All the Time [2] – by ByeonieB

righttime

All the Time

-ByeonieB@2018-

Bae Jinyoung (Wanna One) & Han Heekyung (OC) || Fluff, Romance, Drama, School Life || PG-17 || Short-Chapter

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Ini mengenai seorang bocah lelaki yang menyukai wanita dengan panggilan ‘Noona.’ Panggilan itu hanya sebuah formalitas belaka, padahal jauh di dalam lubuk hatinya dia ingin memanggil wanita tersebut dengan namanya. Menyatakan bahwa anak lelaki itu menyayangi wanita tersebut.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

You could also read this on here

Chapter 2

[H A P P Y   R E A D I N G]

 

Heekyung tahu ini salah. Sangat salah, oh Tuhan tolonglah!

Dia kemudian memegang jantungnya kembali, berusaha mengkonfirmasi degupan jantung yang terjadi dua malam yang lalu. Tepat saat Jinyoung mengatakan sesuatu yang err.. mendetakkan jantungnya.

“Noona, berilah aku kesempatan untuk bisa berada di hatimu. Untuk menyayangimu sepenuh hatiku. Cobalah untuk..”

“..melihatku sebagai pria. Sebagai Bae Jinyoung, yang menyayangimu dengan hati seorang pria.”

Dan, jantungnya benar-benar berdegup karena mengingat kata-kata itu lagi!

“Han Heekyung-ssi..”

Suara dari dosennya menyadarkan Heekyung. Dia menengadahkan wajahnya dan mendapati Mr. Cho sedang memerhatikannya dari mejanya di depan kelas.

“Jadi, bisa kau jelaskan mengapa teori Malthus berkata bahwa semakin banyak populasi manusia maka akan menyebabkan kepunahan?”

Heekyung terdiam selama beberapa detik. Inilah salahnya dia memikirkan Jinyoung disaat mata pelajaran makroekonomi oleh dosen tergalak di fakultasnya.

“Heekyung-ah, aku pergi duluan ya!”

Salah satu temannya berteriak sambil pergi keluar kelas. Heekyung hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, lalu kemudian fokus kembali melihat catatannya.

“Aigoo.. Mr. Cho memberikan banyak sekali tugas, hm.” Gumamnya sambil mengingat bahwa dia dikenakan hukuman karena tidak memerhatikan beliau tadi. Heekyung harus membuat makalah mengenai apa hubungan populasi manusia dengan kepunahan, seperti pertanyaan yang tidak bisa ia jawab tadi.

Kemudiannya ia juga teringat apa yang menyebabkan ini semua. Dia sedang memikirkan Jinyoung saat Mr.Cho menjelaskan mata kuliah hari ini.

Sudah dua hari ini.. Heekyung terus terngiang-ngiang oleh perkataan Jinyoung. Sebenarnya itu bukan kali pertamanya Jinyoung mengutarakan perasaannya pada Heekyung, mungkin itu ke-sekian kalinya malah. Jinyoung sudah sering kali memberitahu Heekyung bahwa bocah lelaki itu menyukai Heekyung, pertama kalinya adalah sekitar satu tahun yang lalu. Dia mengatakannya tepat di musim semi, dimana Heekyung dan Jinyoung akan melihat jalanan sungai Han yang dipenuhi oleh tebaran bunga musim semi. Disitu Jinyoung pertama kali bilang bahwa dia menyukai Heekyung, namun Heekyung langsung menolaknya karena saat itu ia sedang menjalin kasih dengan Daniel—dan tak pernah sedikitpun dia merasakan sesuatu pada Jinyoung. Hari itu dia masih merasa bahwa dia tak memiliki perasaan apapun pada Jinyoung, begitu juga hari-hari selanjutnya dan setiap kali Jinyoung bilang padanya bahwa bocah lelaki itu menyukainya, Heekyung masih merasakan nihil di hatinya.

Tapi… kenapa saat malam itu dia mendetakkan jantungnya untuk Jinyoung? Saat Jinyoung mengutarakan perasaannya, semuanya terasa begitu manis. Apa mungkin karena sebelumnya dia tertidur di pelukan Jinyoung? Ah, ini sekedar informasi saja, Heekyung memang benar tertidur di pelukan Jinyoung malam itu. Dan, sumpah.. dia baru tahu bahwa pelukan Jinyoung sehangat itu. Senyaman itu. Semanis itu, sampai-sampai dia sendiri terbawa suasana dan tertidur di dekapannya.

“Aish!!!” Heekyung langsung mengacak-acak rambutnya, “Berhenti, Han Heekyung! Kau adalah gadis yang baru saja patah hati! Tidak pantas jika kau langsung jatuh cinta begitu saja..” dia bergumam. Tunggu-tunggu, sepertinya Heekyung merasa ada kata yang salah yang ia ucapkan.

“Apa!? Jatuh cinta!?” Benar, dua kata itu. “Han Heekyung, sadarlah! Bae Jinyoung itu adikmu!!” ucapnya.

Dia rasa dia sudah gila. Heekyung pun dengan cepat memasukkan seluruh barangnya ke tas, lalu bergegas untuk keluar kelas. Mungkin banyak setan di dalam kelas tadi, dia mencoba membela dirinya sendiri.

Tepat setelah keluar kelas, dia langsung bergegas keluar dari gedung fakultasnya. Dia hendak pergi ke kantin, mencoba membeli minuman untuk mendinginkan otaknya. Dia telah keluar dari gedung fakultasnya, namun dia langsung disuguhkan oleh pemandangan yang langsung menjatuhkan hatinya untuk yang ke-seribu kalinya—lagi.

Dia melihat Daniel di sana.. bersama seorang gadis lain yang ia ketahui sebagai salah satu mahasiswa di kampusnya. Dengan Daniel yang tersenyum pada gadis itu, sebagaimana Daniel dahulu pernah tersenyum seperti itu pada Heekyung. Dengan Daniel yang menggenggam tangan gadis itu, sebagaimana Daniel pernah menggenggam tangan Heekyung dahulu.

Disitu Heekyung kembali pada kesedihan terdalamnya lagi. Kang Daniel, satu pria yang mungkin Heekyung pikir akan selalu berada di hatinya.

Jinyoung berlari cukup kencang, meskipun hawa dinginnya malam menembus kulitnya, dia tidak peduli.

 

From: Heekyung Noona

Message: Jinyoung-ah, kau dimana? (09:03 PM)

From: Heekyung Noona

Message: Mengapa ini begitu sakit, Jinyoung-ah.. (09:43 PM)

 

Jinyoung terus berlari, tak peduli dengan kakinya yang mulai melemas. Dia sudah berlari ke berbagai tempat dimana ia bisa menemukan Heekyung jika sedang patah hati. Bar yang berada di jalan Seonsamdong, minimarket yang berada di dekat apartemennya, sekalipun halte bus dekat apartemennya. Semuanya nihil, ia tidak menemukan Han Heekyung dimana pun.

“Aish, Han Heekyung!”  Tadi Jinyoung sedang berlatih di agensinya, mengingat dia harus menguji ulang evaluasi menarinya, makanya ia tidak bisa langsung menelepon Heekyung atas pesan tersebut.

Demi Tuhan, wajahnya begitu bias saat ini. Takut terjadi apa-apa dengan Heekyung. Kalian tahulah, orang yang patah hati bisa melakukan apa saja bukan? Meskipun Jinyoung percaya Heekyung tidak mungkin akan melakukan tindakan bodoh seperti orang yang patah hati lakukan—bunuh diri, misalnya—tapi tetap saja. Kita pasti selalu berpikir yang terburuk dahulu bukan?

Jinyoung pun sampai di tempat terakhir yang ia ketahui sebagai destinasi Heekyung saat sedih, taman Apgujeong. Dahulu Heekyung juga pernah kabur kemari saat pertama kali dia bertengkar dengan kekasih-bajingannya itu.

