[Twelveblossom] Dear Husband: The Day When I Meet You

DS3lwmGVMAAf7lx

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L

“Aku bertemu denganmu tanpa rasa curiga, jika nantinyasuatu hari nantikamu benar-benar akan melukai hatiku.” Jung Nara

Jung Nara memijat pelipis. Ia sering pusing akhir-akhir ini. Urusan pernikahan memang kerap membuat Nara sakit kepala. Bahkan gadis berusia dua puluh dua tahun itu harus mengambil cuti sejenak demi menenangkan pikiran. Well, urusan pernikahan memang tidak baik untuk kesehatan karena sangat merepotkan. Padahal, bukan Nara yang menikah, tapi kakak laki-lakinya.

Park Chanyeolsaudara tiri Naraserupa pria-pria pada umumnya. Ia hanya tahu segala urusan beres, tanpa sudi berpartisipasi dan ikut memberikan opsi. Hal itulah yang membuat Olivia Kimsahabat sekaligus calon kakak ipar Naramenyeret si adik ipar untuk membantunya. Nara dibawa ke belasan desainer, sepuluh hotel, florist, dan keluar masuk toko lain yang ia bahkan lupa namanya. Nara sudah menyarankan kepada Liv untuk memakai jasa wedding organizer, namun sang mempelai menolak dengan alasan ingin memilih setiap detail mengenai pernikahannya. Sayangnya, Nara tak dapat menolak, ia terlalu sayang pada kakak laki-lakinya serta Liv.

Nara hanya menggerutu dalam hati atau sesekali memukul kepala Chanyeol apabila mereka berpaspasan di rumah. Chanyeol yang memang pada dasarnya tidak tahu malu dan tak peka hanya memberikan cengiran lebar, seperti sekarang.

“Berhenti memerlihatkan gigimu, Park Chanyeol,” omel Nara sembari menggeser duduk,

Chanyeol semakin keras menguarkan tawa. Ia dengan santai meletakkan pantat di sofa panjang yang dihuni oleh sang adik. Tangan Chanyeol sengaja mengganti saluran televisi yang sedang ditonton Nara. “Pantas saja kau tidak punya kekasih. Hmm … setiap hari kegiatanmu hanya marah-marah,” celetuk Chanyeol. “Aku lebih tua dua belas tahun, jadi biasakan panggil ‘Oppa’. Ayo dicoba O-ppa,” pria itu mengeja.

Nara melotot tak percaya. Ia menyilangkan tangan di depan dada. “Sebenarnya, kegiatanku banyak, asal kau tahu, kakakku tersayang. Andai saja kau mau menemani Liv. Astaga, aku jadi tidak punya waktu untuk diriku sendiri.” Nara menghembuskan napas, “Dan jangan memintaku untuk memanggil Oppa, aku merinding mendengarnya.”

Chanyeol mengibaskan tangan, tanda bahwa yang dilakukan Nara saat ini tidak berat sama sekali. “Baru begitu saja kau sudah mengeluh. Anggap saja sedang berlatih mempersiapkan pernikahanmu,” timpal Chanyeol. “Ah, tapi siapa yang ingin menikah dengan gadis jelek, cerewet, dan pemarah sepertimuaww!” ungkapan Chanyeol berubah jadi seruan kesakitan ketika Nara melemparinya dengan bantal hias sofa ruang santai Keluarga Park.

“Benarkah? Jangan diambil hati. Chanyeol berkata seperti itu hanya untuk menggodamu,” hibur Liv saat Nara menemaninya istirahat makan siang di gerai sandwich dekat kantor mereka. “Banyak kok laki-laki yang tertarik padamu, Nara. Hanya saja kau tidak peka dan kurang ramah,” lanjut Liv sembari meneguk jus jeruk.

Nara memutar bola mata. Menurut Nara, bagi Liv bersikap ramah memang mudah. Kondisi fisik seorang Olivia Kim yang begitu rupawan amat mendukung untuk berperilaku demikian. Nara menatap Liv dengan menilai. Olivia Kim memiliki rambut cokelat madu yang bergelombang, hidung mancung, bibir merah muda, kaki jenjang, dan segala-galanya yang diimpikan wanita. Sedangkan, Nara? Satu-satunya yang dapat ia banggakan ialah Ia masih bernapas selama dua puluh dua tahun.

