I NEED HUSBAND (2.Perfect) – by sasarahni

23635486595_6c31608bda_o.jpg

I NEED, HUSBAND!

* PARK CHANYEOL & KIM SEUL *

CHAPTERED || +21 RATE MORE || ROMANCE, COMPLICATION, HURT, SICK, AND MARRIAGE ||

.

.

.

.

PENULIS : SASARAHNI (Sarah Irani)

Ig : sasarahni (22th)

.

.

.

2. Chapter  (PERFECT) 

“Menikahlah denganku Tuan..”
.
.
.
Seperkian detik wajah sang pria mulai berubah secara drastis, ia mulai menatap dengan wajah bersalah. Tidak seharusnya ia memanfaatkan wanita ini dengan pikirannya yang sedang kacau. Kata-kata indah dari Seul yang entah mengapa membuat jantung sang pria berdebar tidak menentu. Menikah? Semudah itukah wanita ini mengatakan hal-hal yang justru terbilang banyak sekali yang harus dipikirkan jika melakukan sebuah pernikahan. Bahkan wanita ini tidak sama sekali mengenal siapa pria yang akan di nikahinya? Baik atau tidaknya?!
Mereka masih dalam mode saling menatap satu sama lain. Bahkan satu tangan Seul masih bisa merasakan halusnya pipi milik pria yang setia berada diatas dirinya berbaring, Park Chanyeol. Seul pun tersenyum tipis, ia terlihat bahagia hanya dengan menatap wajah sang pria. Mungkin Seul masih terpengaruh oleh minuman itu.
.
.
1 Detik
.
.
2 Detik
.
.
3 Detik
.
.
Seul mulai tertidur pulas. Satu tangannya terjatuh begitu saja. Tidak ada lagi pergerakan antara kedua nya, Chanyeol berkedip hingga tiga kali lalu bernafas lega. Yoongi mulai mengontrol perasaannya dan pikiran kotornya. Ia tidak ingin menjadi bajingan seperti pria diluar sana. Meskipun Chanyeol memang sempat berpikir untuk menghabisi waktu kenikmatannya dengan mempermainkan tubuh Seul. Begitu buruknya jika itu benar-benar terjadi diluar kendalinya.
Chanyeol mulai bangun dari ranjangnya lalu dengan baiknya ia melepas sepatu cats Seul yang masih dikenakannya lalu menarik selimutnya dan menyelimuti tubuh Seul secara sempurna hingga yang terlihat hanyalah bagian kepala Seul saja. Chanyeol duduk tepat disamping Seul berbaring diranjangnya. Ia menatap lama wajah cantik itu, tidak seharusnya ia menyakiti wanita ini.

“Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Menangis, tertawa, tersenyum, lalu berkata yang tidak-tidak. Menikah kau bilang? Wanita gila, ck” Tidak lama setelah berbicara, Chanyeol meninggalkan Seul dikamarnya. Jam menunjukan pukul 12.00 malam. Appartement Chanyeol selalu terasa sepi, tidak sembarang orang bisa masuk kedalam appartement nya. Appartement itu terbagi menjadi 4 ruangan dalam, 2 kamar, 1 ruang kerja berisi berbagai macam alat musik dan berbagai macam barang-barang yang berhubungan dengan musik, 1 ruangan tempat buku dan berbagai dokumen-dokumen penting miliknya. Terlihat rapi karena Chanyeol selalu baik dalam menyimpan dan menempatkan barang-barangnya. Ruangan luar terdapat ruang tv, dapur, dan ruang bersantai. Appartement miliknya luas tidak bertingkat.

Setelah 15 menit ia keluar dari kamar, lalu Chanyeol bergegas untuk mandi. Membasuh seluruh tubuhnya membuat Chanyeol merasa lebih baik. Butuh waktu 10 menit untuk mandi lalu berpakaian mengenakan celana traning abu-abu dan kaos hitam. Chanyeol kembali melihat keadaan wanita itu, masih tertidur dengan posisi awal tidak ada yang berubah dari pergerakan tidur nya.

“Ini rumahku, dan aku bebas untuk tidur dimanapun yang aku inginkan bukan.” Kata Chanyeol sambil tersenyum kecil lalu mulai mematikan lampu kamar dan berbaring diranjang yang sama dengan Seul. Tepat disampingnya.
.
.
I NEED, HUSBAND (VERSE 2)
Watpad : sasarahni
.
.
Menjelang pagi, jam menunjukan pukul 08.00 pagi hari minggu. Chanyeol terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Dengan kedua mata yang masih dalam keadaan mengantuk ia mulai membuka kedua matanya secara perlahan sesaat melihat kesamping kanan dimana tempat Seul tertidur tepat disampingnya tadi malam. Tidak ada siapapun. Pria itu berkedip berulang kali, kaget, benar? Dimana wanita disampingnya tertidur?
Ternyata wanita itu yang lebih dulu bangun dari tidurnya. Seul terbangun saat jam menunjukan pukul 06.00 pagi, ia merasakan kepalanya begitu sakit. Ingin rasanya meminum obat dan air putih untuk memulihkan kesadarannya tapi nihil ia temui karna Seul tidak mengerti dan tidak tahu dimana dan mengapa ia bisa berada disini. Dirumah, diranjang, dan bangun ditempat yang asing baginya.
Chanyeol bingung dan kaget sesaat melihat wanita itu ternyata berada di bawah ranjang miliknya tepatnya berada dibawah Chanyeol tertidur diranjang.