Jinyoung mencari ke setiap sudut taman dan masih dia tak menemukan Han Heekyung. Anak lelaki itu sudah mau menangis, namun seketika wajahnya melega saat melihat seorang gadis yang ia kenal duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Han Heekyung, tentu saja.

“Noona!!” Jinyoung langsung menyentak Heekyung tepat setelah ia menghampirinya. “Kau membuatku takut, kau tahu!?”

Heekyung tidak kaget saat Jinyoung menyentaknya seperti itu. Ia hanya menolehkan wajahnya ke arah Jinyoung, dengan matanya yang cukup sayu. Menangis, benar.

“Jinyoung-ah..” Heekyung menepuk-nepuk tanah di sebelahnya, “Sini duduk..”

Jinyoung memerhatikan keadaan Heekyung sebelum ia menuruti permintaan gadis itu. Dua kaleng bir di hadapannya, ditambah keripik kentang kesukaan Heekyung. Namun yang paling membuat Jinyoung merasa kesal dengan Heekyung adalah gadis itu memakai baju tipis disaat udara malam sedingin ini!

Dengan segera Jinyoung pun melepaskan jaketnya dan menyelipkannya di antara tubuh Heekyung. Jinyoung juga hanya memakai satu lapis baju di dalam jaketnya, tapi dia tidak peduli. Heekyung sakit, maka Jinyoung juga sakit.

“Noona, kau tidak kedinginan apa?” Jinyoung telah duduk di samping Heekyung, menyadari bibir gadis itu sudah sedikit kebiruan. “Lihat, bibirmu sudah biru! Noona, aish—“

“Jinyoung-ah, aku ingin bertanya..” Heekyung memotong perkataan Jinyoung. Anak lelaki itu langsung terdiam, menunggu Noona-nya berbicara. Lima detik setelahnya, Heekyung menolehkan kepalanya pada Jinyoung.

“Apa aku sudah tidak cantik lagi, Jinyoung-ah?” Heekyung melihat ke arah Jinyoung dengan air mata yang telah tergenang lagi di matanya. “Apa aku sudah tidak seksi lagi? Apa aku sudah tidak terlihat seperti perempuan lagi?”

Heekyung menolehkan wajahnya ke depan lagi, mengambil satu keripik kentangnya.

“Dahulu, dia..” Heekyung berseru sambil mneggoyang-goyangkan keripik kentangnya. “Daniel bilang bahwa aku perempuan tercantik di dunia baginya. Apa pun yang aku lakukan, aku pasti terlihat cantik di hadapannya. Kata Daniel, aku satu-satunya perempuan yang mencuri seluruh dunianya.”

Jinyoung bisa lihat bahwa genangan air mata itu telah berubah menjadi aliran sungai di pipi Heekyung. Begitu deras.

“Tapi kenapa…” Heekyung kemudian menjatuhkan keripik kentang itu dan menutup mukanya. “Tapi kenapa sekarang ada wanita lain yang menggantikanku sebagai perempuan pencuri dunianya itu..”

Isakannya begitu deras, juga bahunya bergetar sangat hebat. Meskipun wajahnya ia tutupi, Jinyoung tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui bahwa Heekyung sedang menangis.

Jinyoung tidak berkata apa-apa saat Heekyung menangis. Dia hanya menarik Heekyung ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya pada pundak Heekyung. Menepuk-nepuk punggung Heekyung.

Jinyoung ingin membantah semuanya sebenarnya, tapi sekali lagi, hati Heekyung sedang serapuh kaca tertipis dunia. Sedikit getaran bisa menghancurkan segalanya dan Jinyoung tidak mau membuat Heekyung terluka lebih dalam lagi.

Hanya dengan seperti itu, Jinyoung percaya setidaknya Heekyung bisa menenangkan dirinya.

|||All the Time|||

“Noona, kau berjanji ya!”

“Hm, aku berjanji, Jinyoung-ah.”

 

Heekyung terbangun dengan seruan itu di keningnya. Itu suaranya dan Jinyoung, tapi kenapa dia tidak ingat kapan dia pernah berkata itu. Dia kemudian mengedipkan matanya berkali-kali, berusaha tersadar dari alam mimpinya. Dan seketika Heekyung tersadar bahwa dia tak tertidur di kamarnya. Dia baru menyadari bahwa ini kamar Jinyoung!

“Astaga, aku lupa memberitahu password apartemenku yang baru..” gumamnya. Pasti itu alasan mengapa dirinya di kamar Jinyoung pagi ini. Tadi malam dia mabuk dan tertidur, dia ingat Jinyoung menghampirinya dan menemaninya menangis di taman, pasti anak lelaki itu juga yang membawanya pulang. Untuk sekedar informasi saja, password apartemennya yang lama adalah hari jadi Heekyung dan Daniel.

Heekyung pun bangun dari kasur Jinyoung lalu perlahan menuju pintu kamarnya, membukanya. Semerbak wangi sup penghilang mabuk langsung tercium olehnya.

“Heekyung-ah!” Ibu Jinyoung langsung mendapati kehadiran Heekyung, mengingat ukuran apartemen tidak terlalu besar. “Bagaimana keadaanmu? Masih pusing-kah?”

Heekyung hanya tersenyum, merasa malu juga. “Sudah tidak, Ibu..” Heekyung menggigit bibirnya sedikit, “Maaf, sepertinya aku merepotkan sekali kemarin malam, ya?”

Ibu Jinyoung melihat Heekyung dengan tatapan memicing, “Sudah kubilang, tidak boleh ada kata ‘merepotkan’ di antara kita, Heekyung..” lalu perlahan dia menghampiri Heekyung, memegang tangan gadis itu dengan sifat ke-ibu-annya yang paling Heekyung sukai.

“Jinyoung sudah menceritakan padaku apa yang terjadi padamu. Kau harus banyak bersabar ya, Heekyung-ah?”

Inilah alasan mengapa ia tak pernah sampai hati untuk menerima perasaan Jinyoung. Ibu Jinyoung sangat baik padanya, menganggapnya seperti anaknya sendiri. Bagaimana Heekyung bisa tega menganggap anak dari Ibu-angkatnya sendiri sebagai kekasihnya?

“Baik, Ibu..” Heekyung tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Aku akan banyak bersabar dan.. terima kasih.”

Ibu Jinyoung hanya mengelus-elus tangan Heekyung sebagai balasannya lalu kemudian dia mulai menarik Heekyung ke meja makan, “Aku sudah membuatkanmu sup penghilang mabuk, masih hangat. Ayo di makan..”

Heekyung mengangguk-angguk sebagai jawaban. Kemudiannya dia tersadar bahwa Jinyoung tidak bisa ia deteksi keadaannya di ruangan ini.

“Omong-omong, Jinyoung kemana, Ibu?” tanya Heekyung sambil mulai mengaduk sup tersebut.

“Haha, Heekyung-ah.. kau bangun terlalu siang.” Ibu Jinyoung pun menunjuk jam yang berada di ruangan itu, “Sudah pukul 10 siang, Jinyoung tentu saja sudah pergi ke sekolah.”

Heekyung pun merutuki kebodohannya. Ya Tuhan, dia tidak mau lagi mabuk seperti itu. Dia menyusahkan banyak sekali orang.

“Heekyung-ah!”

Salah seorang teman Heekyung memanggilnya ketika Heekyung sedang memasukkan barangnya ke dalam tas. Dia baru saja menyelesaikan kelasnya.

“Hai, Yeonsu-ya.” Balas Heekyung sekiranya. Jujur saja, Heekyung tidak punya begitu banyak teman di kampus ini, mengingat dirinya sibuk sekali bekerja part-time di perpustakaan. Bahkan sepertinya itu pun hanya ‘kenalan’ saja. “Ada apa?”

“Tidak, aku hanya mau memberitahu bahwa aku baru saja membuka kafe di dekat kampus sini. Aku mencoba untuk membuat cheese cake disana, sekali-kali kau datang ya?” tawarnya.

