[SANGHEERA] DRAMARAMA

DRAMARAMA

DRAMARAMA

Cast :: Chae Hyungwon, Yoo Kihyun, Im Changkyun, Lee Minhyuk, Lee Jooheon, Wonho, Son Hyunwoo

Support Cast :: Cheon Sera (OC)

Genre :: Fantasy, Sci-fi, Family, Friendship, AU

Rating :: PG-15

Length :: Oneshoot

Recommended Song :: MONSTA X – DRAMARAMA, MONSTA X – IN TIME, MONSTA X – NOW OR NEVER, MONSTA X – FROM ZERO, WANNA ONE – BEAUTIFUL, LEE JUCK – DON’T WORRY (OST. REPLY 1988)

Inspired by MONSTA X’s new Music Video DRAMARAMA. Silahkan klik disini kalau mau nonton ^^ https://www.youtube.com/watch?v=r1afdZk0qcI

Ps :: Tolong luangkan 4 menit waktu kamu buat lihat Music Videonya ya ^^ itu akan bantu kamu buat memahami jalan cerita fanfict ini, dan aku jamin kamu gak bakal nyesel nonton MV-nya karena MV DRAMARAMA itu bener-bener masterpiece!! KEREN!!! Mungkin Dramarama versi fanfictionku ini bakal agak membingungkan, soalnya berbeda dari MV Dramarama yang sepertinya ambil point of view langsung dari ketujuh member Monsta X yang berperan disitu, di fanfict ini aku Cuma ambil point of view dari Hyungwon, sang pemilik arloji. Aku mencoba menceritakan apa motivasi Hyungwon ngasih jam-jam itu ke Kihyun, Wonho dan Minhyuk, hehe. Hyungwon bukan dewa, dia Cuma manusia biasa yang dikaruniai kemampuan menjelajah waktu dan ruang.

++++

+

Time warp are not allowed. Do not take any watches from C.H.W.

+

++++

— 2047 : Seoul, South Korea —

Ruangan besar itu begitu mewah. Dindingnya dilapisi kayu berpelitur dan perabotnya merupakan barang-barang klasik khas Eropa. Sebuah ranjang besar dengan kelambu berwarna marun, ditempatkan di tengah ruangan tersebut. Satu-satunya piranti yang mewakili era modern di tahun 2047 ini adalah sederetan hologram yang berpendar menampilkan berbagai statistic medis yang berada di samping ranjang besar itu.

Hyungwon masih berdiri di depan pintu yang tertutup. Ia melirik sekilas kepada seorang pria bersetelan jas hitam yang berdiri di belakangnya dengan tampang sangar, sebelum kemudian kembali mengarahkan tatapannya pada ranjang besar itu. Dari posisinya sekarang, Hyungwon tidak bisa melihat siapa orang yang berbaring disana dan memerlukan segala alat bantu medis itu, tapi ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa orang itu.

“Mendekatlah!”Perintah pria bersetelan jas mahal yang berdiri di sisi ranjang. “Tuan Yoo ingin berbicara denganmu.”

Tidak perlu diperintah dua kali, Hyungwon berjalan dengan langkah tenang mendekat ke arah ranjang itu. Setelah berada di sisi ranjang, baru lah ia bisa melihat dengan jelas seorang pria kurus dengan mata cekung dan wajah pucat berbaring tak berdaya di atas ranjang. Hyungwon tahu seharusnya pria ini baru memasuki usia awal 50 tahun, tapi karena penyakit kanker yang ia derita, membuatnya kehilangan segala daya yang dimiliki tubuhnya dan membuatnya tampak tak ada bedanya dengan pasien sekarat lainnya.

 “Aku dengar, kau tidak melakukan perlawanan sama sekali saat dibawa ke tempat ini. Apa kau sudah tahu bahwa kau akan bertemu denganku di tempat ini hari ini, Chae Hyungwon?”tanya Tuan Yoo dengan suaranya yang masih menyisakan kewibawaan yang kuat.

Hyungwon tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu. “Tidak. Saya hanya sudah menduga bahwa anda cepat atau lambat akan menemukan tempat keberadaan saya dan tak ada gunanya untuk melarikan diri. Lagipula, jika situasinya ternyata membahayakan diri saya, saya pasti sudah mendapatkan peringatan dari diri saya di masa depan. Tapi tidak ada peringatan apapun yang datang, jadi saya rasa perundingan kita hari ini akan berjalan lancar.”

Tuan Yoo melepaskan tawa lemahnya. “Geurae. Sesuatu seperti ini pasti bukan masalah untuk seorang time traveler seperti dirimu.”

“Dan ada sesuatu yang anda inginkan dari seorang time traveler seperti diri saya ini hingga anda harus repot-repot menyandera Wonho.”

“Wonho dalam keadaan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Lagipula, kau tidak akan bersedia menemuiku jika bukan karena aku menyandera Wonho, bukan?”

Hyungwon tak menjawab. Dan Tuan Yoo tahu bahwa tebakannya benar.

“Kau masih dendam padaku karena kejadian 20 tahun yang lalu?”tanya Tuan Yoo.

“Ne.”jawab Hyungwon terus terang.

Tuan Yoo mengulaskan senyum lemahnya sebelum kemudian terbatuk dan membuat asisten pribadinya—pria dengan setelan jas mahal yang selalu setia di sampingnya itu—dengan sigap beranjak mendekat.

“Aku tidak apa-apa,”ucap Tuan Yoo di sela batuknya, tangannya sedikit terangkat sebagai isyarat agar asistennya itu tidak perlu mendekat yang langsung dipatuhi oleh sang asisten.

“Pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang dan pengumuman ke seluruh negeri tentang larangan time warp. Dan kau sekarang telah resmi menjadi buronan seluruh negeri, bahkan dunia, Chae Hyungwon. Semua orang khawatir, keberadaanmu dan jam tangan yang kau ciptakan akan membuat sejarah dunia berubah. Bahkan ada perintah untuk menghabisimu di tempat jika keberadaanmu berhasil ditemukan. Kau bukan dewa, kan? Jika peluru menembus jantung atau kepalamu, kau pasti akan mati seperti manusia lainnya kan?”

Hyungwon lagi-lagi tak menjawab dan hanya menyunggingkan senyum miringnya.

“Tapi bagiku, kau dewa. Hanya kau yang bisa mewujudkan keinginanku saat ini.”Tuan Yoo menghembuskan napas beratnya sebelum melanjutkan, “Aku ingin kau merubah sejarah hidupku. Jadi mungkin, 20 tahun lalu aku tidak akan melakukan hal keji itu.”

Mata Hyungwon sedikit melebar mendengar permintaan Tuan Yoo. Hyungwon sebenarnya sudah menduga pasti Tuan Yoo menginginkan sesuatu dari Hyungwon dan itu pasti berhubungan dengan kemampuan time warp yang Hyungwon miliki ketika Hyungwon mendengar bahwa Wonho ditangkap oleh orang-orang Tuan Yoo dan bukannya oleh agen pemerintah. Demi Wonho, Hyungwon sudah bersiap untuk melakukan apapun yang diperintahkan oleh seorang mafia besar seperti Tuan Yoo bahkan jika itu adalah untuk menghabisi seseorang di masa lalu Tuan Yoo. Tapi ia tak menduga bahwa permintaan Tuan Yoo ini akan berhubungan dengan apa yang telah Tuan Yoo lakukan pada Hyungwon 20 tahun lalu.

“Apa yang harus saya lakukan?”tanya Hyungwon.

“Aku ingin kau menemui diriku di masa lalu. Seorang Yoo Kihyun muda yang hancur karena kepergian seorang sahabat yang sangat berharga baginya. Aku ingin kau menemui Yoo Kihyun muda dan membuatnya kembali ke masa lalu untuk mencegah kecelakaan itu.”Mata Tuan Yoo Kihyun berkaca-kaca mengingat kejadian 32 tahun silam itu. “Aku ingin menyelamatkan Jooheon.”

 

blanc2

 

— Unknown Time & Place —

Hyungwon berjalan tergesa menuju meja kerjanya. Sesampainya di sana, jemarinya langsung menggapai sebuah tombol on dan sedetik kemudian terpampanglah 6 buah layar hologram di depannya. Hyungwon menatap satu per satu layar hologram yang saat ini menampilkan halaman-halaman buku yang dipenuhi tulisan tangan. Kemudian jemari panjangnya mengetikkan kata kunci di keyboard hologram yang ada di atas mejanya.

May 14th, 2015

Dengan hentakan keras, Hyungwon menekan tombol Enter dan sedetik kemudian helaan napas keluar dari bibirnya.

Not Found!

Dua suku kata itu berkedip-kedip di seluruh layar hologram. Tidak ditemukan data apapun. Dari semua catatan perjalanan ruang dan waktu yang Hyungwon buat selama ini, Hyungwon tak memiliki rekaman tertulis pada hari itu.

Pria berwajah tampan itu terduduk di kursi kerjanya, terkejut dengan hasil yang terpampang di hadapannya.

“Jadi aku melewatkan sesuatu,”gumam Hyungwon. “Bagaimana bisa aku melewatkan hal sepenting itu?”

Pada hari itu, tanggal 14 bulan Mei tahun 2015, Lee Jooheon meninggal karena kecelakaan mobil. Momen itu lah yang menurut Yoo Kihyun telah mengubah arah haluan hidupnya. Kehilangan sahabatnya membuatnya kehilangan pegangan, jatuh dalam kubangan rasa bersalah, dan membuatnya menjalani kehidupan hingga dirinya menjadi seorang Yoo Kihyun yang ditemui Hyungwon hari ini. Karena itulah Yoo Kihyun meminta Hyungwon untuk menemui Yoo Kihyun muda agar ia bisa kembali ke hari itu dan melakukan sesuatu yang bisa menyelamatkan Jooheon. Dengan begitu kehidupannya akan berubah.

Dengan begitu…. Hyungwon mungkin juga bisa menyelamatkan orang yang dicintainya.

Hyungwon membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan dua buah jam tangan. Dengan perkakas yang ada di meja itu, Hyungwon membuka jam itu lalu mengotak-atik mesin di dalamnya.

Satu jam kemudian, barulah Hyungwon meletakkan perkakasnya. Mata beningnya menatap kearah jam tangan yang memiliki banyak detil rumit di dalamnya itu. Jam tangan itu memiliki kepala jam yang besar dan tampak klasik dengan ikat kulit berwarna coklat. Di dalamnya tidak hanya ada sepasang jarum jam yang bergerak, tapi ada 3 pasang dan semuanya bergerak melalui porosnya masing-masing dan dengan fungsinya masing-masing. Dan yang paling menonjol adalah 4 buah penunjuk angka yang bersisian disamping jarum jam itu.