“Hiks..” Seul menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia merundukkan kepalanya dibagian lututnya. Sontak membuat Chanyeol tidak bisa berpikir baik, ia tidak mengerti harus bagaimana. Apa Seul menangis?

Perlahan satu tangan Chanyeol menggapai pucuk kepala Seul sambil bertanya, “Are you ok?” Suara Chanyeol sontak membuat wanita itu melihat dirinya. Seul berkedip lalu diam menatap sosok pria yang sempat membuat tidurnya begitu nyaman, Park Chanyeol. Seul tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana?
“Hei?” Chanyeol pun turun dari ranjang lalu menyamai posisi Seul saat ini. Lihatlah wajah bangun tidurnya, masih terlihat tampan. Kulit putihnya yang begitu pucat. Rambutnya yang terlihat berantakan. Seul masih menatap Chanyeol dalam diam. Chanyeol yang masih dalam keadaan mengantuk, belum sepenuhnya sadar pun tidak tahu apa yang harus ia katakan. Chanyeol sedikit mengacak beberapa rambut belakangnya dengan gaya yang terlihat tidak biasa lalu kembali menatap kedua bola mata coklat milik Seul. Karena sepertinya Seul melihat kebaikkan pada pria yang menatapnya saat ini, Seul pun tersenyum kecil lalu mengatakan..

“Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi kau pasti sudah menolongku semalam. Aku juga tidak mengerti kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian tadi malam hingga sampai bisa berada dirumahmu dan tertidur bersamamu, mungkin ini ranjangmu. Sesaat aku terbangun aku begitu bingung, haruskah aku kesal? Sedih? Atau justru berterimakasih dengan semua ini? Aku wanita baik-baik, jujur padaku. Apa yang sudah ku perbuat semalam, ku mohon. Kepalaku sangat sakit aku butuh obat dan air putih, aku terbangun di pagi hari. Melihatmu berada disampingku, aku memelukmu begitu erat. Kau tertidur bersamaku. Apa terjadi sesuatu?”

Penuturan Seul begitu panjang terdengar lemah tapi pria itu setia mendengarkan setiap kata-kata darinya. Apa yang harus Chanyeol jawab? Apa ia harus jujur dengan apa yang terjadi tadi malam? Benarkah wanita ini sama sekali tidak ingat? Benarkah??
Sepertinya Chanyeol ingin sekali mengetes dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit terdengar kasar untuk Seul. Dengan wajah dingin dan senyuman palsu nya, Chanyeol menatap dalam kedua bola mata coklat milik sang wanita.

“Eum, bisakah aku percaya jika kau wanita baik-baik? Lihatlah kenyataannya, kau terlihat seperti wanita buruk. Mabuk dan tidur dengan pria yang tidak kau kenal. Apa kau sering melakukannya dengan pria lain?”

PLAK!

Tamparan keras dari Seul pada pria yang sudah baik menolong dirinya tadi malam. Wajah Seul berubah sepenuhnya ia menatap kesal, ternyata pria ini tidak sebaik yang ada dipikirannya dan dilihatnya. Terasa sangat sakit karna tamparan Seul sangat keras. Chanyeol bernafas jengah lalu tersenyum licik menatap kembali wajah Seul dan berkata..

“Seperti ini kah caramu membalas kebaikan seseorang?!” Chanyeol tidak percaya, tidak ada wanita yang pernah menampar wajahnya. Dan Seul dengan kasarnya melakukan hal itu.

Seul sungguh membenci pria ini. Perkataannya tidak benar dan Chanyeol pantas mendapatkan tamparan darinya.

“AKU BERTANYA BAIK-BAIK PADAMU TUAN! TAPI KAU JUSTRU BERKATA YANG TIDAK-TIDAK TENTANG DIRIKU.” Cerca Seul dengan nada yang sangat tinggi. Jujur, Seul benar-benar takut pada pria ini. Tapi jika ia terlihat takut, bisa-bisa pria ini memanfaatkan dirinya. Kemudian Seul menangis, hanya ini yang ia bisa lakukan. Menangis dan menangis disetiap permasalahan dalam kehidupannya.

“Berhenti menangis. Aku tidak perduli siapa dirimu dan dimana kau tinggal. Jika kau sudah sadar? Maka pergilah dari sini.” Perkataan kasar dan dingin dari Chanyeol benar-benar membuat Seul terpuruk. Seul mencoba menghapus semua air matanya dengan gusar, ia benar-benar ingin menangis! Perasaannya begitu sakit. Kenapa hidupnya selalu saja dalam masalah?! Kenapa tidak ada sedikitpun yang bisa membuatnya bahagia??.

Dengan penuh rasa kesedihan dan rasa keterpurukan, perlahan Seul membuka selimut yang melingkar diseluruh tubuhnya. Chanyeol benar-benar lelah dengan hal ini, wanita ini benar-benar menyusahkannya. Chanyeol pun sadar jika perkataannya begitu kasar dan tidak seharusnya ia melukai wanita ini setelah apa yang terjadi semalam.
Terlepas selimut dari tubuh Seul kemudian Seul mencoba untuk berdiri masih dalam keadaan tidak baik, menahan sesak disekitar dadanya. Wajahnya begitu pucat, kepalanya masih sangat terasa pusing. Seul berjalan memutari ranjang dengan sempoyongan. Chanyeol melihatnya jelas, dengan segera ia menarik satu pergelangan tangan Seul, lalu berbicara..

