Jongin yang ketahuan mencium mesra seorang gadis lain di salah satu restoran ternama ibu kota.

Nayoung mengetahui kabar buruk itu tidak secara langsung, melainkan dari para mahasiswa itu sendiri yang hobi sekali mengusik kehidupan pribadi orang lain. Dan, hanya untuk kali itu saja, Nayoung tidak mempermasalahkannya. Karena dengan begitu, setidaknya ia mempunyai informan secara tidak langsung, kemudian bertanya secara langsung kepada yang bersangkutan tentang gosip yang beredar.

Apa yang diterima dari pertanyaan Nayoung kala itu adalah, Jongin mengakuinya. Dan itu membuat Nayoung galau dan menangis berkepanjangan.

Kala Nayoung memikirkan tentang kenangan masa lalunya bersama Jongin, Nayoung merasa seperti sedang menelan kopi tanpa gula dan seduhan air panas. Pahit, dan Nayoung tidak ingin menelan rasa pahit itu sedikit pun.

“Bacot.” Nayoung membuang muka ke mana pun, asal tidak lagi menatap wajah Jongin.

Hujan masih setia menemani kegundahan hati Nayoung, serta senyuman muram yang terpatri di bibir Jongin.

“Udah nggak ada kelas lagi, emang?” tanya Jongin, mencoba berbasa-basi.

“Mm.” Nayoung hanya menyahutinya dengan gumaman pendek.

“Tadi gue lihat, Wendy pulang sendirian, lo nggak mau bareng gitu, sama dia?”

“Kagak.” Desahan napasnya terdengar panjang dan penuh paksaan. “Lagian, gue nggak mau jadi obat nyamuk buat Wendy sama pacarnya Chanyeol, temen lo.” ah, ya. Wendy juga merupakan teman sekelasnya, dan ia sudah memiliki pacar bernama Chanyeol. Nayoung jadi heran, bagaimana bisa Wendy menyukai sosok laki-laki yang belangnya sudah kelihatan dari menara api.

Sama seperti Jongin—ah, sudahlah. Nayoung tidak ingin menelan kopi pahit itu lagi.

Jongin tertawa kecil. Tawa yang selalu terlontar bila ia mendengar Nayoung kesal karena ucapannya. “Iya, gue tahu. Tapi kan, lo bisa pulang cepat. Daripada nunggu nggak jelas di sini…”

“Terserah gue, ya, Jong. Lo nggak usah atur-atur gue!” tukas Nayoung sewot. Ia menengadahkan wajah, melihat langit yang masih setia berwarna kelabu, sementara rintikan air hujan masih saja terlihat, seolah tidak akan ada tanda-tanda mereda.

“Iya, terserah lo, Tuan Putri.” Jongin menyahut, seraya membenahi posisi tali tas gandong yang tersampir di sebelah bahunya saja. “Kalau begitu, lo pulang bareng gue aja, yuk!” ajak Jongin, tidak menyadari kalau perubahan mimik Nayoung terkesan horror. Bukan karena gadis itu takut, namun ia tidak menyangka Jongin masih berani menawarinya tumpangan untuk pulang, di saat luka lama itu belum kunjung sembuh total.

Nayoung menoleh, menyipitkan mata saat menatap Jongin. “Lo tuh… bego apa gimana, sih?” tanyanya bengis. “Udah jelas-jelas, kita udah nggak ada hubungan lagi. Udah nggak ada ‘kita’ di antara gue sama lo. Jadi, kenapa?”

“Jadi, kenapa?” Jongin mengulang kalimat terakhir gadis itu.

Belum ada kata yang terlontar, hanya desisan sebal dari bibir gadis bertubuh mungil tersebut. “Udah, ah. Debat sama lo mah nggak bakalan pernah kelar. Capek gue. Lo waktu itu salah pun, lo susah banget buat mengakui.”

Jongin tersenyum muram. “Segitu bencinya, ya, lo sama gue?”

“Menurut lo?”

Hening.

Tak disangka-sangka, hujan pun berhenti. Diam-diam, Nayoung mengembuskan napas lega. Ia jadi tidak perlu terjebak bersama sosok yang sudah menyumbangkan kenangan pahit untuknya itu, lebih lama lagi.

Baru saja Nayoung hendak melangkah, lengannya sudah dicekal lebih dulu oleh sosok yang semakin dibencinya. Nayoung ingin melepaskan cekalan tangan itu, tetapi tenaganya jauh lebih lemah dibandingkan Jongin.

“Apa lagi, sih, Jong? Gue mau pulang!” tekan Nayoung di akhir kata.