Hyungwon perlahan memutar setiap jarum jam sesuai dengan waktu yang diinginkan, dan memutar ke empat digit angka itu hingga membentuk deretan angka 2, 0, 1, dan 7. Hyungwon juga melakukan hal yang sama pada jam satunya.

95e75d9c9f2c2169b4e97ff42c89cb4cb38ceaeb_00

Sejenak, pemuda tampan itu memandangi kedua jarum tangan itu. Sebelum ia memasukkan salah satu jam tangan itu ke dalam saku. Hyungwon mengusap satu jam tangan yang ada di tangannya dengan jemarinya. Hatinya masih tak berhenti bergejolak setiap kali ia akan melakukan perjalanan waktu yang mungkin bisa merubah jalan hidupnya dan orang-orang di sekitarnya ini. Hyungwon mungkin tak akan kembali ke tempat ini, mungkin dia akan menjadi sosok yang berbeda setelah apa yang ia lakukan nanti.

Tapi, Hyungwon tidak peduli. Seperti halnya Yoo Kihyun, ada seseorang yang ingin Hyungwon selamatkan. Jika ini bisa mewujudkan keinginannya, Hyungwon bersedia melakukan apapun.

Hyungwon menghela napas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Lalu ia menekan tombol yang ada di sisi jam dan…..

Lenyap.

 

blanc2

 

— 2017 – Seoul, South Korea —

“Ini pesanan anda.”

Hyungwon menoleh ke seorang waitres yang mengantarkan pesanan seorang pria berkebangsaan inggris yang duduk di seberang mejanya.

“Lee Minhyuk,”batin Hyungwon saat membaca nama yang tertulis di nametag waitres tersebut. Pria tampan bersetelan jas rapi itu menyesap kopinya dalam diam. Hyungwon merasa tak perlu lagi berlama-lama berada di Café bernama Traveler itu. Apa yang ia cari, sudah ia temukan.

Hyungwon beranjak, membiarkan kopinya tersisa, tidak ia habiskan. Sebuah jam tangan juga ia tinggalkan di atas meja.

Hyungwon tahu, waitres bernama Lee Minhyuk itu akan mengambilnya.

 

blanc2

 

— 2017 : Another part of Seoul, South Korea —

Tetesan hujan pertama turun ketika Hyungwon tiba di sebuah kawasan pertokoan yang sepi. Mendung dan gedung-gedung di sekitarnya yang tampak kurang terawat membuat suasana terasa semakin suram. Kaki panjang pria bersetelan jas mahal itu melangkah menuju sebuah gedung berlantai 4 yang ada di ujung jalan. Sesampainya disana, Hyungwon langsung masuk dan menaiki tangga menuju lantai atas. Gedung itu sepi, penerangannya yang terang membuat retakan dan cat yang mengelupas di dinding terlihat jelas.

Hyungwon berhenti di lantai 2 dan membuka sebuah pintu menuju sebuah locket dimana seorang pria berambut coklat duduk di dalam ruangan, menghadap jendela besar yang ada dihadapannya. Hyungwon mengenali pria itu sebagai Yoo Kihyun muda.

Yoo Kihyun tersentak saat Hyungwon mengetuk kaca loketnya. Sepertinya ia barusan sedang melamun dan tenggelam dalam pikirannya. Dan dilihat dari wajah piasnya, Hyungwon bisa menebak apa yang ada dipikiran Yoo Kihyun saat ini.

Tanpa bicara sepatah katapun, Hyungwon mengangsurkan jam tangan buatannya dari lubang loket dan langsung melangkah pergi. Meninggalkan Kihyun yang kebingungan karena tiba-tiba diberi jam tangan dengan bentuk yang aneh itu.

Kihyun mengamati jam tangan itu. Meneliti tiap detil yang ada di kepala jamnya. Angka 2017 yang tertera jelas di jam tangan itu terasa ganjil. Baru kali ini ada jam tangan yang lebih menonjolkan tampilan tahun daripada jam.

“Terlihat seperti mesin waktu,”batin Kihyun yang kemudian membuat dirinya sendiri tersenyum kecut karena pikiran anehnya itu. Tapi, meski menyadari betapa konyol apa yang ada di pikirannya tentang jam tangan yang ditinggalkan pria asing bersetelan rapi ke padanya itu, Kihyun tetap memutar tombol disisi jam dan mengganti angka keempat dengan angka 5.

2015.

Kihyun tercenung. Ia kembali teringat pada pemuda yang selama bertahun-tahun menjadi saudara dan sekaligus sahabat terbaiknya itu. Teringat bahwa karena dirinya lah, Jooheon harus pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Meninggalkan kesedihan yang mendalam pada keluarganya, dan luka hati yang menganga lebar dan menyesakkan pada diri Kihyun.

“Alangkah bagusnya jika jam ini benar-benar mesin waktu, dan aku bisa kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan Jooheon. Lalu semua akan kembali normal. Ibu akan berhenti menangis. Dan aku….”Mata Kihyun berkaca-kaca. “…aku akan baik-baik saja.”

 

blanc2

 

Langkah Hyungwon terhenti. Payungnya yang terkembang, melindunginya dari deras hujan yang turun di Kota Seoul hari ini. Di tengah jalan yang sepi, dibungkus oleh kelamnya malam, Hyungwon merasakan kedua jam miliknya bekerja.

Hyungwon menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya. Jam tangan yang sama yang ia berikan pada Lee Minhyuk dan Yoo Kihyun. Tapi jam tangan ini lebih istimewa karena dari pergerakan jarum jamnya, Hyungwon bisa tahu apa yang terjadi pada jam miliknya yang lain. Mata tajam pria itu kemudian beralih menatap derai hujan yang jatuh membasahi bumi, tapi sedetik kemudian keanehan terjadi.

Air hujan yang harusnya jatuh ke bumi, tiba-tiba butiran airnya kembali terangkat ke atas. Seolah hukum gravitasi sudah tak berlaku lagi. Tapi itu semua bukan karena gravitasi bumi yang tiba-tiba menghilang, melainkan karena waktu yang diputar kembali ke masa lalu.

Ya. Lee Minhyuk telah menggunakan jam yang Hyungwon berikan. Begitu pula dengan Yoo Kihyun.

Sudah saatnya sejarah diubah. Kenangan diganti. Waktu kembali ke tahun 2015.

-MONSTA-X-DRAMARAMA-monsta-x-40824508-268-180

blanc2

 

— May 14th, 2015 – Seoul —

Yoo Kihyun memegangi kepalanya yang terasa pening. Ia menatap ke sekeliling, kebingungan mendapati dirinya tak lagi berada di ruang kerjanya. Kini Kihyun berada di pinggir sebuah jalan raya dan tidak ada satupun kendaraan yang lewat disana. Matahari pun bersinar begitu terik, seolah musim dingin telah disapu oleh musim panas dalam semalam.

Keanehan yang terjadi begitu tiba-tiba dan kepalanya yang masih terasa sakit membuat Kihyun tak mampu berpikir, ia baru menyadari situasinya sekarang saat tubuhnya berbalik dan mendapati sebuah mobil yang terbalik dalam keadaan hancur di belakangnya.

Mata Kihyun membelalak. “Tidak mungkin!,”gumamnya. “Tidak mungkin. Tidak mungkin!”

Kihyun terus menggumamkan kata-kata yang sama, sembari kakinya mulai berlari menuju mobil itu. Jantungnya berdetak keras. Tangannya entah kenapa terasa begitu dingin hingga Kihyun mengepalkannya kuat-kuat.

Sesampainya di samping mobil yang baru saja mengalami kecelakaan parah itu, Kihyun berjongkok dan melihat ke dalam mobil lewat jendela yang kacanya sudah sepenuhnya pecah.

“Jooheon-a!!”pekiknya, setelah melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. “YAAK!! LEE JOOHEON!!!! YAAAAAAK!!!”Kihyun dilanda kepanikan. Tubuh Jooheon masih dalam posisi terbalik, tertahan oleh seatbelt-nya. Matanya terpejam. Tak bergerak. Sekujur tubuhnya penuh luka. Dan tak perlu menjadi dokter untuk tahu bahwa luka yang ada di kepala Jooheon sangatlah parah.

Tangan Kihyun gemetar dan dia mulai menangis histeris saat ia menyentuh tubuh Jooheon yang terasa dingin. Napas tak lagi terhembus dari hidung Jooheon.

“Jooheon-a… ireona…. Jebaaal….”mohon Kihyun di sela tangisannya yang pilu. Kihyun merutuk dalam hati. Kenapa ia kembali di saat Jooheon sudah dalam keadaan seperti ini? Bukankah jam itu… ya, jam itu yang membawanya kemari…

Tunggu dulu!

Jika jam tangan itu bisa membawanya dari tahun 2017 kembali ke tahun 2015, bukankah itu berarti jam tangan ini bisa membawanya ke-satu detik, satu menit, satu jam… sebelum semua ini terjadi??

Kihyun mengangkat kepalanya. Jam tangan itu masih dalam genggamannya. Ia sejenak mengamati jam itu. Keningnya mengeryit karena tidak mengerti dengan cara kerja 3 jarum jam yang ada di dalam jam itu. Tapi, Kihyun tidak punya jalan lain selain mencobanya. Ia memutar-mutar tombol di sisi jam hanya berdasarkan pada feelingnya, lalu memencet kembali tombol itu.

Dan ia menghilang.

Kihyun merasakan tubuhnya tersedot di dalam lubang yang begitu sempit hingga ia yakin seluruh tubuhnya menciut saat ia menyusuri lubang gelap itu. Semua itu terjadi begitu cepat, hanya sepersekian detik sebelum kemudian Kihyun sudah muncul kembali di sebuah jalan raya.

Pria berambut coklat itu baru saja membuka mata, rasa pening di kepalanya bahkan belum sempat mereda saat sebuah mobil sedan melewatinya dengan kecepatan tinggi. Kihyun terhenyak, tapi kemudian ia tersadar bahwa mobil bercat hitam itu adalah mobil milik Jooheon.

Andwae, Jooheon-a!!”teriak Kihyun yang lalu berbalik dan mengejar mobil itu sekuat tenaga.

DAR!!!

Terdengar suara ban meletus yang membuat Kihyun terkejut. Laju larinya terhenti, matanya membelalak semakin lebar saat melihat mobil Jooheon menjadi tak terkendali, dan terguling hingga beberapa kali. Suara body mobil yang berbenturan dengan kerasnya aspal membuat telinga Kihyun berdenging dan dadanya sesak.

Kaki Kihyun terasa lemas. Ia terduduk di aspal. Napasnya belum teratur setelah ia berlari seperti kesetanan tadi.

Sekali lagi. Ia tidak berhasil menyelamatkan Jooheon. Timingnya masih salah. Jadi, Kihyun memutar lagi jarum jam tangannya.