“Jika kau keluar dari appartementku dengan keadaan seperti ini, akan menambah masalah bagiku. Diamlah, tidur saja diranjangku kembali. Aku segera kembali.” Terdengar dingin tapi entah kenapa, Seul merasa kata-kata Chanyeol kali ini terdengar baik dan benar. Karena Seul juga tidak ingin menjadi bahan keributan atau perbincangan orang-orang diluar sana, ia memilih untuk tetap diam dan menuruti apa yang dikatakan sang pria. Seul juga tidak ingin berdebat dengan Chanyeol karena percuma saja, pasti Seul akan selalu kalah dengan hal apapun itu perdebatannya karena kebodohannya Seul benar-benar tidak mengingat apa yang terjadi semalam. Chanyeol membuatnya terduduk diujung ranjang lalu dengan santai ia keluar dari kamarnya dan menutup rapat pintu kamar. Seul terdiam dengan setiap perkataan Chanyeol, tidak tahu kenapa. Hanya saja setiap kalimat Chanyeol membuatnya menurut begitu saja.

“Tidak seharusnya aku menamparnya dan tidak seharusnya aku meminum minuman yang tidak pernah ku sentuh. Kepala ku benar-benar sakit,” Seul memukul-mukul kepalanya terus menerus, berulang kali.
“Akh, kepalaku.” Seul merasa pusing lalu ia kembali tidur diranjang besar milik Chanyeol. Perlahan ia mengambil selimutnya kembali lalu menutup bagian kaki sampai setengah tubuhnya. Posisi Seul duduk bersandar di kepala ranjang.

Seul mulai menatap seluruh ruangan Chanyeol. Kamarnya begitu rapi tidak ada barang yang berantakan. Ada berbagai foto-foto terpajang. Ada juga berbagai macam piagam yang terlihat di setiap rak. Satu yang menarik perhatian Seul yaitu sebuah piano berwarna hitam dan sebuah foto diatas piano itu. Kamar Chanyeol sangat sejuk, Seul dapat mencium wangi kamarnya.
.
.
.
CKLEK
.
.
.
Chanyeol datang..
Membawa air putih dan obat, buah dan roti lalu meletakan semua itu di nakas meja. Chanyeol terlihat senang karena wanita ini menuruti perkataannya dengan berbaring kembali diranjang miliknya. Chanyeol memilih untuk duduk di sofa single berwarna putih lalu berkata..

“Makanlah. Kau ingin sarapan apa nanti bisa ku pesankan. Setelah itu baru minum obatnya.” Chanyeol berbicara pada Seul yang menatapnya sangat baik. Tatapan itu, Chanyeol seperti melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan Seul dan cara Seul menatapnya. Seperti seseorang yang pernah hadir didalam hidup Chanyeol. Rambut Seul terurai panjang, membuat kesan yang cantik dengan poni yang sudah terlihat sedikit panjang.

“Terimakasih Tuan, bolehkah aku tahu namamu? Dan usia mu? Aku hanya tidak ingin salah mengartikan tentangmu.” Kata Seul masih dengan tatapan baiknya.

“Park Chanyeol. Panggil saja dengan Chanyeol.” Terdengar dingin, Seul sungguh menatap dalam kedua bola mata Chanyeol dengan baik meskipun jauh dari pandangannya. Sedangkan pria itu nihil menatapnya baik.

“Oh, baiklah. Chanyeol shi terimakasih. Dan maaf jika aku sempat–“

“Lupakan saja.” Sanggah Chanyeol. Begitu serak suara itu, Seul menyukainya.

Menyerah untuk berbicara kembali, Seul mengerti. Perlahan ia meminum air putih satu botol, lalu memakan satu roti dan langsung meminum obat pusing. Memakan waktu 30 menit dan perlahan Seul kembali berbaring kembali, ia ingin tidur. Ia benar-benar butuh istirahat. Sesaat ia menatap Chanyeol yang masih terduduk di sofa itu, kedua mata Chanyeol tertutup rapat. Apa Chanyeol masih kesal atas perbuatan Seul padanya? Dengan rasa khawatir Seul menyuarakan perasaannya.

“Chanyeol shi?” Panggil Seul.

“…” Tidak ada jawaban.

“Chanyeol..?” Seul memanggilnya kembali. “Apa kau ti–“

“Apa? Kau perlu sesuatu?” Sanggahnya kembali, tanpa memandang Seul diranjang sana.

“Eoh, TIDAK. Aku memanggilmu karena aku mau kau tidur diranjang saja dan aku biar tidur diluar. Aku bisa tidur dimanapun tempatnya asalkan tidak dikamar mandi.” Seul bingung harus berkata apa. Bodohnya.