Heekyung hanya mengangguk ceria, mungkin dia bisa mengajak Bae Jinyoung kesana kapan-kapan.

“Baiklah, aku akan mencobanya.”

 

“Baiklah, aku akan mencobanya, Jinyoung-ah..”

 

Heekyung langsung mengernyitkan keningnya juga memegang kepalanya, tiba-tiba saja segelintir kata-kata itu terngiang di otaknya. Yeonsu yang melihat itu tentu langsung kaget dan memegang bahu Heekyung.

“Ya, kau tak apa-apa? Kau sakit?”

Heekyung pun mencoba memijat keningnya. Sudah tidak pening lagi tapi kata-kata itu benar-benar mencuri perhatiannya.

“Aku tidak apa-apa, tadi malam aku mabuk jadi ya mungkin aku masih hangover..” jujurnya. Yeonsu hanya bernafas lega lalu setelahnya pamit untuk keluar dari kelas.

Sedangkan Heekyung, dia merenungkan kata-kata itu dipikirannya. Jelas sekali bahwa suara dari orang yang mengatakan segelintir kata-kata itu dirinya tapi kenapa dia tidak ingat dia pernah mengatakan itu? Dimana, kapan, dan mengapa.. Heekyung benar-benar tidak mengingatnya. Juga, kenapa ia memanggil Jinyoung di akhir kalimatnya? Bukankah itu artinya dia sedang berbicara dengan Jinyoung? Berarti… semua ini ada hubungannya dengan Jinyoung?

Heekyung terlalu pening untuk memikirkannya. Dia memutuskan untuk berdiri dari tempatnya dan keluar dari kelas tersebut lebih dahulu.

Sebenarnya.. kenapa Heekyung mengatakan kata-kata itu pada Jinyoung? Apa beberapa bulan yang lalu Jinyoung pernah menawarinya makanan lalu Heekyung merespon dengan kata-kata itu? Tapi itu sangat tidak penting untuk di ingat, sampai-sampai Heekyung langsung terngiang-ngiang oleh kata-kata itu karena Heekyung mengucapkan kata yang serupa. Belum lagi kata-kata yang ada di mimpinya tadi pagi, dia menjanjikan sesuatu pada Jinyoung. Berarti ini sesuatu yang penting.

“Heekyung-ah!” Heekyung terlonjak kaget oleh teman sesama penjaga perpustakaannya hingga ia menjatuhkan beberapa buku yang sedang ia bereskan.

“Aish..” Heekyung melihat ke arah buku-buku yang berserakan lalu menoleh lagi ke temannya. Nama temannya Yoon Jisung. “Ya! Kau mengagetkanku!!”

Jisung tertawa lalu ia mengambil buku-buku itu dan membantu Heekyung membereskannya, “Maaf-maaf.. habis kau melamun sih tadi! Aku tidak tahan melihatnya, hahaha.”

Heekyung hanya berdecak kesal lalu membantu Jisung untuk merapikan bukunya ke dalam lemari.

“Ya, Heekyung-ah.. bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Hm, tanya saja.”

“Waktu itu.. ketika kau.. err..” Jisung sedikit memotong perkataannya, membuat Heekyung menolehkan wajahnya dan melihat Jisung dengan aneh.

“Ya, kau mau bertanya apa? Kenapa ragu seperti itu..”

“Waktu itu, ketika kau.. bertengkar dengan kekasihmu.. aku ingin bertanya itu..” Saat Jisung mengatakan hal itu, Heekyung langsung terdiam di tempatnya. Ya, luka lama telah terbuka kembali.

“Aku hanya ingin mengatakan maaf saat itu aku tidak bisa membantumu. Maksudku itu…” ucapnya kembali sembari menggigit bibirnya.

Heekyung hanya terkekeh pelan, “Ya, kenapa kau harus minta maaf? Tidak apa-apa, aku juga kalau jadi kau mungkin tidak berani menghentikan amukannya itu.” Heekyung kembali teringat dengan Daniel pada hari itu. Kang Daniel memang seperti itu, dia sangat temperamen dan juga kasar. Kadang Heekyung suka merutuki kebodohannya karena menyayangi pria itu. “Omong-omong, dia bukan kekasihku lagi. Aku sudah berakhir dengannya.”

“Ah begitu.. sebenarnya aku ingin melerai mantan kekasihmu itu dengan anak lelaki yang di hajar olehnya, ah iya anak lelaki itu yang sering datang kemari, bukan?”

“Haha, iya.. dia tetanggaku. Aku dekat dengannya dan sudah ku anggap seperti adikku sendiri, makanya dia kemarin berani melawan.” Heekyung menjelaskan dan Jisung hanya mengangguk-angguk lagi.

“Pokoknya, aku minta maaf, ya? Maaf tak bisa membantumu hari itu.” Ucapnya lagi. Heekyung hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

“Tapi, Heekyung-ah.. sepertinya dia tidak menganggapmu seperti kakakmu sendiri.” Jisung kembali berbicara dan jelas itu langsung menarik perhatian Heekyung. Gadis itu menoleh dan mengernyit pada Jisung.

“Apa maksudmu?”

“Ya, maksudku.. kau kan menganggapnya seperti adikmu sendiri, harusnya dia menganggapmu yang sebaliknya juga. Tapi, untuk ukuran hanya tetangga kurasa dia terlalu menaruh perhatian lebih padamu.”

Heekyung tertawa sarkas mendengar itu, “Ya, kau baru saja meminta maaf tapi kau sudah hendak menggosipkan diriku!?”

Jisung terkekeh pelan, “Bukan menggosipimu, Heekyung-ah. Hanya saja aku memberitahumu, bahwa anak lelaki itu sepertinya tidak menganggapmu hanya sebagai kakak..” Jisung terdiam selama beberapa detik, sambil seperti mengingat sesuatu. “Kalau di ingat, dia hampir tiap hari menjemputmu sepulang kau menjaga perpustakaan. Kau sering bilang kan kalau kau sedang menjaga perpustakaan ini sendirian dia selalu menemanimu dan membantumu? Juga terkadang aku melihatnya suka tersenyum sambil memerhatikanmu, Heekyung-ah!”

Heekyung langsung memukul bahu Jisung cukup keras, pembicaraannya mulai melontar kemana-mana. “Ya! Berhenti! Kau seperti ibu-ibu bergosip saat sedang berbelanja di pagi hari, kau tahu?!”

Jisung hanya mengeluh kesakitan dan setelah itu Heekyung pergi dari sana, menuju ruang pegawai. Sebenarnya dia juga jadi kepikiran dengan omongan Jisung, yang dikatakan pria itu semua tadi benar. Bae Jinyoung memang bisa dikatakan hampir 24/7 selalu bersama Heekyung. Juga menaruh semua perhatian itu pada Heekyung. Ini Heekyung yang memang bodoh baru menyadarinya atau memang Heekyung tidak pernah melihat bahwa Jinyoung menaruh perhatian sebanyak itu pada Heekyung?

From: Bae Jinyoung

Message: Noona, aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Aku masih latihan di agensi. Hati-hati ya, Noona!

 

Heekyung langsung memasukkan ponselnya ke tas setelah membaca pesan dari Jinyoung.

“Padahal aku ingin mentraktirnya hari ini..” gumamnya. Heekyung ingin membalas jasa Jinyoung selama ini padanya. Dia yang bodoh karena baru menyadari betapa baiknya Jinyoung selama ini pada dirinya.

Heekyung pun membuka pintu perpustakaan, bermaksud pulang ke apartemennya sebelum dia menemukan seseorang yang selalu menjadi luka terdalamnya.

“Bisa kita bicara?” Daniel bertanya seperti itu pada Heekyung.

Heekyung hanya menatap luar jendela dengan perasaan yang bercampur aduk. Sakit, marah, sedih, kecewa.. semuanya begitu menggumpal di jantung Heekyung. Ingin meledak rasanya.