Kihyun kembali menghilang, dan kembali muncul di jalanan sepi tempat Jooheon mengalami kecelakaan itu. Dan lagi-lagi, mobil Jooheon melewatinya tanpa sempat Kihyun hentikan. Dan kecelakaan itu kembali terjadi.

Lagi.

Kihyun tak putus asa. Ia memutar jarum jam. Lalu kembali menghilang.

 

blanc2

 

— 2015, Gwangju – South Korea —

Im Changkyun berjalan tergesa menyusuri daerah pemukiman padat tempatnya tinggal. Gang di pemukiman itu sempit. Rumah-rumah bercampur dengan toko kelontong dan restoran kecil. Tapi sore itu, jalanan begitu lenggang. Orang-orang sepertinya enggan keluar rumah sehabis hujan mengguyur daerah itu sejak semalam.

Changkyun melihat jam tangannya, lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah. “Seharusnya hyung sudah ada disini,”batin Changkyun gelisah.

Semalam, di tengah derasnya hujan, seorang pria mengetuk pintu rumah mungilnya.

“Kau… Apa yang kau lakukan hujan-hujan begini, eo?”tanya Changkyun sembari menarik pria itu masuk ke rumahnya. Changkyun segera mengambilkan handuk kering, dan mengangsurkan pada pria itu untuk segera mengeringkan rambutnya yang basah. Ia juga membantu pria itu membuka jas basahnya dan menggantungnya di gantungan baju yang ada di kamar mandi.

“Lepaskan kemeja dan celanamu juga, aku akan mengambilkan bajuku yang kering,”ujar Changkyun.

“Aku tidak punya waktu untuk itu, hyung. Duduklah sebentar, ada yang akan aku katakan padamu.”

“Sebentar, kau mau kubuatkan coklat panas?”

Hyuuuung! Aku ini sudah nyaris 40 sekarang, aku sekarang bahkan lebih tua daripada hyung, tau? Jangan perlakukan aku seperti Hyungwon kecil.”

Changkyun nampak terkejut, ia mengamati pria tampan yang duduk di lantai rumahnya itu, lalu desahan panjang keluar dari bibirnya. “Bahkan dengan wujud seperti ini, aku masih melihatmu sebagai Chae Hyungwon, anak kecil umur 10 tahun yang sombong dan konyol, yang suka merengek pada noona-nya dan mengajak Hyunwoo hyung bertanding kendo untuk kemudian menangis karena kalah.”

Aniya, aniya,”Hyungwon menggeleng kuat. “Aku tidak seperti itu.”

“Lihat… caramu mengelak masih persis sama seperti saat kau kecil, aighooo, apa kamu benar-benar tumbuh dewasa, Chae Hyungwon-ssi?”

“Apa hyung akan terus mengejekku, eo? Aku tidak datang kesini jauh-jauh dari masa depan untuk mendengar ejekanmu.”

Changkyun nyengir, “Melihatmu marah sudah cukup membuatku senang, Hyungwon-a.” Ia tertawa kecil saat melihat Hyungwon memanyunkan bibirnya. “Oke. Oke. Ayo katakan apa keperluanmu kali ini, hyung akan mendengarkan.”

“Hyung tidak boleh hanya mendengarkan, hyung harus membantuku.”

Arraseo, dasar bajingan kecil!”

“Besok ada yang harus kulakukan. Aku harus membawa seseorang ke masa lalu, dan membantunya menyelesaikan urusannya. Karena di masa depan, mesin waktu sudah dilarang pemerintah untuk digunakan oleh orang awam, aku khawatir agen pemerintah akan melacak jam tangan yang kugunakan dan merusak rencanaku.”

“Kau ingin aku menjadi pengalih mereka?”

Hyungwon tersenyum kecil. “Ini satu-satunya hal yang kusukai dari hyung. Hyung cepat mengerti apa maksudku.”

“Bilang saja kalau aku ini jenius, tidak usah menggunakan kalimat yang ribet seperti itu. Jadi aku akan kau berikan jam tangan itu atau bagaimana?”

“Tidak, bukan hyung yang akan menggunakannya. Pelacak mereka tidak terlalu canggih, tapi justru lebih mudah bagi mereka untuk melacak 2 jam yang digunakan di waktu yang berbeda. Karena itu, aku harus menggunakannya di waktu atau setidaknya di hari yang sama. Aku akan menggunakannya untuk membawa dua orang yang hidup di tahun 2017 kembali ke tahun 2015 ini. Salah satunya akan kuberi jam yang mudah dilacak dan aku akan memberikannya pada seseorang yang akan datang kepada hyung. Jadi, aku harap hyung dan orang itu mau menyibukkan para agen itu sebentar, sebelum mereka menyadari bahwa ada time traveler lain yang menggunakan jam itu hari itu.”

“Hmmm….”Changkyun mengangguk-anggukan kepala sembari memikirkan perkataan Hyungwon. “Aku mengerti. Jadi yang harus kulakukan hanya menemui orang dari masa depan itu, lalu membawanya menghindari para agen selama mungkin. Bagaimana jika kami tertangkap?”

“Tidak masalah, sebenarnya. Para agen tidak akan melukai kalian. Tugas mereka hanya mengambil jam tangan itu dan mengembalikan orang yang melakukan time warp ke waktu mereka yang semestinya,”jelas Hyungwon. “Dan, biasanya mereka akan menghapus ingatan pengguna time machine itu.”

Changkyun dan Hyungwon saling beradu pandang. Seperti yang Hyungwon katakan sebelumnya, Changkyun adalah orang yang mudah paham. Saat ini juga Changkyun merasakan sesuatu lewat tatapan Hyungwon yang tak biasa.

“Siapa orang yang akan kau kirimkan padaku itu, Hyungwon-a??”tanya Changkyun. “Apakah mungkin…. Aku mengenalnya??”

“Ne,”Jawab Hyungwon pelan. “Aku mencarinya selama bertahun-tahun dan akhirnya aku menemukannya. Ternyata dia tidak tinggal sejauh yang kita kira.”

Mata Changkyun sudah berkaca-kaca. Ia bisa menebak siapa orang yang Hyungwon maksud. “Jadi, orang itu…. Lee Minhyuk-ie hyung? Kau menemukannya?”

Hyungwon mengangguk, “Ne. Maaf karena aku memanfaatkan hubungan kalian dan mempertemukan kalian dalam keadaan seperti ini, hyung. Setelah ini aku janji akan mempertemukan hyung dengan saudara laki-laki hyung itu dengan cara yang benar.”

Changkyun menggeleng, “Tidak, Hyungwon-a. Terima kasih karena kau terus mencarinya untukku. Ini sudah lebih dari cukup.”

Ya.

Ini sudah lebih cukup.

Dipertemukan seperti ini sudah lebih dari cukup.

Changkyun menyambar lengan seorang pria yang sedang dikejar oleh tiga orang agen bersetelan jas hitam, dan membawa pria itu berlari bersamanya menyusuri tiap lorong pemukiman itu. Dadanya berdegup kencang, entah karena ia harus berlari, atau karena adrenalin yang terpacu akibat dikejar oleh agen-agen yang sepertinya terinspirasi oleh Men in Black itu, atau…. karena ia terlalu bahagia bisa bertemu dengan kakaknya. Yang jelas, Changkyun tak bisa menghentikan lekukan senyumnya saat ini.

“Sial!”umpat Lee Minhyuk. “Sebenarnya siapa orang-orang itu? Kenapa mereka mengejar kita?”tanyanya dengan napas yang masih terengah-engah. Saat ini Changkyun dan Minhyuk sedang bersembunyi di dekat sebuah tong sampah besar yang ada di salah satu lorong perumahan.

Changkyun mengedikkan dagunya ke arah jam tangan yang ada di genggaman Minhyuk. Minhyuk sepertinya tidak sadar bahwa sedari tadi ia menggenggam jam tangan itu erat-erat.

“Aaah… karena jam ini? Geurae, aku tadi sepertinya sedang berada di halte, dan sudah malam saat itu. Tapi kenapa tiba-tiba aku…”

“Ini, bukan saat yang tepat untuk menjelaskan, hyung!”Changkyun menepuk lutut Minhyuk, lalu berdiri. Di ujung lorong para Men in Black itu sudah melihat mereka, jadi mereka harus segera lari kembali. “Ayo, hyung!!”

Mata Minhyuk melebar. Ia sedikit tersentak saat Changkyun kembali menarik tangannya untuk berlari bersamanya.

Hyung?”gumam Lee Minhyuk.

 

blanc2

 

“Tidak ada gunanya,”gumam Hyungwon. Diam-diam ia mengawasi tiap pergerakan Kihyun. Ia juga mengikuti setiap perpindahan yang Kihyun lakukan. Ini sudah yang ketujuh kalinya. Kihyun bahkan sempat kembali ke waktu seminggu sebelum kecelakaan. Mendatangi Jooheon dengan cerita tentang dirinya yang datang dari masa depan dan Jooheon yang seminggu lagi akan tewas dalam kecelakaan mobil. Membuat Jooheon kesal dan mengira Kihyun sedang mabuk sampai berbicara melantur. Tapi sia-sia. Hari itu, tanggal 14 Mei, Jooheon tetap tewas dalam kecelakaan.

Meski mobil yang ia kendarai tidak hilang kendali karena kecelakaan, meski Jooheon tidak menyetir, tetap saja ia mati pada hari itu. Ada banyak scenario, dan manusia tak mungkin bisa menebak apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang.

Hyungwon memejamkan mata. Sebuah suara lembut yang begitu ia ingat terngiang di benaknya.

Kematian, kelahiran dan jodoh, bukan sesuatu yang bisa kita atur, Hyungwon-a. semua itu takdir Tuhan, hak prerogratif Tuhan yang tak bisa manusia ganggu gugat. Kau bisa melintasi ruang dan waktu, tapi kau bukanlah Tuhan. Dan kamu… tak akan bisa menjadi Tuhan.”

Hyungwon kembali membuka matanya. Ia melihat Kihyun yang baru saja muncul di tengah jalan, tampak terkejut saat ia melihat mobil Jooheon sudah terbanting-banting di atas aspal. Lagi-lagi Kihyun salah menentukan timingnya.

Pria tampan yang selalu mengenakan setelan formalnya itu, akhirnya memutuskan untuk berjalan ke arah Kihyun. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk terus menunggu Kihyun menyelamatkan Jooheon.

Kihyun yang berlari menuju mobil Jooheon yang terbalik dan rusak parah, terkejut saat melihat sosok Hyungwon yang berjalan berlawanan arah dengannya. Kihyun tidak terlalu jelas mengingatnya, tapi ia yakin sosok yang ia lewati adalah sosok yang sama yang telah memberinya jam tangan ajaib ini. Kihyun segera mengerem laju larinya, berbalik dan langsung menuju ke arah Hyungwon.