Tidak ada balasan dari Chanyeol, hanya pergerakan. Ia berdiri lalu berjalan ke arah Seul berbaring diranjangnya. Chanyeol duduk disamping Seul berbaring. Tidak ada yang ia katakan justru Chanyeol mengulurkan satu tangannya membuka selimut yang tertutup dibagian dada Seul. Tidak ada pergerakan dari Seul, ia hanya terdiam menatap Chanyeol yang sedang menaikan dagunya melihat ke arah seisi leher Seul. Tidak ada bekas, masih terlihat baik. Bahkan bibir Seul masih terlihat baik, tidak tahu bagaimana jika Chanyeol mempermainkan tubuh mungil ini. Ternyata sejak tadi Chanyeol sempat memikirkan keadaan wanita ini, setelah kejadian semalam.

“Istirahatlah, siapa namamu?” Kata Chanyeol dengan tatapan lirih.  Satu tangannya bergerak menutup kembali selimut itu.

“Aku baik-baik saja Tuan, kau tidurlah kembali sepertinya kau lelah. Kedua bola matamu terlihat sedikit lelah. Namaku, Kim Seul.” Seul menatapnya dengan sungguh-sungguh, lalu tersenyum tipis. Entah kenapa Seul menjadi terbiasa menatap Chanyeol, sesaat terbayang tadi pagi wajah Chanyeol yang dekat sekali padanya. Bahkan ia sempat memeluk tubuh Chanyeol dalam keadaan tidak sadar. Wajah Chanyeol memang tampan dan tidak bisa Seul menyanggah hal itu.

“Seul,” Kemudian Chanyeol berdiri dari tempat itu dan berjalan kearah pintu keluar kamarnya. Seul melihatnya, ternyata Chanyeol seseorang yang tidak penurut sama sekali. Perkataannya selalu saja dia abaikan. Terserah saja.

.
.
.
I NEED HUSBAND (SUGA VERSE1)
In wattpad : sasarahni
.
.
.

Menjelang siang jam menunjukan pukul 13.00. Seul masih mengenakan pakaian semalam, dia berniat ingin mandi tapi ia sadar dimana sekarang ia berada. Begitu terbuka pakaiannya membuat Seul merasa tidak nyaman. Seul juga tidak membawa barang apapun, baik handphone atau tas lainnya. Uang yang dipegang untuknya meminum minuman pun habis. Membuatnya semakin bingung harus bagaiamana. Seul akhirnya mempunyai ide, untuk meminjam pakaian Chanyeol yang berada didalam lemarinya. Hanya berniat mengambil satu kemeja putih untuk dikenakan, sedangkan hot pans yang ia kenakan masih terlihat baik.

Setelah selesai mandi, Seul terlihat segar dan merasa lebih baik. Kamar mandi Chanyeol begitu nyaman, tetapi Seul tidak berniat mengacak-acak barang-barang milik Chanyeol. Seul tidak akan berniat untuk membuat Chanyeol kesal dan menimbulkan masalah terus menerus setidaknya Seul hanya meminjam kemeja putih kebesaran ini. Meminjam?

Rambut Seul masih dalam keadaan basah ia menggunakan bajunya sebagai handuk untuknya. Sedikit kering karena menggunakan hairdryer yang sudah tersedia didalam kamar mandi. Seul tersenyum bahagia, ia benar-benar tidak menyangka jika appartement ini sangat membuatnya nyaman. Seul serasa memiliki kamar ini.

“Aish, kemeja ini besar sekali. Badanku dan Chanyeol sangatlah berbeda 360 derajat. Chanyeol tumbuh dengan baik sedangkan tubuhku begitu kecil jika disandingkan dengannya. Apa aku salah memilih lemari. Mana ku tahu jika lemari Chanyeol sangatlah banyak.” Seul menyisir rambut panjangnya, ia juga meletakan baju kotor miliknya di tempat seharusnya. Wajahnya terlihat polos tanpa make up. Ia menatap kaca besar dikamar Chanyeol membuat kedua tangannya seperti ingin menggucapkan doa lalu Seul memejamkan kedua bola matanya..

“Tuhan, aku tidak bermaksud menyakiti perasaan Chanyeol. Aku juga tidak bermaksud untuk menamparnya tadi pagi. Aku sungguh ingin Chanyeol mempercayai bahwa aku adalah wanita baik-baik. Tuhan, aku tidak ingin membuat masalah pada Chanyeol. Apapun yang ku lakukan semalam dan sampai siang ini, aku hanya ingin kembali.”

Tanpa disadari Chanyeol sudah berada dibelakang Seul yang sedang berada dihadapan kaca besar itu. Chanyeol melihat dan mendengarkan semua permohonan wanita ini. Apakah setiap harinya wanita ini berdoa dengan cara seperti ini? Seul selalu berbicara dengan dirinya sendiri dan selalu memanggil nama Tuhan disetiap keadaan. Chanyeol tersenyum kecil, mengingat kejadian semalam. Tingkah Seul yang begitu terlihat bodoh saat mabuk.

“Hya, kau?!” Suga melihat apa yang dikenakan Seul saat ini. Kemeja putih miliknya. Kemeja itu?

Seul kaget, sekejap ia membuka kedua bola matanya lebar-lebar memutar tubuhnya dengan panik satu kakinya terpelincir dan membuatnya jatuh. Dengan sempurna Chanyeol yang tepat persis berada dibelakangnya pun akhirnya menjadi sasaran jatuhnya Seul.