“Kau cantik, Nara,” kata Liv seolah wanita berusia akhir dua puluhan itu dapat membaca pikiran. Liv menyugar surai. “Coba tersenyum pada pria-pria di kantor. Bagaimana dengan ketua baru yang lumayan tampan itu? Kau harus mengayunkan intonasimu saat berbicara padanya atau pura-pura pingsan saja di depannya,” pinta Liv. Ia terkekeh sebentar ketika mendengar dengusan calon adik iparnya tersebut.

“Liv, kau tampaknya sudah tertular kakakku. Kalian lebih sering memberikan saran yang tidak mendidik.” gerutu Nara.

Liv mengetuk dagu. Ia berpikir, lalu menjentikkan jari. “Bagaimana kalau kencan buta dengan teman-teman Chanyeol

Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup menderita ada satu Park Chanyeol di dunia. Aku tidak dapat membayangkan akan bertemu spesies sejenis Chanyeol lagi,” potong Nara sebelum mendengarkan ide gila lain dari gadis tersebut. “Lagi pula aku tidak berniat untuk berkencan dengan pria setua kakakku, pasti sangat tidak keren,” Nara mengimbuhkan, gadis itu menekan setiap perkataannya.

Liv melejitkan bahu, “Berkencan dengan pria yang lebih tua itu menyenangkan, asal kau tahu. Mereka ‘berpengalaman’ dalam segala hal.”

Ada nada yang berbeda ketika Liv mengucapkan kata ‘berpengalaman’, entah mengapa itu membuat Nara merinding. Maka dari itu, Nara memutuskan untuk mengalihkan topik. “Apa kau sudah mengabari teman-teman kuliahmu yang ada di luar negeri? Katanya, ada yang akan datang satu minggu sebelumnya.”

“Sudah, kok. Hanya satu sebenarnya yang akan datang sebelum pernikahan kami. Dia sekalian memeriksa hotelnya yang ada di Seoul. Dia teman Chanyeol. Mereka satu klub bola sewaktu di London,” jelas Liv. Gadis itu mengigit sedikit sandwichnya sebelum menyetuskan ide lain. “Bagaimana kalau kau membantuku menjemputnya di bandara?” tawar Liv.

Nara menautkan kedua alis. “Apa?” Ia melanjutkan, “Aku bahkan tidak mengenalnya.”

“Kau pernah bertemu dengannya, kok. Dulu sekali,” sambut Liv. Ia cepat-cepat mengimbuhkan sebelum Nara sempat membuka mulut lagi, “Begini, Ketua Kim memintamu untuk mencari sponsor baru. Teman Chanyeol itu sangat kaya. Siapa tahu dia tertarik?”

Nara tak langsung menjawab. Ia masih memikirkan opsi dan peluang lain yang bisa ia dapatkan. “Apa tidak aneh, aku tiba-tiba datang kepadanya? Aku seperti memanfaatkan situasi.”

Liv menggeleng. “Kau harus menjalin hubungan pertemanan. Well, ini urusan bisnis, tidak sepenuhnya yang untung kita, bukan? Saat dia memberikan asupan dana tentunya hotel-hotel si kaya itu juga dipromosikan melalui saluran televisi kita.” Wanita itu menyakinkan Nara, “Dia orang yang baik, Nara.”

Nara menggeleng. Ia punya tekad untuk menolak permintaan Liv kali ini. Serius.

Nara heran setengah mati pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia termakan rayuan Olivia Kim. Pada akhirnya Jung Nara menyetujui ide yang dicanangkan oleh seorang Liv. Nara memang sudah tidak waras akibat satu bulan lamanya dibombardir dengan urusan pernikahan. Jadi, seperti inilah Jung Nara hari ini. Ia memakai celana jeans dipadukan kaus kebesaran bertuliskan ‘I Love Seoul’, surainya yang hitam dikuncir kuda, dan parasnya pun dipoles riasan tipis-khas Nara. Tangan Nara memegang kertas bertuliskan Oh Sehun. Kakinya sedang berdiri di terminal kedatangan penumpang pesawat luar negeri. Pikirannya menerawang mengingat ciri-ciri Sehun yang disebutkan oleh Liv kemarin malam.