“Tunggu!!”

Langkah Hyungwon terhenti, dan beberapa saat kemudian Kihyun telah ada di hadapannya. Terbungkuk sambil memegangi kakinya yang terasa lemas akibat berlari dan napas yang terengah-engah.

“Kau… kau bisa menolongku, bukan?”

 Hyungwon diam. Tapi tatapannya lurus pada Kihyun.

“Aku… aku menggunakan jam tangan yang kau berikan. Dan jam tangan ini membuatku bisa kembali ke masa lalu. Jadi kau pasti bisa melakukan hal yang sama, bukan? Tidak, aku yakin kau pasti bisa melakukan lebih dari sekedar berpindah ruang dan waktu. Kau mungkin yang membuat jam ini, jadi kau pasti bisa mengatur waktunya sesuai dengan keinginanmu.” Kalimat-kalimat itu berhamburan dari bibir Kihyun. Ia putus asa. Mengerikan rasanya melihat Jooheon mati berkali-kali di hadapannya. Kihyun sudah tidak tahan lagi.

“Aku mohon….”pria berambut coklat itu menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di hadapan Hyungwon. “lakukanlah sesuatu untuk menyelamatkan Jooheon. Aku mohon padamu. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asal kau mau membantuku kali ini.”

“Tidak perlu.”

Kihyun tersentak. Tidak percaya pria misterius di hadapannya itu akan menolak permohonannya.

Tapi Hyungwon tidak bermaksud menolak. “Yoo Kihyun di masa depan sudah melakukan sesuatu untuk membalas apa yang kulakukan saat ini.”

“Yoo Kihyun di masa depan?”

“Eo, dirimu di masa depan memintaku untuk menyelamatkan Lee Jooheon. Tapi yang bisa kulakukan hanyalah memberimu jam tangan itu agar kau bisa kembali ke waktu dimana Jooheon mengalami kecelakaan dan tewas. Tapi kau lihat sendiri kan? Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkannya. Kematian bukanlah sesuatu yang bisa kau atur.”

Kihyun tertegun.

“Kau baru sekali ini menjalaninya. Tapi aku sudah berkali-kali. Selama 20 tahun hidupku. Aku berusaha menemukan cara agar kematian tidak mendatangi orang-orang yang kucintai, tapi sia-sia.”

“Tidak…”Yoo Kihyun tertunduk. Air matanya mengalir. “Uri Jooheon-ie, tidak pantas mati seperti itu. Dia… memberikan segalanya untukku yang tidak punya apa-apa ini. Dia membagi kasih sayang ibu dan ayahnya untukku. Aku tahu dia sedih saat ayah dan ibu lebih memperhatikanku yang malang ini, tapi ia tidak mau menunjukkannya padaku. Sedangkan aku, aku yang tahu hal itu, justru memilih pura-pura tidak tahu agar aku tetap merasa nyaman di rumah itu. Aku terus berusaha menarik perhatian ayah dan ibu, dan merasa cemburu pada Jooheon yang memiliki status sebagai putra kandung mereka. Aku terlalu takut kehilangan lagi. Hingga mengabaikan perasaan Jooheon yang selama ini begitu tulus menyayangiku.

“Tapi, pada akhirnya, aku tetaplah orang asing. Ibu dan ayah tetaplah lebih menyayangi Jooheon putra kandungnya dari pada aku. Mungkin itu balasan karena aku telah jahat padanya. Hidupku berantakan. Aku dihantui penyesalan. Seandainya hari itu, aku lah yang membawa mobil itu ke bengkel dan bukannya Jooheon, mungkin….”Kihyun tak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali mendongak kearah Hyungwon. “Kematiannya… aku tidak bisa menerima hal itu. Lebih baik aku, orang yang menyedihkan ini, yang mati. Bukan Jooheon.”

Hyungwon terkejut mendengar kalimat terakhir Kihyun. “Kau bersedia mati menggantikan Jooheon?”tanya Hyungwon.

“Ne….”Kihyun kembali terisak. “Jika itu bisa membuat Jooheon tetap hidup. Aku rela mati menggantikannya.”

 

blanc2

 

Changkyun dan Minhyuk menghentikan lari mereka dan masing-masing menyandarkan punggung mereka di dinding. Napas keduanya terengah. Tapi saat mata mereka bertemu, entah kenapa tawa meluncur dari bibir mereka.

“Itu tadi seru,”gurau Minhyuk.

Changkyun mengangguk di sela tawanya.

“Kita…”Minhyuk melanjutkan setelah tawanya mereda. Sembari menatap Changkyun penuh arti. “…pernah bertemu, bukan?”

Senyum Changkyun perlahan memudar. Lalu pria tampan berlesung pipit itu mengangguk kecil. Ia buru-buru menunduk saat merasakan matanya terasa panas dan pandangannya mengabur. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.

“Senang bertemu denganmu lagi, Changkyun-a,”ujar Minhyuk lagi, lalu ia segera membuang muka. Tak tahan melihat Changkyun yang menangis di depannya. Minhyuk pun tak bisa menguasai emosinya, ia mendongak. Menahan air matanya agar tidak menetes.

“Ne….”jawab Changkyun. “Minhyuk hyung.”

Mereka tak sanggup bicara lagi. Emosi diantara mereka terlalu kuat untuk bisa diucapkan dengan kata-kata. Mereka saudara kandung, yang terpisahkan saat ayah dan ibu mereka meninggal karena kecelakaan. Minhyuk dan Changkyun harus tinggal di panti asuhan, dan mereka akhirnya diadopsi oleh keluarga yang berbeda. Minhyuk ikut bersama keluarga barunya ke Kanada, sementara Changkyun tinggal di Gwangju. Komunikasi mereka terputus. Dan saat mereka sudah cukup dewasa, mereka mulai mencari satu sama lain.

Hingga akhirnya, hari ini mereka bertemu.

“Ayo ikut aku, Changkyun-a,”Minhyuk meraih lengan Changkyun.
“Aku akan membawamu ke tempatku dengan jam tangan ini.”

Hyung, aku….”

Belum sempat Changkyun meneruskan kalimatnya, tiga orang agen itu telah mengepung mereka. Salah satu dari agen itu memegang sebuah senjata mirip pistol tapi dengan ujung moncong persegi panjang yang ganjil. Changkyun yang tahu senjata macam apa itu, langsung menggenggam telapak tangan Minhyuk erat-erat. Minhyuk yang mengira senjata itu adalah pistol biasa, yang siap memuntahkan peluru dan menembus daging mereka berdua, juga mengeratkan genggaman tangannya pada Changkyun.

“Tenang saja, Changkyun-a. Aku tak akan pernah melepaskan genggamanmu lagi,”bisik Minhyuk. Changkyun menoleh pada Minhyuk mendengar kalimat itu. Dadanya terasa sesak. Ia senang bisa bertemu kakaknya lagi. Ia lebih senang lagi karena kakaknya masih begitu menyayanginya dan ingin mereka bersama. Tapi…

Dari Hyungwon Changkyun tahu hidup macam apa yang akan ia jalani nanti, dan Changkyun tak mau kakak laki-laki yang begitu ia sayangi dan menyayanginya ini terlibat dalam hidupnya yang rumit.

Changkyun melihat Minhyuk telah memutar digit tahun pada jam tangan itu hingga sekarang bukan lagi menunjuk angka 2015 tapi 2017, hanya dengan sekali menekan tombol, ia dan Minhyuk akan terlempar ke tahun 2017. Sementara di depan mereka sekarang, agen itu sudah siap menarik pelatuk pistolnya. Jika pistol itu mengenai Minhyuk, sudah dipastikan Minhyuk akan melupakan tentang perjalanannya ke masa lalu dan pertemuannya dengan Changkyun.

Rasa sesak itu kembali menghimpit dada Changkyun. “Hyung, semoga kita bisa bertemu lagi,”batin Changkyun.

Dan tepat saat pelatuk itu ditarik, Minhyuk menekan tombol jam tangan pemberian Chae Hyungwon dan juga di saat yang sama….

Changkyun melepaskan genggaman Minhyuk.

 

blanc2

 

Chae Hyungwon masih mengingat kejadian 20 tahun itu dengan begitu jelas. Ia bahkan bisa merasakan panasnya api yang merenggut orang-orang yang ia sayangi, asap yang mencekat paru-parunya, dan rasa frustasi karena tak bisa melakukan apapun untuk menghentikan mimpi buruk itu. Tubuhnya masih gemetar oleh amarah tiap kali melihat wajah pria yang menjadi sumber segala malapetaka dalam hidupnya itu. Pikiran-pikiran untuk melenyapkan pria itu dalam hidupnya pun sering melintas di dalam kepala Hyungwon.

Dan sekarang pria itu sedang bersimpuh di hadapannya. Memohon kepada Hyungwon untuk menukar nyawanya dengan nyawa sahabatnya yang berharga.

“Tolong kembalikan waktu ke saat sebelum kami berpisah. Aku akan menyuruh Jooheon turun dari mobil dan menggantikannya membawa mobil itu ke bengkel. Dengan begitu, Jooheon akan selamat dari kecelakaan, bukan?”

“Ya,”jawab Hyungwon cepat. Dengan begitu kau bisa mati, dan malapetaka itu tak akan terjadi.

Satu hal yang Hyungwon tahu tentang kematian. Kematian yang terjadi pada hari, jam, menit, detik, itu tak bisa dicegah. Meski sudah mati-matian mencegah, dengan tidak datang ke lokasi kematian atau menghindari benda penyebab kematian, tapi tetap saja kematian akan datang membawa scenario lain yang tak terduga. Yang jelas, malaikat maut harus membawa jiwa orang yang ditakdirkan mati sesuai jadwal yang mereka miliki.

Tapi ternyata, takdir bisa digantikan. Ya, seseorang bisa mengambil alih takdir orang lain, jika Tuhan menghendaki.

Sekali lagi… JIKA TUHAN MENGHENDAKI.

Hyungwon sudah ratusan kali, bolak-balik dari masa lalu ke masa depan. Bolak-balik merubah kejadian di masa lalu, berusaha mencegah hal buruk terjadi, tapi semua belum tentu sesuai dengan apa yang Hyungwon rencanakan. Meski ia telah memperhitungkannya berkali-kali, melakukan riset hingga sedetil mungkin, tapi Hyungwon tetaplah hanya manusia biasa.

Dia bukan Tuhan. Dan tak akan pernah menjadi Tuhan.

Tapi kali ini, Hyungwon lagi-lagi ingin mencoba menjadi pemain catur yang memiliki kuasa untuk merubah nasib pion yang ada di papan catur.