“AWW! ughh..” Seul meringis kesakitan. Satu pergelangan kaki sebelah kanannya begitu sakit. Menyadari bahwa Chanyeol berada dibawah tubuhnya membuatnya memejamkan kedua mata. Pasti Chanyeol kembali akan membentaknya. Aish, Seul bodoh. Ceroboh sekali. Seul terdiam diatas tubuh Chanyeol dengan satu tangan Chanyeol yang memeluk tubuh mungilnya dengan erat.

“Hey, kenapa kau diam. Berdiri.” Chanyeol tidak melihat wajah itu, karena Seul benar-benar malu dan memalingkan wajahnya di dada Chanyeol.

“Kakiku sakit, sungguh.” Seul dengan rasa khawatir mencoba menatap wajah Chanyeol. Chanyeol tidak mengerti kenapa wanita ini selalu saja membuatnya terkena masalah, ceroboh sekali. Perlahan Seul menyingkirkan tubuhnya kesamping kiri. Masih meringis kesakitan karena pergelangan kakinya.

“Seul kau ceroboh sekali. Selalu saja menyusahkan. Apa saja yang kau lakukan dikamarku, kau memakai kemeja milikku! Huh? Ck,” Chanyeol kembali membentak Seul. Seul hanya diam. Dia tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan, begitu lancang. Tapi Seul harus mandi dan mengganti bajunya yang sudah terlihat kusam.

“Maafkan aku Chanyeol. Sungguh–“

“Sungguh? Kau selalu saja bersungguh-sungguh dengan keadaanmu.” Lagi-lagi Chanyeol menyanggah kalimat Seul.

“Hiks, aku juga tidak ingin melakukannya. Tapi aku tahu bahwa yang ku lakukan salah. Haruskah aku memohon untuk kau memaafkan kesalahan-ksalahanku!” Seul kembali menatapnya dengan penuh penyesalan, air matanya kembali menetes. Chanyeol membuatnya menangis kembali. “Aku juga tidak dengan sengaja jatuh, aku begitu kaget mendengar kau berteriak dibelakangku persis. Apa aku salah?!” Seul menatapnya dengan lirih. Cara berbicaranya sedikit penuh emosi. “Jika kau berteriak karena aku memakai kemejamu ini, aku hanya meminjamnya dan akan ku pastikan aku akan mengembalikannya. Jika memang tidak, aku akan membelikan kemeja dengan barang yang sama.” Semua penuturan Seul sudah selesai dan Seul ingin beranjak. Mencoba berdiri dari keadaannya yang sekarang. Chanyeol seperti biasa hanya mendengarkan saja, tidak ada respon sama sekali. Sepertinya Chanyeol mulai terbiasa dengan cara Seul bicara, selalu dengan penuturan yang panjang. Sedangkan dirinya justru sebaliknya.

“Ugh,” Seul membenci keadaannya sekarang. Kakinya benar-benar sakit, bagaimana jika besok bengkak dan pasti ia harus mencari alasan agar diizinkan untuk tidak masuk kerja. Kantor tempatnya bekerja sangatlah menjengkelkan, dan Seul membenci itu.

Tiba-tiba Chanyeol mendekati Seul dan dengan spontan ia mengangkat tubuh Seul. Chanyeol pernah melakukan hal ini, kejadian ini persis tadi malam. Dimana Chanyeol membawa tubuh Seul ala bridal. Seul terdiam, benar-benar diam. Seul sama sekali tidak menyangka dengan perlakuan Chanyeol padanya, saat ini. Kedua tangan Seul ia kalungkan diseisi leher Chanyeol. Kedua matanya berkedip-kedip menatap wajah Chanyeol. Perlahan Chanyeol membuka pintu kamarnya terus membawa tubuh mungil itu sampai pada tempat tujuan Chanyeol.
.
.
Deg
.
.
Deg
.
.
Deg
.
.
Seul mulai merasakan perasaan yang tidak biasa. Jantungnya berdegup. Seul tidak mengerti dengan semua ini?? Pria ini selalu bisa membuat Seul diam begitu saja dengan perlakuannya.

Sampai, Chanyeol membawa Seul sampai pada ruang tv. Seul bersandar di unjung sofa panjang berwarna biru tua kedua kakinya ia luruskan dan melepaskan kedua tangannya diseisi leher Chanyeol. Seul masih terdiam, setia menatap sang pria.

“Aku benar-benar tidak mengerti? Perasaan apa ini? Apa aku menyukai Chanyeol? Aku baru saja bertemu dengannya, aku bahkan merasa tidak pantas berada disini. Chanyeol sangatlah kaya, aku bisa melihatnya dengan jelas tapi bagaimana bisa aku membungkam perasaanku sendiri??” Seul menyuarakan perasaannya didalam batinnya. Kedua bola matanya tidak lepas dari wajah Chanyeol, air matanya menetes begitu saja.

“Apa masih sakit?” Chanyeol melihat air mata Seul, apa Seul masih merasakan sakitnya? Chanyeol berniat mengambil satu bantal disofa single dan menutup bagian kedua paha milik Seul. Wanita ini membuat Chanyeol selalu ingin membawanya kedalam pelukkan, tubuhnya begitu mungil. Kaki jenjang Seul begitu sempurna, hanya ada sedikit beberapa luka dibagian lututnya karena kejadian tadi malam.