“Tingginya sama dengan Chanyeol, kulitnya putih, rambutnya hitam pekat, dan tampan,” tanpa sadar bibir Nara mengucapkan apa yang ada di benaknya. “Seharusnya Liv memberikanku ciri yang lebih spesifik dan fotonya,” gerutu Nara.

Nara menggerakkan sepasang kaki yang sudah mulai pegal. Dia telah berdiri tiga puluh menit, berdesakan dengan orang-orang yang juga bertujuan menjemput rekan atau sanak saudara. Mereka tampak bersemangat, kecuali Nara tentu saja. Gadis itu cemberut. Hari liburnya berharga malah dia gunakan untuk melakukan hal konyol. Nara berharap Sehun memang pria baik seperti yang diungkapkan Liv. Paling tidak Sehun tak memertanyakan kehadiran Nara yang sok akrab nantinya.

Lamunan Nara berhenti ketika ponsel si gadis berdering. “Ada apa?” tanyanya langsung saat tahu siapa yang menghubungi.

“Kau dimana?” Chanyeol membalas dengan pertanyaan. Belum sempat Nara menjawab kakakknya kembali menimpali, “Sehun sudah menunggumu lama sekali. Kau tidak salah tempatkan, Nara?”

“Tidak, aku berdiri di sini sejak setengah jam lalu.”

“Papan namanya tidak lupa?”

“Tidak,” Nara menjawab singkat.

“Dia menunggu di Starbucks cepat ke sana

Kenapa harus aku?” pangkas Nara, ia tidak suka disuruh-suruh. “Katanya dia pemilik The Three Ocean, dia cukup kaya untuk meminta satu orang saja menjemputnya di bandara.”

“Katanya kau ingin mendapatkan sponsor darinya?” ujar Chanyeol tidak sabar. “Kau sudah sampai di bandara, merelakan tidur siangmu yang berharga pada hari libur,” Chanyeol masih berusaha menyakinkan.

Nara mengembuskan napas panjang. “Baiklah,” putusnya. Nara berbicara sembari beranjak ke gerai kopi yang disebutkan oleh sang kakak. “Dia memangnya memakai baju apa?” tanya Nara ketika sampai di pintu masuk Starbucks.

“Cokelat, sudah ketemu?”

“Belum.”

“Dia terlihat mencolok sekali, tampan seperti aku,” imbuh Chanyeol ada suara tertawa kecil dari ujung telepon yang ia yakini milik Liv.

“Tidak ada orang yang jeleknya sama denganmu di sini,” sambar Nara tanpa menutupi kekesalan. “Kau sedang bersama Liv sementara aku mencari orang yang tidak jelas ….” ucapan Nara menggantung, ketika dirinya melihat seorang pria bersurai hitam, mengenakan kaus cokelat dilapisi jaket, dan syal bewarna senada. Benar, pemuda itu memang sangat mencolok. Lebih tepatnya, dia terlihat jauh lebih tampan dari laki-laki seharusnya. “Aku rasa sudah menemukannya,” kata Nara. Ia menutup panggilan telepon Chanyeol.

Tanpa berpikir panjang Nara mendekati laki-laki yang ia yakini sebagai Oh Sehun. Nara bahkan sempat gerogi. Jika saja ia tahu bahwa sosok Oh Sehun adalah pria yang elegan, Nara pasti akan memilih pakaian yang lebih pantas. Dia mirip itik buruk rupa yang hendak menemui angsa.

“Oh Sehun?” sapaan Nara terdengar seperti pertanyaan, namun cukup membuat pria berusia sebaya dengan Chanyeol tersebut memalingkan paras.

Sehun menyimpan ponselnya. Ia memerhatikan gadis yang tampaknya baru saja mengajaknya bicara. Alisnya naik satu. “Siapa kau?” tanya pria itu.

“Aku Nara, adik Chanyeol. Kakakku meminta tolong untuk menjemputmu,” Nara menjelaskan. Ia berusaha menarik sudut-sudut bibir membentuk senyum canggung yang kentara.