Hyungwon kembali mengarahkan tatapannya kea rah mobil yang hancur tak jauh darinya itu. “Kau sungguh-sungguh dengan keinginanmu itu?”tanyanya kepada Kihyun yang kini telah bangun dan berdiri di depan Hyungwon.

Kihyun mengangguk mantap.

Hyungwon tidak merasa perlu memikirkan keputusannya lagi. Ia mengangkat tangan kirinya, dimana sebuah jam tangan ajaib miliknya melingkar indah di pergelangan tangannya. Hyungwon memutar tombol di sisi jam tangan itu, menempatkan tiap jarum jamnya di posisi yang tepat. Ia melihat Kihyun sekilas, sebelum kemudian menekan tombol di jam tangan itu.

 

blanc2

 

Hujan deras menyambut Hyungwon saat ia kembali ke tahun 2047. Napasnya sedikit terengah dan jantungnya masih berpacu cepat karena perpindahan ruang waktu yang baru saja ia lakukan. Bajunya kini mulai basah kuyup, dan rambutnya yang semula tertata rapi kini berantakan dan basah.

Tapi ini bukan saatnya untuk memedulikan penampilan. Kaki panjang Hyungwon langsung melangkah cepat menuju gedung bercat putih yang ada di hadapannya. Pemuda itu dengan rusuh membuka pintu masuk, mengabaikan tatapan terkejut para pegawai yang ada di lobby dan ia dengan cepat berlari menuju ruangan yang sudah ia hapal betul letaknya.

Seharusnya ada yang berubah. Seharusnya ada yang berubah,”batin Hyungwon berulang-ulang. Beberapa menit lalu, dengan mata kepalanya sendiri, Hyungwon menyaksikan bagaimana takdir Yoo Kihyun berubah. Lelaki tua itu… ah, ralat… pemuda itu benar-benar menggantikan posisi Lee Jooheon di dalam catatan kematian sang malaikat maut.

Yoo Kihyun mati. Salah satu orang yang bertanggung jawab atas kematian seseorang yang Hyungwon cintai, telah lenyap. Hyungwon telah berhasil mengubah sejarah.

“Jadi seharusnya ada yang berubah. Harusnya, kau tidak akan ada disini lagi.”

Hyungwon memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh rak-rak. Didalam tiap rak berderet kotak-kotak berpenutup kaca yang didalamnya berisi guci keramik kecil, foto dan berbagai barang kecil yang menjadi symbol sebuah kenangan yang berharga. Di beberapa penutup kaca tersebut juga menempel rangkaian bunga kecil yang cantik. Tempat itu adalah tempat pemakaman, dimana abu-abu milik tubuh manusia yang telah ditinggalkan jiwanya disimpan.

Langkah Hyungwon semakin tergesa di tiap jarak yang ia pangkas menuju tujuannya. Dadanya berkecamuk. Perasaan takut dan sakit di dada yang selalu ia rasakan ketika datang ke tempat ini mulai menggerogotinya. Tangan Hyungwon terasa dingin. Kepalanya pening. Matanya buram.

Hyungwon menguatkan hatinya. Ia sudah melangkah sejauh ini. Ada orang yang mati karena Hyungwon menggunakan keistimewaannya dalam mengendalikan ruang dan waktu. Meski disisi lain ia juga telah ‘memberikan’ orang lain kehidupan kedua. Hyungwon yakin dirinya berhasil kali ini, ia memantapkan hal itu di dalam hatinya.

Seharusnya ada yang berubah.

Tapi… nyatanya, guci keramik bertuliskan nama Lee Changkyun itu masih disana. Beserta sebuah foto yang Hyungwon kecil ambil bersama Changkyun di sebuah lapangan sepak bola.

Napas Hyungwon tercekat.

Hyung…” Kaki Hyungwon terasa lemas, ia terhuyung. “Gyosung-nim….” Kali ini mata Hyungwon terarah di kotak yang ada di samping kotak makam milik Changkyun. Di dalam kotak yang Hyungwon lihat itu terdapat sebuah guci keramik bertuliskan nama Son Hyunwoo. Di depan guci itu terdapat foto istri Profesor Son bersama putranya dan sebuah foto Son Hyungwoo dengan pakaian kendo kebanggaannya.

Tangan Hyungwon menopang tubuhnya yang limbung. Dadanya terasa begitu sesak hingga Hyungwon meremas bagian depan bajunya kuat-kuat. Setelah mengambil napas dan menghembuskannya dengan susah payah, Hyungwon beranjak untuk melihat kotak kaca di samping kotak milik Profesor Son.

Guci bertuliskan nama perempuan yang paling Hyungwon cintai itu ada disana. Bersama dengan sebuah foto diri yang begitu cantik. Tersenyum, bersama Chae Hyungwon yang masih berseragam sekolah. Sebuah jam tangan yang persis sama seperti yang Hyungwon pakai juga berada disana. Jam pasir, album BIGBANG, ikat rambut, semua benda berharga milik gadis itu tertata rapi. Sebuah rangkaian bunga yang belum kering juga tertempel di penutup kacanya.

Seketika itu juga tubuh Hyungwon ambruk. Kaki Hyungwon tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Tangis Hyungwon pecah.

“Kenapa?!”rintih Hyungwon di tengah tangisnya. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang telah basah oleh air mata. “Kenapa… Noona. Kenapa? KENAPA?!!! KENAPA MASIH SAJA TIDAK ADA YANG BERUBAH?!! KENAPAAA??”teriaknya frustasi.

 

blanc2

 

Sejak kecil, Hyungwon hanya memiliki Chae Sera sebagai satu-satunya keluarga yang ia kenal. Ia tidak pernah bisa mengingat kedua orang tua kandungnya yang meninggal ketika Hyungwon bahkan belum mampu memanggil ibu. Bagi Hyungwon, Chae Sera adalah kakak perempuan sekaligus ayah dan ibu. Orang yang paling berharga. Orang yang begitu disayangi Hyungwon hingga ia rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membuat Chae Sera kembali bersamanya.

Masih dengan kemeja basah yang melekat di tubuh dan rambut yang berantakan, Hyungwon membuka kembali database catatan perjalanan ruang waktu yang ada di computer canggihnya. Kepalanya terasa pening setelah membaca apa yang tertulis disana. Pemuda tampan yang kini tampak begitu kuyu dan menyedihkan itu kembali menangis pedih. Hyungwon menelungkupkan tangannya di atas meja dan menaruh kepalanya disana. Terisak.

Penyebab kematian noona, Changkyun hyung dan Hyunwoo-gyosungnim adalah kebakaran yang disengaja. Aku sangat yakin itu!! Pemuda bernama Lee Jooheon itulah yang melakukannya.

Meski sejarah diubah, ingatan Hyungwon tak pernah ikut berubah. Ia selalu mengingat semua perjalanan waktunya dengan jelas. Apa yang terjadi, apa yang ia lakukan, apa akibat yang ditimbulkan dan apa yang berubah, Hyungwon mengingatnya dengan jelas. Walaupun tulisan di catatannya bahkan telah berganti, Hyungwon akan menyadari adanya perubahan yang terjadi.

Dan kali ini,, nama Yoo Kihyun telah berubah menjadi Lee Jooheon. Entah bagaimana Lee Jooheon pada akhirnya mengambil jalan hidup yang sama seperti yang Yoo Kihyun ambil. Ia terlibat dalam lingkaran mafia, menjadi antek pejabat pemerintahan yang korup dan harus bersedia melakukan pekerjaan kotor demi jabatan dan uang. Salah satu pekerjaan kotor yang diberikan padanya adalah memusnahkan penelitian yang dilakukan Profesor Son Hyunwoo dan rekan-rekannya. Jika perlu, bunuh semua orang yang terlibat dalam penelitan tersebut.

Ya. Itulah yang terjadi pada hari itu, 20 tahun yang lalu.

Tapi jauh sebelum itu, awal mula semua ini sebenarnya adalah kelahiran Chae Hyungwon 37 tahun lalu. Chae Sera sudah menyadari ada yang berbeda pada Hyungwon sejak Hyungwon berumur 8 tahun. Saat itu, Hyungwon sering menghilang tanpa jejak dan selalu kembali dengan cerita-cerita tentang dirinya yang tiba-tiba berpindah ke tempat-tempat yang Hyungwon tak kenali. Walau kedengarannya gila, tapi Sera selalu mempercayai Hyungwon.

Ia mencari cara agar Hyungwon bisa mengendalikan kekuatannya. Sera juga mencari bantuan untuk meneliti fenomena yang terjadi pada Hyungwon. Dari situlah Hyungwon bisa mengenal Lee Changkyun dan Profesor Son Hyunwoo. Mereka bertiga dan beberapa orang lain, mulai meneliti tentang ruang dan waktu. Karena Hyungwon entah bagaimana secara alami bisa menembus dan melakukan perjalanan ruang waktu, mereka berpikir bahwa ada kemungkinan manusia lain pun bisa melakukan hal yang sama. Selama 10 tahun mereka melakukan penelitian, hingga akhirnya tercipta sebuah mesin yang bisa menyerap energy dari semesta dan membuka lorong dimana manusia bisa masuk untuk melintasi ruang dan waktu.

Mesin itulah yang menjadi awal mula terciptanya jam tangan ajaib yang Hyungwon gunakan saat ini.

Penelitian itu, awalnya mendapat dukungan penuh dari sebuah perusahaan pengembang besar. Tapi ancaman mulai terasa saat sang pemilik perusahaan dan para pendukungnya menyadari bahaya yang timbul jika manusia bisa kembali ke masa lalu dan merubah sejarah.

Hyungwon masih remaja saat tragedy mengerikan itu terjadi. Saat itu yang ia tahu hanyalah seseorang bernama Lee Jooheon (atau Yoo Kihyun sebelum Hyungwon merubah takdir pria itu), telah melakukan pembakaran yang ia buat seolah-olah sebagai sebuah kecelakaan. Seiring berjalannya waktu, dan semakin bertambah umurnya, Hyungwon menyadari bahwa ada banyak sekali konspirasi dibalik pembunuhan keji itu. Yang melibatkan banyak orang penting, pejabat dan orang-orang yang berada di balik system politik Korea Selatan.

Perjalanan menembus ruang dan waktu terlalu berbahaya. Orang-orang takut masa lalu mereka kembali dikorek. Mereka takut apa yang telah berhasil dikubur untuk membuat system yang berjalan saat ini akan kembali dibongkar dan bangkai-bangkai busuk masa lalu terkuak. Jika orang-orang itu tahu bahwa ada seseorang bernama Chae Hyungwon yang bisa melakukan time warp bahkan tanpa perlu menggunakan alat apapun, tentu akan membuat negeri kecil itu gempar. Karena itulah, setelah kematian kakak dan orang-orang yang Hyungwon sayangi itu, Hyungwon memilih untuk menghilang.