Seul mengganguk pelan sambil menghapus air mata yang sempat menetes mengenai pipinya.

“Chanyeol,”

“Eum?” Chanyeol menatapnya, Seul tidak mengerti kenapa disetiap Chanyeol menatapnya seperti ada sesuatu hal yang Chanyeol sembunyikan dari tatapannya pada Seul. Apa hanya perasaan Seul saja?

“Aku ingin pulang, aku terlalu banyak merepotkanmu.” Kemudian Seul merundukan kepalanya merasa bersalah, entah kenapa? Hanya saja itu yang ia rasakan saat ini.

“Lihatlah, bagaimana kau bisa pulang. Jalan saja tidak bisa? Ugh?” Kata Chanyeol meremehkan.

Seul terdiam, kepalanya benar-benar merunduk. Tidak tahu harus apa?

Chanyeol sendiri hanya menatapnya dalam diam, hampir 3 menit mereka terdiam. Bayangkan betapa sunyinya hingga mereka tidak berkata apapun. Chanyeol akhirnya menyerah.

“Seul?” Panggil Chanyeol dengan suara beratnya. Seul yang mendengar itu tersenyum kecil, akhirnya Chanyeol memanggilnya terlebih dahulu bukan dirinya.
“Nde?” Seul menatap Chanyeol dengan tatapan yang terlihat senang.
“Apa kau lapar?” Chanyeol mengambil sebuah handphone di saku celana tranning nya. Sebagai jawabannya, Seul mengangguk pelan.
“Kau makan terlebih dahulu, lalu kau bisa pulang. Ohya? Kau bisa pulang sendiri bukan?” Tanya Chanyeol santai sambil mengetik sebuah nomor yang akan ia hubungi.
“Bisa, aku juga tidak ingin kau mengantar ku pulang” Tidak Seul sangka, pria ini terus saja membuatnya bingung. Baru saja hati Seul berbunga-bunga karena Chanyeol memanggil namanya. Ternyata ini yang ingin Chanyeol katakan. Menyebalkan. Menyuruhnya untuk pulang sendirian.

Setelah tersambung Chanyeol mulai meletakan handphone nya ditelinga, sekejap Seul mengambil handphone itu.

“HYA!” Chanyeol menatapnya kesal.

“Aku tidak lapar. Tidak perlu memesan apapun. Aku bisa masak ramen atau yang lainnya. Jika kau lapar aku bisa membuatkannya untukmu. Kau tidak perlu menunggu lama hanya perlu 5 menit.” Lihatlah Seul selalu berbicara sepanjang mungkin. Tapi pria itu selalu saja setia mendengarkan setiap penuturan wanita ini.

“Aigoo, keras kepala. Kau bahkan tidak bisa berdiri Nona Kim. Dan sekarang kau–“

Seul memberikan handphone milik Chanyeol. Lalu menggerakan satu kakinya untuk menyentuh lantai.

“Ugh, appo.” Ringis Seul.

“Sudahlah.” Chanyeol tersenyum tipis melihat wanita itu terlalu memaksakan dirinya sendiri.

“Ini karenamu, Chanyeol shi” Sesal Seul.

“Bagaimana bisa menjadi salahku Nona Kim?” Chanyeol menatapnya intens.

“Memang salahmu” Seul benar-benar membenci Chanyeol saat ini.

Pertengkaran antar kedua nya membuat mereka semakin terlihat dekat. Tapi Seul membenci pertengkaran, jadi lebih baik ia diam saja lagi. Dan menurut apa yang dikatakan Chanyeol. Akhirnya Chanyeol menghubungi sebuah restaurant makanan yang terdekat dari appartement miliknya. Mereka harus menunggu sekitar 20 menit makanan akan sampai.

“Chanyeol, boleh aku bertanya sesuatu?” Seul menatap Chanyeol yang berada tepat disampingnya terduduk. Pria itu setia menemani dirinya yang sedang sulit untuk berjalan.

“Apa?” Tanpa melihat Seul.

“Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam?”

“Tidak terjadi apapun”

“Kau berbohong”

Chanyeol mulai menatapnya dan mendekatkan pandangannya pada Seul.

“Berbohong? Untuk apa?” Chanyeol benar-benar menatapnya dalam. Tidak percayakah Seul dengan perkataannya kali ini.

“Karna aku merasa–” Seul berhenti berbicara dengan pergerakan Chanyeol yang mendekatinya secara sempurna satu tangan Chanyeol meraih pinggang Seul, semakin mendekati pandangan Seul.

“Jangan berpikir aneh-aneh Nona Kim, kau tidak tahu siapa diriku. Arrayo?” Chanyeol berbisik tepat ditelinga kanan Seul. Begitu seduktif pergerakan Chanyeol membuat Seul terdiam dan menelan sedikit saliva nya. Dengan keberanian entah dari mana, Seul mengangkat satu tangannya untuk meraih satu pipi Chanyeol. Chanyeol menggerakan kepalanya kembali menatap dalam kedua bola mata coklat milik Seul. Seul pun melakukan hal yang sama. Pandangan mereka begitu lekat.

“Aku seperti melihat hal ini tadi malam.” Seul membelai satu pipi Chanyeol.