Daniel kembali duduk di hadapan Heekyung, sambil membawa dua minuman. Yang satu ia taruh di hadapannya yang satu lagi ia sodorkan pada Heekyung.

“Minumlah, ini kesukaanmu, benar?”

Heekyung melihat ke arah minuman itu. Ice Cappucino.

Heekyung menatap minuman itu beberapa detik, berusaha mencerna hatinya yang sakit kembali, lalu dia memberanikan diri menatap Daniel.

“Kau mau berbicara apa?” ucap Heekyung dengan tegas.

Daniel melihat Heekyung dengan.. entahlah. Heekyung tidak ingin menebak karena takut sakit hati jika tebakannya benar.

“Heekyung-ah.. bisakah kita berakhir dengan baik-baik saja? Kita dahulunya teman, apakah tidak bisa kita menjadi teman kembali setelah hubungan kita berakhir?”

Sumpah, rasanya Heekyung ingin menangis detik itu juga.

“Kau.. yang memulai semuanya, Kang Daniel.” Heekyung menahan mati-matian suaranya agar tidak terdengar seperti ingin menangis. “Kau.. yang membuat semuanya seperti ini. Menghancurkan diriku. Dan sekarang kau ingin kita menjadi teman kembali disaat aku sudah seperti ini?”

Daniel pun menghembuskan nafasnya kasar dan mulai sedikit menaikkan volume suaranya, “Ya.. ini juga ada bagian salahmu, kau tahu!? Aku tidak akan berubah seperti ini jika kau juga tidak berubah!”

“Berubah? Aku tidak pernah berubah, kau yang berubah. Kau menjadi kasar, kau selalu menyakitiku!” Heekyung juga mulai menaikkan suaranya, kesal sekaligus ingin menangis. “Kau yang mulai sering menyentak diriku! Terkadang malah kau hendak memukulku! Tapi, apa yang kulakukan? Aku hanya diam dan menurutimu! Saat kau bilang kau sedang tidak ingin diganggu, aku akan diam dan menunggumu. Saat kau bilang ingin break denganku, aku juga diam dan menunggumu. Oh, astaga kalau ku ingat-ingat betapa bodoh diriku selalu mengikuti kemauanmu.” Heekyung menahan nafasnya karena dia berbicara begitu cepat dan penuh emosi.

“Kau pikir.. dengan segala yang kulakukan seperti itu, apa aku berubah? Kau tak sadar, Kang Daniel, betapa aku mencintaimu dahulu?” ucapnya walaupun Heekyung sedikit merasa menyesal mengatakan itu.

Daniel terdiam dengan tangannya yang mulai meremas. Mungkin dia tahu bahwa dia sudah kalah telak.

“Lalu kau mau apa?! Kau masih mau mengejar-ngejar diriku, iya!?”

Heekyung tertawa sarkas, “Tidak, aku akan melupakanmu.” Heekyung tidak bisa menahan dirinya lagi, dia pun kemudian berdiri dari tempatnya. “Terima kasih untuk segalanya. Maaf kalau aku tidak bisa sempurna menjadi kekasihmu waktu dahulu, tapi setidaknya aku pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku.” Sebelum dia pergi, Heekyung teringat dengan minuman itu.

“Omong-omong, aku tidak bisa meminum kopi. Kau tidak tahu apa kalau aku paling tidak suka kopi? Ah..” Heekyung terkekeh pelan, meremehkan. “Mungkin.. hanya aku yang mencintaimu, benar?”

Daniel hanya melihat Heekyung dengan terdiam, melihat keberanian gadis itu cukup menyita nafasnya.

“Kang Daniel, aku berharap suatu saat nanti semua yang telah kau lakukan padaku akan terbalaskan padamu.”

Setelah mengatakan itu, Heekyung berjalan dengan tegas menuju pintu keluar kafe. Meninggalkan Daniel yang mengepalkan tangannya.

Sedangkan Heekyung, setelah keluar dari kafe itu, dia berjalan cepat untuk menjauhi kafe tersebut. Setelah dia rasa cukup jauh, dia menyandarkan tubuhnya pada dinding gedung. Memegang dadanya yang berdetak begitu cepat, bukan karena jatuh cinta. Tapi karena itu terlalu menyakitkan. Semuanya, begitu menampar Heekyung begitu keras. Mengetahui bahwa gadis itu memang hanya mencintai Daniel seorang diri.

Jinyoung melihat ponselnya dengan peluh keringat di keningnya, dia sedang break dari latihan untuk uji ulang evaluasi menarinya. Lampu LEDnya berkedip, menandakan bahwa ada notifikasi masuk, entah pesan atau media sosial yang lainnya.

Ternyata itu sebuah pesan.

 

From: Heekyung Noona

Message: Kau dimana? Bisakah kita bertemu sekarang? (09:10 PM)

 

Pesannya baru dikirim sekitar lima menit yang lalu, maka Jinyoung pun langsung menelepon Heekyung untuk mengkonfirmasinya.

“Jinyoung-ah..”

Saat mendengar suara Heekyung seperti itu, Jinyoung tahu pasti ada sesuatu yang terjadi oleh Heekyung.

“Noona, kau dimana?” Jinyoung bertanya to the point. Tidak mau memperlambat dengan pertanyaan retorik seperti ‘kau kenapa?’

“Hm? Aku di halte bus..” jawab gadis itu begitu sayu dan tak bertenaga. “Kau sedang apa, Jinyoung-ah?”

Jinyoung hanya menghembuskan nafasnya kasar, “Aku akan kesana. Tunggu, jangan pergi kemana-mana.” Jawabnya tanpa membalas pertanyaan Heekyung.

Anak lelaki itu kemudian mematikan sambungan sepihak lalu dia membawa jaketnya lagi. Dia sudah akan bergegas berlari keluar, namun ketika di pintu masuk, Jinyoung bertemu dengan pelatihnya.

“Ya, Bae Jinyoung. Kau mau kemana?”

Jinyoung gelagapan, sedikit takut juga, tapi bagaimana ini? Dia tidak bisa meninggalkan Heekyung sendirian disana. Jinyoung tahu pasti Heekyung sedang patah hati untuk yang ke-sejuta kalinya lagi bagi diri gadis itu.

“Hm.. aku..” Jinyoung berpikir dengan cepat, “Aku.. mau ke rumah dahulu, coach-nim! Ibuku menyuruhku pulang sebentar..”

Pelatih Kim melihat Jinyoung dengan curiga, “Ya, kau kemarin juga baru pulang saat malam itu. Kau sedang tidak mencari alasan untuk bolos latihan, bukan?”

“Ti-tidak, coach-nim.. Aku berjanji akan kembali lagi nanti, hanya sebentar saja..” Ujar Jinyoung lagi, sedikit memohon.

Pelatih Kim memerhatikan Jinyoung dengan penuh menyelidik. Oh, astaga, sepertinya Jinyoung ketahuan sedang berbohong.

“Tidak, aku tidak akan mengijinkanmu untuk pulang.” Jinyoung langsung merubah raut wajahnya menjadi bias. “Biar nanti aku yang menelepon Ibumu, aku akan bilang bahwa kau sedang latihan untuk evaluasi ulangmu.”

Pelatih Kim pun mulai masuk ke dalam ruangan bekas Jinyoung latihan seharian ini, mungkin akan mengawasi latihan Jinyoung. Sedangkan anak lelaki itu terdiam di pintu, gelisah karena ini benar-benar membuatnya gila. Perasaan itu, dimana dia tidak bisa meninggalkan Heekyung terluka sendirian.

Jinyoung pun memutuskan untuk mengambil jalan yang sebenarnya salah. Dia pun melihat ke arah pelatihnya yang hendak duduk, sambil mulai memegang kenop pintu.