Setelah tahun demi tahun berlalu, setelah mengalami banyak perjalanan dari masa ke masa dan dari satu tempat ke tempat lain, Hyungwon tumbuh menjadi pria misterius yang menjalani hidup yang jauh berbeda dengan manusia lainnya. Hanya sedikit orang yang mengenalnya, salah satunya adalah Wonho—atau Son Hoseok—putra Son Hyunwoo-gyosungnim. Setelah apa yang dialami oleh Son-gyosungnim, rasanya sudah menjadi kewajiban Hyungwon untuk selalu menjaga putra satu-satunya Son-gyosungnim itu. Dari Hyungwon pula lah, Wonho bisa memiliki salah satu jam tangan ajaib yang bisa membawanya ke masa lalu, menemui ayahnya yang tak akan bisa ia temui lagi di masa sekarang.

Tapi, bukan hanya Hyungwon yang berkembang, dunia yang ia tinggali pun turut berkembang. Penelitian Son Hyungwoo tidak sepenuhnya lenyap, tapi kini penelitiannya ditangani langsung oleh pemerintah. Melibatkan banyak Negara-negara yang punya uang dan kepentingan. Hingga akhirnya mesin waktu yang legal telah berhasil diresmikan penggunaannya, dan sejak itu pula lah Chae Hyungwon atau C.H.W resmi diburu.

Apa Hyungwon peduli? Tidak.

Dia yakin tidak akan ada cara untuk menangkapnya. Kecuali dia menyerahkan diri dengan sukarela seperti saat Wonho ditawan oleh Yoo Kihyun. Karena Hyungwon tidak memerlukan jam tangan atau mesin waktu apapun untuk menjelajahi waktu, dia bisa datang dan pergi sesuka hatinya, melintasi masa dan lokasi tanpa bisa dicegah oleh apapun dan siapapun. Hyungwon adalah penjelajah alami, sosok paling ditakuti saat ini.

Meski orang-orang menganggapnya sebagai ancaman, sebenarnya Hyungwon tidak pernah peduli dengan dunia di sekitarnya. Ia tidak peduli dengan politik, konspirasi dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Hyungwon mungkin bernapas di tahun 2047 tapi hidupnya ada di masa lalu. Bersama Chae Sera.

 

blanc2

 

Ia baru saja menghidupkan rice cooker untuk menanak nasi, saat terdengar suara seseorang memencet mesin kunci pintu otomatis apartemennya. Gadis cantik dengan rambut panjang yang digelung asal itu segera menuju pintu depan.

“Kau sudah pulang, Hyungwon-ah?”serunya.

Gadis itu tertegun. Dihadapannya bukanlah Hyungwon—adik kecilnya yang berusia 10 tahun—tapi seorang pemuda tampan bertubuh tinggi yang usianya mungkin sedikit lebih tua darinya. Pria itu dengan santainya melepas sepatu yang ia pakai, dan memakai sandal rumah yang disiapkan di depan pintu.

Belum sempat Sera menegurnya, pemuda itu sudah berjalan melewati Sera sambil berkata datar. “Aku lapar, noona. Buatkan aku sesuatu untuk kumakan.”

Sera menatap tak percaya kearah pemuda yang sekarang sudah duduk dengan nyaman di kursi meja makannya. “Aku masih saja terkejut tiap kali melihatmu, Hyungwon-ah. Bagaimana bisa kau masih tampak sama seperti saat terakhir kita bertemu? Bukankah itu sudah 2 tahun yang lalu?”tanya Sera sembari berjalan menuju dapur dan mengecek rebusan suyuk-nya. Suyuk adalah daging babi yang direbus bersama daun bawang, bawang putih, jahe, dan beberapa bumbu lainnya. Semalam Sera menonton Taeyang BIGBANG memasak suyuk di I Live Alone, dan ia jadi ingin memasaknya hari ini.

“Aku mengunjungi noona minggu lalu, di waktu yang sama seperti saat ini,”jawab pemuda yang tak lain adalah Chae Hyungwon itu, tenang.

Sera berbalik, “Oya?? Aaaah, karena kau datang dari masa depan, kau bisa memilih waktu yang kau suka dan aku yang ada di masa lalumu tak akan menyadari kalau kau sebenarnya sudah datang kemari sebelumnya. Jadi, sudah berapa kali kau mengunjungi noona ‘hari ini’?”

Hyungwon nampak sedang berpikir, sebelum kemudian menjawab. “Dalam setahun ini, sepertinya sudah lebih dari 100 kali.”

Sera tertawa, dan kembali menekuni kegiatannya memasak. “Kenapa kau suka sekali berulang-ulang mengunjungi noona di hari ini?”

“Hmmm, mollayo. Mungkin karena aku selalu rindu aroma masakan buatan noona atau mungkin karena Hyungwon kecil akan menginap di rumah Changkyun hyung hari ini jadi dia tak akan pulang ke rumah dan aku bisa menghabiskan waktu seharian bersama noona. Aku bahkan tidak bosan mendengarkan pertanyaan yang sama yang selalu noona lontarkan setiap kali aku datang di hari ini.”

Sera tersenyum mendengar kalimat Hyungwon. Senyum yang menyimpan kegetiran di dalamnya. Gadis cantik berusia 20 tahun itu diam-diam memperhatikan Hyungwon yang duduk menunggu suyuk buatannya matang sambil menonton music video So Far Away milik Martin Garrix X David Guetta dari ponsel Sera. Tubuh Hyungwon yang kurus dan wajahnya yang tampak lelah membuat Sera bertanya-tanya apa Hyungwon makan dengan baik setiap harinya. Siapa yang mengurus dan membuatkannya makanan ketika Sera tak ada di sampingnya. Sejak kecil pencernaan Hyungwon tidak bagus dan membuatnya sangat pemilih dalam urusan makan. Hyungwon juga tak makan banyak seperti anak-anak lainnya. Memikirkan bahwa ia telah meninggalkan Hyungwon dan membiarkan adiknya itu tumbuh dewasa sendirian membuat Sera merasa sedih.

Sera sebenarnya tahu bahwa Hyungwon sering mengunjunginya pada hari dan jam ini. Hyungwon selalu membuat catatan perjalanannya dan menyimpannya di kamar milik Hyungwon, dan Sera selalu membacanya. Karena itu ia sengaja memasak agak special hari ini.

Dan dari catatan itu pula Sera tahu, seberapa berat perjuangan Hyungwon untuk merubah masa depan dan mencegah Sera terenggut darinya.

“Kau bisa bantu noona menyiapkan meja makan, Hyungwon-a?”tanya Sera pada Hyungwon yang tampak melamun di kursinya.

Hyungwon mengerjapkan matanya satu dua kali, hal yang ia lakukan untuk mengembalikannya ke dunia nyata setelah terbuai dalam lamunan, sebelum kemudian berdiri dan mulai memindahkan piring-piring yang sudah diisi Sera dengan potongan daging suyuk dan meokjjigae ke meja makan.

“Makanlah yang banyak, kau selalu suka ketika noona memasakkan suyuk untukmu.”

Hyungwon mengangguk. Dan mulai menyuapkan seiris daging suyuk yang diletakkan Sera di mangkuk nasinya. Perasaan sedih yang sejak tadi berusaha ia tekan, kembali meluap. Dada Hyungwon terasa nyeri menyadari betapa rindunya ia pada Sera dan betapa ingin ia bersama dengan Sera, makan masakan buatannya ini, setiap hari. Kenyataan bahwa wanita di hadapannya ini tak ada lagi di masa depan yang Hyungwon miliki membuat airmata Hyungwon kembali mengalir.

“Hyungwon-aaa… waegurae?”Sera mengelus rambut Hyungwon. Tapi Hyungwon hanya menggeleng dan tetap melanjutkan menyuapkan makanan ke mulutnya dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Bahu Hyungwon bergetar ketika tangisannya tak kunjung mereda dan malah semakin menjadi.

“Letakkan makanmu dulu, nanti kamu tersedak. Eo?”bujuk Sera. Sambil mengusapkan tisu ke wajah Hyungwon yang basah. “Benar dugaan noona, ada yang aneh darimu hari ini. Sudah berapa lama kamu menangis?”

Hyungwon menunjukkan tiga jarinya pada Sera sembari menghembuskan napas berat dan mempautkan bibirnya, tampak tidak suka dengan keadaannya saat ini.

“Tiga jam?”Sera tak bisa menahan senyum gelinya. Kenapa adiknya ini tampak menggemaskan sekali ketika sedang menangis? “Kau sudah berumur 30an tahun dan masiiiiih saja sulit berhenti ketika menangis, aigho, kenapa kau begitu sensitive, eo? Wae? Apa kali ini kau gagal lagi menyelamatkan noona? Noona tetap mati pada hari itu?”

Kening Hyungwon berkerut. Air mata masih menggenang di pelupuk mata, siap ditumpahkan. “Aku selalu benci ketika noona menanyakan hal itu dengan nada santai seperti itu,”ujar Hyungwon dengan suara seraknya.

“Jadi benar?”

Hyungwon hanya membalas tatapan Sera dengan tatapan sebal dan tak mengatakan apapun. Sera tersenyum tipis. “Minum lalu makanlah pelan-pelan. Habiskan dulu makananmu baru kita bicara lagi.”

“Aku tidak ingin membicarakannya.”

“Tapi noona rasa ini harus dibicarakan.”

“Aku tahu apa yang akan noona katakan, ini bukan pertama kalinya aku ada di posisiku saat ini. Jadi noona tak perlu repot-repot—”

“Bahkan meski aku sudah mengatakannya 100 atau bahkan 200 kali dalam setahun ini, aku akan tetap mengatakannya padamu lagi hari ini, Hyungwon-a!,”potong Sera dengan nada tegas. “Dan kau harus menceritakan apa yang terjadi, karena yang terjadi hari ini di duniamu sana, pasti bukan hal yang telah kau tuliskan di buku-buku catatanmu itu. Noona harus tau apa lagi hal yang telah kau lakukan untuk mencegah kematianku.”

Hyungwon mendecak sebal. Ia tidak suka dengan nada bicara dan wajah serius kakaknya saat ini karena ia tahu ia tak akan mampu melawan. Pemuda itu mengambil tisu dan menghapus pipinya yang basah untuk sedetik kemudian harus basah kembali karena airmata yang masih tak henti menuruni pipinya. Hyungwon mengumpat pelan, apalagi saat dilihatnya Sera kini justru sedang tersenyum-senyum menatapnya. Kakak perempuannya itu sepertinya menikmati sekali pertunjungan airmata yang sedang ditampilkan Hyungwon saat ini.

“Aku benci noona.”

Sera terkekeh. “Araseo. Ayo buka mulutmu, noona suapi.”