Beberapa detik, Seul mendekati bagian bibir Chanyeol. Berniat ingin mencium atau hanya sekedar mendekati saja. 1,2,3,4,5 detik bibir ranum itu mendekati bibir Chanyeol. Perlahan Chanyeol menjauhi sedikit kepalanya, Seul terdiam. Dua kali kedua bola matanya bekedip menatap sesisi wajah Chanyeol. Hingga satu tangannya yang sedari tadi membelai pipi Chanyeol beralih kebagian leher. Chanyeol tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita ini?
Cara menatapnya, bibir ranumnya, tangannya yang begitu lihai, dan tubuh yang begitu mungilnya seperti mengingatkan Chanyeol akan kenangan masa lalu. Lama akhirnya mereka tersadar. Chanyeol melepas ikatannya dipinggang Seul dengan begitu Seul juga mejauhkan satu tangannya.

Seul mencoba mengingat kejadian tadi malam, dan itu membuat kepalanya sakit kembali. Dua botol alkohol ia habiskan begitu saja tadi malam.

Chanyeol tersenyum tipis. Melihat Seul yang sedang memegang kepalanya karena pusing tiba-tiba. Tidak Chanyeol sangka setelah mandi bersih, wangi tubuh Seul tetaplah sama. Chanyeol begitu menyukai harumnya tubuh itu dengan jarak sedekat tadi.

Makanan datang dan mereka mulai memakan makanan yang sudah Cha nyeol pesan. Butuh waktu 30 menit untuk makan. Setelah itu Chanyeol mulai mencari kotak p3k.

“Kau bisa berjalan?”

“Aku rasa bisa jika sedikit diperban, karna kakiku sempat terkilir”

“Ini” Chanyeol memberikan perban itu.

“Oh, terimakasih. Semoga alat ini membantuku walau seidkit”

Seul mengeratkan perban hingan 5 kali putaran diseisi pergelangan kaki kanannya. Sakit, tapi masih bisa Seul tahan. Setidaknya kakinya bisa ia gerakan sedikit untuk berjalan pulang. Chanyeol sedari tadi hanya melihatnya saja. Bisa dilihat Seul adalah wanita yang mandiri. Apapun hal yang bisa Seul kerjakan sendiri akan ia lakukan sendiri tanpa perlu bantuan orang lain.

“Selesai. Chanyeol, terimakasih. Maafkan aku atas semua kesalahanku. Termaksud tamparanku tadi pagi. Aku benar-benar marah karna perkataanmu begitu kasar. Maafkan aku. Aku janji jika kita bertemu kembali, akan ku kembalikan kemejamu ini. Aku benar-benar tidak ingin memakai bajuku yang sudah terlihat tidak baik untuk kukenakan. Aku tahu, aku banyak melakukan kesalahan. Jika bukan karenamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada tubuhku ini. Bisa saja orang lain menjadikanku sebagai bahan permainannya. Kau pasti mengerti maksudku? Eum, Chanyeol shi aku pamit. Annyeong..”

Sungguh wanita ini benar-benar banyak berbicara. Selalu membuat Chanyeol mendengarkan apa saja yang dia katakan.  Meskipun hal itu tidak sama sekali ia permasalahkan. Hanya saja Chanyeol tipe orang yang tidak terlalu suka berbicara dan lebih suka mendengarkan saja meskipun pada akhirnya ia hanya akan merespon sedikit atau berbicara seperlunya saja.

“Mau ku antar?” Chanyeol melihat Seul yang sudah bersiap untuk berjalan pelan-pelan ke arah pintu luar appartement.

“Tidak, aku bisa pulang sendiri” Jawaban Seul sambil tersenyum baik.

“Chakkaman.” Chanyeol berdiri dari sofa. Meraih sebuah jaket kulit hitam yang berada di gantungan di lorong arah pintu keluar. Gantungan yang khusus ia taru jaket-jaket kesayangannya. Perlahan Chanyeol memakaikan jaket itu ketubuh Seul.

“Pakailah, kemeja itu terlalu tipis. Bahkan dalamanmu saja terlihat jelas berwarna hitam. Apa kau bermaksud ingin menggoda pria-pria diluar sana Nona Kim? Ck,” Chanyeol tersenyum tipis.

Mendengar perkataan Chanyeol, Seul langsung menggerakan kedua tangannya dan meraih jaket itu dengan erat ia tutup kedalam tubuhnya. Kedua mata Seul menatap Chanyeol jengah, kata-kata Chanyeol begitu fulgar untuk didengar.

“Hei, Tuan Park. Jadi sejak tadi???” Desis Seul dengan tatapan membunuh.

“Wae??” Santai Chanyeol.

“Kauuuu!” Seul berteriak.

“Apa kau menyalahkanku dengan apa yang sendiri kau kenakan? Jelas aku bisa melihatnya” Chanyeol menaikkan satu alisnya, suara seraknya benar-benar terdengar begitu santai.

Seul terdiam. Benar, itu bukan kesalahan Chanyeol. Seul merundukan kepalanya. Terdiam kembali. Melihat respon Seul menjadi di, akhirnya Suga mendekatinya tepat berada dihadapan Seul berdiri dan meraih dagu Seul dengan sempurna. Mengangkat dagu Seul secara perlahan lalu berkata..