Sehun mengangguk, lalu melirik arloji. “Kau terlambat tiga puluh lima menit dari waktu yang dijanjikan,” ujar Sehun dingin.

Nara ikut-ikut melihat jam tangan miliknya. “Aku tidak terlambat. Aku menunggumu di sana,” jawab si gadis sambil menujuk tempat di mana ia berada tadi.

Sehun mengabaikan Nara. Ia malah berdiri, lalu membawa kopernyameninggalkan lawan bicaranya yang masih terbengong di sana.

Nara menggelengkan kepala, mencoba untuk kembali ke dalam kenyataan. Ia sedikit berlari untuk menyamai langkah Sehun.

Nara hampir saja menabrak punggung Sehun saat pria itu berhenti mendadak. Sehun menengadahkan telapak tangan, meminta sesuatu pada Nara.

“Mana kuncimu?” Sehun bertanya sekaligus memerintahkan Nara agar gadis yang berada di hadapannya menyerahkan kunci mobilnya.

Nara mengerjapkan mata, “Aku bisa menyetir. Kau tamuku

Aku tidak biasa membiarka seorang gadis menyetir untukku,” potong Sehun. Pemuda itu mengawasi Nara dari ujung kaki hingga kepala. “Apalagi, anak muda yang belum tentu sudah dapat SIM,” lanjutnya.

Nara memutar bola mata, dia tidak suka diremehkan. “Aku sudah berusia dua puluh dua tahun. Aku punya SIM,” timpal Nara.

“Tapi aku tidak tahu kemampuan menyetirmu seperti apa. Aku juga tidak ingin mengambil resiko,” balas Sehun melalui bibir tipisnya.

Nara hendak menimpali lagi, namun si gadis tahu bahwa pada akhirnya dia yang harus berbaik hati pada Sehun. Nara tak ingin usahanya untuk mendapatkan sponsor berakhir sia-sia. “Baiklah, walaupun aku tidak biasa membiarkan tamuku kerepotan,” ucap Nara sembari menyerahkan kunci mobilnya.

Mereka hanya diam di dalam Audi hitam tersebut. Nara sedari tadi memandangi jendela, sementara Sehun mengendarai mobil dengan serius. Nara sesekali mencuri pandang ke arah pria yang berada di sampingnya. Gadis itu enggan memungkiri bahwa Sehun memang menarik. Dia sama sekali tak terlihat tua, meskipun usianya sebaya dengan Chanyeol. Well, kakaknya itu memang lebih suka memakai jas, dasi, dan celana kain, sedangkan Sehun berpakaian lebih santai.

“Aku mengantarkanmu pulang terlebih dahulu,” kata Sehun memecahkan keheningan. “Aku tahu di mana kalian tinggal. Chanyeol yang memberitahuku dan ada alat yang dinamakan GPShanya mengingatkan kalau saja kau lupa,” jelas Sehun sebelum Nara memberikan pertanyaan bodoh.

Nara langsung memberengut, namun ia berusaha mengatur suana hati agar tidak terbawa emosi. “Tidak usah, kita pergi ke hotel tempat kau menginap atau kita bisa makan dulu,” ujar Nara berusaha sabar.

“Tidak, aku harus memastikan adik temanku selamat sampai rumah,” ucap Sehun. Pria itu membelokkan kemudi menuju jalan tercepat ke kediaman sang gadis.

Nara tersenyum kecut. “Chanyeol tidak akan khawatir sama sekali padaku meskipun aku menghilang tiba-tiba karena dimakan semut. Bagaimana caramu ke hotel kalau mobil ini kau pulangkan dulu?”

“Asistenku sudah menungguku di sana,” jawab Sehun singkat.

Nara menegakkan tubuh. “Ah, kenapa kau tidak meminta mereka menjemputmu di bandara?” tanya Nara curiga. Tatapan Nara berubah menjadi kaget ketika ia melihat Sehun tersenyum simpul, walaupun tidak lama. Nara merasakan pipinya memanas, ketika menangkap tarikan bibir itu pada Sehun. Si gadis tak tahu alasan yang membuat parasnya bereaksi demikian.

“Aku ingi melihatmu,” jawab Sehun tanpa ekspresi.