Hyungwon dengan patuh membuka mulutnya. Dan Sera harus menahan diri untuk tidak berlari dan memeluk Hyungwon erat-erat karena sikap adiknya yang luar biasa imut itu. Walau di hadapannya kini adalah Hyungwon yang sudah menjadi seorang pria dewasa, tapi Sera masih melihatnya sebagai Hyungwon kecil yang tiap pagi selalu membuat kepalanya nyeri karena sulit sekali dibangunkan, yang harus Sera siapkan segala keperluannya, yang masih sering harus Sera suapi karena Hyungwon sulit sekali disuruh makan, yang mengomel kalau Sera memanjakannya secara berlebihan, tapi juga selalu merajuk jika Sera kurang perhatian padanya.

Noona liat sendiri, bukan? Betapa menyedihkannya diriku,”keluh Hyungwon. Tangan lembut Sera mengusap wajah Hyungwon yang basah. “Noona bisa lihat sendiri kan, betapa payahnya diriku tanpa noona. Betapa aku tidak bisa hidup jika tidak ada noona. Lalu bagaimana bisa noona berani menyuruhku untuk melepaskan noona. Untuk tidak berbuat apa-apa sementara aku bisa pergi ke masa lalu dan mungkin saja bisa mengubah takdir noona.”

“Hyungwon-a… Ini tidak ada hubungannya dengan dirimu dan kemampuanmu menjelajah waktu, ini sepenuhnya hanya tentang noona dan kematian. Noona sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan kematian noona hari itu, dan meski kau mencoba merubah semua scenario-nya, dengan mencoba membuat noona tak terlibat dalam penelitian itu, berusaha melenyapkan semua orang yang telah membunuh noona, atau kau membuat ibu tak melahirkan dirimu pun, hari itu noona tetap akan mati.”

“Aku menyelamatkan Lee Jooheon, noona… dan Yoo Kihyun…”

“Tapi aku tetap mati, bukan?”

Hyungwon tercekat.

“Setelah kepergian noona, kau punya 20 tahun hidup yang telah kau sia-siakan, Chae. Tidak bisakah kau merelakan saja noona pergi dan menjalani hidupmu seperti orang-orang di luar sana. Bekerja dengan gaji yang lumayan, berkencan, lalu menikah dan memiliki keluarga baru. Jika kau rindu, kau bisa sesekali mengunjungi noona seperti saat ini. Tidak perlu 100 kali dalam setahun, cukup 3-4 kali saja. Noona akan memasakkanmu sesuatu dan kita makan bersama. Noona akan mendengarkan semua ceritamu tentang masa depan dan kau bisa memberitahuku berapa nomor lotere yang menang minggu depan.”

Senyum tipis terbit dari bibir Chae Hyungwon karena candaan Sera.

“Aku, Changkyun dan Son-gyosungnim selalu membaca setiap catatan yang kau tinggalkan. Kami semua tahu perjuangan seperti apa yang telah kau lakukan untuk kami. Karena itu, Son-gyosungnim tak pernah memintamu menyelamatkannya. Ia hanya memintamu memberikan mesin waktu yang telah kami kembangkan itu pada Son Wonho agar putra yang tak pernah ia timang saat masih bayi itu bisa datang ke masa lalu untuk mengunjunginya. Begitu pula dengan Changkyun, dia hanya ingin melihat kakaknya yang terpisah darinya sejak kecil, dan tak mau melibatkan kakaknya itu pada pilihannya untuk focus pada penelitian kami yang mengundang bahaya itu. Toh, jika pada akhirnya kami bertiga tidak bertemu dan penelitan tentangmu tidak kami lakukan, kami tetap akan mati dengan cara yang berbeda kan?”

Hyungwon mengangguk kecil. Ya. Hyungwon pernah kembali ke masa lalu dan mencoba menghalangi pertemuan Sera, Changkyun dan Son Hyunwoo, yang membuat mereka tidak bekerja sama untuk meneliti dan menciptakan mesin waktu. Tapi pada akhirnya mereka tetap dijemput kematian di hari itu. Mobil yang dikendarai Sera, Changkyun dan Son Hyunwoo menghantam satu sama lain dan membuat ketiganya tewas. Kenangan mengerikan itu masih membekas di benak Hyungwon dan ia catat di buku catatannya.

“Seperti yang selalu noona bilang… kematian, kelahiran dan jodoh, bukan sesuatu…”

“…yang bisa kita atur,”potong Hyungwon. Ia hapal sekali dengan petuah andalan Sera itu. “Semua itu takdir Tuhan, hak prerogratif Tuhan yang tak bisa manusia ganggu gugat.”

Sera tersenyum. “Baguslah kalau kau hapal kata-kata noona, semoga kamu juga bisa memahaminya bukan hanya dengan pemikiran rasionalmu itu tapi juga dengan hatimu. Pasrah pada kehendak-Nya…”

“Bukan berarti kalah, aku tahu.”

“Yaaak,”seru Sera tak percaya. “Kau benar-benar sudah datang kemari berulang kali ternyata. Kau bahkan sudah tau lanjutan dari petuah yang baru saja noona rilis hari ini. Daebak!! Jadi kau pasti tahu aku juga akan mengatakan ini kan? Semua ini pasti akan berlalu…”

“Jadilah seseorang yang bagaikan pohon pinus yang dicintai oleh setiap waktu di empat musim,”lanjut Hyungwon ringan. “Aku heran darimana noona mendapatkan kata-kata mutiara semacam itu? Picisan sekali.”

Waeeeee?? Itu kata-kata yang bagus. Noona suka.”

Ya. Ya. Karena terlalu banyak mendengar petuah dari noona, Hyungwon jadi tertular dan memiliki koleksi kalimat-kalimat bijak semacam itu di ingatannya. Dia jadi merasa seperti kakek-kakek yang senang menggunakan kalimat yang sulit dimengerti seperti itu.

“Jadi, apa yang telah kau lakukan hari ini?”tanya Sera penasaran setelah jeda yang cukup lama karena mereka kembali sibuk dengan suyuk yang mulai dingin di hadapan mereka.

Noona baca saja apa yang kutulis nanti di buku catatan.”

“Kau tak mau menceritakannya secara langsung??”seru Sera tak percaya.

Hyungwon menggeleng kalem. “Tidak. Menceritakannya secara langsung sama artinya dengan aku harus menyiapkan telinga untuk mendengar omelan noona selama berjam-jam. Tidak mau. Lebih baik aku pulang saja ke masa depan.”

“Apa kau melakukan hal yang buruk?”

“Aku melakukan hal gila.”Teringat oleh Hyungwon bagaimana Kihyun menggantikan posisi Jooheon di belakang kemudi mobil yang mengalami kecelakaan itu. Semua kejadian itu,, tidak mungkin terjadi tanpa seijin Tuhan, bukan?? Berarti memang sudah takdir Kihyun ia mati dengan cara seperti itu. Ia menjadi seseorang yang ditakdirkan memberi kehidupan kedua untuk Jooheon dengan Chae Hyungwon sebagai perantaranya. Seandainya noona juga punya seseorang yang rela menggantikan dirinya dijemput oleh kematian?

“Apa noona masih berpacaran dengan Luhan?”

“Luhan-hyung!”koreksi Sera cepat. “Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi jangan memanggilnya dengan tidak sopan seperti itu.”

Hyungwon tidak menggubris kata-kata Sera. “Apa dia benar-benar mencintai noona?”

“Menurutmu?”

“Tentu saja tidak,”jawab Hyungwon. Ia merasa bodoh karena sejenak tadi ia berpikir bahwa jika pacar Sera yang bernama Luhan itu cukup besar dan dalam mencintai Sera, ia mungkin bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan noona. Bahkan mungkin Luhan juga akan rela mengorbankan dirinya demi orang yang ia cintai seperti yang dilakukan Kihyun. Tapi itu tidak mungkin…

“Sudah kubilang lebih baik noona cepat putus dengannya. Ini sudah hampir 7 tahun sejak kalian mulai berpacaran. Tapi pria China-mu itu nantinya akan mencampakkan noona demi gadis muda yang baru ia kenal selama setahun. Aniya, Luhan tidak benar-benar mencintai noona sebanyak noona mencintai Luhan. Jadi tinggalkan saja dia. Aku justru lebih setuju kalau noona menikah saja dengan Changkyun-hyung.”

Plak!! Sera memukul kepala Hyungwon. Kesal setengah mati karena Hyungwon berbicara tentang nasib kisah cintanya seenteng bicara tentang sayur yang sebaiknya segera dibuang dari dalam kulkas meski sayur itu mahal sekali harganya.

NOONA!!”Protes Hyungwon sambil mengusap puncak kepalanya yang berdenyut karena pukulan Sera.

“Terima kasih atas sarannya, tuan yang tahu segalanya. Sayangnya aku tidak berpacaran dengan sahabat apalagi rekan kerjaku sendiri. Sudah!! Kau selesaikan makanmu, setelah itu pergilah mandi, noona ingin mengajakmu belanja hari ini. Lumayan ada lelaki yang bisa kusuruh membawakan barang-barang belanjaanku.”

Sera beranjak dari kursinya dan hendak berjalan menuju dapur sebelum pertanyaan yang dilontarkan oleh Hyungwon berhasil menghentikan langkahnya.

“Apa noona tidak takut mati?”

Sera berbalik. “Kurasa ini bukan pertama kalinya kau menanyakan hal itu padaku.”

“Ya…”

“Lalu apa jawabanku? Kurasa aku tidak akan mengubahnya.”

Hyungwon menelan ludahnya, lalu ia menjawab pelan. “Noona lebih takut pada Tuhan daripada kematian.”

Sera tersenyum lalu mengucek rambut Hyungwon penuh sayang. “Satu kalimat itu, sudah cukup untuk menguatkanku. Tidak buruk rasanya tau kapan kematian akan datang pada noona, dengan begitu noona tak akan pernah sampai hati menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Apa selama hidup noona, noona sudah membuatmu bahagia?”

Mata Hyungwon kembali terasa panas mendengar kalimat dan pertanyaan Sera. Ia membuang mukanya, takut sekali jika air mata kembali mengaliri pipinya. “Ya.”jawabnya pelan. “Noona tak pernah tidak membuatku bahagia.”

Sera tersenyum lembut, senyum yang akan Hyungwon ingat sampai kapanpun. “Baguslah kalau begitu.”

This foolishly regret-filled song, I hope it reaches the sky. My prayer that spent all night in tears, I hope it reaches your heart. I was young, I didn’t know I’d be like this. I thought it was given back then. The smile you left behind, still remains in my heart – Wanna One, Beautiful.