“Tidak perlu malu padaku. Aku hampir melihat tubuhmu sepenuhnya Seul shi” Bisik Chanyeol dengan begitu santai.

“MAKSUDMU???!” Seul menatapnya benar-benar kesal. Wajahnya memerah secara tiba-tiba. Apa benar perkataan Chanyeol?? Jika benar Chanyeol melakukan hal itu, dia adalah pria brengsek.

“Haha aku bercanda. Sudah sana pulang. Jangan banyak diam.” Tawa Chanyeol sambil tersenyum kecil. Kedua matanya berbentuk bulan sabit, hampir tidak terlihat bola mata itu. Chanyeol benar-benar gila! Hampir saja Seul ingin menamparnya kembali tapi masih ia tahan karena ia tidak tahu jelas apa benar Chanyeol melakukan hal itu terhadap dirinya. Seul tidak menyangka dengan senyuman itu membuat jantung Seul berdebar sesaat. Begitu manis. Cara Chanyeol tertawa dan tersenyum dihadapannya saat ini.

Kemudian Chanyeol mendekati telinga Seul lalu berkata..

“Seharusnya kau mengingat apa yang kau katakan tadi malam padaku. Tapi, buatku itu tidaklah penting. Jadi teruskan saja hidupmu diluar sana. Jangan berbuat hal aneh-aneh jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri. Seul, lebih baik kau lupakan apa yang sudah terjadi. Karna aku akan melakukan hal itu.”

Chanyeol merapikan sedikit rambut panjang milik Seul. Seul tidak mengerti jelas apa yang Chanyeol katakan tapi yang jelas pada akhirnya Seul harus melupakan Chanyeol. Itu garis besar dari kalimat panjang yang Chanyeol tuturkan terakhir kalinya padanya. Sesaat Seul sudah berada diluar appartement Chanyeol, berjalan kearah luar pintu appartement dan Chanyeol menutup pintu itu hingga terkunci dengan sendirinya. Seul benar-benar terdiam. Chanyeol memang benar pria baik-baik. Hanya saja, Chanyeol memang pandai merayu wanita. Apa benar yang Seul pikirkan sekarang? Perasaan Seul sedikit terluka akan ucapan selamat tinggal dari Chanyeol barusan. Tapi, apa yang Chanyeol katakan memang benar. Perkataan Chanyeol selalu benar. Ia harus melupakan semua kejadian ini. Seul membalikkan setengah tubuhnya menengok kebelakang kearah pintu appartement milik Chanyeol. Pintu itu sudah tertutup rapat. Satu hari bersama Park Chanyeol merupakan hari yang sangat tidak ia duga-duga dalam kehidupannya. Betapa nyamannya jika memiliki Chanyeol untuk hidupnya saat ini yang begitu rumit. Memikirkan hal itu membuat Seul tersenyum licik.
.
.
.
.
.
//To be continue//

Screenshot_2018-03-18-21-51-05-974_com.instagram.android

 Hei, adakah yang menunggu untuk chapter selanjutnya? Atau menunggu chapter ini dengan begitu lama haha banyak yang suka dengan verse SUGA DI WATTPAD KUH:’) tapi Verse chanyeol pun juga byk:’) kenapa aku bikin 2 VERSE karena ingin membuat cerita ttg Suga tapi terpikirkan untuk bikin cerita Antara chanyeol atau Sehun yang ingin ku jadikan peran selanjutnya. Ku bayangkan saja Chanyeol saat itu karena masuk kedalam seorang produser musik juga sama seperti Suga yang sangat menyukai musik. Jadilah DUA VERSI HIHI🌼:)

Chanyeol kuh🌻

DEXxwGaUMAQd8mj

13 responses to “I NEED HUSBAND (2.Perfect) – by sasarahni

  1. awalnya bingung kenapa ada chanyeol terus ada suga juga. eh tahu nya begitu.heheee
    suka banget sama ceritanya.
    makin gak sabar nunggu kelanjutannya

  2. Suka banget ceritanya. Kalau aku sih sukanya kalau chapternya agak panjang, jadi lama bacanya… Heheheh
    Trus, aku lebih suka kalau Seul itu karakternya agk cuek dan tomboy tapi penyayang dan pekerja keras #apaansih
    Ok Thor… Lanjut next part aja dech… 😁🕵

  3. Maafkan reader mu yang baru komen ini ya Thor padahal udah baca sejak awal di post part 2 nya. Seingetku kemaren udah komen eh pas cek lagi ternyata belum. Sekali lagi maaf. Btw next nya kapan udh nunggu satu bulan lebih nih
    Oya satu lagi Thor. Boleh minta Emailnya ada yg mau di Tanya

    • Follow ig : sasarahni aku aja kalo mau tanya tanya. Krn aku jrg buka email skrg” ini. Iya maafkan author juga ya, karna aku sendiri pun sibuk dengan dunia nyata ku. Karna udah mulai kerja juga. Tak apa, lebih baik terlambat buat comment dari pada baca tp gak ada jejak sama sekali😞, aku mengerti. Jujur akupun mau lanjutin ff ini, tp krn blm bisa ku tulis sepenuhnya jadi aku blm bisa ngelanjutin kembali. Berharap kalian mengerti juga ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s