“Pelatih Kim, aku minta maaf.. tapi, aku benar-benar harus pergi.” Pelatih Kim tentu mendengar itu, maka ia langsung memutar tubuhnya dan melihat Jinyoung dengan galak, “Aku akan kembali lagi nanti, aku berjanji!”

Jinyoung sempat dengar pelatih Kim sudah meneriakinya, tapi Jinyoung sudah berlari terlebih dahulu keluar dari ruangan. Oh, Ya Tuhan, Bae Jinyoung.. apa yang kau lakukan pada mimpimu?

Heekyung merenung, memerhatikan lantai halte dengan perasaan bercampur aduk. Mengetahui bahwa Daniel mungkin.. tidak pernah menyayanginya benar-benar menghancurkan Heekyung. Selama ini, selama tahunan ini, Heekyung benar-benar menyayangi Daniel. Memberikan seluruh hatinya untuk Daniel. Mulai dari saat mereka bertemu di sekolah menengah atas, saat Heekyung pertama kali menyatakan perasaannya pada Daniel lalu Daniel menerimanya. Mereka menjalani semua hari-harinya bahagia, ada saat dimana Heekyung percaya bahwa Daniel juga merasakan yang sama dengan Heekyung. Namun.. ketika Heekyung memutar ulang semuanya, dia baru menyadari bahwa sebenarnya apa yang Heekyung selalu percaya ternyata tidak pernah benar-benar terjadi. Mungkin.. dari saat dirinya menyatakan perasaan pada Daniel, lelaki itu hanya menerimanya karena kasihan padanya. Bukan karena menyayanginya.

Heekyung pun mengusap wajahnya, ternyata dia yang bodoh selama ini.

Saat dia baru saja akan menengadahkan wajahnya, dia menemukan seseorang berlari cukup cepat sambil menghampirinya. Oh, Bae Jinyoung.

“Noona.” Panggilnya setelah dia berada di hadapan Heekyung, “Kau tidak apa-apa?”

Heekyung hanya tersenyum, “Ya, Jinyoung-ah. Kenapa akhir-akhir ini kau selalu bertanya seperti itu padaku? Apa aku semenyedihkan itu di matamu?”

Jinyoung membuka mulutnya, bermaksud untuk mengulang kata-katanya, namun Heekyung menghentikannya dengan menarik Jinyoung untuk duduk di sampingnya. Membiarkan anak lelaki itu terdiam lalu memerhatikan Heekyung dengan seksama.

“Aku tidak apa-apa, Jinyoung-ah. Kini.. aku telah menyadari semuanya.” Heekyung tersenyum pahit, “Bahwa.. dia memang bajingan. Dia bajingan yang tidak pernah.. mencintaiku.. sebanyak aku mencintainya.”

Jinyoung tidak merespon apa-apa dan tetap mendengarkan Heekyung dengan seksama. Salah satu jalan terbaik untuk meredakan hati seorang gadis yang tersakiti.

“Selama ini, aku memberikan semuanya pada dirinya. Waktuku, hari-hariku, senyumku, bahkan hatiku. Semuanya aku berikan padanya. Namun, ternyata dia tidak memberikan semuanya padaku. Bahkan aku ragu jika dia benar-benar pernah memberikannya padaku.”

Heekyung kemudian melirik ke arah Jinyoung, “Aku mau minta maaf sekaligus berterima kasih padamu, Jinyoung-ah.” Ucapnya dengan tulus. “Maaf karena waktu itu aku menjauhimu karena tidak mau mempercayai kata-katamu juga berterima kasih karena telah menyadarkanku.”

“Benar-benar terima kasih, Jinyoung-ah..”

Rasanya, saat itu hati Jinyoung benar-benar lega. Seperti beban seribu ton yang diam di pundaknya terangkat begitu saja. Yang menyita seluruh atensinya selama beberapa waktu ini, seperti sebuah game, ada tulisan ‘Mission Clear’. Dan Jinyoung benar-benar merasa selega itu saat ini.

“Aigoo..” Jinyoung mengangkat tangannya dan mengelus-elus rambut Heekyung dengan lembut, “Heekyung noona-ku sudah kembali rupanya.”

Heekyung hanya tertawa sambil menjauhi tangan Jinyoung dari kepalanya, “Ya! Aku ini noona-mu!”

Jinyoung hanya tertawa sambil menatap Heekyung dengan senyum manisnya. Senyum yang memang dia khususkan untuk Heekyung.

“Aku lebih berterima kasih lagi karena Noona sudah mau sadar. Terima kasih karena untuk tidak terjerat pada lelaki-sialan itu lagi, kau tak tahu apa itu benar-benar membuatku khawatir karena kau terus jatuh padanya?”

Heekyung juga tersenyum manis pada Jinyoung, “Hm, terima kasih karena telah mengkhawatirkanku sampai seperti itu. Terima kasih karena telah peduli padaku sebanyak itu.”

Jinyoung mengangguk-angguk sambil terus tersenyum pada Heekyung. Menatap mata Heekyung, dan kemudian dia teringat sesuatu.

“Kalau begitu.. Noona bisa mencobanya sekarang, bukan?”

Heekyung mengernyit kebingungan, “Mencoba apa, Jinyoung-ah?”

Jinyoung langsung kehilangan raut wajahnya. Dugaan Jinyoung selama ini benar, mana mungkin seorang Han Heekyung mau mengingat itu. Apalagi Jinyoung bermimpi bahwa Heekyung benar-benar akan melakukannya, rasanya seperti dia bermimpi menjadi presiden Korea Selatan.

“Tidak,” Jinyoung membalas dan senyumnya menjadi pahit, “Lupakan apa yang kukatakan. Bukan sesuatu yang penting.”

Heekyung melihat bahwa Jinyoung kehilangan senyumannya. Ini pasti sesuatu yang penting.

“Noona, kau bisa pulang sendiri, bukan?” Jinyoung melihat jalanan di sekitar, “Ini masih cukup ramai, sepertinya..”

Heekyung masih sedang berpikir dengan sesuatu yang membuat Jinyoung kehilangan senyumannya. Ini pasti sesuatu yang penting dan ada kaitannya dengan dirinya. Gadis itu berpikir lebih keras, lalu dia teringat sesuatu yang sangat jackpot.

“Ya, Jinyoung-ah.” Heekyung menarik bahu Jinyoung supaya anak lelaki itu bisa melihatnya, “Kau jujur padaku, aku pernah menjanjikan sesuatu padamu, ya? Seperti sesuatu yang harus aku coba lakukan?”

Jujur Jinyoung merasa seperti harapannya naik kembali, mengetahui mungkin saja Heekyung ‘sedikit’ mengingatnya. Namun, lagi-lagi Jinyoung membuang semua harapan itu. Ayolah, itu benar-benar seperti mimpi Jinyoung yang ingin menjadi presiden Korea Selatan saat kecil dahulu.

“Bukan apa-apa, Noona. Kubilang lupakan saja.” Jinyoung mulai berdiri dari duduknya, “Noona, aku harus kembali lagi ke agensi. Aku masih ada latihan, tenang saja aku sudah bilang pada Ibu kalau aku akan menginap disana.”

Jinyoung kemudian melirik ke sekitar, memastikan sekali lagi kalau jalanan ini masih ramai di waktu malam seperti ini. Untung saja halte bus ini berada di dekat apartemennya jadi Jinyoung masih bisa sedikit tenang meninggalkan Heekyung sendirian untuk pulang. “Jalanan masih ramai, Noona tidak apa-apa kan kalau pulang sendiri?”

Heekyung mengangguk-angguk, tak mempermasalahkan dia pulang sendiri. Tapi, gadis itu masih belum bisa melepaskan pikirannya mengenai sesuatu yang janjikan pada Jinyoung itu.

“Jinyoung-ah, aku pasti menjanjikan sesuatu padamu, benar?” Heekyung juga mulai berdiri lalu dia memegang lengan Jinyoung, “Katakan padaku saja, apa yang aku janjikan padamu? Aku ingin menebusnya sebagai rasa terima kasihku.”