 

blanc2

 

Hyungwon masuk ke kamar Hyungwon kecil setelah ia selesai makan dan menaruh piring kotornya di wastafel. Ia berdiri di depan sebuah rak yang penuh berisi buku-buku bersampul coklat yang berderet rapi di bagian paling atas rak. Hyungwon mengambil salah satu buku yang dibagian pinggirnya terdapat tulisan ‘November 2017’ yang dicetak dengan tinta emas. Hyungwon membuka-buka buku itu. Membaca beberapa kalimat sekilas dan sejenak terpesona pada kenyataan bahwa ia selalu menulis semua catatannya dalam tulisan tangan selama bertahun-tahun, padahal ada computer yang tentu saja lebih praktis. Karena menulis di buku itulah,, di masa depan ia kerepotan menscan semua bukunya itu satu persatu untuk kemudian ia simpan di komputernya.

Saat Hyungwon membuka-buka bukunya, tiba-tiba selembar kertas melayang jatuh dari dalam buku itu. Pemuda itu sejenak tertegun, karena selama berkali-kali datang di waktu yang sama baru kali ini ia menemukan sebuah surat terselip dibukunya seperti saat ini. Hyungwon membungkuk untuk mengambilnya. Tanpa perlu bertanya, Ia langsung tahu siapa pemilik tulisan acak kadut itu.

From : Hyungwon yang saat ini berumur 10 tahun.

To : Hyungwon yang sudah tua, berapa umurmu sekarang??

Hyungwon-a, karena kita satu orang yang sama, aku tidak merasa perlu menulis dengan honorific. Walau umurmu lebih tua dariku, tapi tetap saja aku lebih dulu ada daripada dirimu. Ya kan??

Geez. Kenapa Hyungwon merasa sebal pada Hyungwon kecil yang kurang ajar ini? Ia tidak ingat pernah menjadi begitu tidak sopan. Apa ini benar-benar dirinya? Tak bisa dipercaya.

Aku tahu hari ini kau akan datang, jadi aku meninggalkan surat ini untukmu. Apa kau bahagia? Apa rencanamu sukses? Kurasa kali ini lagi-lagi kau tidak bisa menyelamatkan noona kan?

Karena itu, bisakah kau berhenti saja?

Kau tahu,, seberapa berat beban yang kau tinggalkan tiap kali kau menuliskan kegagalan demi kegagalan di buku-buku itu? Kau membuat  Sera noona menangis. Dan aku benci itu. Aku tahu aku akan sedih setengah mati jika noona meninggal di depan mataku, tapi itu adalah takdir noona dan noona sudah menerima hal itu. Kenapa kau tidak meringankan bebannya dengan hidup lebih baik di masa depan dan berhenti membuatnya khawatir??

Aku sekarang bahkan sudah rajin menata bukuku sendiri agar noona semakin yakin aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku juga sekarang rajin minum susu dan selalu menghabiskan nasi yang noona ambilkan untukku. Aku akan mempersiapkan diri dengan baik, nanti saat umur 15 aku juga akan belajar memasak. Jadi tiba saatnya nanti, noona akan merasa lebih tenang.

Aku berharap dirimu selalu menghargai waktu, meskipun kamu bisa kembali ke masa lalu atau pergi ke masa depan, tapi kata Changkyun hyung, waktu sekarang tetaplah ya terpenting.

Bisa kan kau merelakan noona? Aku janji aku akan membuat kenangan-kenangan indah sebanyak mungkin bersamanya. Aku juga janji akan merawatnya dengan baik. Noona adalah orang yang paling berharga bagiku, jadi aku akan berusaha keras membuatnya bahagia.

Dan aku yang berumur 10 tahun ini saja tahu, bahwa yang membuat noona bahagia bukan usia yang panjang, tapi aku dan dirimu yang selalu riang dan diberkati oleh Tuhan lah kebahagiaannya yang terbesar.

Aku baca kembali suratku dan sepertinya aku sudah menulis sesuatu yang luar biasa. Baca baik-baik yaa! Dan pikirkan!! Apa yang lebih penting bagimu??

Hyungwon termangu. Ia tidak percaya dirinya yang berumur 10 tahun lah yang menulis semua ini.

Setelah membaca semua itu terlintas kembali semua perjalanan yang telah ia lewati. Hingga berderet-deret buku telah berhasil ia jadikan tempat untuk mengabadikan semua kisah itu. Hyungwon membuat semua kisah ini, dengan berbagai scenario untuk merubah takdir orang yang ia cintai.

Hyungwon berjalan keluar kamar dan melihat sosok Chae Sera membelakanginya. Bahu perempuan itu nampak begitu sempit, begitu rapuh. Hyungwon ingin melindunginya, Hyungwon tidak ingin sosok di hadapannya itu lenyap dari hadapannya. Perasaan yang muncul itulah yang terus memompa Hyungwon untuk kembali ke masa lalu, kembali menyusun scenario, dan berusaha membuat drama yang endingnya sesuai keinginan Hyungwon.

Tapi…

Langkah Hyungwon terhenti. Dadanya seolah menyempit dan menimbulkan rasa sesak yang luar biasa ketika ia melihat bahu sempit kakaknya berguncang pelan. Suara isakan samar terdengar.

Kenapa kau tidak meringankan bebannya dengan hidup lebih baik di masa depan dan berhenti membuatnya khawatir??

Tulisan tangan Hyungwon kecil terlintas kembali di benak Hyungwon. Ia tiba-tiba bisa merasakan beban yang sudah Sera tanggung selama ini, dan pasti bohong jika Sera bilang ia tidak takut mati. Harapan untuk tetap hidup bersama Hyungwon selalu ada, dan kegagalan-kegagalan yang Hyungwon alami membuat harapan itu padam berkali-kali dan menorehkan luka. Rasa putus asa, pemikiran bahwa tak ada harapan lagi, membuat Sera ingin menyerah dan mengikhlaskan semua. Tapi, sikap Hyungwon yang keras kepala dan tak henti mencoba membuat Sera merasa lebih menderita lagi.

Hyungwon mengepalkan tangannya erat-erat. Ia merasa berada dipersimpangan dan kebingungan mencari jalan yang benar.

Apa ini waktunya untuk berhenti?? Apakah ini saatnya untuk melepas semuanya? Apa ini adalah akhir dari dramaramanya?

END

Yassshh,, sudah sampai disini kita akhiri saja dramarama-ku ini ^^

Haii… This is SANGHEERA and I LOVE CHAE HYUNGWON SOOOOOOOO MUCH!! Lama nggak jumpa, apa kabar kamu?? ^^ Pasti setelah ini pada bertanya-tanya kan?? Kok Sangheera gak nulis FF Luhan lagi?? Apa karena sekarang udah gak ngebias Luhan dan ganti ngebias Chae Hyungwon Monsta X??? Apa karena Luhan uda pacaran sama si otong itu??

Na na… bukan. Lagi-lagi aku kasih tau yaa, kalau dari jaman aku masih EXO-L pun aku gak pernah ngebias Luhan dan kali ini aku gak nulis FF Luhan bukan karena aku udah gak sayang lagi ama Lusera tapi emang karena 8 bulan-an terakhir ini yang mengisi otakku Cuma CHAE HYUNGWON dan MONSTA X. Aku Monbebe sekarang, tapi tetep VIP. Jadi tetep ada BIGBANG terselip di FF-ku, sekecil apapun itu, hehe. Jadi untuk Lusera…. Hmmm, nunggu aku mood buat nulis mereka lagi yaa, dan itu entah kapan. Peace! Dan aku gak bisa memungkiri kalau tiap aku ngebayangin scene Luhan Sera, pasti keinget kalau Luhan udah ada yang punya, dan itu sukses bikin bad mood -___________________-

Oiya, kalian ngerasa kalau ceritaku gantung? Sama. Aku gak tau gimana caranya mengakhiri dengan benar. Stuck disitu. Dan rasanya masa depan Hyungwon setelah ini pun terlalu sulit ditebak. Sama kayak MV Dramarama yang endingnya bikin jidat berkerut-kerut. Jadi menurut kamu lebih baik ikhlasin aja Sera mati dan lanjutin hidup dengan ‘normal’ seperti yang Sera mau atau tetap berusaha karena kemungkinan itu selalu ada dan Hyungwon punya kekuatan yang bisa membuat kemungkinan itu terjadi, Sera mungkin bisa mendapat kesempatan kedua seperti Jooheon?? Naaah….

Tolong anggap saja ini FF debutku bareng Chae Hyungwon dan Monsta X, dan tolong maafkan segala kekurangannya. Maaf karena tulisanku yang amburadul dan gak jelas ini karena aku udah terlalu lama hiatus, dan bingung setengah mati gimana caranya nulis selancar dulu. Yang belum kenal ama Chae dan Monsta X, tolong yaa kepoin mereka. Atau kalau mau kamu bisa baca ini, dan mencoba memahami seberapa gilanya aku pada member MX satu itu. Niiih klik ini niiiih https://searasangheera.wordpress.com/2017/07/31/why-i-love-chae-hyungwon-like-crazy/

Yang mungkin butuh kontakku, aku punya line sekarang @searasangheera atau twitter @serrayushie, atau WA 082338363739. Sepertinya ada beberapa sahabatku yang menghilang, jadi mungkin mereka baca ini dan mau menghubungiku lagi??

Thanks yaaa uda baca sampai akhir. 1000 kali ucapan terima kasih pun rasanya tidak cukup. Karena skff udah gak serame dulu, jadi aku menghargai sekali siapapun yang mau nengok postinganku ini. Sekali lagi, terima kasiiiih~~! Muachhh~~!!!

 

Best regard,

Serra Sangheera.

 

6 responses to “[SANGHEERA] DRAMARAMA

  1. Wahh dirimu sudah kembali.. sejak km hiatus aku jd keilangan minat baca termasuk baca ff krn ngerasa tulisan’y ga klik sm aku walaupun ide’y bagus. Huahh walaupun kangen lusera, aku jg jd males krn luhan ud ad yg punya, haha.

    Aku mo berkunjung k blog km dlu ya dan baca tulisan km

  2. Waaaaaaa kak sangheera😭😭, finally ngeluarin ff juga walaupun bukan lusera..
    Masiih tetep setiaa ngeliatin postingan kaka❣
    ..
    Maafkan kak, aku saking senengnya blm baca semuanya trus lanjyt ke komenan aja, ehwhw
    tenang aja kok, aku bakal ngerampungin ff-nya❤❤

    Pokoknya ditunggu karya selanjtnya kak❤😊

  3. Halooo aku juga pecinta Hyungwon hehehe baru tahun ini addict sama Monsta x terlebih uri turtle 🤣 tapi akhir2 ini aku lebih sering baca ff di wattpad dan belum ada yg klik sama ff ttg Hyungwon di sana, eh malah ketemu cerita ini di sini yg klik sama aku,, uwooo
    Salam kenal yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s