“Iya, gue tahu, lo mau pulang. Tapi, sekali ini aja, lo pulang bareng gue, ya?” pinta Jongin, nada bicaranya terkesan serius. Dan itu tandanya, Jongin benar-benar ingin mengajaknya pulang bersama.

“Kenapa?” Nayoung merasakan ada sesuatu yang panas dan mendesak di kedua bola matanya. Pada akhirnya, dengan segenap tenaga yang ia punya, ia berhasil melepaskan tangan Jongin dari lengannya.

Jongin menatap Nayoung, mengembuskan napas pelan dan berujar, “Karena… gue kangen lo.”

Tanpa banyak berpikir, Nayoung menyahut dingin. “Tapi gue nggak.”

“Nay…” Jongin tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menghentikan tatapan penuh kebencian Nayoung serta nada bicaranya yang sangat dingin. “Gue tahu, lo benci banget sama gue karena kesalahan gue sendiri. Gue benar-benar minta maaf, Nay. Gue nggak bermaksud buat nyakitin lo…”

“Terus apa kalo bukan buat nyakitin?” Nayoung meloloskan setetes bulir bening dari mata kirinya, lantas mengusapnya dengan kasar. “Mau buktiin, kalau cewek lo bukan cuma gue aja, iya?”

“Nay…” Jongin menekan bibirnya ke dalam satu garis tipis. Ucapan Nayoung tentu menyakiti hatinya, meski tidak sebanding dengan perlakuannya yang sudah sangat keterlaluan terhadap gadis itu.

Lambat laun, beberapa mahasiswa yang mulai tampak di beberapa belokan koridor. Mereka menyaksikan kedua insan muda itu seraya membisikkan kalimat tanya kepada teman seperjalanannya.

Baik Jongin maupun Nayoung mencoba untuk bersikap acuh tak acuh terhadap keberadaan mereka.

“Nay, lebih baik, kita hentikan perdebatan ini, ya? Sekarang kita pulang. Hawanya juga nggak enak. Takutnya lo sakit…”

“Berhenti bertingkah, seakan kita masih pacaran, Jong.” Nayoung tersenyum miris. “Keyakinan gue udah bulat. Pertahanan gue nggak bakalan goyah hanya karena ini.”

Jongin terdiam.

“Gue udah cukup kebal buat ngadepin situasi macam ini.” Nayoung memejamkan matanya sejenak. “Jadi, mendingan, lo biarin gue pergi. Karena gue…” kedua mata mereka saling bertemu. “Gue udah nggak mau terlibat apa-apa lagi sama lo.”

Nayoung berbalik, melangkahkan kakinya lebar-lebar di bawah rintikan gerimis yang membasahi kepalanya secara perlahan.

Sekuat apa pun keinginannya untuk menahan tangisan, pada akhirnya, ia tetap menangis. Meluapkan seluruh emosinya lewat tangisan yang entah kapan akan berakhir.

Masa bodoh dengan perhatian publik.

Masa bodoh dengan gosip baru tentang dirinya yang kembali hangat.

Intinya, Nayoung ingin menggunakan waktu paling berharga ini untuk menangis, sebelum esok hari, ia mulai kembali membuka lembaran baru.

Tanpa Jongin.

Tanpa kopi pahit yang dibencinya.

 

 

 

-Fin.

 

 

a/n : cieecieeee, sok-sokan banget yha Isan bikin cerita melow begini xD

iya tahu, ceritanya nggak ngena. Udah, nggak usah diomongin xD

tapi boleh dong, minta krisarnya? X)

oiya, kunjungi juga wattpad Isan yuk. Sudah tercantum di bagian atas 😉

sekian dan terima kasih ❤

4 responses to “[Vignette] Kenangan Pahit by ShanShoo

  1. Baguss!! Gamau bikin kelanjutannya?:( btw kayaknya lebih enak kalo bahasanya formal deh?? eh apa karena aku kebiasa baca ff bacanya bahasa formal jadi pas baca yg bahasa sehari2 aneh🤔But overall bagusss! dapet feelnya❤️Moga dilanjuttt😭

    • hehe makasih yaa x))
      kelanjutannya? entahlah. rasanya cerita mereka sampai di sini aja udah cukup x) nayoung udah nggak mau berurusan sama jongin lagi /plakk/
      iya, ini percakapannya pakai bahasa sehari-hari karena ceritanya di ambil di latar indonesia alias exo rasa lokal, hehe x) maaf ya kalo nggak suka x((
      tapi makasih udah menyempatkan buat baca dan berkomentar x))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s