Jinyoung menatap Heekyung dengan dalam dan jujur Heekyung merasakan itu. Buktinya, jantungnya berdetak lagi seperti saat Jinyoung memeluknya malam itu.

“Kalau janji itu memang penting.. Noona pasti akan mengingatnya.” Tuturnya. “Kalau Noona melupakannya, berarti itu tidak penting. Tak apa-apa, aku tak marah. Aku juga tak menuntut Noona untuk menepatinya ataupun menebus rasa terima kasih padaku. Aku melakukan itu semua selama ini murni karena aku menyayangi, Noona. Tanpa sedikit pun meminta balasan dari Noona.”

Kemudiannya Jinyoung mulai melepaskan tangan Heekyung darinya, “Noona, aku benar-benar harus kembali sekarang. Sampai jumpa lagi.”

Jinyoung tersenyum begitu manis seperti biasanya sambil mulai kembali berlari menjauhi Heekyung. Gadis itu hanya terdiam sambil tangannya yang memegang lengan Jinyoung masih mengambang di udara. Terdiam karena dia kembali terbawa suasana oleh hangatnya seorang Bae Jinyoung.

Sedetik kemudian, Heekyung tersadar. Dia sudah tidak bisa melihat Jinyoung kembali di matanya dan setelahnya dia mulai berpikir keras kembali.

Apa yang sebenarnya dia janjikan pada Jinyoung!?

|||All the Time|||

Heekyung masih terus kepikiran atas kejadian malam itu. Pantas saja kenapa kata-kata itu terngiang di kepalanya dan muncul saat Heekyung mengucapkan kata serupa. Janji itu pasti sangat penting bagi Jinyoung dan harusnya untuk diri gadis itu juga. Tapi.. kenapa Heekyung melupakannya!?

Knock. Knock.

Heekyung mendengar suara pintunya di ketuk dan dia langsung bergegas menuju pintu apartemennya. Kebetulan hari ini dosennya tidak hadir, juga bukan harinya untuk menjaga perpustakaan. Sedari tadi dia hanya merenung di ruang tengah oleh ‘janji-Jinyoung’-nya.

“Heekyung-ah.” Ibu Jinyoung tersenyum saat Heekyung membuka pintunya. “Kau sedang apa? Sedang sibuk-kah?”

Heekyung tersenyum sambil menggeleng-geleng kepalanya, “Tidak, Ibu. Aku sedang diam saja sedari tadi.”

“Ah, kalau begitu.. apakah aku bisa meminta tolong padamu?” tanya Ibu Jinyoung dan Heekyung langsung mengangguk menyetujui.

“Wali kelas Jinyoung memanggilku untuk datang ke sekolah tapi aku harus pergi mengurusi pekerjaanku. Bisakah kau wakilkan diriku untuk datang ke sekolah?”

Itu permintaan Ibu Jinyoung pada Heekyung hingga membuat Heekyung sudah mulai memasuki ruang wali kelas Jinyoung saat ini. Sebenarnya Heekyung juga sedikit bingung, mengapa wali kelas Jinyoung sampai memanggil Ibu Jinyoung untuk datang ke sekolah? Yang Heekyung ketahui, Jinyoung bukanlah anak yang nakal. Dia anak yang cukup baik, ya meskipun terkadang dia selalu melakukan apa yang ia mau lakukan. Tapi, sepertinya Jinyoung bukan tipikal anak yang akan melakukan hal buruk untuk mendapatkan apa yang ia mau.

“Kalau boleh tahu, nona ini walinya Jinyoung dari pihak mana?” kali ini wali kelas Bae Jinyoung yang bernama Lee Hanjoo berbicara. Heekyung telah duduk di kursi di hadapan mejanya.

“Aku hanya tetangganya, tapi aku sangat dekat dengan keluarga Jinyoung. Seperti yang Ibu Jinyoung telah katakan padamu di telepon tadi, benar?” Heekyung tersenyum ramah. Wali kelas Jinyoung pun hanya mengangguk-angguk setuju sambil ikut tersenyum ramah.

“Sebenarnya ini bukan sesuatu yang buruk, Jinyoung bukanlah tipikal anak yang nakal juga, tapi.. beberapa waktu ini, Jinyoung sering kali hanya masuk setengah hari dan berlatih di agensinya.” Lee Hanjoo seonsaengnim mulai berbicara, “Dia hanya akan datang di pagi hari, lalu siang harinya akan pergi ke agensinya untuk berlatih. Saya tahu, Jinyoung memang memiliki tekad yang sangat serius di bidang menari serta menyanyi dan saya sebagai wali kelasnya pun mendukung apapun yang ingin Jinyoung lakukan demi masa depannya. Hanya saja, saya tidak bisa pungkiri bahwa Jinyoung seperti sedikit menelantarkan sekolahnya, Han Heekyung-ssi..”

Heekyung tidak membantah perkataan wali kelas Jinyoung dan tetap menyimak apa yang ia katakan, “Seperti yang mungkin Heekyung-ssi ketahui, sekarang Jinyoung sudah berada di tahun terakhirnya di sekolah. Dia tentu saja akan menghadapi ujian sekolah juga ujian negara. Memang mungkin masih lama, hanya saja sekolah sudah mulai mempersiapkannya dari sekarang. Dan melihat Jinyoung yang kerap kali datang hanya setengah hari ke sekolah, saya takut itu akan mengganggu aktivitas sekolahnya di masa depan.”

Heekyung mengangguk mengerti, “Lalu, apa maksud Lee Hanjoo seonsaengnim menyuruh Ibu Jinyoung datang kemari untuk mengingatkan anak tersebut?”

Wali kelas Jinyoung langsung menyetujui, “Benar, mungkin Heekyung-ssi bisa menyampaikan ini pada Ibu Jinyoung dan memberitahu Jinyoung bahwa dia juga harus bisa membagi waktunya untuk sekolahnya. Seperti itu..”

Heekyung mengangguk setuju. Untunglah bukan sesuatu yang serius, jadi Heekyung bisa sedikit merasa lega. Ya jujur saja Heekyung juga sedikit was-was saat datang ke sekolah ini, takut-takut Jinyoung melakukan sesuatu yang tidak ingin ia dengar.

Diskusi mengenai Jinyoung pun tak berlangsung lama, hanya beberapa belas menit setelah wali kelas Jinyoung mengatakan itu, Heekyung sudah diperbolehkan pulang. Kini gadis itu telah keluar dari ruangan wali kelas Jinyoung dan mulai berjalan di lorong sekolah.

“Apa hari ini dia juga pergi ke agensi?” di tengah-tengah perjalanannya menuju gerbang sekolah Heekyung teringat Jinyoung. Kemudian dia melihat ke jam tangannya, masih pukul 11 siang. “Tadi wali kelas Jinyoung bilang dia selalu pergi saat istirahat siang, mungkin dia belum pergi sekarang. Aku bisa mengingatkannya dahulu sekarang.”

Heekyung pun berjalan kembali, menaiki beberapa anak tangga menuju kelas Jinyoung yang terletak di lantai tiga—mengingat di tingkat terakhir. Namun, belum juga

Saat dia menemukan kelas Jinyoung, beberapa murid keluar dari sana dan untungnya Heekyung mengetahui salah satu murid tersebut. Teman Jinyoung tentunya.

Annyeong.” Heekyung menghampiri dan menyapa teman Jinyoung yang ia ketahui sebagai teman satu agensi Jinyoung juga. “Park Jihoon.”

Di sapa seperti itu pun langsung membuat anak lelaki tersebut melihat Heekyung, “Ah, noona.” Dia juga langsung membungkuk pada Heekyung, “Annyeong haseyo, noona.”

Heekyung tersenyum, “Sedang akan istirahat kah?” Kemudian dia melirik ke arah kelas, mencari Jinyoung tentunya. “Jinyoung kemana..?”