“Kau ingin melihatku,” ulang Nara tak percaya. Ia takut salah dengar atau rungunya sudah ikut berhalusinasi.

Sehun berdeham menetralkan suara. “Jangan salah paham, aku ingin melihat adik yang selama ini Chanyeol puji,” koreksi Sehun.

Nara cemberut. “Sesuatu yang sangat tidak mungkin Park Chanyeol begitu yang ada dia menaruh dendam terpendam padaku,” keluh Nara yang disusul anggukan Sehun, nampaknya pemuda itu menanggapi serius apapun yang diutaran lawan bicaranya.

Mereka sampai di kediaman Keluarga Park tepat jam satu siang. Rumah Keluarga park terletak di perumahan elit yang berada tak jauh dari pusat kota. Sehun mengentikan mobil yang ia kendari setelah memasuki pagar kawasan hunian sang gadis. Pada halam luas rumah tersebut sudah ada Audi RS7 yang terparkirmilik Sehun. Liv dan Chanyeol yang menyambut di depan pintu. Nara otomatis mendengus ketika melihat senyum lebar mereka.

Sehun berjalan mendahului Nara yang masih sibuk melepas sabuk pengaman. Pria itu menghampiri Liv dan Chanyeol, kemudian memberikan salam hangat pada kedua calon mempelai tersebut. Pria itu memerintahkan asistennya untuk memindahkan koper dari mobil Nara ke audinya.

“Apa dia selalu kesusahan untuk melepas sabuk pengaman?” tanya Sehun ketika Ia, Chanyeol, dan Liv mengawasi Nara dari jauh.

Liv lebih cepat menjawab daripada pasangannya, “Iya, Nara memang begitu.”

Chanyeol melipat tangan, tatapannya perihatinagak berlebihan sebenarnya, “Makanya aku selalu mengkhawatirkan gadis kecil itu.” Pria yang sekarang memakai pakaian santaicelana pendek dan kaus abu-abumengalihkan atensinya pada Sehun. “Bagaimana perjalanmu?” tanya Chanyeol mengabaikan Nara yang kini berjalan terseok-seok mendekati mereka.

“Tidak buruk,” Sehun menjawab singkat, tanpa mengalihkan pandangannya pada Nara yang hampir saja terjungkal akibat menginjak tali sepatunya sendiri. “Dia sangat tidak kompeten dalam berbagai hal,” gumam Sehun, lalu dia tertawa kecil melihat Nara benar-benar jatuh karena terselip.

Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Bahkan dia masih terkekeh sewaktu Nara melepaskan sepatu, kemudian melemparkan pada kakaknya. Chanyeol menangkap sepatu Nara kemudian menjulurkan lidah, menggoda si adik. Chanyeol memberikan kode akan membuang sepatu Nike merah kesayangan Nara tersebut ke kolam ikan halaman rumah mereka. Pria itu segera berlari saat Nara berusaha mengejar, si gadis berjinjit tak sampai ketika Chanyeol merentangkan tangan ke atas agar saudaranya tak mampu mengambil sepatu tersebut.

Sehun yang mendapati pemandangan itu tak dapat mengulum tawa. Pria dingin itu sontak tertawa melihat tingkah dua saudara yang menurutnya sangat kekanakan. Ia merasa bahwa rasa lelahnya yang disebabkan penerbangan puluhan jam menghilang sedikit demi sedikit.

“Apa kau tertarik padanya, Sehun?” tanya Liv tersenyum. Liv memang peka terhadap perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang istimewa dalam diri Nara yang dapat mendorong Sehun terjebak di dalamnya. “Pria seperti kau dan Chanyeol memang membutuhkan Nara agar kalian tidak terlalu kaku dalam menjalani kehidupan,” imbuh Liv.

Sehun melejitkan bahu, “Apa aku punya pilihan?” Ia balik bertanya. “Jika perjanjian itu masih berlaku, suka atau tidak, Nara akan tetap masuk dalam kehidupanku,” ucapnya menerawang.

-oOo-

Part selanjutnya juga dapat dibaca di twelveblossom.wordpress.com  / wattpad.com/twelveblossom / Klik di sini Dear Husband: Taken By Past.

Advertisements

4 responses to “[Twelveblossom] Dear Husband: The Day When I Meet You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s