“Jinyoung? Dia di agensi, Noona.” Jihoon menjawab, “Dia sedang melakukan evaluasi tarinya hari ini.”

“Evaluasi tari? Itu bukankah evaluasi bulanan?” Heekyung bertanya dan Jihoon mengangguk. “Ini sudah awal bulan, mengapa ia baru mengambil evaluasinya sekarang?” tanya Heekyung kembali.

“Ah, itu..” Jihoon tampak gelagapan, “Itu..”

Heekyung melirik Jihoon dengan bingung, “Itu kenapa, Jihoon-ah?”

Jihoon pun menutup bibirnya lalu kemudian dia menghembuskan nafasnya menyerah.

“Dia gagal dalam evaluasi bulanan yang bulan kemarin, noona.” Jihoon menjeda katanya selama beberapa detik, “..dan sudah dua kali gagal.”

“Dua kali?” Heekyung tersentak kaget, pasalnya Jinyoung tidak pernah bilang ini padanya. “Kenapa aku tidak tahu?”

Heekyung melihat Jihoon tampak mengalihkan tatapan pembicaraannya dari gadis itu, dia merundukkan wajahnya seraya membalas, “A-aku tidak tahu, noona..”

Tentu saja Heekyung mencium kebohongan di balik tingkah Jihoon ini.

“Jihoon-ah, katakan saja sejujurnya padaku.” Heekyung mulai memegang lengan Jihoon, “Apa yang terjadi pada Jinyoung?”

Jihoon tetap menundukkan wajahnya, namun ia rasa ia percuma juga. Di satu sisi lainnya, dia juga ingin membantu Jinyoung.

Anak lelaki itu pun mulai menengadahkan wajahnya, menatap Heekyung. Jinyoung, maafkan Park Jihoon karena harus mengatakan ini.

“Jinyoung.. terlalu memikirkanmu, noona.” Dan saat itu Heekyung bisa merasakan jantungnya berhenti sejenak. “Dia terlalu memikirkanmu sampai dia tidak fokus berlatih di agensi. Pelatihnya sudah memarahinya berkali-kali, aku dan teman-teman yang lainnya juga sudah membantunya, tapi dia tetap tidak mengalami kemajuan. Jinyoung bilang..” Jihoon sempat menghentikan kata-katanya selama beberapa detik karena melihat Heekyung seperti mulai kehilangan pandangannya.

“..dia sangat mengkhawatirkan Noona. Dia takut kalau noona sakit untuk waktu yang terlalu lama.”

Sumpah, rasanya ingin sekali Heekyung menghantam kepalanya dengan apapun itu. Merutuki kebodohan dan keegoisannya yang tidak menyadari bahwa Jinyoung sedang di masa sulitnya disaat anak lelaki itu malah memberikan seluruh perhatiannya pada Heekyung beberapa waktu ini.

“Hari ini dia tidak masuk karena pelatih kami menghukumnya untuk berlatih seharian. Beberapa malam yang lalu dia kabur dari waktu latihannya.” Jihoon menjelaskan lebih detail lagi atas ketidakhadiran Jinyoung di sekolah hari ini, “Dia harus evaluasi tari lagi.. juga berlatih seharian. Kasihan Jinyoung, noona..”

Heekyung terdiam. Dengan hatinya entah kenapa berdenyut sakit, mengetahui bahwa dia mungkin membuat seseorang yang peduli padanya terluka karena dirinya. Ini kedua kalinya dan ini aneh. Jinyoung.. kenapa anak lelaki itu bisa membuat Heekyung merasakan ini semua?

“Noona, kau tidak apa-apa?”

“Noona! Kau mengkhawatirkanku!”

“Noona, kau tidak kedinginan apa? Lihat bibirmu sudah biru!”

 

Memikirkan itu semua membuat Heekyung ingin sekali memukul kepalanya. Menyalahkan keegoisannya, tidak pernah bisa memerhatikan Jinyoung yang selalu ada disampingnya. Dan saat ini, anak lelaki itu sedang berada di titik terbawahnya tapi Heekyung bahkan tidak menyadarinya. Heekyung tidak menyadari bahwa saat malam di halte bus itu, ada segelintir keringat di kening Jinyoung karena berlari untuk menghampiri Heekyung. Heekyung juga tidak menyadari bahwa saat dimana ia mabuk di taman Apgujeong, Jinyoung membiarkan dirinya kedinginan hanya demi memberikan jaketnya untuk Heekyung. Dan saat Daniel memukulnya, yang Jinyoung tanyakan adalah keadaan gadis itu, bukan dirinya yang mengeluh kesakitan. Heekyung malu pada dirinya sendiri. Malu bahwa dia adalah gadis sejahat itu, yang hanya mementingkan dirinya tanpa peduli siapa yang berdiri untuknya.

 

“Kalau janji itu memang penting.. Noona pasti akan mengingatnya.”

 

Itu. Itu satu-satunya cara untuk menebus semua rasa bersalah Heekyung pada Jinyoung, sekaligus berterima kasih karena anak lelaki itu selalu berdiri untuknya. Heekyung pun kini menjentikkan jarinya, berpikir lebih keras.

“Pertama-tama, aku harus menemukan tempat dimana aku mengatakan itu pada Jinyoung.” Heekyung bergumam lalu kemudian dia berpikir keras kembali.

 

“Noona, kau berjanji ya!”

“Hm, aku berjanji, Jinyoung-ah.”

 

Jika Heekyung mengingat lagi, kata-kata itu muncul tepat setelah Heekyung mabuk di taman Apgujeong malam itu. Bukankah berarti dia mengucapkannya ketika di taman Apgujeong?

Tanpa ba-bi-bu lagi, Heekyung langsung bergegas menuju taman Apgujeong. Dia naik taksi dan untungnya keadaan jalanan sedang tidak macet. Tak sampai dua puluh menit, Heekyung telah sampai di taman Apgujeong. Dia sedikit berlari untuk ke tempat saat dia mabuk dan Jinyoung menemaninya, di bawah pohon rindang itu.

Heekyung terdiam menatap pohon rindang itu, berusaha membuka memorinya.

[flashback]

Jinyoung bisa merasakan jika Heekyung telah berhenti menangis di dalam pelukannya. Cuaca semakin dingin dan Jinyoung rasa dia bisa saja mati kedinginan kalau dia harus tertidur disini, mengingat jaketnya ia berikan kepada Heekyung juga.

“Noona, ayo bangun.” Jinyoung bergumam pelan pada telinga Heekyung dan Jinyoung merasakan gadis itu sedikit merenguh. “Sudah terlalu malam.. juga terlalu dingin.”

Heekyung mulai bangun dan perlahan menjauh dari tubuh Jinyoung. Jinyoung melihat rambut Heekyung acak-acakan, begitu juga matanya yang membengkak. Ah, satu lagi, bibirnya yang begitu membiru.

“Noona, untung saja aku yang melihatnya..” Jinyoung pun mulai merapikan beberapa helai rambut Heekyung, mensisirinya juga mengenyampingkannya di telinga Heekyung. “Apapun yang terjadi padamu, kau tetap terlihat cantik bagiku.”

Meskipun Heekyung bangun, tapi itu tidak berarti dia sadar. Dia minum cukup banyak tadi.

“Jinyoung-ah, aku cantik?” tanyanya, melantur. Tapi Jinyoung tetap menanggapinya.

“Hm, kau sangat cantik, noona.” Jinyoung tersenyum, dengan tangannya yang masih memegang pipi Heekyung sehabis merapikan rambutnya. “Mungkin.. kau tidak terlihat cantik di mata pria itu. Tidak terlihat menarik di matanya juga, tapi.. ketahuilah..”

Jinyoung menatap Heekyung begitu teduh dan jujur.

“Di mataku.. Noona lah yang paling cantik di dunia ini. Kau yang paling menarik hatiku di dunia ini. Mungkin.. dia tidak bisa melihatnya, tapi aku selalu melihat bahwa matahari, bulan, dan bintang selalu bersamamu dimanapun kau berada, Noona. Begitu terang dan menarik diriku untuk terus menyukainya.”

Kemudian Jinyoung sedikit mengelus pipi Heekyung. Tanpa Heekyung sadari, itu begitu hangat.

“Jadi.. jangan bilang bahwa kau ini bukan perempuan. Apalagi bilang bahwa Noona tidak cantik. Itu menyakitiku yang menyukaimu dengan hati seutuhnya untukmu.”

Heekyung hanya tersenyum sambil mengangguk, “Aku mengerti, Jinyoung-ah. Aku tidak akan bilang bahwa aku tidak cantik lagi.”

Jinyoung tersenyum sambil sedikit mengelus puncak kepala Heekyung lagi. Setelahnya pria itu membantu Heekyung untuk bangun dari tempatnya. Karena Heekyung masih mabuk, Jinyoung memutuskan untuk menaruh gadis itu di punggungnya. Menggendongnya di punggung.

“Noona.. bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” Jinyoung berkata selagi dia mulai berjalan mengangkat Heekyung.

“Apa, Jinyoung-ah?”

“Jika kau sudah melupakan pria-sialan itu.. maukah kau mencoba untuk mencintaiku?” Jinyoung sedikit melirik ke arah Heekyung yang akan mulai tertidur lagi di pundak Jinyoung. “Dengan sepenuh hatimu untukku…?”

Heekyung tersenyum lalu mengangguk-angguk, “Baiklah, aku akan mencobanya, Jinyoung-ah..”

Jinyoung tersenyum lebar dan sempat menghentikkan langkahnya untuk melirik ke arah Heekyung.

“Noona, kau berjanji ya!”

Heekyung hanya lagi-lagi mengangguk setuju, “Hm, aku berjanji, Jinyoung-ah..”

Tanpa Heekyung sadari, satu air mata turun melewati pipi Heekyung. Mengingat itu semua, menyadari semuanya.. dia merasakan kehangatan itu sekarang. Merasakan bahwa seluruh hati Jinyoung memang diberikan untuknya. Dan air mata itu menunjukkan betapa menyesalnya dia tidak pernah menyadari hati Jinyoung selama ini untuknya.

“Kau sudah mulai lebih membaik, Jinyoung-ah.”

Pelatih Kim berbicara dari kursinya, melihat Jinyoung di hadapannya dengan peluh keringat yang bertebaran di sekujur tubuhnya. Juga dengan nafasnya yang begitu memburu.

Pelatih Kim pun mulai bangkit dari duduknya, menghampiri Jinyoung. Dia menaruh satu tangannya pada pundak Jinyoung.

“Sebenarnya kau ini kenapa, Jinyoung-ah? Aku tahu kau orang yang paling berdedikasi untuk menjadi idol di antara teman-temanmu yang lainnya, tapi kenapa kau terus menurun beberapa waktu kemarin ini?”

Jinyoung terus memburu nafasnya, demi Tuhan ini begitu melelahkan. Dia seperti ingin melepas tulang-tulangnya karena dia berlatih seharian hari ini. Dari pagi sampai malam saat ini.

“Aku akan mengijinkanmu untuk pulang lebih ‘pagi’ kali ini. Banyak istirahatlah di rumah, jangan lupa mengompres pergelangan kaki dan tanganmu dengan air hangat sebelum tidur nanti.”

Jinyoung mengangguk lalu setelahnya dia membungkuk untuk memberi salam pada Pelatih Kim. Tak jauh dari perginya pelatih Kim dari ruangan ini, Jinyoung langsung menjatuhkan dirinya. Terbaring di atas lantai. Memikirkan perkataan Pelatih Kim yang mengatakan bahwa dia terus menurun namun kali ini sudah berkembang lebih baik lagi.

Jinyoung kemudian menutup matanya sambil tersenyum puas. Mungkin ini juga karena Heekyung yang sudah membuatnya tidak khawatir lagi jadi Jinyoung bisa fokus untuk berlatih.

Ah, Heekyung Noona. Jinyoung sepertinya merindukan gadis itu.

Setelah Jinyoung membersihkan tubuhnya, tak lupa juga mematikan lampu ruang latihannya, dia mulai bergegas untuk turun ke bawah. Gedung agensinya sudah mulai sepi, hanya beberapa orang yang masih punya kepentingan saja yang berada di gedung ini. Jangan tanya teman-temannya dimana, Jinyoung sedang di hukum jadi teman-temannya tidak ada sangkut pautnya hingga Jinyoung harus pulang pukul 9 malam seperti ini.

Saat Jinyoung berhasil keluar gedung, dia mulai berjalan menuju halte bus terdekat. Dan saat dia telah sampai di halte bus tersebut, dia menemukan seorang gadis dengan baju hangat yang terduduk menatap sepatunya. Jinyoung mengetahui gadis berbaju hangat itu.

“Noona.”

Jinyoung memanggil Heekyung, gadis berbaju hangat itu. Heekyung mendengar panggilan Jinyoung, maka dia langsung menoleh.

“Noona,” Jinyoung menghampiri Heekyung dengan matanya yang menyipit, “Kenapa Noona disini?”

Heekyung perlahan berdiri dari duduknya. Mencoba menyetarakan tingginya dengan Jinyoung, tapi Jinyoung jauh lebih tinggi dari gadis itu.

Saat Heekyung sudah berdiri, Jinyoung menyadari bahwa mata Heekyung sedikit berair. Tentu saja, itu langsung mengageti Jinyoung yang pasalnya sudah melepas beban itu.

“Noona, kau kenapa lagi?” Jinyoung mulai merasakan perasaan khawatir itu menggerogotinya. “Pria-sialan itu menyakitimu lagi?!”

Heekyung menggeleng pelan, membuat Jinyoung semakin bertanya alasan dari mata Heekyung yang sayu itu.

“Lalu, kenapa—“

Satu hal yang Jinyoung rasakan. Hangat. Begitu hangat sampai dia menghentikan kata-katanya. Tangan ini, di pinggangnya. Gadis ini, di dadanya. Semuanya begitu hangat dan memabukkan untuk Jinyoung.

“Terima kasih, Jinyoung-ah.” Ucap gadis itu. Samar-samar karena tertutup di dada Jinyoung, namun Jinyoung bisa mendengarnya. “Terima kasih untuk semuanya dan aku minta maaf karena tidak pernah melihatmu. Melihat hatimu.”

Detik setelahnya, Jinyoung merasakan kehilangan di tubuhnya karena Heekyung melepas pelukannya. Gadis itu menengadahkan wajahnya, menatap Jinyoung yang entah kenapa rasanya begitu manis bagi Jinyoung saat itu. Lebih manis dari pada Jinyoung biasanya menatap mata Heekyung.

“Aku akan mencobanya, Jinyoung-ah.” Tutur Heekyung. Lalu kemudian Heekyung mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Jinyoung. Mensisiri rambut hitam Jinyoung, mengelus samping kepala Jinyoung.

“Seperti janjiku padamu.. aku akan mencoba untuk mencintaimu dengan sepenuh hatiku.”

Dan Jinyoung tidak bisa pungkiri lagi bahwa hari itu, malam itu.. adalah hari dan malam terbahagianya di sepanjang 19 tahun hidupnya.

***To Be Continued***

p.s: aku akan masukin semua ff-ku yang terdahulu di wattpad, yang ada di skf maksudnya~ jadi biar wattpadku ada fungsinya lah yaa hahaha. Ohya sama disini Jihoon-nya seumuran ya sama Jinyoung hehe~

2 responses to “All the Time [2] – by ByeonieB

  1. Ahh tbc….suka bgt sm critanya,feelnya dpt,tt bhsnya bagus bgt,pokonya keren bgt,ditunggu next chaptnya ya…smangat trs….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s